Anda di halaman 1dari 32

1

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

PENGOLAHAN LIMBAH PETERNAKAN

Pengolahan Feses Sapi Perah Dan Jerami Padi Secara Terpadu Menjadi

Pupuk Organik Cair, Pupuk Organik Padat, Feed Additive dan Biogas

Disusun Oleh:

Martina Krismonika Nugrahaini Reihan

2001101500268

Kelas C

Kelompok 3

Laboratorium Mikrobiologi dan Penanganan Limbah

Fakultas Peternakan

Universitas Padjadjaran

Sumedang

2017
2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Robbi, karena atas berkat

rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum ini

dengan judul Pengolahan Feses Sapi Perah Dan Jerami Padi Secara Terpadu

Menjadi Pupuk Organik Cair, Pupuk Organik Padat, Feed Additive dan Biogas

. Laporan praktiku ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas praktikum pengolahan

limbah peternakan.

Tujuan dari laporan praktikum ini adalah mempelajari tentang pengolahan

feses sapi perah dan jerami secara terpadu sehingga dapat dikasilkan pupuk organik

cair (POC), Pupuk organik pdat (POP), feed additive dan biogas. Manfaat dari

penyusunan laporan praktikum ini adalah menambah wawasan penulis dan

pembaca mengenai cara pengolahan segala jenis feses ternak dan jerami padi

sehingga didpatkan product yang bermanfaat bagi mahkluk hidup. Harapan penulis

melalui penyusunan makalah ini adalah dapat dijadikan bahan acuan bagi peneliti yang

akan datang.

Dalam penyusunan makalah ini, kami terlebih dahulu membaca sumber-

sumber yang berhubungan dengan pengolahan feses sapi perah dan jerami padi secara
terpadu..

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak dosen pengolahan

limbah peternakan Fakultas Peternakan UNPAD selaku pengajar dan pembimbing

kami dalam menyusun laporan praktikum ini. Saya selaku penulis menerima kritik
dan saran atas makalah ini.

Sumedang, 23 November 2017

penyusun

i
3

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam agribisnis, limbah peternakan merupakan bahan andalan pemenuhan

kebutuhan pupuk. Namun, karena pengelolaannya yang belum memadai maka

sebagian besar limbah peternakan justru masih menjadi penyebab utama

pencemaran lingkungan. Pengelolaan limbah peternakan terpadu merupakan salah

satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan

produktivitas agribisnis disertai meningkatnya daya dukung lingkungan.

Salah satu limbah yang dihasilkan dari aktifitas kehidupan manusia adalah

limbah dari usaha peternakan sapi yang terdiri dari feses, urin, gas dan sisa makanan

ternak. Limbah peternakan khususnya ternak sapi merupakan bahan buangan dari

usaha peternakan sapi yang selama ini juga menjadi salah satu sumber masalah

dalam kehidupan manusia sebagai penyebab menurunnya mutu lingkungan melalui

pencemaran lingkungan, menggangu kesehatan manusia dan juga sebagai salah satu

penyumbang emisi gas efek rumah kaca. Untuk itu sudah selayaknya perlu adanya

usaha pengolahan limbah peternakan menjadi suatu produk yang bisa dimanfaatkan

manusia dan bersifat ramah lingkungan. Dalam laporan ini dibahas bagaimana

pengolahan limbah secara terpadu yang ramah lingkungan dan beberapa cara

pengolahan yaitu dengan pembuatan pupuk organic cair, feed aditif, biogas dan

vermikompos.
4

1.2. Tujuan

Tujuan dari laporan Praktikum ini adalah:

1. Mengetahui cara pengolahan feses sapi perah dan jerami padi secara terpadu

menjadi pupuk organik cair, biogas, feed Additive, dan vermikompos.

1.3. Waktu dan Tempat

Hari : Senin, September November 2017

Waktu : 09.30 11.30 WIB

Tempat : Laboratorium Pengolahan Limbah Fakultas Peternakan Universitas

Padjadjaran
5

II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Pupuk Organik Cair

Pupuk organik merupakan pupuk yang berperan meningkatkan aktifitas

biologi, kimia, dan fisik tanah sehingga tanah menjadi subur dan baik untuk

pertumbuhan tanaman. Saat ini sebagian besar petani masih tergantung pada pupuk

anorganik karena mengandung beberapa unsur hara dalam jumlah yang banyak,

padahal jika pupuk anorganik digunakan secara terus-menerus akan menimbulkan

dampak negatif terhadap kondisi tanah (Indriani, 2004).

Pupuk organik terdapat dalam bentuk padat dan cair. Kelebihan pupuk

organik cair adalah unsur hara yang terdapat didalamnya lebih mudah diserap

tanaman (Murbandono, 1990). Pemberian pupuk organik cair juga harus

memperhatikan dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman. Mengakibatkan

timbulnya gejala kelayuan pada tanaman. (Rahmi dan Jumiati, 2007).

Umumnya bahan organik yang segar mempunyai rasio C/N tinggi, seperti

jerami padi sebesar 50-70 %. Prinsip pembuatan pupuk adalah menurunkan rasio

C/N bahan organik, sehingga sama dengan rasio C/N tanah (< 20). Semakin tinggi

rasio C/N bahan maka proses pembuatan pupuk akan semakin lama karena rasio

C/N harus diturunkan. Rasio C/N merupakan perbandingan dari pasokan energi

mikroba yang digunakan terhadap nitrogen untuk sintesis protein. Standar kualitas

pupuk di Indonesia yaitu memiliki rasio C/N berkisar 10-20 % (Sundari dkk., 2012).
6

2.2 Vermikompos/ Pupuk Organik Padat

Vermikompos adalah pupuk organik yang diperoleh melalui proses yang

melibatkan cacing tanah dalam proses penguraian atau dekomposisi bahan

organiknya. Walaupun sebagian besar penguraian dilakukan oleh jasad renik,

kehadiran cacing justru membantu memperlancar proses dekomposisi. Karena

bahan yang akan diurai jasad renik pengurai, telah diurai lebih dulu oleh cacing.

