Anda di halaman 1dari 11

KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN KEUANGAN Oct 11

Pernyataan ini menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan


umum (general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut laporan
keuangan agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode
sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain. Pernyataan ini
mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan,
dan persyaratan minimum isi laporan keuangan.

FASB (1978), mendefinisikan kerangka konseptual sebagai berikut : suatu system


yang koheren tentang tujuan (objective) dan konsep dasar yang saling berkaitan,
yang diharapkan dapat menghasilkan standar-standar yang konsisten dan
memberikan pedoman tentang jenis, fungsi dan keterbatasan akuntansi dan
pelaporan keuangan. Perlunya kerangka konseptual :

1. Sebagai pedoman dalam menetukan standar akuntansi


2. Sebagai kerangka referensi untuk memecahkan masalah akuntansi apabila
standar yang sekarang ada tidak mengatur isu-isu yang baru muncul
3. Sebagai dasar membuat pertimbangan dalam penyajian laporan keuangan.
4. Meningkatkan daya banding dengan cara mengurangi berbagai alternative
metode akuntansi yang ada.

Penjelasan istilah yang digunakan :

Laporan keuangan bertujuan umum (selanjutnya disebut sebagai laporan


keuangan) adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
bersama sebagian besar pengguna laporan.

Ketidakpraktisan. Penerapan suatu persyaratan dianggap tidak praktis jika entitas


tidak dapat menerapkan nya setelah melakukan usaha yang memadai.

Material. Kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat pos-pos


laporan keuangan adalah material jika, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama
sama, dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna laporan keuangan.
Materialitas tergantung pada ukuran dan sifat dari kelalaian dalam mencantumkan
atau kesalahan dalam mencatat tersebut dengan memperhatikan kondisi terkait.
Ukuran atau sifat dari pos laporan keuangan tersebut, atau gabungan dari
keduanya, dapat menjadi faktor penentu penilaian apakah suatu kelalaian dalam
mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat dapat memengaruhi keputusan
ekonomi dari pengguna laporan, dan dengan demikian menjadi material,
membutuhkan pertimbangan mengenai karakteristik dari masing-masing pengguna
laporan tersebut.

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan paragraf 25


menyatakan bahwa pengguna laporan keuangan di asumsi kan memiliki
pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta
kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Oleh karena
itu, penilaian tersebut perlu memerhatikan bagaimana pengguna laporan dengan
karakteristik tersebut diharapkan terpengaruh dalam membuat keputusan ekonomi.
Catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi
tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan
pendapatan komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan
perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Catatan atas laporan keuangan
memberikan penjelasan atau rincian dari pos-pos yang disajikan dalam laporan
keuangan tersebut dan informasi mengenai pos-pos yang tidak memenuhi kriteria
pengakuan dalam laporan keuangan.

Pendapatan komprehensif lain berisi pos-pos pendapatan dan beban (termasuk


penyesuaian reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laba rugi dari laporan pendapatan
komprehensif sebagaimana di persyaratkan oleh SAK lainnya.

Pemilik adalah pemegang instrumen yang diklasifikasikan sebagai ekuitas.

Laba rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak termasuk komponen-
komponen pendapatan komprehensif lain.

Penyesuaian reklasifikasi adalah jumlah yang direklasifikasi ke bagian laba rugi


periode berjalan yang sebelumnya diakui dalam pendapatan komprehensif lain pada
periode berjalan atau periode sebelumnya.

Total laba rugi komprehensif adalah perubahan ekuitas selama satu periode yang
dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lainnya, selain perubahan yang dihasilkan
dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik.

Tujuan Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan
kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan
informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang
bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan
keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil
pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan
kepada mereka.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi


mengenai entitas yang meliputi:

a) Aset;
b) Liabilitas;
c) Ekuitas;
d) Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;
e) Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai
pemilik;dan
f) Arus kas.

Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas
laporan keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa
depan dan, khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara
kas.

Komponen Laporan Keuangan Lengkap

Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini:

1. Laporan posisi keuangan pada akhir periode;


2. Laporan laba rugi komprehensif selama periode
3. Laporan perubahan ekuitas selama periode;
4. Laporan arus kas selama periode;
5. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting
dan informasi penjelasan lainnya; dan
6. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika
entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau
membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas
mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.

