Anda di halaman 1dari 3

Perbedaan antara Principal Based dan Rule Based

Laporan keuangan yang selama ini dibuat menggunakan PSAK yang berkiblat pada US
GAAP sudah tidak lagi digunakan oleh Indonesia. Saat ini standar yang digunakan telah
Konvergen dengan IFRS, dimana standar akuntansi menjadi berbasis prinsip (principle
based) bukan lagi berbasis aturan (rule based). Pengaturan berbasis prinsip bertujuan untuk
memenuhi tujuan dari IFRS yaitu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan
keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global.
Perbedaan rules-based system dan principal based adalah pada rules-based system akuntan
dapat memperoleh petunjuk implementasi secara detail sehingga mengurangi ketidakpastian
dan menghasilkan aplikasi aturan-aturan spesifik dalam standar secara mekanis. Sementara
principles-based system, akuntan akan membuat sejumlah estimasi yang harus dia
pertanggungjawabkan dan mensyaratkan semakin banyak judgment professional (Schipper,
2003).
Dalam rangka konvergensi IFRS ada perubahan mendasar dalam akuntansi, yaitu perubahan
dari rule-based acounting menjadi principle-based accounting.
Konsep principlebased accounting ini merupakan konsep yang meletakkan tujuan kunci
dalam pelaporan keuangan, kemudian menyedikan landasan untuk menjelaskan tujuan
tersebut. Jika timbul keraguraguan mengenai sebuah aturan, pembaca diarahkan kembali ke
landasan prinsip tersebut.
Kelemahan dari konsep principle-based accounting ini adalah dalam kondisi tidak
adanya petunjuk dapat menyebabkan ketidakakuratan dan ketidakkonsistenan informasi.
Sedangkan konsep rulebased accounting merupakan konsep yang memberikan daftar
aturan yang harus diikuti dalam menyiapkan pelaporan keuangan. Dengan memiiki aturan
yang jelas, dapat meningkatkan akurasi dan mengurangi keragu-raguan yang dapat memicu
pelaporan yang agresif dari manajemen.
Kekurangan dari konsep rulebased accounting ini adalah dapat menyebabkan
kompleksitas yang tidak dibutuhkan dalam menyiapkan pelaporan keuangan. Tambahan lagi,
persyaratan atau aturan yang ketat dapat memaksa manajer untuk memanipulasi laporan agar
dapat memenuhi kewajibannya.
Dalam standar sewa ala rule based, yang juga dianut oleh PSAK 30 kita sebelum mengadopsi
IFRS, pemisahan antara sewa operasi dan sewa pembiayaan sangat tegas dan detil. Suatu
sewa masuk kategori sewa pembiayaan bila memenuhi beberapa syarat, misalnya masa sewa
melingkupi minimal 75% dari total umur ekonomis barang sewaan.
Karena batasan yang jelas ini, maka mereka yang ingin mengkategorikan sewa sebagai sewa
operasi untuk menghindari pengakuan liabilitas sewa di neraca bisa mengakali kontrak
sewa menjadi 74% dari umur ekonomis barang sewaan. Dengan demikian mengkategorikan
sewa ini sebagai sewa operasi tidaklah salah karena tidak bertentangan dengan standar
akuntansi.
Dalam standar sewa yang principle based, batas 75% tidak disebutkan tapi yang ditekankan
adalah substansi sewa. Sewa diketagorikan sebagai sewa pembiayaan bila manfaat dan risiko
dari barang sewaan secara substansial berpindah ke penyewa. Masa sewa bisa menjadi salah
satu indikasi, tapi tidak ada garis batas jelas 75% melainkan menggunakan penjelasan masa
sewa adalah untuk sebagaian besar umur ekonomis aset, dengan demikian yang memiliki
umur sewa 74% bisa dipastikan bahwa bisa dikategorikan sebagai sewa pembiayaan.
Perbedaan standar sewa ini menjadi salah satu perbedaan utama IFRS dan US GAAP
sehingga kedua dewan standar ini membuat kerjasama dalam pembuatan standar sewa yang
baru. Saat ini pembahasan tentang leasing masih hangat diperdebatkan karena kedua dewan
standar belum bersepakat dalam beberapa hal.
Salah satu contoh principle based vs rule based adalah standar tentang konsolidasi. IFRS
menekankan pada definisi pengendalian. Bila ada pengendalian (walaupun kepemilikannya
dibawah 50% dari total saham) maka harus dikonsolidasi (de facto control). Sedangkan
standar akuntansi rule based akan menekankan pada voting rights sehingga sulit bila memiliki
kepemilikan dibawah 50% untuk mengkonsolidasi anak perusahaan karena tidak memiliki
voting rights mayoritas.
Standar berbasis prinsip lainnya yang dikembangkan oleh IASB bersama dengan FASB
adalah standar tentang pendapatan. Dalam joint project ini, langkah-langkah pengakuan
pendapatan diatur dalam lima tahapan berurutan. Dihaprapkan dengan prinsip ini maka
pengakuan pendapatan dapat memiliki prinsip yang sama dalam setiap industri, terutama di
US GAAP karena banyak sekali pengaturan tentang pengakuan pendapatan yg berbeda-beda
tiap industry.
Standar berbasis prinsip memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan manajer memilih
perlakuan akuntansi yang merefleksikan transaksi atau kejadian ekonomi yang mendasarinya,
meskipun hal sebaliknya dapat terjadi. Standar berbasis prinsip memungkinkan manajer,
anggota komite audit, dan auditor menerapkan judgment profesionalnya untuk lebih fokus
pada merefleksi kejadian atau transaksi ekonomi secara substansial, tidak sekedar
melaporkan transaksi atau kejadian ekonomi sesuai dengan standar.
Implikasinya, IFRS memang lebih fleksibel dan memberikan keleluasaan yang lebih besar
terhadap akuntan untuk menggunakan pertimbangan profesional (professional judgment).
Implikasi inilah yang dijadikan alasan, IFRS justru akan mempersulit komparabilitas laporan
keuangan dan menyuburkan manipulasi laporan keuangan. Bandingkan misalnya dengan US
GAAP yang sangat ketat. Pertimbangan profesional telah tereduksi menjadi pohon keputusan
(decision tree), dalam kondisi apa harus melakukan apa.
Jadi kesimpulan baik atau buruknya penerapan IFRS yang berbasis prinsip, tapi yang perlu
menjadi perhatian sekarang bukan lagi mengenai baik buruknya atau suka tidak sukanya
terhadap IFRS karena tahun 2012 ini Indonesia telah resmi menerapkan IFRS dan sudah
seharusnyalah untuk mempersiapkan diri sebagai calon akuntan untuk memahami IFRS yang
berbasis pirnsip. Baik kalangan mahasiswa, praktisi maupun akademisi di bidang akuntansi
untuk sungguh-sungguh menguasai prinsip-prinsip akuntansi untuk dapat bersaing apabila
masih ingin bersaing.

Dampak Principle based kepada akuntan

Banyak yang salah kaprah bahwa US GAAP adalah standar rule based sehingga tidak
memiliki prinsip. US GAAP juga memiliki kerangka konseptual, bahkan banyak yg
berpendapat kualitas kerangka konseptual US GAAP lebih baik daripada IASB. Banyak
faktor yang membuat perkembangan standar akuntansi US GAAP yang menjadi detil dan
rumit seperti sekarang ini. US GAAP dikembangkan lebih dari 50 tahun dengan pendekatan
bottom-up sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pengguna standar. Sehingga standar US
GAAP memang makin lama semakin rumit karena perkembangan transaksi dan kompleksitas
bisnis yang semakin berkembang.