Anda di halaman 1dari 11

Pharmaceutical Care Paparan Kasus

I. IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Tn. S
Ruang : R1E Paviliun Jantung
Umur : 72 tahun
Tanggal MRS : 22 Juni 2013
Diagnosa : IMA STEMI

II. SUBYEKTIF (Saat MRS)


2.1. Keluhan Utama : dada terasa panas dan menjalar sampai ke rahang bawah
serta menetap, keringat dingin serta sesak.
2.2. Keluhan Tambahan : badan lemas
2.3. Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi (sejak 5 tahun yang lalu
Gastritis, osteoarthritis, COPD dan STEMI (2009)
2.4. Riwayat Pengobatan
Adalat oros, valsartan, amdixal
2.5. Riwayat Keluarga/Sosial :
Tidak diketahui
2.6. Alergi Obat :
Tidak diketahui
III. OBYEKTIF
3.1. Kondisi Klinik
kondisi Tanggal
klinik 22 23 24 25 26 27 28
Nyeri dada
Nyeri perut
Batuk # dahak #dahak #dahak
Sesak

3.2. Tanda Vital


Tanggal
Parameter 22 23 24 25 26 27 28
TD 158/69 120/80 120/70 141/71 140/70 120/80 130/70
T 36,4 36,5 36 36,2 36 36 36,8
N 75 56 56 60 70 78 78
RR 24 20 21 24 24 24 24

3.3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Parameter Nilai Satuan Tanggal
Normal 22 24
WBC 4-10 10^9/L 13,3
HGB 12-16 g/dl 11,8
PLT 150 300 10^9 /L 299
Troponin
GDA <180 mg/dl 118
TCHOL <200 mg/dl 131
TG <150 mg/dl 117
GDP 80-120 mg/dl 68
As. Urat 3-7 mg/dl 9,7
Cr 0,0-1,3 mg/dl 1,30
BUN 10-24 mg/dl 41,2
SGOT <37 mg/dl 81
SGPT <37 mg/dl 37
GD2JPP <140 mg/dl 115
PT 13,9
APT 33,9

3.4. Pemeriksaan penunjang


22/6/13 : EKG
Kesan : Inferior MI & Complete Right Bundle Branch Block (CRBBB)
24/6/13 : EKG
Kesan : evolusi EKG

IV. ASSESSMENT
4.1 Terapi Pasien
Nama Obat Signa Rute Tanggal
22 23 24 25 26 27 28
O2 2 lpm nasal
Cedocard (ISDN) 3x10 mg iv/po 0,5mg/jam 1mg/jam 1mg/jam
Aspilet 1x1 (0-1-0) po
Ceftriaxon 2x1 g iv
Ranitidin 2x50 mg iv
Plavix (CPG) 1x1 (1-0-0) po
Arixtra 1x1 iv S
Bisoprolol 1x5 mg po
Lovenox 2x0,6 iv
Allopurinol 3x100 mg po
4.2 Problem Medik dan Drug Related Problem

Problem Rekomendasi &


S/O Terapi Analisa
medik Monitoring

IMA Dada O2 Ada DRP Terapi lain tetap dan merekomendasikan


STEMI terasa ISDN 3x1 IMA STEMI dengan penangan lebih dari 12 jam penggunaan golongan statin semisal simvastatin
terbakar Bisoprolol diterapi dengan B-blocker, antikoagulan, dengan dosisi 1x20 mg
Sesak 1x1 kombinasi antiplatelet dan statin serta terapi Monitoring
EKG : Aspirin adjuntive bisa menggunakan morphine, Bleeding
Inferior MI 1x1 nitrogliserin, oxygen dan pemantauan glukosa Kondisi klinis pasien
& CRBB CPG 1x1 darah (Koda Kimble, 2012 dan epocrates Tanda-tanda vital
Arixtra software guidline). Para
meter 22 23 24 25 26 27 28
lovenox Bisoprolol sebagai agen b-blocker dapat
158 120 120 141 140 120 130
digunakan pada pasien dengan riwayat COPD TD /69 /80 /70 /71 /70 /80 /70
(Vincent Mainguy, at all, 2012) N 75 56 56 60 70 78 78
RR 24 20 21 24 24 24 24
Penggunaan statin pada pasien IMA STEMI
Nyeri
diperlukan untuk stabilisasi flaque dengan tidak dada
Sesak
mempertimbangkan berapapun kadar serum
lipidnya.
Problem Rekomendasi &
S/O Terapi Analisa
medik Monitoring