Beberapa entitas menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, suatu kajian


keuangan oleh manajemen yang menjelaskan karakteristik utama dari kinerja
keuangan dan posisi keuangan, dan kondisi ketidakpastian utama yang dihadapi.
Laporan tersebut dapat meliputi kajian mengenai:

Faktor dan pengaruh-pengaruh utama yang menentukan kinerja keuangan,


termasuk perubahan lingkungan tempat entitas beroperasi, tanggapan terhadap
perubahan dan pengaruhnya, dan kebijakan investasi untuk memelihara serta
meningkatkan kinerja keuangannya, termasuk kebijakan dividen;

Sumber pendanaan entitas dan target rasio laibilitas terhadap ekuitas; dan

Sumber daya entitas yang tidak diakui dalam laporan posisi keuangan sesuai
dengan`SAK.

Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, laporan mengenai
lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi
industry dimana faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi
industri yang menganggap karyawan sebagai kelompok pengguna laporan yang
memegang peranan penting. Laporan tambahan tersebut di luar ruang lingkup
Standar Akuntansi Keuangan.

Karakteristik Umum

Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK


Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan
arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur
dampak dari transaksi, peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria
pengakuan aset, laibilitas, pendapatan dan beban yang diatur dalam Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Penerapan SAK, dengan
pengungkapan tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan penyajian laporan
keuangan secara wajar.

Dalam hampir semua kondisi, entitas mencapai penyajian laporan keuangan secara
wajar apabila memenuhi SAK terkait. Penyajian secara wajar juga mensyaratkan
entitas untuk:

Memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi sesuai dengan PSAK 25. PSAK 25
mengatur hirarki pedoman otoritatif yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam
hal tidak terdapat PSAK yang secara khusus mengatur suatu pos tertentu.

Menyajikan informasi, termasuk kebijakan akuntansi, sedemikian rupa sehingga


dapat memberikan informasi yang relevan, andal, dapat diperbandingkan, dan
mudah dipahami.

Memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian dengan persyaratan khusus


dalam SAK tidak cukup bagi pengguna laporan keuangan untuk memahami
pengaruh dari transaksi tertentu, peristiwa dan kondisi lain terhadap posisi keuangan
dan kinerja keuangan entitas.

Entitas tidak dapat memperbaiki kebijakan akuntansi yang tidak tepat baik dengan
pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau pengungkapan dalam
catatan atas laporan keuangan atau materi penjelasan.

Ketika entitas menyimpang dari suatu ketentuan dalam suatu PSAK pada periode
sebelumnya, dan penyimpangan tersebut berpengaruh terhadap jumlah yang diakui
dalam laporan keuangan pada periode berjalan, maka entitas membuat
pengungkapan.

Dalam keadaan yang sangat jarang terjadi, ketika manajemen menyimpulkan bahwa
kepatuhan terhadap suatu ketentuan dalam suatu PSAK akan memberikan
pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang
diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, tetapi
peraturan yang relevan melarang penyimpangan tersebut, maka entitas semaksimal
mungkin mengurangi pemahaman yang salah tersebut dengan mengungkapkan:
Nama PSAK terkait, sifat ketentuan, dan alasan mengapa manajemen
menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap ketentuan dimaksud akan memberikan
pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang
diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan; dan
untuk masing-masing periode yang disajikan, penyesuaian terhadap masing-masing
pos dalam laporan keuangan yang dipandang perlu oleh manajemen untuk
mencapai penyajian yang wajar.

Ketika menilai apakah kepatuhan terhadap ketentuan khusus dari suatu PSAK akan
memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan
keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan, manajemen mempertimbangkan:

Alasan tujuan laporan keuangan tidak tercapai dalam kondisi tersebut; dan
bagaimana perbedaan kondisi entitas dengan kondisi entitas lain yang mematuhi
persyaratan. Jika entitas lain dengan kondisi yang sama menerapkan persyaratan
tersebut, maka akan muncul asumsi yang dapat diperdebatkan bahwa kepatuhan
terhadap persyaratan tersebut tidak akan memberikan pemahaman yang salah yang
bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

Kelangsungan Usaha

Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang


kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun
laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen
bertujuan untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak
mempunyai alternatif lainnya yang realistis selain melakukannya.

Jika manajemen menyadari (dalam membuat penilaian nya) mengenai adanya


ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat
menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk
mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan
ketidakpastian tersebut.

Jika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan


usaha, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar yang
digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak
dipertimbangkan sebagai entitas yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan
usaha.
Jika selama ini entitas menghasilkan laba dan mempunyai akses ke sumber
pembiayaan, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah
sesuai tanpa melalui analisis rinci.

