Anda di halaman 1dari 15

BAB 1 TINJAUAN KASUS

1.1 Signalement

Gambar 1.1 Sapi yang mengalami indigesti (Sumber : Dokumentasi pribadi).


a. Nama hewan :-
b. Jenis atau ras : Sapi PFH
c. Jenis kelamin : jantan
d. Umur :7 bulan
e. Tanggal pemeriksaan : 17 Mei 2017
1.2 Anamnesa
Pemilik sapi menghubungi dokter hewan dan menjelaskan bahwa sapinya
mengalami keluhan tidak mau makan sejak kemarin dan nampak lesu.
1.3 Pemeriksaan Fisik Sapi
a. Anoreksia
b. Sapi nampak lesu
c. Mata sayu
d. Konsistensi feses agak keras dan sedikit.

1
Gambar 1.2 Konsistensi feses sapi yang keras (Sumber : Dokumentasi pribadi).

1.4 Diagnosis
Berdasarkan anamnesa, dan temuan klinis yang ditemukan dapat di diagnosa
sapi tersebut menderita indigesti sederhana.

2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Indigesti Sederhana
2.1.1 Etiologi Indigesti Sederhana atau Simpleks
Indigesti sederhana merupakan gangguan sindrom pencernaan yang berasal
dari rumen atau reticulum, ditandai oleh hilangnya gerak rumen atau lemahnya
tonus rumen hingga ingesta tertimbun di dalamnya dan serta juga ditandai dengan
konstipasi.
Menurut Subronto (2008), kebanyakan kasus terjadi akibat perubahan pakan
yang mendadak, terutama pada hewan muda yang mulai menyesuaikan diri untuk
diberikan ransum hewan dara. Pakan yang mengandung serat kesar terlalu tinggi
juga dapat menyebabkan hal ini terjadi.
Dalam beberapa kasus pemberian obat antimicrobial yang berlebihan juga
dapat memicu terjadinya indigesti pada hewan. Hewan yang terlalu letih atau
dipaksa bekerja juga dapat menyebabkan terjadinya indigesti simpleks, hewan
yang sedang dalam transportasi dari satu daerah ke daerah lain juga dapat terjadi
indigesti.
2.1.2 Patogenesis
Pakan yang mengandung protein tinggi atau yang mengalami pembusukan
akan menghaslkan ammonia, dengan akibat derajat keasaman rumen mengalami
kenaikan. Hal inia akan menyebabkan bakteri yang tidak tahan suasana alkalis
akan mnegalami kematian, serta menyebabkan pencernaan secara biokimiawi
tidak efisien. Ingesta yang tidak tercerna dengan baik akan tertimbun di dalam
rumen, yang secara reflektoris mendorong rumen untuk berkontraksi berlebihan.
Akibat hal tersebut maka akan terbentuk asam laktat secara berlebihan yang
kemudian menyebabkan gerakan rumen menjadi melemah (Subronto,2008).

Dalam keadaan stasis rumen, pembentukan asam lemak volatile menjadi


terhalang. Karena asam lemak tersebut diperlukan sebagai pembentukan air susu,
dalam keadaan stasis rumen maka produksi susu akanmenurun.

3
2.1.3 Gejala Klinis
Penderita tampak lesu dan malas bergerak, nafsu makan hilang, sedangkan nafsu
untuk minum. Pada awalnya frejuensi gerak rumen meningkat selama beberapa jam
dan diikuti dengan penurunan frekuensi gerak dan tonus rumen. Pada palpasi rumen
terasa teraba ingesta lunakm tetapi tidak mencapai median dari rumen. Pembesaran
rumen tidak terlalu berarti (Subronto, 2008). Pada umumnya frekuensi pernafasan
dan pulsus masih dalam batas normalnya. Tinja yang dikeluarkan biasanya hanya
sedikit berlendir, berwarna gelap dengan konsistensi lunak.
2.1.4 Diagnosis

Penentuan diagnosis harus didasarkan pada data-data di atas. Dalam diagnosis


banding perlu diperbandingkan dengan ketosis, retikulo peritonitis traumatika, dan
dysplasia abomasa. Pada ketosis biasanya terjadi dalam waktu dua bulan pertama
setelah kelahiran dan disertai dengan kenaikan mencolok dari benda-benda keton
dalam darah dan kemihnya

Pada retikulo peritonitis traumatika gejala klinis yang ditemukan bersifat


menonjol. Gambaran darahnya menunjukkan adanya perubahan radang akut. Dari
dysplasia abomasa selain gejala-gejala tersifat, prosesnya juga berlangsung lebih
lama (Subronto,2008).