Proses pengomposan dengan melibatkan cacing tanah tersebut dikenal dengan

istilah vermikomposting. Sementara hasil akhirnya disebut vermikompos (

Agromedia, 2007 ).

Vermikompos adalah hasil dekomposisi lebih lanjut dari pupuk kompos

oleh cacing tanah yang mempunyai bentuk dan kandungan hara lebih baik untuk

tanaman (Hadiwiyono dan Dewi, 2000). Beberapa keunggulan vermikompos

adalah menyediakan hara N, P, K, Ca, Mg dalam jumlah yang seimbang dan

tersedia, meningkatkan kandungan bahan organik, meningkatkan kemampuan

tanah mengikat lengas, menyediakan hormon pertumbuhan tanaman, menekan

resiko akibat infeksi patogen, sinergis dengan organisme lain yang menguntungkan

tanaman serta sebagai penyangga pengaruh negatif tanah (Sutanto, 2002).

Vermikompos mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Penambahan kascing

pada media tanam akan mempercepat pertumbuhan, meningkatkan tinggi, dan berat

tumbuhan. Jumlah optimal kascing yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil

positif hanya 10-20% dari volume media tanaman ( Mashur, 2001 ).


7

2.3 Biogas

Biogas merupakan gas campuran metana (CH4), karbondioksida (CO2) dan

gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian bahan organik (seperti kotoran

hewan, kotoran manusia, dan tumbuhan) oleh bakteri metanogen. Untuk

menghasilkan biogas, bahan organik yang dibutuhkan, ditampung dalam

biodigester. Proses penguraian bahan organik terjadi secara anaerob (tanpa

oksigen). Biogas terbentuk pada hari ke 4-5 sesudah biodigester terisi penuh dan

mencapai puncak pada hari ke 20-25. Biogas yang dihasilkan sebagian besar terdiri

dari 50-70% metana (CH4), 30-40% karbondioksida (CO2) dan gas lainnya dalam

jumlah kecil (Fitria, B., 2009).

Biogas dihasilkan apabila bahan-bahan organik terurai menjadi senyawa-

senyawa pembentuknya dalam keadaan tanpa oksigen (anaerob). Fermentasi

anaerobik ini biasa terjadi secara alami di tanah yang basah, seperti dasar danau dan

di dalam tanah pada kedalaman tertentu. Proses fermentasi adalah penguraian

bahan-bahan organik dengan bantuan mikroorganisme. Fermentasi anaerob dapat

menghasilkan gas yang mengandung sedikitnya 50% metana. Gas inilah yang biasa

disebut dengan biogas. Biogas dapat dihasilkan dari fermentasi sampah organik

seperti sampah pasar, daun daunan, dan kotoran hewan yang berasal dari sapi, babi,

kambing, kuda, atau yang lainnya, bahkan kotoran manusia sekalipun. Gas yang

dihasilkan memiliki komposisi yang berbeda tergantung dari jenis hewan yang

menghasilkannya (Firdaus, U.I., 2009).

Biogas dapat dijadikan sebagai bahan bakar karena mengandung gas metana

(CH4) dalam prosentase yang cukup tinggi. Kotoran hewan lebih sering dipilih

sebagai bahan pembuat biogas karena banyak tersedia dan mudah diperoleh. Bahan

ini memiliki keseimbangan nutrisi, mudah diencerkan dan relatif dapat diproses
8

secara biologi. Selain itu kotoran yang masih segar lebih mudah diproses

dibandingkan dengan kotoran yang lama dan telah mengering (Pambudi, A., 2008).

Kotoran sapi merupakan substrat yang paling cocok sebagai sumber penghasil

biogas, karena telah meengandung bakteri penghasil gas metana yang terdapat

dalam perut ruminansia. Bakteri tersebut membantu dalam proses fermentasi

sehingga mempercepat proses pembentukan biogas (Sufyandi, A., 2001).

2.4 Feed Additive

Additive adalah suatu bahan atau kombinasi bahan yang ditambahkan,

biasanya dalam kuantitas yang kecil, kedalam campuran makanan dasar atau bagian

dari padanya, untuk memenuhi kebutuhan khusus, contohnya additive bahan

konsentrat, additive bahan suplemen, additive bahan premix, additive bahan

makanan (Hartadi et. al., 1991).

Additive adalah susunan bahan atau kombinasi bahan tertentu yang sengaja

ditambahkan ke dalam ransum pakan ternak untuk menaikkan nilai gizi pakan guna

memenuhi kebutuhan khusus atau imbuhan yang umum digunakan dalam meramu

pakan ternak. Murwani et al., (2002) menyatakan bahwa additive adalah bahan

pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan

produktifitas ternak maupun kualitas produksi. Sedangkan menurut Murtidjo

(1993), additive adalah imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan

ternak. Penambahan bahan biasanya hanya dalam jumlah yang sedikit, misalnya

additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen dan additive bahan premix.

