Anda di halaman 1dari 28

Prinsip Kerja Instrumen Spektroskopi

Tugas II Elusidasi Senyawa Organik


Prinsip Kerja Instrumen Spektroskopi
Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari materi dan atributnya berdasarkan
cahaya, suara atau partikel yang dipancarkan, diserap atau dipantulkan oleh materi tersebut.
Spektroskopi juga dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara cahaya
dan materi. Dalam catatan sejarah, spektroskopi mengacu kepada cabang ilmu dimana
"cahaya tampak" digunakan dalam teori-teori struktur materi serta analisa kualitatif dan
kuantitatif. Dalam masa modern, definisi spektroskopi berkembang seiring teknik-teknik baru
yang dikembangkan untuk memanfaatkan tidak hanya cahaya tampak, tetapi juga bentuk lain
dari radiasi elektromagnetik dan non-elektromagnetik seperti gelombang mikro, gelombang
radio, elektron, fonon, gelombang suara, sinar x dan lain sebagainya.
Spektroskopi umumnya digunakan dalam kimia fisik dan kimia analisis untuk
mengidentifikasi suatu substansi melalui spektrum yang dipancarkan atau yang diserap. Alat
untuk merekam spektrum disebut spektrometer. Spektroskopi juga digunakan secara intensif
dalam astronomi dan penginderaan jarak jauh. Kebanyakan teleskop-teleskop besar
mempunyai spektrograf yang digunakan untuk mengukur komposisi kimia dan atribut fisik
lainnya dari suatu objek astronomi atau untuk mengukur kecepatan objek astronomi
berdasarkan pergeseran Doppler garis-garis spektral. Salah satu jenis spektroskopi adalah
spektroskopi infra merah (IR). spektroskopi ini didasarkan pada vibrasi suatu molekul.

A. SPEKTROFOTOMETER INFRA MERAH


Pada prinsipnya, bila radiasi infra merah dilewatkan melalui suatu cuplikan,
maka molekul-molekulnya dapat menyerap (mengabsorpsi) energi sehingga terjadi transisi antara tingkat
vibrasi dasar (ground state) dan tingkat vibrasi tereksitasi (exited state). Pengabsorpsian energi pada
berbagai frekuensi dapat dideteksi oleh Spektrofotometer Infra Merah, yang memplot jumlah
radiasi infra merah yang diteruskan melalui suatu cuplikan sebagai fungsi frekuensi atau
panjang gelombang radiasi. Plot tersebut disebut spektrum infra merah, yang akan memberikan
informasi penting tentang gugus fungsional suatu molekul.Vibrasi molekul hanya akan terjadi bila
suatu molekul terdiri dari dua atom atau lebih. Untuk dapat menyerap radiasi infra merah (aktif
inframerah),vibrasi molekul harus menghasilkan perubahan momen dwikutub.
B. SPEKTROFOTOMETER UV-VIS

Prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis adalah interaksi yang terjadi antara energi yang berupa sinar
monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Besar energi yang diserap tertentu dan
menyebabkan elektron tereksitasi dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi yang memiliki energi lebih tinggi.
Serapan tidak terjadi seketika pada daerah ultraviolet-visible untuk semua struktur elektronik, tetapi hanya
pada sistem-sistem terkonjugasi, struktur elektronik dengan adanya ikatan dan non bonding elektron .Prinsip
kerja spektrofotometer berdasarkan hukum Lambert Beer, yaitu bila cahaya monokromatik (Io) melalui suatu
media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi
dipancarkan (It).
Cara kerja alat spektrofotometer UV-Vis yaitu sinar dari sumber radiasi diteruskan
menuju monokromator. Cahaya dari monokromator diarahkan terpisah melalui sampel
dengan sebuah cermin berotasi. Detektor menerima cahaya dari sampel secara bergantian
secara berulang-ulang, Sinyal listrik dari detektor diproses, diubah ke digital dan dilihat
hasilnya, selanjutnya perhitungan dilakukan dengan komputer yang sudah terprogram.
C. HPLC ( High Performance Liquid Chromatography)
Prinsip kerja HPLC adalah sebagai berikut : dengan bantuan pompa fasa gerak cair
dialirkan melalui kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan
cara penyuntikan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen campuran karena
perbedaan kekuatan interaksi antara solut-solut terhadap fasa diam. Solut-solut yang kurang
kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar dari kolom lebih dulu. Sebaliknya, solut-solut
yang kuat berinteraksi dengan fasa diam maka solut-solut tersebut akan keluar kolom
dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram

D. SPEKTROMETER MASSA
Prinsip kerja Spektrometer Massa adalah pengionisasian senyawa kimia menghasilkan
molekul atau fragmen molekul dan mengukur rasio massa atau muatan. Spectrometer massa
menghasilkan berkas ion, memilah ion tersebut menjadi spektum yang sesuai dengan
perbandingan massa terhadap muatan dan merekam kelimpahan relatif tiap jenis ion yang
ada. Umumnya, hanya ion positif yang dipelajari karena ion negatif yang dihasilkan dari
sumber tumbukan umumnya sedikit. Atom dapat dibelokkan dalam sebuah medan magnet (dengan
anggapan atom tersebut diubah menjadi ion terlebih dahulu) karena partikel-partikel bermuatan
listrik dibelokkan dalam medan magnet dan partikel-partikel yang tidak bermuatan (netral)
tidak dibelokkan. Urutannya adalah sebagai berikut :
a. Tahap pertama : Ionisasi
Atom diionisasi dengan mengambil satu atau lebih elektron dari atom tersebut
supaya terbentuk ion positif. Ini juga berlaku untuk unsur-unsur yang biasanya membentuk
ion-ion negatif (sebagai contoh, klor) atau unsur-unsur yang tidak pernah membentuk ion
(sebagai contoh, argon). Spektrometer massa ini selalu bekerja hanya dengan ion positif.
b. Tahap kedua : Percepatan
Ion-ion tersebut dipercepat supaya semuanya mempunyai energi kinetik yang sama.
c. Tahap ketiga : Pembelokan
Ion-ion tersebut dibelokkan dengan menggunakan medan magnet. Pembelokkan yang
terjadi tergantung pada massa ion tersebut. Semakin ringan massanya, akan semakin
dibelokkan. Besarnya pembelokannya juga tergantung pada besar muatan positif ion tersebut.
Dengan kata lain, semakin banyak elektron yang diambil pada tahap 1, semakin besar
muatan ion tersebut, pembelokan yang terjadi akan semakin besar.
d. Tahap keempat : Pendeteksian
Sinar-sinar ion yang melintas dalam spectrometer massa akan dideteksi secara
elektrik.

