Anda di halaman 1dari 36

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 GENDER

2.1.1 Definisi Gender

Istilah gender dibedakan dari istilah Seks. Ann Oakley ahli sosiologi inggris, merupakan

orang yang mula-mula memberikan pembedaan dua istilah itu (Saptari & Halzner, 1997 : 89).

Istilah gender merujuk kepada perbedaan karakter laki-laki dan perempuan berdasarkan

konstruksi social budaya, yang berkaitan dengan sifat, status, posisi, dan perannya dalam

masyarakat. Istilah seks merujuk kepada perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara

biologis terutama yang terkait dengan prokreasi dan reproduksi. Laki-laki dicirikan dengan

sperma dan penis serta perempuan dicirikan dengan adanya sel telur, Rahim, vagina, dan

payudara. Ciri jenis kelamin secara biologis tersebut bersifat bawaan, permanen, dan tidak dapat

dipertukarkan.

Perbedaan gender yang juga disebut sebagai perbedaan jenis kelamin secara social

budaya terkait erat dengan perbedaan secara seksual, karena dia merupakan produk dari

pemaknaan nasyarakat pada social budaya tertentu tentang sifat, status, posisi, dan peran laki-

laki dan perempuan dengan ciri-ciri biologisnya. Laki-laki sebagai pemilik sperma dianggap

mempunyai sifat kuat dan tegas, menjadi pelindung bertugas menjadi pencari nafkah dan

menjadi pemilik dunia kerja (public), dan sebagai orang pertama.perempuan sebgai pemilik sel

telur dan Rahim dan kemampuan melahirkan dianggap bersifat lemah sekaligus lembut, perlu

dilindungi,mendapat pembagian tugas sebagai pengasuh anak dan tugas domestic lainnya dan
dianggap sebagai orang nomor dua (Fakih, 1996 : 7-8). Karena sifat dan peran gender merupakan

produk dari konstruksi social budaya maka bersifat tidak permanen dan dapat dipertukarkan.

Perbedaan gender tidak menjadi masalah ketika tidak menjadi persoalan sosial budaya,

yaitu adanya ketidaksetaraan gender yang kemudian menghasilkan berbagai bentuk

ketidakadilan dan penindasan terhadap warga masyarakat dengan jenis kelamin tertentu

(biasanya perempuan) (Heddy, makalah, 2001:6). Pada kenyataannya perbedaan gender telah

melahirkan berbagai ketidakadilan, bukan saja kepada perempuan tetapi juga kepada laki-laki.

Laki-laki yang mendapat peran sebagai pencari nafkah dan pelindung dituntut oleh budaya untuk

menjadi perkasa,mampu kerja keras, dan bersifat rasional sehingga kehilangan sisi-sisi

kelembutan dan sikap damai yang merupakan kebutuhan lain dalam kehidupan manusia. Jangan-

jangan ini merupakan faktor utama penyebab rendahnnya usia hidup laki-laki disbanding

perempuan (Andersen, 1988;41). Sebaliknya perempuan yang mendapat peran sebagai

penanggung jawab pekerjaan domestic dianggap bersifat lemah dan pasif, maka tidak kapabel

untuk berkiprah di dunia public.

Ketidakadilan gender yang biasanya menimpa pada perempuan bermula dari adanya

kesenjangan gender dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam hal akses terhadap

pendidikan dan sumber ekonomi. Hal ini dapat disebabkan karena adanya pelabelan negative

bahwa perempuan adalah lemah, yang juga bisa bermula dari adanya mitos-mitos yang

terbangun dalam suatu masyarakat. Misalnya mitos tentang sperma sebagai inti kehidupan.

Perempuan tidak mempunyai inti kehidupan, mampunya hanya menerima, maka perempuan

adalah manusia nomor dua dan lemah (Zaitunah, 1999 : 33).


Ketidakadilan gender yang banyak menimpa perempuan termanifestasikan dalam

beberapa bentuk yaitu stereotipi , subordinasi marjinalisasi, beban ganda, dan kekerasan (Faqih,

1996). Manifestasi ketidakadilan tersebut masing-masing tidak bisa dipisahkan , saling terkait

dan berpengaruh secara dialektis .Steriotipi atau pelabelan negatif adaalah pemberian label

sehingga perempuan mendapat citra negative kerenanya,misalnya perempuan adalah lemah,

emosional, bertugas sebagai ibu rumah tangga. label-lebel tersebut menjadikan perempuan

memperoleh sikap tidak adil yang lainya. Subordinasi perempuan memperoleh sikap tidak adil

yang lainnya. Subordinasi perempuan adalah diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang

kekuasaan dan pengambilan keputusan. Karena perempuan mendapat label manusia nomor dua

maka dia berada di bawah dominasi laki-laki, dan haknya untuk memperoleh posisi tawar,

kepemimpinan, serta keputusan sering tidak diakui. Marjinalisasi perempuan muncul dari sikap

tidak menganggap penting atas eksistensi perempuan sehingga aksesnya terhadap pendidikan dan

sumber ekonomi misalnya, dinomorduakan , marjinalisasi menyebabkan terjadinya pemiskinan

pada perempuan. Beban ganda terjadi ketika pekerjaan domestic dianggap tugas perempuan,

maka ketika dia bekerja di sektor pubik sesampai dirumah dianggap berkewajiban

menyelesaikan tugas domestiknya, sementara laki-laki (suami) tidak terkena kewajiban itu.

Kekerasan terhadap perempuan termasuk didalamnya adalah pelecehan seksual, pemerkosaan,

termasuk pemerkosaan dalam perkawinan, pemberian intimidasi serta anegatif kepada pekerja

seks tetapi memberi sikap netral pada konsumenya yang notabene laki-laki.

Ketidakadilan gender dengan berbagai kategorinya tersebut banyak terjadi di masyarakat

dan merupakan keadaan yang socially, culturally, dan historyically contructed dalam kurun yang

telah lama sehingga seakan-akan menjadi sesuatu yang dianggap natural. Bahkan terjadi proses

pelanggengan terhadap keadaan tidak adil gender tersebut melalui proses sosialisasi nilai-nilai
dalam masyarakat, pendidikan, tafsir agama, dan peraturan pemerintah. Walau demikian keadaan

tersebut dapat dan perlu diubah dengan usaha yang sistematis. Untuk itu gender yang dapat

dipahami sebagai konsep tentang peran dan relasi antara laki-laki dan perempuan produk dari

sebuah konstruksi sosial budaya dapat dikembangkan menjadi alat analisis dan prespektif dalam

melihat, mengungkap, dan mengurai adanya fenomena gender dalam masyarakat beserta

persoalan-persoalan yang muncul karenanya (Fakih, dalam MacDonald, et al, 1999 : XXXI)

Mengacu pada pendapat Heddy(makalah,2001:7) penggunaan konsep gender sebagai alat

analisis dan prespektif dalam memandang persoalan sosial budaya berarti menjadikan konsep

gender sebagai sebuah paradigm atau kerangka teori, lengkap dengan asumsi dasar,model, serta

konsep-konsepnya. Dalam hal ini penelaah atau peneliti menggunakan ideology gender untuk

mengungkapkan adanya pemilahan atas dasar jenis kelamin terhadap status, posisi, peran, dan

relasi laki-laki dan perempuan serta implikasi sosial budayanya, termasuk ketidakadilan yang

ditimbulkannya. Pemilahan gender yang menyangkut bipolaritasnya perlu menjadi dasar untuk

melihat ketidakadilan gender tersebut, dan hasil penelitian digunakan sebagai dasar untuk

membangun relasi gender yang adil dan setara.