Maksud dari penambahan adalah untuk merangsang pertumbuhan atau merangsang

produksi. Macam-macam additive antara lain antibiotika, hormon, arsenikal,

sulfaktan, dan transquilizer.


9

Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai

sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga antibiotika

(Anggorodi, 1985). Fungsi feed additive adalah untuk menambah vitamin-vitamin,

mineral dan antibiotika dalam ransum, menjaga dan mempertahankan kesehatan

tubuh terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang pertumbuhan

badan (pertumbuhan daging menjadi baik) dan menambah nafsu makan,

meningkatkan produksi daging maupun telur.

Mulder (1996) mendefinisikan probiotik sebagai kultur mikroorganisme

yang dapat berproliferasi di dalam saluran pencernaan induk semang sehingga

menghasilkan suatu keseimbangan mikroflora. Probiotik tersebut terutama terdiri

dari Lactobacilli, Streptococci, Bifidobacteria, Bacilli, dan Yeast. Penggunaan

probiotik juga dapat dipertimbangkan untuk mengurangi penggunaan antibiotika

dosis rendah yang umumnya digunakan untuk pencegahan suatu penyakit. Padahal

penggunaan antibiotika dalam dosis pencegahan tersebut mempunyai efek negatif

terhadap Lactobacilli yang merupakan bagian terbesar dari mikroflora aerobik

saluran pencernaan dan bakteri penghasil asam laktat lain yang sangat rentan

terhadap antibiotika (Mulder, 1996).


10

III

ALAT, BAHAN, PROSEDUR KERJA

3.1 Pembuatan Pupuk Organik Cair

3.1.1 Alat

1. Wadah untuk menaruh bahan yang akan digunakan.

2. Timbangan untuk menimbang bahan yang akan digunakan.

3. Karung untuk menaruh substrat

4. Terpal untuk menjaga lantai supaya tidak kotor.

5. Termometer untuk mengukur suhu substrat.

6. Stik bambu untuk melubangi karung.

7. Kardus untuk menutup bagian atas substrat dalam karung.

8. Tali rafia untuk mengikat karung

9. Wadah Kayu untuk pengering

10. Alat pengaduk untuk mengaduk substrat.

3.1.2 Bahan

1. Feses sapi perah

2. Jerami padi

3. Air

3.1.3 Prosedur kerja

1. Menghitung komposisi feses sapi perah dan jerami padi dengan nisbah C/N

25.

2. Menghitung kadar air campuran feses sapi perah dan jerami padi.

3. Menghitung berapa jumlah air yang harus ditambahkan sehingga kadar air

campuran 55%
11

4. Menimbang feses sapi perah dan jerami padi sesuai hasil perhitungan.

5. Mencampurkan feses sapi perah dan jerami padi sampai merata (homogen).

6. Memasukkan air sesuai dengan hsil perhitungan. Campurkan kembali

sehingga homogen.

7. Memasukkan campuran tersebut kedalam karung dan padatkan sebelum

campuran dimasukkan daam karung bagian dasar karung tersebut diisi oleh

jerami sebanyak 2kg dan bagian atasnya 1kg jerami padi. Campuran

dipadatkan pada karung sampai ketinggian 20-25cm.

8. Memasukkan O2 Sebanyak-banyaknya menggunakan stik bambu.

9. Melakukan pengulangan pada point 4 sampi 9.

10. Menutup bagian atas dengan menggunakan karton, lalu ikat karung dengan

menggunakan tali rafia.

11. Melakukan pengamatan suhu di dalam karung dengan menggunakan

thermometer selama seminggu.

12. Seminggu kemudian membuka kembali karung dan mengamati kapang. lalu

kemudian mengeringkan dengan cara ditiriskan selama 2 minggu.

13. Mengamati tampilan fisik, warna, dan bau dari dekomposan

14. Melakukan filtrasi terhadap dekomposan, dengan cara melarutkan

dekomposan dengan air panas terlebih dahulu sebanyak 13 liter.

15. Memfiltrasi dengan cara memasukan dekomposan yang telah dilarutkan

dalam air panas ke dalam wadah filtrasi sedikit demi sedikit. Hasil filtrasi

dibagi menjadi dua bagian yaitu suspensi jamur dan filtrat.

16. Suspensi jamur awal (masih hitam pekat) dibuat POC, suspensi jamur

berikutnya (tidak terlalu hitam) dibuat feed additive, dan filtrat dibuat

biogas.
12

17. Masukan suspensi jamur ke dalam wadah agar suspensi tersebut cepat

menjadi pupuk yang stabil melakukan aerasi.

3.2 Pembuatan Feed Additive

3.2.1 Alat

1. Ember untuk tempat membuat feed additive.

2. Plastik penutup untuk menutup ember untuk proses fermentasi.

3. Gayung untuk mengambil molases.

3.2.2 Bahan

1. Hasil Ekstraksi.

2. Molases.

3.2.3 Prosedur Kerja

1. Menampung hasil filtrasi berupa suspensi jamur yang sudah tidak terlalu

pekat ke dalam ember.

2. Menambahkan molases sebanyak 5% (9,5 liter filtrat encer dan 0,5 kg

molases).

