Anda di halaman 1dari 29

PENGUJIAN KETIDAKRATAAN PADA BENANG

I. TEORI DASAR
Ketidakrataan benang adalah suatu ukuran mutu benang yang menyatakan
besarnya penyimpangan masa pada panjang tertentu, yang keberadaanya tidak
mungkin dapat dihindari, ada tiga macam ukuran yang menyatakan ketidakrataan:
- Koefisien Variasi (CV) adalah akar rata-rata dari kuadrat selisih antara
kerapatan linier dan rata-ratanya, dinyatakan dalam persen terdapat rata-
ratanya kerapatan linier benang yang diuji.
- Persen simpangan rata-rata (U) adalah simpangan rata-rata kerapatan linier,
dinyatakan dalam persen terhadap linier yang diuji
Hubungan antara U % dengan CV adalah U = 1,25 CV
- Persen rentang ( R ) adalah rentang kerapatan linier yang didapat dari bagian-
bagian panjang benang yang sama, dinyatakan dalam persen terhadap rata-
rata kerapatan linier benang yang diuji.
Ketidakrataan benang dipengaruhi oleh
a. Panjang serat
Serat makin panjang maka ujung serat main sedikit sehingga benang akan
lebih rata.
b. Kerataan panjang serat (uniformity ratio/UR)
Serat makin rata panjangnya maka seting dimesin akan lebih mudah dan
proses akan lebih lancar sehingga benang yang dihasilkan akan lebih rata.
c. Kehalusan serat
Makin halus serat maka makin rata benangnya. Kehalusan serat kapas antara
2,5 6,0 micronaire
d. Cacat-cacat oleh mesin
Cacat karena kesalahan drafting , biasanya terjadi karena bahan baku.
Cacat karena kesalahan mekanik, seperti :
- Rol-rol tidak bulat
- Rol-rol yang eksentrik
- Belt yang kendor atau apron kendor
- Beban yang tidak sesuai
- Roda gigi yang aus
- Flyer yang bengkok
- Ring atau traveler yang aus
- Penyuapan bahan atau roving yang tidak tepat.
Alat uji ketidakrataan benang
Alat uji ketidakrataan benang menurut prinsip kerjanya dibagi dua jenis :
a. Uster berdasarkan kapasitansi (kapasitor, kemampuan pendeteksian
berdasarkan jumlah muatan listrik), Disini yang diukur adalah massa benang/
berat benang per unit panjang tertentu. Dasar pengukurannya berdasarkan
medan magnet. Alat system ini diproduksi oleh Uster. Alat dengan sistim ini
paling banyak berkembang sampai sekarang.

Gambar 8.1 Skema Jalannya Benang Diantara Kapasitor


b. Berdasarkan photocell
Kemampuan kerjanya adalah dengan mengukur diameter benang dengan
photo elektrik. Dasar pengukurannya berdasarkan diameter benang. Alat
dengan system ini dikeluarkan oleh Peyer.
Tabel 8.1 Pengaruh Dari Faktor-Faktor Ketidakrataan Benang
Terhadap Benang Jika Diuji Dengan Kedua Alat

No. Faktor Yg Berpengaruh Sistem Kapasitansi Sistem Photoelectric

1. Antihan Tak berpengaruh Sangat berpengaruh


2. Warna(kecerahan) Tidak berpengaruh Sangat berpengaruh
3. Kelembaban Sangat berpengaruh Tidak berpengaruh
4. Jenis bahan Sangat berpengaruh Berpengaruh
5. Sinar yang berlebihan Tak berpengaruh Sangat berpengaruh
6. Getaran Tidak peka Sangat peka
7. Stabilitas Tak perlu dicek secara Sering dicek
periodik
8. Debu Sangat berpengaruh Lebih berpengaruh.
Faktor-faktor yang Menentukan Ketepatan Pengukuran
Faktor-faktor yang menentukan ketepatan hasil pengukuran ketidakrataan benang
dengan metoda kapasitansi adalah :
- Jenis dan kesejajaran pelat elektroda.
- Perbandingan dimensi benang terhadap ruang anatara dua pelat elektroda.
Diameter benang yang akan diukur maksimal 1,4 jarak antara dua pelat
elektroda.
- Sumber tenaga listrik.
- Bentuk kesilindrisan benang.
- Keajegan kontak benang dengan dua pelat elektroda.
- Keajegan kondisi ruang pengujian.
- Kandungan uap air dalam benang.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian ketidakrataan benang adalah :
1. Pemilihan Pd dan Pa
Harga ketidakrataan sangat bergantung pada Pa (panjang antara) dan Pd
(panjang dalam). Apabila beberapa harga ketidakrataan diperbandingkan
maka pengujian harus dilakukan dengan Pa dan Pd yang sama.
a. Pa (panjang antara)
Alat Uster Evenness Tester mempunyai 8 buah celah (slot), yang masing-
masing berbeda ukurannya. Apabila pengukuran dilakukan pada normal
test maka besarnya Pa sama dengan lempeng kondensornya. Pemakaian
slot tergantung dari besar kecilnya bahan yang akan diukur, seperti terlihat
pada table dibawah ini.
Tabel 8.2 Slot dan Ukuran Benang

Panjang lempeng
Nomor Slot Nomor Benang Jenis Benang
(mm)

