Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TUTORIAL

HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER DAN PASIEN

BLOK ETIKA DAN HUKUM PELAYANAN KESEHATAN

Pembimbing:
drg. Hafiedz Maulana, M. Biomed

Oleh:
Kelompok Tutorial 9

Ketua : Iga Putri Imansari (141610101067)


Scriber Meja : Aulia Rahma Elnisa (141610101074)
Scriber Papan : Majid Maharsi A.K. (141610101053)
Anggota : Shinta Permatasari (141610101012)
Najla Irhamni Phasa (141610101056)
Arimbi Gupitasari (141610101069)
Fitrotul Hasanah (141610101080)
Rr. Dianita Rahmah J. (141610101081)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

1
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat,
taufik dan hidayahnya sehingga penyusunan laporan tutorial skenario 2 ini dapat
terselesaikan dengan baik. Laporan tutorial ini merupakan syarat untuk memenuhi
tugas yang diberikan pada Blok Etika dan Hukum Pelayanan Kesehatan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. drg. Hafiedz Maulana, M. Biomed selaku tutor yang telah memberikan


arahan dan masukan selama diskusi, membagikan ilmunya, serta
membimbing jalannya diskusi tutorial kelompok 9 Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Jember.
2. Para dosen pemateri Blok Etika dan Hukum Pelayanan Kesehatan yang
telah memberikan ilmu.
3. Teman-teman kelompok tutorial 9 dan semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan laporan ini.

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kami sangat mangharapkan kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat di kemudian hari, khususnya dalam bidang kedokteran gigi di
kalangan Universitas Jember.

Jember, 20 Juni 2017

Penyusun

DAFTAR ISI

2
COVER...............................................................................................................1

KATA PENGANTAR .........................................................................................2

DAFTAR ISI ......................................................................................................3

SKENARIO .......................................................................................................4

STEP 1 ................................................................................................................5

STEP 2.................................................................................................................5

STEP 3.................................................................................................................5

STEP 4.................................................................................................................

STEP 5.................................................................................................................

STEP 7.................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................

SKENARIO

3
Seorang wanita berumur 35 tahun, isteri seorang pengusaha kaya sering
mengalami gangguang pada giginya. Ia telah berobat, berganti- ganti dari satu
dokter gigi ke dokter gigi lainnya (doctor shopping). Keluhan utama pasien
tersebu adalah semua gigi asli yang tersisa terasa goyang, sehingga kesulitan
untuk mengunyah. 5 (lima) dokter gigi telah ia kunjungi. Pembersihan karang
gigi, pencabutan beberapa gigi, pemeriksaaan laboratorium, serta pemeriksaaan
Rontgenelogis pernah dilakukan oleh berbagai dokter gigi tersebut. Seorang
dokter gigi menganjurkan untuk pencabutan gigi total. Seorang dokter gigi yang
lain menganjurkan untuk splinting (antara satu gigi dengan gigi lainnya diikat),,
dokter gigi yang lainnya tidak memberikan penjelasan apapun kepada pasien dan
hanya memberikan resep. Obat- obat yang diberikan banyak jenisnya. Pasien
merasa bahwa hak untuk mendapatkan informasi yang benar dari dokter gigi yang
merawatnya tidak pernah ia peroleh, serta ia menganggap bahwa doter hanya
mementingkan haknya untuk mendapatkan imbalan jasa, tetapi lupa akan
kewajibannya memberikan pengobatan yang benar kepada pasiennya.
Diskusikanlah bagaimana sebenarnya hak dan kewajiban dokter dan pasien.

STEP 1 (Identifikasi Kata Sulit)

1. Doctor shopping

4
Pasien yang serig mengunjungi beberapa dokter sekaligus dalam periode
waktu singkat. Pasien ini biasanya memiliki kecenderungan sikap tidak
jujur mengatakan bahwa dia telah mengunjungi doketr lain sebelumnya.

