Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, penatalaksanaan
penyakit lebih bersifat holistik. Penatalaksanaan penyakit tidak lagi hanya
ditinjau dari aspek tatalaksana individu tetapi peran dan pengaruh komunitas
dalam tatalaksana penyakit menjadi bagian yang penting untuk disoroti.
Fakultas Kedokteran UMP melalui blok Kedokteran Komunitas dan
Kesehatan Masyarakat mempersiapkan lulusan yang mampu bekerja sebagai
dokter layanan primer yang siap berinteraksi dalam komunitas. Lulusan dokter
kelak diharapkan dapat menyelesaikan masalah kesehatan, masalah program
kesehatan serta melakukan pengelolaan kesehatan dalam komunitas yang
bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitative yang didasari dengan
syariat Islam.
Untuk lebih memahami mengenai permasalahan kesehatan dan masalah
program kesehatan maka dilaksanakan tutorial studi kasus skenario A yang
memaparkan kasus promosi kesehatan Puskesmas yang menceritakan tentang
kasus dr.Ali, baru lulus dari Fakultas Kedokteran dan telah diterima bekerja
sebagai dokter pegawai negeri sipil di Pemerintahan Kota Palembang serta
ditunjuk Walikota Palembang melalui Kepala Dinas Kesehatan Kota sebagai
dokter kepala Puskesmas Padang Tepung.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai kepala Puskesmas dr. Ali
berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional dan sering menemui berbagai
kendala administrasi kesehatan, untuk itu ia tak segan-segan untuk
berkonsultasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota.
Sebagai dokter Puskesmas dr. Ali melakukan pelayanan kesehatan
masyarakat pada pagi sampai siang hari dan pada sore hari melakukan
pelayanan kedokteran. Dalam melakukan pelayanan kesehatan masyarakat dr.
Ali mengaplikasikan definisi Winslow.

1
Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat, dr. Ali lebih
menekankan pada pendidikan kesehatan pada masyarakat dalam bentuk
promosi kesehatan. Materi promosi kesehatan yang diberikan dr.Ali terutama
pada penyakit-penyakit yang cenderung menjadi wabah, karena secara
epidemiologi kawasan Puskesmas Padang Tepung rawan dengan penyakit
infeksi akibat vektor nyamuk.

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari materi tutorial ini, yaitu :
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari
sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario mengenai
promosi kesehatan dengan metode analisis dan diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Seven Jump Steps


2.1 Data Tutorial
Tutor : dr. H. Hibsah Ridwan, M.Sc
Moderator : Dian Wijayanti
Sekertaris papan : Nilam Prariani
Sekertaris meja : Sulastri
Hari, tanggal : Selasa, 6 Mei 2014
(13.00-14.40 WIB)
Kamis, 8 mei 2014
(13.00-14.40 WIB)
Peraturan tutorial : 1.Alat komunikasi dinonaktifkan atau dalam keadaan silent.
2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat
dengan cara mengangkat tangan terlebih dahulu.
3. Meminta izin ketika hendak keluar ruangan.
4. Dilarang makan dan minum saat diskusi berlangsung.

2.2 Skenario Kasus


Dr.Ali, baru lulus dari Fakultas Kedokteran dan telah diterima bekerja
sebagai dokter pegawai negeri sipil di Pemerintahan Kota Palembang serta
ditunjuk Walikota Palembang melalui Kepala Dinas Kesehatan Kota sebagai
dokter kepala Puskesmas Padang Tepung.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai kepala Puskesmas dr. Ali
berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional dan sering menemui berbagai
kendala administrasi kesehatan, untuk itu ia tak segan-segan untuk
berkonsultasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota.
Sebagai dokter Puskesmas dr. Ali melakukan pelayanan kesehatan
masyarakat pada pagi sampai siang hari dan pada sore hari melakukan

3
pelayanan kedokteran. Dalam melakukan pelayanan kesehatan masyarakat dr.
Ali mengaplikasikan definisi Winslow.
Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat, dr. Ali lebih
menekankan pada pendidikan kesehatan pada masyarakat dalam bentuk
promosi kesehatan. Materi promosi kesehatan yang diberikan dr.Ali terutama
pada penyakit-penyakit yang cenderung menjadi wabah, karena secara
epidemiologi kawasan Puskesmas Padang Tepung rawan dengan penyakit
infeksi akibat vektor nyamuk.

2.3 Klarifikasi Istilah


1. Puskesmas : Unit pelaksana teknik dinas kesehatan
Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab
terhadap pembangunan kesehatan di wilayah
kerja terhadap pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya.
2. Administrasi : Suatu proses yang menyangkut perencanaan,
Kesehatan pengorganisasian, pengarahan, pengawasan,
pengkoordinasian dan penilaian terhadap sumber,
tatacara dan kesanggupan, yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan dan tuntutan terhadap
kesehatan, perawatan kedokteran serta
lingkungan yang sehat dengan jalan menyediakan
dan menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan
yang ditujukan kepada perseorangan, keluarga,
kelompok dan atau masyarakat.
3. Wabah : Kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular
dalam masyarakat yang jumlah penderitanya
meningkat secara nyata melebihi daripada
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

4
4. Promosi Kesehatan : Kombinasi dari berbagai faktor pendidikan dan
lingkungan yang mendukung berbagai perilaku
dan kondisi kehidupan yang kondusif terhadap
kesehatan.
5. Definisi Winslow : Merupakan definisi dari kesehatan masyarakat,
yang difinisinya adalah ilmu dan seni cara
pencegahan penyakit, memperpanjang usia hidup
dan meningkatkan kesehatan fisik dan mental
dan efisiensi melalui usaha organisasi
kemasyarakatan untuk sanitasi lingkungan,
pengawasan terhadap penyakit infeksi di
masyarakat, pendidikan kepada individu
mengenai prinsip higiene perorangan,
pengorganisasian pelayanan kedokteran dan
keperawatan untuk diagnosis lebih awal dan
pengobatan pencegahan penyakit dan
mengembangkan upaya upaya sosial yang akan
meyakinkan setiap individu di dalam masyarakat
akan standard hidup yang layak untuk
memelihara kesehatannya.
6. Sistem Kesehatan : Suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa
Nasional Indonesia untuk meningkatkan kemampuan
mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai
perwujudan kesejahteraan umum seperti yang
dimaksud dalam Pembukaan Undang-undang
Dasar 1945.
7. Pelayanan : Bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan
Kesehatan utamanya peningkatan kesehatan dan pencegahan
Masyarakat penyakit dengan sasaran utamanya masyarakat.
8. Epidemiologi : Suatu cabang ilmu kesehatan untuk menganalisis
sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan

5
dalam suatu penduduk tertentu serta mempelajari
sebab timbulnya masalah dan gangguan
kesehatan tersebut untuk tujuan pencegahan
maupun penanggulangannya.
9 Vektor Serangga dan sebagainya yang menjadi perantara
penularan penyakit.
10 Pendidikan Segala upaya untuk mempengaruhi dan atau
Kesehatan mengajak orang lain, baik individu,kelompok
masyarakat, agar melaksanakan perilaku hidup
sehat.

2.4 Identifikasi Masalah


1. Dr.Ali, baru lulus dari Fakultas Kedokteran dan telah diterima bekerja
sebagai dokter pegawai negeri sipil di Pemerintahan Kota Palembang serta
ditunjuk Walikota Palembang melalui Kepala Dinas Kesehatan Kota
sebagai dokter kepala Puskesmas Padang Tepung.
2. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai kepala Puskesmas dr. Ali
berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional dan sering menemui
berbagai kendala administrasi kesehatan, untuk itu ia tak segan-segan
untuk berkonsultasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota.
3. Sebagai dokter Puskesmas dr. Ali melakukan pelayanan kesehatan
masyarakat pada pagi sampai siang hari dan pada sore hari melakukan
pelayanan kedokteran. Dalam melakukan pelayanan kesehatan masyarakat
dr. Ali mengaplikasikan definisi Winslow.
4. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat, dr. Ali lebih
menekankan pada pendidikan kesehatan pada masyarakat dalam bentuk
promosi kesehatan. Materi promosi kesehatan yang diberikan dr.Ali
terutama pada penyakit-penyakit yang cenderung menjadi wabah, karena
secara epidemiologi kawasan Puskesmas Padang Tepung rawan dengan
penyakit infeksi akibat vektor nyamuk.

6
2.5 Analisis dan Sintesis Masalah
1. Dr.Ali, baru lulus dari Fakultas Kedokteran dan telah diterima bekerja
sebagai dokter pegawai negeri sipil di Pemerintahan Kota Palembang serta
ditunjuk Walikota Palembang melalui Kepala Dinas Kesehatan Kota
sebagai dokter kepala Puskesmas Padang Tepung.
a. Apa saja peranan Walikota, Kepala Dinas Kesehatan Kota dalam
kebijakan kesehatan?
Jawab:
1. Peranan Walikota
a. Sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Walikota
mengeluarkan kebijakan-kebijakan atau keputusan untuk
membantu atau mendukung pelaksanaan program kesehatan
sebagai upaya meningkatkan pembangunan nasional, khususnya
pembangunan sektor kesehatan. Misalnya untuk mendukung
pelaksanaan program Indonesia Sehat 2010, Walikota
mengeluarkan kebijakan seperti Perda, PP, dan juga kebijakan
alokasi anggaran kesehatan yang memadai.
b. Membuat keputusan atau kebijakan yang diperlukan untuk
memecahkan permasalahan kesehatan, sebagai upaya
meningkatkan pembangunan nasional, khususnya pembangunan
sektor kesehatan. Misalnya untuk mengatasi wabah suatu
penyakit maka walikota membuat keputusan-keputusan yang
dapat menekan kejadian wabah tersebut.
c. Mengalokasikan anggaran untuk pembangunan nasional bagi
pembangunan sektor kesehatan.
d. Membuat keputusan untuk menunjuk, mengangkat dan
memberhentikan Kepala Dinas Kesehatan Kota dan Kepala
Puskesmas (Notoatmodjo, Soekidjo, 2012: 79-83)

7
2. Peranan Kepala Dinas Kesehatan Kota
a. Sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Kepala Dinas
Kesehatan Kota membantu walikota dalam melaksanakan
kewenangan desentralisasi dibidang kesehatan.
b. Perumusan kebijakan teknis penanganan dibidang kesehatan;
c. Pemberian perizinan dan pelaksanaan pelayanan umum
dibidang kesehatan;
d. Mengusulkan kepada walikota untuk mengeluarkan keputusan
penetapan terjadinya wabah di kota
e. Pembinaan terhadap unit pelaksana teknis dinas dalam lingkup
tugas dan fungsinya;
f. Pembinaan umum dibidang kesehatan meliputi pendekatan,
pencegahan, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan;
g. Perencanaan sistem kesehatan daerah, akreditasi dan sertifikasi
kesehatan serta peningkatan sumber daya manusia kesehatan
berdasarkan kebijakan teknis;
h. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai
dengan tugas dan fungsinya.
i. Mekakuan advokasi kepada Walikota atau pemerintah daerah
lainnya untuk mendapatkan dukungan terhadap pelaksanaan
suatu program dalam sektor kesehatan.
j. Mendapatkan masukan dari Kepala Puskesmas mengenai suatu
perencanaan program kesehatan yang berperan dalam
pembangunan kesehatam untuk ditindaklanjuti dengan
mengeluarkan kebijakan atau keputusan oleh dirinya sendiri
atau dengan melakukan advokasi kepada pemerintahan
eksekutif dan legislatif.
k. Mengangkat dan memberhentikan Kepala Puskesmas sesuai
dengan keputusan dari Walikota berdasakan usulannya kepada
Walikota (Notoatmodjo, Soekidjo, 2012: 79-83 dan Depkes,
2013).