3. Memfermentasi yang dilakukan dalam keadaan anaerob.

3.3 Pembuatan Biogas

3.3.1 Alar

1. Seperangkat digester untuk menaruh bahan biogas.

2. Karet penutup untuk memperkuat penutup.

3. Ban penampung gas untuk menampung hasil gas.

4. Klep untuk membuka dan menurut saluran.

5. Alat bor untuk membolongi tutup digester.

6. Sealer tape untuk merekatkan keran.

7. Ring untuk merekatkan keran.


13

8. Kran pembuka untuk mengalirkan gas.

9. Three-way stop cock untuk penyambung antar selang.

10. Selang untuk mengalirkan gas.

3.3.2 Bahan

1. Ekstrak dekomposan jerami padi dan feses sapi.

3.3.3 Prosedur

1. Menyiapkan tong digester beserta alat bahan lainnya.

2. Membuat lubang pada tutup digester dengan menggunakan gurinda yang

dipasangkan di ujing bor.

3. Memasangkan keran pada lubang.

4. Mengeratkn keran dengan menggunaan sealer tape sampai rapat.

5. Memasangkan three-way stop stop cock dihubungkanke keran.

6. Memasangkan ring sealer pada ujng selang

7. Menghubungkan selang dengan ban pengampungan gas.

8. Digester siap digunakan.

9. Menimbang substrat seberat 12 kg.

10. Menghitung kebutuhan molasses yaitu 2% dari substrat.

11. Menambahkan air untuk mengencerkan molases.

12. Mencampurkan substrat dengan molasses encer agar merata.

13. Memasukkan campuran substrat dan molases kedalam digester sebesar 80%

dari volume tong.

14. Menyiapkan sealer yang terbuat dari karet dan dipasang antara tong dan

penutupnya.

15. Mengunci tong dan penutup dengan menggunakan klem.

16. Mendiamkan sampai proses pembentukan biogas terjadi


14

3.4 Pembuatan Pupuk Organik Padat

3.4.1 Alat

1. Wadah untuk penampungan media.

2. Wadah untuk cacing.

3. Timbangan untuk menghitung bahan.

3.4.2 Bahan

1. Ekstrak dekomposan jerami padi dan feses sapi.

2. Cacing Tanah.

3.4.3 Prosedur

1. Memisahkan cacing dari media pertama memakai metode piramid.

2. Menimbang cacing seberat 254,66 gram

3. Menimbang media seberat 3,5 Kg

4. Memasukkan sedikit cacing kedalam media kompos, untuk melihat apakah

cacing tersebut cocok dengan medianya. Jika cocok, cacing akan masuk

kedalam media dengan bagian kepala terlebih dahulu.

5. Memasukkan seluruh cacing kedalam media secara merata

6. Menutup media cacing dan disimpan selama 2 minggu


15

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pupuk Organik Cair

4.1.1 Hasil
1. Proses dekomposisi

Total Feses 10 Kg
Total Jerami 8,30 Kg Untuk campuran
2 Kg Untuk alas
1 Kg Untuk bagian atas
Homogenisasi dilakukan sebanyak 10 kali dengan komposisi feses 1 kg dan
jerami 0,83 kg.

Dilakukan pengecekan suhu pada jerami didalam karung dan hasil yang:
Hari Ke Suhu Atas Suhu tengah(oC) Suhu Bawah Suhu Rata-
o
( C) (oC) Rata(oC)
0 28 30 28 28,7
1 53 60 57 55,7
2 41 42 41 41,3
3 57 57 52 55,3
4 56 59 56 57
5 30 34 32 32
6 28 30 29 28,7
7 31 32 31 31,3
Tekstur lebih halus, bau menjadi apek, warna keputih-putihan dan

pertumbuhan kapang kurang merata

Berat awal 18,30Kg

Berat akhir 12 Kg

Terjadi penyusutan 6.30 Kg atau sekitar 34,43%


16

2. Proses Pembuatan POC

1,5 Kg hasil dekomposisi direndam dengan air hangat sebanyak 10 liter dan

ditambahkan air sebanyak 3 liter menghasilkan filtrat 6 liter

Digunakan air panas

Filtrate kental dimasukan kedalam bak dan didiamkan sampai terbentuk

lapisan ragi

Warna hitam pekat

Bau tidak berbau

Rasa hambar

Tidak ada endapan

Viskositas kental

4.1.2 Pembahasan

Peningkatan suhu awal pada saat dekomposisi membuktikan proses

dekomposisi terjadi yang dilakukan oleh bakteri thermofilik sedangkan penurunan

terjadi akibat bakteri tersebut mati karenan suhu mencapai batas yang bisa di tahan

oleh mikroba tersebut.

Pada pengomposan secara aerobik akan terjadi kenaikan temperatur yang

cukup cepat selama 3-5 hari pertama dan temperatur kompos dapat mencapai 55-

70o C. Kisaran temperatur tersebut merupakan yang terbaik bagi pertumbuhan

mikroorganisme. Pada kisaran temperatur ini, mikroorganisme dapat tumbuh tiga

kali lipat dibandingkan dengan temperatur yang kurang dari 55o C. Selain itu, pada

temperatur tersebut enzim yang dihasilkan juga paling efektif menguraikan bahan

organik. Penurunan nisbah C/N juga dapat berjalan dengan sempurna (Djuarnani

dkk, 2005). Sesuai dengan yang dikatakan Djuarnani dkk pada hasil pengamatan

suhu tinggi pada awal-awal minggu kemudian akhirnya turun.


17

Suhu dan Ketinggian Timbunan pembuaatan pupuk organik, penjagaan

panas sangat penting dalam pembuatan pembuatan pupuk organik. Faktor yang

menentukan tingginya suhu adalah tingginya timbunan itu sendiri. Bila timbunan

yang terlalu dangkal akan kehilangan panas dengan cepat karena tidak adanya

cukup material untuk menahan panas tersebut, akibatnya pembuaatan pupuk

organik akan berlangsung lebih lama. Sebaliknya jika timbunan terlalu tinggi bisa

mengakibatkan material memadat karena berat bahan pembuatan pupuk organik itu

sendiri dan ini akan mengakibatkan suhu terlalu tinggi di dasar timbunan.

