Anda di halaman 1dari 18

Buku Ajar Pemetaan - 2

PEMBUATAN LINGKARAN DI LAPANGAN ( BUSUR LAPANGAN )

Busur lingkaran/ lapangan bertujuan menghubungkan dua arah jalan/ jalan kereta api/ saluran
baru yang berpotongan, agar perpindahan dari arah satu ke arah yang lainnya berjalan mulus/
lancer, tidak timbul gejolak, tentunya ini juga tergantung antar hubungan kecepatan dan radius
lengkungan. Dari busur lingkaran ini akan ditentukan titik-titiknya dengan jumlah yang cukup,
hingga letak busur lingkaran itu di lapangan dapat dilihat dengan jelas.
Misal :
1. Jalan Kereta Api
2. Jalan Raya
3. Saluran Pengairan dan Pelayaran
4. Saluran Pipa ; Listrik ; Telepon
5. Lintasan udara.

Di lapangan harus ditentukan lebih dahulu titik-titik utama, meliputi titik potong
Pertemuan dua jalur ( titik V ) atau Point of intersection ( PI).
Harus diketahui pula :
R (radius busur lingkaran)
Titik-titik singgung T1 dan T2 dimana dari kedua titik tersebut mulai dan diakhiri masuk
ke jalur lengkung/ lingkaran
Titik pusat lingkaran (O) , dan
Titik tengah busur (M)
STAKE - OUT lengkung/ busur adalah Merekonstruksi hasil hitungan perencanaan trase
jalan/ jalan kereta api/ saluran baru yang melalui pertemuan dua arah yang diatas kertas
ke kondisi sebenarnya di lapangan.
Stake - Out dilakukan untuk alinemen horisontal, yaitu lengkung Lingkaran dan
lengkung Spiral pada bidang datar/ horizontal

Tentunya ada beberapa metode dalam melakukan perencanaan hitungan maupun


pelaksanaannya di lapangan, tergantung kondisi medan lapangan. :

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 1


Buku Ajar Pemetaan - 2

Untuk membuat busur/ lengkung lapangan tentunya ada beberapa titik-titik utama dalam
pembuatan lengkung/ busur tersebut, diantaranya :
= 2 1 = ( kalau sudut 2 > 1) = adalah sudut perpotongan dari tangen I
dan tangen II
= 180 - ( 1 2 ) = (kalau sudut 1 > 2 ) = adalah sudut perpotongan dari
tangent I dan tangent II
Persamaan kedua tangent :
Y(I) = m1 X + p1 ; m1 = cotg 1
Y(II) = m2 X + p2 : m2 = cotg 2

p1 p2 m1p2 m2 p1
Xv = - ------------------ ; Yv = ---------------------------
m1 m2 m1 m2

R = radius ( jari2 lingkaran ) ; untuk jalan raya ; R antara 500 m 5000 m


/ 360 = bs / 2 R = bs . 360 / 2 R = bs. 180 / R
= sudut dalam dari busur ; bs = bagian busur lapangan
tb = tali busur = 2 R sin

V
1 I T1

? II

R
T2
M = TITIK TENGAH BUSUR T1T2
O = TITIK PUSAT LINGKARAN
T1 & T2 = TITIK TANGENT

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 2


Buku Ajar Pemetaan - 2

Cara menghitung :

1) Titik V ( PI) dihitung dari persamaan tangent I & II


2) Hitung T1V = T2V = R tangent
3) Hitung sudut yang mempunyai bagian busur = bs = 100 m ,adalah
100 180 . 100
-------- = ----------- = -----------------------
360 2 R R
4) Koordinat tiap titik di tangen I dapat dihitung dengan persamaan :

Xv = Xp + dpv sin 1 ; Yv = Yp + dpv cos 1

Dimana titik P (Xp , Yp) yang terletak pada tangen I

5) Koordinat T1 dihitung dengan jarak T1V = R tangent 1/2 , kemudian masing2 titik
dengan busur 100 m dihitung dengan menambah sudut sampai dengan
6) Koordinat terakhir dari busur lingkaran setelah :
n = harus sama dengan titik T2
7) T2 = titik pertama dari tangen II dengan persamaan : Y = m2 X + p2
Sebagai kontrol T2V = R tangent
8) Titik T1 dan T2 diukur dari jarak titik V ke arah jalur I dengan sudut azimuth 1+180
dengan jarak VT1 = R tangent 1/2 dan ke arah jalur II dengan sudut azimuth 2+180
dengan jarak VT2 = R tangent 1/2 akan didapat letak titik T1 dan T2

