Anda di halaman 1dari 2

Paradigma pembangunan menunjukkan posisi negara dalam mewujudkan

kesejahteraan warganya. Paradigma yang berbeda menunjukkan cara pandang


hingga praktek pembangunan yang berlainan pula. Konteks pembangunan pada
saat ini memiliki kekhasan tersendiri, yaitu dominasi kapitalisme global
(globalisasi), sekaligus diikuti kelemahannya berupa kritik lokal, yaitu
kekuatannya ke seluruh lokalitas di dunia baru berlangsung sejak 1980-an
(Ivanovich Agusta dan Fujiartanto, 2014).
Pembangunan di berbagai negara di dunia di era globalisasi telah
mendorong dinamisasi berbagai aspek kehidupan. Pembangunan yang
dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan pada jalur yang benar dapat
mengantarkan bangsa yang bersangkutan pada tingkat kesejahteraan yang lebih
tinggi. Meskipun demikian, pembangunan selalu menghasilkan dua sisi yang
bertentangan. Di satu sisi pembangunan menghasilkan kemajuan dan peningkatan
taraf hidup masyarakat dan bangsa, namun pada sisi lain apabila pembangunan
tidak dilaksanakan secara bijaksana maka keberhasilan pembangunan tidak jarang
menimbulkan ekses negatif yang tidak diinginkan seperti memperlebar
ketimpangan dalam kesejahteraan dan destruksi ekologis (lingkungan hidup)
(Ali, 2009).
Globalisasi merupakan suatu proses yang membuat hubungan antar satu
sama lain semakin terikat dengan berbagai kemajuan dalam bidang Teknologi
Informasi dan Komunikasi. Globalisasi juga menimbulkan masalah, yaitu pada Commented [unh1]: Kayanya ini dihapus ajaa

bidang ekologis atau lingkungan hidup, infllasi, krisis, dan lain-lain. Oleh karena
itu, diperlukan kemampuan untuk mengelola peluang-peluang globalisasi untuk
menjadi keunggulan negara dalam merumuskan pembangunannya.
Paradigma pembangunan tidak boleh hanya menekankan pada aspek
ekonomi dan fisik, namun berfokus pada pembangunan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang handal dan terampil. Menurut Edgar Owens dalam bukunya yang Commented [unh2]: Ini bagus tsal jadi bisa disambungin ke
pemberdayaan
berjudul Pembangunan Ditinjau Kembali, bahwa strategi pembangunan yang baru
yaitu suatu strategi di mana partisipasi seluruh rakyat merupakan cara maupun
tujuan dari pembangunan itu sendiri. Analisa ini lebih banyak berdasarkan bukti-
bukti historis daripada teori. Strategi itu dari pengalaman pembangunan yang
relatif berhasil di Jepang sebelum perang, Taiwan, Korea, Mesir, Yugoslavia dan
Israel. Strategi itu menampilkan kebijaksanaan di mana massa besar produsen
kecil-petani, pengrajin, pengusaha kecil dapat diikutsertakan dalam pembangunan,
yang bertentangan dengan kebijaksanaan masa kini yang memusatkan investasi
pada usaha padat-modal, terutama pabrik-pabrik modern di kota-kota besar dan
ladang pertanian besar. Perlu pengerahan tenaga setempat, produsen kecil dapat
didorong untuk bersaham untuk masa depan, untuk meningkatkan penghasilan
dengan produksi lebih tinggi dan memperluas penyebaran produksinya. Commented [unh3]: Kayanya ngga relevan

Kemandirian bukan berarti mengisolasi diri, namun berarti tidak


bergantungan pada negara lain. Apalagi pada era globalisasi, negara tidak lepas Commented [unh4]: Kalo ini kayanya kejauhan

berhubungan dengan negara lain. Kemandirian adalah kemampuan


mengalokasikan potensi atau sumber daya yang dimiliki untuk bertahan,
berkembang dan maju. Kemandirian dalam hal politik memiliki beberapa aspek
yaitu hubungan bilateral, regional dan internasional, yang berarti bebas
menentukan kebijakan tanpa terikat pihak lain.
Kemandirian (resilience) sering dipersamakan dengan istilah otonom,
tidak tergantung/bebas, mengelola diri sendiri dan berkelanjutan (Hillery, 1955).
Dalam perspektif pembangunan masyarakat, kemandirian masyarakat merupakan
suatu keadaan atau kondisi tertentu yang ingin dicapai yang tidak lagi tergantung
pada bantuan pihak ketiga dalam mengamankan kepentingan dirinya (Verhagen,
1996). Ketergantungan masyarakat pada pihak luar sebaiknya untuk jangka
pendek, bukan terus-menerus.