Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang mempunyai banyak penduduk, Jumlah penduduk
Indonesia menempati urutan pertama negara di kawasan Asia Tenggara. Jumlah
penduduk Indonesia berada pada urutan ke-3 di antara Negara-negara yang sedang
berkembang (215,27 ju ta jiwa), setelah Cina (1,306 milyar jiwa), India (1,068 milyar
jiwa). Sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia memiliki masalah-masalah
kependudukan yang cukup serius dan harus segera diatasi agar tidak terjadi ledakan
penduduk. Masalah kependudukan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dan
distribusi yang tidak merata. Hal ini dibarengi dengan masalah lain yang lebih spesifik,
yaitu angka fertilitas dan angka mortalitas yang relatif tinggi.
Bila dilihat dari luas wilayah pada peta penyebaran penduduknya terlihat tidak
merata di 33 propinsi. Kondisi tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk
Indonesia tidak seimbang. Kondisi tersebut memerlukan upaya pemerataan dan upaya
tersebut dilaksanakan melalui program transmigrasi dan gerakan kembali ke Desa.
Masalah-masalah lain seperti ketenagakerjaan ataupun angkatan kerja masih
berpendidikan rendah. Dampaknya terhadap pendapatan perkapita yang pada gilirannya
akan berpengaruh terhadap kualitas hidup. Juga terhadap kehidupan rumah tangga seperti
perceraian dan perkawinan yang akan berpengaruh terhadap angka kelahiran dan
kematian yang dalam banyak hal dijadikan indikator bagi kesejahteraan suatu negara.
Nampaknya sederhana, tetapi harus diingat bahwa manusia adalah sebagai subjek
tetapi juga sekaligus objek pembangunan sehingga bila tidak diantisipasi mungkin pada
gilirannnya akan berakibat ketidakstabilan atau kerapuhan suatu Negara.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan penduduk, ledakan penduduk dan tenaga kerja
2. Faktor faktor yang mempengaruhi ledakan penduduk
3. Dampak ledakan penduduk terhadap ketenagakerjaan
4. Upaya untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan akibat ledakan penduduk
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Mengetahui pengertian penduduk, ledakan penduduk dan tenaga kerja
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ledakan penduduk
3. Mengetahui dampak ledakan penduduk terhadap ketenagakerjaan
4. Mengetahui upaya untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan akibat ledakan
penduduk

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian penduduk, ledakan penduduk dan tenaga kerja


1. Penduduk
Dalam arti luas, penduduk atau populasi berarti sejumlah makhluk sejenis yang
mendiami atau menduduki tempat tertentu. Bahkan populasi dapat pula dikenakan
pada benda-benda sejenis yang terdapat pada suatu tempat. Dalam kaitannya dengan
manusia, maka pengertian penduduk adalah manusia yang mendiami dunia atau
bagian-bagiannya.
a. Teori penduduk modern
Pandangan-pandangan tentang Teori penduduk modern, diantaranya:
Pandangan Merkantilisme, jumlah penduduk yang banyak sebagai elemen
yang penting dalam kekuatan negara yaiti merupakan faktor yang penting
di dalam kekuatan negara dan memegang peranan dalam meningkatkan
pengahasilan dan kekayaan negara.
Pandangan Kaum Fisiokrat, kesempatan untuk meningkatkan jumlah
produksi pertanian dalam rangka menunjang pertambahan penduduk.
Pandangan Cantilion (Merkantilisme), tanah merupakan faktor utama yang
dapat menentukan tinggi rendahnya kesejahteraan, selain itu, dinyatakan
pula bahwa jumlah penduduk akan terbatas karena jumlahnya akan
dibatasi oleh jumlah makanan yang dapat diproduksi oleh tanah.
Pandangan Quesnay (Fisiokrat), suatu negara hendaknya mempunyai
penduduk yang cukup banyak, tetapi dengan sayarat agar mereka dapat
mencapai taraf hidup yang layak.
Pertumbunhan penduduk (populatin growth) di suatu negara adalah peristiwa
berubahnya jumlah penduduk yang disebabkan oleh adanya pertambahan alami
dengan migrasi neto. Pertambahan alami (natural increase) adalah pertambahan
penduduk yang diperoleh dari selisih antara jumlah kelahiran dan jumlah
kematian. Migrasi neto (nett migration) adalah pertambahan penduduk yang
diperoleh dari selisih antara jumlah imigran dan jumlah emigran.
b. Factor mendorong terjadinya kependudukan
Beberapa faktor yang mendorong terjadinya kependudukan baik secara kuantitatif
maupun kualitatif, antara lain:
Kemajuan IPTEK.
Dorongan atau hasrat naluri manusia yang selalu memperoleh kondisi
yang lebih baik dari sebelumnya di dalam kehidupannya baik material
maupun intelektual.
Keterbatasan kemampuan dukungan alam dan SDA serta dukungan
lainnya yang diperlukan.

