Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN

Pengolahan Feses Sapi Perah dan Jerami Padi Secara Terpadu Menjadi Pupuk

Organik Cair (POC), Pupuk Organik Padat (POP), Feed Additive dan Biogas

Disusun oleh:

JB Kristiadi Winarto

200110150288

Kelas E

Kelompok 3

LABORATORIUM MIKBROBIOLOGI DAN PENANGANAN LIMBAH

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan

rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya dapat menyelesaikan laporan akhir

praktikum Pengelolaan Limbah Peternakan dengan judul Pengolahan Feses Sapi

Perah dan Jerami Padi secara Terpadu Menjadi Pupuk Organik Cair, Pupuk

Organik Padat, Feed Additive dan Biogas. Sangat berharap laporan ini dapat

berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai

bagaimana mengelola limbah peternakan.

Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat

kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, berharap adanya kritik

dan saran demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga laporan ini dapat

berguna bagi para pembaca.

Sumedang, November 2017

Penulis
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Limbah atau sampah organik adalah limbah yang berasal dari makhluk

hidup misalnya dedaunan, kotoran manusia atau hewan, bahan-bahan yang berasal

dari tanaman, dan lain-lain. Limbah ini sering dianggap sebagai kendala

kebersihan, keindahan dan kenyamanan sehingga sering menjadi sumber

pencemaran lingkungan. Sebenarnya, limbah organik apabila dikelola dengan baik

dapat memberi manfaat yang besar bagi umat manusia. Salah satu limbah organik

yang sering dibiarkan begitu saja adalah limbah kotoran ternak terutama sapi.

Limbah kotoran ternak yang terdiri dari feses dan urin disebut dengan manure.

Padahal feses ternak (sapi) dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik dengan

melalui komposisasi. Apalagi feses ternak mengandung bahan organik, protein

dan unsur hara yang cukup tinggi sehingga bagus untuk pakan jasad renik dan

hewan tertentu dan untuk tanaman. Dengan memanfaatkan menjadi kompos maka

keuntungan yang diperoleh adalah pupuk organik, kebersihan dan keindahan

lingkungan dapat terjaga.

1.2 Maksud dan Tujuan

1) Mengetahui proses pembuatan pupuk organic cair.

2) Mengetahui proses pembuatan feed additive.

3) Mengetahui proses pembuatan biogas.

4) Mengetahui proses pembuatan vermicompost.


1.3 Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Selasa, 12 September 2017 14 November 2017

Waktu : 13.30 15.30 WIB

Tempat : Laboratorium Mikrobiologi dan Penanganan Limbah

Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran


II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Pupuk Organik Cair

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup,

seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat

berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia,

dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada

kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk

kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut

kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan

limbah kota (sampah) (Parnata A.S., 2004).

Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar

dipasaran. Jenis pupuk ini kebanyakan diaplikasikan melalui daun atau disebut

sebagai pupuk cair foliar yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P,

K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik). Menurut Simamora (2005)

pupuk organik cair adalah pupuk yang berasal dari hewan atau tumbuhan sudah
mengalami fermentasi. kandungan bahan kimia di dalamnya maksimum 5%.

Pupuk cair organik adalah pupuk yang bahan dasarnya berasal dari hewan atau

tumbuhan yang sudah mengalami fermentasi dan berntuk produknya berupa

cairan. Kandungan bahan kimia di dalamnya maksimum 5%. Penggunaan pupuk

cair memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut : 1. Pengaplikasiannya lebih

mudah jika dibandingkan dengan pengaplikasian pupuk organik padat. 2. Unsur

hara yang terdapat di dalam pupuk cair mudah diserap tanaman 3. Mengandung

mikroorganisme yang jarang terdapat dalam pupuk organik padat. 4. Pencampuran


pupuk cair organik dengan pupuk organik padat dapat mengaktifkan unsur hara

yang ada dalam pupuk organik padat tersebut (Endang, 2008).