2.1.5 Pengobatan
Umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, pemberian makanan penguat atau
makanan kasar hendaknya dihentikan sementara. Air minum yang ditambahi garam
harus diberikan secara ad libitum.
Untuk pengobatan dapat pula obat parasimpatomimetik seperti carbamyl-
choline dengan dosis 2-4 ml, disuntikkan subkutan pada sapid an kerbau dewasa
untuk merangsang gerak rumen. Secara oral, preparat magnesium sulfat atau sodium
sulfat, dengan dosis 100-400 gram dapat diberikan dengan aman.

4
2.2 Pakan

Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh
hewan. Bahan pakan ternak terdiri dari tanaman, hasil tanaman, dan kadang-kadang
berasal dari ternak serta hewan yang hidup di laut (Tillman et al., 1991). Menurut
Blakely dan Bade (1998) bahan pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu
konsentrat dan bahan berserat. Konsentrat berupa bijian dan butiran serta bahan
berserat yaitu jerami dan rumput yang merupakan komponen penyusun ransum.

Pada dasarnya, sumber pakan sapi dapat disediakan dalam bentuk pakan
hijauan dan konsentrat. Satu hal yang terpenting adalah pakan dapat memenuhi
kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Disamping itu, terdapat
juga pakan tambahan yang membuat proses penggemukan sapi berlangsung lebih
cepat, efisien, murah, dan mudah diterapkan (Sarwono dan Arianto, 2006).

2.2.1 Pakan Hijauan

Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun
tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga
(Sugeng, 1998). Menurut Lubis (1992) pemberian pakan pada ternak sebaiknya
diberikan dalam keadaan segar. Pemberian pakan yang baik diberikan dengan
perbandingan 60 : 40 (dalam bahan kering ransum), apabila hijauan yang diberikan
berkualitas rendah perbandingan itu dapat menjadi 55 : 45 dan hijauan yang diberikan
berkualitas sedang sampai tinggi perbandingan itu dapat menjadi 64 : 36 (Siregar,
2008).

Jerami adalah sisa-sisa hijau-hijauan dari tanam-tanaman sebangsa padi dan


leguminosa, setelah biji-bijinya dipetik untuk dimanfaatkan oleh manusia. Jerami
mengandung protein, pati dan lemak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan hijauan,
sedangkan kadar serat kasarnya jauh lebih tinggi. Jerami yang biasa digunakan untuk
bahan pakan adalah jerami padi, jerami jagung, gandum (Lubis, 1992). Menurut

5
Siregar (2008), jerami padi mengandung 21% bahan kering (BK), 9,2% protein kasar
(PK) , 27,4% serat kasar (SK) dan 41% total digestible nutrients (TDN).

2.2.2 Konsentrat

Pakan penguat (konsentrat) adalah pakan yang mengandung serat kasar relatif
rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan yang
berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, dedak, katul, bungkil kelapa, tetes,
dan berbagai umbi. Fungsi pakan penguat adalah meningkatkan dan memperkaya
nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah (Sugeng, 1998). Menurut
Darmono (1999) konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang
dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil produk ikutan pertanian atau dari pabrik dan
umbi- umbian. Bekatul dalam susunannya mendekati analisis dedak halus, akan tetapi
lebih sedikit mengandung selaput putih dan bahan kulit, di dalam bekatul juga
tercampur pecahan halus dari menir. Kandungan nutrien dari bekatul adalah 15% air,
14,5% PK, 48,7% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), 7,4% SK, 7,4% LK dan 7,0
% abu, kadar protein dapat dicerna 10,8% dan Martabat pati (MP) = 70 (Lubis, 1992).
Menurut Santosa (1995) bekatul mengandung 85% BK, 14% PK, 87,6% TDN, 0,1%
kalsium (Ca) dan 0,8% phospor (P).

