Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Sebuah masyarakat di negara manapun adalah kumpulan dari beberapa keluarga.


Apabila keluarga sehat dan kokoh, maka masyarakat akan bersih, kokoh, dan selamat
bangunannya. Namun bila keluarga rapuh, maka rapuhlah masyarakat, dan negara sebagai
konsekuensi logisnya. Apabila rumah tangga muslim dibangun dengan landasan taqwa, maka
tolak ukur rabbani dan adab-adab Islam akan menjadi pemandu dan pengendali langkah dalam
membangun keluarga, mulai dari lamaran dan akad nikah. Cara pandang Islami yang benar akan
mendominasi pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Dalam masyarakat setiap bangsa,
penilaian yang umum, bahwa orang yang berkeluarga atau pernah berkeluarga mempunyai
kedudukan yang lebih dihargai dari mereka yang tidak menikah. Dalam agama, pernikahan itu
dianggap suatu lembaga yang suci.

Pasal 4 Inpres Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI)
menyebutkan perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan
Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Tentang Perkawinan disebutkan Perkawinan adalah sah jika
dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Hal ini berarti
bahwa Kompilasi Hukum Islam sudah mengakomodasi Undang-Undang Perkawinan Nomor 1
tahun 1974 tentang Perkawinan, walaupun Kompilasi Hukum Islam sudah menjadi kesepakatan
tentang kekuatan mengikatnya.

Dalam kehidupan manusia didunia ini, yang berlainan jenis kelaminnya (laki- laki dan
perempuan) secara alamiah mempunyai daya tarik menarik antara satu dengan yang lainnya
untuk dapat hidup bersama, atau secara logis dapat dikatakan untuk membentuk suatu ikatan
lahir dan batin dengan tujuan menciptakan suatu keluarga/rumah tangga yang rukun, bahagia,
sejahtera dan abadi.

Manusia ingin selalu hidup bersama antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.
Kehidupan bersama ini bisa dalam bentuk keluarga, masyarakat maupun negara. Keluarga
merupakan lingkungan yang paling kecil dari suatu masyarakat dan negara. Pembentukan suatu
keluarga ini harus dilakukan melalui ikatan pernikahan yang sah. Menurut Pasal 1 Undang-

1
Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang
pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah
tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perkembangan manusia sejak manusia pertama adalah disebabkan oleh pernikahan,


kemungkinan adanya manusia tanpa nikah dapat terjadi tetapi perkembangan tanpa nikah tidak
mempunyai peradaban, tanpa kerukunan tanpa mempunyai perasaan untuk menghormati
kewajiban sendiri dan kewajiban orang lain.

Dari rumusan Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan, jelas bahwa perkawinan itu tidak
hanya merupakan ikatan lahir saja, ataupun ikatan batin saja, akan tetapi ikatan kedua-duanya
sehingga akan terjalin ikatan lahir dan ikatan batin yang merupakan pondasi yang kuat dalam
membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal. Dalam Undang-Undang
Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa setiap perkawinan
harus dicatat.

Dalam Masyarakat Indonesia Salah satu bentuk Perkawinan yang dikenal yang
disembunyikan adalah Nikah Sirri. Nikah Sirri adalah nikah yang dilakukan secara sembunyi-
sembunyi, ada yang dicatat tapi disembunyikan dari masyarakat dan ada juga yang tidak
dicatatkan pada Petugas Pencatat Nikah (PPN) dan tidak terdaftar di Kantor Urusan Agama
(KUA). Nikah Siri lazim disebut juga dengan nikah di bawah tangan. Nikah seperti ini tidak
sesuai dengan hadis rasul dimana rasul menyuruh masyarakat yang menikah untuk
mengumumkan pernikahannya dengan walimah (kenduri/syukuran). Dalam pergaulan hidup
masyarakat Indonesia terdapat perkawinan secara Sirri. Nikah Sirri dapat berbentuk dua
macam:

1) Nikah yang tidak tercatat di kantor pencatat Nikah,

2) Nikah yang dicatat tetapi di sembunyikan dari orang lain, karena khawatir terganggu bagi
keluarganya.

Sebab-sebab terjadinya Nikah Sirri:

1) Tidak ada biaya,


2) Karena perkawinan di bawah umur,
3) Karena poligami.