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 3


Buku Ajar Pemetaan - 2

MEMBUAT BUSUR DI LAPANGAN DENGAN CARA


PERPANJANGAN TALI BUSUR
1'
T1 bs
1 2'
bs 2
3'

bs
3

1/2
1/2 bs
4'

tb = tali busur = 2 R Sin

= panjang busur = ( / 360 ) x 2 R

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 4


Buku Ajar Pemetaan - 2

Panjang busur = bs ; jari-jari = R ; tb = tali busur


Sudut bs = x 2 R = panjang busur
360
Mencari titik detail :
A. T1 1 = tb. Cos 1/2
1 1 = tb. Sin 1/2
B. 1 2 = tb Cos
=
2 2 = tb Sin

n. Xn Xn+1 = tb Cos
Yn Yn+1 = tb Sin

Cara ini banyak hitungannya tetapi tidak masalah karena


sudah ada kalkulator/ komputer
Keuntungan : titik-titik terletak pada busur lingkaran

Cara Pelaksanaan di lapangan :

1. Alat di atas T1, atur nivo-nivo nya dan sentring alat di atas patok T1
2. Arahkan ke titik V (PI), atur sudut horizontal 0 0' 0 , ukur jarak X1 = .... m
3. Putar se arah jarum jam sebesar sudut , bidik dan ukur jarak tb1, maka di
dapat titik detail 1.
4. Pindah alat di atas titik detail 1, atur nivo dan sentring, arahkan ke titik T1, putar
searah jarum jam sebesar sudut 180
5. Bidik dan ukur 1- 2 ketemu titik detail 2
6. Buat garis tegak lurus di titik 2 , ukur jarak 2 2 ketemu titik detail 2
7. Dengan cara yang sama , atur nivo dan sentring di titik detail 2, arahkan ke titik
detail 1, putar searah jarum jam sebesar 180, bidik dan ukur 2 3 ketemu 3
8. Dan seterusnya.

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 5


Buku Ajar Pemetaan - 2

MEMBUAT BUSUR DI LAPANGAN DENGAN CARA


SELISIH ABSIS SAMA PANJANG
a a a a

x1 x2 x3 x4
T1 y1 X
1 y2
2 y3

y4
4 3
3

1 4

a = X1= absis pada sumbu x


Detail :
1. x1= a
2
y1= R- 2
R - a

2. x2= 2a
2
y2= R- 2
R - (2a)

3. x3= 3a
2
y3= R- 2
R - (3a)

Cara ini letak titik tidak beraturan pada busur lingkaran,


semakin jauh dari titik semakin panjang busurnya

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 6


Buku Ajar Pemetaan - 2

Cara Pelaksanaan di lapangan : setelah titik-titik T1, T2 dan titik V ditentukan di


lapangan, maka pelaksanaan penentuan titik2 detail busur dapat ditentukan :

1. Letakkan alat theodolith di atas titik T1, sentring alat, arahkan ke titik V.
2. Bidik arah V, ukur jarak-jarak X1, X2= 2X1, X3 = 3X1 dan seterusnya sampai Xm,
maka akan dapat ditentukan absis2 X1, X2,X3 dst.
3. Dari titik-titik absis X1, X2, X3 dst. Dirikan alat theodolith, sentring, arahkan ke titik
V (PI), atur sudut horizontal 0 0' 0 , putar sudut searah jarum jam sebesar 90 0 0
( buat sudut siku2 ), kemudian diukur jarak Y1 = R - R^2)X^2Y2 = R
- R^2)X^2Y3 = R - R^2)X^2
maka akan ketemu letak titik2 detail di busur titik 1, 2, 3 dst sampai titik M
4. Ulangi kegiatan seperti nomor diatas, tetapi alat berdiri di titik T2 (jalur 2 ), sedang
sudut diputar searah jarum jam sebesar 270 0 0 ( buat sudut siku2 ). Diukur jarak
Y1, Y2,Y3 dst seperti nomor 3 di atas hingga Ym dan harus berimpit dengan
pengukuran yang dari jalur 1.