E. NMR

Prinsip dalam spektrometri NMR yaitu bila sampel yang mengandung 1H atau13C
(bahkan semua senyawa organik) ditempatkan dalam medan magnet, akan timbul interaksi
antara medan magnet luar tadi dengan magnet kecil (inti). Karena adanya interaksi ini,
magnet kecil akan terbagi atas dua tingkat energi (tingkat yang sedikit agak lebih stabil (+)
dan keadaan yang kurang stabil (-)) yang energinya berbeda. Karena inti merupakan materi
mikroskopik, maka energi yang berkaitan dengan inti ini terkuantisasi, artinya tidak kontinyu.
Perbedaan energi antara dua keadaan diberikan oleh persamaan.

F. XRD ( X-Ray Diffraction )


Prinsip dasar dari difraksi adalah hasil dari pantulan elastis yang terjadi ketika sebuah
sinar berbenturan dengan sasaran serta pantulan sinar yang bersifat elastis.Difraksi sinar X
terjadi pada hamburan elastis foton-foton sinar X oleh atom dalam sebuah kisi
periodik. Hamburan monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut memberikan interferensi yang
konstruktif. Dasar dari penggunaan difraksi sinar-X untuk mempelajari kisi kristal adalah
berdasarkan persamaan Bragg :
n. = 2.d.sin ; n = 1,2,
dengan adalah panjang gelombang sinar-X yang digunakan, d adalah jarak antara dua
bidang kisi, adalah sudut antara sinar datang dengan bidang normal, dan n adalah bilangan
bulat yang disebut sebagai orde pembiasan.
Berdasarkan persamaan Bragg, jika seberkas sinar-X di jatuhkan pada sampel kristal,
maka bidang kristal itu akan membiaskan sinar-X yang memiliki panjang gelombang sama
dengan jarak antar kisi dalam kristal tersebut. Sinar yang dibiaskan akan ditangkap oleh
detektor kemudian diterjemahkan sebagai sebuah puncak difraksi. Makin banyak bidang
kristal yang terdapat dalam sampel, makin kuat intensitas pembiasan yang dihasilkannya.
Tiap puncak yang muncul pada pola XRD mewakili satu bidang kristal yang memiliki
orientasi tertentu dalam sumbu tiga dimensi. Puncak-puncak yang didapatkan dari data
pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi sinar-X untuk hampir semua
jenis material. Standar ini disebut JCPDS.
Sinar X dalam pembangkitannya dideskripsikan oleh gambar dibawah ini yang
didalam sinar x terdapat dua jenis radiasi yaitu sinar x kontinyu dan karakteristik. untuk alat
XRD terdapat filter guna menyaring sinar x kontinyu dan hanya meneruskan sinar x
karakteristik.
Prinsip dari alat XRD adalah sinar X yang dihasilkan dari suatu logam tertentu memiliki
panjang gelombang tertentu, sehingga dengan memfariasi besar sudut pantulan sehingga
terjadi pantulan elastis yang dapat dideteksi. Maka menurut Hukum Bragg jarak antar bidang
atom dapat dihitung dengan data difraksi yang dihasilkan pada besar sudut-sudut tertentu.

Jadi, jenis spektrofotometri di atas memiliki prinsip kerja yang sama yaituadanya
interaksi antara materi dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang
tertentu. Perbedaannya terletak pada panjang gelombang yang digunakan.

Prinsip Kerja Instrumen Spektroskopi


Assalamu'alaikum,
Akhirnya posting juga nih.. Kali ini saya akan berbagi info buat agan-agan
tentang Instrumen Spektroskopi Organik. Kebetulan dapat tugas dari Ibu Dosen
hahahahahahhahhhaaaa langsung aja sekalian posting..
ya udah, tanpa banyak komat-kamit, ntar agan-agan semua pada bosen...
cekidot!!!!

1. Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber

REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm)

dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi

elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih

banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif.

Spektrofotometer UV-Vis adalah alat yang digunakan untuk mengukur transmitansi,

reflektansi dan absorbsi dari cuplikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.

Spektrofotometer UV-Vis menggunakan cahaya sebagai tenaga yang mempengaruhi

substansi senyawa kimia. Cahaya yang digunakan merupakan foton yang bergetar

dan menjalar secara lurus dan merupakan tenaga listrik dan magnet yang keduanya

saling tagak lurus. Tenaga foton bila mmepengaruhi senyawa kimia, maka akan

menimbulkan tanggapan (respon), sedangkan respon yang timbul untuk senyawa

organik ini hanya respon fisika atau Physical event. Tetapi bila sampai menguraikan

senyawa kimia maka dapat terjadi peruraian senyawa tersebut menjadi molekul

yang lebih kecil atau hanya menjadi radikal yang dinamakan peristiwa kimia

atau Chemical event.

Prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis adalah interaksi yang terjadi antara energi yang berupa

sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Besar energi yang

diserap tertentu dan menyebabkan elektron tereksitasi dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi

yang memiliki energi lebih tinggi. Serapan tidak terjadi seketika pada daerah ultraviolet-visible

untuk semua struktur elektronik, tetapi hanya pada sistem-sistem terkonjugasi, struktur elektronik

dengan adanya ikatan dan non bonding elektron .Prinsip kerja spektrofotometer berdasarkan

hukum Lambert Beer, yaitu bila cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka

sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan

(It).

Cara kerja alat spektrofotometer UV-Vis yaitu sinar dari sumber radiasi diteruskan

menuju monokromator. Cahaya dari monokromator diarahkan terpisah melalui

sampel dengan sebuah cermin berotasi. Detektor menerima cahaya dari sampel
secara bergantian secara berulang-ulang, Sinyal listrik dari detektor diproses, diubah

ke digital dan dilihat hasilnya, selanjutnya perhitungan dilakukan dengan komputer

yang sudah terprogram.

2. Spektrofotometer Infra Merah

Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode yang mengamati

interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang

0,751.000 m atau pada bilangan gelombang 13.00010 cm-1 dengan menggunakan suatu alat

yaitu Spektrofotometer Infra Merah. Metode ini banyak digunakan pada laboratorium analisis

industri dan laboratorium riset karena dapat memberikan informasi yang berguna untuk analisis

kualitatif dan kuantitatif, serta membantu penerapan rumus bangun suatu senyawa.

Metode spektrofotometri Infra Merah merupakan suatu metode yang meliputi teknik serapan

(absorption), teknik emisi (emission), teknikfluoresensi(fluorescence). Ketika suatu

radiasi gelombang elektromagnetik mengenai suatu materi,akan terjadi suatu

interaksi yang berupa penyerapan energi (absorbsi) oleh atom-atom atau molekul-

molekul dari materi tersebut. Komponen medan listrik yang banyak berperan dalam

spektroskopi umumnya hanya komponen medan listrik seperti dalam fenomena transmisi,

pemantulan, pembiasan, dan penyerapan. Penyerapan gelombang

elektromagnetik dapat menyebabkan terjadinya eksitasi tingkat-tingkat energi dalam

molekul yang dapat berupa eksitasi elektronik, vibrasi, ataurotasi.

Pada prinsipnya, bila radiasi infra merah dilewatkan melalui suatu cuplikan,

maka molekul-molekulnya dapat menyerap (mengabsorpsi) energi sehingga terjadi transisi

antara tingkat vibrasi dasar (ground state) dan tingkat vibrasi tereksitasi (exited state).

Pengabsorpsian energi pada berbagai frekuensi dapat dideteksi oleh

Spektrofotometer Infra Merah, yang memplot jumlah radiasi infra merah yang

diteruskan melalui suatu cuplikan sebagai fungsi frekuensi atau panjang gelombang

radiasi. Plot tersebut disebut spektrum infra merah, yang akan memberikan informasi penting

tentang gugus fungsional suatu molekul.Vibrasi molekul hanya akan terjadi bila suatu
molekul terdiri dari dua atom atau lebih. Untuk dapat menyerap radiasi infra merah (aktif

inframerah),vibrasi molekul harus menghasilkan perubahan momen dwikutub.

3. Spektrometer Massa

Spektrometri massa merupakan suatu metode analisis instrumental yang dipakai

untuk identifikasi dan penentuan struktur dari komponen sampel dengan cara

menunjukkan massa relatif dari molekul komponen dan massa relatif hasil

pecahannya. Dasar dari spektrometri massa yaitu adanya penembakkan molekul

dengan elektron berenergi tertentu yang cukup untuk mengalahkan potensial

ionisasi pertama senyawa tersebut sehingga molekul akan terpecah.

Prinsip kerja Spektrometer Massa adalah pengionisasian senyawa kimia

menghasilkan molekul atau fragmen molekul dan mengukur rasio massa atau

muatan. Spectrometer massa menghasilkan berkas ion, memilah ion tersebut

menjadi spektum yang sesuai dengan perbandingan massa terhadap muatan dan

merekam kelimpahan relatif tiap jenis ion yang ada. Umumnya, hanya ion positif

yang dipelajari karena ion negatif yang dihasilkan dari sumber tumbukan umumnya

sedikit. Atom dapat dibelokkan dalam sebuah medan magnet (dengan anggapan

atom tersebut diubah menjadi ion terlebih dahulu) karena partikel-partikel bermuatan

listrik dibelokkan dalam medan magnet dan partikel-partikel yang tidak bermuatan

(netral) tidak dibelokkan. Urutannya adalah sebagai berikut :

a. Tahap pertama : Ionisasi

Atom diionisasi dengan mengambil satu atau lebih elektron dari atom tersebut

supaya terbentuk ion positif. Ini juga berlaku untuk unsur-unsur yang biasanya

membentuk ion-ion negatif (sebagai contoh, klor) atau unsur-unsur yang tidak

pernah membentuk ion (sebagai contoh, argon). Spektrometer massa ini selalu

bekerja hanya dengan ion positif.

b. Tahap kedua : Percepatan


Ion-ion tersebut dipercepat supaya semuanya mempunyai energi kinetik yang

sama.

c. Tahap ketiga : Pembelokan

Ion-ion tersebut dibelokkan dengan menggunakan medan magnet. Pembelokkan

yang terjadi tergantung pada massa ion tersebut. Semakin ringan massanya, akan

semakin dibelokkan. Besarnya pembelokannya juga tergantung pada besar muatan

positif ion tersebut. Dengan kata lain, semakin banyak elektron yang diambil pada

tahap 1, semakin besar muatan ion tersebut, pembelokan yang terjadi akan semakin

besar.

d. Tahap keempat : Pendeteksian

Sinar-sinar ion yang melintas dalam spectrometer massa akan dideteksi secara

elektrik.