STEP 2 (Rumusan Masalah)

1. Apa penyebab pasien melakukan doctor shopping?


2. Apa dampak negative dari doctor shopping?
3. Apa hak dan kewajiban dokter?
4. Apa hak dan kewajiban pasien?
5. Mengapa ada perbedaan pendapat dari satu dokter dengan dokter lainnya?

STEP 3 (Analisis Masalah)

1. Apa penyebab pasien melakukan doctor shopping?


Adanya ketidakpuasan pasien dalam mendapatkan pelayanan dari dokter
menyebabkan terjadinya kegiatan doctor shopping, beberapa ketidakpusan
tersebut adalah:
a. Dokter kurang transparan dalam memberitahukan bagaimana kondisi
medis pasien, rencana perawatan dan tindakan medis yang akan
dilakukan berkaitan dengan keluhan pasien.
b. Ketidakpercayaan pasien terhadap dokter gigi yang menanganinya.
c. Pasien merasa penangangan antar dokter berbeda
d. Faktor psikologis pasien yang selalu merasa kurang puas dan
menginginkan perawatan yang terbaik.
e. Hal- hal yang berkaitan dengan faktor klinis
Jam kerja atau lokasi praktek dokter yang kurang strategis dengan
lokasi rumah pasien
Waktu tunggu yang lama
Karakter personal atau kualitas dari pemberi layanan kesehatan
Kurangnya waktu komunikasi antara pasien dan dokter
f. Terdapat pasien yang kecanduan terhadap suatu obat tertentu, dimana
obat tersebut sesungguhnya pemakaiannya terbatas dan harus sesuai
resep dokter. Maka pasien ini melakukan doctor shopping untuk
mendapatkan resep atas obat tersebut.
2. Apa dampak negative dari doctor shopping?
Dampak negative dari doctor shopping diantaranya adalah:

5
a. Pengulangan pemeriksaan dan cara perawatan yang berbeda pada
setiap dokter menyebabkan perawatan tidak efektif dan merugikan diri
pasien sendiri.
b. Dapat membahayakan dan memperburuk kondisi kesehatan, seperti
konsumsi obat- obatan yang beragam dan berbeda, pemeriksaan
rontgen yang berulang.
c. Pemborosan finansial, waktu dan tenaga menyebabkan proses
penyembuhan penyakit pasien pun semakin lama.
d. Pasien sulit memberikan kepercayaan kepada satu dokter.
3. Apa hak dan kewajiban dokter?
Hak Dokter diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Berhak mendapatkan informasi yang lengkap dan jujur dari pasien
b. Memperoleh perlindungan hukum ketika sudah bekerja sesuai dengan
standar oprasional
c. Mendapat ijin praktek sesuai dengan SIP
d. Mendapat imbalan jasa terhadap pelayanan medis yang dilakukan
e. Dapat menolak pasien bila tidak sesuai keahlian kompetensinya,
kecuali untuk pasien darurat
f. Mengakhiri hubungan dengan pasien jika pasien tidak kooperatif
g. Hak didapatkan apabila kewajiban dokter terpenuhi
Kewajiban Dokter diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Menghormati hak pasien untuk menentukan pilihan perawatan.
b. Menjaga kerahasiaan pasien berkaitan dengan kondisi pasien, riwayat
kesehatan dan rekam medis pasien.
c. Meminta persetujuan pasien setiap melakukan tindakan medis.
d. Memberikan perawatan kepada pasien sesuai SOP.
e. Mampu berkomunikasi dengan baik dengan pasien selama kontrak
teraupetik berlangsung.
f. Membuat rekam medis secara lengkap.
4. Apa hak dan kewajiban pasien?
Hak Pasien diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Berhak atas kerahasiaan rekam medis atas dirinya.
b. Menolak dari prosedur terapi atau menari diri dari dokter tersebut
dengan catatan menangguung resiko dari hal yang dilakukannya.
c. Berhak mendapatkan informasi mengenai keadaan kesehatannya dan
segala hal yg berkaitan dengan perawatan medis.
d. Mendapatkan pelayanan medis yang sesuai dengan penyakitnya.
e. Mendapatkan second opinion dari dokter lain.
Kewajiban Pasien diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Memberi informasi selengkap-lengkapnya kepada dokter mengenai
riwayat penyakit dan keluhannya.

