Anda di halaman 1dari 26

Mata Kuliah

PELAPORAN KORPORAT

Materi:

IMBALAN KERJA

Dosen :

Prof. Dr. Wiwik Utami, Ak, MS, CA

Fakultas/Jurusan

MAGISTER AKUNTANSI

Disusun Oleh :

Anita (55516110042)
Winda Kurnia (55516110046)

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahi RabbiAalamiin, Puji dan syukur kami panjatkan atas

kekhadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehinnga

kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah Pelaporan Korporat ini sebagai salah

satu syarat tugas dalam menempuh semester ini.

Dalam menyusun dan menyelesaikan tugas ini, kami mengucapkan banyak terima

kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah yang

berjudul Properti Investasi, Sewa dan Penurunan Nilai hingga dapat terselesaikan.

Kami menyadari bahwa hasil tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, saran dan kritik yang disampaikan kepada kami sangat berarti sebagai

dorongan semangat dan pembelajaran yang membangun kami untuk lebih baik lagi di

masa depan. Semoga tugas makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca

dan semua pihak yang membutuhkannya. Terima Kasih.

Jakarta, 16 November 2017


Tim Penyusun,

Kelompok 7

2
1. Imbalan Kerja

1.1 Definisi Imbalan Kerja menurut PSAK No. 24

Imbalan kerja adalah seluruh bentuk imbalan yang diberikan suatu entitas dalam
pertukaran atas jasa yang diberikan oleh pekerja atau untuk pemutusan kontrak kerja.

1.2 Jenis-jenis imbalan kerja

Imbalan kerja jangka pendek Imbalan kerja jangka pendek adalah imbalan kerja
(selain dari pesangon). yang diharapkan akan diselesaikan seluruhnya sebelum dua
belas bulan setelah akhir periode pelaporan tahunan saat pekerja memberikan jasa
terkait.

Imbalan kerja jangka pendek mencakup hal-hal seperti berikut, jika diharapkan
akan diselesaikan seluruhnya sebelum dua belas bulan setelah akhir periode pelaporan
tahunan saat pekerja memberikan jasa:

a) upah, gaji, dan iuran jaminan sosial;


b) cuti tahunan berbayar dan cuti sakit berbayar;
c) bagi laba dan bonus; serta
d) imbalan nonmoneter (seperti pelayanan kesehatan, rumah, mobil, dan barang atau
jasa yang diberikan secara subsidi) untuk pekerja yang ada saat ini.

1.3 Pengakuan dan Pengukuran

1.3.1 Seluruh Imbalan Kerja Jangka Pendek

Ketika pekerja telah memberikan jasanya kepada entitas dalam suatu periode
akuntansi, entitas mengakui jumlah tidak terdiskonto dari imbalan kerja jangka pendek
yang diharapkan akan dibayar sebagai imbalan atas jasa tersebut:

a) sebagai liabilitas (beban akrual), setelah dikurangi jumlah yang telah dibayar. Jika
jumlah yang telah dibayar melebihi jumlah yang tidak didiskonto dari imbalan
tersebut, maka entitas mengakui kelebihan tersebut sebagai aset (beban dibayar di
muka) selama pembayaran tersebut akan menimbulkan, sebagai contoh,
pengurangan pembayaran di masa depan atau pengembalian kas; dan

3
b) sebagai beban, kecuali jika SAK lain mensyaratkan atau mengizinkan imbalan
tersebut termasuk dalam biaya perolehan aset (lihat, sebagai contoh, PSAK 14:
Persediaan dan PSAK 16: Aset Tetap).

1.3.2 Cuti Berbayar Jangka Pendek

Entitas mengakui biaya ekspektasian imbalan kerja jangka pendek dalam bentuk
cuti berbayar sebagai berikut:

a) Dalam hal cuti berbayar dapat diakumulasi, pada saat pekerja memberikan jasa
yang menambah hak atas cuti berbayar dimasa depan.
b) Dalam hal cuti berbayar tidak dapat diakumulasi, pada saat cuti terjadi.

1.3.3 Program Bagi Laba dan Bonus

Entitas mengakui biaya ekspektasian atas pembayaran bagi laba dan bonus jika,
dan hanya jika:

a) entitas mempunyai kewajiban hukum kini atau kewajiban konstruktif kini atas
pembayaran beban tersebut sebagai akibat dari peristiwa masa lalu; dan
b) kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal. Kewajiban kini timbul jika, dan
hanya jika, entitas tidak mempunyai alternatif realistis lain kecuali melakukan
pembayaran.

1.4 Imbalan Pasca Kerja

Imbalan pascakerja adalah imbalan kerja (selain pesangon dan imbalan kerja jangka
pendek) yang terutang setelah pekerja menyelesaikan kontrak kerja.Imbalan pasca kerja
mencakup pensiun, imbalan pasca kerja lainnya (seperti asuransi jiwa pasca kerja dan
tunjangan kesehatan pasca kerja). Program imbalan pascakerja diklasifikasikan sebagai
program iuran pasti atau program imbalan pasti, bergantung pada substansi ekonomi
dari syarat dan ketentuan pokok dari program tersebut. Dalam program iuran pasti.

1.4.1 Program Iuran Pasti

Program iuran pasti adalah program imbalan pascakerja dimana entitas membayar
iuran tetap kepada entitas terpisah (dana) dan tidak memiliki kewajiban hukum atau
kewajiban konstruktif untuk membayar iuran lebih lanjut jika dana tersebut tidak

4
memiliki aset yang cukup untuk membayar seluruh imbalan kerja terkait dengan jasa
yang diberikan oleh pekerja pada periode berjalan dan periode sebelumnya.