2.2.2 Bipolaritas dan Pemilahan Gender

Gender, sebagaimana teori yang dikemukakan sebelumnya, melahirkan atau

memunculkan bipolaritas sifat, peran dan posisi antara laki-laki dan perempuan. Bipolaritas ini

adalah sifat maskulin dan feminism, peran domestic dan publik, dan posisi tersubordinasi dan

mensubordinasi. Bipolaritas tersebut sebenarnya netral, namun dalam kenyataannya karena

pengaruh konstruksi sosial dan budaya patriarkhi yang berlangsung lama secara umum telah

menjadikan satu sisi dari biplaritas tersebut dimiliki oleh perempuan dan satu sisi yang lainnya
dimiliki laki-laki. Bipolaritas tersebut meliputi sifat feminism untuk perempuan dan maskulin

untuk laki-laki, serta posisi tersubordinasi yang dialami perempuan danmendominasi bagi laki-

laki. Sifat, peran, dan posisi tersebut saling terkait antara satu dengan yang lainnya, sehingga

sulit untuk dipisahkan secara tegas. Adanya pemisahan secara umum antara laki-laki dan

perempuan pada bipolaritas sifat, peran, dan posisi tersebut merupakan konstruksi sosialdan

budaya masyarakat, dan bukan hal yang kodrati. Perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan

perempuan dalam biplaritas gender tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Sifat Maskulin dan Feminim

Organ biologis antara laki-laki dan perempuan berbeda. Perempuan dikodratkan memiliki

organ tubuh untuk keperluan reproduksi, mulai dari vagina, indung telur, menstruasi dan air

susu. Sedangkan laki-laki tidak dilengkapi organ tubuh untuk keperluan reproduksi tersebut.

Dengan organ tubuh yang dimilikinya itu, perempuan bisa melahirkan anak. Untuk merawat

anak yang dilahirkan diperlukan sifat-sifat halus, penyabar, penyayang, pemelihara dari seorang

perempuan. Sedang laki-laki dengan organ tubuh yang dimiliki dipandang lebih leluasa dalam

bergerak, karena laki-laki tidak diganggu oleh siklus menstruasi, repot dan sakitnya persiapan

dan berlangsungnya kelahiran, serta sibuknya merawat anak. Oleh karena itu, laki-laki dipandang

meiliki tubuh yang lebih kuat dan perkasa dibandingkan dengan perempuan.

Organ tubuh dengan masing-masing konsekuensinya tersebut mengkontruksikan keharusan

sifat yang perlu dimiliki oleh masing-masing. Perempuan dengan organ yang dimiliki

dikonstruksi oleh budaya untuk memiliki sifat halus, penyabar, penyayamg, keibuan, lemah

lembut dan yang sejenisnya. Sifat inilah yang kemudian dikenal dengan istilah feminism.

Sementara itu laki-laki sebaliknya, ia dengan perangkat fisiknya diberi atribut sifat maskulin.
Fisik laki-laki yang tidak direpotkan dengan siklus reproduksi tersebut dikonstruksi oleh budaya

sebagai fisik yang kuat, kekar, jantan, perkasa dan bahkan kasar. Sifat-sifat itulah yang disebut

dengan maskulin. Berdasarkan organ fisik masing-masing jenis kelamin kemudian dikonstruksi

biplaritas sifat yang diletakkan pada perempuan dan laki-laki, yaitu feminism dan maskulin.

Padahal baik sifat feminism maupun maskulin sebenarnya bisa dimiliki oleh laki-laki atau

perempuan, ada perempuan yang maskulin da nada laki-laki yang feminism

2. Peran Domestik dan Publik

Konstruksi budaya bahwa sifat feminism dimiliki perempuan dan sifat maskulin dimiliki

laki-laki sebagaimana penjelasan sebelumnya membawa dampak pada bipolaritas peran yang

harus dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Perempuan dengan sifat-sifat feminimnya

dipandang selayaknya untuk berperan di sektor domestic, sebaliknya laki-laki yang maskulin

sudah sepatutnya dan bahkan menjadi kewajiban budaya untuk berperan di sektor publik.

Pekerjaan-pekerjan domestic yang membutuhkan kehalusan, kesabaran, kearifan dan seterusnya

(seperti membersihkan rumah, mencuci, memasak, menyetrika, mengasuh anak) dianggap sudah

selaras dengan sifat-sifat perempuan yang feminism. Sebaliknya pekerjan publik seperti mencari

nafkah di luar rumah dan perlindungan keluarga diknstruksi oleh budaya menjadi tugas laki-laki.

Tugas tersebut dipandang keras dan memerlukan kekuatan fisik yang memadai dan dapat

dipenuhi leh kondisi fisik sekaligus sifat laki-laki yang maskulin.

Pemilihan peran domestik dan public yang merupakan kelanjutan dari sifat feminim dan

maskulin tersebut disosialisasikan sejak dini di lingkungan keluarga bahkan sejak anak dalam

kandungan. Jika diketahui bahwa bayi yang dikandunng laki-laki maka akan disiapkan segala

perlengkapan bayi yang berwarna biru muda, sebaliknya jika perempuan akan dibelikan
perlengkapan bayi berwarna merah muda (Mosse, 1996). Warna-warna itu dipandanng

merepresentasikan sifat feminism dan maskulin. Setelah anak beranjak besar dan mulai bisa

bermain, akan dibelikan permainan yang dianggap sesuai dengan jenis kelamin dan sifat-sifat

yang diharapkan muncul dari anak-anaknya. Untuk anak perempuan agar sifat feminism dan

kerja domestiknya tersosialisasi, maka diberilah permainan seperti boneka, peralatan masak

memasak, dan sejenisnya (Sadli dan Patmonodewo, 1995: 70). Sedang untuk anak laki-laki akan

dibelikan mainan mbil-mobilan, senapan, dan sejenisnya yang diharapkan dapat mengasah sifat

maskulinya sehingga tersosialisasi pola kerja public yang kelak harus diperankannya.

Setelah masuk sekolah, sosialisasi sifat maskulin dan feminism serta kerja public dan

domestic terus berlanjut. Penataan baris-berbaris dan tempat duduk di kelas umumnya

menempatkan laki-laki di belakang dan perempuan di depan, penataan ini merepretasikan laki-

laki yang maskulin sebagai pelindung perempuan yang lemah. Pada pelajaran olah raga akan

membebaskan siswa laki-laki untuk bermain sepak bola, sedang perempuan dilarang, sebagai

gantinya disarankan untuk bermain lompat tali sifat feminism. Dalam buku pelajaran

ditanamkann bahwa yang pergi ke pasar, masak di dapur, mencuci piring dan mengasuh anak

adalah ibu, seorang bapak dilukiskan pergi ke kantor, ke lading,membetulkan atap rumah

(Logsdon, 1985), dan lain sebagainya.

3. Posisi Mendominasi dan Tersubordinasi

Konstruksi pemilahan kerja domestic dan public selanjutnya mengakibatkan terjadinya

dominasi dan subordinasi. Karena sifatnya yang feminism, perempuan membutuhkan

perlindungan dari laki-laki terhadap perempuan, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun di

dunia public.
Dalam kehidupan rumah tangga , laki-laki (suami) dengan sifatnya yang maskulin,

ditempatkan oleh budaya pada posisi sebagai kepala rumah tangga, sedang perempuan (istri)

sebagai orang keduaanya. Istri digambarkan sebagai pendamping suami, bahkan pendamping

yang pasif. Hal ini tercermin dalam ungkapan budaya Jawa: Suwarga nunut nereka katut (surga

ikut dan neraka turut), juga ungkapan yang menggambarkan predikat istri/perempuan sebagai

obyek penderita: Nek awam dadi teklek, nek bengi dadi lemek (siang menjadi sandal malam

menjadi alas). Ungkapan-ungkapan tersebut dengan jelas menggambarkan posisi masing-masing,

suami/laki-laki sebagai penguasa kehidupan istri/perempuan dalam rumah tangga. suami

mendominasi dan istri tersubordinasi.

