Anda di halaman 1dari 45

DRILLING RIG DESIGN DAN OPTIMASI

PEMILIHAN RIG UNTUK PEMBORAN PADA


SUMUR X LAPANGAN Y

Proposal Skripsi
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti
Seminar Proposal Dari Program Studi Eksplorasi Produksi

Oleh :

Andi Priyo Jatmiko


Nomor Mahasiswa : 14412006
Program Studi : Eksplorasi Produksi
Konsentrasi : Pemboran
Diploma : IV (Empat)

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
SEKOLAH TINGGI ENERGI DAN MINERAL Akamigas
STEM Akamigas

Cepu, November 2017


DRILLING RIG DESIGN DAN OPTIMASI
PEMILIHAN RIG UNTUK PEMBORAN PADA
SUMUR X LAPANGAN Y

Proposal Skripsi

Oleh :

Andi Priyo Jatmiko


Nomor Mahasiswa : 14412006
Program Studi : Eksplorasi Produksi
Konsentrasi : Pemboran
Diploma : IV (Empat)

Disetujui oleh penguji

Penguji I Penguji II

Ir. Bambang Yudho Suranta, M.T. Agus Alexandri, S.T., M.T.


NIP. 196405141993031002 NIP. 197608172008011001
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Proposal Skipsi ini dengan judul Drilling Rig Design Dan
Optimasi Pemilihan Rig Untuk Pemboran Pada Sumur X Lapangan Y
dengan baik.

Penyusunan Proposal Skripsi ini diajukan sebagai syarat pembuatan Skripsi


dan Praktik Kerja Lapangan pada Program Studi Eksplorasi Produksi Konsentrasi
Pemboran STEM Akamigas Cepu.

Proposal Skripsi ini dapat diselesaikan juga berkat dorongan, saran, serta
bantuan pemikiran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. R.Y. Perry Burhan, M.Sc., selaku Ketua STEM Akamigas
2. Bapak Ir. Bambang Yudho Suranta, M.T., selaku Ketua Program Studi
Eksplorasi Produksi sekaligus dosen pembimbing skripsi.
3. Bapak Agus Alexandri, S.T., M.T., selaku dosen pembimbing skripsi.
4. Bapak dan Ibu dosen STEM Akamigas
5. Orang tua, keluarga dan rekan-rekan serta semua pihak yang ikut andil
dalam penyusunan proposal skripsi yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.

Penulis menyadari bahwa dalam Proposal Skripsi ini masih terdapat


kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, penulis mohon masukan ataupun saran
dari pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga apa yang
dituangkan dalam Proposal Skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Cepu, November 2017


Penulis,

Andi Priyo Jatmiko


NIM. 14412006

i
ABSTRAK

Tujuan utama dari operasi pemboran adalah membuat lubang untuk menghubungkan
permukaan dengan reservoir secara effisien dan aman serta dapat digunakan. Selama
proses pemboran suatu sumur, tujuan utama yang paling penting adalah mencapai zona
reservoir dengan aman, cepat, dan ekonomis. Pada pemboran, tujuan utama yang paling
penting adalah mencapai zona reservoir dengan aman, cepat, dan ekonomis. Salah satu
komponen yang penting dalam proses pemboran adalah drilling rig. Rig adalah
serangkaian peralatan khusus yang digunakan untuk membor sumur atau mengakses
sumur. Ciri utama rig adalah adanya menara yang terbuat dari baja yang digunakan untuk
menaik-turunkan pipa-pipa tubular sumur. Umumnya, rig dikategorikan menjadi dua
macam menurut tempat beroperasinya, yaitu rig darat (land-rig) yang beroperasi di darat
dan rig laut (offshore-rig) yang beroperasi di atas permukaan air (laut, sungai, rawa-rawa,
danau atau delta sungai).Komponen rig dapat digolongkan menjadi lima bagian besar,
hoisting system, rotary system, circulation system, blowout prevention system, power
system. Analisa terhadap pemilihan rig sangat penting dilakukan untuk menentukan suatu
rencana rig pemboran yang akan digunakan. Spesifikasi dari setiap peralatan rig menjadi
salah satu faktor yang sangat berpengaruh untuk menentukan keberhasilan suatu operasi
pemboran. Karena berbagai faktor-faktor seperti kecepatan, efisiensi, keselamatan, dan
biaya operasi pemboran juga tergantung dari spesifikasi rig yang akan digunakan. Untuk
itu perlu dilakukan suatu perencanaan yang detail dan akurat, agar rig yang dipilih untuk
melakukan kegiatan pemboran pada suatu sumur dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik tanpa ada masalah yang terjadi.

Keyword : onshore rig, hoisting system, rotating system, circulating system, power
system, BOP system

ii
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
ABSTRAK .................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ......................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... vi

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 1
1.3 Maksud dan Tujuan .................................................................... 2
1.4 Manfaat ....................................................................................... 2
1.5 Batasan Masalah ......................................................................... 5
1.6 Metodologi Penelitian ................................................................ 5
1.7 Sistematika Penulisan.................................................................. 6

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Pengangkat ....................................................................... 7