1 20 10 40 k tex Sliver
2 12 2 12 ktex Sliver
3 12 0,9 3,3 ktex Sliver
4 12 0,16 1,7 k tex Roving
5 8 66 160 tex Roving
6 8 21 66 tex Roving
7 8 8,7 21 tex Benang
8 8 4,0 8,7 tex Benang
b. Pd (panjang dalam)
Pd adalah panjang benang yang diuji. Pd dapat dihitung dengan
mengalikan waktu evaluasi dengan kecepatan bahan. Pd dapat dipilih
dengan memvariasikan antara waktu evaluasi dengan kecepatan bahan.
2. Pemilihan kecepatan benang dan diagram
a. Kecepatan benang
Pada prinsipnya kecepatan yang dipilih adalah kecepatan yang paling
tinggi untuk mendapatkan waktu evaluasi yang lebih cepat. Kecepatan
bahan dapat diatur dari mulai 4, 8, 25, 50, 100, dan 200 meter/menit.
Menurut pengalaman panjang gelombang yang terpendek dari berbagai
variasi penampang bahan akan tetap jelas apabila sesuai dengan
kelipatan panjang serat (e) dari bahan.
b. Kecepatan diagram (grafik)
Bila ketidakrataan dievaluasi dengan grafik, perbandingan kecepatan
benang dan kecepatan grafik harus cukup untuk menunjukan periode
fluktuasi yang terkecil, perbandingan yang diperkenankan dapat dilihat
pada tabel dibawah ini. Kecapatan diagram dapat diatur dari mulai 2,5, 5,
10, 25, 50, atau 100 meter per menit.
Tabel 8.3 Perbandingan Maksimum yang Diperkenankan Antara
Kecepatan Benang dengan Kecepatan Grafik.
Pengukuran
Macam Benang
CV dan U R
Benang Stapel 0,6 p 3p
Benang Filamen 20 100
p : panjang serat (mm)
3. Pemilihan range of scale
Ada 4 range of scale yang dapat dipilih, pemilihan range of scale ini
tergantung ketidakrataan bahan yang akan diuji. Yang penting adalah gerakan
jarum dapat menunjuk penuh pada kertas grafik dan pada waktu pengujian U
% dan CV % pada integrator jarum pada Uster Evenness Tester harus
menunjuk ditengah-tengah.
Berdasarkan pengalaman range of scale dapat dipilih sebagai berikut :
Benang : 100 %
Roving : 50 % kadang-kadang 25 %
Sliver : 25 % kadang-kadang 12,5 %
4. Pemilihan service normal atau inert
Service selector dapat digunakan Normal, dalam hal ini variasi dari
penampang bahan sesuai dengan variasi bahan yang panjangnya sama
dengan panjang slot yang dipakai, juga dapat digunakan inert test apabila
dikehendaki kurva dari variasi yang lebih panjang daripada menggunakan
Normal.
Pengaruh Ketidakrataan Benang terhadap Kenampakan Kain
Benang yang tidak rata cenderung akan menghasilkan kain tenun atau rajut
yang cacat berupa : cacat struktur, strip, bar, atau ketidakrataan hasil celupan
(belang). Cacat benang periodik biasanya disebabkan oleh adanya bagian-bagian
mesin pemintalan yang cacat.
Ketidakrataan benang yang mempunyai variasi masa tidak menentu,
cenderung akan menghasilkan kain cacat dengan kategori cacat struktur. Cacat
struktur kain adalah cacat yang tampak secara visual berupa perbedaan warna
tua dan muda, jarang padat yang tidak beraturan. Kejadian ini biasanya akan
tampak pada kain berwarna yang memiliki cover faktor rendah seperti kain rajut
pakan.
II. MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya praktikum pengujian ketidakrataan
pada benang ini adalah :
1. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menjelaskan pengertian
ketidakrataan benang, penyebab ketidakrataan benang serta hubungan
dengan proses selanjutnya.
2. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menguji ketidakrataan
benang.
3. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menganalisa hasil uji
ketidakrataan benang.

III. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengujian ketidakrataan pada
benang ini adalah :
Uster Evenness Tester terdiri dari :
a. Monitor (measuring frame)
Pada monitor terdapat
- Slot, yaitu sensor yang membaca ketidakrataan benang
- Tombol pengatur kecepatan pengujian
- Tombol pengatur average value
- Tombol pengator range of scale
- Tombol-tombol service selector
- Monitor penunjuk ketidakrataan benang
b. Integrator
Pada integrator terdapat :
- Tombol pengatur range of scale
- Evaluating time
- Skala nilai ketidakrataan (U %)
c. Imperfection Indicator
Pada imperfection indicator terdapat :
- Evaluating time
- Tombol-tombol pengatur besarnya thin, thick place dan neps
- Hasil pengujian thin, thick place dan neps
d. Gambar tertera di lampiran
IV. LANGKAH KERJA
Langkah-langkah dalam praktikum pengujian ketidakrataan pada benang ini
adalah antara lain:
Persiapan Contoh Uji
a. Siapkan jumlah gulungan yang akan memberikan ketelitian 4 % dengan
tingkat kepercayaan 90 %, jumlah gulungan dihitung dengan rumus :
N = 0,17 V2
Keterangan
N = jumlah gulungan
V = koefisien Variasi.
b. Panjang minimum yang diuji per gulung
Jenis Contoh Pengukuran
Uji CV dan U % R
Benang
40 m 80 m
Roving, Sliver
20 m 40 m
Dan Top
Kondisikan benang yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian
sampai mencapai keseimbangan lembab
Cara Uji
Kalibrasi alat
1. panaskan alat selama jam (30 menit) dengan urutan :
- tekan tombol ON (main supply) pada eveness tester
- tekan tombol ON (main supply) pada integrator
- tekan tombol ON (main supply) pada imperfection indicator
- tekan tombol ON (main supply) pada spectograph
2. setelah jam (30 menit) dipanaskan lalu tekan :
- tekan tombol ON (output) pada eveness tester
- range of scale (3) pada posisi 100%
3. tekan tombol servis selector (4) pada posisi normal test
menentukan ketidak rataan benang
1. tekan tombol range of scale (3) pada posisi eveness tester dan intergrator
sesuai dengan ketentuan
2. pasang benang melalui penghantar benang, peraba sambungan, dan
tention
3. pilih slot yang sesuai dengan no. benang (lihat tabel) dan lewatkan pada
penghantar benang, rol penarik dan lilitkan pada penggulung benang.
4. atur kecepatan sesuai dengan yang ditentukan
5. lakukan penggulungan benang dengan menekan tombol ON
6. atur tombol average value hingga posisi jarum bergerak diantara 0%
kemudian hentikan pengggulungan dengan menekan tombol OFF
7. putar evaluating time pada integrator diposisi NOL tunggu hingga jarum
U% mencapai angka nol (0)
8. secara bersamaan jalankan penggulung benang dan evaluating time baca
skala U% sampai pada batas waktu yang ditentukan
menentukan jumlah thin, thick, dan neps
1. tekan tombol output pada integrator
2. stel semua counter pada posisi nol dan range of scale pada eveness
tester dan integrator diposisi 100%
3. putar evaluating time pada imnperfection indicator pada posisi 10 tunggu
sampai lampu menyala
4. lakukan penggulungan benang
5. bila lampu indicator telah mati, hentikan penggulungan dan catat thin,
thick, dan nepsnya

V. PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN


DATA PENGAMATAN

Range of Scale = + 50 % No U% (
)2
Average Value = 28,2 1 8,5 0,3136
Range of Scale = + 100 % 2 8 0,0036
Thin Place =3 3 7,7 0,0576
Thick Place =0 4 7,9 0,0016

Neps =0 5 7,6 0,1156


39,7 0,429
Slot =7
7,94 0,0984
Kecepatan = 100 m/menit

VI. PERHITUNGAN
Standar Deviasi (S)

( )2 0,0984
S= = = 0,157
1 4

Koefisien Variasi (CV)


0,157
CV = x 100 % = x 100 % = 1,97 %
7,94
VII. DISKUSI DAN KESIMPULAN
DISKUSI
Pada praktikum kali ini mengenai pengujian ketidakrataan pada benang.
Pengujian ketidakrataan pada benang diperlukan untuk kepentingan penelitian,
pengendalian mutu, dan perdagangan (pemasaran) benang. Kerataan benang
merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kemampuan teknis pada
proses selanjutnya dan mutu kain (kenampakan) yang dihasilkan.
Ketidakrataan benang yang mempunyai variasi masa tidak menentu,
cenderung akan menghasilkan kain cacat dengan kategori cacat struktur. Cacat
struktur kain adalah cacat yang tampak secara visual berupa perbedaan warna
tua dan muda, jarang padat yang tidak beraturan.
Pada praktikum ini, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
- Pada saat menyimpan benang usahakan benang dapat berjalan dengan
lancar,
- Pastikan praktikan telah mengetahui no benang yang akan diuji terlebih
dahulu karna hal ini sangat berpengaruh terhadap penempatan benang pada
slot-slot yang berbeda-beda.
- Sebelum menjalankan alat uji, kalibrasi terlebih dahulu sesuai yang diarahkan
- Ketelitian pada saat melihat U% setiap satu menit sekali.
Semua hal di atas harus terpenuhi demi kelancaran saat pengujian
maupun pada saat benang diproses ke tahap selanjutnya seperti pertenunan dan
perajutan

KESIMPULAN
Setelah melaksanakan praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwasannya
ketidakrataan adalah suatu ukuran (diameter) benang per satuan panjang yang
berbeda-beda, hal ini tidak dapat dihindari/selalu saja ada, hal ini dikarenakan
oleh beberapa factor salah satunya terjadi sedikit kendala pada proses
pemintalan. Selain itu pengaruh ketidakrataan benang ini akan berdampak pada
proses selanjutnya seperti, pertenunan, perajutan, dan lain-lain. Berikut data-data
yang dihasilkan setelah praktikum ketidakrataan benang :
Standar deviasi = 0,157
Koefisien variasi = 1,97 %
Thick places =0
Thin places =3
Neps =0
VIII. LAMPIRAN

2
1

Keterangan gambar
1. Evenness Tester
2. Integrator
3. Imperpection Indicator
PENGUJIAN BULU BENANG (HAIRINESS)