Tjitrosubono (1998) mengutip Serat Centini mengambarkan hubungan antara suami isteri

yang dilambangkan seperti lima jari tangan. Sebagai istri dilukiskan ibarat jempol (ibu jari)

mereka haris pol, sepenuhnya mengabdi pada suami. Ibarat telunjuk, istri wajib menuruti segala

perintah suami. Pemberian suami berapapun sedikitnya, harus dihargai. Ibarat jari manis, istri

harus bermanis muka kepada suaminya, apapun perasaan hatinya. Ibarat jentik, istri harus hati-

hati dan teliti serta rajin dan terampil melayani suami.

Dalam kehidupan public kondisi perempuan tidak jauh berbeda. Setiap keputusan penting

meski perempuan terlibat di dalamnya, akan senantiasa menjadi hak laki-laki. Karier perempuan

tergantung pada laki-laki (Fakih, 1998b), izin dari suami diperlukan untuk menduduki jabatan

atau mengemban tugas tertentu. Sebaliknya hampir tidak ditemukan ketentuan yang dikenakan

pada suami untuk minta izin dan istrinya ketika akan dipromosikan pada kedudukan atau tugas

tertentu.
Pembedaan antara laki-laki dan perempuan pada masing-masing bipolaritas gender tersebut

merupakan fenomena yang ada dalam masyarakat sebagai hasil dari konstruksi sosial dan

budaya patriarkhis yang terbentuk dalam waktu yang panjang. Karena fenomena pembedaan

sifat, peran, dan posisi antara laki-laki dan perempuan tersebut sudah menjadi gejala umum maka

dalam melihat dan menganalisis fenomena tersebut perlu dibedakan dan dipilah antara

kesenjangan gender (gender gap), bias gender (gender bias), dan ketidakadilan gender (gender

inequality). Kesenjangan gender merupakan realitas yang terjadi mengenai adanya perbedaan

sifat, peran, dan posisi antara laki-laki dan perempuan. Realita ini belum tentu menggambarkan

bahwa komunitas atau masyarakat di sekitarnya memiliki pandangan yang bias gender ataupun

mempraktekan ketidakadilan gender, bisa jadi realitas kesenjangan gender tersebut tidak disadari

oleh masyarakat di sekitarnya karena merupakan hasil dari proses konstruksi sosial dan budaya

yang panjang. Berbeda dengan kesenjangan gender, bias gender merupakan pemikiran, penilaian,

dan pandangan yang dimilliki oleh individu atau kelompok masyarakat tentang adanya

perbedaan sifat, peran, dana posisi sosial antara laki-laki dan perempuan. Pandangan ini tidak

akan menimbulkan ketidakadilan gender (gender inequality) adalah sikap, perilaku, atau

kebijakan yang diskriminatif sehingga menghalangi akses (access) dan kesempatan (opportunity)

untuk memiliki sifat, peran, dan posisi tertentu, yang umumnya terjadi pada perempuan.

2.2.3 Keadilan Gender

Sesungguhnya, perbedaan gender dengan pemilahan sifat, peran dan posisi sebagaimana

diuraikan sebelumnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan.

Namun pada kenyataanya perbedan gender ini telah melahirkan berbagai ketidakadilan, bukan

saja bagi kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki. Ketidakadilan gender adalah suatu sistem

dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem tersebut
(Faqih,1998a; 1997). Ketidakadilan gender termanifestasi dalam berbagai bentuk ketidakadilan,

terutama pada perempuan, yaitu stereotipi atau pelabelan negative, subordinasi dan

marginalisasi perempuan (Bhasin, 1996; Mosse, 1996), kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo

dan Marzuku, 1997), ataupun beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi, 1990). Manifestasi

ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan, saling terkait dan

berpengaruh secara dialektis.

Adanya studi gender pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan

ketidakadilan gender tersebut. Dengan kata lain studi gender hendak mewujudkan keadilan

sosial, dan keadilan sosial tidak dapat diwujudkan tanpa adanya keadilan gender dalam

masyarakat. Keadilan keadilan gender biasanya merujuk pada aplikasi keadilansosial dalam hal

pemberian kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Keadilan disini tidak berarti

bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama dalam segala hal, namun yang dimaksud adalah

bahwa pemberian suatu kesempatan atau akses tidak tergantung pada perbedaan jenis kelamin.

Keadilan gender, dengan demikian, dapat diartikan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki dan

menikmati status yang sama; laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk

merealisasikan hak-hak dan potensinya untuk memberikan kontribusi pada perkembangan

politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta sama-sama dapat menikmati hasil dari perkembangan

itu. (Gender Equity for All:16).

Diantara gambaran dan indikasi adanya upaya untuk mewujudkan keadilan gender adalah

1) menerima dan memandang secara wajar perbedaan yang ada pada laki-laki dan perempuan,

karena adanya penghormatan pada perbedaan termasuk wujud dari keadilan gender, 2)

mendiskusikan bagaimana cara merombak struktur masyarakat yang membedakan peran dan

relasi antara laki-laki dan perempuan, serta berupaya menyeimbangkannya, 3) meneliti


kemampuan dan bakat masing-masing warga Negara, baik laki-laki maupun perempuan, untuk

terlibat dalam membangun masyarakat, memecahkan problem-problem-nya dan mempersiapkan

masa depannya, 4) memperjuangkan secara terus menerus hak asasi manusia, dimana gender

merupakan salah satu bagiannya yang tak terpisahkan, 5) mengupayakan perkembangan dan

penegakan demokrasi dan pemerintahan yang baik dalam semua institusi masyarakat, dengan

melibatkan perempuan dalam semua level-levelnya, dan 6) pendidikan merupakan kunci bagi

ketidakadilan gender,karena pendidikan merupakan tempat masyarakat mentransfer norma-

norma, pengetahuan dan kemampuan mereka. (Gender Equity For All: 17).

2.2 HAM dan Hukum

2.2.1 Definisi HAM dan Hukum

HAM atau hak asasi manusia (Human Rights) adalah hak fundamental yang tak dapat

dicabut yang mana karena ia adalah seorang manusia. Jack Donnely, mendefinisikan hak asasi

sebagai hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia

memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum

positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia dan hak itu

merupakan pemberian dari tuhan yang maha esa. Sementara menurut John Locke, Hak Asasi

Manusia adalah hak yang dibawa sejak lahir yang secara kodrati melekat pada setiap manusia

dan tidak dapat diganggu dan digugat. John Locke menjelaskan bahwa HAM merupakan kodrat

pada diri manusia yang merupakan anugerah atau pemberian langsung dari tuhan YME. Secara

Filosofis, pandangan menurut Hak Asasi Manusia adalah, Jika wacana public masyarakat global

di masa damai dapat dikatakan memiliki bahasa moral yang umum, itu adalah Hak Asasi

Manusia. Meskipun demikian, klaim yang kuat dibuat oleh doktrin hak asasi manusia agar terus
memunculkan sikap skeptic dan perdebatan tentang sifat, isi dan pembenaran hak asasi manusia

sampai di jaman sekarang ini. Memang, pentanyaan tentang apa yang dimaksud dengan hak itu

sendiri kontroversional dan menjadi perdebatan Filosofis terus (Shaw, 2008). Hak asasi manusia

dibagi menjadi 6 yaitu :

1. Hak asasi pribadi/Personal Right

Hak kebebasan untuk bergerak, berpergian dan berpindah-pindah tempat.

Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat.

Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan.

Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan

yang diyakini masing-masing.

2. Hak asasi politik/Political Rigth

Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan

Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintah.

Hak membuat dan mendirikan parpol/ partai politik dan organisasi politik lainnya.

Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usukan petisi.

3. Hak asasi hukum/ Legal Equality Rigth

Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.

Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil/PNS

Hak mendapatkan layanan dan perlindungan Hukum

4. Hak asasi Ekonomi/ Property Rigth

Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli.

Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak.

Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll


Hak kebebasan untuk memiliki sesuatu.

Hak untuk memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak.

5. Hak asasi peradilan / Procedural Rigths

Hak persamaan atas perlakuan pengeledahan, penangkapan, penahanan dan

penyelidikan di mata hukum.

Hak mendapatkan pembelaan hukum di pengadilan.

6. Hak asasi sosial budaya/Social Culture Right

Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pedidikan.

Hak mendapatkan pengajaran

Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat.

Dimanapun manusia berada, tentunya harus ada sebuah aturan atau hukum yang

membatasi tingkah lakunya. Untuk itu hukum merupakan suatu sistem yang dibuat oleh manusia

sendiri yang berguna dalam membatasi timgkah laku manusia, sehingga tingkah laku mereka

dapat terkontrol. Setiap Negara tentunya harus menetapkan hukum, yang menjadi dasar adanya

jaminan kepastian hukum atas perilaku mayarakatnya. Dengan adanya hukum di setiap Negara,

tentunya masyarakat mendapatkan jaminan dan mendapat perlindungan hukum. Dengan kata lain

hukum bisa juga diartikan sebagai peraturan-peraturan yang tertulis ataupun tidak tertulis yang

mengatur kehidupan masyarakat dan memiliki sanksi bagi yang melanggarnya, dimana sanksi

dari hukum ini bersifat memaksa dan mengikat. Jadi tidak mungkin masyarakat akan bisa

terlepas dari hukum. Selain hukum yang dibuat oleh Negara melalui DPR, di setiap lapisan

masyarakat terdapat hukum yang tidak tertulis namun telah disepakati oleh banyak orang.

Hukum yang bersifat seperti itu merupakan hukum adat atau kebiasaan di suatu tempat.
2.2.2 Pandangan HAM terhadap Gender

Konsep hak asasi manusia, atau hak-hak dasar perempuan,paling tidak mempunyai dua

makna tersembunyi di dalamnya. Makna pertama,hak asasi perempuan sekedar pengertian yang

dibangun sepenuhnya atas dasar akal sehat belaka.dalam pengertian ini, hak asasi perempuan

dipahami sebagai sekedar akibat logis dari pengakuan bahwa kaum perempuan juga manusia.

Jika perempuan dianggap sebagai juga manusia, maka sudah semestinya mereka juga

mempunyai hak asasi sebagai manusia.adalah sangat wajar kaum peremuan juga mempunyai hak

asasi. Tetapi kenyataandan pengalaman empiris selama ini menunjukkan adanya pengakuan

bahwa kaum perempuan adalah juga manusia, tidak serta merta berdampak positif terhadap

perlindungan hak-hak dasar mereka sebagai manusia. Makna kedua, dari konsep di atas,

dimunculkan konsep dan pengertian hak asasi perempuan yang kedua dalam makna kedua ini,

hak asasi perempuan dipahami dengan konotasi sebagai konsep yang lebih revolusioner, yang di

dalam konsep tersebut terkandung visi dan maksud transformasi relasi social melalui perubahan

relasi kekuasaan yang berbasis gender.pengintegrasian hak asasi perempuan dalam standar Hak

Asasi Manusia (HAM), berimplikasi pada adanya pengakuan akan suatu kesalahan manusia

berbagia bangsa selama ini,untuk memberikan penghormatan dan penghargaan yang seharusnya

didapatkan oleh kaum perempuan sebagai manusiaa.

Konsep Hak asasi perempuan dalam makna yang kedua tersebut, akan memberi bekal

bagi kaum perempuan untuk melakukan analisis dan mengartikulasikan pengalaman mereka

dalam menghadapi berbagai bencana dan bahaya kemanusiaan, seperti bencana akibat berbagai

kekerasan di tempat yang selama ini tertutup dari sorotan dan wacana public, yakni kejahatan

kemanusiaan di dalam rumah tangga dalam wilayah domestic dan reproduksi manusia.

Wancana pembagian secara dikotomis antara ruang public dan ruang private (domestik),
memberikan sumbangan besar bagi munculnya sumber kesulitan mendasar mengapa kaum

perempuan tidak terjangkau oleh standar HAM. Selama ini salah satu asumsi yang mendasari

standar HAM adalah bahwa HAM semata urusan Negara atau Pemerintah, dan oleh karenanya

perlu dibatasi Yuridikasinya hanya pada arena public saja. Asumsi inilah yang selama ini

menghambat sehingga tindak kejahatan di dalam rumah tangga oleh anggota keluargannya

sendiri dimungkinkan untuk dijangkau oleh instrumen HAM yang ada. Dikthomi urusan publik

dan private tanpa disadari turut serta menyelenggarakan pelanggaran Hak asasi perempuan.

Keyakinan masyarakat terhadap peran gender kaum perempuan ternyata juga menjadi

penyebab tersendiri bagi terjadinya diskriminasi dan kekerasan. Meskipun tidak semua peran

genjer perempuan selalu berakibat diskriminasi, namun banyak peran gender yang secara

langsung mengakibatkan subordinasi dan peminggiran atau marjinalisasi kaum perempuan .

bahkan peran gender tertentu mendegrasi posisi perempuan dan merendahkan kemanusiaan

kaum perempuan. Munculnya gagasan hak asasi perempuan telah memberi piranti maupun

perisaai penting yang menyediakan kerangka analisis umum guna mengembangkan visi dan

strategi untuk proyek transformasi posisi kaum perempuan secara radikal di masyarakat.

Konsep HAM terus berkembang, sebagai hasil dari responnya terhadapfenomena ketidakadilan

yang terus muncul dalam berbagai bentuk. Hak Asasi Manusia memang terus dituntut untuk

memperbaharui dirinya sekaligus untuk dapat menghasilkan kembali suatu kesadaran baru

tentang deprivasi atau ketidakadilan yang tengah berlangsung di sekelilingnya.

Dalam sebuah kehidupan berumah tangga, suami isteri secara sah terikat di dalam sebuah

ikatan hukum, yaitu perkawinan. Perkawinan merupakan momentum di mana suami isteri terikat

hak sekaligus terikat kewajiban. Dalam al-Quran disebutkan bahwa : perempuan (ibarat)
pakaian bagi kamu, dan kamu (ibarat) pakaian bagi mereka. Ayat tersebut secara explisit

maupun implisit dapat dikatakan bahwa hak asasi daalm rumah tangga merupakan merupakan

suatu keharusan yang mengikat secara mendalam antara suami dan isteri, baik hakikat maupun

implikasinya. Oleh karena itu, masing-masing suami mempunyai hak, namun juga kewajiban

yang harus dijaga baik-baik, tidak bleh diabaikan. Hak dan kewajiban berlaku sama, kecuali

yang memasang secara fitrah dikhususkan baik bagi laki-laki maupun perempuann sendiri.

