Anda di halaman 1dari 10

Imunisasi Dasar pada Bayi

Berikut adalah lima imunisasi dasar yang wajib diberikan sejak bayi:

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) sekali untuk mencegah penyakit Tuberkulosis. Diberikan segera setelah
bayi lahir di tempat pelayanan kesehatan atau mulai 1 (satu) bulan di Posyandu.

Imunisasi Hepatitis B sekali untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang ditularkan dari ibu ke bayi saat persalinan.

Imunisasi DPT-HB 3 (tiga) kali untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis (batuk rejan), Tetanus dan Hepatitis
B. Imunisasi ini pertama kali diberikan saat bayi berusia 2 (dua) bulan. Imunisasi berikutnya berjarak waktu 4
minggu. Pada saat ini pemberian imunisasi DPT dan Hepatitis B dilakukan bersamaan dengan vaksin DPT-HB.

Imunisasi polio untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit polio. Imunisasi Polio diberikan 4 (empat) kali
dengan jelang waktu (jarak) 4 minggu.

Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak. Imunisasi campak diberikan saat bayi berumur 9 bulan.

Efek samping Imunisasi

Imunisasi kadang mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik yang membuktikan vaksin betul-betul bekerja
secara tepat. Efek samping yang biasa terjadi adalah sebagai berikut:

BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. Setelah 23 minggu
kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm. Luka akan
sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut kecil.

DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada sore hari setelah imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang
dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak
berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, dan akan sembuh sendiri. Bila gejala tersebut tidak
timbul, tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan, dan imunisasi tidak perlu
diulang.

Polio: Jarang timbuk efek samping.

Campak: Anak mungkin panas, kadang disertai kemerahan 410 hari sesudah penyuntikan.

Hepatitis B: Belum pernah dilaporkan adanya efek samping


Apa itu Imunisasi ?
Imunisasi adalah pemberian vaksin (virus yang dilemahkan) kedalam tubuh seseorang untuk
memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut.

Imunisasi sangat penting diberikan mulai dari lahir sampai awal masa kanak-kanak.

Apa pentingnya Imunisasi?


Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar :
1. Dapat terhindar dari penyakit.
2. Mencegah anak cacat.
3. Mencegah kematian pada anak.
Tempat Pemberian Imunisasi?
- Posyandu.

- Puskesmas.

- Rumah Sakit Bersalin.

- Rumah Sakit.

- Praktek Dokter/Bidan.

Apa saja jenis Imunisasi?


1. BCG
Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit TBC.

2. POLIO
Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit polio. Polio adalah sejenis penyakit yang
dapat menyebabkan terjadinya kelumpuhan.

3. DPT
Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk melindungi anak dari 3 penyakit sekaligus yaitu difteri, pertusis
dan tetanus.

4. HEPATITIS B
Fungsi dari imunisasi ini adalah untuk menghindari penyakit yang mengakibatkan kerusakan pada
hati.

5. CAMPAK
Adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini sangat menular,yang ditandai dengan
munculnya bintik-bintik merah pada seluruh tubuh. Pemberian vaksin ini saat bayi berusia 9 bulan.

Yang Harus Diperhatikan


Setelah Imunisasi
BCG : Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Luka akan
sembuh sendiri dengan meninggalkan bekas imunisasi.
DPT : Beberapa bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT,
tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu
mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri. Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu
diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan imunisasi tidak perlu diulang.
POLIO : Jarang timbuk efek samping.
CAMPAK : Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 410 hari sesudah penyuntikan.
HEPATITIS : Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.
Jadwal Imunisasi
Umur Jenis Imunisasi

0-7 hari HB 0

1 bulan BCG, Polio 1

2 bulan DPT/HB 1, Polio 2

3 bulan DPT/HB 2, Polio 3

4 bulan DPT/HB 3, Polio 4

9 bulan Campak
(Sumber : Kementerian Kesehatan RI)