Pengakuan dan Pengukuran Program Iuran Pasti

Jika pekerja telah memberikan jasa kepada entitas selama suatu periode, maka
entitas mengakui iuran terutang kepada program iuran pasti atas jasa pekerja:

a) sebagai liabilitas (beban terakru), setelah dikurangi dengan iuran yang telah
dibayar. Jika iuran tersebut melebihi iuran terutang untuk jasa sebelum akhir
periode pelaporan, maka entitas mengakui kelebihan tersebut sebagai aset (beban
dibayar dimuka) sepanjang kelebihan tersebut akan mengurangi pembayaran iuran
masa depan atau dikembalikan;
b) sebagai beban, kecuali jika SAK lain mensyaratkan atau mengizinkan iuran tersebut
termasuk dalam biaya perolehan aset (misalnya, lihat PSAK 14: Persediaan dan
PSAK 16: Aset Tetap).

Jika iuran dalam program iuran pasti tidak diharapkan akan diselesaikan seluruhnya
sebelum dua belas bulan setelah akhir periode pelaporan tahunan saat pekerja
memberikan jasanya, maka iuran tersebut didiskonto dengan menggunakan tingkat
diskonto yang mengacu pada bunga obligasi korporasi berkualitas tinggi pada akhir
periode pelaporan. Di negara dimana tidak terdapat pasar aktif dan stabil bagi obligasi
tersebut, maka digunakan tingkat bunga obligasi pemerintah. Mata uang dan jangka
waktu dari obligasi korporasi maupun obligasi pemerintah sesuai dengan mata uang dan
estimasi jangka waktu kewajiban imbalan pascakerja.

1.4.2 Program Imbalan Pasti

Program imbalan pasti adalah program imbalan pascakerja yangnbukan merupakan


program iuran pasti. Dalam program imbalan pasti:

a) kewajiban entitas adalah menyediakan imbalan yang dijanjikan kepada pekerja


yang ada saat ini maupun mantan pekerja; dan
b) risiko aktuaria (biaya untuk imbalan lebih besar dari yang diharapkan) dan risiko
investasi secara substansi ditanggung entitas. Jika pengalaman aktuaria atau
investasi lebih buruk dari yang diharapkan, maka kewajiban entitas akan
meningkat.

5
Akuntansi oleh entitas untuk program imbalan pasti meliputi tahap berikut:

a) Menentukan defisit atau surplus. Ini termasuk:


i. menggunakan teknik aktuaria, metode Projected Unit Credit, untuk
membuat estimasi andal atas biaya akhir entitas dari imbalan yang menjadi
hak pekerja sebagai pengganti jasa mereka pada periode kini dan lalu
ii. mendiskontokan imbalan untuk menentukan nilai kini dari kewajiban
imbalan pasti dan biaya jasa.
iii. mengurangi nilai wajar aset program dari nilai kini kewajiban imbalan
pasti.
b) menentukan jumlah liabilitas (aset) imbalan pasti neto sebagai jumlah defisit atau
surplus yang ditentukan dalam huruf (a), disesuaikan untuk setiap dampak dari
pembatasan aset imbalan pasti neto dari batas atas aset.
c) menentukan jumlah yang harus diakui dalam laba rugi:
i. Biaya jasa kini
ii. Setiap biaya jasa lalu dan keuntungan atau kerugian atas penyelesaian.
iii. bunga neto atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto.
d) menentukan pengukuran kembali atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto, yang
akan diakui sebagai penghasilan komprehensif lain, yang terdiri atas:
i. keuntungan dan kerugian.
ii. Imbal hasil atas aset program, tidak termasuk jumlah yang dimasukkan
dalam bunga neto atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto dan
iii. perubahan apapun karena dampak batas atas, tidak termasuk jumlah yang
dimasukkan dalam bunga neto atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto.
Jika entitas mempunyai lebih dari satu program imbalan pasti, maka entitas
menerapkan prosedur ini secara terpisah untuk setiap program yang material.
Entitas menentukan jumlah liabilitas (aset) imbalan pasti neto dengan keteraturan
yang memadai sehingga jumlah yang diakui dalam laporan keuangan tidak berbeda
secara material dengan jumlah yang akan ditentukan pada akhir periode pelaporan.

Akuntansi untuk Kewajiban Konstruktif

Entitas menghitung tidak hanya kewajiban hukum berdasarkan ketentuan formal


program imbalan pasti, tetapi juga kewajiban konstruktif yang timbul dari praktik

6
informal entitas. Praktik informal akan menimbulkan kewajiban konstruktif jika entitas
tidak memiliki pilihan realistis lain kecuali membayar imbalan kerja. Contoh kewajiban
konstruktif adalah ketika perubahan dalam praktik informal entitas menyebabkan
memburuknya hubungan kerja antara entitas dan para pekerjanya.

Entitas mengakui liabilitas (aset) imbalan pasti neto dalam laporan posisi keuangan,
Ketika entitas memiliki surplus dalam program imbalan pasti, maka entitas mengukur
aset imbalan pasti pada jumlah yang lebih rendah antara surplus program imbalan pasti;
dan batas atas aset.

1.5 Pengakuan dan Pengukuran: Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti dan Biaya
Jasa Kini

Metode Penilaian Aktuaria

Entitas menggunakan metode Projected Unit Credit untuk menentukan nilai kini
dari kewajiban imbalan pasti, biaya jasa kini terkait, dan biaya jasa lalu (jika dapat
diterapkan).