I. TEORI DASAR
Hairness adalah jumlah helai total serat serat yang menonjol dalam
pengukuran benang nyata sepanjang 1 cm. Contohnya hairness 4,0 dari suatu
contoh berarti total jumlah panjang serat yang menonjol 4 helai setiap benang
yang panjangnya 1 cm. Jadi, hairness adalah perbandingan total panjang serat-
serat yang menonjol terhadap satuan panjang.
Bulu pada benang adalah serat-serat yang menonjol pada permukaan
benang. Banyaknya bulu pada benang dipengaruhi oleh :
1. Panjang Serat
Makin panjang seratnya tentunya ujung-ujung seratnya dalam penampang
yang sama makin sedikit sehingga bulu pada benangnya makin sedikit.
2. Kerataan panjang serat
Serat yang mempunyai variasi panjang serat yang tinggi akan mengakibatkan
setting pada mesin pemintalan susah dilakukan sehingga kemungkinan
menimbulkan bulu akan semakin tinggi.
3. Proses pemintalan
Adanya peralatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya makin
menambah kemungkinan meningkatnya bulu pada benang. Demikian juga
adanya penambahan peralatan pada pemintalan misalnya compact spinning
akan meningkatkan kualitas benang dengan sangat sedikitnya bulu benang.
Bulu benang yang tinggi akan menghambat proses selanjutnya misalnya
pada proses pertenunan sehingga untuk mengatasinya perlu dilakukan
penganjian yang intensif. Makin intensifnya proses penganjian tentunya akan
menigkatkan biaya produksi. Benang dengan bulu yang sedikit misalnya compact
yarn sangat menguntungkan karena proses penganjiannya hanya sedikit saja
sehingga akan menurunkan biaya produksi.
Pengujian bulu benang dilakukan untuk mengetahui jumlah bulu benang
setiap panjang tertentu. Pengujian dilakukan dengan alat Hairiness Tester.
Panjang bulu yang dapat dideteksi yaitu
- bulu benang yang panjangnya diatas 0,5 mm
- bulu benang yang panjangnya diatas 1,5 mm
II. MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya praktikum pengujian bulu benang
(hairiness) ini adalah :
1. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menjelaskan pengertian bulu
(hairiness) pada benang dan hubungan dengan proses selanjutnya.
2. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk memiliki kemampuan
menguji bulu benang (hairiness).

III. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengujian bulu benang
(hairiness) ini adalah :
Alat yang digunakan adalah Hairiness Tester yang dilengkapi dengan
a. Sensor photocell
b. Motor penggulung benang
c. Soft ware komputer yang dapat mengolah data hasil pengujian ke dalam
komputer.
d. Seperangkat komputer.

IV. LANGKAH KERJA


Langkah-langkah dalam praktikum pengujian bulu benang (hairiness) ini adalah
antara lain:
Persiapan Contoh Uji
Kondisikan benang yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian sampai
mencapai keseimbangan lembab seperti pada Bab II sub bab II.2.2 Persiapan
contoh uji, butir f.
Cara Uji
a. Jalankan Hairiness Tester dengan cara
- Hubungkan dengan sumber arus listrik
- Tekan Tombol Power
- Tekan saklar untuk menjalankan motor penggulung benang
b. Jalankan computer dengan cara
- Hubungkan dengan sumber arus listrik
- Tekan Tombol Power
c. Jalankan Software Hairiness Tester dengan cara
Untuk menjalankan program Software, pada desktop komputer klik dua

kali ikon seperti sehingga ditampilkan menu Utama seperti berikut ini:
Gambat 9.1 Tampilan Monitor Uji Hairiness Tester
Dalam tampilan ini, ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan :

- Mulai test baru (File->Start) atau klik icon


- Mengisi Mill Name (Options->MillName)
- Settings Video Format dan Video Source
- Melihat petunjuk pengoperasian (Help) dan About
- Keluar dari Software (File->Exit)
d. Mulai test baru (New Test)
- Untuk mulai test baru (New Test) klik File - Start atau klik ikon seperti
berikut ini :
sehingga akan muncul tampilan window seperti berikut :

Gambat 9.2 Tampilan Monitor Pengisian User Nama


- Mill Name akan terisi secara otomatis.
- Isi nama Operator yang akan mengetest sample.
- Kemudian isi Sample Name yang akan di test.
- Tanggal pengetesan akan otomatis terisi sesuai tanggal pada
komputer.
- Masukan Number Test dengan klik panah keatas untuk menambah
atau panah ke bawah untuk mengurangi.
- Sesuaikan Number of Test dengan jumlah yang akan di test.
- Masukan lamanya waktu untuk pengetesan. Minimal 1 menit dan
maksimal 10 menit.
- Checklist Auto Print untuk otomatis print setelah test sample
selesai.
- klik OK kalau sudah semua terisi ( klik Cancel untuk batal ) setelah
di klik OK maka akan ditampilkan window seperti berikut :

1. Pada toolbar akan aktif icon Run ( ), klik untuk memulai test.
Pada tampilan windows, tabel akan otomatis terisi apabila test
sudah selesai. Dan pada status bar akan muncul data sample yang
sedang di test. Seperti gambar di bawah ini :
2. Apabila test sudah selesai maka icon Preview akan aktif dan untuk

melihat hasilnya klik icon Preview ( ) kemudian akan muncul


seperti gambar di bawah ini :

- Untuk print manual klik icon ( ) dan untuk keluar dari Preview klik
icon ( ).
- Untuk memberikan komentar klik ikon Add Note ( ) maka akan
tampil windows seperti gambar di bawah