Dalam konteks ini misalnya disebutkan bahwa sebagian laki-laki (bukan semua laki-laki)

mempunyai kelebihan di atas perempuan kelebihan yang dimaksud dalam ayat ini, menurut

Yusuf Qardawi adalah kelebihan laki-laki dalam hal mengurus dan betanggung jawab.

Tidak hanya di dalam Al-Quran, hak dan kewajiban suami isteri juga bisa dilihat dalam

beberapa hadits berikut ini :

Ya Rasulullah apakah hak seorang isteri terhadap suami ? maka beliau menjawab: engkau beri

makan dia apaila engkau makan, dan engkau beri pakaian dia apabila engkau berpakaian, dan

jangan engkau menampar mukanya, dan jangan engkau jelek-jelekkan, dan jangan engkau

berpisah dengan dia melainkan dalam rumah tangga. Berdasarkan hadits di atas, maka

seoranng (laki-laki) muslim tidak dibenarkan mengabaikan masalah nafkah dan pakaian isteri,

sebagaimana juga dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad: cukup berdosa seseorang yang

meneledorkan orang yang menjadi tanggungannya.

Dalam aturan islam, juga tidak dibenarkan seoranng (laki-laki) muslim melakukan

kekerasan kepada isterinya, seperti menampar, menendang, dan memukul,karena tindakan

tersebut dianggap sebagai penghinaa. Bukankah Allah menciptakan makhluk-Nya dilimpahi

dengan rasa rahman dan Rahim yang demikian luar biasa? Meskipun isterinya seorang yang
durhaka, seorang suami tidak dibenarkan memukul isterinya tersebut, yang dapat menyusahkan

atau menampar muka dan tempat-tempat yang menyebabkan kematian. Disamping itu, juga tidak

diperkenankan seorang (laki-laki) muslim menjelek-jelekkan isterinya, baik dengan mengantai-

ngantai issterinya dengan ucapan-ucapan yang tidak layak didengar, misalnya kata-kata:

qabbahakillah (kamu orang jahat) dan sebagainya.

Adapun diantara kewajiban isteri terhadap suaminya adalah menjaga kehormatan

suaminya.hal ini didasrkan kepada sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini :

Tidak halal bagi seorang isteri yang beriman kepada Allah, memberi izin (kepada laki-laki lain)

untuk masuk ke dalam rumah suaminya sedang ia tidak suka; dan tidak halal dia keluar rumah

sedangkan suaminya tidak suka; dan tidak halal dia taat kepada orang lain; dan tiadak halal dia

meninggalkan ranjang suami; dan tidak halal dia memukul suaminya. Kalau suami berlaku

zalim, maka datangilah sehingga menjadi senang; dan jika dia dapat menerimanya maka dia

adalah perempuan yang baik dan semoga Allah menerima uzurnya dan menampakkan alasnya;

tetapi jika suami tidak rela, maka uzurnya itu telah ia sampaikan kepada Allah.

Hak-hak serta sejumlah kewajiban suami dan isteri, yang telah diatur di dalam islam.

Dengan mendasarkan pada Al-quran dan hadits tersebut, maka jelas kiranya bahwa jauh

sebelum ada isu tentang hak asasi manusia, islam melalui wahyunya telah menjelaskan

bagaimana kedudukan HAM dalam islam, khususnya hak dan kewajiban antara suami dengan

isteri, maupun antara isteri dengan suami serta keluarga. Sehingga dengan demikian, kekerasan

dalam ruamh tangga tidak bisa dibenarkan baik dalam ajaran Islam maupun dalam konsep HAM

di dunia.
Konsep HAM yang diatur dan disepakati di dunia internasional di antaranya adalah

risalah pasal-pasal tentang convention on the Eliminatin of all from of discrimination against

women (CEDAW) mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita, yang

terdiri dari 6 bagian dan 30 pasal, yaitu :

Bagian pertama, mengenai pengutukan terhadap segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan

dan upaya penegakan terhadap perempuan dan upaya menegakkan hak asasi persamaa hak dan

kewajiban antara pria dalam Undang-undang dasar Nasional.

Bagian kedua, mengenai kewajiban Negara-negara peserta membuat peraturan penghapusan

diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang politik, dan kehidupan kemasyarakatan

negaranya.

Bagian ketiga, mengenai kewajiban Negara-negara peserta membuat peraturan penghapusan

diskriminasi terhadap perempuan daalam bidang pendidikan, pekerjaan,kesehatan dan kehidupan

social ekonom.

Bagian keempat, mengenai kewajiban Negara-negara peserta memberikan persamaan hak wanita

dimuka hukum,menghapus diskriminasi yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan

kekeluargaan.

Bagian kelima, mengenai pembentukan panitia Internasional untuk menilai kemajuan

implementasi konvensi (CEDAW), dengan pangkal pertimbangan ditribusi geografis yang tepat

dan unsur-unsur dari berbagai bentuk peradaban manusia sistem hukum utama, panita dipilih

untuk masa jabatan 4 tahun.


Bagian keenam, konvensi tersebut tidak akan mempengaruhi antara pria dan wanita yang

mungkin terdapat dengan perundang-undang disuatu Negara. Disamping konvensi ini tidak

bersifat kaku setiap Negara berhak untuk mengajukan keberatan-keberatannya.

Indonesia telah meratifikasi CEDAW, yaitu deklarasi PBB mengenai penghapusan yang

memuat hak dan kewajiban berdasarkan atas persamaan hak dengan pria Indonesia. Buktinya

kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia, khususnya yang terjadi di

ranah dosmetik meningkat setiap tahunnya. Sudah seharusnya ada upaya untuk menghapus

segala tindak kekerasan terhadap perempuan. Meskipun bukan hal yang mudah dilakukan,

namun minimal tindakan yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan peran masyarakat

termasuk keluarga dan jaminan perlindungan dari Negara. Karena itu dalam prespektif HAM

dimana keluarga adalah kesatuan yang sewajarnya serta merupakan inti dari masyarakat,

mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan dari masyarakat dan Negara. Dalam konteks

ini, dapat disebutkan dasarnya bahwa dalam pasal 16 (3) DUHAM, dinyatakan bahwa keluarga

adalah kesatuan yang sewajarnya serta bersifat pkok dari masyarakat dan berhak mendapat

perlindungan dari masyarakat.

Penegasan serupa juga dicamtumkan pada deklarasi Kairo ang menyebutkan bahwa

perlindungan atas hak perempuan diatur dalam pasal-pasal berikut :

Pasal 5 ;

a. Keluarga merupakan pondasi masyarakat dan perkawinan merupakan dasar bagi

pembentuknnya. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak atas perkawinan, dan tidak

ada pembatasan dari ras, warna kulit atau kebangsaan akan mencegah mereka untuk

memperoleh hak ini.


b. Masyarakat dan Negara akan menghapus halangan terhadap perkawinan dan harus

mempermudah prosedur perkawinan. Mereka harus menjamin perlindungan keluarga.

Pasal 6 :

a. Perempuan dan laki-laki adalah martabat sebagai manusia, dan mempunyai hak yang

dinikmati ataupun kewajiban yang dilaksanakan; ia mempunyai kapasitas sipil dan

kemandirian keuangannya sendiri, dan hak untuk mempertahankan nama silsilahnya.

b. Suami bertanggung jawab atas dukungan dan kesejhteraan keluarga.

Pasal-pasal dalam deklarasi Kairo tersebut memiliki dua hal penting, yaitu selain pengakuan

terhadap kesetaraan perempuan dan laki-laki, deklarasi tersebut juga memberikan pengakuan

terhadap kebebasan membentuk rumah tangga. Deklarasi tersebut menunjukkan adopsii terhadap

kritik dan pandangan fiminis musli yang mempromosikan hak dan kebebasan perempun baik di

ruang public maupun private.