2
Hukum Islam yang telah menjadi hukum positif di Indonesia adalah Kompilasi Hukum
Islam (KHI). untuk dapat terjadinya tindakan/perbuatan hukum atau akad yang mempunyai
akibat hukum, orang yang melakukannya harus cakap dan mempunyai kekuasaan untuk
melakukannya, Faturrahman Djamil dalam tulisannya yang berjudul Hukum Perikatan Syariah
mengemukakan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat perjanjian adalah
sebagai berikut:

1) Dari segi subjek aqad atau para pihak.

a. Para pihak harus cakap melakukan perbuatan hukum, artinya orang dewasa dan bukan
mereka yang secara hukum berada dibawah pengampuan atau perwalian, seseorang yang
dibawah pengampuan atau perwalian, didalam melakukan perjanjian wajib diwakili oleh
wali atau pengampunya.

b. Identitas para pihak dan kedudukannya masing-masing dalam perjanjian harus jelas,
apakah bertindak untuk diri sendiri atau mewakili sebuah badan hukum.

c. Tempat dan saat perjanjian dibuat, untuk kebaikan, seyogyanya harus disebutkan dengan
jelas dalam aqad.

2) Dari segi tujuan dan objek aqad.

Disebutkan secara jelas tujuan dari dibuatnya akad tersebut, misalnya perjanjian dan
perkawinan. Sekalipun diberikan kebebasan dalam menentukan objek aqad, namun jangan
sampai menentukan suatu objek yang dilarang oleh ketentuan hukum Islam atau urf
(kebiasaan/kepatutan) yang sejalan dengan ajaran Islam, dengan kata lain objek akad harus
halal dan tidak bertentangan dengan dasar- dasar syariah

Dalam melaksanakan suatu perikatan, terdapat syarat dan rukun yang harus dipenuhi.

Secara definisi, rukun adalah suatu unsur yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu

perbuatan atau lembaga yang menentukan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dan ada atau

tidak adanya sesuatu itu. Definisi syarat adalah sesuatu yang tergantung padanya keberadaan

hukum syari dan ia berada di luar hukum itu sendiri, yang ketiadaannya menyebabkan hukum

pun tidak ada. Bila terjadi perkawinan yang diakui oleh undang-undang maka akan di

berikan akta nikah

3
Pernikahan yang tidak bermasalah adalah pernikahan yang dilakukan menurut

ketentuan perundang-undangan yang berlaku, seperti disebutkan dalam pasal 2 ayat (2)

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan dicatat, Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut

peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Pernikahan yang dilakukan di luar ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku dan kebiasaan tersebut di atas dapat dikatagorikan sebagai pernikahan rahasia atau yang

dirahasiakan yang menyimpan masalah. Masalah itu akan menimpa orang yang bersangkutan,

mungkin juga mengenai anak-anak yang lahir dari pernikahan bermasalah itu kelak. Kalau,

misalnya, tidak ada bukti otentik yang menyatakan bahwa mereka telah menikah memenuhi

ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku, dan masalah yang dirahasiakan itu

muncul kepermukaan kemudian menurut hukum yang berlaku bagi umat Islam Indonesia.

Namun pada kenyataannya banyak masyarakat yang melakukan Nikah Sirri tanpa

mempertimbangkan aspek dan akibat hukum bagi suami dan istri, hubungan mewarisi bagi

anak dan bapaknya.

Berdasarkan kenyataan yang demikian, maka disusun penelitian dalam bentuk tesis

dengan judul Kedudukan Anak dan Harta Dalam Pernikahan Siri Ditinjau Dari Undang-

undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Analisis Hukum Kompilasi Islam dan

Undang-undang Perkawinan).

B. Perumusan Masalah
Seperti telah diuraikan dalam latar belakang masalah, maka dapat disusun rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah Kedudukan Pernikahan siri dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam?

4
2. Bagaimana kedudukan anak dari pernikahan siri dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam?
3. Bagaimanakah hak anak dalam harta pada pernikahan siri ditinjau dari Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam?