(Sumber: Buku KIA, Kemenkes RI)


Jadwal Imunisasi menurut IDAI update : klik pada gambar untuk memperbesar
Imunisasi Dasar Wajib
Imunisasi wajib adalah imunisasi yang harus diberikan pada bayi. Dengan imunisasi wajib, maka bayi
akan terlindung terhadap penyakit yang kerap menyerang. Di antara berbagai jenis
imunisasi, yang termasuk imunisasi wajib adalah imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B.
1. Vaksin BCG
a. Penjelasan
Vaksin BCG mengandung jenis kuman TBC yang masih hidup tapi sudah dilemahkan. Pemberian
imunisasi ini bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).
b. Cara imunisasi
Imunisasi BCG dapat diberikan pada bayi baru lahir sampai berumur 12 bulan. Tetapi, sebaiknya pada
umur 0 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Pada anak berumur Iebih dari 2 3 bulan,
dianjurkan untuk melakukan uji mantoux / PPD sebelum imunisasi BCG.
Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya uji mantoux positif,
maka anak tersebut tidak mendapat imunisasi BCG lagi.
Bila pemberian imunisasi itu berhasil, setelah 1 2 bulan di tempat suntikan akan terdapat suatu
benjolan kecil. Tempat suntikan itu biasanya berbekas. Dan kadang kadang benjolan itu akan
bernanah, tetapi akan sembuh sendiri meskipun lambat.
c. Kekebalan
Imunisasi BCG tidak dapat menjamin 100% anak akan terhindar penyakit TBC. Tetapi, seandainya bayi
yang telah diimunisasi BCG terjangkit TBC, maka ia hanya akan menderita penyakit TBC ringan.
d. Reaksi imunisasi
Setelah suntikan BCG, biasanya bayi tidak akan menderita demam. Bila ia demam setelah imunisasi
BCG umumnya disebabkan oleh hal lain.
e. Efek samping
Pada imunisasi BCG, umumnya jarang dijumpai efek samping. Memang, kadang terjadi pembengkakan
kelenjar getah bening setempat yang terbatas, tapi biasanya sembuh dengan sendirinya walaupun
lambat.
Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terjadi di ketiak atau di leher bagian
bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakkan di kelenjar selangkangan.
f. Indikasi kontra
Tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG kecuali pada anak berpenyakit TBC atau
menunjukkan uji mantoux positif.
2. Vaksin Hepatitis B
a. Penjelasan
Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapat kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Vaksin tersebut
bagian dari virus hepatitis B yang dinamakan HBs Ag, yang dapat menimbulkan kekebalan tapi tidak
menimbulkan penyakit. HBs Ag ini dapat diperoleh dari serum manusia atau dengan rekayasa genetik
dengan bantuan sel ragi .

b. Cara imunisasi
Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak tiga kali dengan jarak waktu
satu bulan antara suntikan satu dan dua, lima bulan antara suntikan dua dan tiga.
Imunisasi ulang diberikan setelah lima tahun pasca imunisasi dasar. Cara pemberian imunisasi dasar
tersebut dapat berbeda, tergantung dari rekomendasi pabrik pembuat vaksin hepatitis B mana yang akan
dipergunakan.
Misalnya imunisasi dasar vaksin hepatitis B buatan Pasteur, Perancis berbeda dengan jadwal vaksinasi
vasksin buatan MSD, Amerika Serikat.
Khusus bayi yang lahir dari seorang ibu pengidap virus hepatitis B, harus diberikan imunisasi pasif
dengan imunoglobulin anti hepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam.
Berikutnya bayi tersebut harus pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir, dengan penyuntikan
vaksin hepatitis B dengan pemberian yang sama seperti biasa.
Mengingat daya tularnya yang tinggi dari ibu ke bayi, sebaiknya ibu hamil di Indonesia melakukan
pemeriksaan darah untuk mendeteksi apakah is mengidap virus hepatitis B sehingga dapat dipersiapkan
tindakan yang diperlukan menjelang kelahiran bayi.
Imunisasi Wajib
Imunisasi wajib adalah imunisasi yang harus diberikan pada bayi. Dengan imunisasi wajib, maka bayi
akan terlindung terhadap penyakit yang kerap menyerang. Di antara berbagai jenis
imunisasi, yang termasuk imunisasi wajib adalah imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B.