2.1.1 Substructure ....................................................................... 8
2.1.2 Derrick ............................................................................... 9
2.1.2.1 Tipe Dan Jenis Menara ................................................ 9
2.1.2.2 Parameter Desain Menara ............................................ 12
2.1.2.3 Perhitungan Beban Dan Desain Menara ...................... 14
2.1.3 Drilling Line ...................................................................... 17
2.1.3.1 Bagian Dan Jenis Drilling Line ................................... 18
2.1.3.2 Perhitungan Tension Dan Desain Drilling Line .......... 20
2.1.4 Drawwork .......................................................................... 22
2.1.4.1 Bagian Dan Tipe Drawwork ........................................ 23
2.1.4.2 Perhitungan HP Dan Desain HP Rig ........................... 24
2.2 Sistem Sirkulasi ........................................................................... 26
2.2.1 Pompa Lumpur .................................................................. 26
2.2.2 Spesifikasi Pompa.............................................................. 27
2.2.3 Perhitungan Kapasitas Dan Tenaga Pompa ....................... 28
2.3 Sistem Pemutar ............................................................................. 29
2.3.1 Perhitungan Beban Torsi ................................................... 32
2.3.2 Desain Kebutuhan Tenaga Rotary Table ........................... 33

iii
2.3.3 Desain Kebutuhan Tenaga Top Drive ............................... 34
2.4 Sistem Tenaga .............................................................................. 34
2.4.1 Prime Mover..................................................................... 35
2.4.2 Kebutuhan Tenaga Engine ............................................... 36

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iv
DAFTAR TABEL

Halaman

v
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Diagram Alir Perencanaan Drilling Rig ..................................... 5

Gambar 1.2 Diagram Alir Perencanaan Drilling Rig ..................................... 5

Gambar 2.1 Static Load.................................................................................. 14

Gambar 2.2 Dynamic Load ............................................................................ 15

Gambar 2.3 Drilling Line ............................................................................... 18

Gambar 2.4 Bagian Drilling Line .................................................................. 19

Gambar 2.5 Klasifikasi Drilling Line............................................................. 20

Gambar 2.6 Drawwork ................................................................................... 22

Gambar 2.7 Komponen Pemutar .................................................................... 29

Gambar 2.8 Komponen Tenaga ..................................................................... 35

Gambar 2.9 Prime Mover ............................................................................... 36

vi
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Balakang

Dalam perencanaan suatu pemboran sumur migas, maka diperlukan

pemilihan rig yang akan digunakan untuk mengebor sumur migas tersebut.

Pemilihan rig ini sangat tergantung dari berbagai faktor, diantaranya faktor lokasi

sumur migas tersebut, yaitu di darat atau di laut, sehingga dapat ditentukan jenis

rig yang digunakan.

Kemudian faktor berikutnya, yaitu berdasarkan kedalaman sumur atau Total

Depth (TD) yang akan dibor, ini adalah dasar dari perhitungan beban (gaya) dan

tenaga (HP / Horse Power) yang diperlukan untuk mengebor sumur tersebut. Hal

ini sangat berhubungan dengan kemampuan peralatan yang ada di rig, seperti pada

sistem angkat (Menara dan Drawwork), sistem putar (Rotary Table atau Top

Drive), sistem sirkulasi ( tank lumpur dan pompa), sistem tenaga (mekanis dan

elektrik) dan sistem BOP.

Kesalahan dalam pemilihan rig bisa berakibat pada tidak efisiennya

pekerjaan serta mahal nya cost sewa rig yang dikeluarkan oleh perusahaan karena

kapasitas rig yang diperlukan terlalu besar sehingga menjadi kurang efektif dalam

menjalankan pekerjaan tersebut.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

Bagaimana kriteria desain rig pemboran dan rekomendasi desain rig berdasarkan

1
perhitungan engineering untuk 5 sistem pemboran yang akan digunakan pada

kegiatan pemboran sumur x lapangan y? dan Bagaimana memilih dan

merekomendasikan kapasitas rig yang tepat dalam aspek engineering dan aspek

ekonomis yang akan menghemat cost pemboran pada sumur x lapangan y?

1.3. Maksud dan Tujuan

Penulisan Skripsi merupakan kegiatan program kurikuler yang menjadi

tugas dan kewajiban setiap mahasiswa Diploma IV semua program studi di STEM

Akamigas. Penulisan Skripsi ini bertujuan untuk:

- Merencanakan rig pemboran yang akan digunakan untuk pemboran pada

sumur x lapangan y dengan perhitungan engineering, beban yang akan

ditanggung Menara, kapasitas pompa, kapasitas drawwork, kapasitas power

system, kapasitas mud pump, kapasitas rotary table / top drive dan

memperhatikan aspek safety factor dan minimum design yang akan

digunakan pada pemboran sumur x lapangan y.

- Memilih dan menentukan rekomendasi kapasitas rig berdasarkan

perhitungan dengan tujuan memilih kapasitas dan kriteria rig yang sesuai

baik dari aspek teknis maupun aspek ekonomis.

1.4. Manfaat

Manfaat yang bisa diperoleh dalam penulisan Skripsi ini antara lain:

- Sebagai tambahan referensi atau bahan untuk menambah wawasan dan

pemikiran bagi penulis khususnya mengenai perencanaan rig pemboran

pada suatu sumur di lapangan tertentu berdasarkan analisis beban yang akan

2
ditanggung dan kebutuhan kapasitas untuk sistem tenaga, putar, sirkulasi

dan BOP rating.

- Dapat menjadi bahan masukan bagi pihak perusahaan untuk menentukan rig

drilling / work over yang sesuai dengan aspek engineering maupun

penghematan cost untuk drilling / work over dari segi ekonomis.

- Diharapkan melalui penelitian ini dapat menjadi kontribusi pemikiran bagi

perkembangan industri minyak dan gas bumi di Indonesia.

1.5. Batasan Masalah

Pada penulisan Skripsi ini, penulis berencana akan membahas tentang

perencanaan drilling rig pada pemboran suatu sumur meliputi penentuan kapasitas

yang digunakan mulai dari kapasitas sistem angkat, sirkulasi, tenaga, putar dan

rating BOP.

