Anda di halaman 1dari 14

ETIKA PROFESI AKUNTANSI

Pengertian Etika menurut :


Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995) Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut
suatu golongan atau masyarakat
Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral
Maryani & Ludigdo (2001) Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang
mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di
anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi.

Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat istiadat/
kebiasaan yang baik Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan
kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia
dalam kehidupan pada umumnya.
Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar
profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada
kepentingan publik. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi:
Kredibilitas. Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi.
Profesionalisme. Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh pemakai
jasa Akuntan sebagai profesional di bidang akuntansi.
Kualitas Jasa. Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari akuntan diberikan
dengan standar kinerja tertinggi.
Kepercayaan. Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika
profesional yang melandasi pemberian jasa oleh akuntan.

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian: (1) Prinsip Etika, (2) Aturan
Etika, dan (3) Interpretasi Aturan Etika. Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan
Etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota.Prinsip Etika
disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika disahkan oleh
Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan.
Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk
oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan
lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi
lingkup dan penerapannya.
Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau
Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk
menggantikannya.Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam
masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan sukarela anggota.
Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama
anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan
pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak
menaatinya.
Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang ditetapkan oleh badan
pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau menggunakan laporannya untuk mengevaluasi
kepatuhan klien terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Fungsi Etika :
Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang
membingungkan.
Etika ingin menampilkanketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara
rasional dan kritis.
Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika :


Kebutuhan Individu
Tidak Ada Pedoman
Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
Lingkungan Yang Tidak Etis
Perilaku Dari Komunitas
Sanksi Pelanggaran Etika :
Sanksi Sosial adalah Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yangdapat dimaafkan.
Sanksi Hukum adalah Skala besar, merugikan hak pihak lain.

Jenis-jenis Etika :
Etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar .
Etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus.

Ada tiga prinsip dasar perilaku yang etis :


Hindari pelanggaran etika yang terlihat remeh. Meskipun tidak besar sekalipun, suatu ketika akan
menyebabkan konsekuensi yang besar pada profesi.
Pusatkan perhatian pada reputasi jangka panjang. Disini harus diingat bahwa reputasi adalah
yang paling berharga, bukan sekadar keuntungan jangka pendek.
Bersiaplah menghadapi konsekuensi yang kurang baik bila berpegang pada perilaku etis.
Mungkin akuntan akan menghadapi masalah karier jika berpegang teguh pada etika. Namun
sekali lagi, reputasi jauh lebih penting untuk dipertahankan.

Kode etik akuntan Indonesia memuat delapan prinsip etika sebagai berikut : (Mulyadi, 2001: 53)
1. Tanggung Jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa
menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang
dilakukannya.Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat.
Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai
jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama
dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan
masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha
kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

2. Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada
publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme.Satu
ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik.
Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi
akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor,
dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas
akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib.
Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan
publik.Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang
dilayani anggota secara keseluruhan.Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku
akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan
negara.
Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa akuntan paham
bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi sesuai dengan persyaratan etika
yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi tersebut.Dan semua anggota mengikat dirinya
untuk menghormati kepercayaan publik.
Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara terus menerus
menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi
tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
3. Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan
profesional.Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan
patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya.
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus
terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa.Pelayanan dan kepercayaan publik tidak
boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi.Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak
disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan
prinsip.
4. Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam
pemenuhan kewajiban profesionalnya.
Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota.
Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara
intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah
pengaruh pihak lain.
Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas
mereka dalam berbagai situasi.Anggota dalam praktek publik memberikan jasa atestasi,
perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang lain menyiapkan laporan keuangan
sebagai seorang bawahan, melakukan jasa audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan
dan manajemennya di industri, pendidikan, dan pemerintah.
Mereka juga mendidik dan melatih orang orang yang ingin masuk kedalam profesi.Apapun
jasa dan kapasitasnya, anggota harus melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara
obyektivitas.