C. Tujuan Penelitian
Suatu penilitian supaya terdapat sasaran yang jelas dan sesuai dengan apa yang
dikehendaki, maka perlu ditetapkan tujuan penelitian. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kedudukan pernikahan siri dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.
2. Untuk mengetahui kedudukan anak dari pernikahan siri dalam Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.
3. Untuk mengetahui hak anak dalam harta pada pernikahan siri ditinjau dari Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini
adalah:
1. Bagi anak dan orang tua dari pernikahan siri

Penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman dan pemikiran tentang kedudukan anak
dan harta dalam pernikahan siri ditinjau dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan.

2. Bagi masyarakat

Memberi sumbangan pengetahuan kepada masyarakat tentang kedudukan anak dan harta
dalam pernikahan siri ditinjau dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan

5
3. Bagi ilmu pengetahuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran bagi perkembangan
ilmu pengetahuan, khususnya bagi hukum perdata dan hukum Islam

E. Metode Penelitian

Metode adalah cara yang berfungsi untuk mencapai tujuan. Metode merupakan suatu cara
tertentu yang di dalamnya mengandung suatu teknik yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai
suatu tujuan tertentu. Penelitian adalah penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan
sesuatu; penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui
penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah sehingga diperoleh pemecahan
yang tepat terhadap masalah tersebut.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas mengenai metode dan penelitian, dapat diambil
kesimpulannya bahwa metode penelitian adalah suatu cara yang mengandung teknik, yang
berfungsi sebagai alat dalam suatu penyelidikan dengan hati-hati untuk mendapatkan fakta
sehingga diperoleh pemecahan masalah yang tepat terhadap masalah yang telah ditentukan.
Untuk itu dalam suatu penelitian, peneliti harus membuat atau menentukan metode secara tepat
untuk mendapatkan hasil yang baik.

Suatu metode penelitian di harapkan mampu untuk menemukan merumuskan,


menganalisis, mampu memecahkan masalah-masalah dalam suatu penelitian dan agar data-data
di peroleh lengkap, relevan, akurat, dan reliable, diperlukan metode yang tepat yang dapat di
andalkan (dependable). Maka penulis gunakan metode penelitian:

1. Metode Penelitian

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian menggunakan pendekatan normatif.


Pendekatan normatif adalah dalam menganalisis data didasarkan pada asas-asas hukum dan
perbandinganperbandingan hukum yang ada dalam masyarakat. Aspek-aspek hukum, baik
Undang-undang sebagai hukum yang tertulis maupun hukum yang ada dalam masyarakat
yaitu nilai-nilai atau norma yang ada dalam masyarakat, dalam kelayakan, kepatutan, itikat
yang ada dalam masyarakat sehingga dapat diketahui legalitas atau kedudukan hukum

6
2. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis mengunakan jenis penelitian deskriptif. Metode deskriptif
adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi,
suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari
penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara
sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena
yang diselidiki. Dengan menggunakan jenis penelitian ini, penulis ingin memberi gambaran
seteliti mungkin secara sistematis dan menyeluruh.

3. Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, maka penulis
memilih kota Kediri, dengan alasan di kota Kediri hingga saat ini masih terjadi pernikahan
siri dan dari pernikahan siri lahir anak yang perlu memperoleh kedudukan dan harta dari
orang tuanya.

4. Sumber Data

Dalam penelitian ini diperlukan jenis sumber data yang berasal dari literatur-literatur yang
berhubungan dengan penelitian, sebab penelitian ini merupakan penelitian dengan
pendekatan normatif yang bersumber pada data sekunder. Data yang dipergunakan dalam
penulisan ini adalah sekunder yang terdiri dari:

Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat yang
terdiri dari peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasi,
yurisprudensi. Data dari pemerintah yang berupa dokumen-dokumen tertulis yang
bersumber pada perundang-undangan, di antaranya:
1) KUH Perdata
2) HIR
3) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
4) Yurisprudensi
Bahan hukum sekunder, bahan hukum yang tidak mempunyai kekuatan dan hanya
berfungsi sebagai penjelas dari hukum primer, yaitu hasil karya ilmiah para sarjana.
Bahan hukum tersier, bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer
dan sekunder.

7
5. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi Kepustakaan.
Studi kepustakaan yakni studi tentang sumbersumber yang digunakan dalam penelitian
sejenis dokumen yang digunakan untuk mencari data-data mengenai hal atau variabel yang

berupa catatan, transkrip, buku, majalah, dan hal-hal lain yang menunjang penelitian.