Dalam garis besar yang diterapkan dalam konvensi mengenai penghapusan semua bentuk

diskriminasi wanita perlu secepatnya diealisasikan, tanpa ditunda-tunda. Negara juga harus

memperhatikan wanita pedesaan dan perannya serta berupaya melakukan penghapusan terhadap

berbagai bentuk diskriminasi yang ada. Penghapusan diskriminasi terhadap perempuan juga

harus dilakukan lewat Undang-undang maupun ketentuan hukum. Disamping itu juga harus ada

perubahan paradigm lama yang menganggap rendah kaum perempuan. Dalam konteks merubah

paradigma tersebut, dapat disosialisasikan beberapa wacana yang lebih melihat perempuan

sebagai mitra kerja yang setara dengan laki-laki, berikut :

Dalam pendidikan keluarga. Ibu mempunyai fungsi social dan tanggung jawab bersama

dalam mengasuh anak.


Persamaan (pemilu, lembaga pemerintah dan non pemerintah), kesempatan kerja,

jaminan social dll.

Ibu hamil memiliki hak untuk efektif kerja.

2.2.3 Perempuan Dalam Pandangan Hukum Positif Di Indonesia

Mengkaji posisi perempuan dalam hierarkhi perundang-undangan pertama kali dapat

ditelusuri dari keberadaan pasal 27 UUD 1945 serta amandemennya yang menganut asas

equality before the law. Prinsip ini muncul ke permukaan dengan tidak ada pembedaan perlakuan

perempuan dapat memposisikan sebagai apa saja di depan hukum. Secara yuridis formal,

ketentuan ini mengangkat dan memperlakukan perempuan dalam konteks yang sesuai dengan

harkat dan martabat kemanusiannya.

Hukum bertujuan membentuk masyarakat yang ideal. Selain itu, bertujuan pula memberikan

keadilan dan kepastian hukum kepada masyarakat secara merata. Berbicara tentang hukum,

maka kita berbicara pula tentang hak dan dan kewajiban yang timbal balik, sehingga semua

orang adalah sama dimuka hukum, sebab hukum tidak akan membedakan hak dan kewajiban

manusia satu dengan yang lain. Dengan perkataan lain, hukum itu tidak boleh berisi norma-

norma hukum yang diskriminatif, yang hanya akan memberikan keuntungan pada sebagian

orang, dan merugikan sekelompok orang yang lain. Sebab akibat dari diterapkannya norma

hukum yang diskriminatif, maka sebagai manusia akan mengalami perlakuan yang diskriminatif

dan menderita kerugian. Karena secara khusus KUHPidana hanya menyatakan kekerasan

terhadap perempuan sebagai korban yang berkenaan. Contohnya sebagaimana dalampasal-pasal

berikut ;

Perkosaan (pasal 282)


Penguguran kandungan tanpa seizing perempuan yang bersangkutan (pasal 287)

Perdagangan perempuan (pasal 287)

Melarikan perempuan (pasal 332)

Kejahatan kesusilaan seperti kasus perzinaan dalam KUHP mempunyai kelemahan yang

mendasar. Seperti tersebut dalam pasal 284 salah satu pihak terikat perkawinan, pasal 285

tentang perkosaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan

isterinya bersetubuh dengan dia. Sempitnya makna perkosaan dalam KUHP disadari oleh para

perumus Rancangan KUHP, sehingga mereka membuat perumusan yang jauh lebih luas dengan

elemen-elemen sebagai berikut :

Seorang lelaki dan perempuan

Bersetubuh

Bertentangan dengan kehendaknya

Tanpa persetujuan atau dengan persetujuan yang dicapai melalui ancaman atau ia percaya

bahwa pelaku itu suaminya, atau perempuan ini berusia dibawah 14 tahun

Termasuk memasukkan alat kelamin ke dalam anus atau mulut perempuan atau

memasukkan benda bukan bagian tubuhnya ke dalam vagina atau anus seorang

perempuan.

Kejahatan atau pemerkosaan dalam rumah tangga (marital rape) pengaturannya belum ada di

Indonesia, tetapi sudah diusulkan dalam konsep KUHP baru dan masih dalam hal upah,

penghargaan hak-hak reproduksi wanita, waktu dan tempat kerja wanita,juga belum banyak

menjadi perhatian hukum. Disamping kejahatan-kejahatan diatas, sejumlah tindakan kekerasan

fisik lainnya terhadap perempuan, jika tidak diberi viktimasi juga tidak dapat dilakukan tindakan
hukum. Di Indonesia pemerintah telah berusaha untuk memberikan perlindungan terhadap kaum

perempuan dan tindakan-tindakan yang memarjinalkan melalui kebijakan-kebijakan yang

diakualisasikan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Salah satu upaya yang dimaksud

adalah terbitnya Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam

Rumah Tangga (KDRT). KDRT adalah kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga. Pada

umumnya pelaku kekerasan dala rumah tangga adalah suami, dan korbannya adalah isteri dan

atau anak-anaknya. KDRT bisa terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan

psikologi/emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan ekonomi. Secara fisik, kekerasan dalam

rumah tangga mencangkup; menampar, memukul, menjambak rambut, menendang, menyukut

dengan rokok, melukai dengan senjata, dan sebagainya. Secara psikolologi, kekerasan yang

terjadi dalam rumah tangga adalah penghinaan, komentar-komentar yang merendahkan,

melarang isteri mengunjungi saudara maupun teman-temannya, mengancam akan dikembalikan

ke rumah orang tuanya, dan lain-lain. Secara seksual, kekerasan dapat terjadi dalam bentuk

pemaksaan dan penuntutan hubungan seksual. Secara ekonomi, kekerasan terjadi berupa tidak

memberi nafkah isteri, melarang isteri bekerja atau membiarkan isteri bekerja untuk

dieksploitasi.

Realita di dalam masyarakat menunjukkan bahwa di bidang hukum, baik masalah kekerasan

terhadap perempuan dalam KDRT maupun perlindungan terhadap perempuan korban kekerasan

masih belum memadai. Berbagai faktor sangat mempengaruhi terhadap upaya penegakan hukum

tersebut. Diantarannya adalah nilai maupun norma yang ada di dalam masyarakat yang tidak

akomodatif terhadap permasalahan perempuan dan yang bersangkutan (perempuan) itu sendiri

tidak ada keinginan untuk memperjuangkan hak-haknya. Untuk mencegah, melindungi

korban,dan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, Negara dan masyarakat wajib
melaksanakan pencegahan, perlindungan, dan penindakan pelaku sesuai dengan falsafah

Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Negara

berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga, adalah

pelanggaran hak asai manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan, serta sebagai

bentuk diskriminasi.

Pandangan Negara tersebut didasarkan pada pasal 28 UUD 1945, besert perubahannya. Pasal

28G ayat (1) UUD 1945 menentukan bahwa,setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi,

keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas

rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu

yang merupakan hak asasi. Pasal 28 H ayat (2) UUD1945 menentukan bahwa setiap orang

berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat

yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. Perkembangan dewasa ini menunjukkan

bahwa tindak kekerasan secara fisik,psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga pada

kenyataannya meningkat baik secara hukum yang memadai untuk menghapus kekerasan dalam

rumah tangga.