Dasar Akrual

Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset,
laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika
pos-pos tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsur unsur
tersebut dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

Materialitas dan Agregasi

Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang material. Entitas
menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda kecuali
pos tersebut tidak material.

Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan sejumlah transaksi atau


peristiwa lain yang diklasifikasikan sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari
proses penggabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam laporan
keuangan. Jika suatu klasifikasi pos tidak material, maka dapat digabungkan dengan
pos lain yang sejenis dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan
keuangan. Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan terpisah dalam
laporan keuangan tetapi cukup material untuk disajikan terpisah dalam catatan atas
laporan keuangan.

Saling Hapus

Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan liabilitas atau pendapatan
dan beban, kecuali di syarat kan atau diijinkan oleh suatu PSAK.

Entitas melaporkan secara terpisah untuk aset dan liabilitas serta pendapatan dan
beban. Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau laporan posisi
keuangan atau dalam laporan laba rugi terpisah (jika disajikan) mengurangi
kemampuan pengguna laporan keuangan baik untuk memahami transaksi, peristiwa
dan kejadian lain yang telah terjadi maupun untuk menilai arus kas entitas di masa
depan, kecuali jika saling hapus mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa.
Pengukuran aset secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (misalnya,
penyisihan keusangan atas persediaaan dan penyisihan piutang tak tertagih) tidak
termasuk kategori saling hapus.

PSAK 23: Pendapatan mendefinisikan pendapatan dan mensyaratkan entitas untuk


mengukurnya berdasarkan nilai wajar dari jumlah yang diterima atau akan diterima,
dengan mempertimbangkan jumlah potongan dagang dan rabat volume yang
diperbolehkan. Dalam aktivitas normal, entitas juga melakukan transaksi lain yang
bukan merupakan penghasil utama pendapatan dan bersifat insidentil. Entitas
menyajikan hasil dari transaksi tersebut dengan mengurangkan setiap pendapatan
dengan beban terkait yang timbul dari transaksi yang sama sepanjang penyajian
tersebut mencerminkan substansi dari transaksi atau peristiwa lain.

Misalnya:

Entitas menyajikan keuntungan dan kerugian atas pelepasan aset tidak lancar,
termasuk investasi dan asset operasional, dilaporkan dengan mengurangkan
penerimaan dari pelepasan dengan nilai tercatat dan beban yang timbul dari
pelepasan aset tersebut;

Entitas dapat mengurangkan pengeluaran yang terkait dengan ketentuan yang


diakui sesuai dengan PSAK 57 dan diganti berdasarkan perjanjian kontraktual
dengan pihak ketiga (seperti perjanjian garansi dari pemasok) dengan penggantian
yang diterima.

Entitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang timbul dari suatu kelompok
transaksi yang sejenis secara neto, misalnya keuntungan dan kerugian dari
transaksi mata uang asing atau keuntungan dan kerugian yang timbul dari
instrument keuangan yang dikategorikan sebagai diperdagangkan. Namun, entitas
menyajikan keuntungan dan kerugian tersebut secara terpisah jika keuntungan atau
kerugian tersebut material.

Frekuensi Pelaporan

Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif)


setidaknya secara tahunan. Jika akhir periode pelaporan entitas berubah dan
laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih
pendek dari periode satu tahun, sebagai tambahan terhadap periode cakupan
laporan keuangan, maka entitas mengungkapkan:

Alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek; dan
Fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat
diperbandingkan secara keseluruhan.

Informasi Komparatif

Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya


untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan,
kecuali dinyatakan lain oleh SAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan
deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika
relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
Entitas yang mengungkapkan informasi komparatif menyajikan minimal dua laporan
posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis laporan lainnya, dan catatan atas
laporan keuangan. Jika entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif
atau membuat penyajian kembali secara retrospektif atas pos-pos dalam laporan
keuangan atau mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan, maka entitas
menyajikan minimal tiga laporan posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis
laporan lainnya, dan catatan atas laporan keuangan. Entitas menyajikan laporan
posisi keuangan pada:

a) Akhir periode berjalan,


b) Akhir periode sebelumnya (yang sama dengan awal periode berjalan), dan
c) Permulaan dari periode komparasi terawal.