2. Ledakan Penduduk
Factor utama yang menentukan perkembangan penduduk adalah tingkat kematian,
tingkat kelahiran, dan tingkat perpindahan penduduk ( migrasi ). Di samping itu
jumlah penduduk yang besar secara absolute akan bertambah lebih cepat daripada
jumlah penduduk yang kecil, walaupun laju pertumbuhannya sama. Dari pengalaman
yang ada, laju pertumbuhan penduduk selalu meningkat bagi dunia secara
keseluruhan.

a. Tingkat kematian (death rate)

Ada empat factor yang menyumbang terhadap penurunan tingkat kematian pada
umunya:
Adanya kenaikan standar hidup sebagai akibat kemajuan teknolgi dan
meningkatnya produktivitas tenaga kerja sertatercapainya perdamian dunia
yang cukup lama.
Adanya perbaikan pemeliharaan kesehatan umum maupun kesehatan
individu.
Adanya kemajuan dalam ilimu kedokteran serta diperkenalkannya
lembaga-lembaga kesehatan umum yang modern.
Meningkatnya penghasilan riil perkapita sehingga orang mampu
membiayai hidupnya.

b. Tingkat kelahiran (birth rate)

Di Negara industri pertumbuhan penduduk berlangsung terus disamping


adanya penurunan tingkat kelahian,misalnya di Perancis, Amerika dan Inggris,
tingkat kelahirannya menurun sejak abad ke sembilanbelan. Hanya setelah perang
dunia ke-II tingkat kelahiran meningkat dan mempercepat tingkat pertambahan
penduduk. Tingkat kelahiran lebih dihubungkan dengan perkembangan
ekonomimelalui pola-pola kebudayaan seperti: umur perkawinan, status
wanitanya, kedudukannya antara ural dan urban serta sifat-sifat dari siistem famili
yang ada.
Professor E.E Hagen, menganggap bahwa tingkat kelahiran itu ditentukan
oleh tingginya tingkat kematian. Tingkat kelahiran disesuaikan dengan tingginya
tingkat kematian dengan maksud agar suatu keluarga memiliki jumlah anak yang
sedikit dan dapat hidup samoai hari tua, sehingga keturunannya erus dapat
berlangsung.
Disebagaian besar Negara di Eropa, telah terjadi penurunan kematian yang
lambat, kemudian tingkat kelahiran mulai mengikutinya dalam seperempat abad
terakhir dari abad 19.
Jadi, pada mulanya tingkat kematian menurun, sedangkan tingkat
kelahiran tetap, yang ini menghasilkan pembangunan ekonomi. Setelah itu,
tingkat kelahiran menurun dengan cepat dan mengejar cepatnya penurunan
tingkat kematian.
Guna memperjelas perbedaan pola pekembangan penduduk di Negara
maju dan Negara berkembang dapat dilihat dengan pola transisi demografi didua
kelompok tersebut. Ada tiga tahapan: Tahap I Menggambarkan keadaan dimana
laju pertumbuhan penduduk pada tingkat yang rendah, tetapi baik tingkat
kematian dan tingkat kelahiran tinggi. Tahap II Ditandai dengan menurunnya
tingkat kematian, tetapi tingkat kelahiran tetap tinggi. Tingakat kematian turun
karena adanya perbaikan taraf hidup dan perbaikan kesehatan dengan
berkembangnya ilu kedokteran. Tahap III Menunjukkan keadaan dimana tingkat
kematian masih terus turun dan dian dibarengi pula oleh turunnya tingkat
kelahiran, sehingga laju pertumbuhannya rendah.