Pembaharuan hukum yang berpihak pada kelompok rentan atau tersubordinasi, khususnya

perempuan, menjadi sangat diperlukan sehubung dengan banyaknya kasus kekerasan, terutama

kekerasan dalam rumah tangga. UU tentang penghapusan kekerasan dalam Rumah Tangga ini

terkait erat dengan beberapa peraturan perundang-undangan lain yang sudah berlaku

sebelumnya, antara lain, UU no. 1 Tahun 1946 tentang KUHPidana serta perubahannya, UU No.

8 Tahun 1981 tentang KUHP, UU No. 1Tahun 1974 tentang perkawinan, UU No.7 Tahun 1984

tentang pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk Diskriminasi terhadap

Wanita dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.


Undang-undang tersebut, selain mengatur tentang pencegahan danperlindungan serta

pemulihan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga, juga mengatur secara spesifik

kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dan unsur-unsur tindak pidana yang berbeda dengan

tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam KUHP. Selain itu, UU juga mengatur tentang

kewajiban para aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, pekerja social, relawan pendamping,

atau pembimbing rohani untuk melindungi korban agar mereka lebih sensitive dan respnsif

terhadap kepentingan rumah tangga yang sejak awal diarahkan pada keutuhan, keharmonisan dan

kerukunan.

UU dia atas lahir dalam nuasa politik hukum yang reformis, sehingga semua pihak

menginginkan adanya suatu bentuk perlindungan hukum bagi korban-korban tindak kekerasan

yang terjadi dilingkungan rumah tangga, namun berdasarkan undang-undang tersebut nampa

bahwa pengaturan tentang masalah KDRT belum secara jelas memberikan perlindungan hukum

yang memadai, baik dalam kriteria, pemahaman tentang KDRT maupun sarana, prasarana untuk

pelaksanaan perlindungan hukum bagi perempuan korban KDRT. Jaringan yang kuat diantara

elemen masyarakat merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi kepentingan perempuan

dan masa depan anak-anak perempuan.

Dalam hal pembentukan hukum dan formulasi kebijakan public, antara keduanya sesungguhnya

dapat saling mengisi dan memperkuat satu sama lain. Sebab dengan interaksi yang baik antara

dua hal tersebut, maka akan dihasilkan produk hukum yang mapan secara substansial, dan

menghasilkan produk kebijakan public yang legitimated dan dipatuhi secara massif oleh para

stakehlders-nya .
Adapun kriteria hukum dan kebijakn public yang berperspektif gender adalah yang selalu

mengacu pada UUd 1945 khususnya pasal 27 dan 28 sebagai landasan dalam pembenukannya,

dimana hukum dan kebijakan public tersebut harus menjungjung tinggi nilai-nilai HAM dan

menghormati prinsip non-diskriminasi antar sesame manusia di muka bumi.Melalui kebijakan

pemerintah di sektor gender yang diaktualisasikan dalam bentuk peraturan perundang-undangan,

maka pada tahun 2004 pemerintah menerbitkan Undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang

kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal ini dilakukan dalam rangka untuk memantapkan

landasan hukum yang kuat agar pelaku tindak kekerasan dalam rumah tangga dapat dijerat oleh

hukum dan sebagai suatu bentuk aktualisasi atas hukum dan kebijakan public di sektor gender.

Sebagai suatu bentuk kejahatan , tindakan kekerasan sepertinya tidak akan pernah hilang

dari muka bumi ini, sebagaimana pula tindak-tindak kejahatan lainnya. Akan tetapi hal ini tidak

berarti bahwa frekuensi, prevalensi dan insidensi tindak kekerasan terhadap perempuan tidak

dapat direduksi untuk mencapai hal ini, selain upaya Yuridis yang diusulkan, semuamya kembali

berpulang pada warga masyarakat sendiri. Tanpa adanya partisipasi public, maka tidak akan

pernah ada perubahan. Untuk dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat ini maka peran

pembuat kebijakan akan sangat menentukan, baik mereka yang berasal dari tingkat yang palng

tinggi sampai yang paling rendah, terutama pemilik kekuasaan diskresi (discretionary power).

Apabila segmen ini saja tidak mempunyai compassion terhadap perempuan yang menjadi korban

tindak kekerasan, masalah ini tidak akan pernah diselesaikan. Selain itu, upaya pendidikan dan

pemberdayaan masyarakat serta perempuan sendiri perlu untuk menangani masalah-masalah

yang terjadi dalam komunitas mereka sendiri. Lembaga penyantun korban kejahatan semacam

ini yang didirikan di seluruh wilayah Indonesia juga akan sangat membantu kaum perempuan.
Pada akhirnya semuanya tergantung pada keinginan seluruh elemen bangsa, untuk mengubah

kondisi yang ad kea arah yang lebih baik, bermartabat dan berprikeanusiaan tinggi.

2.3 Islam dan Gender

2.3.1 Definisi Islam

Agama Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan dan disyariatkan Allah SWT

serta satu-satunya agama yang diakui dan diterima-Nya. Allah SWT tidak akan menerima agama

selainya, dari siapapun, dimanapun dan sampai kapanpun juga.

(QS.Ali-Imran:19)

Islam berarti penyerahan diri kepada Allah dengan beriman dan bertauhid kepadanya serta

mengikuti syariatnya yang dibawa oleh para rosulnya. Syaykh Muhammad al-Tamimiy

menambahkan asas makna Islam ini menjadi 3 hal, yang diistilahkannya dengan tawhid, taat

dan baraah dari syirik, dimana dia berkata Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan

Tauhid, tunduk dan patuh kepadanya dengan ketaatan serta membebaskan diri (baraah) dan

syirik.

2.3.2 kesetaraan Gender Dalam Islam

Ketimpangan sosial-budaya antara laki-laki dan perempuan masih sering dipertahankan

dengan dalili-dalil agama. Terutama agama-agama anak cucu Nabi Ibrahim (Abrahamic

Religions), secara tekstual memang banyak memihak kepada laki-laki. Tuhan digambarkan

sebagai sosok laki-laki, sebagaimana terlihat pada kata ganti Tuhan dengan menggunakan kata

ganti laki-laki . Bahkan beberapa agama tertentu mengidialisir sosok laki-laki sebagai setengah

Tuhan dan perempuan sebagai setengah iblis. Bahasa-bahasa agama seringkali dilibatkan untuk
melestarikan kondisi di mana kaum perempuan tidak menganggap dirinya sejajar dengan laki-

laki. Isu ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan, memunculkan gerakan untuk

memperjuangkan hak-hak perempuan. Hal ini juga dilakukan oleh kaum feminisme, yaitu

gerakan yang sudah tua, namun baru pada tahun 60-an dianggap sebagai lahirnya gerakan itu.

Gerakan feminisme itu muncul di Amerika sebagai bagian dari kultur radikal hak-hak sipil (civil

rights) dan kebebasan seksual (sexual liberation). Buku Betty Friedan yang berjudul The

Feminist Mystique (1963) laku keras. Setelah itu berkembang kelompok feminis yang

memperjuangkan nasib kaum perempuan memenuhi kebutuhan praktis, seperti pengasuhan anak

(childcare), kesehatan, pendidikan, aborsi, dan sebagainya. Kemudian, gerakan itu merambat ke

Eropa, Kanada, dan Australia yang selanjutnya kini telah menjadi gerakan global dan

mengguncang Dunia Ketiga.