8
b. Bagaimana konsep dasar Puskesmas? (visi, misi)
Jawab:
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
128/MENKES/SK/II/2004 tentang kebijakan dasar pusat kesehatan
masyarakat, konsep dasar Puskesmas yaitu
a. Visi
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas
adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya
Indonesia Sehat. Kecamatan Sehat adalah gambaran masayarakat
kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan
kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan
berperilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta
memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Menkes RI,
2004: 5-6).
Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mencakup 4
indikator utama yakni:
a. Lingkungan sehat
b. Perilaku sehat
c. Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
d. Derajat kesehatan penduduk kecamatan
Rumusan visi untuk masing-masing Puskesmas harus
mengacu pada visi pembangunan kesehatan Puskesmas di atas
yakni terwujudnya Kecamatan Sehat, yang harus sesuai dengan
situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah kecamatan setempat
(Menkes RI, 2004: 5-6).
b. Misi
Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh
Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan
kesehatan nasional. Misi tersebut adalah:

9
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah
kerjanya.
Puskesmas akan selalu menggerakkan pembangunan sektor lain
yang diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan
aspek kesehatan, yakni pembangunan yang tidak menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap
lingkungan dan perilaku masyarakat (Menkes RI, 2004: 5-6).
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan
masyarakat di wilayah kerjanya.
Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan
masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin
berdaya di bidang kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan
dan kemampuan menuju kemandirian untuk hidup sehat
(Menkes RI, 2004: 5-6).
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan
kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan
masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan
serta meningkatkan efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat
dijangkau oleh seluruh masyarakat (Menkes RI, 2004: 5-6).
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga
dan masyarakat berserta lingkungannya.
Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat
yang berkunjung dan yang bertempat tinggal di wilayah
kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan
ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan yang dilakukan Puskesmas

10
mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan
(Menkes RI, 2004: 5-6).

c. Bagaimana manajemen Puskesmas?


Jawab:
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
128/MENKES/SK/II/2004 tentang kebijakan dasar pusat kesehatan
masyarakat, manajemen Puskesmas yaitu
Manajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja
secara sistematik untuk menghasilkan luaran puskesmas yang efektif
dan efisien. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh
puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Ada tiga fungsi
manajemen pusksesmas yang dikenal yakni Perencanaan, Pelaksanaan
dan Pengendalian, serta Pengawasan dan Pertanggungjawaban. Semua
fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan
berkesinambungan (Menkes RI, 2004: 16-25).
A. Perencanaan
Perencanaan adalah proses penyusunan rencana tahunan
puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja
pusksesmas. Rencana tahunan puskesmas dibedakan atas dua
macam. Pertama, rencana tahunan upaya kesehatan wajib. Kedua,
rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan (Menkes RI,
2004: 16-25).
1. Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib
Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap puskesmas,
yakni Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu
dan Anak termasuk Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi
Masyarakat, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
serta Pengobatan. Langkah-langkah perencanaan yang harus
dilakukan puskesmas adalah sebagai berikut:

11
a. Menyusun usulan kegiatan
Langkah pertama yang dilakukan oleh puskesmas adalah
menyusun usulan kegiatan dengan memperhatikan berbagai
kebijakan yang berlaku, baik nasional maupun daerah, sesuai
dengan masalah sebagai hasil dari kajian data dan informasi
yang tersedia di puskesmas. Usulan ini disusun dalam bentuk
matriks (Gantt Chart) yang berisikan rincian kegiatan, tujuan,
sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi serta
perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan (Menkes RI,
2004: 16-25).
b. Mengajukan usulan kegiatan
Langkah kedua yang dilakukan puskesmas adalah mengajukan
usulan kegiatan tersebut ke dinas kesehatan kabupaten/kota
untuk persetujuan pembiayaannya. Perlu diperhatikan dalam
mengajukan usulan kegiatan harus dilengkapi dengan usulan
kebutuhan rutin, sarana dan prasarana, dan operasional
puskesmas beserta pembiayaannya (Menkes RI, 2004: 16-25).
c. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan
Langkah ketiga yang dilakukan oleh puskesmas adalah
menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Rencana Kerja
Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt Chart)
yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping) (Menkes
RI, 2004: 16-25).
2. Perencanaan Upaya Kesehatan Pengembangan
Jenis upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya
kesehatan pokok puskesmas yang telah ada, atau upaya inovasi
yang dikembangkan sendiri. Upaya laboratorium medik, upaya
laboratorium kesehatan masyarakat dan pencatatan dan pelaporan
tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini merupakan upaya
penunjang yang harus dilakukan untuk kelengkapan upaya-upaya

12
puskesmas. Langkah-langkah perencanaan upaya kesehatan
pengembangan yang dilakukan oleh puskesmas mencakup hal-hal
sebagai berikut:
a. Identifikasi upaya kesehatan pengembangan
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi
upaya kesehatan pengembangan yang akan diselenggarakan
oleh puskesmas. Identifikasi ini dilakukan berdasarkan
ada/tidaknya masalah kesehatan yang terkait dengan setiap
upaya kesehatan pengembangan tersebut. Apabila puskesmas
memiliki kemampuan, identifikasi masalah dilakukan bersama
masyarakat melalui pengumpulan data secara langsung di
lapangan (Survei Mawas Diri) (Menkes RI, 2004: 16-25).
Tetapi apabila kemampuan pengumpulan data bersama
masyarakat tersebut tidak dimiliki oleh puskesmas, identifikasi
dilakukan melalui kesepakatan kelompok (Delbecq Technique)
oleh petugas puskesmas dengan mengikut sertakan Badan
Penyantun Puskesmas (Menkes RI, 2004: 16-25).
Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, jumlah upaya
kesehatan pengembangan yang terpilih dapat lebih dari satu. Di
samping itu identifikasi upaya kesehayan pengembangan dapat
pula memilih upaya yang bersifat inovatif yang tidak tercantum
dalam daftar upaya kesehatan puskesmas yang telah ada,
melainkan dikembangkan sendiri sesuai dengan masalah dan
kebutuhan masyarakat serta kemampuan puskesmas (Menkes
RI, 2004: 16-25).
b. Menyusun usulan kegiatan
Langkah kedua yang dilakukan oleh puskesmas adalah
menyusun usulan kegiatan yang berisikan rincian kegiatan,
tujuan sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi serta
perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan (Menkes RI,
2004: 16-25).

13
Rencana yang telah disusun tersebut diajukan dalam bentuk
matriks (Gantt Chart). Penyusunan rencana pada tahap awal
pengembangan program dilakukan melalui pertemuan yang
dilaksanakan secara khusus bersama dengan BPP dan Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dalam bentuk musyawarah
masyarakat (Menkes RI, 2004: 16-25).
c. Mengajukan usulan kegiatan
Langkah ketiga yang dilakukan oleh puskesmas
adalahmengajukan usulan kegiatan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota untuk pembiayaannya. Usulan kegiatan
tersebut dapat pula diajukan ke Badan Penyantun Puskesmas
atau pihak-pihak lain. Apabila dilakukan ke pihak-pihak lain,
usulan kegiatan harus dilengkapi dengan uraian tentang latar
belakang, tujuan serta urgensi perlu dilaksanakannya upaya
pengembangan tersebut (Menkes RI, 2004: 16-25).
d. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan
Langkah keempat yang dilakukan oleh puskesmas adalah
menyusun rencana pelaksanaan yang telah disetujui Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota atau penyandang dana lain
(Rencana Kerja Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk matriks
(Gantt Chart) yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah
(mapping). Penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan ini
dilakukan secara terpadu dengan penyusunan rencana
pelaksanaan upaya kesehatan wajib (Menkes RI, 2004: 16-25).
B. Pelaksanaan dan pengendalian
Pelaksanaan dan pengendalian adalah proses penyelenggaraan,
pemantauan serta penilaian terhadap penyelenggaraan rencana tahunan
puskesmas, baik rencana tahunan upaya kesehatan wajib maupun
rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan, dalam mengatasi
masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Langkah-langkah
pelaksanaan dan pengendalian adalah sebagai berikut:

14
1. Pengorganisasian
Untuk dapat terlaksananya rencana kegiatan puskesmas, perlu
dilakukan pengorganisasian. Ada dua macam pengorganisasian
yang harus dilakukan. Pertama, pengorganisasian berupa penentuan
para penanggungjawab dan para pelaksana untuk setiap kegiatan
serta untuk setiap satuan wilayah kerja. Dengan perkataan lain,
dilakukan pembagian habis seluruh program kerja dan seluruh
wilayah kerja kepada seluruh petugas puskesmas dengan
mempertimbangkan kemampuan yang dimilikinya. Penentuan para
penanggungjawab ini dilakukan melalui pertemuan penggalangan
tim pada awal tahun kegiatan (Menkes RI, 2004: 16-25).
Kedua, pengorganisasian berupa penggalangan kerjasama tim
secara lintas sektoral. Ada dua bentuk penggalangan kerjasama
yang dapat dilakukan:
a. Penggalangan kerjasama dalam bentuk dua pihak, yakni antara
dua sektor terkait, misalnya antara puskesmas dengan sektor
tenaga kerja pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan
kerja (Menkes RI, 2004: 16-25).
b. Penggalangan kerjasama dalam bentuk banyak pihak, yakni antar
berbagai sektor terkait, misalnya antara puskesmas dengan
sektor pendidikan, sektor agama, sektor kecamatan pada waktu
menyelenggarakan upaya kesehatan sekolah (Menkes RI, 2004:
16-25).
Penggalangan kerjasama lintas sektor ini dapat dilakukan:
a. Secara langsung yakni antar sektor-sektor terkait
b. Secara tidak langsung yakni dengan memanfaatkan pertemuan
koordinasi kecamatan (Menkes RI, 2004: 16-25).
2. Penyelenggaraan
Setelah pengorganisasian selesai dilakukan, kegiatan
selanjutnya adalah menyelenggarakan rencana kegiatan puskesmas,
dalam arti para penanggungjawab dan para pelaksana yang telah