2.2 Feed Additive

Feed additive merupakan bahan pakan tambahan yang diberikan kepada

ternak melalui pencampuran pakan ternak. Bahan tersebut merupakan pakan

pelengkap yang bukan zat makanan. Penambahan feed additive dalam pakan

bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan ternak yang optimal. Feed additive

ada dua jenis yaitu feed additive alami dan sintetis (Wahju, 2004).

Feed additive dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu nutritive feed

additive dan non nutritive feed additive. Nutritive feed additive ditambahkan ke

dalam ransum untuk melengkapi atau meningkatkan kandungan nutrien ransum,

misalnya suplemen vitamin, mineral, dan asam amino. Non nutritive feed additive

tidak mempengaruhi kandungan nutrien ransum, kegunaannya tergantung pada

jenisnya, antara lain untuk meningkatkan palatabilitas (flavoring / pemberi rasa,

colorant / pewarna), pengawet pakan (antioksidan), penghambat mikroorganisme

patogen dan meningkatkan kecernaan nutrien (antibiotik, probiotik, prebiotik),


anti jamur, membantu pencernaan sehingga meningkatkan kecernaan nutrien

(acidifier, enzim) (Ravindran, 2012).

2.3 Biogas

Biogas merupakan gas campuran metana (CH4) karbondioksida (CO2)

dan gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian bahan organik (seperti kotoran

hewan, kotoran manusia, dan tumbuhan) oleh bakteri metanogen. Untuk

menghasilkan biogas, bahan organik yang dibutuhkan, ditampung dalam

biodigester. Proses penguraian bahan organik terjadi secara anaerob (tanpa


oksigen). Biogas terbentuk pada hari ke-4~5 sesudah biodigester terisi penuh dan

mencapai puncak pada hari ke-20~25. Biogas yang dihasilkan sebagian besar

terdiri dari 50-70% metana (CH4), 30-40% karbondioksida (CO2) dan gas lainnya

dalam jumlah kecil (Fitria B, 2009 dalam Harsono, 2013).

Biogas dihasilkan apabila bahan-bahan organik terurai menjadi senyawa-

senyawa pembentuknya dalam keadaan tanpa oksigen (anaerob). Fermentasi

anaerob ini biasa terjadi secara alami di tanah yang basah, seperti dasar danau dan

di dalam tanah pada kedalaman tertentu. Proses fermentasi adalah penguraian

bahan-bahan organik dengan bantuan mikroorganisme. Fermentasi anaerob dapat

menghasilkan gas yang mengandung sedikitnya 50% metana. Gas inilah yang

biasa disebut dengan biogas.

2.4 Vermicompost

Vermicomposting adalah proses pengomposan sederhana, dengan

memanfaatkan spesies cacing tanah untuk meningkatkan proses konversi limbah

dan menghasilkan produk yang berkualitas (Ghandi et al. 1997).

Vermicomposting menghasilkan dua macam produk utama, yakni cacing tanah


dan kascing (Kurniadi, 2007). Biomassa cacing tanah yang dihasilkan dari

vermicomposting dapat dimanfaatkan untuk vermicomposting selanjutnya dan

dapat pula dijadikan sebagai sumber protein bagi pertumbuhan cacing selanjutnya,

selain menghasilkan biomassa cacing tanah, vermicomposting juga mengasilkan

kascing. Kascing banyak mengandung nitrogen, fosfat, kalsium, dan magesium

(Gaddie and Douglas, 1975). Selain mengandung unsur hara tersebut, kascing

juga mengandung zat pengatur tumbuh seperti auksin, giberelin, dan sitokinin.

Selain itu juga ditemukan sejumlah mikroba yang bersifat menguntungkan bagi

tanaman (Tomatti dkk, 1998). Oleh karena itu, sangat bermanfaat bagi
peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi

pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan.