5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional


Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan
ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan
profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja
memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir.
Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa
profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna
jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik.
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman.Anggota seharusnya tidak
menggambarkan dirinya memiliki keahlian atau pengalaman yang tidak mereka
miliki.Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkat
pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seorang anggota untuk memberikan jasa
dengan kemudahan dan kecerdikan.
Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota
wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten.
Setiap anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi masing masing atau menilai
apakah pendidikan, pedoman dan pertimbangan yang diperlukan memadai untuk bertanggung
jawab yang harus dipenuhinya.
6. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan
jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa
persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk
mengungkapkannya.
Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan
kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat sifat dan luas kewajiban
kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.
Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau
pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya.Kewajiban kerahasiaan
berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.
7. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku
yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung
jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan
masyarakat umum.
8. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan
standar profesional yang relevan.Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota
mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan
tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang
dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional Federation of Accountants, badan
pengatur, dan pengaturan perundang-undangan.
TEORI AKUNTANSI NORMATIF DAN POSITIF

Akuntansi merupakan dapat dipandang sebagai prakek dan teori, hal ini pada akhirnya pada
akhirnya dapat bermanfaat pada berbagai bidang karena laporan keuangan digunakan sebagai
pengambil keputusan.Akuntansi yang dipraktikkan dalam suatu wilayah negara merupakan suatu
hasil rancangan dan pengembangan untuk mencapai suatu tujuan sosial tertentu.
Praktik akuntansi tersebut tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti faktor
sosial, ekonomi, politis, dsb.dan hal itu menyebabkan praktik akuntansi dalam suatu wilayah
negara tertentu bisa tidak sama dengan praktik akuntansi di negara lainnya untuk melaksanakan
suatu praktek yangbaik, tidak tidak cukup hanya mempelajari akuntansi secara praktik saja.
Karena dibalik praktik akuntansi terdapat berbagai gagasan, asumsi dasar, konsep, penjelasan,
dsb, yang semuanya terangkum dalam teori akuntansi.Teori akuntansi sendiri merupakan suatu
pengetahuan yang menjelaskan mengapa praktik akuntansi berjalan seperti yang ada
sekarang.Pada awal prakteknya bahkan sampai beberapa tahun kemudian tidak ada teori
akuntansi.
Oleh karena itu, selama tidak adanya struktur teori akuntansi formal maka yang terjadi adalah
banyaknya alternatif metode pencatan yang berlaku dalam praktiknya, semua di izinkan sehingga
menimbulkan kebingungan masyarakat.Vernon kam mengemukakan fungsi dari adanya teori
akuntansi sebagai berikut yakni menjadi pegangan bagi lembaga penyusunan standart akuntansi
dalam menyusun standartnya.
Memberi kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah akuntansi dalam hal tidaknya
standar resmi, menentukan dalam hal melakukan judget dalam penyusunan laporan keungan,
meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca laporan keuangan terhadap informasi yang
disajikan laporan keuangan, meningkatkan kualitas yang dapat di bandingkan
Teori merupakan kristalisasi dari fenomena empiris yang terjadi yang di gambarkan dalam
bentuk dlil-dalil dan di sajikan dalam bentuk kalimat-kalimat pendek yang berlaku secara umum.
Teori akuntansi dapat bermanfaat apabila rumusan teori itu dapat dijadikan sebagai alat untuk
meramaklkan apa yang diharapkan mungkin terjadi dimasa yang akan datang. teori akuntansi
dapat memberikan penjelasan mengenai praktik akuntansi, menjawab dan menjelaskan semua
fenomena yang melatarbelakangi penerapan suatu metode dalam praktik akuntansi.
Teori dapat didefinisikan sebagai hasil pemikiran yang beradasarkan metode ilmiah atau
logika.teori terdiri dari dua bagian :pertama, Asumsi-asumsi klasik termasuk definisi variabel-
variabelnya dan logika yang menghubungkan antara variabel tersebut. yang kedua, Himpunan
hipotesis- hipotesis yang penting. sedangkan hipotesis merupakan anggapan awal dari fenomena
atau masalah yang akan di analisis.
Tujuan dari teori akuntansi adalahmenjelaskan dan meramalkan praktik akuntansi. Teori
akuntansi adalah konsep, definisi,dalil yang menyajikan secara sistematis gambaran fenomena
akuntansi yang menjelaskan hubungan antarvariabel dengan variabel lainnya dalam struktur
akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan dan meramalkan fenomena yang akan muncul.
Hendriksen menilai teori akuntansi sebagai satu susunan prinsip umum akan dapat
memberikan kerangka acuan yang umum dari mana praktik akuntansi dinilai, Teori akuntansi
yang dirumuskan tidak akan mampu mengikuti perkembangan ekonomi, sosial teknologi dan
ilmu pengetahuan yang demikian cepat. Chamberr (1994) dan golberg(1984) berpendapat bahwa
akuntansi dikembangkan dari model spesifik bukannya dikembangkan secara sitematik dari teori
yang terstruktur.
Oleh karena itu preskripsi akuntansi dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah
khusus.secara umum, fungsi utama dari teori akuntansi adalah untuk memberikan kerangka
pengembangan ide-ide baru danmembantu proses pemilihan akuntansi
Tidak ada teori akuntansi yang lengkap pada setiap,kurun waktu menurut belkoi, Oleh karena
itu teori akuntansi harus juga mencakup semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan
yang berbeda-beda satu sama lain. Teori akuntansi merupakan instrument yang sangat penting
dalam menyusun dan memverifikasi prinsip akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan
keuangan untuk disajikan kepada para pemakainya.
Godfrey dkk(1992) membuat periodisasi akuntansi sebagai berikut :
Pry-teory(1942-1800)
General scientific period(1800-1955)
Normatife period (1956-1970)
Specific scientific period ( 1970- sekarang)