Pengatribusian Imbalan Pada Periode

Jasa Dalam menentukan nilai kini kewajiban imbalan pasti dan biaya jasa kini
terkait dan biaya jasa lalu (jika dapat diterapkan), entitas mengatribusikan imbalan pada
periode jasa berdasarkan formula imbalan yang dimiliki program. Namun, jika jasa
pekerja di tahun-tahun akhir meningkat secara material dibandingkan dengan tahun-
tahun awal, maka entitas mengatribusikan imbalan tersebut dengan dasar garis lurus,
sejak:

a) saat jasa pekerja pertama kali menghasilkan imbalan dalam program (baik imbalan
tersebut bergantung pada jasa selanjutnya atau tidak) sampai dengan
b) saat jasa pekerja selanjutnya tidak menghasilkan imbalan yang material dalam
program, selain dari kenaikan gaji berikutnya.
Asumsi Aktuaria
Asumsi aktuaria tidak boleh bias dan harus selaras satu dengan yang lain. Asumsi
aktuarial terdiri dari:

7
a. Asumsi demografis mengenai karakteristik masa depan dari pekerja dan mantan
pekerja (dan tanggungan mereka) yang berhak atas imbalan. Asumsi demografis
berhubungan dengan masalah seperti:
mortalitas, selama dan sesudah masa bekerja;
tingkat perputaran pekerja, cacat dan pensiun dini;
proporsi dari peserta program dengan tanggungannya yang akan berhak atas
imbalan
tingkat klaim program kesehatan.
b. Asumsi keuangan, berhubungan dengan hal-hal seperti berikut:
tingkat diskonto;
tingkat gaji dan imbalan masa depan;
jaminan kesehatan, biaya kesehatan masa depan terrmasuk (jika material)
biaya administrasi klaim dan pembayaran imbalan dan
pajak terutang oleh program atas kontribusi/iuran yang terkait dengan jasa
sebelum tanggal pelaporan atau atas imbalan yang dihasilkan dari jasa
tersebut.
Biaya Jasa Lalu serta Keuntungan dan Kerugian atas Penyelesaian
Sebelum menentukan biaya jasa lalu, atau keuntungan dan kerugian atas
penyelesaian, entitas mengukur kembali liabilitas (aset) imbalan pasti neto
menggunakan nilai wajar kini dari aset program dan asumsi aktuaria kini (termasuk
suku bunga pasar dan harga pasar lain kini) yang mencerminkan imbalan yang
ditawarkan berdasarkan program sebelum amandemen, kurtailmen, atau penyelesaian
program.
Biaya jasa lalu
Biaya jasa lalu (past service cost) adalah kenaikan nilai kini kewajiban imbalan
pasti atas jasa pekerja pada periode lalu, yang berdampak terhadap periode berjalan
akibat penerapan awal atau perubahan program.
Biaya jasa lalu dapat bernilai positif (ketika imbalan diadakan atau ditingkatkan)
atau negatif (ketika imbalan yang ada dikurangi). Biaya jasa lalu dapat terdiri dari
bagian yang segera menjadi hak (vested) dan bagian yang belum menjadi hak (non
vested). Bagian yang vested harus segera diakui sedangkan yang non vested diakui

8
sebagai beban secara bertahap dengan metoda garis lurus selama periode rata-rata
sampai inbalan menjadi vest.
Aset Program
Salah satu unsur yang dikurangkan dari nilai kini kewajiban imbalan pasti untuk
menentukan jumlah yang diakui dalam neraca sebagai kewajiban imbalan pas. Terdiri
atas:
Aset yang dimiliki oleh dana imbalan kerja jangka panjang
Polis asuransi yang memenuhi syarat Kurtailmen dan Penyelesaian

1.6 Imbalan Jangka Panjang Lainnya

Imbalan kerja jangka panjang lain mencakup item berikut, jika tidak diharapkan
akan diselesaikan seluruhnya sebelum dua belas bulan setelah akhir periode pelaporan
tahunan saat pekerja memberikan jasa terkait:

a. ketidakhadiran jangka panjang yang dibayarkan seperti cuti besar atau cuti
sabatikal;
b. penghargaan masa kerja (jubilee) atau imbalan jasa jangka panjang lain;
c. imbalan cacat permanen;
d. bagi laba dan bonus; dan
e. remunerasi tangguhan.

1.7 Pesangon

Imbalan pemutusan (Pesangon) adalah imbalan yang diberikan dalam pertukaran


atas pemutusan kontrak kerja dengan pekerja sebagai akibat dari:

a) keputusan entitas untuk memberhentikan pekerja sebelum usia pensiun normal;


atau
b) Keputusan pekerja menerima tawaran perusahaan untuk mengundurkan diri
sukarela dengan imbalan tertentu.

Pengakuan

Entitas mengakui pesangon sebagai liabilitas dan beban pada tanggal yang lebih
awal di antara:

a) tanggal ketika entitas tidak dapat lagi menarik tawaran imbalan tersebut, dan

9
b) tanggal ketika entitas mengakui biaya untuk restrukturisasi yang berada dalam
ruang lingkup PSAK 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi dan
melibatkan pembayaran pesangon.

Pengukuran

Entitas harus mengukur pesangon pada saat pengakuan awal, dan harus mengukur
dan mengakui perubahan selanjutnya, sesuai dengan sifat imbalan kerja, dengan
ketentuan bahwa jika pesangon merupakan sebuah peningkatan pada imbalan pasca
kerja, entitas menerapkan persyaratan imbalan pasca kerja. Jika tidak:

a) jika pesangon diharapkan akan diselesaikan seluruhnya sebelum dua belas bulan
setelah akhir periode pelaporan tahunan di mana pesangon diakui, entitas harus
menerapkan persyaratan untuk imbalan kerja jangka pendek.
b) jika pesangon tidak diharapkan untuk dapat diselesaikan seluruhnya sebelum dua
belas bulan setelah akhir periode pelaporan tahunan, entitas harus menerapkan
persyaratan untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya.