Jenis cacing yang digunakan dalam vermicomposting dipilih dari jenis

cacing tanah yang mampu beradaptasi dengan perlakuan manusia, seperti

Lumbricus rubellus. Cacing ini sudah terbukti mudah beradaptasi dan lebih

produktif dibanding jenis cacing tanah lainnya, serta sudah ada di Indonesia.

Cacing tanah merupakan cacing yang mempunyai kemampuan memakan

bahan organik yang sudah mengalami proses fermentasi dan di cerna menjadi

bahan yang berguna bagi tubuh dan sisanya dikeluarkan melalui anus berupa feses

(casting) yang merupakan hasil ekresi, sedangkan kascing merupakan casting

yang bercampur dengan sisa bahan organik sebagai medianya. Faktor-faktor yang

mempengaruhi proses biologis dalam pengomposan adalah nisbah C/N, kadar air,

ketersediaan oksigen, mikroorganisme, temperatur, dan pH, namun dari faktor-

faktor yang mempengaruhi pengomposan tersebut yang terpenting adalah nisbah

unsur C dan N dalam bahan komposan (Merkel, 1981). Nisbah C/N yang baik

untuk vermicomposting ialah 20 40 (Djuarnani, dkk, 2005).


III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Pembuatan Dekomposisi Awal Bahan Organik

3.1.1 Alat

1) Karung, sebagai tempat untuk pembuatan dekomposisi awal.

2) Timbangan, sebagai alat untuk mengukur bahan yang digunakan.

3) Baki, sebagai tempat penampung jerami.

4) Thermometer, sebagai alat pengukur suhu.

5) Gayung, sebagai alat bantu untuk mengambil feses.

6) Terpal, alas untuk menghomogenkan feses sapi dan jerami.

7) Stik kayu, untuk menekan campuran feses dan jerami.

3.1.2 Bahan

1) Feses sapi

2) Jerami

3) Air

3.1.3 Prosedur Kerja


1) Menyiapkan seluruh alat dan bahan yang diperlukan.

3) Menimbang jerami sebanyak 500g dan memasukan kedalam karung

sebagai alas.

4) Menimbang kembali jerami 500g dan menimbang feses sebanyak

1kg, kemudian dihomogenkan dengan bantuan air.

5) Setelah homogen masukan campuran feses sapi dan jerami ke dalam

karung yang telah diberi alas jerami 500 gr.

6) Mengulangi prosedur nomor 4 dan 5 hingga sebanyak 6 lapisan.


7) Menusuk campuran feses sapi dan jerami di dalam karung dengan stik

kayu yang bertujuan untuk memberikan oksigen sekaligus

memadatkan.

8) Menutup isi dalam karung bagian atas dengan kardus lalu

mengikatnya dengan rapat.

9) Melubangi bagian luar karung sebanyak tiga lubang yaitu bagian atas,

tengah, dan bawah untuk memudahkan pengukuran suhu.

10) Mengamati suhu jerami menggunakan thermometer setiap harinya,

dengan mendiamkan selama 5 menit hingga suhu stabil.

11) Melakukan pengamatan suhu selama 7 hari.

3.2 Pengeringan Dekomposisi Awal Bahan Organik

3.2.1 Alat

1) Baki kayu, untuk mengeringkan hasil dari dekomposisi awal bahan

organik.

2) Gunting, alat bantu membuka karung.

3.2.2 Bahan
1) Bahan organik berupa campuran feses sapi dan jerami hasil proses

dekomposisi awal.

3.2.3 Prosedur Kerja

1) Membuka dekomposan di dalam karung dengan bantuan gunting.

2) Menimbang hasil dekomposan dalam karung dengan timbangan.

3) Menyimpan hasil dekomposan di atas baki kayu, dan meratakan

keseluruh area.

4) Melakukan aerasi terhadap dekomposan selama tujuh hari.


3.3 Ekstraksi dan Filtrasi Dekomposisi Kering dan Pembuatan FA

3.3.1 Alat

1) Bak container, untuk menyimpan hasil dekomposan yang telah

dikeringkan.