3. Vaksin DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)


a. Penjelasan
Vaksinasi DPT akan menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit
Difteria, Pertusis (batuk rejan / batuk seratus hari), dan tetanus.
Di Indonesia vaksin terhadap ketiga penyakit tersebut dipasarkan dalam tiga kemasan, yaitu dalam
bentuk kemasan tunggal bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi
DPT (difteria, pertusis, dan tetanus).
Vaksin difteria dibuat dari toksin / racun kuman difteria yang telah dilemahkan dinamakan toksoid.
Biasanya diolah dan dikemas bersama sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau
dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DTP.
Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus atau toksin / racun kuman
tetanus yang sudah dilemahkan kemudian dimurnikan. Ada tiga macam kemasan vaksin tetanus, yaitu
bentuk kemasan tunggal dan kombinasi dengan vaksin difteria (vaksin DT) atau kombinasi dengan vaksin
difteria dan pertusis (vaksin DTP).
Vaksin terhadap penyakit batuk rejan atau batuk seratus hari terbuat dari kuman Bordetella
Pertussisyang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama vaksin difteria dan tetanus (vaksin DTP)
b. Cara imunisasi
Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali, sejak bayi berumur dua bulan dengan selang waktu antara dua
penyuntikan minimal empat minggu. Imunisasi ulangan/booster yang pertama dilakukan pada usia 11/2
2 tahun atau satu tahun setelah suntikan imunisasi dasar ketiga.
Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia enam tahun atau di saat kelas 1 SD. Pada saat kelas 6
SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT. Vaksin pertusis (batuk rejan) tidak dianjurkan pada
anak yang berusia Iebih dari tujuh tahun karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat selain itu juga
perjalanan penyakit pertusis pada anak berumur lebih dari lima tahun tidak parah.
Pada masa mendatang telah dipikirkan untuk memberikan vaksin tetanus khusus untuk anak perempuan
yang belum pernah mendapat imunisasi DPT, atau imunisasi DPT tidak lengkap, sebanyak dua kali lagi
pada saat kelas dua dan kelas 3 SD tindakan ini diperkirakan
cukup untuk memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit tetanus sehingga bayi yang
kaiak dikandung dapat terlindung dari penyakit tetanus neonatorum atau tetanus pada bayi baru lahir.
Di indonesia penyakit tetanus pada bayi baru lahir masih merupakan penyebab kematian yang kadang
terjadi pada saat bayi baru lahir.
Imunisasi ulang sewaktu, diperlukan juga bila anak berhubungan dengan anak lain yang menderita
difteria atau batuk rejan. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus.
Dalam hal imunisasi tidak perlu cemas seandainya anak mendapatkan suntikan ulang sebelum
waktunya. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus, biasanya akan memberikan suntikan
ulang. Lebih baik memberikan imunisasi berlebih daripada kurang.
c. Kekebalan
Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteria cukup baik, yaitu sebesar 80 95% dan daya proteksi
vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90 95%. Sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih
rendah, yaitu 50 60%.
Oleh karena itu anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih dapat terjangkit penyakit batuk rejan,
tetapi dalam bentuk yang lebih ringan.
d. Reaksi imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama
satu dua hari.
e. Efek samping
Kadang kadang timbul reaksi akibat efek samping yang berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang
disebabkan oleh unsur pertusisnya.
f. Kontra indikasi
Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah dan anak yang menderita penyakit
kejang demam kompleks. Juga tidak boleh diberikan kepada anak dengan batuk yang diduga sedang
menderita batuk rejan dalam tahap awal atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi umum).
4. POLIO
Umur pemberian 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, sebanyak 4 kali, untuk mencegah penularan polio
yang menyebabkan lumpuh layuh pada tungkai dan atau lengan.
Bila pada suntikan DPI pertama, ASI dapat diberikan seperti biasa karena ASI tidak berpengaruh
terhadap vaksin polio. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT.
Pemberian imunisasi ulang perlu tetap diberikan seandainya seorang anak pernah terjangkit polio.
Karena mungkin saja anak yang menderita polio itu terjangkit virus polio tipe I. artinya, apabila
penyakitnya telah sembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe I, tetapi tidak
mempunyai kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III. Karena itu untuk mendapat kekebalan
terhadap ketiga virus tersebut perlu diberikan imunisasi ulang polio.
a. Kekebalan
Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95 100%.
b. Reaksi imunisasi
Biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan mengalami berak berak ringan
c. lndikasi kontra
Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan
demikian pula pada anak yang menderita gangguan kekebalan (defisiensi imun) tidak diberikan. Pada
anak dengan penyakit batuk, pilek, demam atau diare ringan imunisasi polio bisa diberikan seperti
biasanya.