1.6 Metodologi Penelitian

Berikut ini uraian metode yang digunakan oleh penulis dalam melakukan

penelitian:

- Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah kedalaman sumur yang akan di bor, berat

rangkaian casing / drill string (untuk penentuan kapasitas top drive / rotary

table, Menara, drawwork dan engine), data lumpur pemboran yang

digunakan untuk penentuan rate pada pemilihan mud pump dan data

tekanan formasi untuk penetuan kapasitas dan BOP pressure rating.

3
- Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah beban maksimal yang ditanggung oleh

Menara pada trayek lubang terpanjang, torsi pada pemboran untuk

penentuan kapasitas rotary table / top drive, hidrolika lumpur untuk

penentuan flow rate dan kapasitas dari mud pump, maximum hook load

untuk penentuan kapasitas drawwork dan engine, data tekanan formasi

untuk penetuan BOP pressure rating.

- Tahapan Penelitian

Berikut ini tahapan-tahapan yang akan digunakan penulis selama melakukan

penelitian:

1. Studi pustaka

2. Penentuan

- Pengumpulan Data

Data-data yang diperlukan untuk melakukan penelitian meliputi:

1. Data tekanan formasi

2. Data parameter pemboran

3. Data penampang sumur

4. Data rangkaian casing

5. Data rangkaian drill string dan BHA

6. Data lumpur pemboran

4
Gambar 1.1 Diagram Alir Perencanaan Drilling Rig

Gambar 1.2 Diagram Alir Perencanaan Drilling Rig

- Pengolahan Data

Data akan dianalisis dan diolah dalam bentuk tabel maupun grafik dengan

menggunakan microsoft excel.

5
- Penyajian Data

Data yang sudah diolah, disajikan dalam bentuk hasil analisis, tabel serta

grafik yang dijadikan dasar dalam penentuan dan pemilihan spesifikasi rig

yang sesuai.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika yang digunakan dalam penulisan Skripsi ini disusun dengan

uraian bagian sebagai berikut:

Pendahuluan, sebagai penyampaian latar belakang pemilihan judul,

rumusan masalah, maksud dan tujuan, manfaat, batasan masalah,

metodologi dan sistematika penulisan.

Tinjauan Pustaka, meliputi landasan teori yang membahas materi teknis,

fungsi, jenis, maupun dasar perhitungan.

Pembahasan, pembahasan dari penelitian yang dilakukan yang meliputi

pemaparan hasil analisis dan pengolahan data data teknis terhadap

parameter parameter yang diteliti dalam desain rig pemboran.

Penutup, yaitu akhir dari penulisan yang akan memuat daftar pustaka

sebagai referensi serta lampiran pendukung.

6
II. DASAR TEORI

2.1 Sistem Pengangkat

Hoisting system atau sistem pengangkatan adalah sistem komponen

rig yang berfungsi untuk menurunkan dan menaikkan pipa pemboran,

rangkaian casing peralatan completion atau pipa produksi, masuk atau

keluar lubang sumur juga menggantung beban dari sebagian komponen

rotating system dan circulating system

Sistem pengangkatan terdiri dari dua sub komponen, yaitu:

1. Struktur penyangga (supporting structure)

2. Peralatan pengangkatan (hoisting equipment)

1. Struktur Penyangga

Adalah suatu kerangka sebagai platform yang berfungsi sebagai

penyangga peralatan pemboran. Kerangka ini diletakkan di atas titik bor.

Fungsi utamanya untuk trip, serta untuk menahan beban yang terjadi akibat

peralatan bor itu sendiri maupun beban dari luar.

Struktur penyangga terdiri dari:

Substructure

Lantai Bor (Rig Floor)

Menara Pemboran (Drilling Mast)

7
2. Peralatan Pengangkatan

Peralatan pengangkat (hoisting equipment) adalah peralatan yang

bekerja secara terintegrasi untuk melakukan pengankatan dan penurunan

drill string, casing, completion tools dan lainya , peralatan ini terdiri dari :

1. Drawwork

2. Overhead Tools

3. Drilling Line

2.1.1 Substructure

Substructure memiliki fungsi untuk membantu drawwork, rotary table,

tempat dudukan drill pipe dan sebagai penyangga menara. Substructure terbuat

dari konstruksi kerangka baja sebagai platform yang dipasang langsung diatas titik

bor. Substructure memberikan ruang kerja bagi peralatan dan pekerja diatas dan

dibawah lantai bor.

Tinggi substructure ditentukan oleh jenis rig dan ketinggian blow out

preventer stack yang digunakan. Substructure mampu menahan beban yang

sangat besar yang ditimbulkan oleh derrick atau mast, peralatan pengangkatan

meja putar, rangkaian pipa bor (drill pipe, drill collar dan sebagainya) dan beban

casing.

Selain fungsi diatas, fungsi dari substructure juga sebagai dudukan dari rig

floor yang berfungsi untuk menampung peralatan pemboran yang berukuran kecil,

tempat berdirinya menara dan sebagai tempat kerja para roughneck.

8
Lantai bor merupakan bagian penting dalam perhitungan kedalaman

sumur, karena titik nol pemboran dimulai dari lantai bor. Lantai bor berada

diatas substructure dan berfungsi untuk :

Menampung peralatan-perlatan pemboran yang kecil-kecil.

Tempat berdirinya menara.

Mendudukan drawwork.

Tempat driller dan rotary helper (roughneck).