Hiper Kadar uric Allopurinol Tidak Ada DRP Terapi tetap


urecemia acid 9,7 3x100 mg Kadar asam urat yang melebihi nilai Monitoring
normal baik ada gejala ataupun tidak Tanda-tanda serangan gout dan pematauan kadar asam urat
dapat diterapi dengan allopurinol
(kecuali pada saat serangan seperti
bengkak-bengkak)

Batuk Batuk Ceftriaxon Kondisi batuk pasien membaik seiring Merekomendasikan penambahan obat untuk PPOK
dahak dari 2x1 g perbaikan dari kondisi jantungnya. eksaserbasi akut yakni ipatropium bromide 0,5 mg nebul/ 8
mulai Namun, adanya batuk berdahak perlu jam.
masuk ditangani mengingat ada riawayat PPOK Monitoring: tanda-tanda iinfeksi
rumah pada pasien Para
meter 22 23 24 25 26 27 28
sakit Ceftriaxon dapat digunakan sebagai terpi
Batuk # # #
WBC : 13,3 empiris pada PPOK eksaserbasi dahak dahak dahak dahak
T 36,4 36,5 36 36,2 36 36 36,8
V. PLAN
5.1 Rekomendasi
1. Merekomendasikan pemberian simvastatin untuk stabilisasi flak pada IMA STEMI
2. Merekomendasikan pemberian iptaropium bromide untuk penanganan PPOK eksaserbasi.
5.2 Monitoring
a. Kondisi Klinik : sesak, nyeri dada, batuk
b. Tanda vital : nadi, tekanan darah, nafas, suhu
c. Hasil Lab : -

5.3 Konseling
1. Aturan minum obat (diberikan UDD selama peawatan):
- Setelah sarapan meminum ISDN, Allopurinol, plavix.
- Aspilet diminum setelah makan siang beserta allopurinol dan ISDN.
- Setelah makan malam meminum allopurinol dan ISDN
2. Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak dan purin seperti jeroan, masakan
bersantan, sayuran melinjo dan kacang-kacangan.
3. Batasi konsumsi makanan yang dapat memicu gastritis seperti kopi, makanan pedas dan
asam.
PEMBAHASAN
Infarction Miocard Acute ST Elevation Miocard Infarction (IMA STEMI) merupakan proses
rusaknya jaringan akibat adanya suplai darah yang tidak mencukupi sehingga aliran darah koroner
berkurang. Patofisiologi IMA STEMI berawal dari terbentuknya atherosclerosis. Adanya plaque dari
aterosklerosis menyebabkan penyempitan lumen pembuluh arteri, apabila plaque ini pecah akan
menyebabkan terjadinya trombosis dan obstruksi arteri koroner. Penyempitan atau obtruksi pembuluh
arteri koroner ini akan mempengaruhi perfusi koroner, berkurangnya suplai oksigen.

