Anda di halaman 1dari 16

Viskositas

III.

DASAR TEORI
Viskositas fluida merupakan ukuran ketahanan sebuah fluidaterhadap deformasi atau
perubahan bentuk.
Viskositas suatu gas bertambahdengan naiknya temperatur karena makin besarnya aktivitas
molekular ketikatemperatur meningkat.Pada zat cair, jarak antarmolekul jauh lebih kecil
dibanding padagas, sehingga kohesi molekuler di situ kuat sekali. Peningkatan
temperatur mengurangi kohesi molekuler, dan ini diwujudkan berupa berkurangnyaviskositas
fluida.Oleh karena itu, pada zat cair dapatlah ditentukan angkakekentalannya dengan
menggunakan viskositas benda yang dijatuhkan padafluida. Misalnya dengan menjatuhkan
kelereng.Pada dasarnya penentuan angka kekentalan atau koefisien viskositas () dengan
menggunakan Rumus Stokes sangatlah sederhana.Hanya saja untuk itu secara teknis diperlukan
kelereng dari bahan yang amatringan, misalnya dari aluminium, serta berukuran kecil, misalnya
dengan jari- jari sekitar 1 cm saja.Sewaktu kelereng hendak dijatuhkan ke dalam bejana kaca
yang berisi cairan yang hendak ditentukan koefisien viskositasnya, oleh gaya beratnya, kelereng
akan semakin cepat jatuhnya. Tetapi sesuai dengan RumusStokes, makin cepat gerakannya,
makin besar gaya gesekannya sehinggaakhirnya gaya berat itu tepat seimbang dengan gaya
gesekan dan jatuhnyakelerengpun dengan kecepatan tetap sebesar v sehingga berlaku
persamaan: mg= 6 rv ........... persamaan 1

Pengertian viskositas fluida (zat cair) adalah gesekan yang ditimbulkan oleh fluida yang bergerak, atau
benda padat yang bergerak didalam fluida. Besarnya gesekan ini biasa juga disebut sebagai derajat
kekentalan zat cair. Jadi semakin besar viskositas zat cair, maka semakin susah benda padat bergerak
didalam zat cair tersebut. Viskositas dalam zat cair, yang berperan adalah gaya kohesi antar partikel zat
cair (Anonim, 2009).
Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliaran fluida yang merupakan gesekan antara molekul
molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis cairan yang mudah mengalir, dapat dikatakan
memiliki viskositas yang rendah, dan sebaliknya bahan-bahan yang sulit mengalir dikatakan memiliki
viskositas yang tinggi (Anonim, 2009).
Viskositas suatu fluida adalah sifat yang menunjukkan besar dan kecilnya tahan dalam fluida terhadap
gesekan. Fluida yang mempunyai viskositas rendah, misalnya air mempunyai tahanan dalam terhadap
gesekan yang lebih kecil dibandingkan dengan fluida yang mempunyai viskositas yang lebih besar
(Anonim, 2010).
Gejala ini dapat dianalisis dengan mengintrodusir suatu besaran yang disebut kekentalan atau viskositas
(viscosity). Oleh karena itu, viskositas berkaitan dengan gerak relatif antar bagian-bagian fluida, maka
besaran ini dapat dipandang sebagai ukuran tingkat kesulitan aliran fluida tersebut. Makin besar
kekentalan suatu fluida makin sulit fluida itu mengalir (Anonim, 2010).

] merupakan analog dari koefisien virial (dan mempunyai dimensi 1/konsentrasi), (Atkins, 1996:
242).Adanya zat terlarut makromolekul akan menaikkan viskositas larutan. Bahkan pada konsentrasi
rendahpun, efeknya besar karena molekul besar mempengaruhi aliran fluida pada jarak yang jauh.
Viskositas intrinsik [
Viskositas suatu cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan alir cairan. Viskositas dapat
diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan
salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas (Bird, 1987:
57).
Aliran cairan dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe. Yang pertama adalah aliran laminar atau aliran
kental, yang secara umum menggambarkan laju aliran kecil melalui sebuah pipa dengan garis tengah
kecil. Aliran yang lain adalah aliran turbulen, yang menggambarkan laju aliran yang besar melalui pipa
dengan diameter yang lebih besar (Dogra, 1990: 209).
dihitung dengan hubunganKoefisien viskositas secara umum diukur dengan dua metode, yaitu
viskometer Oswald : waktu yang dibutuhkan untuk mengalirnya sejumlah tertentucairan dicatat, dan
" (P) R^4 t)/8Vl = ("
Umumnya koefisien viskositas dihitung dengan membandingkan laju cairan dengan laju aliran yang
koefisien viskositasnya diketahui. Hubungan itu adalah
_2 = (d_1 t_1)/(d_2 t_2 )_1/
(Dogra, 1990: 211).
), karena perbandingan viskositas larutan dan pelarut murni, sebanding dengan waktu pengaliran t dan
t* setelah dikoreksi untuk perbedaan rapatan dan *Viskositas diukur dengan beberapa cara. Dalam
viskometer Oswald, waktu yang diperlukan oleh larutan untuk melewati pipa dicatat, dan dibandingkan
dengan sampel standar. Metode ini cocok untuk penentuan (
= t/t^* x /^*/
(Atkins, 1996: 242).