15
ditetapkan pada pengorganisasian, ditugaskan menyelenggarakan
kegiatan puskesmas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Untuk dapat terselenggaranya rencana tersebut perlu dilakukan
kegiatan sebagai berikut:
a. Mengkaji ulang rencana pelaksanaan yang telah disusun,
terutama yang menyangkut jadwal pelaksanaan, target
pencapaian, lokasi wilayah kerja dan rincian tugas para
penanggungjawab dan pelaksana (Menkes RI, 2004: 16-25).
b. Menyusun jadwal kegiatan bulanan untuk setiap petugas sesuai
dengan rencana pelaksanaan yang telah disusun. Beban kegiatan
puskesmas harus terbagi habis dan merata kepada seluruh
petugas (Menkes RI, 2004: 16-25).
c. Menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan. Pada waktu menyelenggarakan kegiatan puskesmas
harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Azas penyelenggaraan puskesmas
Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan
keempat azas penyelenggaraan puskesmas yakni azas
pertanggungjawaban wilayah, azas pemberdayaan
masyarakat, azas keterpaduan dan azas rujukan (Menkes RI,
2004: 16-25).
2. Berbagai standar dan pedoman pelayanan puskesmas
Pada saat ini telah berhasil dikembangkan berbagai standar
dan pedoman pelayanan puskesmas sebagai acuan
penyelenggaraan kegiatan puskesmas yang harus
diperhatikan pada waktu menyelenggarakan kegiatan
(Menkes RI, 2004: 16-25).
3. Pemantauan
Penyelenggaraan kegiatan harus diikuti dengan kegiatan
pemantauan yang dilakukan secara berkala. Kegiatan pemantauan
mencakup hal-hal sebagai berikut:

16
a. Melakukan telaahan penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang
dicapai, yang dibedakan atas dua hal:
1. Telaahan internal, yakni telaahan bulanan terhadap
penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai puskesmas,
dibandingkan dengan rencana dan standar pelayanan. Data yang
dipergunakan diambil dari Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas (SIMPUS) yang berlaku.
Kesimpulan dirumuskan dalam dua bentuk. Pertama, kinerja
puskesmas yang terdiri dari cakupan (coverage), mutu (quality)
dan biaya (cost). Kedua, masalah dan hambatan yang ditemukan
pada waktu penyelenggaraan kegiatan puskesmas. Telaahan
bulanan ini dilakukan dalam Lokakarya Mini Bulanan
puskesmas (Menkes RI, 2004: 16-25).
2. Telaahan eksternal yakni telaahan triwulan terhadap hasil yang
dicapai oleh sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama
lainnya serta sektor lain terkait yang ada di wilayah kerja
puskesmas. Telaahan triwulan ini dilakukan dalam Lokakarya
Mini Triwulan puskesmas secara lintas sector (Menkes RI,
2004: 16-25).
C. Pengawasan dan pertanggungjawaban
Pengawasan danpertanggungjawaban adalah proses memperoleh
kepastian atas kesesuaian penyelenggaraan dan pencapaian tujuan
puskesmas terhadap rencana dan peraturan perundangan-undangan
serta kewajiban yang berlaku. Untuk terselenggaranya pengawasan dan
pertanggungjawaban dilakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Pengawasan
Pengawasan dibedakan atas dua macam yakni pengawasan internal
dan eksternal. Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh
atasan langsung. Pengawasan eksternal dilakukan oleh masyarakat,
dinas kesehatan kabupaten/kota serta berbagai institusi pemerintah
terkait. Pengawasan mencakup aspek administratif, keuangan dan

17
teknis pelayanan. Apabila pada pengawasan ditemukan adanya
penyimpangan, baik terhadap rencana, standar, peraturan
perundangan-undangan maupun berbagai kewajiban yang berlaku,
perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
(Menkes RI, 2004: 16-25).
2. Pertanggungjawaban
Pada setiap akhir tahun anggaran, kepala puskesmas harus
membuat laporan pertanggungjawaban tahunan yang mencakup
pelaksanaan kegiatan, serta perolehan dan penggunaan berbagai
sumberdaya termasuk keuangan. Laporan tersebut disampaikan
kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta pihak-pihak terkait
lainnya, termasuk masyarakat melalui Badan Penyantun
Puskesmas. Apabila terjadi penggantian kepala puskesmas, maka
kepala puskesmas yang lama diwajibkan membuat laporan
pertanggungjawaban masa jabatannya (Menkes RI, 2004: 16-25).

d. Bagaimana struktur organisasi Puskesmas?


Jawab:

18
Struktur organisasi Puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban
tugas masing-masing Puskesmas. Penyusun struktur organisasi Puskesmas
di satu kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota,
sedangkan penetapannya dilakukan dengan Peraturan Daerah. Sebagai
acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi Puskesmas sebagai
berikut:
a. Kepala Puskesmas
b. Unit Tata Usaha yang bertanggungjawab membantu Kepala
Puskesmas dalam pengelolaan:
1. Data dan Informasi
2. Perencanaan dan Penelitian
3. Keuangan
4. Umum dan Kepegawaian

19
c. Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas
1. Upaya Kesehatan Masyarakat
2. Upaya Kesehatan Perorangan
d. Jaringan Pelayanan Puskesmas
1. Unit Puskesmas Pembantu
2. Unit Puskesmas Keliling
3. Unit Badan di Desa/Komunitas (Menkes RI, 2004: 8).

e. Bagaimana sumber daya manusia di Puskesmas?


Jawab:
Pada dasarnya kebutuhan SDM Kesehatan dapat ditentukan
berdasarkan kebutuhan epidemiologi penyakit utama masyarakat,
permintaan (demand) akibat beban pelayanan kesehatan, sarana upaya
pelayanan, standar/rasio terhadap nilai tertentu (Menkes RI, 2004: 9).
Menkes RI (2004: 9), .jumlah tenaga kesehatan di puskesmas
sesuai dengan SK Mendagri No. 23 tahun 1994 tentang Pedoman
Organisasi dan Tata Kerja Puskesmas adalah :

Kebutuhan Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas


Puskesmas Non Puskesmas Puskesmas
Jenis Tenaga
DTP DTP Pembantu
1. Dokter 2 3 -
2. Perawat 1-3 2-4 -
3. Bidan 2-3 5 1
g4. Paramedis 10 11 1

f. Apa saja syarat-syarat menjadi Kepala Puskesmas?


Jawab:
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
128/Menkes/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas,
pemerintah menetapkan kriteria personal yang mengisi struktur

20
organisasi Puskesmas disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab
masing-masing unit Puskesmas. Untuk kepala Puskesmas harus
seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya
mencakup kesehatan masyarakat (Menkes RI, 2004: 8-9).
Menurut Kompetensi Pejabat Struktural Puskesmas Pasal 22 Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004
1. Kepala Puskesmas berlatar belakang pendidikan paling sedikit
tenaga medis atau sarjana kesehatan lainnya
2. Kepala Puskesmas telah mengikuti pelatihan Manajemen
puskesmas dan pelatihan fasilitator Pusat Kesehatan Desa
3. Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dipenuhi
sebelum atau paling lama satu tahun pertama setelah menduduki
jabatan struktural (Menkes RI, 2004: 8-9).

2. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai kepala Puskesmas dr. Ali


berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional dan sering menemui
berbagai kendala administrasi kesehatan, untuk itu ia tak segan-segan
untuk berkonsultasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota.
a. Bagaimana peranan dokter sebagai provider di Puskesmas?
Jawab:
1. Dokter Kepala Puskesmas sebagai seorang dokter
2. Dokter Kepala Puskesmas sebagai seorang manajer
a. Organisasi tatalaksana
b. Bimbingan teknis dan supervisi
c. Hubungan kerja antar instansi tingkat Kecamatan
d. Dokter Puskesmas sebagai penggerak pembangunan di wilayah
kerjanya.
3. Dokter Kepala Puskesmas sebagai tenaga ahli pendamping camat
(Menkes RI, 2004 dan Rai Nyoman Kumar, 1998)

21
b. Apa saja kendala administrasi kesehatan?
Jawab:
Menurut Azwar, Azrul (2010:135), kendala-kendala administrasi
kesehatan adalah
A. Kendala pada pelayanan kesehatan
1. Sumber , Yang dimaksud dengan sumber disini adalah segala
sesuatu yang dipakai untuk menghasilkan barang atau jasa,
dibedakan 3 macam :
a. Sumber tenaga (labor resources)
sumber tenaga dibedakan atas dua macam yakni tenaga ahli
(skilled) seperti : dokter, dokter gigi, bidan, perawat serta
tenaga kerja tidak ahli (unskilled) seperti pesuruh, penjaga
malam dan penjaga kasar lainnya.
b. Sumber modal (capital resources)
modal bergerak (working capital) seperti uang dan giro serta
modal tidak bergerak (fixed capital) seperti bangunan, tanah
dan sarana
c. Sumber alamiah ( natural resources)
segala hal yang terdapat di alam yang tidak termasuk
sumber tenaga dan sumber modal
2. Tata cara (prosedures)
kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran yang dimiliki dan
yang ditetapkan, tatacara (method)
3. Kesanggupan (capasity)
keadaan mental biologis tenaga pelaksana

B. Kendala pada pembiayaan kesehatan


1. Kurangnya dana yang tersedia : di banyak negara yang sedang
berkembang , dana yang disediakan untuk menyelenggarakn
pelayanan kesehatan tidaklah memadai. Rendah nya alokasi

22
anggaran ini saling terkait dengan masih kurangnya kesadaran
pengambil keputusan akan pentingnya arti kesehatan.
2. Penyebaran dana yang tidak sesuai masalah ini terjadi karena
kebanyakan justru beredar di daerah perkotaan.
3. Pemanfaatan dana yang tidak tepat : merupakan salah satu
masalah yang dihadapi dalam pembiayaan kesehatan ini.
Adalah mengejutkan bahwa di banyak Negara ternyata biaya
pelayanan kedokterannya jauh lebih tinggi daripada biaya
pelayanan kesehatan masyarakat.
4. Pengelolaan dana yang belum sempurna : seandainya dana yang
tersedia amat terbatas,penyebaran dan pemanfaatannya belum
begitu sempurna, namun jika apa yang dimiliki tersebut dapat
dikelola dengan baik, dalam batas-batas tertentu tujuan dari
pelayanan kesehatan masih dapat dicapai.
5. Biaya kesehatan yang makin meningkat

c. Apa saja unsur-unsur administrasi kesehatan?