5. Vaksin Campak (Morbili)


a. Penjelasan
Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak
mengandung virus campak yang telah dilemahkan.
Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau
dalam kemasan kering dikombinasi dengan vaksin gondong / bengok (mumps) dan rubella (campak
jerman).
Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama vaksin MMR (Mesles-Mumps-Rubella
vacine).
b. Cara imunisasi
Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dalam kandungan
dari ibunya. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur enam
bulan biasanya sebagian dari bayi tidak mempunyai kekebalan pasif lagi.
Dengan adanya kekebalan pasif ini sangat jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari
enam bulan.
Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup satu kali suntikan setelah bayi berumur sembilan bulan.
Lebih baik lagi setelah ia berumur Iebih dari satu tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung
seumur hidup, maka tidak diperlukan imunisasi ulang lagi.
Di Indonesia keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita
penyakit campak ketika masih berumur antara enam sembilan bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan
batas umur sembilan bulan untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO.
Dengan demikian di Indonesia dianjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi sebelum bayi berumur
sembilan bulan, misalnya pada umur enam sembilan bulan ketika kekebalan pasif yang diperoleh dari
ibu mulai menghilang. Akan tetapi kemudian harus mendapat suntikan ulang setelah berumur lima belas
bulan.
Perlukah vaksinasi campak diulang pada anak yang telah menderita campak karena infeksi alamiah?
Sebenarnya bila anak tersebut telah benar benar menderita sakit campak, maka vaksinasi campak
tidak perlu diberikan lagi. Masalahnya adalah apakah anak tersebut benar menderita campak? Biasanya
seorang ibu mendasarkan dugaan sakit anaknya itu hanya karena adanya demam yang disertai
timbulnya bercak merah di kulit.
Gejala demam dengan bercak merah tidak hanya pada penyakit campak, tetapi dapat juga dijumpai pada
penyakit lain, seperti penyakit demam tiga hari, demam berdarah, campak Jerman dan sebagainya.
menderita kurang gizi dalam derajat besar.
Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi, yaitu berkisar antara 94 96% .
c. Reaksi imunisasi
Umumnya tidak didapatkan reaksi, walaupun sangat jarang tetapi pada beberapa keadaan dapat terjadi
reaksi. Biasanya berupa nyeri pada tempat suntikan, yang kemudian disertai demam ringan atau
pembengkakan. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu dua hari.
d. Efek samping
Tidak dilaporkan adanya efek samping yang berarti. Kemungkinan terjangkit oleh penyakit AIDS akibat
pemberian vaksin hepatitis B yang berasal dari plasma, merupakan berita yang terlalu dibesarbesarkan.
e. Indikasi kontra
Imunisasi tidak dapat diberikan kepada anak yang menderita sakit berat. Vaksinasi hepatitis B dapat
diberikan pada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan memberikan
perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan
setelah lahir.