Panas yang terlalu tinggi menyebabkan terbunuhnya bakteri anaerobik yang

baunya tidak enak. Tinggi timbunan yang memenuhi persyaratan adalah 1 sampai

2 meter, ini akan memenuhi penjagaan tanah dan pemenuhan kebutuhan akan udara

(Asngad dan Suparti, 2005).

Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang

optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran

ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan

menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai

contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan

penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa

yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal

pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral

Pengadukan sangat diperlukan agar cepat tercipta kelembapan yang dibutuhkan saat

proses pengomposan berlangsung. Pengadukan pun dapat menyebabkan

terciptanya udara di bagian dalam timbunan, terjadinya penguraian bahan organik

yang mampat, dan proses penguraian berlangsung merata. Hal ini terjadi karena

lapisan pada bagian tengah tumpukan akan terjadi pengomposan cepat. Pembalikan
18

sebaiknya dilakukan dengan cara pemindahan lapisan atas ke lapisan tengah,

lapisan tengah ke lapisan bawah, dan lapisan bawah ke lapisan atas (Musnamar,

2006).

Pencampuran yang kurang baik dari komponen yang mempunyai tingkat

kematangan berbeda harus dihindarkan karena menyebabkan terjadinya genangan

di tempat-tempat tertentu, kehilangan struktur yang tidak seragam dan nisbah hara

yang tidak seimbang dari timbunan kompos. Pada kondisi yang menguntungkan,

awal homogenisasi limbah dapat dilaksanakan pada saat pengumpulan limbah dan

kemungkinan melalui proses penghalusan. Homogenisasi dan pencampuran bahan

dasar kompos dan bahan aditif sekaligus mengatur kandungan lengas dari bahan

yang sudah matang (Sutanto, 2002).

Pengomposan merupakan proses perombakan (dekomposisi) dan stabilisasi

bahan organik oleh mikroorganisme dalam keadaan lingkungan yang terkendali

(terkontrol) dengan hasil akhir berupa humus dan kompos (Simamora dan Salundik,

2006). Sedangkan menurut Rosmarkam dan Yuwono (2002) pada dasarnya

pengomposan merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikroba agar mampu

mempercepat proses dekomposisi bahan organik dan mikroba tersebut diantaranya

bakteri, fungi, dan jasad renik lainnya. Selama proses pengomposan akan terjadi

penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30

40% dari volume/bobot awal bahan. Sesuai dengan pendapat Rosmarkum dan

yuwono pada hasil pengamatan terjadi penurunan berat seabanyak 8Kg atau

38,09% dari berat awal.

Prinsip pengomposan adalah menurunkan nilai nisbah C/N bahan organic

menjadi sama dengan nisbah C/N tanah. Nisbah C/N adalah hasil perbandingan

antara karbohidrat dan nitrogen yang terkandung di dalam suatu bahan. Nilai nisbah
19

C/N tanah adalah 10-12. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N sama dengan

tanah memungkinkan bahan tersebut dapat diserap oleh tanaman (Djuarnani dkk,

2005).

Menurut Benito et all (2013) Prosedur Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Dari

Feses Sapi Perah dengan Penambahan mikroorganisme :

1. Penambahan mikroorganisme pada feses sapi perah (substrat) kemudian

dilakukan pengomposan selama 1 minggu

2. Selanjutnya substrat diekstrak menggunakan air panas dengan perbandingan 1

kg substrat dalam 4 liter air

3. Kemudian hasil ekstraksi diinkubasi selama 2 bulan, sambil dilakukan aerasi

4. Setelah proses inkubasi selesai, dilakukan analisis kandungan Nitrogen (N),

Fosfor (P2O5) dan Kalium (K2O) pada pupuk organic cair yang terbentuk

Hasil dekomposisi dalam pembuatan pupuk cair membutuhkan bakteri

pengurai. Bakteri pengurai yang umum digunakan adalah berupa produk botani dan

molasses sebagai energi yang digunakan oleh bakteri. Microorganisme sangat

efektif berguna untuk memepercepat proses pengomposan ataupun pada pembuatan

pupuk cair. Mikroorganisme lima golongan yang paling pokok, yaitu bakteri

fotosintetik, Lactobacillus sp (BAL), Streptomyces sp, ragi (yeast), dan

Actinomycetes.

Pada prosedur tersebut digunakan air panas untuk mempercepat proses

homogenasi, cepat meresap mendorong kapang lepas, juga untuk membunuh

mikroba (kapang) supaya mempercepat proses penguraian. Digunakanya air panas

juga untuk membunuh mikroorganisme patogen. Pada praktikum rasa dari POC

hambar.
20

Proses pembuatan pupuk cair dari hasil dekomposisi dapat berlangsung

secara cepat dengan bantuan mikroorganisme, yaitu sekitar empat sampai tujuh

hari. Proses pengolahan yang baik dan benar akan menghasilkan pupuk cair yang

tidak panas, tidak berbau busuk, tidak mengandung hama dan penyakit, serta tidak

membahayakan pertumbuhan ataupun produksi tanaman (Maspary, 2011) dari hasil

pengamatan pupuk organic cair tidak berbau yang berarti pembuatan POC berhasil.