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 7


Buku Ajar Pemetaan - 2

Membuat busur di lapangan dengan cara Koordinat Polar :

T1 Arah X (arah ke V)
tb1 1 1/2
tb2 2
tb3
1/2 3
3/2
tb maks

T2

Cara Hitungan :

1. Hitung sudut =

100 180 . 100


-------- = ----------- = -----------------------
361 2 R R
2. Hitung tb :
tb1 = 2 R Sin ; tb2 = 2 R Sin ; tb3 = 2 R Sin 3/2 ... dst.
tbm = 2 R Sin ; tb akhir/ maks. = 2 R Sin

Cara pelaksanaan di lapangan , setelah titik-titik T1, T2 dan titik V (PI) di tentukan dilapangan,
maka pelaksanaan penetuan titik2 detail busur dapat ditentukan :

1. Alat ukur Theodolith di atas tutuk T1, atur nivo-nivo nya dan sentring alat di atas
patok T1.
2. Arahkan ke titik V (PI), atur sudut horizontal 0 0' 0 .
3. Bidik arah dan ukur jarak tb1 = 2 R Sin = ..... .... .... = .... m, maka akan
ketemu titik detail 1 pada busur.

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 8


Buku Ajar Pemetaan - 2

4. Alat theodolith tetap di atas titik T1, putar searah jarum jam sehingga sudut sebesar 2
x = .... .... .... .
5. Bidik arah , ukur jarak sebesar tb2 = 2R. Sin ( 2x ) = ... m , akan ketemu titik
detail 2 pada busur, begitu seterusnya sampai sudut = .... .... ...., ukur jarak
tbm = .... m, maka akan ketemu titik tenagh (M).
6. Begitu seterusnya sampai sudut = ..... .... .... , bidik arahnya, ukur jarak tb
maksimum = 2R. Sin = ..... m, maka sama/ harus berimpit dengan titik singgung
T2.

Kejelekan cara ini, kesalahan akan bertumpuk, sehingga cara ini hanya dipakai untuk
daerah yang sebelah luar busurnya tidak dapat dicapai, sehingga tidak dapat
menggunakan garis singgung.

Membuat busur di lapangan dengan cara POLIGON :


MEMBUAT BUSUR DI LAPANGAN DENGAN CARA
POLIGON
(90 - 1/2)
T1
a
1 (180 - 1/2) = 1
a 2
(180 - 1/2) =

a
3
(180 - 1/2) =
1/2
1/2 a

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 9


Buku Ajar Pemetaan - 2

a = tali busur = tb

Hitungan Poligon :

Di titik T1 = ( 90 - )
Di titik 1 & 2 = ( 180 - ) , bila sudut dalam ( yang menghadap ke pusat lingkaran )
Di titik 1 & 2 = ( 180 + ), bila sudut luar
Dan seterusnya, kecuali :
Di titik akhir = ( 180 - - ) , bila sudut dalam
Di titik akhir = ( 180 + + ) , bila sudut luar

Jarak lengannya = tb = 2R Sin = .... m , kecuali lengan terakhir tb = 2R Sin = .... m

Kesalahan akan bertumpuk, sehingga untuk memperkecil kesalahan dipergunakan sentering


paksaan dan sisi tb diambil sebesar mungkin. Cara ini dipakai untuk tempat yang sempit.

Cara pelaksanaan : ( bila titik T1 ; V /PI dan T2 sudah dihitung dan ditentukan di lapangan ).

1. Alat ukur Theodolith di atas tutuk T1, atur nivo-nivo nya dan sentring alat di atas
patok T1.
2. Arahkan ke titik V (PI), atur sudut horizontal 0 0' 0 .
3. Putar sudut searah jarum jam sebesar = .... ... .....
4. Bidik arah dan ukur jarak tb1 = 2 R Sin = ..... .... .... = .... m, maka akan
ketemu titik detail 1 pada busur.
5. Alat theodolith dipindah di titik detal 1, sentering, atur nivo agar stabil, arahkan ke
titik T1, atur sudut = 0 0 0 , putar searah jarum jam sehingga sudut sebesar ( 180
+ = .... .... .... .
6. Bidik arah , ukur jarak sebesar tb = 2R. Sin ( ) = ... m , akan ketemu titik detail
2 pada busur,
7. Begitu seterusnya seperti pada nomor 6 diatas, tetapi alat selalu dipindah ke titik
detail berikutnya, sampai pada titik sebelum titik T2, putar sudut terakhir sebesar
( 180 + + ) = .... .... ...., ukur jarak tb= 2R Sin = .... m, harus
sama/ berimpit dengan titik singgung T2.