2.1.2 Derrick

Fungsi utama menara pemboran adalah untuk mendapatkan ruang vertikal

yang cukup untuk menaikkan dan menurunkan rangkaian pipa bor dan casing ke

dalam lubang bor selama operasi pemboran berlangsung. Oleh karena itu tinggi

dan kekuatannya harus disesuaikan dengan keperluan pemboran. Menara ini jika

dilihat dari keempat sisinya akan memiliki konstruksi yang berbeda. Sisi dimana

drawwork berada selalu berlawanan dengan pipe ramp maupun pipe rack.

L.C.Moore, Ideco World Field, National Card Well, mengemukakan bahwa

ada dua tipe menara, yang pertama adalah Tipe standart (derrick) dan

berikutnya adalah Tipe portable (mast).

2.1.2.1 Tipe dan Jenis Menara

Berdasarkan klasifikasinya, menara pemboran dibagi menjadi 3 macam,

yaitu:

1. Derrick

9
2. Mast

3. Ram Rig

1. Derrick

Jenis menara ini tidak dapat didirikan dalam satu unit, tetapi sistem

pendiriannya disambung satu-persatu (bagian-bagian). Demikian jika

dipindah harus melepas dan memasang bagian-bagian tersebut, kecuali

untuk jarak yang tidak terlalu jauh dapat digeserkan. Menara jenis ini

banyak digunakan untuk pemboran dalam, dimana membutuhkan lantai

yang luas untuk tempat pipa, pemboran ditengah-tengah kota, daerah

pegunungan dan pemboran di lepas pantai dimana tidak tersedia cukup

ruang untuk mendirikan satu unit penuh.

Menara jenis ini juga dibagi lagi menjadi 2 kategori, yaitu:

1. Stationary Derrick

Derrick yang digunakan pada rig di offshore dengan fixed

structure. Dan biasanya terletak di kondisi laut yang tenang.

2. Dynamic Derrick

Derrick yang tergolong heavyweight yang digunakan untuk

floating rig dengan kondisi lautan yang tidak tenang.

2. Mast

Jenis menara ini posisi berdirinya dapat vertikal atau hampir

vertikal, terdiri dari bagian yang dikaitkan satu sama lain dengan las atau

10
sekrup (biasanya terdiri dari dua tingkat), tipe menara ini dapat didirikan

sebagai unit menara penuh, menara ditahan oleh teleskopik dan diperkuat

oleh tali-tali yang ditambatkan secara tersebar.

Tipe dan jenis menara ini adalah :

1. Cantilevered Mast

Digunakan secara umum dikarenakan kemudahan dalam transportasi

dan rig up nya. Menara ini di tambatkan dengan anchor di satu sisi

dan didirikan dengan menggunakan drawwork.

2. Bootstrap Mast

Digunakan jika lahan terbatas. Menara disusun secara vertikal di

lantai bor. Drawwork atau hydraulic cylinder digunakan untuk

mendirikan tiap section menara.

3. Telescopic Mast

Menggunakan beberapa kabel hoisting yang digerakkan oleh

drawwork. Ketika digerakkan, tiap section dari mast bergerak

memanjang ke atas sampai pada section terkahir hingga seluruh

section dari menara telah memanjang/terangkat.

4. Folding Mast

Menggunakan fold back bracing untuk memungkinkan melipat tiap

section dari mast pada saat transportasi.

11
2.1.2.2 Parameter Desain Menara

Hal yang penting untuk diperhatikan sebelum menentukan perhitungan

beban pada menara dan menentukan desain menara yang dibutuhkan adalah

design parameter. Design parameter ini dibutuhkan sebagai data awal untuk

menentukan perhitungan beban dan desain menara. Seluruh perhitungan design

menggunakan asumsi beban terberat, yaitu pada saat beban rangkaian di udara.

Design parameter yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

1. Berat Rangkaian Di Udara

Tentukan spesifikasi dari casing yang digunakan. Lalu untuk menentukan

panjang dari casing bisa melihat data dari casing yang ada dengan

menyesuaikan kedalaman dari sumur.

Setelah mengetahui spesifikasi dari casing serta melihat dari data tally

casing. Kita bisa mengetahui berat rangkaian di udara dengan rumus:

Wc = Pounder Casing x L

Dimana : Wc = Beban casing di udara, (lb)

Pounder Casing = Berat Nominal Casing (ppf)

L = Panjang Casing

2. Kedalaman Sumur

Kedalaman sumur yang akan dilakukan pekerjaan, diukur dalam ft.

3. Hook Load Di Udara

Hook load di udara dapat ditentukan dengan rumus:

HLUdara = Wc(udara) + WTB

12
Dimana : HLUdara = Hook load di udara, (lb)

Wc(udara) = Berat casing di udara, (lb)

WTB = Berat travelling block group, (lb)

4. Travelling Block Sheave

Jumlah line dari jumlah sheave travelling block yang digunakan dapat

ditentukan dengan cara:

N = Jumlah sheave dari travelling block, (lb) x 2

Lalu, faktor efisiensi dari drilling line dapat ditentukan dengan rumus

sebagai berikut:

( )
EF =
( )

Dimana : EF = Efficiency Factor

K = 0.9615

N = Jumlah line pada sheave travelling block

5. Kecepatan Travelling Block

Kecepatan dari travelling block berdasarkan pemakaian di Indonesia dapat

diasumsikan sebesar VTB = 30 ft/min.