Ampas tahu adalah ampas yang diperoleh dari pembuatan tahu yang diberikan
kepada ternak besar dan kecil. Ampas tahu dalam keadaan segar mengandung lebih
dari 80% air. Kandungan nutrien dari ampas tahu adalah 84% air, 5% PK, 5,8%
(bahan ekstrak tanpa nitrogen) BETN, 3,2 % SK, 1,2% LK, dan 0,8% abu. Ampas
tahu yang sudah dikeringkan masih mengandung kira-kira 16% air, dengan kadar
protein dapat dicerna (Prdd) 22,3% dan nilai MP=62 (Lubis, 1992). Menurut Siregar
(2008) ampas tahu mengandung 23% BK, 23,7% PK, 23,6% SK dan 79% TDN.

Ketela pohon (Manihot utilissima) mempunyai umbi dengan kadar tepung yang
sangat tinggi. Umbi ketela pohon yang masih segar tidak dianjurkan diberikan pada
ternak secara rutin, karena mengandung racun sianida yang sangat berbahaya (Lubis,

6
1992). Menurut Siregar (2008), kandungan nutrisi ketela pohon adalah 32,3% BK,
3,3% PK, 4,2% SK, 81,8% TDN.

2.2.3 Mineral

Tubuh hewan memerlukan mineral untuk membentuk jaringan tulang dan


urat, untuk memproduksi dan mengganti mineral dalam tubuh yang hilang, serta
untuk memelihara kesehatan. Mineral berfungsi untuk bahan pembentuk tulang dan
gigi yang menyebabkan adanya jaringan yang keras dan kuat, memelihara
keseimbangan asam basa dalam tubuh, sebagai aktivator sistem enzim tertentu,
sebagai komponen dari suatu sistem enzim. Mineral harus disediakan dalam
perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup, karena apabila terlalu banyak
mineral akan membahayakan tubuh ternak (Woro, 2009).

2.3 Fisiologi Saluran Pencernaan

Proses pencernaan dibedakan atas tiga jenis yaitu proses mekanis,


enzimatis dan fermentatif. Pencernaan mekanis terjadi di mulut dengan bantuan gigi
sebagai alat pemotong. Pencernaan enzimatis adalah pencernaan yang dilakukan
oleh enzim- enzim pencernaan, pada ruminansia dilakukan pada abomasum (perut
sejati). Pencernaan fermentatif dilakukan atas bantuan mikroba, pada ruminansia
terjadi di rumen dan retikulum (McDonald et al., 2002)

Rumen merupakan bagian dari lambung ruminansia yang berfungsi untuk


poses pencernaan berupa fermentasi makanan. Rumput-rumputan merupakan bahan
pakan utama ternak, dan rumput- rumputan ini biasanya tersusun atas komponen-
komponen karbohidrat berupa selulosa. Dalam proses pencernaan selulosa
diperlukan proses fermentasi terlebih dahulu. Proses fermentasi ini akan merombak
komponen selulosa menjadi komponen karbohidrat yang memiliki susunan molekul
yang lebih kecil dan dapat diserap oleh tubuh. Proses pencernaan berupa fermentasi
dalam rumen utamanya dilakukan oleh mikroorganisme dalam rumen. Proses
pencernaan atau fermentasi makanan dalam rumen juga menghasilkan gas, sebagian

7
besar gas yang dihasilkan berupa gas karbondioksida (CO2) dan gas metana (CH4).
Fungsi fermentasi pada rumen yang cukup kompleks ini, bila mengalami gangguan
salah satunya dapat menyebabkan terjadinya tymphani atau Bloat (Subroto, 2003).