Dalam menafsirkan pengukuran viskositas, banyak terdapat kerumitan.kebanyakan pengukuran (tidak


semuanya) didasarkan pada pengamatan empiris, dan penentuan massa molar biasanya didasarkan
pada pembandingan dengan sampel standar (Atkins, 1996: 242).
Salah satu kerumitan dalam pengukuran dalam pengukuran intensitas adalah: dalam beberapa kasus,
ternyata fluida itu bersifat non-Newtonian, yaitu viskositasnya berubah saat laju aliran bertambah.
Penurunan viskositas dengan bertambahnya laju aliran menunjukkan adanya molekul seperti batang
panjang, yang terorientasi oleh aliran itu, sehingga saling meluncur melewati satu sama lain dengan
lebih bebas. Dalam beberapa kasus, tekanan yang disebabkan oleh aliran menjadi sangat besar,
sehingga molekul panjang terputus-putus. Ini membawa konsekuensi lebih lanjut pada viskositas
(Atkins, 1996: 242).
Pada viskometer Oswald, yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu cairan
untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Pada
percobaan sebenarnya, sejumlah tertentu cairan (misalnya 10 cm3, bergantung pada ukuran
viskometer) dipipet ke dalam viskometer. Cairan kemudian diisap melalui labu pengukur dari viskometer
sampai permukaan cairan lebih tinggi dari batas a. Cairan kemudian dibiarkan turun. Ketika
permukaan cairan turun melewati batas a, stopwatch mulai dinyalakan dan ketika cairan melewati
batas b, stopwatch dimatikan. Jadi waktu yang dibutuhkan cairan untuk melalui jarak antara a dan
b dapat ditentukan. Tekanan P merupakan perbedaan tekanan antara kedua ujung pipa U dan
besarnya diasumsikan sebanding dengan berat jenis cairan (Bird, 1987: 57).
Menurut Anonim (2010), alat yang dipakai untuk menentukan Viskositas dinamakanViskometer. Ada
beberapa jenis viskometer, yaitu :
Viscometer Ostwald
Viscometer Lehman
Viscometer bola jatuh dari Stokes
Nilai viscositas Lehman didasarkan pada waktu kecepatan alir cairan yang akan diuji atau dihitung nilai
viscositasnya berbanding terbalik dengan waktu kecepatan alir cairan pembanding, dimana cairan
pembanding yang digunakan adalah air (Anonim, 2010).
Menurut Anonim (2010), Viscometer bola jatuhStokes. Terhadap sebuah benda yang bergerak jatuh
didalam fluida bekerja tiga macam gaya, yaitu :
Gaya gravitasi atau gaya berat (W). gaya inilah yang menyebabkan benda bergerak ke bawah dengan
suatu percepatan.
Gaya apung (buoyant force) atau gaya Archimedes (B). arah gaya ini keatas dan besarnya sama dengan
berat fluida yang dipindahkan oleh benda itu.
Gaya gesek (Frictional force) Fg, arahnya keatas dan besarnya

1.1 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan koefisien viskositas bermacam-macam cairan dengan
menggunakan hukum stokes.

1.2 Latar Belakang


Viskositas suatu fluida merupakan kekentalan suatu fluida, yang merupakan indeks hambatan
aliran cairan. Viskositas dapat diukur / ditentukan dengan mengukur laju alir cairan yang melalui
tabung berbentuk silinder. Viskositas fluida / cairan dipengaruhi oleh jenis fluida serta suhu, untuk
larutan, viskositasnya dipengaruhi oleh konsentrasi.
Pada dasarnya hambatan gerakan benda didalam fluida disebabkan oleh gaya gesekan antara bagian
fluida. Pada umumnya pengukuran koefesien viskositas fluida, khususnya cairan adalah
berdasarkan hambatan gerakan bendadidalam fluida. Penentuan viskositas dengan hukum stokes
sangat sederhana hanya saja diperlukan kelereng dari bahan amat ringan.
Percobaan ini dilakukan untuk menentukan koefesien viskositas bermacam-macam cairan dengan
menggunakan hukum stokes. Dengan mengetahui viskositas tersebut, maka kita dapat menghitung
gaya yang terjadi.

BAB II
DASAR TEORI

Viskositas suatu cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan alir cairan. Viskositas
dapat ditentukan dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Cara
ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun
gas (Bird, 1985).
Viskositas berkaitan dengan keadaan atau fase viskeus, yakni fase diantara padat dan cair yang
terjadi sewaktu bahan padat menjadi lembek sebelum cair sewaktu dipanaskan. Tidak semua bahan
bahan padat mengalami fase viskeus sebelum menjadi cair. Dalam fase viskeus mengalirnya bahan
tidak leluasa seperti cairan, karena adanya hambatan diantara bagian-bagiannya atau diantara
lapisan-lapisannya dalam gerakan alirannya (Soedojo, 2004).
Viskositas berkaitan dengan keadaan dan tak lain membicarakan masalah gesekan antara bagian-
bagian atau lapisan-lapisan cairan atau fluida pada umunya, yang bergerak satu terhadap yang lain.
Gesekan atau hambatan tersebut ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antar molekul disatu lapisan
dengan molekul-molekul di lapisan lain. Gaya interaktif itu terutama ialah gaya elektrostatika, yaitu
gaya antara muatan-muatan listrik (Soedojo, 2004).
Aliran cairan dapat dikelompokkan dalam dua tipe. Yang pertama adalah aliran laminar atau aliran
kental yang secara umum menggambarkan laju aliran kecil. Aliran yang lain adalah aliran turbilan
yang menggambarkan laju aliran yang besar melalui pipa dengan diameter yang besar (Dogra &
Dogra, 1990).
Gaya gesekan antara permukaan benda padat dengan fluida medium dimana benda itu bergerak
akan sebanding dengan koefisien realtif gerak benda itu terhadap medium (Soedojo, 2004).
fluida. Menurut stokes, gaya gesekan itu diberikan oleh apa yang disebut hukum stokes.Pada
dasarnya hambatan gerakan benda padat di dalam fluida disebabkan oleh gaya gesekan antara
bagian fluida yang melekat ke permukaan benda dengan bagian-bagian fluida diebelahnya dimana
gaya gesekan itu diberikan sebanding dengan koefisien
v (1) r F = 6
F = Gaya gesek
r = jari-jari bola
v = kecepatan gerak bola
= viskositas fluida (Soedojo, 2004).
Besarnya koefisien viskositas bergantung pada jenis dan suhu fluida; untuk larutan, besarnya
koefisien viskositas bergantung pada konsentrasi larutan tersebut. Pada umumnya pengukuran
koefisien viskositas fluida, khususnya cairan adalah berdasarkan hambatan gerakan benda di dalam
benda. Misalnya dengan mengukur kecepatan berputarnya silinder pada sumbunya bila silinder itu
dibenamkan di dalam cairan yang hendak ditentukan koefisien viskositasnya dan dengan
menetapkan kelereng alumunium yang sedang jatuh bebas dalam cairan (Soedojo, 2004)
1. III. Teori