6. Bouyancy Factor

Bouyancy factor ditentukan untuk mengetahui berat rangkaian jika di dalam

fluida dengan rumus:

BF = 1

13
Dimana : BF = Bouyancy Factor

BJKF = Berat jenis fluida killing yang digunakan, (lb/gal)

BJSTEEL = Berat jenis baja dengan asumsi 65.5, (lb/gal)

2.1.2.3 Perhitungan Beban Dan Desain Menara

Pada perhitungan ini, ada 2 kondisi menara yang diperhitungkan, yaitu pada

saat kondisi statis dan kondisi dinamis.

1. Perhitungan Static Condition

Beban rangkaian dalam keadaan statis / diam, diangkat oleh

drawwork jika dengan asumsi melalui satu sheave pada crown block. Beban

pada drawwork sama dengan beban yang tergantung dari crown sheave.

Crown membantu beban menara dan tension dari drawwork. Jadi

beban yang ditanggung oleh crown sama dengan beban rangkaian ditambah

beban tension pada drawwork.

Gambar 2.1 Static Load

14
Beban pada crown block pada kondisi statis dapat ditentukan

dengan rumus berikut :

SCLA = HLA

Dimana : SCLA = Static Crown Block Load, (lb)

HLA = Hook Load di udara, (lb)

N = Jumlah line pada travelling block sheave

2. Perhitungan Dynamic Condition

Beban rangkaian dalam keadaan bergerak, diangkat oleh drawwork

jika dengan asumsi melalui satu sheave pada crown block. Beban pada

drawwork sama dengan beban rangkaian yang tergantung dari crown sheave

ditambah dengan adanya gaya gesek atau friksi yang terjadi selama

rangkaian bergerak.

Crown membantu beban menara dan tension dari drawwork

ditambah dengan gesekan / friksi. Jadi beban yang ditanggung oleh crown

lebih dari jumlah beban yang digantung.

Gambar 2.2 Dynamic Load

15
Beban pada crown block pada kondisi dinamis dapat diketahui

dengan cara mencari TFL, TDL dan HLA setelah itu, seluruh beban

dijumlahkan ditentukan dengan rumus berikut :

TFL =

Dimana : TFL = Tension pada fast line di udara, (lb)

W = Hook load di udara, (lb)

N = Jumlah line pada sheave di travelling block

EF = Faktor Efisiensi dari drilling line

Setelah mengetahui tension pada fast line maka kita harus mengetahui

tension pada dead line dengan rumus :

TDL =

Dimana : TDL = Tension pada dead line di udara, (lb)

W = Hook load di udara, (lb)

N = Jumlah line pada sheave di travelling block

EF = Faktor Efisiensi dari drilling line

Setelah mengetahui TFL dan TDL, maka kita dapat menghitung DCL dengan

data HLA yang sudah diketahui sebelumnya, dengan rumus :

DCL = TFL + HLA + TDL

Dimana : DCL = Dynamic crown bloc load, (lb)

TFL = Tension pada fast line di udara, (lb)

HLA = Hook load di udara, (lb)

TDL = Tension pada dead line di udara, (lb)

16
3. Perhitungan Kapasitas Menara

Kapasitas menara dapat diketahui dengan cara menghitung margin

over pull dari drill pipe yang digunakan dan jumlah beban dari rangkaian di

udara dengan margin over pull dari drill string yang digunakan.

Yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

MOP = (Tensile Yield Strength x SF) W

Dimana : MOP = Margin Over Pull, (lb)

Tensile Yield Strength = Kekuatan dari string, (lb)

SF = Safety Factor

W = Hook load di udara, (lb)

Setelah mengetahui MOP dari string, maka kita dapat menghitung estimasi

dari beban tarikan maksimum yang dapat terjadi di menara dengan rumus :

TotalMOP = W + MOP

Dimana : TotalMOP = Maksimum over pull pada menara, (lb)

W = Hook load di udara, (lb)

MOP = Margin Over Pull, (lb)

Kapasitas minimum menara dapat ditentukan dengan syarat : Mast Capacity

> TotalMOP.

2.1.3 Drilling Line

Drilling line berada di dekat drawwork. Drilling line menghubungkan

semua komponen dalam sistem pengangkatan, karena tali ini dililitkan secara

bergantian melalui crown block dan puli travelling block, kemudian digulung

17
pada revolving drum yang berputar. Selain itu ada juga tali yang tidak bergerak

yang ditambatkan pada substructure (dead line).

Gambar 2.3 Drilling Line

2.1.3.1 Bagian Dan Jenis Drilling Line

Drilling line terbagi dalam beberapa bagian antara lain:

a. Core: Bagian tengah dari drilling line yang dililit oleh strand.

b. Strand: Bagian dari drilling line merupakan pilinan dari wire.

c. Wire: Bagian dari drilling line merupakan pilinan per biji.

d. Center: Bagian dari drilling line merupakan inti dari strand.

18
Gambar 2.4 Bagian Drilling Line

Drilling line terbagi dalam beberapa jenis antara lain:

a) Single Layer b) filler Layer


Satu core inti di kelilingi 6 strand Lapisan core yang memiliki inti

c) Seale d) Warrington
Dua lapisan dengan jumlah Dua Lapisan pada core dengan
yang sama dari kawat diameter yang sama

19
e) Mixed Warrington Seale
Dua lapisan pertama adalah warrington dan lapisan terakhir adalah lapisan seale

Drilling line juga di klasifikasikan sebagai berikut :

Gambar 2.5 Klasifikasi Drilling Line

2.1.3.2 Perhitungan Tension Dan Desain Drilling Line

1. Kapasitas Tension Pada Drilling Line

Kapasitas dari drilling line berguna untuk penentuan ukuran drilling line

yang digunakan dengan rumus sebagai berikut :

T = (D)2

20
Dimana : T = Tension Capacity, (lb)

D = Ukuran diameter drilling line yang digunakan, (in)

Untuk penentuan drilling line yang digunakan, maka syaratnya adalah T

> Tension pada fast line dan dead line.