2) Gayung, untuk mengambil air panas.

3) Wadah plastik, untuk menampung hasil saringan dekomposan.

4) Garpu, alat bantu untuk mengaduk dan merendam dekomposan.

5) Penyaring, untuk menyaring molasses.

3.3.2 Bahan

1) Dekomposan yang telah dikeringkan selama tujuh hari

2) Air panas

3) Molasses

3.3.3 Prosedur Kerja

1) Mengambil hasil dekomposan yang telah dikeringkan, lalu

menyimpan di bak container.

2) Menyediakan wadah plastik untuk menampung hasil saringan.

3) Mengambil air panas dengan gayung, lalu menyiramkan pada hasil


dekomposan yang telah dikeringkan dan disimpan di bak container

agar terjadi proses ekstraksi dan diamkan selama 30 menit.

4) Menyiramkan air panas hingga seluruh dekomposan terendam, lalu

menekan-nekan dekomposan agar larut dengan air panas.

5) Membuka keran bagian bawah agar hasil filtrat keluar dan

menampungnya di wadah plastik.

6) Melakukan pengulangan penyiraman hingga selesai.

7) Menambahkan molasses dengan filtrat yang berada di wadah plastik.

8) Menyaring molasses dengan alat penyaring.


9) Menambahkan molasses dengan filtrat, lalu mengaduk hingga

homogen.

3.4 Pembuatan Biogas

3.4.1 Alat

1) Ban dalam mobil, untuk menyimpan gas.

2) Tong biru, tempat untuk menyimpan hasil dekomposisi dan filtrat.

3) Penutup tong, untuk menutup tong.

4) Selang, sebagai media untuk saluran gas.

5) Obeng dan mur, untuk merekatkan ujung selang.

6) Penjepit dan perekat tong, untuk merekatkan penutup tong dengan tong

sehingga kedap udara.

7) Sambungan letter L, untuk menyambungkan seluruh selang.

8) Keran, berfungsi sebagai pembuka dan penutup antara selang dan tong.

3.4.2 Bahan

1) Malam organik

2) Hasil dekomposan fese sapi dan jerami


3) Air

3.4.3 Prosedur Kerja

1) Menyediakan seluruh alat dan bahan yang diperlukan.

2) Memastikan tong, dan selang tidak ada yang bocor dengan cara

memasukkan ke dalam bak air.

3) Memasukkan substrat dan air yang sudah homogen ke dalam tong

hingga mencapai volume dari tong.

4) Merekatkan malam organik pada bagian atas tong, yang bertujuan

sebagai perekat.
5) Menutup tong dengan penutup dan merekatkannya dengan penjepit

yang berada di samping tong.

6) Memasang selang pada bagian atas tong lalu mengencangkannya

dengan bantuan obeng.

7) Memastikan keran pada bagian selang tertutup dan keran pada bagian

tong terbuka.

8) Mengamati pembentukan biogas.

3.5 Pembuatan Vermicompost

3.5.1 Alat

1) Wadah plastik, untuk menyimpan media dan cacing tanah.

2) Mangkuk, untuk menyimpan cacing tanah.

3) Timbangan analitik, untuk menimbang berat cacing tanah yang akan

digunakan.

4) Triplek, sebagai penutup wadah berisi cacing tanah.

3.5.2 Bahan

1) Cacing tanah
2) Ampas tepung kanji

3) Substrat hasil filtrasi

3.5.3 Prosedur Kerja

1) Menyediakan seluruh alat dan bahan.

2) Memisahkan cacing hingga bersih dari media ampas tepung kanji.

3) Menimbang cacing tanah menggunakan timbangan analitik seberat

251 gram.

4) Mencampur media dengan substrat hasil filtrasi.


5) Memindahkan cacing tanah ke dalam wadah plastik yang berisi media

yang telah dicampurkan.