6
b. Wajib menaati seluruh peraturan dan instruksi dokter
c. Wajib menjauhi hal-hal yang dilarang selama perawatan berlangsung
d. Wajib mengisi inform consent sebelum melakukan tindakan medis
e. Melunasi biaya perawatan sesuai hak dokter
5. Mengapa ada perbedaan pendapat dari satu dokter dengan dokter
lainnya?
Terdapat perbedaan antara dokter satu dengan yang lain adalah karena:
a. Adanya perbedaan jam terbang dan pengalaman antar dokter gigi
menimbulkan perbedaan pendapat
b. Penguasaan dan kedalaman ilmu yang berbeda, misal antara dokter
gigi umum dengan dokter gigi spesialis kompetensinya pasti berbeda
c. Diagnosis yang dihasilkan dapat sama dan benar, namun perawatan
berbeda sesuai dengan karakter dokter gigi yang merawat, misal
dokter yang bersifat matrealistis akan melakukan over treatment pada
pasien walaupun perawatan- perawatn tersebut tidak urgent dilakukan,
sedangkan dokter yamg cenderung praktis akan melakukan perawatan
yang lebih simple dan cepat penanganannya.
d. Dapat terjadi kesalahan diagnosis karena kelalaian dokter gigi atau
lack of skill.
e. Pasien memberikan informasi yang berbeda- beda ke setiap dokter
sehingga dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda pada setiap
dokter.

STEP 4 (Kerangka Konsep)

7
STEP 5 (Tujuan Pembelajaran)

Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan :


1. Hak dan kewajiban dokter
2. Hak dan kewajiban pasien
3. Sanksi yang diterima dokter atau dokter gigi apabila tidak menjalankan
kewajibannya

STEP 7

1. Hak dan kewajiban dokter


Hak dokter
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
mempunyai hak yang harus dihormati dan dipahami oleh masyarakat.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran pasal 50, hak- hak dokter atau dokter gigi
antara lain sebagai berikut:
a) memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas
sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
b) memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar
operasional;

8
c) memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau
keluarganya; dan
d) menerima imbalan jasa.

Secara umum dokter memiliki hak sebagai berikut:


1. Melakukan praktik dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter
(SID) dan Surat Izin Praktek (SIP).
Dalam PP No. 58 tahun 1958 telah ditetapkan tentang wajib daftar
ijazah dokter dan dokter gigi baru, yang disusul dengan Permenkes RI
No. 560/Menkes/Per/X/1981 tentang ijin menjalankan pekerjaan dan
ijin praktek bagi dokter spesialis. Menurut pasal 7 UU No. 29 tahun
2004 tentang praktek Kedokteran, sehingga kini tugas registrasi dokter
dan dokter gigi dilakukan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).
Dengan demikian, dokter yang telah memperoleh surat tanda registrasi
tersebut memiliki wewenang melakukan praktek kedokteran sesuai
pendidikan dan kompetensi yang dimiliki (Pasal 35).
2. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien / keluarga
tentang penyakitnya.
Informasi yang benar dan lengkap mengenai penyakit terdahulu dan
keluhan pasien yang sekarang dideritanya, serta riwayat pengobatan
sebelumnya sangat membantu dokter untuk menegakkan diagnosis
yang benar. Informasi tersebut didapatkan melalui percakapan dengan
pasien maupun keluarga atau orang yang mendampingi pasien apabila
pasien dirasa tidak mampu untuk mengungkapkannya sendiri. Setelah
diperoleh anamnesis, dokter akan menjelaskan bagaimana
pemeriksaan dan rencana perawatan kepada pasien. Untuk melakukan
pemeriksaan dan tindakan medis dokter harus mendapatkan
persetujuan tindakan medis dari pasien, baik secara lisan dan tulisan
berupa formulir informed consent yang ditandatangani pasien.
3. Bekerja sesuai standar profesi.
Dalam upaya meningkatkan kualitas dan mutu profesionalitas seorang
dokter gigi. Dokter gigi berhak bekerja sesuai standar kompetensi
yang dia dapatkan. Point ini juga bertujuan untuk meyakini