8
BAB 3 PEMBAHASAN
3.1 Etiologi Kasus
Indigesti merupakan sindrom yang bersifat kompleks dengan berbagai
manifestasi klinis tanpa disertai perubahan anatomis pada lambung muka hewan
pemamah biak. Indigesti dibagi menjadi dua yaitu simplek dan komplek. Indigesti
sederhana atau simplek merupakan sindrom gangguan pencernaan yang berasal dari
rumen atau reticulum, ditandai dengan penurunan atau hilangnya gerak rumen,
lemahnya tonus kedua lambung tersebut hingga ingesta tertimbun di dalamnya dan
disertai pula dengan sembelit (konstipasi) (Mustofa, 2010). Indigesti sederhana
biasanya berhubungan dengan perubahan kualitas ataupun kuantitas pakan. Penyebab
indigesti sederhana antara lain perubahan pakan tiba-tiba, pemberian pakan beku atau
masak, pengenalan pada ransum yang mengandung urea, pemberian konsentrat setelah
lama tidak diberikan, dan pengenalan sapi dengan ransum tinggi konsentrat. Selain itu,
indigesti sederhana dapat disebabkan oleh sapi memakan plasenta post partus. Indigesti
yang merupakan keadaan atoni rumen biasanya mengikuti perubahan pada pH rumen.
Perubahan pH tersebut disebabkan oleh fermentasi yang berlebihan dari pakan yang
dicerna. Akumulasi pakan yang sudah dicerna dalam jumlah yang berlebihan secara
fisik dapat menggangu fungsi rumen selama 24-48 jam. Pakan yang mengandung
protein tinggi atau yang mengalami pembusukan akan menghasilkan ammonia, dengan
akibat derajat keasaman (pH) rumen mengalami kenaikan. Hal ini akan menyebabkan
bakteri yang tidak tahan suasana alkalis mengalami kematian, dan menyebabkan
pencernaan secara biokimiawi tidak efisien. Ingesta tidak tercerna dengan baik dan
tertimbun di dalam rumen, yang secara reflektoris mendorong agar rumen berkontraksi
berlebihan. Karena kelelahan, maka akan terjadi hipotonia atonia rumen Berdasarkan
hasil diskusi dengan dokter hewan lapangan, Indigesti bisa disebabkan karena
perubahan pakan secara mendadak, pakan dengan serat kasar tinggi serta tidak
diimbangi cairan yang cukup, dan hewan terlalu letih. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Subronto (2003), bahwa kebanyakan kasus terjadi akibat perubahan pakan yang
mendadak, terutama pada hewan muda yang mulai menyesuaikan diri untuk diberikan
dengan baik akan tertimbun di dalam rumen, yang secara reflektoris mendorong rumen

9
untuk berkontraksi berlebihan. Akibat hal tersebut maka akan terbentuk asam laktat
secara berlebihan yang kemudian menyebabkan gerakan rumen menjadi melemah.

3.2 Gejala Klinis

Gejala klinis yang terlihat tergantung pada penyebab dari kejadian indigesti.
Pemberian silase yang berlebihan akan menyebabkan sapi mengalami anoreksia. Pada
saat palpasi rumen terasa penuh dan padat, motilitas rumen pada kejadian ini akan
menurun. Temperatur, frekuensi jantung, dan frekuensi pernafasan tetap normal. Feses
berbentuk normal namun berkurang. Persembuhan dapat terjadi secara spontan dalam
waktu 24-48 jam. Sedangkan indigesti yang disebabkan oleh pemberian konsentrat
yang berlebihan akan menunjukkan keadaan anoreksia dan stasis rumen. Saat palpasi
rumen tidak terlalu penuh dan mungkin saja mengandung cairan yang berlebihan. Feses
akan tampak lembek dengan bau yang sangat khas. Penderita indigesti simplek ditandai
dengan kondisi tubuh nampak lesu dan malas bergerak, nafsu makan hilang, sedang
nafsu minum mungkin masih ada. Frekuensi gerak rumen meningkat dan segera diikuti
dengan penurunan frekuensi gerak rumen. Beberapa penyebab indigesti yang lain
misalnya: sapi mengkonsumsi pakan yang kandungan proteinnya terlalu tingi, bahan
pakan berjamur, pemberian obat antimikrobial yang berlebihan, dan hewan yang lelah
atau sehabis makan langsung dipekerjakan lagi. Gangguan indigesti sederhana ini
sering ditemukan mengawali gangguan organik lainnya, misalnya radang retikulum,
metriris, dan kembung rumen (bloat) (Subronto, 2008)

Berdasarkan anamnesa dan gejala klinik, diduga sapi ini mengalami Indigesti
simplek atau indigesti sederhana. Indigesti simplek/indigesti sederhana merupakan
sindrom gangguan pencernaan yang berasal dari rumen atau retikulum, ditandai dengan
penurunan atau hilangnya gerak rumen, lemahnya tonus kedua lambung tersebut,
hingga ingesta tertimbun di dalamnya dan disertai dengan konstipasi. Proses indigesti
bentuk ini terjadi mendadak, berlangsung beberapa jam sampai kurang lebih dua hari.
Kebanyakan kejadian timbul akibat perubahan pakan yang mendadak, terutama pada
pemberian pakan dengan serat kasar terlalu tinggi yang tidak diimbangi dengan cairan
yang cukup akan memudahkan terjadinya indigesti. Dalam kasus ini, kemungkinan