2. Tension Pada Fast Line

TFL =

Dimana : TFL = Tension pada fast line, (lb)

W = Hook load di udara, (lb)

N = Jumlah line pada sheave travelling block

EF = Faktor efisiensi dari drilling line

TFL yang digunakan untuk desain adalah asumsi pada saat rangkaian di

udara.

3. Tension Pada Dead Line

TDL =

Dimana : TDL = Tension pada dead line, (lb)

W = Hook Load di udara, (lb)

N = Jumlah line pada sheave travelling block

EF = Faktor efisiensi dari drilling line

4. Tension Pada Drilling Line Saat SCL

TDA =

21
Dimana : TDA = Tension pada drilling line di udara saat SCL, (lb)

W = Hook load di udara, (lb)

N = Jumlah line pada sheave travelling block

2.1.4 Drawwork

Drawwork adalah salah satu peralatan yang paling penting yang ada di rig.

Alat ini menyuplai tenaga pengangkatan dalam hoisting system pada saat proses

pengangkatan rangkaian (trip out) dan memasukan rangkaian kedalam lubang

(trip in). Drilling line yang ada pada drilling spool digulung oleh engine yang

memiliki sumber tenaga dari tenaga elektrik atau tenaga diesel.

Gambar 2.6 Drawwork

22
2.1.4.1 Bagian Dan Tipe Drawwork

1. Bagian Drawwork

Konstruksi drawwork tergantung dari beban yang harus dilayani,

biasanya didesain dengan horse power (hp) dan kedalaman pemboran,

dimana kedalaman disini harus disesuaikan dengan ukuran drill pipenya.

Fungsi utama drawwork adalah untuk :

1. Meneruskan tenaga dari prime mover (power system) ke rangkaian pipa

bor selama operasi pemboran berlangsung.

2. Meneruskan tenaga dari prime mover ke rotary drive.

3. Meneruskan tenaga dari prime mover ke catheads untuk menyambung

atau melepas bagian-bagian rangkaian pipa bor.

Komponen-komponen utama drawwork terdiri dari :

1. Revolving Drum : Merupakan suatu drum untuk menggulung kabel bor

(drilling line).

2. Breaking System : Terdiri dari rem mekanis utama dan rem pembantu

hidrolis atau listrik, berfungsi untuk memperlambat atau menghentukan

gerakan kabel bor.

3. Rotary Drive : Berfungsi untuk meneruskan tenaga dari drawwork ke

meja putar.

23
4. Catheads : Berfungsi untuk mengangkat atau menarik beban-beban

ringan pada rig floor dan juga berfungsi untuk menyambung atau

melepas sambungan pipa bor.

2. Jenis Drawwork

Berdasarkan jenis engine yang ada di rig, drawwork dibagi menjadi 2

jenis, yaitu :

1. Mechanical

2. Electrical

1. Mechanical

Diesel engine langsung terkoneksi dengan drawwork melalui chain

(rantai). Jenis ini masih digunakan untuk service atau pemboran dangkal

(dibawah 1500 HP), tetapi sudah tidak lagi digunakan untuk rig diatas

1500 HP

2. Electrical

Engine dengan sistem ini biasanya digunakan untuk pemboran di

offshore. Umumnya drawwork disambungkan dengan 1000 HP DC

engine, walaupun AC engine digunakan pada saat ini.

2.1.4.2 Perhitungan HP Dan Desain HP Rig

Setelah kita mengetahui kapasitas menara yang di rekomendasikan,

maka kita dapat men-design kebutuhan drawwork power serta engine power

dengan mengacu kepada kapasitas menara dan efisiensi mekanik dari engine.

24
Kebutuhan drawwork power untuk pekerjaan work over ini dapat

ditentukan dengan kalkulasi sebagai berikut :

1. Power Requirement When POOH String / Casing

On Surface :

P=

Dimana : P = HP pada saat cabut rangkaian, (HP)

HLA = Hook load di udara, (lb)

VTB = Kecepatan travelling block, (ft/min)

EF = Faktor efisiensi drilling line

2. Power Requirement For Drawwork

P=

Dimana : P = Kebutuhan HP untuk drawwork, (HP)

Max HL = Total HL dengan MOP, (lb)

Em = Efisiensi mekanik drawwork (%)

Et = Efisiensi transmisi (%)

3. Kapasitas HP Rig

PEngine =

Dimana : PEngine = Kapasitas HP minimum untuk rig, (HP)

P = Kebutuhan HP untuk drawwork, (HP)

25
Em = Efisiensi mekanik dari drawwork

2.2 Sistem Sirkulasi

Peralatan sirkulasi adalah salah satu dari bagian-bagian yang utama dari

sistem sirkulasi. Perlengkapan ini menyalurkan cairan pengeboran. Cairan

disalurkan dari yanki tempat mempersiapkan lumpur memakai pompa lumpur ke

dalam string dan naik ke permukaan melalui annulus, dan kemudian dipindahkan

ke tanki pengkondisian lumpur, sebelum ditempatkan kembali dalam tanki lumpur

untuk diedarkan kembali. Perlengkapan sirkulasi ini terdiri dari beberapa bagian-

bagian, yaitu:

2.2.1 Pompa Lumpur

Fungsi pompa lumpur adalah untuk mensirkulasikan lumpur pemboran

pada tekanan dan volume yang diinginkan. Dari tipe piston umumnya adalah

duplex (dua buah piston) dan triplex (tiga piston). Pompa triplex single acting

yang mempunyai tiga piston dan masing-masing liner mempunyai satu valve

tekan dan satu valve hisap. Gerakan pompa triplex ini lebih cepat bila

dibandingkan dengan gerakan pompa duplex yaitu antara 1,5 sampai 2 lebih

cepat akibatnya diperlukan pengisian lumpur ke ruang liner dari tanki dengan

cepat pula. Oleh sebab itu pompa triplex bila digunakan untuk operasi masih

membutuhkan pompa centrifugal sebagai supercharging. Pompa piston

mempunyai keunggulan-keungggulan sebagai berikut:

Dapat dilalui fluida yang mengandung kadar solid tinggi dan abrasif.