Rheologi, berasal dari bahasa Yunani, mengalir (rheo) dan logos (ilmu), digunakan
istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Crawford, untuk menggambarkan
aliran cairan dan deormasi dari padatan. Viskositas adalah suatu pernyataan
tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositas, akan makin
besar tahanannya.

Seperti akan terihat nanti, cairan sederhana (biasa) dapat diuraikan dalam istilah
viskositas absolute. Tetapi sifat-sifat rheologi disperse heterogen lebih kompleks
dan tidak dapat dinyatakan dalam suatu satuan tunggal. (Martin,1990)

Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sebagai berikut:
Sistem Newton dan Sistem non-Newton. Pemilihan bergantung pada sifat-sifat
alirannya apakah sesuai dengan hukum aliran Newton atau tidak. Sistem Newton
menggambarkan bahwa makin besar viskositas suatu cairan, akan makin besar pula
gaya persatuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan
suatu rate of shear tertentu. Oleh karena itu rate of shear harus berbanding
langsung dengan shearing stress atau

Atau

Dimana adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan hanya sebagai viskositas


saja.Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperatur, maka viskositas
cairan justru menurun jika temperatur dinaikkan. Fluiditas dari suatu cairan yang
merupakan kebalikan dari viskositas gas akan meningkat dengan makin tingginya
temperatur. Ketergantungan viskositas terhadap temperatur untuk sebagian besar
zat dinyatakan oleh persamaan yang analog dengan persamaan kinetika kimia
Arrhenius.(Ahmad,2007)

Penggolongan zat/bahan menurut tipe alir

1. 1. Sistem Newtonian

Hukum alir dari Newton diilustrasikan sebagai berikut :

Diasumsikan bahwa ada sebuah balok cairan yang terdiri dari lapisan-lapisan
molekul paralel, bagaikan setumpuk kartu. Jika bidang cairan paling atas bergerak
dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan di bawahnya akan bergerak dengan
suatu kecepatan yang berbanding lurus dengan jarak dari lapisan dasar yang tetap
diam.
Non Newtonian bodies adalah zat zat yang tidak mengikuti persamaan aliran
Newton; disperse heterogen cairan dan padatn seperti larutan koloid, emulsi,
suspense cair, salep dan produk produk serupa masuk dalam kelas ini. Ada tiga
kelas aliran yakni

1. a. Aliran Plastis

Aliran plastic diasosiasikan dengan adanya partikel-partikel terflokulasi dalam


suspense yang pekat. Akibatnya suatu struktur yang kontinu terjadi di seluruh
system. Adanya yield value dikarenakan bergabungnya partikel-partikel (yang
disebabkan gaya Van Der Waals), yang harus dipecahkan sebelum aliran terjadi.
Jadi yield value merupakan suatu indikasi dari gaya flokulasi. Makin banyak
suspense yang terflokulasi, makin tinggi yield valuenya. Gaya-gaya friksional
(geser) antara partikel-partikel yang bergerak dapat juga mempunyai andil akan
adanya yield value. Sesuai dengan bentuk kurva, maka sekali yield value
dilampaui, pemberian tekanan geser selanjutnya (F-f) akan berbanding lurus
dengan kecepatan gesernya, G. Efeknya, system aliran plastic tersebut akan
menyerupai sistem newton.

1. b. Aliran Pseudoplastis

Sejumlah besar produk farmasi termasuk gom alam dan sintesis, misalnya :
dispersi cair dari traga ileh polimer-polimer dalam larutan, yang merupakan
kebalikan dari sistem plastis, yang tersusun dari partikel-partikel yang terflokulasi
dalam suspensi, kurva konsistensi untuk bahan pseudoplastis mulai pada titik (0,0)
atau paling tidak mendekatinya rate of shear rendah. Akibatnya, berlawanan
dengan Bingham Bodies, tidak ada yield value. Tapi karena tidak ada bagian kurva
yang linier, maka kita tidak dapat menyatakan viskositas suatu bahan pseudoplastis
dengan suatu harga tunggal.