Pasien Tn. S datang dengan keluhan dada terasa panas dan menjalar samapai ke rahang bawah
serta menetap, keringat dingin serta sesak. Keluhan lain pasien merasa lemas. Analisa baik dari segi
subyektif maupun obyektif pasien didiagnosa IMA STEMI.
Penatalaksaan IMA secara garis besar yakni pemberian intervensi yang ditujukan untuk
mengatasi nyeri dada dan perasaan takut, menstabilkan hemodinamika (control tekanan darah dan
denyut nadi), referfusi miokard secepatnya terutama pada STEMI, dan mencegah terjadinya komplikasi.
(koda, 2013). IMA STEMI dengan penangan lebih dari 12 jam diterapi dengan B-blocker, antikoagulan,
kombinasi antiplatelet dan statin serta terapi adjuntive bisa menggunakan morphine, nitrogliserin,
oxygen dan pemantauan glukosa darah (Koda Kimble, 2012 dan epocrates software guidline).
Isosrbid dinitrat merupakan terapi pilihan untuk pengatasan nyeri pada saat serangan, efek
vasodilatasi yang kuat mampu meredakan nyeri dada dan sesak dalam strategi penanganan serangan
pada IMA STEMI. Penggunaan ISDN dapat ditingkat dari dosis awalnya sampai rasa nyeri dan sesak
angina mereda. Dalam pemantauan efektivitas terapinya perlu pemantauan tensi darah untuk
mencegah hipotensi akibat penggunaan ISDN.
Pemberian bisoprolol sebagai agen b-blocker dapat digunakan pada pasien dengan riwayat
COPD. Berdasarkan Vincent Mainguy et all., 2012 dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa
penggunaan bisoprolol dapat memperburuk terjadinya hiperinflasi dinamik pada pasien COPD dengan
efek yang sedikit dan tidak dikontraindikasikan pada pasien COPD (Vincent Mainguy, at all, 2012).
Bisoprolol menjadi pilihan utama untuk pengatasan nyeri pada serangan IMA baik yang menerima atau
tidak menerima trombolitik, pemberian beta bloker pada jam-jam pertama IMA dapat membatasi
perluasan infark, mengurangi resiko reinfark dan memperpanjang harapan hidup.

Pemberian dual antiplatelet diharapkan dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas PJK.
Berdasarkan cochrane review, menyebutkan bahwa penggunaan aspirin dengan clopidogrel ddapat
menurunkan terjadinya resiko kekambuhan cardiovaskuler event dibandingkan dengan penggunaan
aspirin saja. Namun, resiko terjadinya perdarahn juga meningkat pada penggunaan kombinasi antara
clopidogrel dengan aspirin (Squizanto A, 2011).

Selain penggunaan antiplatelet penanganan IMA STEMI juga dengan menggunakan


antikoagulan. Sebagai antikoagulan dapat digunakan enoxaparin maupun fondaparinux yang
merupakan golongan LMWH dengan mekanisme sebagai berikut yakni menghambat factor Xa,
menghambat penggabungan factor Xa dengan platelet. Berdasarkan beberapa studi literatur
menunjukkan bahwa penggunaan fondaparinux 2.5 mg /hari memberikan efek antikoagulan yang lebih
kecil dan intensitas antikoagulan rata-rata yang lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan
enoxaparin 1 mg/hari (Anderson, 2010).
Penggunaan statin pada pasien IMA STEMI diperlukan untuk stabilisasi flaque dengan tidak
mempertimbangkan berapapun kadar serum lipidnya.
Problem medik lainnya adalah hiperurecemia. Terapi allopurinol pada pasien sudah tepat
begitupun dengan penggunaan ceftriaxon untuk penanganan batuk. Kondisi batuk pasien membaik
seiring perbaikan dari kondisi jantungnya. Namun, adanya batuk berdahak perlu ditangani mengingat
ada riawayat PPOK pada pasien. Merekomendasikan penambahan obat untuk PPOK eksaserbasi
ipatropium bromide 0,5mg nebul/8jam.
DAFTAR PUSTAKA

Baxter, Karen.2009. Stockleys Drug Interaction Pocket. British: Pharmaceutical Press

Dipiro, J.T., dkk. 2008. Pharmacotherapy Approach, 7th edition, Mc. Graw Hill Medikal, New York.

J.A.M.Anderson., Et all., 2010., Comparison of the anticoagulant intensities of fondaparinux and


enoxaparin in the organization to assess strategies in acute ischemic syndromes (OASIS)-5 trial., J
Thromb Haemost 2010; 8: 2439

Koda- Kimble, M.A et.al, 2013, Applied Therapeutic The Clinical Use of Drug 10th ed., Lipincot William &
Wikins.

Lacy, C.F., 2011, Drug Information Handbook A Comprehensive Resource for all Clinicians and Healthcare
Proffesionals. Lexicomp. USA.

Squizatto, A., Et all., 2011., Clopidogrel plus Aspirin versus Aspirin Alone For Preventing Cardiovaskuler
Disease (Review).

Vincent Mainguy et all., 2012., Effect of Bisoprolol on Respiratory Function and Exercise Capacity in
Chronic Obstructive Pulmonary Disease., Am J Cardiol 2012;110:258 263.