4. NMR

Spektrometri NMR (Nuclear Magnetic Resonance = Resonansi Magnetik Inti)

berhubungan dengan sifat magnet dari inti atom. Spektroskopi NMR didasarkan

pada penyerapan panjang gelombang radio oleh inti-inti tertentu dalam molekul

organik, apabila molekul ini berada dalam medan magnet yang kuat. Inti atom

unsur-unsur dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni atom unsur yang mempunyai

spin atau tidak mempunyai spin. Spin inti akan menimbulkan medan magnet. Dari

resonansi magnet proton (RMP), akan diperoleh informasi jenis hidrogen, jumlah

hidrogen dan lingkungan hidrogen dalam suatu senyawa begitu juga dari resonansi

magnet karbon (RMC).


Skema spektometer NMR

Spektrometri NMR ini memberikan banyak informasi mengenai kedudukan gugus

fungsi. Ada empat parameter yang dapat membantu menginterpretasi spektra NMR.

(1) pergeseran kimia, (2) penjodohan spin, (3) tetapan penjodohan dan pola

penjodohan, dan (4) integrasi. Untuk memastikan kebenaran struktur yang dianalisis,

metode ini sering dibantu dengan spektroskopi 2-D yaitu HMQC (Heteronuclear

Multiple Quantum Coherence), HMBC (Heteronuclear Multi Bond Coherence),

COSY (Correlation Spectroscopy) dan NOESY (Nuclear Overhauser Effect

Spectroscopy).

Prinsip dalam spektrometri NMR yaitu bila sampel yang mengandung1H atau 13C

(bahkan semua senyawa organik) ditempatkan dalam medan magnet, akan timbul

interaksi antara medan magnet luar tadi dengan magnet kecil (inti). Karena adanya

interaksi ini, magnet kecil akan terbagi atas dua tingkat energi (tingkat yang sedikit

agak lebih stabil (+) dan keadaan yang kurang stabil (-)) yang energinya berbeda.

Karena inti merupakan materi mikroskopik, maka energi yang berkaitan dengan inti

ini terkuantisasi, artinya tidak kontinyu. Perbedaan energi antara dua keadaan

diberikan oleh persamaan.


E = hH/2

H yaitu kuat medan magnet luar (yakni magnet spektrometer), h yaitu tetapan

Planck, yaitu tetapan khas bagi jenis inti tertentu, disebut dengan rasio

giromagnetik dan untuk proton nilainya 2,6752 x 108 kg-1 s A (A= amper).
Bila sampel disinari dengan gelombang elektromagnetik () yang berkaitan

dengan perbedaan energi ( E),


E = h

Inti dalam keadaan (+) mengabsorbsi energi ini dan tereksitasi ke tingkat energi (-).

Proses mengeksitasi inti dalam medan magnetik akan mengabsorbsi energi

(resonansi) disebut nuclear magnetic resonance(NMR).

Frekuensi gelombang elektromagnetik yang diabsorbsi diungkapkan sebagai fungsi

H.
= H/2

Bila kekuatan medan magnet luar, yakni magnet spektrometer, adalah 2,3490

T(tesla; 1 T = 23490 Gauss), yang diamati sekitar 1 x 10 8 Hz = 100 MHz. Nilai

frekuensi ini di daerah gelombang mikro.

Secara prinsip, frekuensi gelombang elektromagnetik yang diserap ditentukan

oleh kekuatan magnet dan jenis inti yang diamati. Namun, perubahan kecil dalam

frekuensi diinduksi oleh perbedaan lingkungan kimia tempat inti tersebut berada.

Perubahan ini disebut pergeseran kimia. Dalam spektrometri 1H NMR, pergeseran

kimia diungkapkan sebagai nilai relatif terhadap frekuensi absorpsi (0 Hz)

tetrametilsilan standar (TMS) (CH3)4Si.

Frekuensi resonansi (frekuensi absorpsi) proton (atau inti lain) sebanding dengan

kekuatan magnet spektrometer. Perbandingan data spektrum akan sukar bila

spektrum yang didapat dengan magnet berbeda kekuatannya. Untuk mencegah

kesukaran ini, skala , yang tidak bergantung pada kekuatan medan magnet,

dikenalkan. Nilai didefinisikan sebagai berikut.


= ( /) x 106 (ppm)

merupakan perbedaan frekuensi resonansi (dalam Hz) inti yang diselidiki dari

frekuensi standar TMS (dalam banyak kasus) dan frek uensi (dalam Hz) proton

ditentukan oleh spektrometer yang sama. Karena nilai / sedemikian kecil,

nilainya dikalikan dengan 106. Jadi nilai diungkapkan dalam satuan ppm.

5. XRD ( X-Ray Diffraction )


Prinsip dasar dari difraksi adalah hasil dari pantulan elastis yang terjadi ketika

sebuah sinar berbenturan dengan sasaran serta pantulan sinar yang bersifat

elastis. Difraksi sinar X terjadi pada hamburan elastis foton-foton sinar X oleh atom

dalam sebuah kisi periodik. Hamburan monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut

memberikan interferensi yang konstruktif. Dasar dari penggunaan difraksi sinar-X

untuk mempelajari kisi kristal adalah berdasarkan persamaan Bragg :


n. = 2.d.sin ; n = 1,2,

dengan adalah panjang gelombang sinar-X yang digunakan, d adalah jarak antara

dua bidang kisi, adalah sudut antara sinar datang dengan bidang normal, dan n

adalah bilangan bulat yang disebut sebagai orde pembiasan.

