Anda di halaman 1dari 11

ANALISA KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH

PELAPORAN KORPORAT

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Perkuliahan
Pendidikan Profesi Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya

DISUSUN OLEH :

Muhammad Aliza Shofy


Wima Rakayana

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BRAWIJAYA


MALANG
2017
Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Dan Daerah

1. A. Pengertian Analisa
Analisa berasal dari kata Yunani kuno analusis yang artinya melepaskan. Analusis terbentuk
dari dua suku kata, yaitu ana yang berarti kembali, dan luein yang berarti melepas. Sehingga
apabila di gabungkan maka artinya adalah melepas kembali atau menguraikan. Kata anlusis ini di
serap kedalam bahasa inggris menjadi analysis yang kemudian di serap juga ke dalam bahasa
Indonesia menjadi analisis (www.kamusq.com).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (2001), arti dari kata analisa di antaranya
adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta
hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Sedangkan menurut Wikipedia.com, analisis diartikan sebagai proses memecah topik yang
kompleks atau substansi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk mendapatkan pemahaman
yang lebih baik atau mendalam terhadap hal tersebut. Menurut kamusqu.com, analisa atau analisis
adalah suatu usaha untuk mengamati secara detail sesuatu hal atau benda dengan cara menguraikan
komponen-komponen pembentuknya atau penyusunnya untuk dikaji lebih lanjut. Jadi pada intinya
analisa adalah suatu proses menguraikan sesuatu hal menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau
unsur-unsur pembentuknya, dalam rangka memperoleh pemahaman yang lebih mendalam atas hal
tersebut.
Kata analisa atau analisis atau analysis di gunakan dalam berbagai bidang, tidak terkecuali
dalam bidang akuntansi dan pelaporan keuangan. Analisis laporan keuangan ( atau analisis
keuangan ) merupakan proses memahami risiko dan profitabilitas perusahaan (bisnis , sub bisnis
atau proyek ) melalui analisis informasi keuangan yang telah dilaporkan , dengan menggunakan
alat akuntansi yang berbeda dan teknik (www.wikipedia.com) .
Analisis laporan keuangan sendiri terdiri dari
1 ) Merumuskan laporan keuangan yang dilaporkan ,
2 ) Analisis dan penyesuaian kesalahan pengukuran, dan
3 ) Analisis rasio keuangan berdasarkan laporan keuangan dirumuskan dan disesuaikan .