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 10


Buku Ajar Pemetaan - 2

Membuat Busur di lapangan dengan cara :


Selisih Busur Sama Panjang

Xakhir

X4
X3

X2

X1
2
T1 tb 1 tb
tb
Y1 3

Y2 tb
1/2 4

Y3

Y4
R

Yakhir

Proyeksikan titik-titik 1,2,3 dan seterusnyake garis OT1 ( buat garis tegak lurus). Maka dari
segitiga tersebut dapat dihitung absis-absis dan ordinat-ordinat titik-titik detail pada busur
lingkaran.

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 11


Buku Ajar Pemetaan - 2

Abis sumbu jalur 1 : Ordinat, tegak lurus pada jalur 1 :

X1 = R Sin ( ) Y1 = R - V R^2 (X1) ^2


X2 = R Sin ( 2 ) Y2 = R - V R^2 (X2) ^2
X3 = R Sin ( 3 ) Y3 = R - V R^2 (X3) ^2

X4 = R Sin ( 4 ) Y4 = R - V R^2 (X4) ^2


Dan seterusnya
Xm = R Sin ( 1/4 ) Ym = R - V R^2 (Xm) ^2
Xakhir = R Sin ( ) Yakhir = R - V R^2 (Xakhir) ^2

Cara pelaksanaan di lapangan, setelah titik-titik T1, T2 dan V/PI ditentukan di lapangan, maka
pelaksanaan penentuan titik-titik detail busur dapat ditentukan :

1. Letakkan alat Theodolith di atas titik T1, atur nivo, sentring , arak ke titik V
2. Bidik arah V, ukur jarak X1 , X2, X3 dan seterusnya sampai Xm, maka akan dapat
ditentukan absis X1, X2 , X3 dan seterusnya.
3. Dari titik-titik X1, X2 X3 dst. Dirikan alat alat Theodolith, atur nivo, sentring di atas
patok, arahkan ke V/ PI, atur sudut horizontal 0 0 0 , putar sudut searah jarum jam
sebesar = 90 0 0 ( buat sudut siku-siku ), diukur jarak Y1 , Y2 , Y3 dst., maka akan
ketemu letak titik-titik detail di busur titik 1, titik 2, titik 3 dst. Sampai titik tengah M.
4. Ulangi kegiatan seperti nomor diatas, tetapi alat theodolit berdiri di titik T2 ( jalur 2 ),
sedang sudut diputar searah jarum jam sebesar = 270 0 0 ( buat sudut siku-siku ),
diukur jarak Y1 , Y2 , Y3 dst. Hingga Tm dan harus berimpit dengan pengukuran yang
dari arah jalur 1.

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 12


Buku Ajar Pemetaan - 2

PENGGUNAAN DIAGONAL EYEPIECE

Pengamatan sudut Vertical (Heling) atau sudut Zenith (Z) terbatas pada besar sudut heling
sebesar 75 atau sudut zenith 15 karena posisi teropong terbentur piringan alat Theodolith. Oleh
karena itu ada satu alat tambahan yang harus dipasangkan pada lobang teropong pengamatan
agar pengamatan2 tersebut bisa dilakukan lebih effisien. Alat tersebut adalah DIAGONAL
EYEPIECE yang dipasangkan pada lobang teropong sehingga pengamatan bisa dilakukan
melalui lobang alat tersebut.
Selain itu bisa untuk mengamati ketegakan (vertical) suatu bangunan tinggi, missal Monopole
atau Tower.

Cara penggunaannya :

1. Alat Theodolith didirikan di titik pengamatan P dan Q


2. Atur theodolit sehingga siap dipakai pengamatan, letakkan baak di posisi tengah2/ di
bawah titik2 yang akan diamati
3. Ukur jarak pakai pita ukur, kemudian kontrol dengan pengamatan optis untuk mengukur
jarak optis ( bacaan BT : BA : BB)
4. Kemudian pasang Diagonal Eyepiece, amati titik-titik setiap ketinggian/ perobahan
bentuk, baca dan catat sudut helling/ zenith pada setiap pengamatan titik.
5. Kemudian hitung tinggi dan elevasi pada setiap titik pengamatan, baik dari posisi alat A
dan B.