Klik OK untuk menyetujui, klik cancel untuk membatalkan, klik icon


( ) untuk menambahkan komentar.
V. PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN
DATA PENGAMATAN
No. of 0,5 0,5 1,5 1,5
Result Result
test mm mm mm mm
1 356 428 784 20 37 57
2 359 409 768 38 35 73

3 387 381 768 63 31 94


4 367 361 728 45 35 80
5 337 422 759 44 39 83
Result 3807 455
Average 761 91
Max 784 99

Min 728 84

PERHITUNGAN
a) Waktu pengujian :
Masing-masing waktu lama pengujian 1 menit, total waktu yang dibutuhkan 5
menit.
b) Panjang benang yang diuji
- Bulu benang yang panjangnya di atas 0,5 mm
- Bulu benang yang panjangnya di atas 1,5 mm
c) Rata-rata ()
- Jumlah bulu di atas 0,5 mm = 761
- Jumlah bulu di atas 1,5 mm = 91
d) Standar deviasi (S)
No (
)2 0,5 (
)2 1,5
( )2 1720 1 529 49
e) S 0,5 = = = 20,74
1 4 2 49 16
3 49 4
( )2 134
f) S 1,5 = = = 5,788 4 1089 64
1 4
5 4 1
g) Koefisien Variasi (CV) 1720 134
20,74
CV0,5 = x 100 % = x 100 % = 0,027 %
761
5,788
CV1,5 = x 100 % = x 100 % = 6,36 %
91
h) Merubah ke meter
0,5 mm
1
= x 761 = 1014,16 meter
0,75
1,5 mm
1
= x 91 = 121,3 meter
0,75

VI. DISKUSI DAN KESIMPULAN


DISKUSI
Pada praktikum kali ini praktikan mengetahui bahwa pengujian bulu benang
dilakukan untuk mengetahui jumlah bulu benang setiap panjang tertentu.
Pengujian dilakukan dengan alat Hairiness Tester. Prinsip pengujiannya adalah
dengan cara menghitung bulu benang menggunakan sensor photo cell dan
counter panjang benang.
Panjang bulu yang dapat dideteksi yaitu
- bulu benang yang panjangnya diatas 0,5 mm
- bulu benang yang panjangnya diatas 1,5 mm
Bulu benang yang tinggi akan menghambat proses selanjutnya misalnya pada
proses pertenunan sehingga untuk mengatasinya perlu dilakukan penganjian
yang intensif. Makin intensifnya proses penganjian tentunya akan menigkatkan
biaya produksi. Benang dengan bulu yang sedikit misalnya compact yarn sangat
menguntungkan karena proses penganjiannya hanya sedikit saja sehingga akan
menurunkan biaya produksi. Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan
pada saat pengujian, berikut adalah beberapa poin yang dapat praktikan
sampaikan :
Sebelum menjalankan alat uji sebaiknya lakukan penempatan benang sesuai
dengan standar yang telah ditentukkan, karena sering kali benang mengalami
putus pada saat dijalankannya alat uji. Praktikan menanggulangi ini dengan
menempatkan cones benang dengan posisi miring secara diagonal,
Usahakan benang dilewati pada perangkat-perangkat yang ada pada alat uji
seperti, tension, pengantar dan penggulung sesuai prosedur yang ada, selain
itu usahakan benang berada di tengah-tengah optic/sensor yang dapat dilihat
melalui layar computer (tidak terlalu atas dan tidak terlalu bawah, hal ini
dilakukan agar bulu-bulu yang terletak diatas dan dibawah titik tengah benang
dapat di baca dengan baik.
Banyaknya bulu pada benang dipengaruhi oleh :
Panjang Serat
Kerataan panjang serat
Proses pemintalan

KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini praktikum dapat menyimpulkan bahwa hairness adalah
jumlah helai total serat serat yang menonjol dalam pengukuran benang nyata
sepanjang 1 cm. Contohnya hairness 4,0 dari suatu contoh berarti total jumlah
panjang serat yang menonjol 4 helai setiap benang yang panjangnya 1 cm. Dan
hasil pengujian yang telah dilakukan sebagai berikut :
Jumlah bulu di atas 0,5 mm = 1015 bulu/meter
Jumlah bulu di atas 1,5 mm = 121 bulu/meter
Standar deviasi 0,5 = 20,74
Standar deviasi 1,5 = 5,788
Koefisien variasi 0,5 = 0,027 %
Koefisien variasi 1,5 = 6,36 %

VII. LAMPIRAN
LAPORAN PRAKTIKUM PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 2
PENGUJIAN CRIMP PADA BENANG FILAMEN TEKSTUR