Berdasarkan persamaan Bragg, jika seberkas sinar-X di jatuhkan pada sampel

kristal, maka bidang kristal itu akan membiaskan sinar-X yang memiliki panjang

gelombang sama dengan jarak antar kisi dalam kristal tersebut. Sinar yang

dibiaskan akan ditangkap oleh detektor kemudian diterjemahkan sebagai sebuah

puncak difraksi. Makin banyak bidang kristal yang terdapat dalam sampel, makin

kuat intensitas pembiasan yang dihasilkannya. Tiap puncak yang muncul pada pola

XRD mewakili satu bidang kristal yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu tiga

dimensi. Puncak-puncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian

dicocokkan dengan standar difraksi sinar-X untuk hampir semua jenis material.

Standar ini disebut JCPDS.

Sinar X dalam pembangkitannya dideskripsikan oleh gambar dibawah ini yang

didalam sinar x terdapat dua jenis radiasi yaitu sinar x kontinyu dan karakteristik.

untuk alat XRD terdapat filter guna menyaring sinar x kontinyu dan hanya

meneruskan sinar x karakteristik.

Prinsip dari alat XRD adalah sinar X yang dihasilkan dari suatu logam tertentu

memiliki panjang gelombang tertentu, sehingga dengan memfariasi besar sudut

pantulan sehingga terjadi pantulan elastis yang dapat dideteksi. Maka menurut
Hukum Bragg jarak antar bidang atom dapat dihitung dengan data difraksi yang

dihasilkan pada besar sudut-sudut tertentu. Prinsip ini di gambarkan dengan

diagram dibawah ini.

Diagram prinsip dasar alat XRD

6. HPLC ( High Performance Liquid Chromatography )

HPLC merupakan suatu metode pemisahan yang dapat digunakan sebagai uji

identitas, uji kemumian dan penetapan kadar. Titik berat dari HPLC adalah untuk

analisis senyawa-senyawa yang tidak mudah menguap dan tidak stabil pada suhu

tinggi, yang tidak bisa dianalisis dengan Kromatografi Gas. Banyak senyawa yang

dapat dianalisis, dengan KCKT mulai dari senyawa ion anorganik sampai senyawa

organik makromolekul.

Prinsip kerja HPLC adalah sebagai berikut : dengan bantuan pompa fasa gerak

cair dialirkan melalui kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa
gerak dengan cara penyuntikan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-

komponen campuran karena perbedaan kekuatan interaksi antara solut-solut

terhadap fasa diam. Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam

akan keluar dari kolom lebih dulu. Sebaliknya, solut-solut yang kuat berinteraksi

dengan fasa diam maka solut-solut tersebut akan keluar kolom dideteksi oleh

detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram. Seperti pada kromatografi

gas, jumlah peak menyatakan konsentrasi komponen dalam campuran. Komputer

dapat digunakan untuk mengontrol kerja ystem HPLC dan mengumpulkan serta

mengolah data hasil pengukuran HPLC.

Diagram instrumen HPLC

yups, itu dia semoga bermanfaat, buat yang mau donlot filenya silakan ke:
http://www.4shared.com/file/sqClRk4p/Instrumen_Spektroskopi_yang_Di.html

DUNIAKU
Jumat, 25 Februari 2011

DASAR-DASAR INSTRUMENTASI

PENDAHULUAN
Instrumentasi adalah alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk pengukuran dan
pengendalian dalam suatu system yang lebih besar dan lebih kompleks. Secara umum instrumentasi
mempunyai 3 fungsi utama :

a.sebagai alat pengukuran

b.sebagai alat analisa

c.sebagai alat kendali

Pengukuran adalah proses mempekirakan atau menentukan besarnya kuantitas,seperti


panjang atau massa, relative terhadap satuan pengukuran, seperti meter atau kilogram. Pengukuran
panjang juga dapat digunakan untuk mengacu pada hasil yang spesifik yang diperoleh dari proses
pengukuran.

Pengukuran instrumen dapat dilakukan secara mekanik dan listrik,contoh secara mekanik
adalah thermometer air raksa dan alcohol, thermometer gas, tekanan uap, dan bimetal. Contih
pengukuran instrument denagn menggunakan listrik adalah termometer listrik, termistor, dan
termocopel. Ada jugadengan menggunakan radiasi,seperti barometer optik, dan radiasi.

Dalam pengukuran instrument kita juga sering mendengar beberapa istilah seperti
kepekaan, ketelitian , ketepatan , kalibrasi serta banyak istilah lainnya. Selain istilah ada juga standar
pengukuran, yaitu standar internasional , primer, sekunder, dan kerja. Dalam tahap pengukuran
instrument juga ada 3 tahap,yakni tahap detector,tahap anatara,dan tahap akhir.

Instrument juga dapat digunakan untuk menentukan nilai atau besaran dari suatu kuantitas
atau variable. Instrument elektronik berdasarkan pada prinsip-prinsip listrik atau elektronika dalam
pemakaianya sebagai alat ukur elektronik.sebuah instrument elektronik dapat berupa sebuah alat
yang konstuksinya sederhana dan relative tidakseb rumit seperti halnya sebuah alat ukur dasar
untuk arus arah. dengan berkembangnya teknologi, tuntutan akan kebutuhan instrument-intrument
yang lebih terpercaya dan lebih teliti semakin meningkat yang kemudian menghasilkan
perkembangan-perkembangan baru dalam perencanaandan pemakaian. Untuk menggunakan
instrument-instrument ini secara cermat, perlu dipahami prinsip-prinsip kerjanya dan mampu
memperkirakan apakah instrument tersebut sesuai untuk pemakaian yang direncanakan.