1. c. Aliran dilatan

Suspensi-suspensi tertentu dengan persentase zat padat terdispersi yang tinggi


menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan peningkatan
dalam daya hambat untuk mengalir dengan meningkatnya rate of share. Pada
sistem seperti itu sebenarnya volumenya meningkat jika terjadi shear dan oleh
karena itu diberi istilah dilatan. (Martin,1990)

Istilah Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik
dengan tekanan maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan hanya untuk
fluida), viskositas adalah Ketebalan atau pergesekan internal. Oleh karena itu,
air yang tipis, memiliki viskositas lebih rendah, sedangkan madu yang tebal,
memiliki viskositas yang lebih tinggi. Sederhananya, semakin rendah viskositas
suatu fluida, semakin besar juga pergerakan dari fluida tersebut. (Rachmat,2006)
Aliran viskos adalah aliran zat cair yang mempunyai kekentalan (viskositas).
Kekentalan adalah sifat zat cair untuk melawan tegangan geser pada waktu
bergerak/mengalir. Kekentalan disebabkan karena kohesi antara partikel zat cair.
Zat cair ideal tidak mempunyai kekentalan. Aliran viskos dapat dibedakan menjadi
dua macam. Apabila pengaruh kekentalan (viskositas) adalah cukup dominan
sehingga partikel-partikel zat cair bergerak secara teratur menurut lintasan lurus
maka aliran disebut laminer. Aliran laminer terjadi apabila kekentalan besar dan
kecepatan aliran kecil. Dengan berkurangnya pengaruh kekentalan atau
bertambahnya kecepatan maka aliran akan berubah dari laminer manjadi turbulen.
Pada aliran turbulen partikel-partikel zat cair bergerak secara tidak
teratur.(Satyjit,2009)

Bila fluida diberi tegangan geser, maka ia akan mengalami perubahan bentuk,
dengan kata lain ia mengalami regangan geser. Selain itu bagian yang terkena
tegangan geser, langsung akan bergerak inilah yang disebut sebagai aliran. Jadi
jelaslah bahwa zat padat tidak tergolong fluida, karena bila dikenai tegangan geser
zat padat tidak akan mengalir. Osborne Reynolds berpendapat bahwa tipe aliran
tergantung dari kecepatan, kerapatan dan kekentalan dari cairan dan ukuran dari
tempat mengalirnya dan tergantung pula dari angka Reynolds.(Didik,2008)

Kekentalan zat cair menyebabkan terbentuknya gaya-gaya geser antara dua elemen
zat cair. Keberadaan kekentalan ini menyebabkan terjadinya kehilangan tenaga
selama pengaliran atau diperlukannya energi untuk menjamin adanya pengaliran.
Viskositas gas meningkat dengan suhu, tetapi viskositas cairan berkurang dengan
naiknya suhu. Perbedaan dalam kecenderungan terhadap suhu tersebut dapat di
terangkan dengan menyimak penyebab-penyebab viskositas. Tahanan suatu fluida
terhadap tegangan geser tergantung pada kohesinya dan pada laju perpindahan
momentum molekulnya. Cairan dengan molekul-molekul yang jauh lebih rapat
dari pada gas, mempunyai gaya-gaya kohesi yang jauh lebih besar dari pada gas.
Kohesi nampaknya merupakan penyebab utama viskositas dalam cairan dan karena
kohesi berkurang dengan naiknya suhu, maka demikian pula viskositas. Sebaliknya
gas mempunyai gaya-gaya kohesi yang sangat kecil. Sebagian besar dari
tahanannya terhadap tegangan geser merupakan akibat perpindahan momentum
molekuler. (Martin,1990)

Tegangan molekular menimbulkan tegangan geser semu dalam gas, yang lebih
penting dari pada gaya-gaya kohesi, dan karena kegiatan molekular meningkat
dengan suhu, maka viskositas gas juga meningkat dengan suhu. Untuk tekanan-
tekanan yang biasa viskositas tidak tergantung pada tekanan dan tergantung pada
suhu saja. Untuk tekanan yang sangat besar, gas-gas dan kebanyakan cairan
menunjukkan variasi viskositas yang tidak menentu terhadap tekanan.(Didik,2008)

Alat untuk mengukur viskositas adalah viskometer. Berikut adalah macam-macam


viskometer :
1. Viskometer kapiler

2. Viskometer bola jatuh

3. Viskometer cup dan bup

4. viskometer cone dan plate

Apabila pemilihan alat tidak tepat, maka produk farmasi yang dihasilkan pun tidak
sesuai dengan yang dikehendaki. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk
karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas
yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari
bahan, penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari jarum suntik.
Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien,
stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability).
Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam
tubuh. (Rahman,2008)

Fluida dapat digolongkan ke dalam cairan atau gas. Perbedaan-perbedaan utama


antara cairan dan gas adalah (a) cairan praktis tak kompresibel, sedangkan gas
kompresibel dan sering kali harus diperlakukan demikian dan (b) cairan mengisi
volume tertentu dan mempunyai permukaan-permukaan bebas sedangkan gas
dengan massa tertentu mengembang sampai mengisi seluruh bagian wadah
tempatnya.(Didik,2008)

Latar Belakang
Kekentalan adalah sifat dari suatu zat cair (fluida) disebabkan adanya gesekan antara
molekul-molekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair tersebut. Gesekan-gesekan inilah
yang menghambat aliran zat cair. Besarnya kekentalan zat cair (viskositas) dinyatakan
dengan suatu bilangan yang menentukan kekentalan suatu zat cair. Hukum viskositas Newton
menyatakan bahwa untuk laju perubahan bentuk sudut fluida yang tertentu maka tegangan
geser berbanding lurus dengan viskositas.