Persamaan IAS 19 dengan PSAK 24

Imbalan kerja jangka pendek, seperti: upah, gaji, iuran untuk jaminan sosial, cuti
tahunan dan sakit, pembagian keuntungan dan bonus (jika terhutang dalam 12 bulan
pada akhir periode pelaporan), dan manfaat non-moneter lainnya.
Imbalan kerja jangka panjang, termasuk cuti jangka panjang, pembagian
keuntungan, bonus dan kompensasi yang ditangguhkan (jika terhutang lebih dari 12
bulan pada akhir periode pelaporan);
iuran ke dana pensiun iuran pasti yang dibebankan sebagai kewajiban untuk
melakukan pembayaran tersebut terjadi.

Perbedaan IAS 19 dengan PSAK 24


Perbedaan antara kewajiban yang di adopsi pertama kali PSAK 24 dan kewajiban
yang sebelumnya telah diakui oleh perusahaan pada tanggal yang sama sesuai
dengan kebijakan akuntansi perusahaan sebelumnya, jika ada akan diperlakukan
sebagai penyesuaian saldo laba awal dari periode awal disajikan.

10
Pada pertama mengadopsi IAS 19, suatu perusahaan diperbolehkan untuk diakui
setiap peningkatan mengakibatkan kewajiban untuk imbalan pasca kerja selama
tidak lebih dari lima tahun. jika penerapan standar kewajiban menurun, suatu
enterpirse diperlukan untuk diakui menurun segera.

2. Dana Pensiun

Dana Pensiun merupakan suatu badan hukum yang berdiri sendiri dan terpisah dari
Pemberi Kerja, yang berfungsi untuk mengelola dan menjalankan program pensiun
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Mengingat bahwa Dana Pensiun mempunyai tujuan dan kegiatan usaha yang
berlainan dengan perusahaan pada umumnya, maka perlu disusun Satandar Akuntansi
Keuangan yang berlaku khusus untuk Dana Pensiun sebagai pedoman proses akuntansi
serta proses penyusunan laporan keuangan. Kekhususan Standar Akuntansi Keuangan
Dana Pensiun terutama mengenai isi laporan keuangan, penilaian Aset dan penentuan
kewajiban manfaat pensiun.

2.1 Akuntansi dan Pelaporan Dana Pensiun

Program Pensiun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Program Pensiun Iuran Pasti
(PPIP) dan Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP). Dana Pensiun dapat berupa Dana
Pensiun Pemberi Kerja atau Dana Pemsiun Lembaga Keuangan. Dana Pensiun Pemberi
Kerja dapat menyelenggarakan PPIP atau PPMP, sedangkan Dana Pensiun Lembaga
Keuangan hanya dapat menyelenggarakan PPIP. Pembentukan dan pengelolaan Dana
Pensiun harus didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku.

2.2 Program Pensiun Iuran Pasti

Program iuran pasti adalah program manfaat purnakarya dimana jumlah yang
dibayarkan sebagai manfaat purnakarya ditetapkan berdasarkan iuran ke suatu dana
bersama pendapatan investasi selanjutnya. Dalam program ini termasuk program iuran
pasti yang diatur dalam peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Laporan keuangan program iuran pasti berisi laporan aset neto tersedia untuk
manfaat purnakarya dan penjelasan mengenai kebijakan pendanaan.

11
Dalam PPIP, jumlah yang diterima oleh peserta pada saat pensiun bergantung pada
jumlah iuran dari pemberi kerja, atau iuran peserta dan pemberi kerja atau iuran peserta,
dan hasil usaha. Kewajiban dari pemberi kerja adalah membayar iuran sesuai dengan
yang ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Bantuan aktuaris biasanya tidak
diperlukan, meskipun nasihat aktuaris kadang-kadang digunakan untuk memperkirakan
manfaat pensiun yang akan diterima peserta pada saat pensiun, berdasarkan jumlah
iuran saat ini dan dimasa depan serta estimasi hasil investasi Dana Pensiun.

Peserta berkepentingan untuk mengetahui kegiatan investasi Dana Pensiun karena


sangat menentukan manfaat pensiun yang diterima. Baik peserta maupun pemberi kerja
berkepentingan untuk mengetahui apakah iuran telah dilakukan sesuai dengan Peraturan
Dana Pensiun, pengawasan atas kekayaan Dana Pensiun telah dilakukan secar tepat,
atau kegiatan operasional Dana Pensiun telah dilaksanakan secara efisien dan wajar.
Sedangkan Pemerintah berkepentingan untuk mengetahui apakah Dana Pensiun telah
dikelola sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Tujuan dari pelaporan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPIP adalah


menyediakan informasi secara periodik mengenai penyelenggaraan program pensiun,
posisi keuangan, serta kinerja investasi. Tujuan tersebut lazimnya dapat dipenuhi
dengan menyusun laporan yang antara lain terdiri dari:

Penjelasan atas kegiatan penting Dana Pensiun selama satu periode pelaporan dan
dampak setiap perubahan Peraturan Dana Pensiun;
Laporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi
keuangan Dana Pensiun pada akhir periode pelaporan; dan
Penjelasan mengenai kebijakan/arahan investasi.

