Anda di halaman 1dari 2

PERITONITIS

No. Dokumen : SOP/PKM.R/VIII/2017


No. Revisi : 0
PPK
Tgl. Terbit :
Halaman : 1/2

PUSKESMAS H. SEJARAH, S.Sos


RENSING NIP. 196612311986031093

1. Pengertian Peritonitis adalah inflamasi dari peritoneum. Peritonitis dapat


(Definisi) disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan
penyulitnya misalnya perforasi apendisitis, perforasi tukak lambung,
perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena
perforasi organ berongga karena trauma abdomen.
2. Anamnesis 1. Nyeri hebat pada abdomen yang dirasakan terus-menerus
selama beberapa jam, dapat hanya di satu tempat ataupun
tersebar di seluruh abdomen. Intensitas nyeri semakin kuat saat
penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau
mengejan.
2. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan
naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak
letargik dan syok
3. Mual dan muntah timbul akibat adanya kelainan patologis organ
visera atau akibat iritasi peritoneum.
4. Kesulitan bernafas disebabkan oleh adanya cairan dalam
abdomen, yang dapat mendorong diafragma.
3. Pemeriksaan 1. Pasien tampak letargik dan kesakitan
Fisik 2. Dapat ditemukan demam
3. Distensi abdomen disertai nyeri tekan dan nyeri lepas abdomen
4. Defans muskular
5. Hipertimpani pada perkusi abdomen
6. Pekak hati dapat menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma
7. Bising usus menurun atau menghilang
8. Rigiditas abdomen atau sering disebut perut papan
9. Pada colok dubur akan terasa nyeri di semua arah, dengan tonus
muskulus sfingter ani menurun dan ampula rekti berisi udara
4. Kriteria Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik dari
Diagnosis tanda-tanda khas yang ditemukan pada pasien
5. Diagnosis Peritonitis
Kerja
6. Diagnosis -
Banding
7. Pemeriksaan Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan di layanan primer untuk
Penunjang menghindari keterlambatan dalam melakukan rujukan
8. Tata Laksana Pasien segera dirujuk setelah penegakan diagnosis dan
penatalaksanaan awal seperti berikut:
1. Memperbaiki keadaan umum pasien
2. Pasien puasa
3. Dekompresi saluran cerna dengan pipa nasogastrik atau intestinal
(di Puskesmas tidak ada NGT)
4. Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara
intravena
5. Pemberian antibiotik spektrum luas intravena.
6. Tindakan-tindakan menghilangkan nyeri dihindari untuk tidak
menyamarkan gejala
9. Konseling dan -
Edukasi

10. Kriteria Rujuk ke layanan sekunder yang memiliki dokter spesialis bedah
Rujukan
11. Prognosis Dubia ad malam
12. Kepustakaan 1. Sjamsuhidajat, R. Wim de Jong (2004), Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi
Revisi. EGC, Jakarta.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 5 Tahun
2014
3. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. Edisi Revisi Tahun 2014