Dalam literatur dikenal beberapa pendekatan dalam merumuskan teori akuntansi, pendekatan
dalam peranan teori akuntansi menurut belkoui sebagai berikut :
Pendekatan informal
Pendekatan informal di bagi dalam pendekatan non-teoritis
Pendekatan non teoritis berupa pendekatan pragmatis dan pendekatan otoriter, pendekatan
pragmatis terdiri dari penyusunan teori yang ditandai dengan penyesuaian terhadap praktik
sesungguhnya yang bermanffat untuk memberi saran solusi praktis, sedangkan pendekatan
otoriter dalam penyusunan teori akuntansi yang umumnya digunakan oleh organisasi profesi
terdiri dri penyajian sejumlah praktik-praktik akuntansi
Pendekatan otoriter
Dalam metode ini yang dirumuskan teori akuntansi adalah organisasi profesi yang
mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengatur praktek akuntansi.
Pendekatan teoritis.
Pendekatan teoritis meliputi deduktif, induktif,etis,sosiologis, ekonomis dan elektik

Teori Akuntansi Normatif


Teori normative berusaha untuk membenarkan tentang apa saja yang harus dipraktekkan,
misalnya pernyataan yang menyebutkan bahwa laporan keuangan seharusnya di dasarkan pada
metode pengukuran aktiva tertentu. Menurut nelson (1973) teori normative hanya menyebutkan
hipotesis tentang bagaimana akuntansi seharusnya dipraktekkan tanpa menguji hasil hipotesis
tersebut.
Perumusan akuntansi normative mencapai keemasan pada tahun 1950 dan 1960an. pada
periodetersebut teori normative lebih berkosentrasi pada penciptaan laba sesungguhnya.dan
pengambilan keputusan

TEORI KOHLBERG
Biografi Lawrence Kohlberg
Lawrence Kohlberg tumbuh besar di Bronxville, New York, dan memasuki Akademi
Andover di Massachussets, sekolah menengah atas swasta yang mahal dan menuntut
kemampuan akademis tinggi. Dia tidak langsung melanjutkan keperguruan tinggi namun pergi
membantu pemulangan orang-orang Israel, bekerja sebagai insinyur tingkat dua di pesawat
angkut yang membawa pelarian dari Eropa melewati blockade Inggris ke Israel.

Setelah itu, pada 1948, Kohlberg masuk ke Universitas Chicago di mana dia lulus tes
penerimaan dengan angka yang sangat tinggi sehingga hanya mengambil sedikit saja mata kuliah
untuk memperoleh gelar sarjana mudanya. Dalam kuliah ini memang dicapai hanya dalam waktu
setahun.