4.2 Feed Aditif

4.2.1 Hasil

Aroma tidak sedap.

Tidak dianjurkan untukk dicoba.

Konsistensi tinggi.

Ragi menggumpal.

Warna coklat pekat.

Lalat tbuah tidak menghampiri.

4.2.2 Pembahasan

Starbio merupakan hasil teknologi tinggi yang berisi koloni mikroba rumen

sapi yang diisolasi dari alam untuk membantu penguraian struktur jaringan pakan

yang sulit terurai. Adapun koloni-koloni mikroba tersebut terdiri dari mikroba yang

bersifat proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan yang bersifat fiksasi nitrogen

non simbiotik (Lembah Hijau Multifarm, 1999).

Pada praktikum yang telah dilakukan feed additif yang dihasilkan tidak

sesuai dengan apa yang diharapkan karena aroma yang dihasilkan feed additif tidak

sedap dan kurang menarik karena aroma seharusnya sedap dan menarik ternak

untuk mencicipinya. Tanda berikutnya adalah kedatangan lalat buah jika feed

additif yang dihasilkan baik dan aromanya sedap maka akan menarik kedatangan
21

lalat buah sedangkan pada saat praktikum yang tertarik mendatangi feed additif

adalah lalat biasa. Semua itu mungkin disebabkan kurang homogenya pencampuran

yang dilakukan.

4.3 Biogas

4.3.1 Hasil

Digester terlihat menggelembung tetapi tidak keras

4.3.2 Pembahasan

Gabungan dari fermentasi bahan organik cair dengan bahan organik padat

dikenal dengan istilah biogas. Bahan baku pembuatannya berasal dari manusia,

hewan,dan tumbuhan. Pada dasarnya penggunaan biogas memiliki keuntungan

ganda, yaitu gas metana yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai bahan bakar.

Selain itu, limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan sebagai residu bisa

digunakan sebagai pupuk. (Hadisuwito,2012)

Penambahan molasses bertujuan untuk sumber energi mikroorganisme

dalam proses tersebut pemasukan campuran subtrat molasses kedalam digester

hanya berisi 80% dan tidak boleh dipadatkan hal ini dilakukan agar gas metana

tidak terjebak didalam digester sehingga gas metana bisa keluar bebas. Penambahan

molasses juga bertujuan untuk memacu bakteri Lactobacillus sp untuk membantu

pembentukan gas metana. Pada praktikum ini ban menggelembung dan bila ditekan

tidak keras karena bila keras akan membunuh mikroorganisme yang ada.

Dalam pembuatan biogas, komposisi bahan baku feses, air dan rumen

(starter) harus seimbang agar menghasilkan biogas yang maksimal. Jika

perbandingan tidak seimbang, misal rumen lebih banyak dari feses dan air, maka

biogas yang dihasilkan sedikit, karena pada campuran bahan baku ini hanya ada

sumber bakteri saja tanpa adanya substrat, sehingga bakteri akan kekurangan
22

makanan dan menjadi tidak produktif. Starter yang bisa digunakan antara lain

lumpur aktif dan rumen sapi. ( Saputro, R.R ,. 2004)

4.3 Vermikompos/ Pupuk Organik Padat

4.4.1 Hasil

Berat media tumbuh 3,5 kg dan berat cacing tanah yang digunakan 254,66

gr

Adanya kascing.

Setelah 1 minggu disimpan ukuran cacing bertambah besar

Beberapa cacing sudah menjadi induk

Media kompos menyusut dari berat sebelumnya

4.4.2 Pembahasan

Pada praktikum ini digunakan cacing tanah atau Lumbricus rubellus.

Lumbricus rubellus dikenal sebagai redworm dan merupakan pilihan favorit untuk

budidaya cacing tanah. Karakteristik cacing ini adalah bagian atas merah

kecoklatan atau merah ungu, permukaan bawah berwarna pucat, menempati lapisan

tanah paling atas (Arisandi, 2002), bereproduksi secara seksual dengan jumlah 2-3

kokon per minggu dan umur dewasa 2,5-3 bulan (Suharyanto, 2001).

Cacing cocok dengan media dilihat dari masuknya cacing ke media dengan

bagian kepala (caput) terlebih dahulu. Pada hasil pengamatan cacing mengeluarkan

lendir yang berfungsi untuk pertahanan tubuhnya dan membantu dalam

penghancuran limbah secara alami menurut Sinha dkk., (2002) dalam pembuatan

kascing, cacing tanah memegang peranan penting yaitu sebagai dekomposer.

Cacing tanah memiliki enzim seperti protease, lipase, amilase, selulose dan kitin

yang memberikan perubahan kimia secara cepat terhadap meterial selulosa dan

protein dari sampah organik. Aktivitas cacing tanah menunjukkan peningkatan


23

dekomposisisi dan penghancuran sampah secara alami (60% - 80%). Hal ini sangat

berpengaruh mempercepat waktu pengomposan hingga beberapa minggu. Makin

tinggi penyusutan (KTK) makin baik kualitas pengurainya.

Penyusutan yang terjadi pada hasil praktikum merupakan salah satu proses

vermikompos Vermikompos yang dihasilkan dan usaha budidaya cacing tanah

dapat mencapai sekitar 70 persen dari bahan media atau pakan yang diberikan,

misalnya jumlah media atau pakan yang diberikan selama 40 hari budidaya

sebanyak 100 kg maka vermikompos yang dihasilkan sebanyak 70 kg. Penguraian

yang dilakukan cacing tanah lebih cepat dibandingkan mikroba. Kemampuan

cacing tanah mengurai bahan organik yang mutunya jauh lebih baik dari pupuk

anorganik (Palungkun, 1999).