1. B. Cakupan Analisis Anggaran Pemerintah Pusat dan Daerah


Terkait dengan analisa laporan keuangan yang telah kita bahas sebelumnya, maka proses
analisa terkait dengan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah dapat dilakukan dengan
menganalisa unsur-unsur yang terdapat dan membentuk APBN, dapat pula dengan menganalisa
pelaksanaan dan pertanggungjawaban APBN tersebut dalam laporan keuangan pemerintah
(LKPP), atau dapat pula analisa dikaitkan dengan pengalokasian APBN ke dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan masih banyak lagi yang lainnya.
1. C. Arti Laporan Keuangan/Anggaran
Menurut www.id.wikipedia.org, Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu
perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja
perusahaan tersebut. Menurut Baridwan (1999: 17) laporan keuangan merupakan ringkasan dari
suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi
selama tahun buku yang bersangkutan. Menurut PSAK Nomor 1 tentang Penyajian Laporan
Keuangan, Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai
posisi keuangan, kinerja keuangan serta arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar
kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Jadi pada dasarnya laporan
keuangan adalah suatu ringkasan yang memuat informasi tentang posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas atau perusahaan dalam satu periode tertentu, umumnya 1 Januari sampai
dengan 31 Desember tahun berkenaan, yang mana informasi tersebut dijadikan salah satu
pertimbangan dalam pembuatan keputusan para stakeholders perusahaan.
Laporan keuangan menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan
sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Laporan keuangan menyajikan informasi tentang
aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari
dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, dan arus kas.
Laporan keuangan pada umumnya terdiri dari:
1. Laporan Laba / Rugi
2. Laporan Perubahan Ekuitas
3. Neraca
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Menurut id.wikipedia.org anggaran merupakan sejumlah uang yang dihabiskan
dalam periode tertentu untuk melaksanakan suatu program. Tidak ada satu perusahaanpun yang
memiliki anggaran yang tidak terbatas, sehingga proses penyusunan anggaran menjadi hal penting
dalam sebuah proses perencanan. Anggaran belanja atau budget umumnya merujuk pada daftar
rencana seluruh biaya dan pendapatan. Anggaran belanja merupakan konsep penting
dalam ekonomi mikro, yang menggunakan garis anggaran untuk mengilustrasikan penjualan
antara dua barang atau lebih. Dengan kata lain, anggaran belanja merupakan rencana organisasi
yang dinyatakan dalam istilah moneter.
Terdapat berbagai jenis anggaran belanja, yakni anggaran belanja penjualan, anggaran belanja
produksi, anggaran belanja tunai, anggaran belanja pemasaran, anggaran belanja proyek, anggaran
belanja pendapatan, dan anggaran belanja ekspeditur.
Tujuan anggaran adalah:
1. Menyediakan perkiraan pendapatan dan ekspeditur, yakni membangun model
bagaimana bisnis dapat berjalan secara finansial jika menjalankan strategi, peristiwa, dan
rencana tertentu.
2. Memungkinkan operasi keuangan bisnis yang sebenarnya untuk diukur terhadap
perkiraan.
3. D. Arti Laporan Keuangan Pemerintah dan Anggaran Pemerintah
Laporan Keuangan pemerintah Pusat (LKPP) adalah pertanggungjawaban
pengelolaan keuangan negara selama suatu periode yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Tujuan Laporan
Keuangan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan adalah Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih, arus kas, hasil operasi, dan perubahan
ekuitas suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan
mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan
keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan
keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya
yang dipercayakan kepadanya, dengan:
a) menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas
pemerintah;
b) menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan
ekuitas pemerintah;
c) menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;
d) menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;
e) menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi
kebutuhan kasnya;
f) menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan
kegiatan pemerintahan;
g) menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan
dalam mendanai aktivitasnya.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan, Laporan Keuangan Pemerintah terdiri dari Laporan Realisasi Angaran, Neraca,
Laporan Arus Kas, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Laporan
Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan.
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
LRA menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola
oleh pemerintah (pusat/daerah)yang menggambarkn perbandingan antara anggaran dan
realisasinya dalam satu periode pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung oleh Laporan
Realisasi Anggaran terdiri dari pendapatan-LRA, belanja, transfer, dan pembiayaan.
Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut :
(a) Pendapatan-LRA adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah
atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun
anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh
pemerintah.
(b) Belanja adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah
yang mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak
akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
(c) Transfer adalah penerimaan atau pengeluaran uang oleh suatu entitas pelaporan dari/kepada
entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil.
(d) Pembiayaan (financing) adalah setiap penerimaan/pengeluaran yang tidak berpengaruh pada
kekayaan bersih entitas yang perlu dibayar kembali dan/atau akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam
penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan
surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil
divestasi. Pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok
pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.
1. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan informasi kenaikan atau penurunan Saldo
Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
1. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan
ekuitas pada tanggal tertentu. Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan
ekuitas. Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut :
(a) Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan
diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam
satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi
masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
(b) Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya
mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.
(c) Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban
pemerintah.
1. Laporan Operasional
Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah ekuitas dan
penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan
pemerintahan dalam satu periode pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung dalam Laporan
Operasional terdiri dari pendapatan-LO, beban, transfer, dan pos-pos luar biasa. Masing-masing
unsur dapat dijelaskan sebagai berikut:
(a) Pendapatan-LO adalah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih.
(b) Beban adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih.
(c) Transfer adalah hak penerimaan atau kewajiban pengeluaran uang dari/oleh suatu entitas
pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil.
(d) Pos Luar Biasa adalah pendapatan luar biasa atau beban luar biasa yang terjadi karena kejadian
atau transaksi yang bukan merupakan operasi biasa, tidak diharapkan sering atau rutin terjadi, dan
berada di luar kendali atau pengaruh entitas bersangkutan.
1. Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasi, investasi,
pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo
akhir kas pemerintah pusat/daerah selama periode tertentu. Unsur yang dicakup dalam Laporan
Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing dapat dijelaskan
sebagai berikut:
(a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Negara/Daerah.
(b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Negara/Daerah.
1. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun
pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
1. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera
dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan SAL, Laporan Operasional, Laporan
Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga
mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan
informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi
Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan
keuangan secara wajar. Catatan atas Laporan Keuangan
mengungkapkan/menyajikan/menyediakan hal-hal sebagai berikut:
(a) Mengungkapkan informasi Umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi;
(b) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro;
(c) Menyajikan ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut kendala dan
hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
(d) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan
akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi transaksi dan kejadian-kejadian penting
lainnya;
(e) Menyajikan rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka
laporan keuangan;
(f) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
(g) Menyediakan informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, 5 yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang selanjutnya disingkat APBN, adalah
rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
APBN terdiri atas anggaran Pendapatan Negara, anggaran Belanja Negara, dan Pembiayaan
Anggaran.
Dalam sektor pemerintahan kita mengenal adanya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
APBN ini merupakan rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui
oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat
rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari 31
Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan
dengan Undang-Undang. APBN tahun 2013 ini disahkan dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun
2012, yang kemudian diikuti dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2013 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan Tahun 2013. APBN yang telah disahkan menjadi
Undang-Undang ini kemudian dipidatokan oleh presiden pada tanggal 16 Agustus, bersamaan
dengan pertanggungjawaban keuangan negara berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP) tahun sebelumnya yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). APBN
kemudian dalam pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dalam Peraturan Presiden.
Adapun tahapan penyusunan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban APBN adalah sebagai
berikut:
Pemerintah mengajukan Rancangan APBN dalam bentuk RUU tentang APBN kepada DPR.
Setelah melalui pembahasan, DPR menetapkan Undang-Undang tentang APBN selambat-
lambatnya 2 bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan. Setelah APBN ditetapkan dengan
Undang-Undang, pelaksanaan APBN dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden.
Berdasarkan perkembangan, di tengah-tengah berjalannya tahun anggaran, APBN dapat
mengalami revisi/perubahan. Untuk melakukan revisi APBN, Pemerintah harus mengajukan RUU
Perubahan APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR.Perubahan APBN dilakukan paling
lambat akhir Maret, setelah pembahasan dengan Badan anggaran DPR. Dalam keadaan darurat
(misalnya terjadi bencana alam), Pemerintah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia
anggarannya. Selambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir, Presiden menyampaikan
RUU tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN kepada DPR berupa Laporan
keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan.
Struktur APBN terdiri atas:
1. Penerimaan APBN, diperoleh dari berbagai sumber yaitu :
2. Penerimaan pajak yang meliputi :
1. Pajak Penghasilan (PPh).
2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
3. Pajak Bumi dan Bangunan(PBB).
4. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) & Cukai.
5. Pajak lainnya seperti Pajak Perdagangan (bea masuk dan pajak/pungutan ekspor).
6. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) meliputi :
1. Penerimaan dari sumber daya alam.
2. Setoran laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
3. Penerimaan bukan pajak lainnya.
4. Belanja APBN, terdiri atas dua jenis:
5. Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk membiayai
kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan di pusat
maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja
Pemerintah Pusat dapat dikelompokkan menjadi:
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang
3. Belanja Modal
4. Pembiayaan Bunga Utang
5. Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM
6. Belanja Hibah
7. Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana).
8. Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah
Daerah, untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah
yang bersangkutan. Belanja Pemerintah Daerah meliputi:
1. Dana Bagi Hasil
2. Dana Alokasi Umum
3. Dana Alokasi Khusus
4. Dana Otonomi Khusus.