9
masyarakat, bahwa dokter gigi bekerja secara profesional.
4. Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika,
hukum, agama dan hati nuraninya.
Dokter gigi berhak menolak keinginan pasien dalam pemberian
tindakan medis yang melanggar hukum dan agama seperti tindakan
aborsi tanpa indikasi medis yang jelas. Aborsi merupakan salah satu
tindakan pembunuhan sehingga tidak boleh dilakukan oleh seorang
dokter kecuali dalam beberapa kondisi yang membahayakan
keselamatan ibunya jika dipertahankan.
5. Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien jika menurut
penilaiannya pasien tidak kooperatif.
Dalam hubungan pasien dengan dokter atau dokter gigi harus saling
menghargai dan saling percaya. Apabila pasien tidak melaksanakan
instruksi yang diberikan dokter atau dokter gigi, misalnya tidak
meminum obat yang telah diresepkan dokter, setelah ekstraksi tidak
melaksanakan kontrol sesuai dengan yang dijadwalkan oleh dokter
atau dokter gigi dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pasien
tidak kooperatif dan dokter atau dokter gigi mempunyai haik untuk
mengakhiri hubungan dengan pasien tersebut.

6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisnya, kecuali dalam


keadaan darurat atau tidak ada dokter lain yang mampu
menanganinya.
Dokter atau dokter gigi tidak perlu egois dan merasa malu mapun
harga dirinya turun di depan pasien ketika tidak mampu melakukan
suatu tindakan medis di luar batas kemampuannya. Dokter gigi
tersebut perlu merujuk pasien ke dokter gigi yang lebih ahli di
bidangnya untuk menghindari bekerja tidak sesuai standar profesi dan
SOP sehingga dapat menghindari terjadinya resiko atau malpraktek
dalam tindakannya. Misalnya seorang pasien datang ke dokter gigi
umum untuk melakukan tindakan odontektomi, karena dokter gigi
umum tersebut sadar bahwa tindakan tersebut bukan merupakan

10
bidangnya, maka dokter gigi umum tersebut perlu merujuk pasien ke
dokter gigi spesialis bedah mulut yang lebih kompeten di bidangnya.
7. Hak atas kebebasan pribadi dokter.
Pasien yang mengetahui kehidupan pribadi dokter gigi tertentu, perlu
menahan diri untuk tidak menyebarluaskan hal-hal yang sangat
bersifat pribadi dari dokternya tersebut.
8. Ketentraman bekerja.
Pada point ini dijelaskan bahwa dokter gigi dalam menjalankan
profesinya memiliki hak dalam ketentraman bekerja. Permintaan yang
tidak wajar yang sering-sering diajukan oleh pasien/keluarganya,
bahkan disertai tekanan psikis atau fisik, akan mengganggu dari
ketentraman dokter gigi menjalankan profesinya. Untuk mendapatkan
ketentraman itu sendiri dokter gigi harus memegang teguh prinsip-
prinsip ilmiah dan moral/etika profesi.
9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter
Dokter gigi berhak untuk mengeluarkan surat, diantaranya surat sehat
dan surat sakit. Surat sehat dikeluarkan apabila pasien meminta untuk
keperluan mendaftar pada instansi tertentu, sedangkan surat sakit di
tulis agar pasien bisa beristirahat sebagai contoh setelah dilakukan
pembedahan mayor.
10. Menerima imbalan jasa.
Kewajiban pasien atau keluarganya dalam kontrak terapeutik adalah
memberikan imbalan jasa untuk dokter sesuai kesepakatan karena hal
tersebut merupakan hak dokter. Imbalan jasa dokter berpedoman pada
kemampuan pasien/keluarga, sifata pertolongan yang diberikan, waktu
pelayanan kedokteran. Kemampuan pasien dapat dinilai dari latar
belakang pekerjaan pasien dengan bertanya langsung dan
mempertimbangkan pekerjaan dan status sosial. Sifat pertolongan
yang diberikan yang membutuhkan ketelitian atau skill tertentu, atau
pelayanan kedokteran yang spesifik memerlukan alat yang canggih
juga bisa meningkatkan imbalan. Selain itu apabila pasien membuat
janji dengan dokter diluar jam operasionalnya atau pada hari libur,