Suatu zat memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang dimasukkan
kedalamnya mendapat gaya tekanan yang diakibatkan peristiwa gesekan antara permukaan
padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh, apabila kita memasukkan sebuah bola kecil
kedalam zat cair, terlihatlah batu tersebut mula-mula turun dengan cepat kemudian melambat
hingga akhirnya sampai didasar zat cair. Bola kecil tersebut pada saat tertentu mengalami
sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak lurus beraturan. Gerakan bola kecil
menjelaskan bahwa adanya suatu kemampuan yang dimiliki suatu zat cair sehingga
kecepatan bola berubah. Mula-mula akan mengalami percepatan yang dikarenakan gaya
beratnya tetapi dengan sifat kekentalan cairan maka besarnya percepatannya akan semakin
berkurang dan akhirnya nol. Pada saat tersebut kecepatan bola tetap dan disebut kecepatan
terminal. Hambatan-hambatan dinamakan sebagai kekentalan (viskositas). Akibaat viskositas
zat cair itulah yang menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup drastic terhadap
kecepatan batu.
Aliran viskos, dalam berbagai masalah keteknikan pengaruh viskositas pada
aliran adaalh kecil, dan dengan demikian diabaikan. Cairan kemudian dinyatakan sebagai
tidak kental (invicid) atau seringkali ideal dan diambil sebesar nol. Tetapi jika istilah aliran
viskos dipakai, ini berarti bahwa viskositas tidak diabaikan.
Untuk benda homoogen yang dicelupkan kedalam zat cair ada tiga
kemungkinan yaitu, tenggelam, melayang, dan terapung.
Oleh kaarena itu percobaan ini dilakukan agar praktikan dapat mengukur
viskositas berbagai jenis zat cair. Karena semakin besar nilai viskositas dari larutan maka
tingkat kekentalan larutan tersebut semakin besar pula.

1.2 Tujuan
- Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas
- Mengetahui macam-macam metode pengukuran viskositas
- Mempelajari kegunaan dari alat viskometer Ostwald dan piknometer

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Viskositas suatu zat cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan aliran
cairan. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan, yang melalui tabung
berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat
digunakan baik untuk cairan maupun gas (Bird, 1993).
Viskositas adalah indeks hambatan aliran cairan. Viskositas dapat diukur dengan
mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Viskositas ini juga
disebut sebagai kekentalan suatu zat. Jumlah volume cairan yang mengalir melalui pipa per
satuan waktu.

= viskositas cairan
V = total volume cairan
t = waktu yang dibutuhkan untuk mencair
p = tekanan yang bekerja pada cairan
L = panjang pipa (Bird, 1993).

Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya
mengalir pada kecepatan tertentu. Viskositas disperse koloid dipengaruhi oleh bentuk partikel
dari fase disperse dengan viskositas rendah, sedang system disperse yang mengandung
koloid-koloid linier viskositasnya lebih tinggi. Hubungan antara bentuk dan viskositas
merupakan refleksi derajat solvasi dari partikel (Respati, 1981).
Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperature, maka viskositas
cairan justru akan menurun jika temperature dinaikkan. Fluiditas dari suatu cairan yang
merupakan kelebihan dari viskositas akan meningkat dengan makin tingginya temperature
(Bird,1993).

Cara-cara penentuan viskositas


a. Pada viscometer Ostwald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu
cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu
sendiri. Pada percobaan sebenarnya, sejumlah tertentu cairan (misalnya 10 cm3, bergantung
pada ukuran viscometer) dipipet kedalam viscometer. Cairan kemudian dihisap melalui labu
pengukur dari viscometer sampai permukaan cairan lebih tinggi daripada batas a. cairan
kemudian dibiarkan turun ketika permukaan cairan turun melewati batas a, stopwatch mulai
dinyalakan dan ketika cairan melewati tanda batas b, stopwatch dimatikan. Jadi waktu yang
dibutuhkan cairan untuk melalui jarak antara a dan b dapat ditentukan. Tekanan merupakan
perbedaan antara kedua ujung pipa U dan besarnya disesuaikan sebanding dengan berat jenis
cairan (Respati,1981).

Dimana : p = tekanan hidrostatis


r = jari-jari kapiler
t = waktu aliran zat cair sebanyak volume V dengan beda tinggi h
L = panjang kapiler

Untuk air :
air = r4 . ta . pa.g.h / ( 8VL) .............. persamaan 3
Secara umum berlaku :
x = r4 . tx . px.g.h / ( 8VL)
Jika air digunakan sebagai pembanding, maka :
x / air = tx.x / taa
(Respati,1981).

b. Viskometer hoppler
Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah bola
logam untuk melewati cairan setinggi tertentu. Suatu benda karena adanya gravitasi akan
jatuh melalui medium yang berviskositas (seperti cairan misalnya), dengan kecepatan yang
semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum. Kecepatan maksimum akan tercapai
bila gravitasi sama dengan fictional resistance medium (Bird,1993).
Berdasarkan hokum stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan
sehingga : gaya gesek = gaya berat, gaya Archimedes :
6rVmax = 4/3 r3 (bola cair) g .............. persamaan 4
= { 2/g r3 (bola cair) g } / Vmax
Vmax = h / t
Dimana : t = waktu jatuh bola pada ketinggian h
Dalam percobaan ini dipakai cara relative terhadap air, harganya :
a = [ 2/g r2 (a 1) g ta ] / h
x = [ 2/g r2 (x 1) g tx ] / h
x/ a = [ (x 1) g tx ] / [ (a 1) g ta ]

c. Viscometer cup dan Bob


Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antara dinding luar
Bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengan-tengah. Kelemahan
viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan gesekan yang tinggi
disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penemuan konsentrasi. Penurunan
konsentrasi ini menyebebkan bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut
aliran sumbat (Bird, 1993).

d. Viskometer Cone dan Plate


Cara pemakaiannya adalah sampek yang ditempatkan di tengah-tengah papan,
kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan
bermacam kecepatan dan sampelnya digeser didalam ruang sempit antara papan yang diam
dan kemudian kerucut yang berputar (Bird, 1993).