Kadar air untuk media pertumbuhan berkisar 70-90% dan suhu optimal

media 18-28o C. PH tanah harus netral. Dampak aktivitas cacing tanah membuat

lingkungan disekitarnya menjadi lingkungan yang mempunyai daya dukung untuk

aktivitas organisme yang lain. Cacing tanah hidup pada habitat yang beragam,

khususnya di tempat yang gelap dan lembab. Mereka dapat mentolerir suhu berkisar

antara 5oC dan 29oC dan kelembapan 60-75% dari yang optimal baik untuk cacing.

Cacing tanah berkembang biak sangat cepat. Cacing tanah dapat mentolerir bahan

kimia beracun di lingkungan. (Sinha et al. 2010). Kisaran pH ideal untuk pembuatan

vermikompos berkisar antara 7 dan 8, sedangkan pada kompos biasa antara 6 dan 8

(Edwards dan Lofty, 1977).

Setelah mengamati proses vermicomposting secara kualitatif, terlihat

ukuran cacing bertambah besar, hal ini berarti media yang tersedia cocok bagi

cacing tersebut. Dari beberapa cacing yang diamati beberapa cacing sudah menjadi

induk ini dibuktikan dengan adanya kokon pada cacing tersebut. Selain itu
24

kelompok kami melakukan penggemburan yang bertujuan untuk memasukan

oksigen kedalam wadah dan terlihat cacing bertambah banyak dan menyebar

kesetiap sudut media. Vermikomposting menghasilkan 2 manfaat utama yaitu

biomassa cacing tanah dan vermikompos (Sharma dkk., 2005). Kualitas dan

kuantitas bahan makanan mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi cacing tanah

dalam proses vermicomposting (Edwards et al. 1988: 211-220). Kualitas bahan

makanan pada substrat awal sangat mempengaruhi biomassa cacing tanah (Suthar,

2007: 1608-1614). Berkurangnya biomassa cacing tanah dapat disebabkan oleh

berkurangnya bahan makanan di dalam media biak (Garg et al.2005: 51-59).

Pertumbuhan cacing tanah dibatasi oleh ketersediaan sumber karbon pada bahan

makanannya (Tiunov & Scheu 2004: 83-90).

Vermikompos memiliki struktur halus, partikel-partikel humus yang stabil,

porositas, kemampuan menahan air dan aerasi, kaya nutrisi, hormon, enzim dan

populasi mikroorganisme (Lavelle dkk., 1999). Salah satu cara untuk melihat hasil

Vermikompos yang baik adalah dengan memasukan hasil vermikompos kedalam

air hal ini dikarenakan hasil vermikompos mudah menyerap air sesuai dengan

pendapat Ismail (1997) Vermikompos yang dihasilkan berwarna coklat gelap, tidak

berbau dan mudah terserap air .


25

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari laporan praktikum ini adalah:

1. Prinsip pembuatan POC dan feed additif adalah Memfiltrasi dengan cara

memasukan dekomposan yang telah dilarutkan dalam air panas ke dalam

wadah filtrasi sedikit demi sedikit. Hasil filtrasi dibagi menjadi dua bagian

yaitu suspensi jamur dan filtrat. Sisa dari pembuatan POC dan feed additif

dibuat biogas dengan dibantu mikroorganisme , kemudian dibuat

vermikompos dengan menggunakan cacing.


26

DAFTAR PUSTAKA

Agromedia, R. 2007. Petunjuk Pemupukan. Agromedia, Jakarta

Aminah Asngad dan Suparti, 2005. Model Pengembangan Pembuatan Pupuk

Organik Dengan Inokulan (Studi Kasus Sampah Di Tpa Mojosongo

Surakarta). Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 6, No. 2, 2005: 101-113

Musnamar, E. I. 2006. Pupuk Organik: cair & padat, pembuatan, aplikasi. Penebar

Swadaya. Jakarta.

Sutanto, R. 2002. Pupuk Organik: potensi biomassa dan proses pengomposan.

Kanisius, Yogyakarta.

Anggorodi, R., 1985. Kemajuan Muthahir dalam Ilma Makanan Ternak Unggas.

Penerbit Universitas Indonesia.

Arisandi,P .2002. Dekompoosisi Serasah Mangrove Lembaga Kajian Ekoologi dan

Konservasi Lahan Basah-ECOTON

Tb.Benito A.K, Yuli A. H., Eulis T. M, dan Ellin Harlia. 2013. Pemanfaatan Feses Sapi

Perah Menjadi Pupuk Cair dengan Penambahan Saccharomyces cerevisiae.

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung: Jatinangor.

Djuarnani, nan., Kristian, dan Budi Susilo Setiawan. 2005. Cara Cepat Membuat

Kompos. Jakarta: AgroMedia Pustaka

Edward CH, Lofty JR. 1977. Biology of earthworm. London Chapman and Hall.

Edwards MC, Smith GN, Bowling DJF.1988. Guard-cells extrude protons prior to

stomatal openinga study using fluorescence microscopy and pH micro-

electrodes. Journal of Experimental Botany .39:211-220.