POSISI P : = .
Zo = 90 00 00 = helling = Zo - 90 = 0 0 0 EL 2 = EL o + TA = +
Tan = 0 D1 = 100 ( BA BB )

Z1 = .. 1 = Z1 - 90
Tan 1 = t1 / D t1 = D Tan 1 EL2 = EL1 + t1

Z2 = . 2 = Z2 - 90
Tan 2 = t2 / D t2 = D Tan 2 EL3 = EL 1 + t2

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 13


Buku Ajar Pemetaan - 2

Dan seterusnya .

POSISI Q : = .
Zo = 90 00 00 = helling = Zo - 90 = 0 0 0 EL 2 = EL o + TA= +
Tan = 0 D 2 = 100 ( BA BB )

Z1 = .. 1 = Z1 - 90
Tan 1 = t1 / D t1 = D Tan 1 EL2 = EL1 + t1

Z2 = . 2 = Z2 - 90
Tan 2 = t2 / D t2 = D Tan 2 EL3 = EL 1 + t2

Dan seterusnya .

1. Dari pengamatan titik yang sama dari kedua titik pengamatan, bisa dibandingkan , yang
semestinya mempunyai elevasi yang sama, tetapi kalao tidak karena apa ?
2. Perbedaan elevasi dari dua titik pengamatan pada satu titik sasaran, berapa ? apakah
konstan/ tetap ? Kalau tidak berapa perbedaannya ? Makin ke atas apakah semakin kecil
perbedaannya ? atau semakin besar ? Karena Apa ?

Dalam pengamatan suatu Monopole antene CCTV, pada suatu lokasi ( elevasi titik pengamatan +
5,00 ) , pengamatan dari sisi I :

1. Bacaan pada rambu : BA = 2,200 ; BT = 2,150 : BB = 2,100 dengan ukuran tinggi alat
terhadap dasar yang mempunyai elevasi EL 0A = + 5,000 adalah TA = 1,455 m, dengan
Zo = 90 0 0
2. Pengamatan perobahan pipa dasar dengan pipa kedua : Z1 = 75 30 45
3. Pengamatan perobahan pipa kedua dengan pipa diatasnya : Z2 = 55 45 30
4. Pengamatan perobahan berikutnya adalah : Z3 = 32 40 55
5. Pengamatan pucuk/ ujung monopole adalah Z4 = 25 35 35 .

Pengamatan dari sisi II :

1. Bacaan pada rambu : BA = 2,200 ; BT = 2,150 : BB = 2,100 dengan ukuran tinggi alat
terhadap dasar yang elevasi lain EL 0B, adalah TA = 1,550 m, dengan Zo = 90 0 0
2. Pengamatan perobahan pipa dasar dengan pipa kedua : Z1 = 75 30 55

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 14


Buku Ajar Pemetaan - 2

3. Pengamatan perobahan pipa kedua dengan pipa diatasnya : Z2 = 55 45 45


4. Pengamatan perobahan berikutnya adalah : Z3 = 32 41 15
5. Pengamatan pucuk/ ujung monopole adalah Z4 = 25 35 55 .

Berapa elevasi dari lokasi tempat alat didirikan di B ?

Berapa elevasi pada setiap titik pengamatan 1,2, 3 dan 4 ?

Apakah dari pengamatan tersebut baik dari lokasi A maupun B sama ? Kalau tidak kenapa ?

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 15


Buku Ajar Pemetaan - 2

Dpq
a

Q
EL 6

EL 5
Z4

Z3

EL 4 Z2

t4 t3 EL 3 Z1 Z0

t2 t1

EL 2
BT TA
EL0 = + 05,00

EL 1
D

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 16


Buku Ajar Pemetaan - 2

EL 5

EL 4

Z4

Z3 EL 3

Z2

Z0 EL 2

Z1

EL 1

EL 0A = + 5,000 BT

A D B

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 17


Buku Ajar Pemetaan - 2

Busur lapangan& Penggunaan Diagonal Eyepiece Page 18