Jawab:
1. Masukan (input) atau perangkat administrasi
Masukan (input) dalam administrasi adalah segala sesuatu yang
dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan administrasi.
Masukan administrasi tersebut banyak macamnya, diantaranya
yang terpenting menurut Komisi Pendidikan Administrasi
Kesehatan Amerika Serikat yaitu:
a. Sumber, adalah segala sesuatu yang dipakai untuk
menghasilkan barang atau jasa. Sumber ini dibedakan menjadi
tiga macam yaitu sumber tenaga, sumber modal, dan sumber
alamiah.
b. Tata cara, adalah berbagai kemajuan ilmu dan teknologi
kedokteran yang dimiliki dan yang diterapkan.

23
c. Kesanggupan, adalah keadaan fisik, mental dan biologis tenaga
pelaksana.
Sedangkan Koonotz dan Donnells membedakan masukan menjadi 4
macam, yakni: manusia (man), modal (capital), manajerial
(managerial), teknologi (technologi) (Azwar, Azrul, 2010: 12-17).
2. Proses (process) atau fungsi administrasi
Proses dalam administrasi adalah langkah-langkah yang harus
dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses atau
fungsi administrasi tersebut yang terpenting diantaranya yaitu
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
penggerakkan (actuating), dan pengawasan (controlling). Fungsi
ini diperkenalkan oleh George R. Terry yang dikenal sebagai
POAC. Selain itu ada juga fungsi kesehatan menurut Luther M.
Gullick yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), penyusunan staf (staffing), pengarahan (directing),
pengkoordinasiaan (coordinating), pelaporan (reporting), dan
penyusunan anggaran belanja (budgeting) yang dikenal dengan
POSDCORB (Azwar, Azrul, 2010: 12-17).
3. Keluaran (output)
Keluaran dalam administrasi adalah hasil dari suatu pekerjaan
administrasi. Keluaran ini merupakan pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan ini terdiri dari pelayanan kedokteran dan
pelayanan kesehatan masyarakat (Azwar, Azrul, 2010: 12-17).
4. Sasaran (target)
Sasaran yang dimaksud adalah kepada siapa keluaran yang
dihasilkan, yakni upaya kesehatan tersebut, ditujukan. Sasaran ini
berupa perseorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Azwar,
Azrul, 2010: 12-17).
5. Dampak (impact)
Dampak yang dimaksudkan adalah akibat yang ditimbulkan oleh
keluaran. Dampak ini dapat berupa meningkatnya derajat kesehatan

24
masyarakat atau mengurangnya derajat kesehatan masyarakat
(Azwar, Azrul, 2010: 12-17).
Hubungan kelima unsur ini yang lebih sederhana, dapat dilihat pada
gambar berikut ini:

Unsur-Unsur Pokok Administrasi

(Azwar, Azrul, 2010: 12-17)

d. Apa saja ruang lingkup administrasi kesehatan?


Jawab:
Ruang lingkup administrasi kesehatan mencakup bidang yang amat
luas, namun jika disederhanakan dapat dibedakan atas dua macam,
yaitu:

1) Kegiatan administrasi
Kegiatan utama yang dilakukan pada administrasi adalah
melaksanakan fungsi administrasi itu sendiri mualai dari fungsi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan sampai dengan fungsi
pengawasan. Seseorang yang mengerjakan pekerjaan administrasi
disebut sebagai administrator atau manajer.

25
2) Objek dan subjek administrasi
Objek dan subjek administrasi kesehatan adalah sistem kesehatan.
Ini berarti untuk dapat menyelenggarakan administrasi kesehatan
perlu dipahami dahulu apa yang dimaksud dengan sistem
kesehatan. Sistem kesehatan adalah suatu kumpulan dari berbagai
faktor yang kompleks dan saling berhubungan yang terdapat pada
suatu negara dan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan
tuntutan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok serta
masyarakat pada setiap saat yang dibutuhkan (Azwar, Azrul,
2010:19-20).

e. Bagaimana konsep dasar Sistem Kesehatan Nasional?


Jawab:
SKN adalah pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh
semua komponen Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling
mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya (Presiden RI, 2012: 2).
Pengelolaan kesehatan adalah proses atau cara mencapai tujuan
pembangunan kesehatan melalui pengelolaan upaya kesehatan,
penelitian dan pengembangan kesehatan, pembiayaan kesehatan,
sumber daya manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
makanan, manajemen, informasi dan regulasi kesehatan serta
pemberdayaan masyarakat (Presiden RI, 2012: 2).
Pengelolaan kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan
administrasi kesehatan, informasi kesehatan, sumber daya kesehatan,
upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, peran serta dan pemberdayaan
masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, serta
pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling mendukung
guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
(Presiden RI, 2012: 2).

26
Komponen pengelolaan kesehatan yang disusun dalam SKN
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Perpres No. 72 Tahun 2012
tentang SKN dikelompokkan dalam subsistem:
a. upaya kesehatan;
b. penelitian dan pengembangan kesehatan;
c. pembiayaan kesehatan;
d. sumber daya manusia kesehatan;
e. sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan;
f. manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan; dan
g. pemberdayaan masyarakat (Presiden RI, 2012: 3).
Penyusunan SKN ini dipergunakan sebagai pedoman dalam
pengelolaan kesehatan baik oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
dan/atau masyarakat termasuk badan hukum, badan usaha, dan lembaga
swasta. (Presiden RI, 2012: 4).
Tersusunnya SKN ini mempertegas makna pembangunan
kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia, memperjelas
penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun
2005-2025 (RPJP-K), memantapkan kemitraan dan kepemimpinan
yang transformatif, melaksanakan pemerataan upaya kesehatan yang
terjangkau dan bermutu, meningkatkan investasi kesehatan untuk
keberhasilan pembangunan nasional (Presiden RI, 2012: 5).
Untuk menjamin efektifitas SKN, maka setiap pelaku
pembangunan kesehatan harus taat pada asas yang menjadi landasan
bagi setiap program dan kegiatan pembangunan kesehatan.
Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun 2005-2025 (RPJP-N), pembangunan kesehatan diarahkan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya dapat terwujud (Presiden RI, 2012: 5).
Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengacu pada dasar:

27
a. perikemanusiaan;
Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip
perikemanusiaan yang dijiwai, digerakkan, dan dikendalikan oleh
keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Presiden
RI, 2012: 16).
b. pemberdayaan dan kemandirian;
Setiap orang dan masyarakat bersama dengan Pemerintah dan
Pemerintah Daerah berperan, berkewajiban, dan bertanggung jawab
untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan,
keluarga, masyarakat, dan lingkungannya (Presiden RI, 2012: 16).
Pembangunan kesehatan harus mampu meningkatkan dan
mendorong peran aktif masyarakat (Presiden RI, 2012: 16).
Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan
pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri,
kepribadian bangsa, semangat solidaritas sosial, gotong royong, dan
penguatan kesehatan sebagai ketahanan nasional (Presiden RI,
2012: 16).
c. adil dan merata; dan
Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak
yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya, tanpa memandang suku, agama, golongan, dan status
social ekonominya. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan
kesehatan (Presiden RI, 2012: 17).
Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
kembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
d. pengutamaan dan manfaat
1. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan
mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan
perorangan atau golongan.

28
2. Upaya kesehatan yang bermutu diselenggarakan dengan
memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta harus lebih mengutamakan pendekatan peningkatan
kesehatan dan pencegahan penyakit.
3. Pembangunan kesehatan diselenggarakan berlandaskan pada
dasar kemitraan atau sinergisme yang dinamis dan tata
penyelenggaraan yang baik, sehingga secara berhasil guna dan
bertahap dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi
peningkatan derajat kesehatan masyarakat, beserta
lingkungannya.
4. Pembangunan kesehatan diarahkan agar memberikan perhatian
khusus pada penduduk rentan, antara lain: ibu, bayi, anak,
manusia usia lanjut, dan masyarakat miskin.
5. Perlu diupayakan pembangunan kesehatan secara terintegrasi
antara pusat dan daerah dengan mengedepankan nilai-nilai
pembangunan kesehatan, yaitu: berpihak pada rakyat, bertindak
cepat dan tepat, kerja sama tim, integritas yang tinggi, dan
transparansi serta akuntabilitas (Presiden RI, 2012: 18).
Cara penyelenggaraan SKN
Pengelolaan kesehatan mencakup kegiatan perencanaan,
pengaturan, pembinaan dan pengawasan serta evaluasi
penyelenggaraan upaya kesehatan dan sumber dayanya secara serasi
dan seimbang dengan melibatkan masyarakat.
Penyelenggaraan upaya kesehatan meliputi upaya kesehatan
perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Adanya sumber daya
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan ditujukan untuk keberhasilan
penyelenggaraan upaya kesehatan. Sumber daya dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan meliputi terutama tenaga kesehatan,
fasilitas kesehatan, perbekalan kesehatan, dan teknologi serta produk
teknologi (Presiden RI, 2012: 20).