Perkembangan penduduk di negara maju mengikuti pola yang diuraikan


gambar di atas namun bagi negara berkembang ada negara yang sudah sampai
tahap III, tetapi masih ada juga yang baru sampai pada tahap II pada tahun 1970-
an.

c. Migrasi

Migrasi mempunyai peranan juga dalam menentukan tingkat pertumbuhan


penduduk. Oleh karena itu tingkat pertumbuhan penduduk tidak dapat
diperhitungkan hanya dari tingkat kematian saja.
Bagi negara berkembang migrasi bukan berarti peningkatan atau
pengurangan jumlah penduduk. Perpindahan penduduk keluar negeri dari negara
yang sedang berkembang tidaklah mungkin dapat terlaksana lagi guna
mengurangi kepadatan penduduknya, dengan alasan kesulitan-kesulitan integrasi
sosial dan rendahnya skill dinnegara yang mengalami tekanan penduduk tersebut.
Dengan adanya tingkat penurunan yang cepat dan tetap tingginya
kelahiran serta kurang efektifnya migrasi, maka pertumbuhan penduduk akan
cepat dan mengakibatkan terjadinya ledakan penduduk di negara bekembang.

3. Tenaga Kerja
Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga
kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk
masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.
Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan
manusia, karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Oleh karenanya, setiap
upaya pembangunan selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan lapangan
usaha, dengan harapan penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari
pembangunan.
Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia
kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun 64 tahun.
Menurut pengertian ini, setiap orang yang mampu bekerja disebut sebagai tenaga
kerja. Ada banyak pendapat mengenai usia dari para tenaga kerja ini, ada yang
menyebutkan di atas 17 tahun ada pula yang menyebutkan di atas 20 tahun, bahkan
ada yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anak-anak jalanan sudah termasuk
tenaga kerja.
a. Klasifikasi Tenaga Kerja
Berdasarkan penduduknya
Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja
dan sanggup bekerja jika tidak ada permintaan kerja. Menurut Undang-Undang
Tenaga Kerja, mereka yang dikelompokkan sebagai tenaga kerja yaitu mereka
yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun.
Bukan Tenaga Kerja
Bukan tenaga kerja adalah mereka yang dianggap tidak mampu dan tidak mau
bekerja, meskipun ada permintaan bekerja. Menurut Undang-Undang Tenaga
Kerja No. 13 Tahun 2003, mereka adalah penduduk di luar usia, yaitu mereka
yang berusia di bawah 15 tahun dan berusia di atas 64 tahun. Contoh kelompok
ini adalah para pensiunan, para lansia (lanjut usia) dan anak-anak.

Berdasarkan batas kerja


Angkatan kerja
Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun
yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang
sedang aktif mencari pekerjaan.
Bukan angkatan kerja
Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun ke atas yang
kegiatannya hanya bersekolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Contoh
kelompok ini adalah:
anak sekolah dan mahasiswa
para ibu rumah tangga dan orang cacat, dan
para pengangguran sukarela

Berdasarkan kualitasnya
Tenaga kerja terdidik
Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian atau
kemahiran dalam bidang tertentu dengan cara sekolah atau pendidikan formal dan
nonformal. Contohnya: pengacara, dokter, guru, dan lain-lain.
Tenaga kerja terampil
Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerjayang memiliki keahlian dalam
bidang tertentudengan melalui pengalaman kerja. Tenaga kerja terampil ini
dibutuhkan latihan secara berulang-ulang sehingga mampu menguasai pekerjaan
tersebut. Contohnya: apoteker, ahli bedah, mekanik, dan lain-lain.
Tenaga kerja tidak terdidik
Tenaga kerja tidak terdidik adalah tenaga kerja kasar yang hanya
mengandalkan tenaga saja. Contoh: kuli, buruh angkut, pembantu rumah tangga,
dan sebagainya.