1. Pembiayaan APBN, meliputi:


2. Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat Utang
Negara, serta penyertaan modal negara.
3. Pembiayaan Luar Negeri, meliputi:
1. Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri atas Pinjaman Program dan Pinjaman
Proyek
2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri, terdiri atas Jatuh Tempo dan
Moratorium.
Dalam penyusunan APBN, pemerintah menggunakan 7 indikator perekonomian makro, yaitu:
1. Produk Domestik Bruto (PDB) dalam rupiah.
2. Pertumbuhan ekonomi tahunan (%).
3. Inflasi (%).
4. Nilai tukar rupiah per USD.
5. Suku bunga SBI 3 bulan (%).
6. Harga minyak indonesia (USD/barel).
7. Produksi minyak Indonesia (barel/hari).
Fungsi APBN
APBN merupakan instrumen untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan negara dalam rangka
membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai
pertumbuhanekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabitas perekonomian, dan
menentukan arah serta prioritas pembangunan secara umum.
APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi.
Semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban negara dalam
suatu tahun anggaran harus dimasukkan dalam APBN. Surplus penerimaan negara dapat
digunakan untuk membiayai pengeluaran negara tahun anggaran berikutnya.
1. Fungsi otorisasi, mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk
melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan, Dengan demikian,
pembelanjaan atau pendapatan dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
2. Fungsi perencanaan, mengandung arti bahwa anggaran negara dapat menjadi pedoman
bagi negara untuk merencanakan kegiatan pada tahun tersebut. Bila suatu pembelanjaan
telah direncanakan sebelumnya, maka negara dapat membuat rencana-rencana untuk
medukung pembelanjaan tersebut. Misalnya, telah direncanakan dan dianggarkan akan
membangun proyek pembangunan jalan dengan nilai sekian miliar. Maka, pemerintah
dapat mengambil tindakan untuk mempersiapkan proyek tersebut agar bisa berjalan dengan
lancar.
3. Fungsi pengawasan, berarti anggaran negara harus menjadi pedoman untuk menilai apakah
kegiatan penyelenggaraan pemerintah negara sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan. Dengan demikian akan mudah bagi rakyat untuk menilai apakah tindakan
pemerintah menggunakan uang negara untuk keperluan tertentu itu dibenarkan atau tidak.
4. Fungsi alokasi, berarti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi
pengangguran dan pemborosan sumber daya serta meningkatkan efesiensi dan efektivitas
perekonomian.
5. Fungsi distribusi, berarti bahwa kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa
keadilan dan kepatutan
6. Fungsi stabilisasi, memiliki makna bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk
memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.
Prinsip penyusunan APBN
Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu:
1. Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan penyetoran.
2. Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara.
3. Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dan penuntutan denda.
Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN adalah:
1. Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan.
2. Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan.
3. Semaksimah mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan memperhatikan
kemampuan atau potensi nasional.
Azas penyusunan APBN
APBN disusun dengan berdasarkan azas-azas:
1. Kemandirian, yaitu meningkatkan sumber penerimaan dalam negeri.
2. Penghematan atau peningkatan efesiensi dan produktivitas.
3. Penajaman prioritas pembangunan
4. Menitik beratkan pada azas-azas dan undang-undang negara
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 1999. Intermediate Accounting Edisi Tujuh. BPFE: Yogyakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edidi
Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Dewan Standar Akuntansi Keuangan. 2012. Standar Akuntansi Keuangan. Ikatan Akuntan
Indonesia: Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.