6) Menutup media dengan triplek yang sudah dilubangi berukuran kecil.

3.6 Pengamatan Vermicompost

3.6.1 Alat

1) Sarung tangan, untuk melakukan proses aerasi.

3.6.2 Bahan

1) Vermicompost yang telah dilakukan sebelumnya.

3.6.3 Prosedur Kerja

1) Mengamati vermicompost yang telah dibuat satu minggu sebelumnya

apakah berbau atau terdapat media yang menempel pada dinding

wadah.

2) Melakukan aerasi terhadap media agar kebutuhan cacing terhadap

oksigen terpenuhi.
IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENGAMATAN

4.1.1 Pembuatan Pupuk Organik Cair

Sebelum membuat POC, terlebih dahulu harus dilakukan proses

dekomposisi awal. Hasil yang didapat saat proses dekomposisi awal sebagai

berikut:

HARI SUHU SUHU SUHU RATA-


KE- BAGIAN BAGIAN BAGIAN RATA
ATAS TENGAH BAWAH
....(C)....
1. 30 31 31 30,6
2. 58 64 64 62
3. 57 59 59 58,3
4. 48 59 55 54
5. - - - -
6. 40 38 37 38,3
7. 29 34 34 32,3
8. 31 34 33 32,6
Diketahui:
a) Berat awal: 19,3 kg

b) Berat akhir (hasil dekomposisi): 13,2 kg

Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC):

a) Berat substrat: 1,5 kg

b) Perendaman substrat dengan air panas selama 30 menit

c) Air panas yang digunakan: 10 liter

d) Hasil penyaringan: 6,65 liter


4.1.2 Pembuatan Feed Additive

Pembuatan Feed Additive menggunakan filtrat atau hasil saringan dari

dekomposisi awal yang telah dikeringkan selama tujuh hari. Lalu difermentasikan

dan diberi tambahan molasses.

Jumlah substrat cair: 9,5 liter

Molasses : 0,5 kg

4.1.3 Pembuatan Biogas

Pada praktikum kali ini, kami hanya melakukan pembuatan biogas dan

tidak mengamati hasil akhir dari pembuatan biogas yang telah dilakukan.

4.1.4 Pembuatan Vermicompost

Hasil pengamatan sebagai berikut:

a) Media tanam substrat : 3,5 kg

b) Cacing yang digunakan : 251,5 gram


4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Dekomposisi Awal

Dekomposisi awal merupakan proses awal pada praktikum yang kami

lakukan. Proses ini dilakukan dengan bahan feses sapi perah dan jerami padi

dengan berat awal 19,3 kg dan berat akhir 13,2 kg. Besar penyusutan yang terjadi

adalah 31,6%. Suhu mengalami kenaikan pada hari kedua, dan mencapai suhu

maksimal sebesar 62C dan secara konsisten mengalami penurunan. Terdapat

penyusutan dalam proses dekomposisi awal. Hal ini menunjukkan bahwa proses

dekomposisi awal berhasil dikarenakan adanya penyusutan dan kenaikan suhu di

hari ke 2-4 lalu penurunan suhu dihari selanjutnya hingga hari ke-7. Hal ini sesuai

dengan literature yang menyatakan bahwa proses pengomposan akan terjadi

pengurangan volume bahan, pengurangan dapat mencapai 30-40% dari volume

atau bobot awal bahan (Isroi, 2007). Berakhirnya proses dekomposisi awal

ditandai dengan suhu yang sudah mulai stabil. Setelah selesai dilakukan

pembongkaran karung yang berisi campuran feses sapi perah dan jerami padi.

Proses dekomposisi awal berhasil ditandai dengan substrat yang tidak berbau,

warna coklat, dan jerami yang mudah patah atau hancur jika diremas. Hal ini
sesuai dengan literature (Isroi, 2007).