Eulis T.M., 2009. Biokonversi Limbah Industri peternakan.UNPAD

PRESS.Bandung.
27

Firdaus, I.U., 2009, Energi Alternatif Biogas, http://www.migas-

indonesia.com/index.php(diakses pada tanggal 24 oktober 2015)

Fitria, B., 2009). Fitria, B., 2009, Biogas,

http://biobakteri.wordpress.com/2009/06/07/8-biogas(diakses pada tanggal 24

oktober 2015)

Garg et al.2005: 51-59 Garg VK, Chand S, Chhillar A, Yadav A (2005) Growth and

reproduction of Eisenia foetida in various animal wastes during

vermicomposting. Appl Ecol Environ Res 3(2):5159

Hadisuwito, Sukamto. 2012. Membuat Pupuk Organik Cair. Jakarta : AgroMedia

Pustaka

Hadiwiyono dan W.S. Dewi. 2000. Uji pengaruh penggunaan vermikompos,

Trichoderma viride dan mikoriza Vesikula arbuskula terhadap serangan

cendawan akar bengkak (Plasmodiophora brassicae Wor.) dan pertumbuhan

pada caisin. Caraka Tani

Harjadi. 1991. Pengantar Agronomi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Indriani.2004. Membuat Kompos secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta

Ismail, S. A. 1997. Vermicology: The Biology of Earthworms. Orient longman Press,

Hyderabad. 92 pp.

Lavelle P et al. 1997. Soil function in a changing world: the role of invertebrate

ecosystem engineers. Eur. J. Soil Biol. 33(4): 159-193.

Manshur, 2001. Vermikompos (Kompos Cacing Tanah) dan Pupuk Organik yang

Ramah Lingkungan. Instalansi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian

(IPPTP) Mataram. Mataram.

Maspary 2011, Dosis dan Cara Pemupukan Padi, http://www.gerbangpertanian.com

diakses pada tanggal 24 November 2015


28

Maspary.2011. Cara Mudah Fermentasi Urine Sapi Untuk Pupuk Organik Cair.

Available at: http://www.gerbangpertanian.com/2010/04/cara-mudah-

fermentasiurine-sapi-untuk.html. (diakses pada tanggal 24 oktober 2015)

Mulder, M., 1996. Basic principles of membrane technology, 2nd ed., Kluwer

Academic Publisher, Dordrecht

Multifarm, Lembah Hijau, CV., Resume Pelatihan, Integrated Farming System,

LHMResearch Station, Solo Indonesia, 2002.

Murbandono. 1990. Membuat Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta

Murtidjo, B.A. 1993. Memelihara Domba. Kanisius, Yogyakarta.

Murwani, R., C. I. Sutrisno, Endang K., Tristiarti dan Fajar W. Kimia dan Toksiologi

Pakan. 2002. Diktat Kuliah Kimia dan Toksiologi Pakan. Fakultas Peternakan,

Universitas Diponegoro, Semarang.

oleszkiewicz, J.A. and M. Poggi-varaldo. 1997. High-solids anaerobic digestion of

mixed municipal and industrial wastes. J. Environ. Eng. 123:1087-1092.

Palungkun, 1999. Palungkun, R., 1999. Sukses Beternak Cacing Tanah (Lumbricus

rubellus). Penebar Swadaya. Jakarta.

Pambudi, N.A. 2008. Pemanfaatan Biogas Sebagai Energi Alternatif. Universitas

Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rahmi, A. dan Jumiati. 2007. Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Penyemprotan

Pupuk Organik Cair Sper ACI terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung

Manis. J. Agritrop.,26(3).,105-109

Rosmarkam, A & N. W. Yuwono., 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Jakarta

Saputro, R.R., 2004. Pembuatan Biogas Dari Limbah Peternakan, Fakultas

Peternakan Undip, Press : Semarang. Dalam, Herlina, Dewi, M., dkk, 2010.

Skripsi.
29

Sharma, R.A., Gescher, A.J. dan Steward, W.P. 2005. Curcumin: The story so far.

European Journal of Cancer

Simamora, S. dan Salundik. 2006. Meningkatkan Kualiatas Kompos. Agromedia

Pustaka. Jakarta.

Sinha, R. K., S. Agarwal, K. Chauhan, V. Chandran, B.K. Soni, 2010. Vermiculture

Technology Reviving the Dreams of Sir Charles Darwin for Scientific Use of

Earthworms in Sustainable Development Programs. Technology and

Investment 155-172.

Sinha, R.K; S. Herat, S. Agarwal, R. Asadi and E. Carretero. 2002. Vermiculture and

Waste Management : Study of Action of Earthworms Elsinia Foetida, Eudrilus

Euginae and Perionyx Excavatus on Biodegradation of Some Community

Wastes in India and Australia. The Environmentalist : Vol 22 (3)

Sufyandi. A., 2001, Informasi Teknologi Tepat Guna Untuk Pedesaan Biogas,

Bandung

Suharyanto, 2001. Vermikompos. Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian.

Universitas Bengkulu.

Sundari, E., Sari, E. dan Rinaldo, R.. 2012. Pembuatan Pupuk Organik Cair

Menggunakan Bioaktivator Biosca dan EM4. Fakultas Teknologi Industri

Universitas Bung Hatta. Palembang

Sutanto. 2002. Penerapan Pertanian Organik, Penerbit Kanisius. Jakarta

Suthar S .2007. Nutrient changes and biodynamics of epigeic earthworm Perionyx

excavatus (Perrier) during recycling of some agriculture wastes. Bioresour

Technol 98(8):16081614

Widarto, L; Sudarto FX.1997. Membuat Biogas.Penerbit Kanisius; Yogyakarta.


30
31
32