10
terjadinya indigesti disebabkan oleh pergantian pakan yang tidak seimbang menilik
umur sapi yang baru berumur empat bulan. Pada usia 3- 4 bulan adalah saat- saat
dimana pedet mulai disapih dengan cara mengurangi jumlah susu yang diberikan,
kemudian diberikan sedikit kosentrat dan hijauan secara bergantian. Ada kemungkinan
pemberian serat kasar atau hijauan yang berlebih dapat menyebabkan gangguan
indigesti pada sapi tersebut. Pemberian pakan dengan kandungan serat kasar tinggi dan
jumlahnya banyak akan menyebabkan rumen akan bekerja lebih keras yaitu ditandai
dengan peningkatan kontraksi pada otot otot rumen yang pada akhirnya akan
meyebabkan otot otot rumen menjadi kelelahan. Kelelahan ini akan berakibat pada
penurunan gerakan rumen (hipotonia) dan beberapa jam kemudian gerakan rumen akan
hilang (atonia). Hilangnya gerakan rumen ini sangat berbahaya karena ingesta yang ada
didalam rumen tidak akan tercerna secara maksimal. Akibatnya ingesta tersebut akan
tertimbun didalam rumen ataupun akan menyubat saluran pencernaan sehingga ketika
ingesta tersebut keluar dalam bentuk feses akan terlihat bahwa feses tersebut memiliki
konsistensi yang keras, warnanya agak gelap dan terkadang juga terdapat lendir
bercampur darah (Subronto, 2003). Hal ini sesuai dengan hasil temuan di lapangan
yang menunjukkan adanya konsistensi feses yang cenderung kering, keras dan
jumlahnya sedikit pada lantai kandang di sekitar sapi yang diduga mengalami indigesti.

3.3 Patomekanisme

Ada dua patomekanisme yang memungkinkan terjadinya indigesti simplek.


Patomekanisme ini bisa disebabkan karena pemberian pakan hijauan yang terlalu
banyak atau pemberian pakan konsentrat yang terlalu banyak. Patomekanisme yang
terjadi apabila mengkonsumsi hijauan atau serat kasar yang terlalu banyak yaitu Hewan
akan mengalami hipermotilitas rumen untuk mengatasi timbunan ingesta yang
membuat otot rumen menjadi lelah yang akan memicu terjadinya atonia ruminis.
Terjadinya atonia ruminis ini sangat berbahaya karena ingesta yang ada didalam rumen
tidak akan tercerna secara maksimal. Akibatnya ingesta tersebut akan tertimbun
didalam rumen ataupun akan menyubat saluran pencernaan sehingga ketika ingesta
tersebut keluar dalam bentuk feses akan terlihat bahwa feses tersebut memiliki

11
konsistensi yang keras dan kering. Apabila pakan yang dikonsumsi sapi mengandung
protein yang tinggi akan menyebabkan protein-protein tersebut akan menghasilkan
pembusukan dan menghasilkan ammonia yang berakibat pH rumen mengalami
kenaikan. Peningkatan ph rumen menyebabkan kuman-kuman yang tidak tahan
suasana alkalis akan mati sehingga ingesta tidak tercerna secara biokimiawi dan ingesta
akan tertimbun di dalam rumen. Timbunan ingesta tersebut akan menaikan kontraksi
rumen dan membuat otot rumen cepat lelah yang nantinya berujung pada atonia rumen.
(Mustofa, 2010). Menurut hasil pengamatan dilapangan, kebanyakan konntrat
diberikan dalam bentuk dicombor atau di campur dengan air. Kondisi ini bisa
memungkinkan adanya cairan yang berlebihan pada rumen yang mengalami atoni
sehingga menyebabkan feses akan tampak lembek dengan bau yang sangat khas.

3.4 Penangana dan Pengobatan

Umumnya indigesti simplek dapat sembuh dengan sendirinya, pemberian makanan


penguat atau makanan kasar hendaknya dihentikan sementara. Air minum yang
ditambahi garam harus diberikan secara ad libitum. Untuk pengobatan dapat pula obat
parasimpatomimetik seperti carbamyl-cholinedengan dosis 2-4 ml, disuntikkan
subkutan pada sapid an kerbau dewasa untuk merangsanggerak rumen. Secara oral,
preparat magnesium sulfat atau sodium sulfat, dengan dosis 100-400 gram dapat
diberikan dengan aman.