29
Pengelolaan dan penyelenggaraan pembangunan kesehatan
dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai: prorakyat; inklusif;
responsif; efektif; bersih (Presiden RI, 2012: 20).
Penyelenggaraan SKN dilaksanakan secara berjenjang dari
tingkat pusat sampai daerah. Pemerintah membuat kebijakan yang
dapat dilaksanakan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Penyelenggaraan SKN mempertimbangkan komitmen global dan
komponennya yang relevan dan berpengaruh secara mendasar dan
bermakna terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat (Presiden
RI, 2012: 20).
A. Subsistem upaya kesehatan
Subsistem upaya kesehatan adalah pengelolaan upaya
kesehatan yang terpadu, berkesinambungan, paripurna, dan
berkualitas, meliputi upaya peningkatan, pencegahan, pengobatan,
dan pemulihan, yang diselenggarakan guna menjamin tercapainya
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (Presiden RI,
2012: 21).
Penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan terdiri dari:
upaya kesehatan; dan pembinaan dan pengawasan (Presiden RI,
2012: 21).
Tujuan dari penyelenggaraan subsistem upaya kesehatan
adalah terselenggaranya upaya kesehatan yang adil, merata,
terjangkau, dan bermutu untuk menjamin terselenggaranya
pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggitingginya (Presiden RI, 2012: 21).
Unsur-unsur subsistem upaya kesehatan terdiri dari: a. upaya
kesehatan; b. fasilitas pelayanan kesehatan; c. sumber daya upaya
kesehatan; dan d. pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan
(Presiden RI, 2012: 21).
Prinsip-prinsip subsistem upaya kesehatan terdiri dari: a.
terpadu, berkesinambungan, dan paripurna; b. bermutu, aman, dan

30
sesuai kebutuhan; c. adil dan merata; d. nondiskriminasi; e.
terjangkau; f. teknologi tepat guna; dan g. bekerja dalam tim secara
cepat dan tepat (Presiden RI, 2012: 22).
B. Subsistem penelitian dan pengembangan kesehatan
Subsistem penelitian dan pengembangan kesehatan adalah
pengelolaan penelitian dan pengembangan, pemanfaatan dan
penapisan teknologi dan produk teknologi kesehatan yang
diselenggarakan dan dikoordinasikan guna memberikan data
kesehatan yang berbasis bukti untuk menjamin tercapainya derajat
kesehatan masyarakat setinggi-tingginya (Presiden RI, 2012: 39).
Unsur-unsur subsistem penelitian dan pengembangan
kesehatan terdiri dari unsur-unsur area penelitian, pengembangan,
dan penapisan: a. biomedis dan teknologi dasar kesehatan; b.
teknologi terapan kesehatan dan epidemiologi klinik; c. teknologi
intervensi kesehatan masyarakat; dan d. humaniora, kebijakan
kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat (Presiden RI, 2012: 39).
Prinsip-prinsip subsistem penelitian dan pengembangan
kesehatan terdiri dari: a. terpadu, berkesinambungan, dan paripurna;
b. akurat dan akuntabel; c. persetujuan setelah penjelasan; d.
bekerja dalam tim secara cepat dan tepat; e. norma agama; f.
kebenaran ilmiah; dan g. perlindungan terhadap subjek penelitian
dan etik (Presiden RI, 2012: 40).

C. Subsistem pembiayaan kesehatan


Subsistem pembiayaan kesehatan adalah pengelolaan berbagai
upaya penggalian, pengalokasian, dan pembelanjaan dana
kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan
kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya (Presiden RI, 2012: 44).

31
Unsur-unsur subsistem pembiayaan kesehatan terdiri dari: a.
dana; b. sumber daya; dan c. pengelolaan dana kesehatan (Presiden
RI, 2012: 44).
Prinsip-prinsip subsistem pembiayaan kesehatan terdiri dari:
a. kecukupan; b. efektif dan efisien; dan c. adil dan transparan
(Presiden RI, 2012: 45).
D. Subsistem sumber daya manusia kesehatan
Subsistem sumber daya manusia kesehatan adalah
pengelolaan upaya pengembangan dan pemberdayaan sumber daya
manusia kesehatan, yang meliputi: upaya perencanaan, pengadaan,
pendayagunaan, serta pembinaan dan pengawasan mutu sumber
daya manusia kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan
pembangunan kesehatan guna mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya (Presiden RI, 2012: 48).
Sumber daya manusia kesehatan adalah tenaga kesehatan
(termasuk tenaga kesehatan strategis) dan tenaga
pendukung/penunjang kesehatan yang terlibat dan bekerja serta
mengabdikan dirinya dalam upaya dan manajemen kesehatan.
Unsur-unsur subsistem sumber daya manusia kesehatan terdiri dari:
a. sumber daya manusia kesehatan; b. sumber daya pengembangan
dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan; c.
penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya
manusia kesehatan (Presiden RI, 2012: 48).

Prinsip-prinsip subsistem sumber daya manusia kesehatan


terdiri dari: a. adil dan merata serta demokratis; b. kompeten dan
berintegritas; c. objektif dan transparan; dan d. hierarki dalam
sumber daya manusia kesehatan (Presiden RI, 2012: 50).
Penyelenggaraan subsistem sumber daya manusia kesehatan
terdiri dari: a. perencanaan sumber daya manusia kesehatan; b.
pengadaan sumber daya manusia kesehatan; c. pendayagunaan

32
sumber daya manusia kesehatan; dan d. pembinaan dan
pengawasan mutu sumber daya manusia kesehatan (Presiden RI,
2012: 51).
E. Subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan
Subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan
adalah pengelolaan berbagai upaya yang menjamin keamanan,
khasiat/ manfaat, mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
makanan. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional,
dan kosmetika (Presiden RI, 2012: 55).
Unsur-unsur subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
makanan terdiri dari: a. komoditi; b. sumber daya; c. pelayanan
kefarmasian; d. pengawasan; dan e. pemberdayaan masyarakat
(Presiden RI, 2012: 55).
Prinsip-prinsip subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
makanan terdiri dari: a. aman, berkhasiat, bermanfaat, dan bermutu;
b. tersedia, merata, dan terjangkau; c. rasional; d. transparan dan
bertanggung jawab; dan e. kemandirian (Presiden RI, 2012: 57).
F. Subsistem manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan
Subsistem manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan
adalah pengelolaan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan
kesehatan, administrasi kesehatan, pengaturan hukum kesehatan,
pengelolaan data dan informasi kesehatan yang mendukung
subsistem lainnya dari SKN guna menjamin tercapainya derajat
kesehatan masyarakat setinggi-tingginya (Presiden RI, 2012: 62).
Unsur-unsur subsistem manajemen, informasi, dan regulasi
kesehatan terdiri dari: a. kebijakan kesehatan; b. administrasi
kesehatan; c. hukum kesehatan; d. informasi kesehatan; dan e.
sumber daya manajemen kesehatan (Presiden RI, 2012: 62).
Prinsip-prinsip subsistem manajemen, informasi, dan regulasi
kesehatan terdiri dari: a. inovasi atau kreativitas; b.
kepemimpinan yang visioner bidang kesehatan; c. sinergisme yang

33
dinamis; dan d. kesesuaian dengan sistem pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Presiden RI, 2012: 63).
Penyelenggaraan subsistem manajemen, informasi, dan
regulasi kesehatan terdiri dari: a. kebijakan kesehatan; b.
administrasi kesehatan; c. hukum kesehatan; dan d. informasi
kesehatan (Presiden RI, 2012: 64).
G. Subsistem pemberdayaan masyarakat
Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah pengelolaan
penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan, baik perorangan,
kelompok, maupun masyarakat secara terencana, terpadu, dan
berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya (Presiden RI, 2012: 66).
Unsur-unsur subsistem pemberdayaan masyarakat terdiri dari:
a. penggerak pemberdayaan; b. sasaran pemberdayaan; c. kegiatan
hidup sehat; dan d. sumber daya (Presiden RI, 2012: 67).
Prinsip-prinsip subsistem pemberdayaan masyarakat terdiri
dari a. berbasis masyarakat; b. edukatif dan kemandirian; c.
kesempatan mengemukakan pendapat dan memilih pelayanan
kesehatan; kemitraan dan gotong royong (Presiden RI, 2012: 68).
Penyelenggaraan subsistem pemberdayaan masyarakat terdiri
dari: a.penggerakan masyarakat; b.pengorganisasian dalam
pemberdayaan; c. advokasi; d. kemitraan; dan e. peningkatan
sumber daya (Presiden RI, 2012: 69).

f. Bagaimana kedudukan Puskesmas dalam Sistem Kesehatan


Nasional?
Jawab:
Kedudukan Puskesmas dalam Sistem Kesehatan Nasional, yaitu sebagai
sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab
menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan
masyarakat di wilayah kerjanya. (Menkes RI, 2004: 8)

34
g. Apa saja pernan dokter di Puskesmas? (dalam Sistem Kesehatan
Nasional)
Jawab:
1. Tugas Pokok : Mengusahakan agar fungsi puskesmas dapat
diselenggarakan dengan baik dan dapat memberi manfaat kepada
masyarakat di wilayah kerjanya.
2. Fungsi : Sebagai seorang dokter dan sebagai seorang manajer.
3. Kegiatan Pokok :
a. Melaksanakan fungsi manajerial
b. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan penderita
c. Menerima rujukan dan konsultasi
d. Mengkoordinasi PSM melalui pendekatan PKMD
4. Kegiatan Lain : Menerima konsultasi dari semua kegiatan
puskesmas (Rai Nyoman Kumar, 1998).

3. Sebagai dokter Puskesmas dr. Ali melakukan pelayanan kesehatan


masyarakat pada pagi sampai siang hari dan pada sore hari melakukan
pelayanan kedokteran. Dalam melakukan pelayanan kesehatan masyarakat
dr. Ali mengaplikasikan definisi Winslow.
a. Apa yang dimaksud pelayanan kedokteran?
Jawab:
Pelayanan kedokteran adalah bagian dari pelayanan kesehatan ditandai
dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri (solo
practice) atau secara bersama-sama dalam satu organisasi dengan
tujuan utamanya untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan
kesehatan serta sasarannya terutama untuk perseorangan dan keluarga
(Azwar, Azrul, 2010: 43).