11
imbalan jasa dapat ditambahkan. Besarnya imbalan harus
dikomunikasikan dengan jelas kepada pasien sebelum dilakukan
tindakan agar tidak menyebabkan kebingungan yang dan
ketidakpuasan pasien. Hak dokter menerima imbalan jasa bisa tidak
digunakan pada kasus-kasus tertentu, misalnya pasien tidak mampu,
pertolongan pertama pada kecelakaan, dari teman sejawat, dan
keluarganya.
11. Menjadi anggota himpunan profesi.
Dokter atau dokter gigi berhak menggabungkan diri ke dalam suatu
perkumpulan profesi yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu
pengetahuan, dapat melakukan sharing dengan teman sejawat serta
menjalin keakraban antara sesama anggota perhimpunan.
12. Dokter atau dokter gigi berhak menggabungkan diri ke dalam suatu
perkumpulan profesi yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu
pengetahuan, dapat melakukan sharing dengan teman sejawat serta
menjalin keakraban antara sesama anggota perhimpunan.
13. Hak membela diri.
Dalam hal menghadapi keluhan pasien yang merasa tidak puas
terhadapnya, atau dokter bermasalah, dokter mempunyai hak untuk
membela diri dalam lembaga tempat ia bekerja (misalnya rumah
sakit), dalam perkumpulan tempat ia menjadi anggota (misalnya
PDGI), atau di pengadilan jika telah diajukan gugatan terhadapnya.

Kewajiban dokter
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
mempunyai kewajiban sesuai dengan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 51
yaitu:
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
Dokter gigi harus bekerja secara lege artis yang artinya yaitu
memberikan pelayanan, perawatan ataupun pengobatan sesuai dengan
indikasi medis pasien dan dilakukan sesuai dengan prosedur ilmu

12
kedokteran yang berlaku. Contohnya, seorang pasien datang ke dokter
gigi ingin menambalkan gigi 36 nya yang karies. Setelah dokter gigi
tersebut melakukan pemeriksaan intraoral ditemukan adanya karies
tidak hanya pada gigi 36 tetapi juga pada gigi 34 dan 37. Dokter gigi
harus memberitahukan kepada pasien bahwa yang memerlukan
tambalan tidak hanya pada gigi 36 tetapi juga pada gigi 34 dan 37.
Jika pasien bersedia, maka dapat dilakukan penumpatan pada ketiga
gigi tersebut. Namun, jika pasien menolak dan tetap hanya ingin
ditambal gigi 36 nya maka dokter gigi tidak boleh menambal gigi 34
dan 37 tanpa persetujuan dari pasien.
2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai
keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.
3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; Rahasia kedokteran
dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi
permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum,
permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang-
undangan.
4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali
bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya.
5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi.

Kewajiban dokter gigi yang diatur dalam kode etik kedokteran gigi
Indonesia terdiri dari 4 macam, yaitu:
a. Kewajiban Umum
b. Kewajiban Dokter Gigi terhadap Pasien
c. Kewajiban Dokter Gigi terhadap Teman Sejawat
d. Kewajiban Dokter Gigi terhadap Diri Sendiri