Konsep Viskositas
Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat
kekentalan yang berbeda. Viskositas alias kekentalan sebenarnya merupakan gaya gesekan
antara molekul-molekul yang menyusun suatu fluida. Jadi molekul-molekul yang membentuk
suatu fluida saling gesek-menggesek ketika fluida fluida tersebut mengalir. Pada zat cair,
viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis).
Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara molekul (Bird, 1993).
Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air. Sebaliknya,
fluida yang lebih kental biasanya lebih sulit mengalir, contohnya minyak goreng, oli, madu,
dan lain-lain. Hal ini bias dibuktikan dengan menuangkan air dan minyak goreng diatas
lanyai yang permukaannya miring. Pasti hasilnya air lebih cepat mengalir dari pada minya
goreng atau oli. Tingkat kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Semakin tinggi
suhu zat cair, semakin kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika ibu menggoreng ikan
di dapur, minyak goreng yang awalnya kental, berubah menjadi lebih cair ketika dipanaskan.
Sebaliknya, semakin tinggi suhu suatu zat gas, semakin kental zat gas tersebut.
Perlu diketahui bahwa viskositas atau kekentalan hanya ada pada fluida rill (rill =
nyata). Fluida rill / nyata adalah fluida yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti
air sirup, oli, asap knalpot, dan lainnya. Fluida rill berbeda dengan fluida ideal. Fluida ideal
sebenarnya tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Fluida ideal hanya model yang digunakan
untuk membantu kita dalam menganalisis aliran fluida (fluida ideal ini yang kita pakai dalam
pokok bahasan fluida dinamis) (Bird, 1993).
Satuan system internasional (SI) untuk koifisien viskositas adalah Ns/m2 = Pa.S.........
persamaan 2 (pascal sekon). Satuan CGS (centimeter gram sekon) untuk SI koifisien
viskositas adalah dyn.s/cm2 = poise (p). Viskositas juga sering dinyatakan dalam sentipolse
(cp). 1 cp = 1/1000 p. satuan poise digunakan untuk mengenang seorang Ilmuwan Prancis,
almarhum Jean Louis Marie Poiseuille.
1 poise = 1 dyn. s/cm2 = 10-1 N.s/m2
Fluida adalah gugusan molukel yang jarak pisahnya besar, dan kecil untuk zat cair.
Jarak antar molukelnya itu besar jika dibandingkan dengan garis tengah molukel itu.
Molekul-molekul itu tidak terikat pada suatu kisi, melainkan saling bergerak bebas terhadap
satu sama lain. Jadi kecepatan fluida atau massanya kecapatan volume tidak mempunyai
makna yang tepat sebab jumlah molekul yang menempati volume tertentu terus menerus
berubah (while, 1988).
Fluida dapat digolongkan kedalam cairan atau gas. Perbedaan-perbedaan utama antara
cair dan gas adalah :
a. Cairan praktis tidak kompersible, sedangkan gas kompersible dan seringkali harus
diperlakukan demikian.
b. Cairan mengisi volume tertentu dan mempunyai permukaan-permukaan bebas, sedangkan
agar dengan massa tertentu mengembang sampai mengisi seluruh bagian wadah tempatnya
(While, 1988).

Definisi Piknometer
Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa jenis atau
densitas dari fluida. Berbagai macam fluida yang diukur massa jenisnya, biasanya dalam
praktikum yang diukur adalah massa jenis oli, minyak goreng, dan lain-lain. Piknometer itu
terdiri dari 3 bagian, yaitu tutup pikno, lubang, gelas atau tabung ukur. Cara menghitung
massa fluida yaitu dengan mengurangkan massa pikno berisi fluida dengan massa pikno
kosong. Kemudian di dapat data massa dan volume fluida, sehingga tinggal menentukan nilai
cho/massa jenis () fluida dengan persamaan = cho () = m/v (Whille, 1988).
Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas :
1. Suhu
Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan turun, dan
begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel cairan yang
semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurun kekentalannya.
2. Konsentrasi larutan
Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi
tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan
banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang
terlarut, gesekan antar partikrl semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula.
3. Berat molekul solute
Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solute. Karena dengan adanya solute yang
berat akan menghambat atau member beban yang berat pada cairan sehingga manaikkan
viskositas.
4. Tekanan
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan.