4.2.2 Pembuatan Pupuk Organik Cair

Substrat yang dipergunakan dalam proses pembuatan pupuk organic cair

sebanyak 1,5 kg hasil dari dekomposisi awal, dengan perendaman air panas

selama 30 menit dengan air panas sebanyak 10 liter. Substrat disimpan pada

container bagian atas dengan tiga tingkatan, lalu dirsiramkan air panas dan harus

terendam dan biarkan selama 30 menit. Filtrate yang ada pada bagian atas akan

perlahan-lahan turun ke bagian bawah dan tertampung pada wadah plastic. Hasil
berupa filtrate sebanyak 6,65 liter. Penggunaan air panas pada pembuatan pupuk

organic cair berfungsi agar kandungan yang terkandung pada substrat pada dapat

lisis atau larut bersama dengan air panas. Pupuk organic cair sangat bermanfaat

untuk dipergunakan di bidang pertanian. Manfaat yang di dapat adalah

meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman,

mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan dapat digunakan sebagai alternatif

pengganti pupuk kandang. Hal ini sesuai dengan literature (Sarjana Parman,

2007).

4.2.3 Pembuatan Feed Additive

Pembuatan feed additive menggunakan hasil pupuk organic cair. Jumlah

yang digunakan untuk membuat feed additive sebesar 9,5 liter. Pada proses

pembuatan dicampurkan dengan molasses. Molasses adalah hasil atau sisa

pembuatan industry gula (tebu) yang berwarna hitam. Penambahan ini bertujuan

untuk meningkatkan nilai palatablilitas dan juga kandungan nutrisi. Molasses

memiliki senyawa berupa gula (sukrosa) dan asam-asam organic. Sebelum mebuat

feed additive terlebih dahulu menyaring molasses menggunakan saringan agar


benar-benar bersih dan tidak ada kotoran. Lalu menuangkan filtrate cair ke dalam

molasses dan aduk hingga homogen. Penyimpanan harus ditutup agar terjadu

proses fermentasi. Hasil feed additive yang diperoleh berwarna hitam, sedikit

kental, berbau enak, berasa asam. Feed additive yang sudah siap dapat bermanfaat

dan dicampurkan dalam bahan pakan ternak, karena dapat meningkatkan

palatabilitas dan memperbaiki pencernaan karena adanya bakteri baik yang

bermanfaat bagi usus. Hal ini sesuai dengan literature yang menyatakan bahwa

feed additive dapat digunakan sebagai makanan tambahan pelengkap, flavoring


agent peningkat palatablitias ternak, memperbaiki daya cerna, antibiotik dan

sebagainya (Rasyaf, 1996).

4.2.4 Pembuatan Biogas

Pada praktikum pembuatan biogas praktikan tidak mengetahui hasil dari

biogas tersebut karena tidak dilakukan pengamatan hasi akhir.

4.2.5 Pembuatan Vermicompost

Vermicomposting adalah suatu proses penguraian bahan organik sederhana

menjadi unsur hara oleh mikroorganisme dan hewan tingkat rendah salah satunya

cacing. Pembuatan vermicompost dimulai dengan memisahkan cacing tanah lalu

menimbangnya. Jumal yang digunakan adalah sebanuyak 251,5 gram dan media

yang digunakan adalah bahan organik 3,5 kg. Cacing yang digunakan adalah

cacing jenis top soil yaitu Lumbricus rubellus. Media yang dipergunakan selain

sebagai tempat hidup cacing harus dapat dipergunakan sebagai sumber pakan.

Untuk keperluan pakan diperoleh dari bahan organik yang memiliki kandungan

nutrisi yang lebih baik karena jika tidak memiliki kandungan nutrisi maka cacing
yang dipelihara tidak akan berkembang biak karena kekurangan pakan. Hal ini

sesuai dengan literature (Hou et al,. 2005). Pemeliharaan cacing menggunakan

wadah plastic berukuran 80 cm x 30 cm, tinggi 15 cm. Wadah plastik ditutup

dengan triplek yang telah dilubangi, agar cacing mendapatkan oksigen dan

terhindar dari tikus atau semut.