Dia tinggal Chicago sebentar untuk mengejar gelar sarjananya di dalam psikologi yang
awalnya dia ingin mengambil psikologi kimia. Namun segera dia menjadi tertarik kepada piaget
dan mulai mewawancarai anak-anak dan remaja tentang masalah-masalah moral. Semua hasil
penelitiannya itu ditulis dalam disertasi doktoralnya (1958), rancangan pertama dari teori
pentahapan psikologi yang baru. Kohlberg mengajar di Universitas Chicago dari tahun 1962
sampai 1968, dan di Universitas Harvard dari tahun 1968 sampai ajal menjemputnya ditahun
1987.

Pengertian Perkembangan Moral

Pengertian perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari
potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang
baru (Reni Akbar Hawadi : 2001). Helden (1977) dan Richards (1971) berpendapat moral
adalah suatu kepekaan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dibandingkan dengan tindakan-
tindakan lain yang tidak hanya berupa kepekaan terhadap prinsip-prinsip dan aturan-aturan.

Kita telah mengetahui arti dari kedua suku kata yaitu perkembangan dan moral maka
selanjutnya yaitu kita mulai memahami arti dari gabungan dua kata tersebut Perkembangan
Moral Santrock (1995) Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan
aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya
dengan orang lain. Perkembangan moral adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi
dalam kehidupan anak berkenaan dengan tatacara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang
berlaku dalam kelompok sosial.

Perkembangan Moral menurut Lawrence Kohlberg

Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori Piaget, yaitu dengan
pendekatan organismik (melalui tahap-tahap perkem-bangan yang memiliki urutan pasti dan
berlaku secara universal). Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang
mendasari perilaku moral (moral behavior).Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari
tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang
diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg.
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis,
mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan
dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget,yang menyatakan
bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif.
Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan
moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama
kehidupan,walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.
Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik
pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada
dalam persoalan moral yang sama.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Moral.


Para peneliti perkembangan telah mengidentifikasi sejumlah factor yang berhubungan dengan
perkembangan penalaran dan perilaku moral : perkembangan kognitif umum, perkembangan
rasio dan rationale, isu dan dilema moral, dan perasaan diri.

1. Perkembangan Kognitif Umum.


Penalaran moral yang tinggi (advanced) penalaran yang dalam mengenai hokum moral dan
nilai-nilai luhur seperti kesetaraan, keadilan, hak-hak asasi manusia memerlukan refleksi yang
mendalam mengenai ide-ide abstrak. Dengan demikian dalam batas-batas tertentu,
perkembangan moral bergantung pada perkembangan kognitif (Kohlberg,
1976;Nucci,2006;Turiel,2002).
Sebagai contoh, anak-anak yang secara intelektual (gifted) berbakat umumnya lebih sering
berpikir tentang isu moral dan bekerja keras mengatasi ketidakadilan di masyarakat local ataupun
dunia secara umum ketimbang teman-teman sebayanya (silverman,1994). Meski demikian,
perkembangan kognitif tidak menjamin perkembangan moral. Terkadang siswa berpikir abstrak
mengenai materi akademis dan pada saat yang sama bernalar secara prakonvensional, yang
berpusat pada diri sendiri (Kohlberg, 1976; Silverman, 1994).

2. Penggunaan Ratio dan Rationale.


Anak-anak lebih cenderung memperoleh manfaat dalam perkembangan moral ketika mereka
memikirkan kerugian fisik dan emosional yang ditimbulkan perilaku-perilaku tertentu terhadap
orang lain. Menjelaskan kepada anak-anak alasan perilaku-perilaku tertentu tidak dapat diterima,
dengan focus pada perspektif orang lain, dikenal sebagai induksi(induction)
(M.L.Hoffman,1970,1975).

3. Isu dan Dilema Moral.


Dalam teorinya mengenai perkembangan moral, Kohlberg menyatakan bahwa anak-anak
berkembang secara moral ketika mereka menghadapi suatu dilema moral yang tidak dapat
ditangani secara memadai dengan menggunakan tingkat penalaran moralnya saat itu dengan kata
lain, ketika anak menghadapi situasi yang menimbulkan disequilibrium.