Imunisasi dasar pada bayiPresentation Transcript

1. IMUNISASI DASAR PADA BAYI Eka Sakti W, S.Kep.Ns

2. Definisi Imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Imunisasi adalah suatu
tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin kedalam tubuh. (Depkes
RI, 2000) Anak di imunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu.
3. Tujuan Imunisasi Mencegah terjadinya suatu penyakit dan menghilangkan penyakit tertentu pada
sekelompok masyarakat (populasi) misalnya pada imunisasi cacar
4. Imunisasi juga bertujuan untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar : Dapat terhindar dari
penyakit Mencegah anak cacat Mencegah kematian pada anak
5. Tempat Pelayanan Imunisasi Pelayanan imunisasi dapat diperoleh pada : 1. Posyandu 2.
Puskesmas 3. Bidan / dokter praktek 4. Rumah bersalin 5. Rumah sakit

6. Kapan Imunisasi Tidak Boleh Diberikan Keadaan-keadaan di mana imunisasi tidak dianjurkan : 1.
BCG, tidak diberikan pada bayi yang menderita sakit kulit lama, sakit TBC dan panas tinggi. 2. DPT,
tidak diberikan bila bayi sedang sakit parah, panas tinggi dan kejang. 3. Polio, tidak diberikan bila
diare dan sakit parah. 4. Campak, tidak diberikan bila bayi sakit mendadak dan panas tinggi.

7. Keadaan-Keadaan Yang Timbul Setelah Imunisasi 1.BCG, dua minggu setelah imunisasi terjadi
pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan, seterusnya timbul bisul kecil dan menjadi luka
parut. 2.DPT, umumnya bayi menderita panas sore hari setelah mendapatkan imunisasi, tetapi akan
turun dalam 1 - 2 hari. Di tempat suntikan merah dan bengkak serta sakit, walaupun demikian tidak
berbahaya dan akan sembuh sendiri. 3.Campak, panas dan umumnya disertai kemerahan yang
timbul 4 - 10 hari setelah penyuntikan. 4. Polio dan HB, tidak ada efek samping
8. Jenis-Jenis Imunisasi 1. BCG : memberi kekebalan pada penyakit TBC 2. DPT : memberi
kekebalan pada penyakit difteri, batuk rejan dan tetanus. 3. Polio : memberi kekebalan pada
penyakit poliomielitis. Polio adalah sejenis penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya
kelumpuhan. 4. Campak: memberi kekebalan pada penyakit campak. 5. H B : memberi kekebalan
pada penyakit hepatitis B

9. 5 macam Vaksin imunisasi dasar Vaksin Polio; Bibit penyakit yang menyebabkan polio adalah
virus, vaksin berbentuk cairan. pemberian pada anak dengan meneteskan pada mulut. Kemasan
sebanyak 1 cc / 2 cc dalam 1 ampul.

10. Vaksin Campak; Bibit penyakit yang menyebabkan campak adalah virus. Kemasan dalam
flacon berbentuk gumpalan yang beku dan kering untuk dilarutkan dalam 5 cc pelarut. Sebelum
menyuntikkan vaksin ini, harus terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua bidest).

11. Vaksin BCG; Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Bentuknya vaksin
beku kering seperti vaksin campak berbentuk bubuk yang berfungsi melindungi anak terhadap
penyakit tuberculosis (TBC). Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu dilarutkan
dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%).

12. Vaksin Hepatitis B; Bibit penyakit yang menyebabkan hepatitis B adalah virus. Biasanya
tempat penyuntikan di paha 1/3 bagian atas luar.