V

KESIMPULAN

1) Proses pembuatan pupuk organik cair (POC) menggunakan bahan yang

bersumber dari hasil dekomposisi awal yaitu campuran feses sapi perah dan

jerami padi yang telah diaerasi selama tujuh hari. Selanjutnya diberi air

hangat lalu diamkan selama 30 menit.

2) Proses pembuatan feed additive dengan menggunakan hasil berupa filtrate

dengan pencampuran molasses sebanyak 0,5 kg.

3) Proses pembuatan biogas dengan menyediakan tong yang telah dirakit,

kemudian memasukan bahan berupa feses sapi perah dan jerami padi

(substrat) sebanyak bagian dari tong tanpa ditekan. Merapatkan tong

dengan menutup dan menjepitnya. Lalu biarkan proses biogas berlangsung.

4) Proses pembuatan vermicompost dimulai dengan menyediakan bahan atau

media pemeliharaan sekaligus bahan pakan ternak berupa bahan organik.

Menimbang cacing tanah jenis top soil yaitu Lumbricus rubellus seberat

251,5 gram. Menyediakan wadah pemeliharaan, memasukan media


pemeliharaan dan cacing tanah.
DAFTAR PUSTAKA

Djuarnani, N., Kristian, dan Budi Dusilo Setiawan. 2005. Cara Cepat Membuat
Kompos. Cetakan Pertama. Agromedia Pusaka. Jakarta

Endang Yulistiawati, Pengaruh Suhu dan C/N Rasio Terhadap Produksi Biogas
Berbahan Baku Sampah. Skripsi S1, Jurusan Teknologi Pertanian
IPB, 2008.

Gaddie, R. E, and D. E. Doughlas. 1975. Eartworms for Ecology and Profit. Vol.
1. Bookworm Publishing Company. Ontario, California.

Ghandi M, Sangwan V, Kapoor KK and Dilbaghi N. 1997. Composting of


household wates with and without eartworm. Environment and
Ecology 15(2): 432-434

Harsono. 2013. Aplikasi Biogas Sistem Jaringan dari Kotoran Sapi di Desa
Bumijaya Kec. Anak Tuha, Lampung Tengah Sebagai Energi
Alternatif yang Efektif. Skripsi. Universitas Lampung, Lampung.

Hou J, Qiao Y, Liu J, Reijie D. 2005. The Influence of Temperature, pH and C:N
Ratio on the Growth and Survival of Eartwormsin Municipal Solid
Waste. CIGR Journal. 7: 1-6.

Isroi, 2007. Pengomposan Limbah Padat Organik. Jember, 25 30 Juni 2007

Parnata, Ayub.S. 2004. Pupuk Organik Cair. Jakarta: PT Agromedia Pustaka. Hal
15-18.

Rasyaf, M. 1996. Seputar Makanan Ayam Kampung. Kanisius. Yogyakarta

Ravindran, V and R. Blair. 2012. Feed Resources for Poultry Production in


Asian and the Pasific. II. Plant Protein Sources. Worlds Poultry
Science Journal, 48:205-231.

Sarjana Parman, 2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Terhadap


Pertumbuhan dan Produksi Kentang. Buletin Anatomi dan Fisiologi.
Vol. XV, No 2.
Simamora , Hadisuwito, 2005, Perbedaan pupuk organik dan an organik.pdf

Tomatti, U. A., Grapelli and E. Galli. 1988. The Hormons Like Effect of
Earthworm Casts On Plant Growth. Biol. Fertils Soils. 5: 228 294.

Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
LAMPIRAN

Lampiran 1. Pembuatan Dekomposisi Awal

Lampiran 2. Pembuatan Pupuk Organik Cair


Lampiran 3. Pembuatan Feed Aditif

Lampiran 4. Pembuatan Biogas

Lampiran 5. Pembuatan Vermicompost