Pada beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan pada laporan keuangan
periode sebelumnya masih tetap relevan untuk diungkapkan pada periode berjalan.
Misalnya, rincian tentang sengketa hukum yang dihadapi dengan hasil akhirnya
belum diketahui secara pasti pada periode sebelumnya dan masih dalam proses
penyelesaian, perlu diungkapkan kembali pada periode berjalan. Pengguna akan
memperoleh manfaat dari informasi adanya ketidakpastian pada akhir periode
pelaporan sebelumnya, dan langkah yang telah dilakukan selama periode berjalan
untuk mengatasi ketidakpastian tersebut.

Jika entitas mengubah penyajian atau pengklasifikasian pos-pos dalam laporan


keuangan, maka entitas mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali reklasifikasi
tersebut tidak praktis untuk dilakukan. Jika entitas mereklasifikasi jumlah komparatif,
maka entitas mengungkapkan:

a) Sifat reklasifikasi;

b) Jumlah masing-masing pos atau gabungan beberapa pos yang direklasifikasi; dan

c) Alasan reklasifikasi.

Jika reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis untuk dilakukan, maka entitas
mengungkapkan:

a) Alasan tidak mereklasifikasi jumlah tersebut, dan


b) Sifat penyesuaian yang akan dilakukan jika jumlah tersebut direklasifikasi.

Konsistensi Penyajian

Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus
konsisten kecuali:

Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau review
atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian
yang lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kriteria
untuk penentuan dan penerapan kebijakan akuntansi dalam PSAK 25; atau
Perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK.

Misalnya, suatu akusisi atau pelepasan yang signifikan atau review atas penyajian
laporan keuangan, mungkin akan menghasilkan kesimpulan bahwa laporan
keuangan harus disajikan secara berbeda. Namun demikian perubahan penyajian
dapat dilaksanakan jika perubahan tersebut memberikan informasi yang andal dan
lebih relevan bagi pengguna atau struktur yang baru mempunyai kecenderungan
akan dipergunakan seterusnya.

KERANGKA KONSEPTUAL PELAPORAN


KEUANGAN
ima_feuh 16 September, 2013 akuntansi No Comments

Pada dasarnya prosedur akuntansi akan menghasilkan output yang disebut laporan keuangan,
laporan keuangan inilah yang akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan oleh pihak
pengguna laporan keuangan tersebut, misalnya investor akan menggunakan laporan tersebut
untuk menilai apakah suatu perusahaan benefit untuk disuntikkan modal, pemerintah
menggunakan laporan keuangan untuk menentukan tarif pajak bagi perusahaan, ataupun
pihak kreditor atau bank yang menggunakan laporan keuangan untuk menilai seberapa lama
kredit yang diberikan dapat dikembalikan.

Agar dapat memberikan informasi yang berguna, penyusunan laporan keuangan harus
berdasarkan standar dan aturan yang berlaku. Untuk itu pelaporan keuangan memerlukan
kerangka konsep sebagai dasar penyusunan laporan keuangan. Karena standar yang dominan
berlaku di dunia adalah IFRS, maka saya akan menjelaskan kerangka konsep ini melalui sisi
IFRS.

Kerangka konseptual dibutuhkan agar aturan pelaporan keuangan dapat berguna dan tidak
mengambang. IASB dan FASB masing-masing memiliki konsep tersendiri, dimana kerangka
konseptual IASB tercermin pada dokumennya, sedangkan FASB ada pada pengembangan
dokumen itu, sekarang FASB dan IASB telah bekerja sama untuk menghasilkan konsep yang
dapat diterima secara umum.

IFRS membagi kerangka konseptual pelaporan keuangan kedalam tiga level yaitu, pertama
adalah first level : basic objective, kedua second level : fundamental concept, ketiga third
level : Recognition, measurement, and disclosure concept.

1. First level : Basic Objective

Disini dijelaskan apa sebenarnya tujuan dari pelaporan keuangan, dimana tujuannya ialah
menyediakan informasi yang berguna untuk investor yang ada dan yang berpotensial,
kreditor, serta pemberi pinjaman dalam membuat keputusan terkait perannya sebagai
penyedia modal.

1. Second level : Fundamental Concept


Tujuan dari laporan keuangan ialah memberikan informasi yang berguna bagi pengambilan
keputusan, kemudian akan saya jelaskan bagaimana implementasinya di level ketiga, lalu,
apa fungsi dari fundamental concept ?, konsep dasar berguna menjadi pondasi yang
menjelaskan laporan dalam bentuk kualitatif dan elemen laporan keuangan.