Isi

Instrumentasi sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasisurvey/statistic, instrumentasi


pengukuran suhu dan lain-lain. Instrumentasi sebai alat analisa banyak dijumpai dibidang kimia dan
kedokteran. Sedangkan instrumentasi sebagai alat kendali banyak ditemukan dalam bidang
elektronika,industry dan pabrik-pabrik. Sistem pengukuran, analisa dan kendali dalam instrumentasi
ini biasa dilakukan secara manual (hasilnya dibaca dan ditulis tangan ),tetapi bias juga dilakukan
secara otomatis dengan menggunakan computer (sirkuit kelompok). Untuk jenis yang kedua ini
instrumentasi tidak bias dipisahkan dengan bidang elektronika dan instrumentasi itu sendiri.

Instrumentasi sebagai alat pengukur sering kali merupakan bagian awal dari bagian bagian
selanjutnya (bagian kendalinya), dan biasa berupa pengukur dari semua jenis besaran fisis, kimia,
mekanis, maupun besaran listrik. Beberapa contoh diantaranya adalah pengukur : massa, waktu,
panjang, luas, sudut, suhu, kelembaban, tekanan, aliran, pH (keasaman), Level, radiasi, suara,
cahaya, kecepatan, torque, sifat listrik (arus listrik, tegangan listrik, tahana listrik),viskositas,density,
dll.

Definisi Istilah-Istilah
Dalam pengukuran digunakan sejumlah istilah yang akan didefinisikan seperti berkut ini.

a.Kemampuan bacaan(Readability)

istilah ini menunjukkan berapa teliti skala suatu instrument dapat dibaca. Instrument yang memiliki
skala 12 inchi tentu mempunyai kemampubacaan yang lebih tinggi dari instrumen yang menpunyai
skala 6 inchi dan jangkau (range) yang sama.
b.Cacah terkecil (Least count)

yaitu beda terkecil antara dua penunjukan yang dapat dideteksi (dibaca) pada skala instrument.

c.Kepekaan (Sensivity)

ialah perbandingan antara gerakan linear jarum penunjuk pada instrument itu dengan perubahan
variable yang diukur yang menyebabkan gerakan itu.

Misalnya : suatu recorder (perekam) 1 mvmempunyai skala yang panjangnya 25 cm, maka
kepekaannya adalah 25 cm/mv.

d.Hysterisis

yaitu perbedaan bacaan bila nilai besaran yang diukur didekati dari atas atau dari bawah. Hysteresis
mungkin disebabkan oleh gesekan mekanik efek magnetic,deformasi elastic, atau efek termal.

e.Ketelitian (Accuracy)

Yaitu menunjukkan defiasi atau penyimpangan (deviation) terhadap masukan yang diketahui.
Ketelitian biasanya dinyatakan dalan persentase bacaan skala penuh. Misalkan jangkauan pengukur
tekanan 100 kpa yang mempunyai ketelitian 1% artinya teliti disekitar 1 kpa dalam keseluruhan
jangkauan bacaan pengukur itu.

f.Ketepatan (Precision)

yaitu menunjukkan kemampuan instrument it menghasilkan kembali bacaan tertentu dengan


ketelitian yang diketahui.

g.Kalibrasi atau Peneraan (Calibration)


yaitu memeriksa instrument terhadap instrument standar yang diketahui, untuk selanjutnya
mengurngi kesalahan dalam ketelitian.

h.Kesalahan (Error)

yaitu penyimpangan variable yang diukur dari harga ( nilai ) sebenarnya.

i.Resolusi (Resolution)

yaitu perubahan terkecil dalam nilai yang diukur kepada mana instrument akan memberikan respon.

j.Transduser (transduser)

yaitu peranti yang dapat mentransformasikan suatu efek fisika menjadi efek fisika lain dan untuk
mengubah variable fisik menjadi sinyal listrik yang setara.

Ketelitian dan Ketepatan

Beberapa cara dapat dilakukan untuk memperkecil kesalahan . untuk memperoleh


pengukuran yang tepat disarankan agar melakukan beberapa kali pengamatan dan bukan
hanya mengandalkan satu pengamatan.

Ketelitian menyatakan tingkat kesesuaian atau dekatnya hasil pengukuran terhadap


harga sebenarnya. SedangkanKetepatan menyatakan tingkat kesamaan didalam
sekelompok pengukuran atau sejumlah instrumen.

Ketelitian dan ketepatan harus mempunyai standar pengukuran.agar diketahui


berapa nilai kesalahan dalam pengukuran. Standar pengukuran merupakan pernyataan fisis
dari sebuah satuan pengukuran, sebuah satuan dinyatakan dengan menggunakan suatu
bahan sandar sebagai acuan(referensi)

Berikut beberapa standar pengukuran :


Standar Pengukuran

Standar pengukuran dibagi 4 :

standar internasional

standar primer

standar sekunder

standar kerja

Standar internasional didefinisikan oleh perjanjian internasioanl. Perjanjian


internasional menyatakan satuan-satuan pengukuran tertentu sampai ketelitian terdekat
diijinkan oleh produksi dan teknolgi pengukuran.

Standar primer dipelihara oleh laboratorium standar international diberbagai


Negara di dunia. Salah satu fungsinya memeriksa dan mengkalibrasi standar-standar
sekunder.

Standar sekunder merupakan acuan dasar bagi standar yang digunakan dalam
laboratorium pengukuran industri.

Standar kerja alat utama bagi sebuah laboratorium pengukuran dan digunakan
untuk memeriksa dan mengkalibrasi laboratorium yang umum mengenai ketelitian dan
untuk melakukan perbendingan dalam pemakaian di industri.

Setelah mengetahui standar-standar tersebut berikut ada tahapan dalam pengukuran


instrumen

Tahap-tahap dalam pengukuran suatu instrumen :

Tahap detektor

yaitu tahap awal yang dilakukan suatu instrumen untuk mendapatkan nilai suatu ukuran.