Upaya untuk membantu anak-anak yang menghadapi dilemma semacam itu, Kohlberg
menyarankan agar guru menawarkan penalaran moral satu tahap diatas tahap yang dimiliki anak
saat itu.Kohlberg (1969) percaya bahwa dilema moral dapat digunakan untuk memajukan tingkat
penalaran moral anak, tetapi hanya setahap demi setahap. Dia berteori bahwa cara anak-anak
melangkah dari satu tahap ke tahap berikut ialah dengan berinteraksi dengan orang-orang lain
yang penalarannya berada satu atau paling tinggi dua tahap di atas tahap mereka.

4. Perasaan Diri.
Anak-anak lebih cenderung terlibat dalam perilaku moral ketika mereka berpikir bahwa
sesungguhnya mampu menolong orang lain dengan kata lain ketika mereka memiliki
pemahaman diri yang tinggi mengenai kemampuan mereka membuat suatu perbedaan (Narfaez
& Rest,1995).
Lebih jauh, pada masa remaja, beberapa anak muda mulai mengintegrasikan komitmen
terhadap nilai-nilai moral terhadap identitas mereka secara keseluruhan
(M.L.Arnold,2000;Biyasi,1995;Nucci,2001). Mereka menganggap diri mereka sebagai pribadi
bermoral dan penuh perhatian, yang peduli pada hak-hak dan kebaikan orang lain.

Tindakan altruistic dan bela rasa yang mereka lakukan tidak terbatas hanya pada teman-teman
dan orang-orang yang mereka kenal saja, melainkan juga meluas ke masyarakat.

5. Kritik terhadap Teori Kohlberg


Salah satu keterbatasan karya Kohlberg ialah bahwa hal itu kebanyakan melibatkan anak laki-
laki.Riset tentang penalaran moral anak perempuan menemukan pola yang agak berbeda dari
pola yang disodorkan Kohlberg. Apabila penalaran moral anak laki-laki terutama berkisar di
seputar masalah keadilan, anak perempuan lebih tertarik dengan masalah-masalah kepedulian
dan tanggung jawab terhadap orang-orang lain (Gilligan, 1982; 1985; Gilligan & Attanucci,
1988; Haspe & Baddeley,1991).

Carol Gilligan telah berpendapat, misalnya, bahwa pria dan wanita menggunakan kriteria
moral yang berbeda: bahwa penalaran moral pria difokuskan pada hak masing-masing orang,
sedangkan penalaran moral wanita difokuskan lebih pada tanggung jawab masing-masing bagi
orang lain.

Kritik lain terhadap karya Kohlberg ialah bahwa anak-anak yang masih muda sering dapat
bernalar tentang situasi moral dengan cara yang lebih canggih daripada tahap yang diusulkan
teori (Rest,Edwards& Thoma,1997). Akhirnya, Turiel (1998)telah berpendapat bahwa anak-anak
yang masih muda menarik perhatian antara aturan-aturan moral, seperti tidak boleh berdusta dan
mencuri, yang didasarkan pada prinsip-prinsip keadilan, dan aturan-aturan sosial-konvensional,
seperti tidak boleh mengenakan piyama ke sekolah, yang didasarkan pada konsensus dan etiket
sosial.

Keterbatasan terpenting teori Kohlberg ialah bahwa hal itu berkaitan dengan penalaran moral
alih-alih dengan perilaku aktual (Arnold, 2000). Banyak orang pada tahap yang berbeda
berperilaku yang sama, dan orang-orang pada tahap yang sama sering berperilaku dengan cara
yang berbeda (Walker & Henning, 1997). Selain itu, konteks dilemma moral berperan penting.
Thoma dan Rest (1999) dan Rest et al. (1999) berpendapat bahwa penjelasan tentang perilaku
moral harus memerhatikan penalaran moral tetapi juga kemampuan menafsirkan dengan tepat
apa yang terjadi dalam situasi sosial, motivasi mempunyai perilaku yang bermoral, dan
kemampuan sosial yang perlu untuk benar-benar melakukan suatu rencana tindakan moral.