Karakteristik kualitatif informasi akuntansi

Karakteristik kualitatif mengidentifikasi alternatif yang menyediakan informasi paling


berguna dalam pengambilan keputusan. Karakteristik kualitatif terdiri atas dua jenis terkait
kegunaanya, yaitu, kualitas primer dan kualitas sekunder.

Kualitas Primer

Kualitas primer terdiri atas relevan dan reliabilitas, dimana relevan menjelaskan bahwa
informasi akuntansi harus dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil, yang dapat
mempengaruhinya ialah : 1. nilai prediktif, 2. nilai konfirmasi, sedangkan reliabilitas
menjelaskan bahwa semua saldo dan penjelasan yang disajikan benar benar ada dan terjadi,
untuk dapat memenuhi reliabilitas unsur unsur yang harus dipenuhi antara lain, 1.
kelengkapan, 2. netral, 3. bebas dari kesalahan.

Kualitas Sekunder

Kualitas sekunder sebenarnya merupakan pelengkap dari kualitas primer, agar dapat
menjadikan laporan keuangan lebih berguna. Unsur unsur kualitas sekunder ialah :

Dapat dibandingkan
Konsistensi
Tepat waktu
Dapat dipahami

Elemen Dasar

Dalam laporan keuangan banyak istilah yang digunakan, istilah berikut yang sering
digunakan ialah :

1. Aset
2. Kewajiban
3. Ekuitas
4. Pendapatan
5. Beban

Third Level : Recognition, Measurement, and Disclosure Concept

Asumsi Dasar

Lima asumsi dasar dalam penyusunan laporan keuangan yang digunakan ialah :

Economic Entity : asumsi ini menjelaskan bahwa kekayaan pemilik harus dipisahkan
dengan kekayaan perusahaan.
Going Concern : asumsi ini menjelaskan bahwa entitas didirikan untuk jangka waktu
yang tidak ditentukan
Monetary Unit : asumsi ini menjelaskan bahwa transaksi yang terjadi harus dapat
diukur dengan satuan uang
Periodicity : asumsi ini menjelaskan bahwa laporan keuanga dilaporkan dalam suatu
jangka waktu tertentu
Accrual Basic : asumsi ini menjelaskan bahwa segala transaksi yang terjadi harus
dicatat saat itu juga

Prinsip Dasar Akuntansi

Umumnya ada empat prinsip dasar akuntansi, yaitu 1. Pengukuran, 2. Pengakuan pendapatan,
3. Pengakuan beban, 4. Pengungkapan penuh

Pengukuran : ada dua jenis pengukuran yaitu cost principle, dimana aset dicatat pada
saat harga perolehan, dan fair value, yaitu aset dinilai sesuai nilai saat ini yang
berlaku.
Pengakuan pendapatan : pengakuan pendapatan terbagi tiga, ketika sebelum produksi,
pada saat selesai produksi dan saat menerima uang tunai.
Pengakuan beban : pengakuan beban diklasifikasikan sebagai biaya produk, yang
berhubungan langsung dengan produksi, seperti bahan baku, dan biaya periode, yang
tidak berhubungan langsung dengan produksi, seperti gaji karyawan.
Pengungkapan penuh : segala sesuatu yang bersangkutan dengan laporan keuangan
dan dapat mempengaruhi keputusan harus diungkapkan.

Hambatan Hambatan

Dalam menyusun laporan keuangan terdapat hambatan yang terjadi, yaitu biaya penyusunan
dan materialitas.

Biaya

Banyak orang mengira bahwa informasi akuntansi itu gratis, mereka salah, karena dalam
penyusunan laporan keuangan terdapat biaya yang dikeluarkan agar menjadi informasi yang
berguna, misal : nilai aset harus diaudit terlebih dahulu agar nilainya sesuai, biaya yang
dikeluarkan untuk membayar auditor menjadi biaya untuk menyusun laporan keuangan,
sehingga entitas harus lebih selektif dalam menyusun laporan keuangan, dan tidak
sembarangan.

Materialitas

Materialitas merupakan salah saji yang terjadi dalam penyusunan laporan keuangan, sehingga
dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Misal : nilai piutang yang tidak dapat ditagih
sebesar 60% dari total penjualan, hal ini tentu saja dapat mempengaruhi pengguna dalam
mengambil keputusan.

Demikian telah saya jelaskan diatas bagaimana kerangka konseptual mempengaruhi


penyusunan laporan keuangan, semoga ilmu ini dapat bermanfaat, sekian.