B. Faktor faktor yang mempengaruhi ledakan penduduk


Ledakan penduduk merupakan keadaan penduduk laju pertumbuhannya cepat
sebagai akibat dari tingkat kelahiran yang tinggi sedangkan tingkat kematian menurun
secara tajam. Ledakan penduduk dapat membawa akibat komplek,seperti tumbuhnya
ekonomi, standar hidup menurun, terjadi pengangguran, berbagai fasilitas hidup menurun
dan timbulnya krisis lingkungan
Menurut Thomas Robert Malthus pertambahan jumlah penduduk adalah seperti
deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, ...), sedangkan pertambahan jumlah produksi makanan adalah
bagaikan deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ...). Hal ini tentu saja akan sangat
mengkhawatirkan di masa depan di mana kita akan kerurangan stok bahan makanan.
Adapun yang menjadi faktor penyebab laju pertambahan penduduk Indonesia
dikarenakan, antara lain :
a. Tingkat kematian yang menurun.
b. Tingkat kelahiran yang tinggi.
c. Adanya kawin dalam usia muda.
d. Adanya keyakinan pada sebagian masyarakat Banyak Anak Banyak Rezeki.
e. Sikap religi, dimana anak merupakan anugerah Tuhan.
f. Faktor wanita masih sebagai tenaga di rumah.
g. Persebaran penduduk tidak merata.
h. Jumlah penduduk yang besar.
i. Program KB tidak terlasana dengan baik
j. Banyak penduduk desa yang bertransmigrasi, sehingga pusat kota menjadi lebih
padat.

Dengan melihat faktor-faktor penyebab terjadinya ledakan penduduk, maka kita


dapat menarik kesimpulan bahwa ledakan penduduk terjadi apabila tingkat kelahiran
yang tinggi sedang tingkat kematian menurun secara tajam, sehingga laju pertumbuhan
penduduk cepat. Masalah yang akan di timbulkan dengan pertumbuhan penduduk yang
sangat cepat seperti banyaknya pengangguran disebabkan oleh kurangnya lapangan
pekerjaan,banyak terjadinya tindakan kriminal, angka kemiskinan menjadi lebih tinggi.