35
b. Bagaimana peranan dokter Puskesmas dalam pelayanan
kesehatan masyarakat dan pelayanan kedokteran? (isi kegiatan
dalam pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan
kedokteran)
Jawab:
1. Peranan dalam pelayanan kedokteran
a. Terutama berperan dalam upaya kuratif dan rehabilitatif.
b. Melakukan pelayanan rawat jalan, rawat inap, dll
c. Melakukan pengobatan dan perawatan pada pasien yang sakit.
(Azwar, Azrul, 2010: 78)
2. Peranan dalam pelayanan kesehatan masyarakat
a. Berperan dalam upaya promotif dan preventif.
b. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.
c. Perbaikan sanitasi lingkungan.
d. Perbaikan lingkungan permukiman.
e. Pemberantasan vektor.
f. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat.
g. Pembinaan gizi masyarakat.
h. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.
i. Pengawasan obat dan minuman.
j. Pembinaan peran serta masyarakat dan sebagainya
(Notoadmojo, Soekidjo, 2007: 17)

36
c. Bagaimana perbedaan pelayanan kesehatan masyarakat dan
pelayanan kedokteran?
Jawab:
Pelayanan Kedokteran Pelayanan Kesehatan
1. Tenaga pelaksananya terutama 1. Tenaga pelaksananya terutama
adalah para dokter. ahli kesehatan masyarakat.
2. Perhatian utamanya pada 2. Perhatian utamanya pada
penyembuhan penyakit. pencegahan penyakit.
3. Sasaran utamanya adalah 3. Sasaran utamanya adalah
perserorangan atau keluarga. masyarakat secara keseluruhan.
4. Kurang memperhatikan efisiensi. 4. Selalu berupaya mencari cara
yang efisien.
5. Tidak boleh menarik perhatian 5. Dapat menarik perhatian
karena bertentangan dengan etika masyarakat, misalnya dengan
kedokteran. penyuluhan kesehatan.
6. Menjalankan fungsi 6. Menjalankan fungsi dengan
perseorangan dan terikat dengan mengorganisir masyarakat dan
undang-undang. mendapat dukungan undang-
undang.
7. Penghasilan diperoleh dari imbal 7. Penghasilan berupa gaji dari
jasa. pemerintah.
8. Bertanggung jawab hanya kepada 8. Bertanggung jawab kepada
penderita. seluruh masyarakat.
9. Tidak dapat memonopoli upaya 9. Dapat memonopoli upaya
kesehatan dan bahkan mendapat kesehatan.
saingan.
10. Masalah administrasi amat 10. Menghadapi berbagai persoalan
sederhana. kepemimpinan.
(Azrul, Azwar, 2010: 44)

37
d. Apa saja syarat pokok pelayanan kesehatan?
Jawab:
1. Tersedia dan berkesinambungan : syarat pokok pertama pelayanan
kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan tersebut harus
tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan
(continous). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan oleh masyarakat tidak seulit ditemukan, serta
keberadaannya di masyarakat adalah pada setiap saat yang
dibutuhkan (Azwar, Azrul, 2010: 45).
2. Dapat diterima dan wajar : artinya pelayanan kesehatan tersebut
tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adat istiadat ,
kebudayaan, keyakinan dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat
tidak wajar , bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik
(Azwar, Azrul, 2010: 45).
3. Mudah dicapai : pengertian ketercapaian yang dimaksud di sini
terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian untuk dapat
mewujudkan pelayana kesehatan menjadi sangat penting.
Pelayanan kesehatan yang terlalu terkonsentrasi di daerah
perkotaan saja, dan smentara itu tidak ditemukan di daerah
perdesaan, bukan pelayanan kesehatan yang baik (Azwar, Azrul,
2010: 45).
4. Mudah dijangkau : yang dimaksudkan di sini terutama dari sudut
biaya. Untuk dapat mewujudkan keadaan yang seperti ini harus
dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan
kemampuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal
dan karena itu hanya mungkin dinikmati oleh sebagian kecil
masyarakat saja, bukan pelayanan kesehatan yang baik (Azwar,
Azrul, 2010: 45).
5. Bermutu : yang dimaksudkan disini adalah yang menunjuk pada
tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan ,

38
di satu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan, dan di
pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik
serta standar yang telah ditetapkan (Azwar, Azrul, 2010: 45).

e. Bagaimana tingkatan pelayanan kesehatan masyarakat?


Jawab:
Menurut Departemen Kesehatan dalam KEPRES NO.15 tahun 1984,
Departemen Kesehtan melalui segenap aparatnya yang tersebar di
seluruh tanah air. Aparat yang dimaksud ialah Kantor Wilayah
Departemen Kesehatan yang terdapat disetiap provinsi serta Kantor
Departemen Kesehatan yang terdapat disetiap kabupaten. Sesuai
dengan UU Pokok Pemerintah Daerah No. 5 tahun 1974 dimana
tanggung jawab kesehtan berada pada pemerintah daerah maka di
setiap pemerintah daerah juga ditemukan aparat pemerintah yang
bertanggung jawab dalam bidang kesehatan. Aparat yang dimaksud
ialah Kantor Dinas Kesehatan Provinsi untuk tingkat provinsi, Kantor
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotamadya untuk tingkat
kabupaten/kotamadya serta kantor kesehatn kecamatan untuk tingkat
kecamatan. Pelayanan kesehatan masyarakat sehari-hari, dipercayakan
kepada puskesmas. Peran serta masyarakat dalam bidang kesehtan
masyarakat secara keselurhan disebut dengan nama Pembangunan
Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) yang pengorganisasiannya
berada dalam Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).
Sedangkan wadah peran serta masyarakat dalam program masyarakat
dikenal dengan nama Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) (Azwar,
Azrul :2010:125)

39
(Azwar, Azrul :2010:125)

f. Bagaimana unsur-unsur definisi Winslow dalam


mengaplikasikan pelayanan kesehatan masyarakat?
Jawab:
Untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan
kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk :
1. Perbaikan sanitasi lingkungan
2. Pencegahan penyakit-penyakit menular
3. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
4. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk
diagnosa dini dan pengobatan
5. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang
terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatan
(Notoatmojo, Soekidjo, 2007: 14-15)

40
g. Apa saja jenis dari pelayanan kedokteran?
Jawab:
1. Ditinjau dari tenaga pengelola.
Untuk ini pelayanan kedokteran dapat dibedakan atas dua macam
yakni:
a. Diselenggarakan oleh satu orang.
Bentuk pelayanan kedokteran yang diselenggarakan oleh satu
orang amat populer di Indonesia, inilah sebabnya banyak
ditemukan dokter dan ataupun bidan yang membuka praktek
perseorangan.
b. Diselenggarakan oleh kelompok.
Bentuk pelayanan kedokteran berkelompok merupakan hal yang
baru di Indonesia dan banyak macamnya. Secara umum dapat
dibedakan atas dua macam yakni :
1. Hanya menyelenggarakan satu macam pelayanan kedokteran
saja, misalnya praktek bersama dokter ahli kebidanan dan
praktek bersama ahli kesehatan anak.
2. Menyelenggarakan lebih dari satu macam pelayanan
kedokteran, misalnya praktek bersama dokter ahli kebidanan
dengan dokter ahli kesehatan anak. Bertempat di rumah sakit
bersalin.
2. Ditinjau dari cara pelayanan yang diselenggarakan.
Untuk ini pelayanan kedokteran dibedakan atas dua macam, yakni :
a. Pelayanan rawat jalan.
Contoh pelayanan rawat jalan (ambutory) adalah pelayanan
kedokteran yang diselenggarakan oleh poliklinik, balai
pengobatan, dan Puskesmas.
b. Pelayanan rawat jalan dan rawat inap.
Contoh pelayanan rawat jalan dan rawat inap (hospitalization)
adalah pelayanan kedokteran oleh rumah sakit dan rumah sakit
bersalin.

41
3. Ditinjau dari macam pelayanan yang diselenggarakan.
a. Menyediakan satu macam pelayanan kedokteran saja. Misalnya
praktek dokter umum.
b. Menyediakan lebih dari satu macam pelayanan kedokteran.
1. Pelayanan kedokteran tidak lengkap/tidak menyeluruh (partial
medical care) misalnya yang diselenggarakan oleh BKIA.
2.mPelayanan kedokteran lengkap/menyeluruh (comprehensive
medical care) misalnya yang diselenggarakan oleh rumah sakit
umum.
4. Ditinjau dari penggunaan kemajuan ilmu dan teknologi kedoktera
a. Pelayanan kedokteran tradisional
b. Pelayanan kedokteran modern
5. Ditinjau dari tingkat pendidikan dan keahlian tenaga pelaksana
a. Pelayanan kedokteran yang dilaksanakan oleh tenaga yang tidak
mendapatkan pendidikan kedokteran modern, misalnya praktek
dukun, tabib dsb
b. Pelayanan kedokteran yang dilaksanakan oleh tenaga paramedic
, misalnya praktek bidan
c. Pelayanan kedokteran yang dilaksanakan oleh dokter umum ,
misalnya praktek dokter umum
d. Pelayanan kedokteran yang dilaksanakan oleh dokter spesialis
dan subspesialis
6. Ditinjau dari peranannya dalam penyembuhan penderita
a. Berhubungan langsung dengan penyembuhan penyakit
b. Tidak berhubungan langsung dengan penyakit
(Azwar, Azrul :2010:78-80)

42
4. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat, dr. Ali lebih
menekankan pada pendidikan kesehatan pada masyarakat dalam bentuk
promosi kesehatan. Materi promosi kesehatan yang diberikan dr.Ali
terutama pada penyakit-penyakit yang cenderung menjadi wabah, karena
secara epidemiologi kawasan Puskesmas Padang Tepung rawan dengan
penyakit infeksi akibat vektor nyamuk.
a. Apa saja strategi dalam promosi kesehatan?
Jawab:
Strategi global (promosi kesehatan) menurut WHO 1984:
1) Advokasi (advocacy)
Kegiatan yang ditujukan kepada pembuat keputusan (decision
makers) atau penentu kebijakan (policy makers).
Tujuannya adalah agar para pembuat keputusan mengeluarkan
kebijakan-kebijakan antara lain dalam bentuk peraturan, undang-
undang, instruksi dan sebagainya yang menguntungkan kesehatan
publik. Bentuk kegiatan advokasi ini antara lain lobbying,
pendekatan atau pembicaraan formal isu-isu atau masalah-masalah
kesehatan atau yang mempengaruhi kesehatan masyarakat
setempat, seminar-seminar masalah kesehatan dan sebagainya
(Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 37)
Output kegiatan advokasi adalah undang-undang, peraturan-
peraturan daerah, instruksi-instruksi yang mengikat masyarakat dan
instansi-instansi yang terkait dengan masalah kesehatan. Oleh sebab
itu sasaran advokasi adalah para pejabat eksekutif dan legislative,
para pemimpin dan pengusaha serta organisasi politik dan
organisasi masyarakat, baik tingkat pusat, provinsi, kabupaten,
kecamatan maupun desa atau kelurahan (Notoatmojo, Soekidjo,
2012: 37)
2) Dukungan Sosial (social support)
Kegiatan yang ditujukan kepada para tokoh masyarakat, baik
formal (guru, lurah, camat, petugas kesehatan dan sebagainya)