Data yang didapat berupa tulisan, selanjutnya disimak, dicatat, kemudian dijadikan landasan
teori dan acuan dalam hubungannya dengan obyek yang akan diteliti, yaitu tentang
kedudukan anak dan harta dalam pernikahan siri ditinjau dari Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan.

6. Analisa Data

Tehnik analisis data dalam suatu penelitian penting agar data yang telah terkumpul dapat
dianalisis sehingga dapat menghasilkan jawaban guna memecahkan masalah yang diteliti
Data yang diperoleh setelah melewati mekanisme pengolahan data, kemudian ditentukan jenis
analisisnya agar nantinya data yang terkumpul dapat dipertanggung jawabkan. Selanjutnya
data yang diperoleh dianalisis berdasarkan peraturan literatur, yang ada hubungannya dengan
kedudukan anak dan harta dalam pernikahan siri ditinjau dari Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan.

7. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini sebagai berikut:
Mendefinisikan secara jelas dan spesifik tujuan yang hendak dicapai.
Perlu menemukan fakta-fakta dan sifat-sifat dari variabel penelitian.
Membuat rancangan tentang: pendekatan, cara mengumpulkan data, cara menentukan
sampel, alat yang digunakan dan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Proses pengumpulan data.
Menganalisis data
Menyusun laporan.
F. Sistematika Skripsi

Untuk lebih mengetahui dan mempermudah dalam memperoleh gambaran dalam hasil skripsi
ini, maka secara umum penulis mengemukakan urutan (sistematika) skripsi seperti di bawah
ini:

8
BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


B. Perumusan masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Metode Penelitian
F. Sistematika Penulisan Skripsi

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Perkawinan Dalam Kompilasi Hukum Islam


1. Pengertian Perkawinan Menurut Hukum Islam
2. Rukun dan Syarat Perkawinan Menurut Hukum Islam
3. Pencatatan Perkawinan Menurut Hukum Islam
B. Tinjauan Perkawinan Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
1. Pengertian Perkawinan Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
2. Syarat dan Sahnya Perkawinan Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974
3. Pencatatan Perkawinan Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
C. Tinjauan Kedudukan Anak dan Harta Dalam Perkawinan
1. Pengertian Anak
2. Hak-hak Anak
3. Kedudukan Anak dan Harta Dalam Pernikahan Siri
4. Kedudukan Anak dan Harta Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Penelitian
1. Sah tidaknya Pernikahan Siri Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan.
2. Sah tidaknya kedudukan anak siri menurut Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan.

9
3. Hak anak dalam harta pada Pernikahan Siri Ditinjau Dari Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
B. Pembahasan
1. Sah Tidaknya Pernikahan Siri Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan.
2. Sah Tidaknya Kedudukan anak Siri Menurut Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan.
3. Hak Anak Dalam Harta Pada Pernikahan Siri Ditinjau Dari Undang-
undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

BAB IV : PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Perkawinan Dalam Kompilasi Hukum Islam


1. Pengertian Perkawinan Menurut Hukum Islam

Perkawinan atau pernikahan asal dari kata nikah, secara bahasa berarti himpunan (adh-
dhamm), kumpulan (al-jamu), atau hubungan intim (al-wathu). Secara denotatif kata nikah
digunakan untuk merujuk makna akad, sedangkan secara konotatif kata nikah merujuk pada
makna hubungan intim. Adapun nikah secara syari adalah akad yang membolehkan adanya
hubungan intim dengan menggunakan kata menikahkan, mengawinkan, atau terjemah dari
kedua kata tersebut.1

Sulaiman Rasjid menuturkan bahwa dalam hukum Islam khususnya yang diatur dalam
Ilmu Fikih, pengertian perkawinan atau akad nikah adalah "ikatan yang menghalalkan
pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta bertolong-tolongan antara seorang laki-laki
dan seorang perempuan yang antara keduanya bukan merupakan muhrim.2

Akad nikah yang telah dilakukan akan memberikan status kepemilikan bagi kedua belah
pihak (suami atau istri), sehingga status kepemilikan akibat akad tersebut bagi suami berhak
memperoleh kenikmatan biologis dan yang terkait dengan itu secara sendirian tanpa
dicampuri atau diikuti oleh yang lainnya, yang dalam term fikih disebut milku al-intifa, yakni
hak memiliki penggunaan atau pemakaian terhadap suatu benda (dalam hal ini adalah istri),
yang digunakan untuk dirinya sendiri.