26
Ruang kelpnya dapat dilalui oleh padatan-padatan yang kasar ukurannya

(missal material-material lost circulation).

Kerja dan pemeliharaannya mudah, liner, piston dan valve dapat diganti

dilapangan oleh crew drilling (bukan ahli khusus pompa).

Dengan menggunakan ukuran liner dan piston yang berbeda-beda didapat

range volume dan tekanan yang besar.

Dalam pemboran, pompa-pompa dapat digunakan bersamaan lebih dari

satu, yang disambung secara paralel atau seri. Untuk pemboran dangkal pompa

dengan susunan seri lebih umum, karena tekanan sirkulasi tak perlu terlalu besar

sedangkan rate sirkulasi harus besar, diameter lubang besar dan pemboran cepat.

2.2.2 Spesifikasi Pompa

Di dalam spesifikasi pompa terdapat bebebrapa hal:

Tipe

Maximal diameter liner

Panjang Stroke

IHP rating

Diameter rod (duplex)

Contoh :

9 P 100 Triplex 6 1/4 x 9 1/4

IHP rating
Max diameter liner
Panjang stroke

27
G 700 Duplex 8 x 14 2 5/8

Max IHP rating


Duplex

Max diameter liner


Panjang stroke
Diameter rod

2.2.3 Perhitungan Kapasitas Dan Tenaga Pompa

Kapasitas Pompa

Kapasitas dari pompa yang digunakan dalam operasi pemboran dapat

dihitung berdasarkan persamaan berikut :

Qmax = 0.000243 x (ID Liner)2 x LStroke x Efficiency

Pump Rate = 42 x SPM x Qmax

Dimana :

ID Liner = Diameter dalam Liner (inch)

LStroke = Panjang stroke (inch)

Qmax = Q maksimum (bbl/stk)

Pump Rate = Kapasitas Pompa (GPM)

Tenaga Pompa

Tenaga pompa dapat diketahui dengan memperhitungkan berapa total

pressure drop sepanjang rangkaian pemboran dengan rumus :


HPpump =

Dimana :

28
HPPump = Tenaga pompa yang dikeluarkan (HP)

= Total kehilangan tekanan (psi)

Q = Rate pompa (bbl/stk)

2.3 Sistem Pemutar

Rotating system termasuk semua perlatan yang digunakan untuk

mentransmisikan putaran meja putar ke bit. Diagram dan rangkaian dari rotating

system dapat dilihat pada gambar. Bagian utama dari rotating system adalah:

Gambar 2.7 Komponen Pemutar

29
1. Swivel

Swivel berfungsi sebagai penahanan beban drillstring yang berputar

dengan bagian statis (menara). Oleh karena itu, Swivel merupakan titik

penghubung antara circulating system dengan rotating system

2. Top Drive

Top drive adalah sebuah sistem pengangkat yang digunakan dalam sistem

pengeboran. top drive adalah alat untuk memutar rangkaian pipa bor yang

terpasang di menara bor dan digantung dibawah travelling block yang

digerakkan dengan tenaga hidrolik dan bersifat dapat dibongkar pasang.

Keuntungan penggunaan top drive:


1. Aman dalam operasi pemboran.

2. Waktu yang dibutuhkan dalam operasi pemboran dapat lebih cepat.

3. Sistem yang baik untuk Underbalanced Drilling.

3. Kelly

Kelly adalah rangkaian pipa yang pertama di bawah swivel. Bentuk

potongan dari Kelly dapat berupa segi empat atau segi enam, sehingga

Rotary Table dapat memutar Kelly dan rangkaian pipa di bawahnya.

4. Rotary Drive

Rotary Drive merupakan Gear Box yang berfungsi sebagai alat

untuk meneruskan tenaga ke meja pemutar (rotary table).

30
5. Rotary Table

Rotary Table adalah peralatan yang berfungsi untuk memutar dan

menggantung drillstring (Drill Pipe, Drill Collar dsb) yang memutar bit

didasar sumur. Kelly bushing dan rotary bushing berfungsi untuk memutar

Kelly. Rotary bushing digerakkan oleh prime mover lewat tenaga gabungan

atau motor elektrik, sedangkan Kelly bushing didudukan di Rotary Bushing

dan ditahan oleh empat penjepit. Bentuk dan ukuran Kelly Bushing

diasumsikan dengan Kelly yang di pakai.

6. Drill Pipe (DP)

DP merupakan pipa baja yang disambungkan dengan Kelly. Drill

pipe yang umum digunakan adalah tipe hot-rolled, pierced dan seamless

tubing. API telah mengembangkan spesifikasi drill pipe yang didasarkan

atas diameter luar, berat per foot, grade material dan range panjang.