A. Kewajiban Umum
Kewajiban umum terdiri dari 9 pasal yaitu:
a. Pasal 1

13
Dokter Gigi di Indonesia wajib menghayati, mentaati dan
mengamalkan sumpah/ janji Dokter Gigi Indonesia dan Kode Etik
Kedokteran Gigi Indonesia.
b. Pasal 2
Dokter Gigi di Indonesia wajib menjunjung tinggi norma-norma
kehidupan yang luhur dalam menjalankan profesinya.
c. Pasal 3
Dalam menjalankan profesinya Dokter Gigi di Indonesia tidak boleh
dipengaruhi oleh pertimbangan untuk mencari keuntungan pribadi.
d. Pasal 4
Dokter Gigi di Indonesia harus memberi kesan dan keterangan atau
pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan.
e. Pasal 5
Dokter Gigi di Indonesia tidak diperkenankan menjaring pasien secara
pribadi, melalui pasien atau agen.
f. Pasal 6
Dokter Gigi di Indonesia wajib menjaga kehormatan, kesusilaan,
integritas dan martabat profesi dokter gigi.
g. Pasal 7
Dokter Gigi di Indonesia berkewajiban untuk mencegah terjadinya
infeksi silang yang membahayakan pasien, staf dan masyarakat.
h. Pasal 8
Dokter Gigi di Indonesia wajib menjalin kerjasama yang baik dengan
tenaga kesehatan lainnya.
i. Pasal 9
Dokter Gigi di Indonesia dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, wajib bertindak sebagai motivator, pendidik dan
pemberi pelayanan kesehatan (promotif preventif, kuratif, dan
rehabilitatif).
B. Kewajiban dokter gigi terhadap pasien
a. Pasal 10

14
Dokter gigi di Indonesia wajib menghormati hak pasien untuk
menentukan pilihan perawatan dan rahasianya
b. Pasal 11
Dokter gigi di Indonesia wajib melindungi pasien dari kerugian
c. Pasal 12
Dokter gigi di Indonesia wajib mengutamakan kepentingan pasien
d. Pasal 13
Dokter gigi di Indonesia wajib memperlakukan pasien secara adil
e. Pasal 14
Dokter gigi di Indonesia wajib menyimpan,menjaga dan merahasiakan
Rekam Medik Pasien
C. Kewajiban dokter gigi terhadap teman sejawat
a. Pasal 15
Dokter gigi di Indonesia harus memperlakukan teman sejawatnya
sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan
b. Pasal 16
Dokter gigi di Indonesia apabila mengetahui pasien sedang dirawat
dokter gigi lain tidak dibenarkan mengambil alih pasien tersebut tanpa
persetujuan dokter gigi lain tersebut kecuali pasien menyatakan
pilihan lain
c. Pasal 17
Dokter gigi di Indonesia, dapat menolong pasien yang dalam keadaan
darurat dan sedang dirawat oleh dokter gigi lain, selanjutnya pasien
harus dikembalikan kepada dokter gigi semula, kecuali kalau pasien
menyatakan pilihan lain
d. Pasal 18
Dokter gigi di Indonesia apabila berhalangan melaksanakan praktik,
harus membuat pemberitahuan atau menunjuk pengganti sesuai
dengan aturan yang berlaku
e. Pasal 19
Dokter gigi di Indonesia seyogianya member nasihat kepada teman
sejawat yang diketahui berpraktik dibawah pengaruh alkohol atau obat

15
terlarang. Apabila dianggap perlu dapat melaporkannya kepada
organisasi profesi
D. Kewajiban dokter gigi terhadap diri sendiri
a. Pasal 20
Dokter gigi di Indonesia wajib mempertahankan dan meningkatkan
martabat dirinya
b. Pasal 21
Dokter gigi di Indonesia wajib mengikuti secara aktif perkembangan
etika, ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang kedokteran
gigi, baik secara mandiri maupun yang diselenggarakan oleh organisasi
profesi
c. Pasal 22
Dokter gigi di Indonesia tidak boleh menyelenggarakan kegiatan
pendidikan dan pelatihn kedokteran gigi tanpa izin dari organisasi
profesi
d. Pasal 23
Dokter gigi di Indonesia wajib menjaga kesehatannya supaya dapat
bekerja dengan optimal
2. Hak dan kewajiban pasien
Hak pasien
Berdasarkan UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran Pasal
52, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, pasien
mempunyai hak :
a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
Penjelasan sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya mencakup :
- Diagnosis dan tata cara tindakan medis;
- Tujuan tindakan medis yang dilakukan;
- Alternatif tindakan lain dan risikonya;
- Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
- Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
Sehingga pasien dapat mengerti dan memahami bagaimana kondisi
kesehatannya, serta memutuskan apakah ia akan menyetujui maupun
menolak tindakan yang akan dilakukan pada dirinya.
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain
Dalam usaha untuk mendapat second opinion dari dokter lain, maka
dokter pertama tidak perlu tersinggung, demikian pula dengan