4.3 Pembahasan
Viskositas diartikan sebagai resistensi atau ketidakmauan suatu bahan untuk mengalir
yang disebabkan karena adanya gesekan atau perlawanan suatu bahan terhadap deformasi
atau perubahan bentuk apabila bahan tersebut dikenai gaya tertentu.
Viskositas secara umum dapat juga diartikan sebagai suhu tendensi untuk melawan
aliran cairan karena internal friction untuk resistensi suatu bahan untuk mengalami deformasi
bila bahan tersebut dikenai suatu gaya. Semakin besar resistensi zat cair untuk mengalir,
maka semakin besar pula viskositasnya. Viskositas pertama kali diselidiki oleh Newton, yaitu
dengan mensimulasikan zat cair dalam bentuk tumpukan kartu. Zat cair diasumsikan terdiri
dari lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan terbawah tetap diam,
sedangkan lapisan atasnya bergerak, dengan cepatan konstan sehingga setiap lapisan
memiliki kecepatan gerak yang berbanding langsung dengan jaraknya terhadap lapisan
terbawah. Perbedaan kecepatan dv antara dua lapisan yang dipisahkan dengan jarak sebesar
dx adalah dv/dx atau kecepatan gesek. Gaya per satuan luas yang diperlukan untuk
mengalirkan zat cair tersebut F/A atau tekanan geser.
Viskositas suatu bahan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu, viskositas
berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan turun dan begitu pula
sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel cairan yang semakin
cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurunkan kekentalannya. Konsentrasi larutan,
viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi
tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan
banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang
terlarut, gesekan antar partikel semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula. Berat
molekul solute, viskositas berbanding lurus dengan berat molukel solute, karena dengan
adanya solute yang berat akan menghambat atau memberi beban yang berat pada cairan
sehingga menaikkan viskositasnya. Tekanan, akan bertambah jika nilai dari viskositas itu
bertambah. Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu zat cair.
Pada viscometer Ostwald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah
tertentu cairn untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat
cairan itu sendiri. Berdasarkan hokum Heagen Poiseuille : = cpr4t/(8VL) P = pgh =
pr4pgh/(8VL). Dimana p = tekanan hidrostatis, r = jari-jari kapiler, t= waktu alir zat cair
sebanyak volume V dengan beda tinggi h, L = panjang kapiler. Untuk air : air =
pr4 ta. Pa.g.h / (8VL) secara umum berlaku x = pr4txpxgh / (8VL). Jika air digunakan
sebagai pembanding maka x/ air = txpx/tapa (Tim Kimia Fisik, 2010 )
Berdasarkan hokum stokes dengan mengamati jatuhnya benda melalui medium zat
cair yang mempunyai gaya gesek yang makin besar bila kecepatan benda jatuh makin besar
= 2r.2d dm.g.9.s.t (1+2, 4rR). Ketererangan cairan, g = gaya gravitasi, s = jarak jatuh (a
ob), t = waktu bola jatuh, r = jari-jari tabung viskosimeter (Anekcheiftein,2010)
Persamaan Navier-stokes (dinamakan dari daude Louis Navier dan Gorge Gabriel
Stokes), adalah serangkaian persamaan yang menjelaskan pergerakan dari suatu fluida seperti
cairan dan gas. Persamaan-persamaan ini menyatakan bahwa perubahan dalam momentum
(percepatan) partikel-partikel fluida yang bergantung hanya kepada gaya viskos tekanan
eksternal yang bekerja pada fluida. Kita dapat mengembangkan persamaan gerakan untuk
fluida, nyata dengan memperhatikan gaya-gaya yang bekerja pada suatu elemen kecil fluida.
Penurunan persamaan ini, yang disebut persamaan Navier-stokes (Streeter, 1996).
Hukum Poiseville berlaku hanya pada aliran fluida laminar dengan viskositas konstan
yang tidak bergantung pada kecepatan fluida. Bila aliran fluida cukup besar, aliran laminar
rusak dan mengalami turbulensi. Kecepatan kritis yang diatasnya dari tabung, jika fluida
mengalir lewat sebuah pipa panjang horizontal berpenampang konstan yang sempit tekanan
sepanjang akan konstan.
Cara penentuan harga kekuatan dalam percobaan ini menggunakan metode Ostwald
yang mana prinsip kerjanya berdasarkan waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu
cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu
sendiri. Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas disebut viscometer.
Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis atau densitas
dari fluida. Piknometer terdiri dari 3 bagian, yaitu : tutup pikno, lubang, dan gelas atau
tabung ukur. Satuan yang digunakan, biasanya massa dalam satuan gram, volume dalam
satuan mL = cm3. Jadii satuan P adalah dalam g / cm3.
Metode pengukuran viskositas terdiri dari viknometer kapiler / Ostwald pada metode
ini viskositas ditetntukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan uji untuk
lewat antara dua tanda ketika ia mengalir karena gravitasi, melalui satuan tabung kapiler
vertical. Waktu alir dari cairan yang diuji, dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi
suatu cairan yang viskositasnya sudah diketahui, biasanya air, untuk lewat antara dua tanda
tersebut. Jika 1 dan 2 maing-masing adalah viskositas dari cairan yg tidak diketahui dan
cairan standar, p1 dan p2 adalah kerapatan dari masing-masing cairan, t1 dan t2 masing-
masing adalah waktu alir dalam detik. Viskosimeter Hoppler, pada viskositas ini yang diukur
adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah bola logam untuk melewati cairan setinggi
tertentu. Suatu benda karena adanya gravitasi akan jatuh melalui medium yang berviskositas
dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum. Kecepatan
maksimum akan tercapai bila gravitasi sama dengan frictional resistance medium.
Viscometer cup dan Bob, prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antara dinding luar
dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan
viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi
disepanjangkeliling bagian tube sehingga menyebabkan penemuan konsentrasi. Penurunan
konsentrasi ini menyebabkan bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut
aliran summbat. Viscometer corner dan plate, cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan
ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut-kerucut
digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser didalam ruang
sempit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar.
Dari percobaan pengukuran viskositas zat cair didapatkan nilai rata-rata aquades 1,27,
alcohol 1,89, bensin 0,98, dan minyak goring 50,12. Selain itu didapatkan juga hasil
pengukuran densitas larutan aquades sebesar 1,019, alcohol 0,905, bensin 0,775, dan minyak
goring 0,93. Pengukuran viskositas secara teori pada aquades sebesar 0,0080 p, alcohol
0,0103 p, bensin 0,005793 P,minyak goring 0,0327 p. Pengukuran viskositas secara praktik
pada alcohol 0,010, bensin 0,00469, dan minyak goring sebesar 0,2881. Jelas terlihat bahwa
viskositas yang tertinggi terdapat pada minyak goreng yang terkecil terdapat pada bensin.
Artinya minyak goreng merupakan larutan yang paling kental.
Dalam percobaan terdapat beberapa bahan yang digunakan yaitu alcohol, nama
lainnya adalah etanol, senyawa ini merupakan liquid yang tidak berwarna dan mudah
menguap pada suhu rendah serta mudah terbakar pada suhu tinggi. Alcohol memiliki rumus
molekul CH3OH. Alcohol memiliki kerapatan 0,79 g/cm3, titik didih : 78oC (3,5 K). alcohol
dapat bercampur dengan pelarut organic. Air, rumus molekulnya H2O, densitasnya 1000 kg
m-3, liquid (4oC), 917 kg m-3, solid, titik didih 100oC, 212oF (373,15oK), viskositasnya 0,001
pa/s t 20o. merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak
berbau pada keadaan standar. Bensin (gasoline) yang memiliki rumus kimia C5-C12, mudah
terbakar. Minyak goreng, memiliki titik didih tinggi, viskositas tinggi, bersifat polar, dan
pada suhu kamar bentuknya cair.
Dalam percobaan ini terdapat beberapa faktor kesalahan yaitu alat-alat yang kurang
bersih, sehingga didapatkan hasil yang kurang maksimal, begitu juga dalam menggunakan
stopwatch yang kurang tepat, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.
Aplikasi viskositas dalam kehidupan sehari-hari adalah :
- Mengalirnya darah dalam pembuluh darah vena
- Proses penggorengan ikan (semakin tinggi suhunya, maka semakin kecil viskositas minyak
goreng)
- Mengalirnya air dalam pompa PDAM yang mengalir kerumah-rumah kita
- Tingkat kekentalan oli pelumas