Berbeda dengan pandangan para feminis, Islam diturunkan oleh Allah Yang Maha Adil

dan Maha Mengetahui hakikat kaum Hawa, maka kaum perempuan ditempatkan pada posisi

yang layak demi kepentingan dan kebahagiaan mereka di dunia maupun di akhirat. Karena itu,

kalau ditelusuri dalam konsep Islam, sesungguhnya yang menarik adalah bahwa surga bagi

wanita lebih mudah dicapai dari pada kaum pria. Seperti dialog yang terjadi antara Asma' binti

Sakan dengan Rasulullah saw. Asma' berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah Engkau diutus oleh

Allah untuk kaum pria dan juga wanita. Mengapa sejumlah syariat lebih berpihak kepada kaum

pria? Mereka diwajibkan jihad, kami tidak. Malah, kami mengurus harta dan anak mereka di kala

mereka sedang berjihad. Mereka diwajibkan melaksanakan shalat Jum'at, kami tidak. Mereka

diperintahkan mengantar jenazah, sedangkan kami tidak." Rasulullah saw. tertegun atas

pertanyaan wanita ini sambil berkata kepada para shahabatnya, "Perhatikan! betapa bagusnya

pertanyaan wanita ini." Beliau melanjutkan, "Wahai Asma'! sampaikan jawaban kami kepada
seluruh wanita di belakangmu, yaitu apabila kalian bertanggung jawab dalam berumah tangga

dan taat kepada suami, kalian dapatkan semua pahala kaum pria itu." (Diterjemahkan secara

bebas, HR Ibnu Abdil Bar). Dalam Al-Qur'an, perempuan ditempatkan paling tidak dalam tiga

posisi, yaitu:

1. Perempuan sebagai pendamping laki-laki, karena mereka adalah manusia yang satu.

Firman Allah swt,


)21(

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari

jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di

antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat

tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ruum: 21).



)13(

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang

perempuan ...." (Al-Hujuraat: 13).

)1(

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri

yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah

memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah

yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain ...." (An-Nisaa': 1).






)189(

"Dialah yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan

istrinya, agar dia merasa senang kepadanya." (Al-A'raaf: 189).

)72(

"Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari

istri-istri kamu itu, anak-anak, dan cucu-cucu, dan memberimu rizki dari yang baik-baik. Maka

mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?" (An-Nahl:

72).

2. Keimanan perempuan sama dengan laki-laki, bahkan perempuan dapat dispensasi tidak

shalat saat datang bulan/ haidh.


)10(

"Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu'min

laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam

dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (Al-Buruuj: 10).


)58(
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mu'min dan Mu'minat tanpa kesalahan yang

mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."

(Al-Ahzab: 58).

)19(

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang Haq) melainkan Allah dan

mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu'min, laki-laki dan

perempuan." (Muhammad: 19).

3. Balasan di dunia dan akhirat antara laki-laki dan perempuan adalah sama.

)40(

"Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding

dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun

perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi

rizki di dalamnya tanpa hisab." (Al-Mu'min: 40).

Penjelesan tersebut menjelaskan tentang bagaimana pandangan Islam menempatkan

perempuan pada posisi yang terhormat. Sehingga, apa pun peranannya baik sebagai anak,

remaja, dewasa, ibu rumah tangga, kaum professional, dan lain-lain mereka itu terhormat sejak

kecil hingga usia lanjut.


Nabi Muhammad SAW diutus Allah membawa Islam untuk menebarkan kasih sayang

bagi semesta alam (rahmatan lil alamin) sebagaimana termaktub dalam surat Al-

Anbiya/21:107, sebagai berikut :

)107(

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Secara historis, pada awal kehadiran Islam, budaya masyarakat Arab tempat kelahiran

Nabi saw. penuh dengan kekerasan, ketidakadilan, dan diskriminatif. Pola kehidupan yang

banyak didominasi sistem kabilah, pada gilirannya membuat masyarakat rawan konflik dan

perpecahan. Sehingga menjadi pemandangan lumrah, di mana yang kuat menindas yang lemah.

Bahkan kaum perempuan, budak, dan anak-anak merupakan kelompok masyarakat lemah yang

selalu terkalahkan dalam kehidupan sosial.

Islam datang memperbaiki tatanan di atas, memperlakukan manusia laki-laki maupun

perempuan dengan semangat keadilan, pembebasan, anti penindasan, dan anti diskriminasi. Nabi

Muhammad saw sebagai pembawa syariat Islam merupakan teladan bagi umatnya. Beliau

merupakan figur suami, bapak, dan laki-laki yang memegang teguh prinsip keadilan dan anti

kekerasan. Berdasarkan penuturan para istrinya, Nabi seumur hidupnya tidak pernah memukul

keluarganya, baik isteri, anak, maupun pembatunya. Nabi juga tidak pernah mengeluarkan kata-

kata kasar yang melukai hati isterinya. Jika tidak berkenan, beliau memilih diam dan menyendiri.

Nabi juga tidak menyetujui paktek diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Perhatian Nabi

Muhammad saw terhadap perempuan pada gilirannya membuat kaum perempuan bebas

mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya. Pada masa Nabi saw telah muncul semacam
komunitas yang menyuarakan aspirasi perempuan dengan juru bicara Asma bin Yazid. Dengan

demikian menjadi jelas bahwa Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang terhormat,

tidak dipinggirkan dan didiskriminasikan.

Prinsip kesetaraan gender dalam Islam, sebagai berikut:

1. Laki-Laki Dan Perempuan Sama-Sama Hamba Allah

Salah satu tujuan penciptaan manusia, untuk menyembah Allah SWT., sebagaimana dinyatakan

dalam surat az-Zariyat/51:56, sbb. :


)56(

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Semua manusia mempunyai kesempatan sama untuk menjadi hamba ideal di mata Allah SWT,

yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Untuk mencapai derajat ini tidak dikenal adanya perbedaan

jenis kelamin maupun etnis. Dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, laki-laki dan perempuan

akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan sesuai kadar pengabdiannya, sebagaimana

dinyatakan surat An-Nahl/16:97, sbb.:

)97(

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan

beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan

sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa

yang telah mereka kerjakan.


2. Laki-Laki Dan Perempuan Sebagai Khalifah Di Muka Bumi

Maksud dan tujuan penciptaan manusia di muka bumi di samping untuk menjadi hamba yang

tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah, juga untuk menjadi khalifah di bumi,

sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Anam/6:165, sebagai berikut:

)165(

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan

sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa

yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan

sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kata khalifah dalam ayat Alquran surat al-Anam/6:165 ini tidak menunjuk pada salah satu jenis

kelamin atau kelompok etnis tertentu.

3. Laki-Laki Dan Perempuan Menerima Perjanjian Allah

Laki-laki dan perempuan sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian dari Tuhan.

Sebelum anak manusia keluar dari rahim ibunya, terlebih dahulu harus menerima perjanjian dari

Allah dan berikrar akan keberadaan-Nya sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Araf/7:172,

sebagai berikut:

)172(
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka

dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini

Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami

lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami

(bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"

Dengan demikian, sejak awal kejadian manusia, dalam Islam tidak dikenal sistem diskriminasi

jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama.

4. Laki-Laki Dan Perempuan Sama-Sama Berpotensi Meraih Prestasi

Peluang meraih prestasi maksimum dimiliki setiap laki-laki maupun perempuan tanpa ada

pembedaan. Islam menawarkan konsep kesetaraan gender yang ideal dengan memberi ketegasan

bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional tidak harus

dimonopoli salah satu jenis kelamin, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ali-Imran/3:195, sbb.:

)195( .....

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku

tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau

perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.

Namun dalam kenyataannya, di tengah-tengah masyarakat sekarang ini, konsep ideal tersebut

masih membutuhkan tahapan dan sosialisasi karena terdapat beberapa kendala budaya yang tidak

mudah diselesaikan.2.3.3