C. Dampak ledakan penduduk terhadap ketenagakerjaan


Masalah akan timbul, apabila terdapat kesenjangan antara jumlah tenaga kerja
yang besar dengan minimnya ketersedian lapangan kerja yang ada. Dengan kata lain
lapangan kerja yang ada tidak mampu menampung (mempekerjakan) tenaga kerja yang
ada, lebih-lebih tenaga kerja yang tidak terampil atau berpendidikan. Masalah ini akan
menyebabkan semakin meningkatnya tingkat pengangguran sehingga jumlah penduduk
miskin juga semakin besar dan memiliki efek-efek negatif yang lain pula.
Semua yang kita paparkan di atas tadi merupakan cerminan dari sebagian
permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia yang coba kita jelaskan dipostingan kali ini.
Berikut beberapa masalah ketenagakerjaan di Indonesia.
1. Jumlah Angkatan Kerja yang Tidak Sebanding dengan Kesempatan Kerja
Meningkatnya jumlah angkatan kerja yang tidak diimbangi oleh perluasan lapangan
kerja akan membawa beban tersendiri bagi perekonomian. Angkatan kerja yang tidak
tertampung dalam lapangan kerja akan menyebabkan pengangguran. Padahal harapan
pemerintah, semakin banyaknya jumlah angkatan kerja bisa menjadi pendorong
pembangunan ekonomi.
2. Perlindungan Tenaga Kerja yang Kurang
Seorang tenaga kerja, ketika bekerja tentunya berhadapan dengan berbagai resiko yang
harus dihadapi dan diterimanya. Baik itu resiko kecelakaan kerja maupun resiko
pemutusan hubungan kerja (PHK). Negara Indonesia masih terkatagori sebagai negara
yang belum baik dalam memberikan perlindungan kepada para pekerja, baik pekerja yang
berkerja di dalam negeri maupun di dalam negeri. Biasanya, pemerintah baru akan
memberikan reaksi setelah resiko kerja yang dialami oleh para pekerja tersiar melalui
media massa.
3. Tenaga Kerja Asing
Benarkah Indonesia dibanjiri tenaga asing? Bukankah justru sebaliknya Indonesia banyak
mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negeri untuk menjadi TKI atau TKW? Globalisasi
telah memungkinkan apapun di dunia ini, termasuk masuknya tenaga kerja asing ke
Indonesia. Biasanya, masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia bersamaan dengan
masuknya perusahaan asing ke Indonesia. Jika Indonesia banyak mengirimkan tenaga
kerjanya ke luar negeri untuk menempati posisi sopir atau pembantu rumah tangga, maka
tenaga kerja asing yang datang ke Indonesia untuk menempati posisi jabatan tenaga ahli.
Ironis, bukan?. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, semoga kita dapat mengambil
hikmah. Setidaknya tumbuh motivasi di dalam hati kita untuk menjadi tenaga ahli di
negeri sendiri. Setuju?
4. Ketidaksesuaian Tenaga Kerja
Salah satu fungsi manajemen adalah ketepatan perusahaan untuk menempatkan pekerja
agar sesuai dengan pekerjaannya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh
F.W. Taylor the right man in the right atau seseorang seharusnya bekerja sesuai dengan
kemampuannya. Seorang tenaga kerja yang dapat bekerja sesuai dengan keahliannya,
maka ia akan dapat bekerja dengan efektif, efisien, dan merasa nyaman, sehingga ia dapat
memberikan kualitas dan kuantitas yang baik bagi perusahaan. Namun faktanya di
Indonesia, masih banyak sekali ditemukan orang-orang yang bekerja tidak sesuai dengan
keahliannya. Hal ini terjadi karena adanya permasalahan seperti kurangnya lapangan
kerja, sehingga seorang tenaga kerja mengorbankan pengetahuan dan keterampilannya
hanya dengan alasan untuk mengisi waktu daripada menganggur
5. Rendahnya Kualitas Tenaga Kerja
Kualitas tenaga kerja dalam suatu negara dapat ditentukan denganmelihat tingkat
pendidikan negara tersebut. Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia, tingkat
pendidikannya masih rendah. Hal ini menyebabkan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi menjadi rendah. Minimnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja, sehingga hal ini akan berpengaruh
terhadaprendahnya kualitas hasil produksi barang dan jasa.
6. Persebaran Tenaga Kerja Tidak Merata
Luasnya wilayah dan banyaknya kepulauan d Iindonesia serta terkonsentrasinya
penduduk di Pulau Jawa juga merupakan penyebab timbulnya permasalahan
ketenagakerjaan di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia ini mengakibatkan persebaran
penduduk tidak merata. Daerah-daerah luas di Indonesia kekurangan penduduk sementara
di Pulau Jawa kelebihan penduduk (padat). Banyaknya penduduk di Pulau Jawa ini dapat
menigkatkan investasi di pulau tersebut. Berbagai usaha didirikan namun tetap tidak
mampu untuk menekan jumlah pengangguran, malah sebaliknya semakin tinggi. Karena
pulau jawa terutama kota-kota besar sudah menjadi daya tarik bagi pencari kerja dari luar
Pulau Jawa. Padahal daerah di luar Pulau Jawa memiliki potensi alam yang melimpah
dan belum diolah secara optimal.
D. Upaya Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia

Seperti yang telah saya jelaskan pada Permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia


bahwa permasalahan-permasalahan tersebut memang sangat sulit untuk di hindari, mengingat
jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak hingga mencapai nomer 4 penduduk
terbanyak di dunia. Tetapi setidaknya kita dapat mengurangi permasalahan-permasalahan
tersebut. Dan berikut ini adalah berbagai kebijakan pemerintah yang dapat mengatasi
masalah ketenagakerjaan di Indonesia

1. Kebijakan Bidang Pendidikan

Kebijakan di bidang pendidikan merupakan salah satu kebijakan yang paling strategis
untuk meningkatkan produktivitas kerja dan mengatasi pengangguran. Kebijakan yang
dilaksanakan oleh pemerintah adalah dengan mengadakan pendidikan dan latihan. Melalui
pendidikan dan pelatihan diharapkan mampu melahirkan tenaga kerja-tenaga kerja terdidik
yang berkualitas baik dari segi penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
dibutuhkan oleh dunia kerja.

Salah satu tujuan yang paling penting dari kebijakan di bidang pendidikan dan pelatihan
adalah kemampuan angkatan kerja untuk meciptakan lapangan kerja sendiri dengan
berwiraswasta. Dengan berwiraswasta seorang angkatan kerja tidak hanya bisa menciptakan
lapangan kerja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Dengan demikian, angka
penganguran dapat berkurang.

Upaya lain yang telah dilakukan pemerintah di bidang pendidikan dan pelatihan adalah
sebagai berikut :

Mendirikan dan mengembangkan sekolah-sekolah kejuruan yang diharapkan


mampu melahirkan kualitas lulusan yang diharapkan oleh dunia kerja.
Menyelenggarakan pelatihan untuk para pencari kerja. Penulis pernah menulis
kasus Nirmala Bonet pada artikel tenaga kerja jasmani. Pelatihan-pelatihan yang
diberikan kepada para pencari kerja terutama para TKI atau TKW yang akan
bekerja di luar negeri, agar kasus yang menimpa Nirmala Bonet tidak terulang
kembali.
Menyelenggarakan pelatihan manajerial di daerah-daerah, terutama daerah-daerah
terpencil, agar memiliki kesejajaran dengan daerah-daerah lain dalam melakukan
pembangunan.
Meningkatkan prasarana pelatihan untuk para pencari kerja dan para pegawai
pengawas ketenagakerjaan.
2. Membuat Perundangan-undangan

Beberapa perundang-undangan telah digulirkan oleh pemerintah untuk


memperbaiki masalah ketenagakerjaan di Indonesia, di antaranya sebagai berikut.

a. Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan;


b. Undang-undang Nomor 21 tahun 1999 tentang diskriminasi dalam pekerjaan dan
jabatan; dan
c. Undang-undang Nomor 20 tahun 1999 tentang usia minimum untuk diperbolehkan
bekerja.
3. Kebijakan Perluasan Lapangan Kerja
Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk memperluas lapangan pekerjaan
terdiri dari dua cara, yaitu:
a. Kebijakan Langsung

Kebijakan langsung adalah kebijakan yang secara langsung dilakukan oleh


pemerintah dengan menciptakan lapangan kerja baru, diantaranya dengan melakukan
pengangkatan pegawai negeri.