I. TEORI DASAR

Suatu phase yang paling penting dalam menentukan baik tidaknya proses
pembuatan serat filament buatan adalah salah satunya evaluasi crimp yang akan
menentukan mutu dari benangnya. Faktor ini sangat besar pengaruhnya terhadap
friksi antara serat dan karenanya berpengaruh pada gaya drafting dan variasinya.
Tidak selamanya serat - serat yang sudah berbentuk sliver itu dapat didraft
dengan mudah dan dengan variasi gaya yang baik, karena diantara serat - serat
ada yang lengket ( stick ) dan ada yang slip.Penomena seperti ini biasa disebut
efek (stick slip) yang amat tergantung pada koefisien friksi antara permukaan
serat - serat, daya rekat antara permukaan serat - serat dan efektifitas hubungan
antara permukaan serat.
Pada serat atau benang filament buatan jumlah crimp yang terdapat pada
seratnya sudah tertentu, hal ini karena serat buatan tidak mempunyai crimp alam
sehingga crimpnya dapat ditentukan pada waktu pembuatan seratnya.
Benang tekstur dapat diartikan benang filament yang diproses dengan
cara sedemikian rupa sehingga sifat-sifat fisika dan permukaan (Physical and
Surface Properties) berubah. Perubahan itu tampak antara lain benang akan rua
disebabkan oleh adanya crimp pada benang dan juga tampak keras pada kain
yang dibuat dari benang tekstur.
Besarnya rua pada benang tekstur dapat diperoleh dengan variasi proses
misalnya:
- Kecepatan benang yang diproses atau lamanya proses berlangsung
- Besarnya false twist yang diberikan pada benang
- Besarnya tegangan yang diberikan selama proses
- Jumlah filament dalam benang
Crimp diberikan dalam panjang tertentu. Crimp diperlukan agar benang
dapat dipilin. Ada beberapa metode dipakai orang untuk menentukan crimp
benang tekstur, yaitu:
- Metode Heberbein
- Metode Acelance
- Metode Hatra
- Metode DIN 53 840
- Metode Tifico
Metode metode diatas berbeda prosedur perlakuan terhadap benang,
akan tetapi prinsipnya sama, yaitu menggunakan 2 macam beban penegang
yang berbeda untuk mengukur crimp.

Jenis Serat Temperatur (C)


Asetat dan Triasetat 100
Poliester 120
Poliamida 120
Poliakrilat 180

Beban Besarnya (gram)


W0 2,5
W1 247,5
W2 22,5
W3 2500

Benang tekstur adalah benang filamen dari serat sintetis yang bersifat
thermoplastis yang telah diproses sedemikian rupa sehingga sifat fisik dan
permukaannya berubah. Misalnya menjadi rua (bulky), berjeratan (loops),
berbentuk spiral (coils) dan berbentuk crinkle. Benang yang digunakan filamen
poliamida dan filamen poliester.
Perubahan sifat yang terjadi pada benang akan memberikan sifat-sifat
tertentu pada kain, yaitu
a. Permukaan kain yang tidak rata
b. Memberikan regangan pada kain
c. Kain tidak mengkilap
d. Daya tembus udara mekin kecil
e. Pegangan/rabaan (lembut) pada kain

Pembuatan Benang Tekstur (Texturizing)


Benang tekstur dapat dibuat dengan dua cara, yaitu :
1. Cara Mekanis
Cara 3 stage, false twist, stuffer box, knit-deknit, edge crimp, air jet, dan gear
crimp.
2. Cara Kimia
Biasanya dilakukan pada waktu pembuatan serat, yaitu; dengan
menggunakan dua jenis polimer yang berbeda mengkeretnya.
Pembuatan Benang Tekstur Secara Mekanis
1. Cara 3 Stage
Pemberian antihan
Pemantapan antihan (heat set)
Pembukaan antihan
2. Cara antihan palsu (False Twist)
Pada prinsipnya proses False twist ini hampir sama dengan 3 stage tadi
hanya pengerjaannya dilakukan dalam waktu yang bersamaan (simultan).
Terdapat beberapa tipe false twisting, dilihat dari pembentuk antihannya,
yaitu:
a. Disc type/Friction type ; antihan palsu (false twist) dengan friction unit
(Ceramic/ PU Disc).
b. Spin type ; Pembentukan antihan palsu dengan menggunakan spindle.
c. Belt type ; Pembentukan antihan palsu dengan menggunakan belt.
Benang yang dihasilkannya mempunyai sifat rua
3. Edge Crimp
Cara ini disebut juga knife edge. Prinsip pengerjaaanya yaitu dengan
melewatkan benang filamen melalui sebuah rol panas, kemudian dilewatkan
pada ujung pisau yang dipanaskan.
Benang yang terjadi dilepaskan tanpa tegangan sehingga membentuk pilinan
yang melingkar seperti per. Benang yang dihasilkannya berbentuk spiral.
4. Knit deknit
Pada cara ini benang filamen dirajut terlebih dahulu, kemudian kain rajut
dimantapkan dengan panas, kemudian benang dibuka kembali dan digulung
pada bobin. Proses perajutan, pemantapan panas dan penggulungan
dilakukan dalam sartu waktu pengerjaan.
Benang yang dihasilkan berbentuk jeratan.
5. Air Jet
Cara ini disebut juga cara air texturing.
Prinsipnya dengan menggunakan hembusan udara dengan kecepatan tinggi,
yaitu ; Benang filamen dihembus dengan udara yang berkecepatan tinggi +
400 m/menit. Akibat hembuasan ini benang filamen akan terpencar menjadi
individu-individu filamen yang mempunyai loop-loop kecil sehingga bennag
akan mengkeret dan mempunyai sifat bulky.
Benang yang dihasilkan berbentuk loop-loop kecil.
6. Gear Crimp.
Cara ini biasa dipakai untuk membuat benang tekstur dengan denier yang
tinggi.
Prinsipnya dengan melewatkan benag filamen pada sepasang roda gigi yang
dipanasi sehingga benang akan berbentuk gerigi seperti roda gigi yang
dilewati. Tinggi rendahnya crimp diatur dengan cara merubah dalamnya
lekukan gigi dan jumlah gigi. Kecepatan benang 150 m/menit.
Benang yang dihasilkan berbentuk gerigi.
7. Stuffer Box
Prinsip cara ini adalah dengan menyuapkan benang filamen kedalam suatu
ruangan (Stuffer Box) yang dipanaskan, dimana kecepatan penyuapan lebih
besar dari kecepatan penarikan sehingga pada stffer box terjadi penumpukan,
seolah-olah terjadi lipatan-lipatan pada benang. Benang yang terjadfi
mempynuai tekukan-tekukan.