2.3 Program Manfaat Pasti

Program manfaat pasti adalah program manfaat purnakarya dimana jumlah yang
dibayarkan sebagai manfaat purnakarya ditentukan dengan mengacu pada formula yang
biasanya didasarkan pada penghasilan karyawan dan/atau masa kerja. Dalam program
ini termasuk program manfaat pasti yang diatur dalam peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku.

12
Laporan keuangan program ini mencakup laporan keuangan yang menyajikan asset
neto tersedia untuk manfaat purnakarya dan nilai aktuaria dari manfaat purnakarya
terjanji, yang membedakan antara manfaat telah menjadi hak dan manfaat belum
menjadi hak dan surplus atau defisit.

Laporan asset neto tersedia untuk manfaat purnakarya yang mencakup salah satu
dari catatan yang mengungkapkan nilai kini aktuaria dari manfaat purnakarya terjanji,
yang membedakan antara manfaat telah menjadi hak dan manfaat belum menjadi hak
atau acuan atas informasi asset neto tersedia untuk manfaat purnakarya yang disertakan
dalam laporan aktuaria. Jika penilaian aktuaria belum disajikan pada tanggal pelaporan
keuangan, maka penilaian terakhir digunakan sebagai dasar penyusunan dan tanggal
penilaian tersebut diungkapkan. Dampak setiap perubahan asumsi aktuaria yang
mempunyai dampak signifikan pada nilai kini aktuaria dari manfaat purnakarya terjanji
juga diungkapkan.

Laporan keuangan ini juga menjelaskan hubungan antara nilai kini aktuaria dan
manfaat purnakarya terjanji dan asset neto tersedia untuk manfaat purnakarya dan
kebijakan pendanaan manfaat purnakarya terjanji.

Dalam program imbalan pasti, pembayaran manfaat purnakarya terjanji bergantung


pada posisi keuangan program purnakarya dan kemampuan pemeberi iuran untuk
melakukan iuran masa depan kepada program purnakarya maupun kinerja investasi dan
efisien operasional program purnakarya. Program imbalan pasti membutuhkan bantuan
aktuaris secara periodik untuk menilai kondisi keuangan program manfaat purnakarya,
menelaah asumsi, dan merekomendasikan tingkat iuran masa depan.

Tujuan pelaporan oleh program manfaat purnakarya ini adalah memberikan


informasi secara periodik tentang sumber keuangan dan aktifitas program manfaat
purnakarya yang berguna untuk menilai hubungan antar akumulasi sumber daya dan
manfaat program dari waktu ke waktu. Tujuan ini biasanya dapat dicapai dengan
menyusun laporan keuangan yang antara lain terdiri atas:

Penjelasan atas aktivitas signifikan selama periode dan dampak setiap perubahan
terkait dengan program manfaat purnakarya serta keanggotaan dan syarat dan
ketentuannya.

13
Informasi aktuaria sebagai bagian dari laporan tersebut atau sebagai laporan
terpisah dan
Penjelasan atas kebijakan investasi

2.4 Penjelasan Mengenai Laporan Keuangan

Adapun yang dimaksud dengan penjelasan mengenai laporan keuangannya adalah


sebagai berikut:

1. Aset neto tersedia untuk manfaat purnakarya adalah aset dari program manfaat
purnakarya dikurangi liabilitas selain nilai kini aktuaria dari manfaat purnakarya
terjanji.
2. Nilai kini aktuaria dari manfaat purnakarya terjanji adalah nilai kini dari perkiraan
pembayaran oleh program manfaat purnkarya kepada karyawan yang masih bekerja
dan sudah tidak bekerja, yang dapat diatribusikan pada jasa yang telah diberikan.

Nilai kini dari perkiraan pembayaran oleh program manfaat purnakarya dapat
dihitung dan dilaporkan dengan menggunakan tingkat gaji kini atau tingkat gaji
proyeksi sampai dengan waktu purnakarya peserta.
Alasan penerapan pendekatan gaji kini dalam nilai aktuaria adalah:
a) Nilai kini aktuaria dari manfaat purnakarya terjanji, yang merupakan penjumlahan
dari gaji kini dalam program manfaat purnakarya dapat dihitung lebih obyektif
daripada tingkat gaji proyeksi karena melibatkan lebih sedikit asumsi.
b) Peningkatan manfaat yang dapat diatribusikan kepada suatu kenaikan gaji menjadi
kewajiban program manfaat purnakarya pada saat kenaikan gaji.
c) Jumlah nilai aktuaria dari manfaat purnakarya terjanji menggunakan tingkat gaji
kini yang umumnya lebih mendaketi dengan jumlah terutang pada peristiwa
penghentian atau pemutusan program purnakarya.

Pengungkapan nilai kini aktuaria menggunakan pendekatan gaji kini pada laporan
keuangan menunjukkan kewajiban manfaat yang diterima pada tanggal laporan
keuangan. Alasan penerapan pendekatan gaji proyeksi adalah:
a) Informasi keuangan seharusnya disajikan atas dasar kelangsungan usaha, terlepas
dari asumsi dan estimasi yang harus dibuat.

14
b) Pada pembayaran akir program manfaat purnakarya, manfaat ditentukan dengan
mengacu pada gaji saat atau mendekati tanggal purnakarya, oleh karena itu, gaji,
tingkat iuran dan tingkat imbal hasil harus diproyeksikan.
c) Pengabaian untuk memasukan gaji, ketika sebagian besar pendanaan didasarkan
pada proyeksi, dapat mengakibatkan pelaporan menampakkan kelebihan dana
ketika program tidak kelebihan dana atau kecukupan dana ketika program
kekurangan dana.