7. Heavy Weight Drill Pipe (HWDP)

HWDP mempunyai dinding yang tebal dengan berat 2-3 kali lebih

besar dari pada Drill Pipe standar. Kegunaan penggunaan HWDP adalah

sebagai berikut:

1. Mengurangi kerusakan pipa pada zona transisi.

2. Mengurangi penggunaan drill collar.

3. Menghemat biaya directional drilling, mengurangi torsi dan

kecendrungan perubahan kemiringan

31
8. Drill Collar (DC)

DC merupakan pipa baja penyambung berdinding tebal yang

terletak di bagian bawah drill string di atas bit. Fungsi utamanya untuk

memberikan beban yang terpusat pada bit.

9. Bit

Bit atau pahat merupakan ujung dari drill string yang menyentuh

formasi, diputar dan diberi beban untuk menghancurkan serta menembus

formasi.

2.3.1 Perhitungan Beban Torsi

Dalam pemboran berarah ataupun horizontal beban torsi biasanya

merupakan beban paling cepat menyebabkan kelelahan pada drill pipe, sehingga

penentuannya harus dilakukan dengan cermat. Disamping itu beban torsi yang

berlebihan akan membatasi panjang bagian pertambahan sudut yang dapat

ditembus. Torsi yang mampu memutar bit dalam pemboran metoda rotary dibatasi

oleh:

1. Torsi maksimal yang dapat dilakukan oleh rotary tabel.

2. Kekuatan torsi pada sambungan rangkain pipa pemboran.

3. Kekuatan torsi pada bagian pipa yang tipis.

Dalam penentuan torsi pada bagian pertambahan sudut dapat menggunakan

persamaan dengan batasan-batasan berikut ini:

K = WOB (0.33 x Wm x R)

32
Untuk K Negatif (-)

TB =

Untuk K Positif (+)

TB = + ( 0.33)

Dimana :

TB = Torsi friksi pada bagian pertambahan sudut (ft-lbf)

OD = Diameter Drill String (inch)

L = Panjang Pipa (ft)

= Koefisien gesekan (0.33 untuk asumsi open hole)

Wm = Berat pipa di dalam lumpur (lb/ft)

R = Jari-jari bagian pertambahan sudut (ft)

WOB = Weight On Bit (lbs)

2.3.2 Desain Kebutuhan Tenaga Rotary Table

Untuk mencari Horse Power dari Rotary Table dengan rumus berikut :

RHP (Rotary Table) =

33
Dimana :

RHP = Tenaga yang dibutuhkan (HP)

TB(total) = Torsi selama pemboran (ft-lbf)

N = Putaran Rotary Table (rpm)

2.3.3 Desain Kebutuhan Tenaga Top Drive

Untuk mencari Horse Power dari Top Drive dengan rumus berikut:

RHP (Top Drive) =

Dimana :

RHP = Tenaga yang dibutuhkan (HP)

TB(total) = Torsi selama pemboran (ft-lbf)

N = Putaran Rotary Table (rpm)

2.4 Sistem Tenaga

Dalam pelaksanaaan operasi pemboran, kebutuhan tenaga yang paling besar

di dalam operasi pemboran adalah untuk mengangkat rangkaian bor dan sistem

sirkulasi fluida . Pada keadaan umum komponen pengangkat dan komponen

sirkulasi mempunyai mesin tenaga tersendiri, tetapi dalam keadaan tertentu dapat

menggunakan mesin tenaga secara bersamaan. Komponen tenaga dapat dilhat

pada gambar 3.17 dibawah ini :

34
Gambar 2.8 Komponen Tenaga

2.4.1 Prime Mover

Dalam sistem tenaga operasi pemboran, diperlukan suatu mesin yang

dapat menghasilkan daya yang cukup untuk operasi pemboran tersebut. Mesin

yang digunakan pada kegiatan pemboran menggunakan penggerak utama

(Prime Mover) Internal Combustion Diesel Engine sebagai mesin tenaga , yang

diklasifikasikan sebagai tipe mekanis (mechanical).

Pada tipe elektrik (Electrical), pembangkit tenaganya adalah generator

yang menghasilkan daya listrik, dan ditransmisikan ke seluruh sistem peralatan di

menara, yang menggunakan motor listrik. Pada tipe langsung (Direct Drive) yang

menjadi pembangkit tenaganya adalah Internal Combustion Engine dan transmisi

tenaga dilakukan dengan menggunakan gear, rantai, belt, clutches. Keuntungan

dari sistem ini adalah lebih murah investasinya tetapi tidak fleksibel

35
penempatannya di menara bor. Pada gambar 3.18. adalah salah satu jenis mesin

yang di gunakan pada komponen tenaga.

Gambar 2.9 Prime Mover

2.4.2 Kebutuhan Tenaga Engine

Tenaga putar yang dihasilkan oleh mesin adalah hasil kali dari kecepatan

sudut (Wf) dan hasil torsi (TB) :

HP =

Dimana :

HP = Tenaga putar yang dihasilkan mesin (HP)

Wf = Kecepatan sudut (rpm)

TB = Torsi selama pemboran (ft-lbf)

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Eni Corporate University. 2006. Drilling Rigs, Libya, Enabv Training

Project

2. Rubiandini Rudi R. S. Dr. Ing. Ir., Teknik Operasi Pemboran I dan II,

Institut Teknologi Bandung, Bandung, 2004

3. Rabia, H. 2002. Well Engineering & Construction, Entrac Consulting

4. Neal J. Adams: Drilling Engineering, PennWell Books, Tulsa,


Oklahoma, 1985

5. Robert F. Michell: Fundamentals Of Drilling Engineering, Society Of


Petroleum Engineers, U.S, 2011

37