Tabel 10.1 Gambar Bentuk Bentuk Benang Tekstur :


Gambar
No. Cara Pembentukan Tekstur

1. False Twist

2. Edge Crimp

3. Knit-deknit

4. Air Jet

5. Gear Crimp

6. Stuffer Box

Hal-Hal Yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Benang Tekstur


Hal-hal yang mempengaruhi proses texturizing dikenal dengan 4 T (antihan/twist,
suhu/themperature, waktu/time dan tegangan/tension) yaitu :
a. Antihan
TPM (Twist per Meter) dipengaruhi oleh harga dan denier benang
c
TPM
denierbena ngTekstur
C = Konstanta
Untuk Poliester C = 32500
= 0,90- 1,0
Bila TPM rendah, akan menurunkan sifat rua dari benang. Bila rua rendah, sifat
empuk benang rendah dan rongga udara kecil. Bila TPM terlalu tinggi kekuatan
akan turun. Karena akan terjadi kerusakan pada filamen -filamen pembentuk
benang
b. Suhu
Suhu akan berpengaruh pada crimp dan tenacity
Crimp (%) Kekuatan (g/d)

40 4
30
20 2,5
Suhu Suhu
180 190 200 210 220 160 180 200 220 240

Grafik 10.1 Hubungan Crimp Dengan Suhu Gambar 10.2 Grafik Hubungan Antara
Tenacity Dengan Suhu

Crimp = Suhu > crimp >


Kekuatan = Suhu > kekuatan <
c. Waktu
Waktu pada proses tekstur adalah lamanya waktu pada pemanasan dan
pendinginan. Untuk mendapatkan benang dengan mutu yang baik diperlukan
waktu pemanasan yang cukup.
d. Tegangan
Tegangan benang dipengaruhi oleh Draw Ratio. Besar kecilnya tegangan
benang berpengaruh pada sifat rua dari benang, crimp, mulur, dan kekuatan
benang.

Pengendalian Mutu Benang Tekstur


Sifat fisik benang tekstur yang diuji dilaboratorium, meliputi :
a. Nomor benang (denier) dan jumlah filamen (helai)
b. Mulur (elongation)
c. Tenacity (g/denier)
d. Crimp (%)
e. Boiling Water Shringkage ( BWS )
f. Oil Pick Up (%)
g. Jumlah Interlace
h. Snarling.
Pengujian Crimp Pada Benang Filamen Tekstur
Metoda pengujian ini mengukur perubahan panjang pada benang filamen tekstur
dalam bentuk untaian karena tegangan yang ditunjukkan oleh crimp setelah
perlakuan panas basah atau panas kering. Metoda ini memberikan 3 pilihan (metoda
A, B, dan C).
a. Metoda A, menggunakan pembentuk crimp kondisi 1 (kering), disarankan untuk
benang tekstur poliester, nilon dan akrilik. Semua parameter crimp dapat diukur
dengan cara ini.
b. Metoda B, dapat juga digunakan untuk pembentuk crimp kondisi 1 (pemanas
kering) untuk benang tekstur poliester, nilon dan akrilik. Crimp contraction dapat
diukur dengan cara ini.
c. Metoda C, digunakan untuk pembentuk crimp kondisi 2 (bak air suhu 82 o C dan
beban 0,13 mN/tex disarankan untuk benang tekstur nilon) dan pembentuk crimp
o
kondisi 3 (bak air suhu 97 C disarankan untuk benang tekstur poliester).
Dengan metoda ini hanya bulk shrinkage yang dapat diukur.

Perubahan panjang yang diukur terdiri dari beberapa prosedur yang hasilnya
dinyatakan dalam skein shrinkage (SS), crimp contraction (CC), bulk shrinkage (BS)
dan crimp recovery (CR).
Cara ini terbatas pada pengukuran crimp benang multifilamen tekstur dengan
jangkauan 1,7 888,9 tex ( 15 8000 denier).

Parameter yang diuji


a. Bulk shrinkage adalah ukuran gaya potensial untuk meregang dari benang
stretch atau ukuran mengembangnya benang tekstur dari benang set.
b. crimp contraction adalah indikator kemampuan crimp atau karakteristik
kemampuan benang untuk mengkeret dibawah tegangan
c. crimp recovery adalah ukuran kemampuan benang untuk kembali ke keadaan
crimp aslinya setelah mengalami tegangan
d. skein shrinkage adalah ukuran mengkeret benang sesungguhnya tidak termasuk
crimp contraction
II. MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan dari dilakukannya praktikum pengujian crimp pada
benang filamen tekstur ini adalah :
1. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk menjelaskan pengertian
crimp pada benang filamen tekstur, kegunaan crimp dan hubungan dengan
proses selanjutnya.
2. Agar praktikan dapat memiliki kemampuan untuk memiliki kemampuan
menguji crimp pada benang filamen tekstur.

III. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengujian crimp pada benang
filamen tekstur ini adalah :
- Mesin reeling (gambar tertera pada lampiran)
- Oven (gambar tertera pada lampiran)
- Alat ukur crimp yang terdiri dari : Beban W 0, W 1, W 2, danW 3; dan skala
pengukur
- Benang poliester

IV. LANGKAH KERJA


Langkah-langkah dalam praktikum pengujian crimp pada benang filamen tekstur
ini adalah antara lain:
1. Mencari nomor benang dari benang contoh uji
2. Menggulung benang pada mesin reeling dengan tegangan 0,1 denier
2500
sepanjang
2

3. Memanaskan selama 10 menit sebesar suhu yang tergantung dari jenis


serat.
4. Mendiamkan dalam keadaan lurus selama 30 menit pada kondisi standar
(pada eksikator)
5. Menggantungkan untaian benang dan mengaitkan beban W 0(2,5 gram)
dan W 1(247,5 gram)
6. Setelah 10 detik, membaca skala dalam satuan mm(Lg)
7. Melepaskan beban W 1, menunggu 10 menit kemudian membaca skala
(Lz)
8. Memasang beban W 2 (22,5 gram) dan menunggu selama 10 detik,
kemudian membaca skala (Lf)
9. Melepaskan beban W 2, segera memasang beban W3 (2500 gram)
10. Setelah 10 detik, melepaskan beban W 3, meninggu selama 30 menit, lalu
membaca skala (Lb)
()
: = 100%

()
: = 100%

()
: = 100%

V. PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN


DATA PENGAMATAN
Berat = 1,82 g
Panjang = 120 yard = 109,73 m
591
Tex = = 16,59
35,61
Dtex = 16,59 x 10 = 165,9
2500 2500
Gulungan = = = 7,53
2 x dtex 2 x 165,9
Lg = 47,8 cm = 478 mm
Lz = 29,5 cm = 295 mm
Lf = 37,8 cm = 378 mm
Lb = 32 cm = 320 mm

PERHITUNGAN
Kontraksi Crimp
(LgLz) 47,829,5
Kc = x 100 % = x 100 % = 38 %
Lg 47,8
Modulus Crimp
(LgLf) 47,837,8
Mc = x 100 % = x 100 % = 21 %
Lg 47,8
Stabilitas Crimp
(LgLb) 47,832
Sc = x 100 % = x 100 % = 86 %
(LgLz) 47,829,5
VI. DISKUSI DAN KESIMPULAN
DISKUSI
Pada praktikum kali ini mengenai pengujian crimp pada benang filamen
tekstur adalah mengukur perubahan panjang pada benang filamen tekstur dalam
bentuk untaian karena tegangan yang ditunjukkan oleh crimp setelah perlakuan
panas basah atau panas kering. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus
dperhatikan dan hal-hal yang menjadi kendala selama praktikum dilaksanakan
yang berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan :
Sebelum melakukan pegujian benang terlebih dahulu di cari nomer
benangnya dengan cara yang telah diarahkan,
Pada saat meng oven benang usahakan suhu dan waktu yang digunakkan
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukkan,
Lakukan pengukuran pertambahan panjang setelah di oven dan diberi
beban dengan teiliti dan hati-hati, dikarenakan terdapat beberapa benang
yang sangat sensitive saat diberi beban terutama beban terberat yang
sudah disiapkan.

KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini praktikan dapat menyimpulkan bahawa benang tekstur
adalah benang filamen dari serat sintetis yang bersifat thermoplastis yang telah
diproses sedemikian rupa sehingga sifat fisik dan permukaannya berubah.
Misalnya menjadi rua (bulky), berjeratan (loops), berbentuk spiral (coils) dan
berbentuk crinkle. Perubahan sifat yang terjadi pada benang akan memberikan
sifat-sifat tertentu pada kain, yaitu
- Permukaan kain yang tidak rata
- Memberikan regangan pada kain
- Kain tidak mengkilap
- Daya tembus udara mekin kecil
- Pegangan/rabaan (lembut) pada kain
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
Kontraksi Crimp = 38 %
Modulus Crimp = 21 %
Stabilitas Crimp = 86 %
VII. LAMPIRAN

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Wibowo Moerdoko, Isminingsih, Wagimun dan Suripto, 1973. Evaluasi Tekstil
bagian fisika. Sekolah tinggi Teknologi Tekstil ;Bandung.
N.M. Susyami Hitariat, Totong, Siti Rohmah, Widayat, 2006. Bahan Ajar
Praktikum Evaluasi Tekstil II (Evaluasi Benang). Sekolah Tinggi Teknologi
Tekstil; Bandung.
Jurnal Praktikum Pengujian dan Evaluasi Tekstil 2.
PENGUJIAN CRIMP PADA FILAMEN TEKTUR, KETIDAKRATAAN BENANG,
dan BULU BENANG (HAIRINESS)

PRAKTIKUM EVALUASI BENANG TEKSTIL

Nama : Muhammad Rizky Aditya

NPM : 15010087

Group : 2T4

Dosen : Atin S., S.ST, M.T.

Asisten Dosen :

- Dodi M., S.ST.


- Tjiptoji

POLITEKNIK STT TEKSTIL BANDUNG

2017