Tahap antara

yaitu tahap dimana menjelaskan bagaimana instrumen itu bekerja

Tahap akhir

yaitu tahap suatu instrumen mendapatkan nilai suatu ukuran


RANGKUMAN

- 1. Instrument adalah sebuah alat yang digunakan untuk menentukan nilai atau besaran dari suatu

kuantitas atau variable.

- 2 . Pengukuran adalah proses memperkirakan atau menentukan besarnya kuantitas.

- 3. Beberapa istilah dalam instrumentasi

Kemampubacaan (readability), cacah terkecil (least count), kepekaan (sensivity), histerisis


(hysterisis), ketelitian (accuracy), ketepatan (precision), kalibrasi (calibration),
kesalahan (error), resolusi (resolution), transduser (transduser).

- 4.Standar pengukuran dibagi 4 : standar internasional, standar primer, standar primer, dan standar
kerja.

- 5.Tahap-tahap dalam pengukuran instrument : taap detaktor, tahap antara, dan tahap akhir.

PRINSIP ANALISIS SPEKTROSKOPI UV-VIS

TUGAS KIMIA ANALITIK III

RANGKUMAN PRINSIP ANALISIS SPEKTROSKOPI UV-VIS

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK X

NUR ALAMSYAH H3111288


SERLY TANDIGAU H3111289
HIKMAWATI H3111290
MUHAMMAD AMRI H3111293
GITA PERMATASARI H31109254

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2013

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan

Para kimiawan telah lama menggunakan warna sebagai bantuan dalam


mengenali zat-zat kimia. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan
suatu pemeriksaan visual, yang dengan studi lebih mendalam dari absorpsi
energi radiasi oleh macam-macam zat kimia memperkenankan dilakukannya
pengukuran ciri-cirinya serta kualitatifnya dengan ketelitian yang lebih besar.
Dengan mengantikan mata manusia dengan pelacak-pelacak lain dari radiasi
dimungkinkan studi dari absorpsi diluar daerah terlihat spektrum, dan seringkali
percobaan-percobaan spektrofotometrik dapat dilakukan secara otomatik. Dalam
penggunaan dalam masa sekarang, istilah spektrofotometrik mengingatkan
pengukuran berapa jauh energi radiasi diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi
panjang gelombang dari radiasi, maupun pengukuran absorpsi terisolasi pada
panjang gelombang tertentu (Day dan Underwood, 1999).

Spektroskopi adalah suatu studi mengenai aksi antara energi radiasi


(cahaya) dengan materi (senyawa = organik dan anorganik). Adapun istilah
spektrofotometri dalam Harjadi (1884) adalah suatu pengukuran seberapa
banyak energi radiasi diserap (diadsorpsi) atau dipancarkan (diemisi) oleh suatu
materi sebagai suatu fungsi panjang gelombang dari radiasi tersebut.
Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spectrometer dan fotometer. Spectrometer menghasilkan sinar dari spektrum
dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur
intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi
spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi
tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari

panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah


panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh
dengan alat pengurain seperti prisma, grating, ataupun celah optis. Pada
fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan diperoleh
dengan berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi untuk
melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter, tidak
mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis,
melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada
spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapat
diperoleh dengan bantuan alat pengurain cahaya seperti prisma. Suatu
spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu,
monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel dan blangko dan suatu

alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun
pembanding (Khopkar, 2003).

Cara-cara ini didasarkan pada pengukuran fraksi cahaya yang diserap


analat. Prinsipnya : seberkas sinar dilewatkan pada analat, setelah melewati
analat, intensitas cahaya berkurang sebanding dengan banyaknya molekul
analat yang menyerap cahaya itu. Intensitas cahaya sebelum dan sesudah
melewati bahan diukur dan dari situ dapat ditentukan jumlah bahan yang
bersangkutan (Harjadi, 1993).
Bila cahaya (monokromatik maupun campuran) jatuh pada suatu medium
homogen, sebagian dari sinar masuk akan dipantulkan, sebagian diserap oleh
medium itu, dan sisanya diteruskan. Jika intensitas sinar masuk dinyatakan oleh
Io, Ia intensitas sinar yang diserap, It intensitas sinar diteruskan, Ir intensitas
sinar terpantulkan, maka:

Io = Ia + Ir + It

Untuk antar muka udara-kaca sebagai akibat penggunaan sel kaca, dapatlah
dinyatakan bahwa 4% cahaya masuk akan dipantulkan. Ir biasanya terhapus
dengan penggunaan suatu control, seperti misalnya sel pembanding, jadi:

Io = Ia + It (Basset dkk., 1994).

B. Instrumen

Instrumen pada spektrofotometri UV-Vis terdiri dari 6 komponen pokok,


yaitu :
1. sumber radiasi

2. Monokromator

3. wadah sampel (sel atau kuvet)

4. Detektor

5. Recorder

6. Read out

Gambar 1. Instrumen pada spektrofotometri UV-Vis

1. sumber radiasi

Lampu deuterium (= 190nm-380nm, umur pemakaian 500 jam)


Lampu tungsten, merupakan campuran dari flamen tungsten dan gas iodine.
Pengukurannya pada daerah visible 380-900nm.

Lampu merkuri, untuk mengecek atau kalibrasi panjang gelombang pada spectra
UV-VIS pada 365 nm.

2. Monokromator

Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu

mengubah cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya
monokromatis.

Alat yang paling umum dipakai untuk menghasilkan berkas radiasi dengan
satu panjang gelombang. Monokromator untuk UV-VIS dan IR serupa, yaitu
mempunyai celah, lensa, cermin dan prisma atau grating.