43
maupun informal (tokoh agama dan sebagainya) yang mempunyai
pengaruh di masyarakat (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 37)
Tujuan kegiatan ini adalah agar kegiatan atau program
kesehatan tersebut memperoleh dukungan dari tokoh masyarakat
dan tokoh agama. Selanjutnya tokoh masyarakat dan tokoh agama
diharapkan dapat menjembatani antara pengelola program
kesehatan dan masyarakat (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 37)
Pada masyarakat yang masih paternalistik seperti di Indonesia
ini, tokoh masyarakat dan tokoh agama merupakan panutan
perilaku masyarakat yang sangat signifikan. Oleh sebab itu apabila
tokoh masyarakat dan tokoh agama sudah mempunyai perilaku
sehat, akan mudah ditiru oleh anggota masyarakat lain. Bentuk
kegiatan mencari dukungan sosial ini antara lain pelatihan-pelatihan
para tokoh masyarakat, tokoh agama, seminar, lokakarya,
penyuluhan dan sebagainya (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 37)
3) Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)
Pemberdayaan ini ditujukan kepada masyarakat langsung
sebagai sasaran primer atau utama promosi kesehatan (Notoatmojo,
Soekidjo, 2012: 37)
Tujuannya agar masyarakat memiliki kemampuan dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Pemberdayaan masyarakat ini dapat diwujudkan dengan berbagai
kegiatan, antara lain penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan
pembangunann masyarakat dalam bentuk misalnya koperasi dan
pelatihan keterampilan dalam tangka peningkatan pendapatan
keluarga (latihan menjahit, pertukangan, peternakan dan
sebagainya). Melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan
masyarakat memiliki kemampuan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Oleh karena bentuk
kegiatan pemberdayaan masyarakat ini lebih pada kegiatan
penggerakan masyarakat untuk sehat misalnya adanya dana sehat,

44
adanya pos obat desa, adanya gotong-royong kesehatan dan
sebagainya, maka kegiatan ini sering disebut gerakan masyarakat
untuk kesehatan. Meskipun demikian, tidak semua pemberdayaan
masyarakat itu berupa kegiatan gerakan masyarakat (Notoatmojo,
Soekidjo, 2012: 37)
Strategi promosi kesehatan berdasarkan piagam Ottawa (Ottawa
charter)
Salah satunya rumusan strategi promosi kesehatan yang
dikelompokkan menjadi 5 butir :
a. Kebijakan berwawasan kesehatan
b. Lingkungan yang mendukung
c. Reorientasi pelayanan kesehatan
d. Keterampilan individu Gerakan masyarakat (Notoatmojo, Soekidjo,
2012: 38)

b. Apa saja bentuk metode dari promosi kesehatan?


Jawab:
Beberapa metode pendidikan atau promosi kesehatan
a. Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai
1. Metode Individual (Perorangan)
Metode ini digunakan untuk membina perilaku baru. Dasar
digunakannya pendekatan individual ini karena setiap orang
mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan
dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Bentuk
pendekatannya, antara lain :
a. Bimbingan dan Penyuluhan
Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih
intensif dan diharapkan klien dengan sukarela berdasarkan
kesadaran dan penuh pengertian akan menerima perilaku baru

45
b. Wawancara
Wawancara ini untuk menggali informasi mengapa klien tidak
atau belum menerima perilaku baru atau klien tertarik atau tidak
terhadap perilaku baru tersebut
2. Metode Kelompok
Dalam memilih metode kelompok, harus diingat besarnya
kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dan sasaran.
a. Kelompok Besar
Apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang. Metode yang
baik untuk kelompok besar ini antara lain ceramah dan seminar
b. Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan kurang dari 15 orang, metode yang
cocok untuk kelompok kecil ini adalah diskusi kelompok,
curhat pendapat (brain storming) dan juga dibagi jadi
kelompok-kelompok kecil
3. Metode Massa
Pendekatan massa cocok untuk mengkomunikasikan pesan-pesan
kesehatann yang ditujukan kepada masyarakat. Pendekatan ini
biasany adigunakan untuk menggugah kesadaran masyarakat
terhadap suatu inovasi awareness, dan belum begitu diharapkan
untuk sampai ke perubahan perilaku. Beberapa contoh metode yang
cocok untuk pendekatan massa, antara lain :
a. Ceramah umum
b. Berbincang-bincang (talk show) tentang kesehatan melalui
media elektronik
c. Simulasi
d. Tulisan-tulisan di majalah atau koran tentang konsultasi
maupun tanya jawab kesehatan dan penyakit
e. Billboard yang dipasang dipinggir jalan, spanduk, poster, dan
sebagainya.

46
b. Berdasarkan Teknik Komunikasi
1. Metode penyuluhan langsung. Dalam hal ini para penyuluh
langsung berhadapan atau bertatap muka dengan sasaran. Termasuk
di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan diskusi (FGD),
pertemuan di balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.
2. Metode yang tidak langsung. Dalam hal ini para penyuluh tidak
langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran, tetapi ia
menyampaikan pesannya dengan perantara (media). Umpamanya
publikasi dalam bentuk media cetak, melalui pertunjukan film, dsb
(Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 51-57)

c. Apa saja tujuan dan sasaran promosi kesehatan?


Jawab:
1. Tujuan
Meningkatkan kemampuan individu, keluarga , kelompok, dan
masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya
kesehatan bersumber masyarakat (Notoatmojo, Soekidjo, 2012:41).
2. Sasaran
a. Sasaran primer
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung segala
upaya pendidikan atau promosi kesehatan. Sesuai dengan
permasalahan kesehatan, maka sasaran ini dapat dikelompokkan
menjadi kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu
hamil dan menyusui untuk masalah kesehatan ibu dan anak,
anak sekolah untuk kesehatan remaja dan sebagainya. Upaya
promosi yang dilakukan terhadap sasaran primer ini sejalan
dengan strategi pemberdayaan masyarakat (Notoatmojo,
Soekidjo, 2012: 41)

47
b. Sasaran sekunder
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan
sebagainya. Disebut sasaran sekunder, karena dengan
memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok ini
diharapkan untuk selanjutnya kelompok ini akan memberikan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat di sekitarnya. Di
sampinting itu dengan perilaku sehat para tokeoh masyarakat
sebagai hasil pendidikan kesehatan yang diterima, maka para
tokoh masyarakat ini akan memberikan contoh atau acuan
perilaku sehat bagi masyarakat sekitarnya. Upaya promosi
kesehatan yang ditujukan kepada sasaran sekunder adalah
sejalan dengan strategi dukungan social (Notoatmojo, Soekidjo,
2012: 41)
c. Sasaran tersier
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingkat
pusat, maupun daerah adalah sasaran tersier promosi kesehatan.
Dengan kebijakan-kebijakan ataupun keputusan yang
dikeluarkan oleh kelompok ini akan mempunyai dampak
terhadap perilaku para tokoh masyarakat (sasaran sekunder) dan
juga kepada masyarakat umum (sasaran primer). Upaya
promosi kesehatan ditujukan kepada sasaran primer ini sejalan
dengan strategi advokasi (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 42)

d. Bagaimana ruang lingkup promosi kesehatan?


Jawab:
Ruang lingkup atau cakupan promosi kesehatan , baik sebagai ilmu
maupun seni sangat luas. Cakupan tersebut dapat dilihat dari 2 dimensi
yakni dimensi aspek pelayanan kesehatan, dan dimensi tatanan
(setting) atau tempat pelaksanaan. (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 42)

48
1. Ruang lingkup berdasarkan aspek kesehatan
Telah menjadi kesepakatan umum bahwa kesehatan masyarakat itu
mencakup 4 aspek pokok, yakni : promotif,preventif,kuratif dan
rehabilitatif.
a) Promosi kesehatan pada aspek preventif-promotif
Sasaran promosi kesehatan pada aspek promotif adalah
kelompok orang sehat. Selama ini kelompok orang sehat kurang
memperoleh perhatian dalam upaya kesehatan masyarakat.
Padahal kelompok orang sehat di suatu komunitas sekitar 80-
85% dari populasi. Apabila jumlah ini tidak dibina
kesehatannya, maka jumlah ini akan meningkat. Oleh sebab itu
pendidikan kesehatan pada kelompok ini perlu ditingkatkan
atau dibina agar tetap sehat atau lebih meningkat lagi. Derajat
kesehatan bersifat dinamis, oleh sebab itu meskipun seseorang
sudah dalam kondisi sehat, tetap perlu ditingkatkan dan dibina
kesehatannya (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 42)
b) Promosi kesehatan pada aspek penyembuhan dan pemulihan
(kuratif-rehabilitatif)
Pada aspek ini upaya promosi kesehatan mencakup tiga upaya
atau kegiatan, yakni:
1. Pencegahan tingkat pertama
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok
masyarakat yang berisiko tinggi misalnya kelompok ibu
hamil dan menyusui, para perokok, obesitas, para pekerja
seks dan sebagainya. Tujuan upaya promosi kesehatan pada
kelompok ini adalah agar mereka tidak jatuh sakit atau
terkena penyakit.
2. Pencegahan tingkat kedua
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah para
penderita penyakit kronis, misalnya asma, diabetes mellitus,
tuberkulosis, rematik, hipertensi dan sebagainya. Tujuan