13. Vaksin DPT; Terdiri toxoid difteri, bakteri pertusis dan tetanus toxoid, kadang disebut triple
vaksin.

14. Jadwal Pemberian Imunisasi Umur Jenis Imunisasi 0-7 hari HB 0 1 bulan BCG, Polio 1 2 bulan
DPT/HB 1, Polio 2 3 bulan DPT/HB 2, Polio 3 4 bulan DPT/HB 3, Polio 4 9 bulan Campak

15. Cara Pemberian Imunisasi Pemberian imunisasi dapat diberikan secara suntikan maupun
diteteskan ke dalam mulut. 1. BCG : dengan suntikan ke dalam kulit pada lengan atas sebelah
dalam. 2. DPT : suntikan ke dalam otot di pangkal paha. 3. Campak : suntikan ke bawah kulit di
lengan kiri atas. 4. HB : suntikan pada lengan.

16. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) 1. Penyakit TBC Penyakit TBC sangat
menular dan menyerang semua umur. Ditandai dengan : - Batuk lebih dari 2 minggu, dahak dapat
bercampur darah. - Nafsu makan menurun, BB menurun. - Berkeringat malam tanpa aktifitas.

17. 2. Penyakit Difteri Difteri merupakan penyakit menular, teutama menyerang anak kecil. Ditandai
dengan : - Leher bengkak, terbentuk selaput putih kelabu dikerongkongan dan hidung sehingga
menyumbat jalan napas. - Anak gelisah karena sesak napas yang makin berat. - Amandel
membengkak dan merah.

18. 3. Penyakit Batuk Rejan / Batuk Seratus Hari Batuk Rejan adalah penyakit menular yang
menyerang anak-anak. Ditandai dengan : - Diawali batuk pilek biasa yang berlangsung sekitar 7 - 14
hari. Kemudian diikuti batuk hebat yaitu lebih keras dan menyambung terus 10 - 30 kali disertai
tarikan napas dan berbunyi, kemudian muntah, muka merah sampai biru dan mata berair. - Batuk
batuk berlangsung beberapa minggu kemudian berkurang. Penyakit ini dapat menyebabkan radang
apru-paru dan terjadi kerusakan otak sehingga dapat menyebabkan kejang, pingsan sampai terjadi
kematian.

19. 4. Penyakit Tetanus Ditandai dengan : - Kejang / kaku seluruh tubuh. - Mulut kaku dan sukar
dibuka, punggung kaku dan melengkung. - Kejang dirasakan sangat sakit. - Pada bayi yang baru
lahir (5 - 28 hari) mendadak tidak dapat menetek karena mulutnya kaku dan mencucu seperti mulut
ikan.

20. 5. Penyakit Polimielitis Ditandai dengan : -Anak rewel, panas dan batuk, dua hari kemudian
leher kaku, sakit kepala, otot badan dan kaki terasa kaku. - Lumpuh anggota badan tetapi biasanya
hanya satu sisi. - Penyakit ini dapat menyerang otot pernapasan dan otot menelan yang dapat
menyebabkan kematian.

21. 6. Penyakit Campak Penyakit ini sangat menular dan menyerang hampir semua bayi. Tanda-
tanda campak : - Badan panas, batuk, pilek, mata merah dan berair. - Mulut dan bibir kering serta
merah. - Beberapa hari kemudian keluar bercak- bercak di kulit dimulai di belakang telinga, leher
muka, dahi dan seluruh tubuh.

22. 7. Hepatitis Virus B Tanda-tanda : - Mual, muntah serta nafsu makan menurun. - Nyeri sendi,
nyeri kepala dan badan panas.

23. Perawatan Yang Diberikan Setelah Imunisasi 1. BCG, luka tidak perlu diobati tetapi bila luka
besar dan bengkak di ketiak anjurkan ke puskesmas; 2. DPT, bila panas berikan obat penurun
panas yang diperoleh dari posyandu dan berikan kempres dingin. 3. Campak, bila timbul panas
berikan obat yang didapat dari posyandu.