Gambar 2. Elemen pendispersi

3. wadah sampel (sel atau kuvet)

Wadah sampel umumnya disebut kuvet. Sel sampel berfungsi


sebagai tempat meletakan sampel. Kuvet biasanya terbuat dari kuarsa atau
gelas, namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika memiliki kualitas yang
lebih baik. Cuvet biasanya berbentuk persegi panjang dengan lebar 1 cm.

4. detektor

Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan


mengubahnya menjadi arus listrik. Radiasi yang melewati sampel akan
ditangkap oleh detektor yang akan mengubahnya menjadi besaran terukur.
Berikut jenis-jenis detektor dalam sperktrofotometer UV-VIS.
(a) Barrier layer cell (photo cell atau photo voltaic cell)

(b) Photo tube, lebih sensitif daripada photo cell, memerlukan power suplai yang

stabil dan amplifier

(c) Photo multipliers, Sangat sensitif, respons cepat digunakan pada instrumen
double beam penguatan internal

Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan

mengubahnya menjadi arus listrik. Syarat-syarat sebuah detektor :

Kepekaan yang tinggi

Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi

Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.

Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.

Signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi.

Macam-macam detektor :

Detektor foto (Photo detector)

Photocell, misalnya CdS.

Phototube

Hantaran foto

Dioda foto

Detektor panas

Syarat-syarat sebuah detektor :

Kepekaan yang tinggi


Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi

Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.

Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.

Signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi.

5. Recorder

Radiasi yang ditangkap detektor kemudian diubah menjadi arus listrik


oleh recorder dan terbaca dalam bentuk transmitansi.

6. Read out

(a) Null balance, menggunakan prinsip null balance potentiometer, tidak nyaman,

banyak diganti dengan pembacaan langsung dan pembacaan digital

(b) Direct readers, %T, A atau C dibaca langsung dari skala

(c) Pembacaan digital, mengubah sinyal analog ke digital dan menampilkan


peraga angka Light emitting diode (LED) sebagai A, %T atau C. Dengan
pembacaan meter seperti gambar, akan lebih mudah dibaca skala
transmitannya, kemudian menentukan absorbansi dengan A = - log T.

C. Prinsip Kerja

Adapun prinsip kerja alat spektrofotometer uv-vis yaitu sumber radiasi

untuk spektroskopi UV-Vis adalah lampu tungsten. Cahaya yang dipancarkan


sumber radiasi adalah cahaya polikromatik. Cahaya polikromatik UV akan
melewati monokromator yaitu suatu alat yang paling umum dipakai untuk
menghasilkan berkas radiasi dengan satu panjang gelombang
(monokromator). Monokromator radiasi UV, sinar tampak dan infra merah adalah
serupa yaitu mempunyai celah (slit), lensa, cermin dan perisai atau grating.

Gambar 3. Proses cahaya polikromatik menjadi monokromatik

Wadah sampel umumnya disebut sel/kuvet.Kuvet yang terbuat dari kuarsa


baik untuk spektrosokopi UV dan juga untuk spektroskopi sinar tampak.Kuvet
plastik dapat digunakan untuk spektroskopi sinar tampak.

Berkas-berkas cahaya dengan panjang tertentu kemudian akan dilewatkan


pada sampel yang mengandung suatu zat dalam konsentrasi tertentu. Oleh
karena itu, terdapat cahaya yang diserap (diabsorbsi) dan ada pula yang
dilewatkan

Gambar 5. Proses penyerapan cahaya

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya


yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum
lambert-beer atau Hukum Beer, berbunyi:

jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan


sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan
merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan.

Radiasi yang melewati sampel akan ditangkap oleh detektor yang berguna
untuk mendeteksi cahaya yang melewati sampel tersebut. Cahaya yang melewati
detektor diubah enjadi arus listrik yang dapat dibaca melalui recorder dalam
bentuk transmitansi absorbansi atau konsentrasi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan


1. Larutan yang dianalisis merupakan larutan berwarna

Apabila larutan yang akan dianalisis merupakan larutan yang tidak berwarna,

maka larutan tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi larutan yang
berwarna. Kecuali apabila diukur dengan menggunakan lampu UV.

2. Panjang gelombang maksimum

Panjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang

mempunyai absorbansi maksimal. Hal ini dikarenakan pada panajgn gelombang


maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang
tersebut, perubahan absorbansi untuk tiap satuan konsentrasi adalah yang paling
besar. Selain itu disekitar panjang gelombang maksimal, akan terbentuk kurva
absorbansi yang datar sehingga hukum Lambert-Beer dapat terpenuhi. Dan
apabila dilakukan pengukuran ulang, tingkat kesalahannya akan kecil sekali.

3. Kalibrasi Panjang gelombang dan Absorban

Spektrofotometer digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang dipancarkan


dan cahaya yang diabsorbsi. Hal ini bergantung pada spektrum elektromagnetik
yang diabsorb oleh benda. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang
gelombang tertentu tergantung pada senyawa yang terbentuk. Oleh karena itu
perlu dilakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban pada
spektrofotometer agar pengukuran yang di dapatkan lebih teliti.
DAFTAR PUSTAKA

A. Dari Buku :
Basset, J., Denney, R. C., Jeffrey, G. H., dan Mendham, J., 1994, Kimia Analisis Kuantitatif
Anorganik, Buku Kedokteran-EGC, Jakarta.
Day R.A dan Underwood A.L., 1999, Analisa Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta.

Harjadi, W., 1993, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Harjadi, W., 1884, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta.

Khopkar S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI-Press, Jakarta.

B. Dari Internet :
http://www.scribd.com/doc/44640044/Laporan-Spektrofotometri-UV-VISi-
Penetapan-Sulfat

http://zaidanalrazi.blogspot.com/2012/04/spectrofotometrer-uv-vis.html