16
keputusan pasien setelah mendapatkan second opinion. Tentu saja
akibat yang timbul dari perbuatan pasien itu merupakan kosekuensi
pasien itu sendiri. Yang perlu diketahui second opinion sama sekali
bukanlah bentuk ketidakpercayaan atau pelecehan terhadap dokter
yang merawat, melainkan sebagai perwujudan hak asasi pasien untuk
memperoleh perawatan/pengobatan yang dikehendakinya.
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
d. Menolak tindakan medis
Setelah mendapatkan dan memahami penjelasan secara jelas
bagaimana kondisi kesehatannya dan tindakan yang akan dilakukan
oleh dokter maupun dokter gigi, apabila tidak sesuai dari keinginannya
pasien berhak untuk menolak tindakan medis yang akan dilakukan
pada dirinya. Hal ini sesuai juga dengan Pasal 56 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan yang menyebutkan
bahwa Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau
seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah
menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara
lengkap.
e. Mendapatkan isi rekam medis.
Menurut Permenkes No. 749a tahun 1989 tentang Rekam
Medis/Medical Records, isi rekam medis adalah milik pasien.

Dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan juga disebutkan hak


pasien adalah sebagai berikut:
a. Pasal 4
Setiap orang berhak atas kesehatan.
b. Pasal 5
(1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh
akses atas sumber daya dibidang kesehatan.
(2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
(3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab
menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi
dirinya.

17
c. Pasal 6
Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi
pencapaian derajat kesehatan.
d. Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi
tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
e. Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan
dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang
akan diterimanya dari tenaga kesehatan.

Kewajiban Pasien
Menurut UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran Pasal 53,
kewajiban pasien adalah sebagai berikut:
a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya.
Pasien berkewajiban untuk memberikan informasi dengan lengkap,
jujur dan tidak ada yang ditutup-tutupi mengenai masalah
kesehatannya, sehingga dari informasi tersebut dokter maupun dokter
gigi dapat menentukan dan menjelaskan juga secara jelas masalah
kesehatan yang terjadi pada pasien serta menjelaskan tindakan medis
yang akan dilakukan.
b. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
Pasien memiliki kewajiban untuk mematuhi nasihat dan petunjuk yang
diberikan oleh dokter ataupun dokter gigi mengenai makanan dan
minuman yang berpantang, petunjuk pemakaian obat-obatan, istirahat,
kontrol berulang, dan lain-lain. Kewajiban pasien untuk mematuhi
nasihat dan petunjuk dokter maupun dokter gigi ini juga sangat
dipengaruhi oleh kewajiban dari dokter, yaitu: untuk memberikan