b. Kebijakan Tidak Langsung

Kebijakan tidak langsung dilakukan oleh pemerintah dengan cara mendorong


pihak swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru. Pemerintah menetapkan kebijakan
fiskan dan moneter. Kebijakan fiskal merupakan kebijakan pemerintah untuk mengatur
anggararan baik itu APBN maupun APBN.
Adapun tujuan utama dengan diterapkannya kebijakan fiskal adalah mendorong
terciptanya lapangan kerja baru melalui berbagai proyek-proyek pembangunan
pemerintah yang mampu menyerap lapangan pekerjaan. Beberapa contoh proyek tersebut
antara lain pembangunan jalan raya, jembatan, bandara, pasar tradisional, dan lain-lain.
Sedangkan kebijakan moneter merupakan kebijakan yang mendasarkan pada
pengelolaan jumlah uang beredar. Salah satu kebijakan moneter yang diterapkan oleh
pemerintah adalah dengan memberikan kredit berbunga rendah. Dengan pemberian kredit
tersebut diharapkan dapat mendorong sektor swasta untuk memperluas lapangan kerja,
sehingga dapat mengurangi pengangguran.

4. Pemerataan Lapangan Kerja

Berbagai upaya yang lakukan oleh pemerintah untuk memperluas pemerataan


lapangan kerja, di antaranya sebagai berikut.

a. Mendirikan industri atau pabrik-pabrik baru yang dapat menyerap tenaga kerja lebih
banyak atau padat karya.
b. Mendorong bangkitnya usaha kecil dan menengah dengan memberikan kredit
berbungan rendah.
c. Membuka lapangan kerja di pedesaan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya arus
urbanisasi.
d. Meningkatkan investasi sektor swasta baik dari para pengusaha asing maupun
pengusaha dalam negeri.

5. Pelayanan Informasi Kerja

Salah satu masalah ketenagakerjaan di Indonesia adalah masalah kesenjangan


informasi. Salah satu akibat yang ditimbulkannya adalah menyebabkan terjadinya
pengangguran friksional. Pengangguran friksional adalah merupakan jenis pengangguran
yang terjadi karena adanya ketidaksinkronan informasi adanya kesempatan dengan pencari
kerja. Pengangguran friksional bukan terjadi akibat ketidakmampuan pencari kerja untuk
mengisi suatu posisi di perusahaan, melainkan karena adanya kesenjangan informasi tentang
berbagai informasi kesempatan kerja yang lebih baik. Kesenjangan tersebut terjadi
dikarenakan adanya beberapa faktor berikut.
a. Kondisi Geografis
Seorang pencari kerja yang tingga di daerah terpencil ataupun letak lapangan kerja di
daerah pelosok yang bergunung-gunung atau diseberang lautan, dapat menjadi salah satu
penyebab ketidaksamapaian informasi bagi salah satu pihak.
b. Informasi Tidak Sempurna
Kurangnya sarana komunikasi dapat menjadi penyebab terjadinya pengangguran
friksional. Informasi penyebaran tentang terbukanya lapangan kerja atau tersedianya
pencari kerja yang kurang lancar dapat menjadi hambatan bagi terjadinya permintaan dan
penawaran jasa kerja bagi kedua belah pihak. Untuk menghindari hal tersebut, maka
diperlukan adanya jasa tenaga kerja seperti di balai-balai latihan kerja yang terdapat di
setiap kabupaten, atau agen-agen penyalur tenaga kerja.
c. Proses Perekrutan Berlarut
Adanya kelambanan dari pihak penyedia lapangan kerja dalam hal perusahaan untuk
memutuskan diterima atau tidaknya seseorang di perusahaannya, menyebabkan seorang
calon tenaga kerja harus menunggu dalam waktu relatif lama. Hal tersebut tentu saja telah
menjadi sebab bagi seorang calon tenaga kerja terkategori sebagai pengangguran
friksional.
Untuk mencegah terjadinya hal-hal tersebut, maka pemerintah bekerja sama denga pihak
swasta seperti media massa dan agen-agen tenaga kerja untuk menyebarluaskan adanya
lowongan pekerjaan. Selain itu pemerintah juga berupaya menyebarkan luaskan
informasi lowongan pekerjaan, melalui balai latihan kerja yang terdapat di setiap
kabupaten atau kota.