Bagi perempuan (istri), sebagaimana suami, ia pun berhak memperoleh kenikmatan


biologis yang sama. Akan tetapi, tidak bersifat khusus untuk dirinya sendiri, dalam hal ini istri
boleh menikmati secara biologis atas diri sang suami bersama perempuan lainnya (istri yang
lain). Sehingga kepemilikan di sini hak berserikat antara para istri. Lebih jelasnya, poliandri

1
Wahbah Zuhaili, Fiqih Imam Syafii; Mengupas Masalah Fiqhiyah Berdasarkan Al- Quran dan Hadits, terj.
Muhammad Afifi (Jakarta: PT. Niaga Swadaya, 2010), hlm. 449.
2
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam (Jakarta: Attahiriyah, 1993), hlm. 355.

11
tidak dipermasalahkan lagi hukumnya, yakni haram, dan sebaliknya poligami masih ada celah
diperbolehkan secara syari.3

Dalam pandangan umat Islam, perkawinan merupakan asas pokok kehidupan dalam
pergaulan, sebagai perbuatan yang sangat mulia dalam mengatur kehidupan berumah tangga.
Pertalian nikah atau perkawinan, juga merupakan pertalian yang seteguh-teguhnya dalam
hidup dan kehidupan umat manusia.4

Dalam Pasal 2 Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam,
pengertian pernikahan dinyatakan sebagai berikut:

Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau
mitsaqan ghalidhan untuk menaati perintah Allah SWT dan melaksanakannya merupakan
ibadah.

Sayyid Sabiq, lebih lanjut mengomentari: perkawinan merupakan salah satu sunnatullah
yang berlaku pada semua makhluk Tuhan, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-
tumbuhan. Pernikahan merupakan cara yang dipilih Allah SWT sebagai jalan bagi manusia
untuk beranak-pinak, berkembang-biak, dan melestarikan hidupnya setelah masing-masing
pasangan siap melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan tujuan pernikahan. Allah
SWT tidak menjadikan manusia seperti makhluk lainnya yang hidup bebas mengikuti
nalurinya dan berhubungan secara anarkis tanpa aturan. Demi menjaga kehormatan dan
martabat kemuliaan manusia, Allah SWT mengadakan hukum sesuai dengan martabatnya,
sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan itu telah saling terikat. Bentuk pernikahan
ini telah memberi jalan yang aman pada naluri seks, memelihara keturunan dengan baik dan
menjaga kaum perempuan agar tidak laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak
dengan seenaknya. Pergaulan suami isteri menurut ajaran Islam diletakkan di bawah naluri
keibuan dan kebapakan sebagaimana ladang yang baik yang nantinya menumbuhkan tumbuh-
tumbuhan yang baik dan menghasilkan buah yang baik pula.5

Oleh karena itu, perkawinan menurut hukum Islam merupakan sebuah ikatan lahir batin
yang suci dan mulia antara pasangan pria dan wanita yang bertujuan membentuk keluarga

3
Ahmad Sudirman Abbas, Pengantar Pernikahan; Analisa Perbandingan Antar Madzhab (Jakarta: Prima Heza
Lestari, 2006), hlm. 1.
4
Sulaiman Rasjid, op.cit, hlm. 356.
5
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), jilid 2, hlm. 5.

12
yang sakinah mawaddah warahmah, yakni keluarga yang penuh ketenangan, penuh cinta
kasih dan selalu mengharapkan limpahan rahmat dari Allah SWT. Selain itu perkawinan
merupakan sebuah ibadah dalam rangka mentaati perintah Allah SWT.

2. Rukun dan Syarat Perkawinan Menurut Hukum Islam


3. Pencatatan Perkawinan Menurut Hukum Islam
B. Tinjauan Perkawinan Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
1. Pengertian Perkawinan Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
2. Syarat dan Sahnya Perkawinan Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
3. Pencatatan Perkawinan Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
C. Tinjauan Kedudukan Anak dan Harta Dalam Perkawinan
1. Pengertian Anak
2. Hak-hak Anak
3. Kedudukan Anak dan Harta Dalam Pernikahan Siri
4. Kedudukan Anak dan Harta Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974

13