Pengungkapan nilai kini aktuaria pada pendekatan gaji proyeksi menunjukkan


besarnya kewajiban potensial dengan dasar kelangsungan usaha yang umumnya sebagai
dasar pendanaan.

2.5 Laporan Keuangan

Laporan keuangan program manfaat purnakarya, baik program imbalan pasti atau
program iuran pasti, berisi juga informasi berikut:

a) Laporan perubahan asset neto tersedia untuk manfaat purnakarya.


b) Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan.
c) Penjelasan mengenai program manfaat purnakarya dan dampak setiap perubahan
program manfaat purnakarya selama periode.
Laporan keuangan yang disusun oleh program manfaat purnakarya mencakup hal-
hal berikut, jika diterapkan:
a) Laporan asset neto tersedia untuk manfaat purnakarya yang mengungkapkan:
i. asset pada akhir periode sesuai klasifikasinya.
ii. dasar penilaian asset.
iii. rincian setiap investasi tunggal yang melebihi 5% dari asset neto tersedia untuk
manfaat purnakarya atau jenis efek.
iv. rincian setiap investasi pada pemberi kerja.
v. liabilitas selain nilai kini aktuaria dari manfaat purnakarya terjanji.
b) laporan perubahan asset neto tersedia untuk manfaat purnakarya yang menunjuklan
hal-hal berikut:
i. iuran pemberi kerja.
ii. iuran pekerja.

15
iii. pendapatan investasi seperti bunga dan deviden.
iv. pendapatan lain.
v. manfaat yang dibayarkan atau terutang (analisis, mislanya sebagai manfaat
purnakarya, kematian dan cacat, serta pembayaran lump sum).
vi. beban administrasi.
vii. beban lain.
viii. pajak penghasilan.
ix. laba atau rugi pelepasan investasi dan perubahan nilai investasi.
x. pengalihan dari dan kepada program purnakarya lain.
c) penjelasan mengenai kebijakan pendanaan.
d) untuk program imbalan pasti, nilai kini aktuaria dari manfaat purnakarya terjanji
yang dibedakan antara manfaat telah menjadi hak dan manfaat belum menjadi hak
berdasarkan manfaat terjanji sesuai persyaratan program purnakarya, jasa yang
diberikan pada tanggal pelaporan, dan menggunakan tingkat gaji kini atau tingkat
gaji proyeksi. Informasi ini termasuk dalam laporan aktuaria yang dibaca bersama
dengan laporan keuangan terkait.
e) Untuk program imbalan pasti, penjelasan mengenai asumsi aktuaria signifikan yang
dibuat dan matode yang digunakan untuk menghitung nilai aktuaria dari manfaat
purnakarya terjanji.

Pelaporan program manfaat purnakarya berisi penjelasan atas program purnakarya,


baik sebagai bagian laporan keuangan atau dalam laporan tersendiri. Laporan tersebut
berisi hal-hal berikut ini:

a) Nama pemberi kerja dan kelompok pekerja yang menjadi peserta program manfaat
purnakarya.
b) Jumlah peserta yang menerima manfaat purnakarya dan jumlah peserta lain, yang
diklasifikasikan dengan tepat.
c) Jenis program purnakarya; program iuran pasti atau program imbalan pasti.
d) Catatan untuk mengetahui apakah peserta memberikan iuran kepada program
purnakarya.
e) Penjelasan manfaat purakarya terjanji kepada peserta.
f) Penjelasan setiap persyaratan penghentian program purnakarya.
g) Perubahan dalam huruf (a) sampai (f) pada periode yang tercakup dalam laporan.

16
Hal yang tidak lazim dilakukan adalah mengacu pada dokumen lain yang tersedia
bagi pengguna laporan keuangan yang mana program purnkarya dijelaskan, dan hanya
mencakup informasi perubahan setelahnya.

Perbedaan PSAK dan IAS

Adapun pernyataan yang berbeda dari PSAK dan IAS, yaitu:

1. IAS 26 paragraf 5 yang menjadi PSAK 18 paragraf 5 tentang bentuk program


manfaat purnakarya sebagai program terpisah yang disesuaikan dengan kondisi
lingkungan hukum di Indonesia.
2. IAS 26 paragraf 8 yang menjadi PSAK 18 paragraf 8 tentang definisi program
manfaat purnakarya dengan mengganti peanghasilan tahunan menjadi penghasilan
bulanan disesuaikan dengan praktik di Indonesia.
3. IAS 26 paragraf 8 yang menjadi PSAK 18 paragraf 8 tentang definisi program
iuran pasti dengan tambahan kalimat terkait program pensiun iuran pasti yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan. Hal ini memberikan penjelasan bahwa
program pensiun termasuk dalam pengertian program iuran pasti.
4. IAS 26 paragraf 8 yang menjadi PSAK 18 paragraf 8 tentang definisi program
imabalan pasti dengan tambahan kalimat terkait program pensiun imbalan pasti
yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Hal ini memberikan penjelasan
bahwa program pensiun termasuk dalam pengertian program imbalan pasti.
5. IAS 26 paragraf 10 tentrang program manfaat purnakarya yang dibentuk
berdasarkan perjanjian formal dan nonformal. Paragraph tersebut tidak diadopsi
karena tidak sesuai dengan kondisi lingkungan hukum di Indonesia.