18
penjelasan secara rinci dan lengkap mengenai masalah kesehatan dari
pasien, penyebab dan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
Biasanya tingkat kepatuhan pasien terhadap instruksi yang diberikan
oleh dokter dipengaruhi oleh kepuasan pasien terhadap penjelasan
yang diberikan oleh dokter. Kepuasan pasien akan terbentuk apabila ia
mengetahui secara jelas kondisi kesehatannya, penyebab dari masalah
kesehatannya, serta pengaruh dari instruksi maupun terapi yang
diberikan oleh dokter terhadap penyakitnya. Apabila dokter ataupun
dokter gigi memberikan penjelasan yang sangat minim kepada pasien,
maka pasien akan cenderung untuk acuh terhadap instruksi yang
diberikan oleh dokter tersebut.
Kewajiban dokter untuk menjelaskan secara jelas dan lengkap
mengenai masalah kesehatan pasien juga tidak terlepas dari kewajiban
pasien untuk memberikan informasi secara jujur dan lengkap mengenai
masalah kesehatannya. Kewajiban-kewajiban antara dokter dan pasien
ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi, maka dari itu
komunikasi antara dokter dan pasien sangatlah penting untuk dapat
mencapai keberhasilan diagnosa, terapi dan tindakan medis yang
diberikan.
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan.
Pasien wajib mematuhi segala aturan yang berlaku di tempat ia dirawat
dalam hal ini sarana pelayanan kesehatan misalnya rumah sakit. Setiap
rumah sakit memiliki aturan tersendiri dan mungkin berbeda antara
rumah sakit yang satu dan yang lainnya sehingga pasien harus taat
terhadap aturan tersebut. Misalnya keluarga pasien maupun pasien
harus taat terhadap jam besuk pasien yang dimiliki oleh rumah sakit
tersbut, pasien juga harus taat pada jam kerja dokter gigi praktek.
d. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
Imbalan untuk dokter atau dokter gigi merupakan penghargaan yang
sepantasnya diberikan oleh pasien atau keluarga atas jerih payah
seorang dokter atau dokter gigi. Jadi dapat dikatakan imbalan
merupakan timbal balik dari kewajiban dokter yang telah memberikan
jasa pelayanan kesehatan sehingga menjadi hak pasien untuk

19
memberikan upah atas perawatan yang telah diterima. Imbalan disini
haruslah disesuaikan dengan kemampuan pasien, oleh karena itu
sebelum melakukan perawatan dokter atau dokter gigi harus
memberikan penjelasan tentang perawatan yang dilakukan beserta
berapa nominal yang harus dibayarkan oleh pasien.

Dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan juga disebutkan


bahwa kewajiban pasien adalah sebagai berikut:
a. Pasal 9
(1) Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan,
dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaksanaannya
meliputi upaya kesehatan perseorangan, upaya kesehatan
masyarakat, dan pembangunan berwawasan kesehatan.
b. Pasal 10
Setiap orang berkewajiban menghormati hak orang lain dalam upaya
memperoleh lingkungan yang sehat, baik fisik, biologi, maupun sosial.
c. Pasal 11
Setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat untuk
mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan yang
setinggi-tingginya.
d. Pasal 12
Setiap orang berkewajiban menjaga dan meningkatkan derajat
kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.
e. Pasal 13
(1) Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan
kesehatan sosial.
(2) Program jaminan kesehatan sosial sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

20
3. Sanksi yang diterima dokter atau dokter gigi apabila tidak
menjalankan kewajibannya
Sanksi yang diterima dokter atau dokter gigi apabila tidak
menjalankan kewajibannya diatur dalam Pasal 79 Undang Undang Nomor
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
1. Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau
denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap
dokter atau dokter gigi yang :
a. Dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1).
Pasal 41 ayat (1) berbunyi: dokter atau dokter gigi yang telah
mempunyai surat izin praktik dan menyelenggarakan praktik
kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 wajib
memasang papan nama praktik kedokteran.
b. Dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1).
Pasal 46 ayat (1) berbunyi : setiap dokter atau dokter gigi dalam
menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis.
c. Dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e.
Pasal 51 menyebutkan bahwa dokter atau dokter gigi dalam
melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban :
a) Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
b) Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai
keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.
c) Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; Rahasia
kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan
pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam
rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau

21
berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
d) Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu
melakukannya.
e) Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan
ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.
.

DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, M. Jusuf. dan Amir, Amri. 2008. Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan Edisi 4. Jakarta : EGC.

Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang


Praktik Kedokteran. Sekretariat Negara. Jakarta.

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang


Kesehatan. Sekretariat Negara. Jakarta.

22