49
upaya promosi kesehatan pada kelompok ini adalah agar
penderita mampu mencegah penyakit menjadi lebih parah.
3. Pencegahan tingkat ketiga
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok
pasien yang baru sembuh (recovery) dari suatu penyakit.
Tujuannya adalah agar mereka segera pulih kembali
kesehatannya. Dengan kata lain menolong para penderita
yang baru sembuh dari penyakitnya ini agar tidak menjadi
cacat atau mengurangi kecacatan seminimal mungkin
(rehabilitasi) (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 43).
2. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan pelaksanaan
Berdasarkan tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan promosi
atau pendidikan kesehatan , maka ruang lingkup promkes ini dapat
dikelompokkan menjadi :
a. Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (RT)
Keluarga atau rumah tangga adalah unit masyarakat terkecil.
Oleh sebab itu untuk mencapai perilaku manusia yang sehat
harus dimulai di masing-masing keluarga. Di dalam
keluargalah mulai terbentuk perilaku-perilaku masyarakat.
Orang tua (ayah dan ibu) merupakan sasaran utama dalam
promosi kesehatan pada tatanan ini. Karena orang tua, terutama
ibu, merupakan peletak dasar perilaku dan terutama perilaku
kesehatan bagi anak-anak mereka (Notoatmojo, Soekidjo,
2012: 43).
b. Promosi kesehatan pada tatanan sekolah
Sekolah merupakan perpanjangan tangan pendidikan kesehatan
bagi keluarga. Sekolah, terutama guru pada umumnya lebih
dipatuhi oleh murid-muridnya. Oleh sebab itu lingkungan
sekolah, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang
sehat, akan sangat berpengaruh terhadap perilaku sehat anak-
anak (murid). Kunci pendidikan kesehatan di sekolah adalah

50
guru, oleh sebab itu perilaku guru harus dikondisikan, melaui
pelatihan-pelatihan kesehatan, seminar, lokakarya dan
sebagainya (Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 44).
c. Promosi kesehatan di tempat kerja
Tempat kerja merupakan tempat orang dewasa memperoleh
nafkah untuk keluarga. Lingkungan kerja yang sehat (fisik dan
nonfisik) akan mendukung kesehatan pekerja atau
karyawannya dan akhirnya akan menghasilkan produktivitas
yang optimal. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak sehat
serta rawan kecelakaan akan menurunkan derajat kesehatan
pekerjanya, dan akhirnya kurang produktif. Oleh sebab itu
pemilik, pemimpin atau manajer dari institusi tempat kerja
termasuk perkantoran merupakan sasaran promosi kesehatan
sehingga mereka peduli terhadap kesehatan para pekerjanya
dan mengembangkan unit pendidikan kesehatan di tempat kerja
(Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 44).
d. Promosi di tempat-tempat umum
Tempat-tempat umum di sini mencakup pasar, terminal bus,
Bandar udara, tempat-tempat perbelanjaan, tempat-tempat
olahraga, taman-taman kota dan sebagainya. Tempat-tempat
umum yang sehata, bukan saja terjaga kebersihannya, tetapi
juga harus dilengkapi dengan fasilitas kebersihan dan sanitasi
terutama WC umum dan sarana air bersih, serta tempat
smnpah. Para pengelola tempat-tempat umum merupakan
sasaran promosu kesehatan agar mereka melengkapi tempat-
tempat umum dengan fasilitas yang dimaksud, di samping
melakukan imbauan-imbauan kebersihan dan kesehatan bagi
pemakai tempat umum atau masyarakat melalui pengeras
suara, poster, leaflet dan sebagainya (Notoatmojo, Soekidjo,
2012: 45).

51
e. Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan ini mencakup rumah sakit (RS),
puskesmas, poliklinik, rumah bersalin dan sebagainya.
Kadang-kadang sangat ironis, di mana rumah sakit atau
puskesmas tidak menjaga kebersihan fasilitas pelayanan
kesehatan. Keadaan fasilitas tersebut kotor, bau, tidak ada air,
tidak ada tempat sampah dan sebagainya. Oleh sebab itu
pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan sasaran
utama promosi kesehatan di fasilitas kesehatan ini. Mereka
inilah yang bertanggung jawab atas terlaksananya pendidikan
atau promosi kesehatan di institusinya. Kepada para pemimpin
atau manajer institusi pelayanan kesehatan ini diperlukan
kegiatan advokasi. Sedangkan bagi para karyawannya
diperlukan pelatihan tentang promosi kesehatan. Beberapa
rumah sakit memang telah mengembangkan unit pendidikan
(penyuluhan) tersendiri yang disebut PKMRS
(Penyuluhan/Promosi Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit)
(Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 45).
3. Ruang lingkup berdasarkan tingkat pelayanan
a) Promosi kesehatan
Dalam tingkat promosi kesehatan diperlukan misalnya dalam
peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi
lingkungan, kesehatan perorangan dan sebagainya (Notoatmojo,
Soekidjo, 2012: 46)
b) Perlindungan khusus
Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan
perlindungan khus ini, promosi kesehatan sangat diperlukan
terutama di negara-negara berkembang. Hal ini karena
kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai
cara perlindungan terhadap penyakit pada orang dewasa
maupun anak-anaknya masih rendah.

52
c) Diagnosis dini dan pengobatan segera
Dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
terhadap kesehatan dan penyakit, maka penyakit-penyakit yang
terjadi di dalam masyarakat sering sulit terdeteksi. Bahkan
kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan
diobati penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan masyarakat
tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Oleh sebab
itu, promosi kesehatan sangat diperlukan pada tahap ini
(Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 46)
d) Pembatasan cacat
Kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang
kesehatan dan penyakit, seringkali mengakibatkan masyarakat
tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Mereka tidak
melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap
penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat
mengakibatkan yang bersangkutan menjadi cacat atau memiliki
ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu. Oleh karena itu
promosi kesehatan juga diperlukan pada tahap ini, agar
masyarakat mau memeriksakan kesehatannya secara dini
(Notoatmojo, Soekidjo, 2012: 47)
e) Rehabilitasi
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang
orang menjadi cacat. Untuk memulihkan cacatnya tersebut
diperlukan latihan-latihan tertentu. Oleh Karena kurangnya
pengertian dan kesadaran orang tersebut, maka ia tidak atau
segan melakukan latihan-latihan yang dianjurkan. Sering terjadi
pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggota
masyarakat yang normal. Oleh sebab itu, jelas, promosi
kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat
tersebut, tetapi juga untuk masyarakat (Notoatmojo, Soekidjo,
2012: 47)

53
e. Apa saja penyakit-penyakit yang menjadi wabah? Dan bagaimana
kriteria wabah dari penyakit tersebut?
Jawab:
Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut Wabah, adalah
kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka (Menkes RI, 2010: 3)
Jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah
adalah sebagai berikut: a. Kolera; b. Pes; c. NYAMUK; d. Campak; e.
Polio; f. Difteri; g. Pertusis; h. Rabies; i. Malaria; j. Avian Influenza
H5N1; k. Antraks; l. Leptospirosis; m. Hepatitis; n. Influenza A baru
(H1N1)/Pandemi 2009; o. Meningitis; p. Yellow Fever; q.
Chikungunya (Menkes RI, 2010: 5)

f. Bagaimana pengendalian vektor pada penyakit infeksi akibat


vektor nyamuk?
Jawab:
Pada dasarnya metode pengendalian vektor nyamuk yang paling efektif
adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat (PSM). Sehingga
berbagai metode pengendalian vektor cara lain merupakan upaya
pelengkap untuk secara cepat memutus rantai penularan (Nurmaini,
2010)
Berbagai metode PengendalianVektor (PV) nyamuk yaitu:
a. Kimiawi
Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan
insektisida. Sasaran insektisida adalah stadium dewasa dan pra-
dewasa. Karena insektisida adalah racun, maka penggunaannya
harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan dan
organisme bukan sasaran termasuk mamalia.

54
b. Biologi
Pengendalian vektor biologi menggunakan agent biologi seperti :
predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium
pra dewasa vektor nyamuk.
Jenis predator yang digunakan adalah Ikan pemakan jentik (cupang,
tampalo, gabus, guppy, dll), sedangkan larva Capung,
Toxoryncites, Mesocyclops dapat juga berperan sebagai predator
walau bukan sebagai metode yang lazim untuk pengendalian vektor
nyamuk.
c. Manajemen lingkungan
Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan
sehingga tidak kondusif sebagai habitat perkembangbiakan atau
dikenal sebagai source reduction seperti 3M plus (menguras,
menutup dan mengubur, dan plus: menyemprot, memelihara ikan
predator, menabur larvasida dll); dan menghambat pertumbuhan
vektor (menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengurangi tempat-
tempat yang gelap dan lembab di lingkungan rumah dll).
d. Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN
Pengendalian vektor nyamuk yang paling efisien dan efektif adalah
dengan memutus rantai penularan melalui pemberantasan jentik.
Pelaksanaannya di masyarakat dilakukan melalui upaya
Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-
DBD) dalam bentuk kegiatan 3 M plus.
e. Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vector Management/IVM)
(Nurmaini, 2010)

5. Bagaimana Pandangan islam dalam kasus ini?


Jawab:
QS. Al-Baqarah : 222


55
Artinya
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah
suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum
mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di
tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.

2.6 Kerangka Konsep

Dr. Ali baru lulus dari Fakultas


Kedokteran

Lulus PNS, bekerja sebagai


Kepala Puskesmas

Melakukan pelayanan kesehatan


masyarakat

Sanitasi lingkungan Melalui promosi


(Pemberantasan vektor nyamuk) kesehatan

Vektor berkurang/tereradikasi

2.7 Kesimpulan
Dr. Ali, baru lulus dari Fakultas Kedokteran dan bekerja sebagai Kepala
Puskesmas Padang Tepung sering menemui berbagai kendala administrasi
kesehatan karena wilayah Puskesmasnya rawan dengan penyakit infeksi akibat
vektor nyamuk sehingga akan dilaksanakan pendidikan kesehatan dalam
bentuk promosi kesehatan.

56
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi 3, Tanggerang: PT.


Binarupa Aksara. Hal. 12-17, 19-10, 43, 44, 45, 78-80, 125, 135
Depkes. 2013. Tugas dan Fungsi Kepala Dinas Kesehatan Kota. Jakarta.
(http://depkes.go.id/9/Tugas-dan-Fungsi/Tugas-Dan-Fungsi-Dinas-
Kesehatan/2) (diakses 7 Mei 2014)
Menkes RI. 2004. Keputusan Menteri Ksehatan Republik Indonesia Nomor
128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 5-6, 8-9, 16-
25, 42-47
Menkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang
dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. Jakarta: Mentri
Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 3, 5
Notoatmojo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal. 14-15, 17
Notoatmojo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal. 37, 38, 41, 51-57, 79-83
Nurmaini. 2010. Pengendalian Vektor Nyamuk. Medan: Universitas Sumatra Utara
(http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-nurmaini1.pdf) (diakses 7 Mei
2014)
Presiden. 2012. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012
Tentang Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta. Hal. 2-5, 16-18, 20-22, 39-45,
48-57, 63-64, 66-69
Rai Nyoman Kumar. 1998. Pedoman Kerja Puskesmas. Jilid 1. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia

57