6. Kebijakan Pengupahan

Kebijakan pengupahan perlu diambil oleh pemerintah untuk melindungi para pekerja
dari pemberian upah yang terlalu kecil oleh para pengusaha. Pendapatan yang kecil akan
memberi dampak yang buruk bagi perkerja, seperti buruknya kesehatan, rendahnya tingkat
pendidikan, bahkan menurunkan produktivitas kerja. Para pekerja dikhawatirkan tidak
memiliki sarana lagi untuk dapat mengembangkan diri, adanya ketidakmampuan untuk
memperoleh bahan makanan dengan kandungan gizi yang cukup dan seimbang, serta kondisi
keluarga yang tidak harmonis. Melihat dampaknya yang sangat negatif baik bagi tenaga kerja
itu sendiri maupun kepada perusahaan, maka pemerintah perlu melakukan kebijakan dan
pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan dalam memberikan upah kepada para tenaga
kerja.

Beberapa upaya lain yang dapat memperbaiki kesejahteraan para tenaga kerja adalah:

a. Menetapkan upah minimum regional (UMR);


b. Mewajibkan setiap pengusaha untuk mengikutsertakan pegawainya dalam
asuransi jaminan sosial;
c. Mewajibkan setiap perusahaan untuk memberikan pelayanan kesehatan dan
keselamatan kerja kepada para pegawainya.
d. Mewajibkan setiap perusahaan untuk memenuhi hak-hak ketenagakerjaan selain
gaji seperti hak untuk cuti, hak untuk istirahat, hak untuk menjalankan ibadah,
dan lain-lain.
7. Mengurangi tingkat pengangguran

Pengangguran merupakan masalah buruk bagi berkembangnya suatu negara. Oleh


karena itu negara dalam hal ini pemerintah berkewajiban untuk menanggulanginya. Menurut
John Maynard Keynes, pengaangguran tidak dapat dihapuskan, namun hanya dapat
dikurangi. Adapun beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka
pengangguran adalah dengan cara-cara sebagai berikut.

a. Mendorong dan menyokong majunya pendidikan. Pendidikan yang baik akan


menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas.
b. Mendorong peningkatan latihan kerja. Keterampilan kerja harus diperbaiki sebab
dengan demikian bisa memenuhi kebutuhan industri modern.
c. Pemerintah menggalakan juga semangat kewiraswastaan. Dengan demikian, lapangan
kerja akan semakin luas.
d. Mendorong dan memfasilitasi terbukanya usaha sektor informal, misalnya saja home
industry.
e. Memberi kesempatan dan peluang bagi mayarakat untuk bekerja di luar negeri.
f. Kembali mengintensifkan program keluaga bencana agar tidak terjadi ledakan
penduduk yang memperbesar jurang jumlah antara lapangan pekerjaan dan pencari
kerja.
g. Program transmigrasi kembali digalakkan.
h. Mengoptimalkan pembangunan berbasis sistem padat karya.
i. Memberi kemudahan mereka yang hendak meminta pinjaman sebagai modal kerja.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ledakan penduduk di indonesia memiliki dampak pada ketenagakerjaan yaitu seperti
jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja, perlindungan
tenaga kerja yang kurang, tenaga kerja asing, ketidaksesuaian tenaga kerja, rendahnya
kualitas tenaga kerja, persebaran tenaga kerja tidak merata dan cara mengatasinya melalui
kebijakan bidang pendidikan, membuat perundangan-undangan, kebijakan perluasan
lapangan kerja, pemerataan lapangan kerja, pelayanan informasi kerja, kebijakan
pengupahan, mengurangi tingkat pengangguran.

Daftar Pustaka

http://singgih-creative.blogspot.co.id/2012/01/pengaruh-pertumbuhan-penduduk-
bagi.html

https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/01/18/penduduk-dan-tenaga-kerja-
makalah-ekonomi-pembangunan/

http://pik-r-smadarembang.blogspot.co.id/2015/06/permasalahan-ketenagakerjaan-di.html
http://pik-r-smadarembang.blogspot.co.id/2015/06/upaya-mengatasi-masalah-
ketenagakerjaan.html