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
- Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas yaitu suhu, tekanan, konsentrasi larutan, dan
berat molekul solute.
- Metode pengukuran viskositas yaitu viscometer kapiler/Ostwald, viscometer Hoppler,
viscometer cup dan bob, dan viscometer cone dan plate.
- Kegunaan dari viscometer Ostwald adalah alat yang digunakan untuk mengukur waktu yang
dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat 2 tanda ketika mengalir karena gravitasi melalui
pipa kapiler viscometer Ostwald. Dan kegunaan piknometer adalah suatu alat yang digunakan
untuk nilai massa jenis atau densitas fluida

III.TEORI DASAR
Viskositas adalah suatu kekentalan dari suatu fluida yang dimana kekentalan ini dapat
mementukan aliran pada fluida tersebut ada dua jenis fluida : (1) aliran laminar (2) aliran turbulen
hubungan antara viskositas dan jenis aliran adalah semakin besar viskositas yang dimiliki oleh suatu
fluida maka aliran yang mungkin terjadi pada fluida tersebut adalah laminar begitu juga sebaliknya
Dan juga pada viskositas ada tekan, biasanya diterima sebagai "kekentalan", atau penolakan
terhadap penuangan. Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluid kepada aliran dan dapat
dipikir sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluid. Air memiliki viskositas rendah,
sedangkan oli memiliki viskositas tinggi.

Kekentalan suatu cairan akan memperlambat laju benda, khususnya benda yang berbentuk
bola. Derajat kekentalan suatu cairan dikenal dengan sebutan viskositas(). Ketika benda berada di
dalam cairan yang kental maka terjadi gaya gesek (Fs), gaya geseknya dapat di rumuskan:
Fs = -6 r v

Persamaan di atas di kenal sebagai persamaan Stokes dan dalam penerapannya


memerlukan:
1. Ruang tempat fluida tidak terbatas (ukurannya jauh lebih besar dari pada ukuran bola).
2. Tidak terjadi aliran turbulensi di dalam fluida.
3. Kecepatan v tidak besar, sehingga aliran fluida masih bersifat laminar.

Di dalam fluida yang mengalir terdapat gesekan internal yang dinamakan viskositas atau
kekentalan yang diberi symbol . Sebuah bola dengan jari-jari r dan massa jenis bila dijatuhkan ke
dalam fluida yang memiliki viskositas dan massa jenis o akan mendapatkan gaya gesekan sebesar
F=-6rv
dimana v adalah kecepatan relatif bola terhadap fluida. Pada suatu saat akan terjadi keseimbangan
antara gaya berat bola dan gaya gesekan sehingga menyebabkan bola bergerak dengan kecepatan
tetap sebesar

atau

IV.METODA
Percobaan 1. (pengukuran masa jenis bola)
Ukur diameter kedua bola menggunakan mikrometer skrup kemudiancari volumenya dan
kemudian ukur masanya.agar lebih teliti lakukan sebanyak 5 kali percobaan. Setelah diukur diameter
dan volume maka hitunglah masa jenisnya dan juga rambatan kesalahannya.

Percobaan 2.(pengukuran Massa Jenis Zat Cair)


Pertama-tama masukan air kedalam pipa U sampai seimbang, lalu masukan oli pada salah
satu ujung pipa U sehingga terlihat perbedaan ketinggian. Kemudian ukur ketinggian air dan minyak,
kemudian ulang sebanyak 5 kali supaya ketelitiannya teruji. Kemudian hitung masa jenis oli dengan
poli hair, yang mana Pair = 1000kg/m 3, dan tentukan pula rambatan kesalahannya.

Percobaan 3 (karakteristik viskositas zat cair)


Untuk mencari karakteristik viskositas zat cair pertama-tama catat suhu zat cair dengan
termometer, kemudian jatuhkan ke-2 bola secara berpisah dengan tidak adanya kecepatan awal
pada tabung berisi zat cair. Amati gerak bola dalam zat cair dan catat waktu (t) untuk jarak tempuh (x)
sampai 5 kali berulang-ulang. Kemudian buatlah grafik antara x dan t sehingga menghasilkan v,
kemudian setelah di ketahui kecepatan gerak bola dalam zat cait tersebut tentukanlah koefisien
viskositas masing-masing zat cair, kemudian hitung pula gaya gesek cair, kemudian bandingkan
koefisien viskositas yang anda dapatkan dengan tabel viskositas beberapa zat cair lainnya.