Penangganan kasus indigesti yang dilakukan oleh dokter hewan Ribut adalah
dengan pemberian Sulpydon, medoxy-l dan Recodryl. Tujuan dari pemberian Medoxy-
L adalah sebagai antibiotic. Medoxy L berisikan oxitetrasiklin yang bekerja dengan
cara menghambat sintesis protein bakteri, sehingga bakteri akhirnya mati. bekerja
terhadap sebagian besar bakteri Gram (+) dan Gram (-), termasuk yang resisten
terhadap Penicillin. Medoxy-L bekerja cepat, efek terapeutik dalam jaringan tubuh
tercapai dalam waktu 1-2 jam setelah penyuntikan. Medoxy-L dapat diberikan secara
IM/Sc. Pemberian sulpydon mengandung dypiron dan lidocain sangat efektif untuk
menurunkan panas (antipiretik), menghilangkan rasa sakit (analgesik) dan kejang-
kejang (antispasmodik) seperti pada kasus kolik intestinal pada hewan. Sulpydon

12
diberikan dengan dosis 10 20 ml / 200 400 kg BB dengan cara injeksi secara im/sc.
Recodryl adalah produk yang mengandung Diphenhydramine HCL, digunakan untuk
menghambat pengeluaran histamin yang berlebihan (alergi). Reaksi alergi dapat
disebabkan oleh makanan, lingkungan, penyakit, reaksi setelah pengobatan atau
vaksinasi yang ditunjukkan dengan adanya gejala-gejala seperti gatal-gatal pada kulit,
kontraksi otot polos usus, uterus, bronchi, dll. Recodryl diberikan secara im/iv dengan
dosis 1,25 2,5 / 100 kg BB.

A B
Gambar 3.1 (A) obat obatan yang digunakan. (B) Pemberian Terapi oleh drh. Ribut.
(Sumber : Dokumen Pribadi).
Sedangkan menurut Subronto (2003), pengobatan indigesti secara simptomatik
banyak dilakukan. Sedang menurut Frasser (2005), sapi diberi 20-40 L air hangat atau
saline melalui saluran perut, diikuti dengan pemijatan kuat pada rumen, dapat
membantu mengembalikan fungsi rumen. Jika terlalu banyak atau protein telah
tertelan, asam asetat atau cuka dapat diberikan PO. Jika aktivitas mikroba rumen
berkurang, pemasukan 4-8 L cairan rumen dari sapi yang sehat akan cukup membantu.
Pemberian air minum bersih yang dicampur dengan garam dapur secara ad libitum.
Obat parasimpatomimetik seperti carbamil choline (Carbachol, Lentin) dengan
dosis 2-4 ml, disuntikkan subkutan pada sapi dapat merangsang gerak rumen dalam
waktu singkat.

13
BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan anamnesa, dan temuan klinis dapat di diagnosa sapi tersebut


menderita indigesti sederhana atau simplek. Indigesti simpleks ditandai dengan
ditandai dengan kondisi tubuh nampak lesu dan malas bergerak, nafsu makan
hilang, sedang nafsu minum mungkin masih ada dan ditandai dengan penurunan
atau hilangnya gerak rumen, lemahnya tonus kedua lambung tersebut, hingga
ingesta tertimbun di dalamnya dan disertai dengan konstipasi sehingga feses
tampak keras dan agak kehitaman.

4.2 Saran

Hendaknya air diberikan secara add libitum dan pemberian pakan hijauan dan
konsentrat harus di kontrol secara ketat untuk meminimalisir terjadinya indigesti.

14
DAFTAR PUSTAKA

Frasser, C.M. 2005. The Merck Veterinary Manual: a Handbook of Diagnosis,


Therapy, and Disease. USA : Blackwell Publishing.
Mustofa. 2010. Penanganan Indigesti Simplek pada Ternak Gangguan pada
Rumen. Yogyakarta.
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I (Mamalia). Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Subronto. 2008. Ilmu Penyakit Ternak I-a (Mamalia). Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Schalms. 2010. Veterinary Hematology 6ed. Wiley Blackwell : USA
Smith, B.P. 2002. Large Animal Internal Medicine 3rd ed. Mosby : st. Louis
Missouri.

15