17
3. Contoh Kasus

Keberhasilan suatu perusahaan baik itu perusahaan kecil maupun besar itu pelaku
utamanya dipastikan sumber daya yang berkualitas maka dari itu, jika perusahaan ingin
mendapatkan kontribusi yang lebih dari setiap pekerjanya, imbalan yang didapat oleh
pekerjanya pun harus jelas. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penentu
terhadap efisiensi dan efektivitas dari pemakaian sumber daya lainnya. Untuk itu
diperlukan suatu pendekatan yang mengarah pada penciptaan suatu manajemen tenaga
kerja yang baik yang dapat meningkatkan motivasi kerja karyawan. Salah satu cara
yang paling efektif adalah pemberian imbalan kerja yang tidak hanya terbatas pada gaji
pokok, tetapi juga terdapat imbalan kerja lainnya yang diharapkan oleh para pekerja,
dimana perusahaan menjamin keadilan atas hak para pekerjanya berdasarkan kinerja
mereka masingmasing sesuai kontribusinya pada perusahaan. Seperti halnya
disebutkan pada undang-undang No.13 tahun 2003, bahwa Kesejahteraan
pekerja/buruh adalah suatu pemenuhan kebutuhan dan/atau keperluan yang bersifat
jasmaniah dan rohaniah, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, yang secara
langsung atau tidak langsung dapat mempertinggi produktivitas kerja dalam lingkungan
kerja yang aman dan sehat.

PT Astra Agro Lestari (IDX: AALI) merupakan perusahaan multinasional yang


memproduksi perkebunan yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini
didirikan pada tahun 1989. Perusahaan ini menghasilkan berbagai macam-macam bahan
perkebunan. Sebagai perusahaan besar AALI, telah menerapkan imbalan kerja sesuai
dengan peraturan Undang-undang No.13 tahun 2003. Imbalan kerja yang digunakan
adalah Imbalan kerja jangka pendek dan imbalan paska kerja.

Imbalan kerja jangka pendek

a. Gaji dan Upah

Gaji merupakan balas jasa yang dibayar secara periodik kepada pekerja tetap serta
mempunyai jaminan pasti. Istilah gaji pada PT Astra Agro Lestari digunakan untuk
pembayaran para manajer, dan para staff, yang biasanya mendapatkan gaji yang
jumlahnya tetap. Tarif gaji dinyatakan dalam gaji perbulan. Sedangkan upah pada PT
Astra Agro Lestari digunakan untuk pembayaran kepada pekerja urusan gudang atau

18
operator produksi, biasanya mendapat upah yang tarifnya dinyatakan dalam rupiah per
jam, per unit produk, atau satuan lainnya. Kadang-kadang istilah gaji dan upah pada PT
Astra Agro Lestari diartikan sama, sehingga istilah penggajian sudah dianggap meliputi
juga pengupahan. Gaji dan upah pada PT Astra Agro Lestari ditentukan berdasarkan
jenjang pendidikan dan masa kerja pekerja bersangkutan.
Sesuai dengan pasal 1 pada undang-undang no. 13 tahun 2003 poin ke 30 Upah
adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai
imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan
dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang
undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan
dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

b. Iuran jaminan sosial


Jaminan sosial tenaga kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam
bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang
atau berkurang dan pelayanan kesehatan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang
dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan
meninggal dunia. Sesuai dengan Undang-undang No. 3 Tahun 1992 dan peraturan
pelaksanaannya, semua pekerja diikutsertakan dalam program jaminan sosial tenaga
kerja (jamsostek) pada PT Jamsostek. Adapun definisi benefit jamsostek:
Kecelakaan Kerja
Kecelakaan Kerja adalah peristiwa kecelakaan yang terjadi dalam bekerja,
termasuk penyakit yang timbul dalam bekerja dan kecelakaan yang terjadi dalam
perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui
jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Kematian
Kematian adalah peristiwa meninggal dunia yang bukan disebabkan oleh
kecelakaan kerja, seperti sakit, korban kriminilitas dan lain-lain.
Hari Tua
Hari Tua adalah kondisi dimana seorang karyawan telah mencapai usia 55 tahun
atau mengalami cacat total tetap setelah ditetapkan oleh dokter atau memenuhi
persyaratan tertentu.

19
Pemeliharaan Kesehatan
Hak karyawan dalam bentuk pelayanan yang diberikan jika karyawan tersebut
mengalami gangguan kesehatan. Hak pelayanan kesehatan ini berlaku bukan hanya
untuk karyawan, tapi juga untuk tanggungannya, yaitu seorang istri dan maksimal 3
anak kandung.

Program dan besarnya iuran jaminan sosial PT Astra Agro lestari yang diikuti
meliputi:
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dengan Iuran sebesar 0,24% dari upah sebulan
dibayar sepenuhnya oleh PT Astra Agro Lestari
Jaminan Hari Tua (JHT), dengan Iuran sebesar 3,7% dari upah sebulan dibayar oleh
pengusaha dan 2% dari upah sebulan dibayar oleh pekerja
Jaminan Kematian (JKM), dengan Iuran sebesar 0,3% dari upah sebulan dibayar
sepenuhnya oleh PT Astra Agro Lestari
Sedangkan untuk jaminan pemeliharaan kesehatan dilaksanakan sendiri oleh PT
Astra Agro Lestrai dengan ketentuan tidak lebih rendah dari peraturan Perundangan-
Undangan yang berlaku. Jaminan pemeliharaan kesehatan pada PT Astra Agro Lestari
meliputi:
Sumbangan Kacamata
Sumbangan Rumah sakit

c. Pencatatan Transaksi
Pencatatan Transaksi Gaji, PPh 21, dan Jamsostek Untuk bulan Januari 2008
perhitungan gaji adalah sebagai berikut:

Gaji kotor Rp 140.313.000,-


Potongan-potongan
PPh 21 Rp 10.120.011,-
Iuran Jamsostek Rp 2.806.260,-
Koperasi Rp 47.500,-
Sisa diterima karyawan Rp 12.973.771,-
Gaji bersih Rp127.339.229,-

20
Maka ayat jurnalnya pada akhir bulan Januari adalah:

Biaya gaji Rp 140.313.000,-


Hutang Pajak PPh 21 Rp 10.120.011,-
Hutang Jamsostek Rp 2.806.260,-
Hutang Koperasi Rp 47.500,-
Hutang Gaji Rp127.339.229,-

Biaya Asuransi Jamsostek-JHT 3,7% Rp 5.191.581,-


Biaya Asuransi Jamsostek-JKM 0,3% Rp 420.939,-
Biaya Asuransi Jamsostek-JKK 0,24% Rp 336.751,-
Hutang Asuransi Jamsostek Rp 5.949.271,-

Hutang Gaji Rp 127.339.229,-


Bank Rp 127.339.229

Dan ayat jurnal awal Februari 2008 adalah:

Hutang Pajak PPh 21 Rp 10.120.011,-


Hutang Jamsostek(2% + 4,24%) Rp 8.755.531,-
Hutang Koperasi Rp 47.500,-
Bank Rp 14.009.999,-

d. Bonus

Pemberian bonus dilakukan satu tahun dua kali. Mereka yang mendapatkan bonus
umumnya adalah pekerja untuk posisi Manajer dengan masa kerja yang lebih dari satu
tahun. Perjanjian bonus bisanya didasarkan pada macam-macam faktor, misalnya
kelebihan penjualan diatas target tahun berjalan, atau berdasarkan diatas target jumlah
laba bersih. Adapun ketentuan bonus pada PT Astra Agro Lestari, yaitu:

a) Dalam hal perusahaan memperoleh keuntungan dan berdasarkan kemampuan


perusahaan, maka perusahaan akan memberikan Bonus kepada karyawannya.

21
b) Perhitungan dan besarnya bonus didasarkan pada prestasi kerja yang mencerminkan
rasa keadilan.
c) Bagi pekerja yang di PHK sebelum tanggal 1 Desember, tidak berhak atas Bonus.
d)
Untuk perhitungan bonus PT Astra Agro Lestari memberikan bonus kepada
pekerjanya sebesar 10% dari penjualan. Seandainya penjualan pada 1 (satu) tahun
mencapai Rp 200.000.000,- maka bonus yang dibayarkan kepada pekerjanya sebesar Rp
20.000.000,- (10% X Rp 200.000.000,-). Jurnal untuk mencatat bonus adalah sebagai
berikut:
Biaya bonus Rp 20.000.000,-
Hutang PPh 21 (10%) Rp 2.000.000,-
Utang bonus Rp 18.000.000,-

e. Cuti Berimbalan Jangka Pendek

Sebagian pemberi kerja memberikan hak cuti kepada pekerjanya dengan jenis yang
berbeda-beda. Pada PT Astra Agro Lestari cuti berimbalan jangka pendek diberikan
kepada pekerja yang telah melewati masa percobaan dan menjadi pekerja tetap. Cuti
Berimbalan Jangka Pendek Pada PT Astra Agro Lestari meliputi:

1) Cuti Hari Libur


2) Cuti Tahunan
3) Cuti Haid
4) Cuti Melahirkan
5) Cuti Lainnya.

Apabila hal tersebut diatas terjadi diluar kota dengan radius lebih dari 60 (enam
puluh) km dihitung dari tempat bekerja, maka tiap keperluan tersebut mendapat ijin
tambahan sebanyak-banyaknya 2 (dua) hari, dengan seijin atasannya.

f. Imbalan Non-moneter

Imbalan Non-moneter pada PT Astra Agro Lestari seperti imbalan kesehatan,


rumah, kendaran bermotor (mobil atau motor). Dalam menentukan Imbalan non-

22
moneter pada PT Astra Agro lestari berdasarkan jenjang posisi pekerja yang diatur
dalam ketentuan perusahaan.

g. Imbalan Pasca Kerja

Imbalan pasca kerja merupakan imbalan kerja yang terutang setelah pekerja
menyelesaikan masa kerjanya. Imbalan pasca kerja pada PT Astra Agro Lestari
meliputi:

Tunjangan Pensiun

Tunjangan pensiun merupakan harapan terbesar bagi pekerja yang telah habis masa
kerjanya. Oleh sebab itu PT Astra Agro Lestari membentuk Dana Pensiun Astra yang
diperuntukan bagi para pekerja yang telah mencapai batas usia 55 (lima puluh lima)
tahun dengan mendapatkan tunjangan pensiun sesuai dengan masa kerjanya tersebut.
Program pensiun yang diatur dalam Dana Pensiun Astra, meliputi:

Program Pensiun Iuran Pasti

Program Pensiun Iuran Pasti pada PT Astra Agro Lestari dikelola oleh Dana
Pensiun Astra Dua (DPA 2) yang merupakan jasa pensiun Astra Grup dan pesertanya
pekerja yang menjadi peserta Dana Pensiun Astra Dua (DPA 2) sesudah tanggal 20
April 1992. Dalam program Pensiun Iuran Pasti PT Astra Agro Lestari dan pekerjanya
melakukan pembayaran Iuaran pensiun setiap tahun dengan besar iuran ditentukan Dana
Pensiun Astra Dua (DPA 2).

Pada program Pensiun Iuran Pasti biaya yang dikeluarkan oleh PT Astra Agro
Lestari untuk Iuran Pasti didebit pada beban pensiun. Sebagai ilustrasi, asumsikan
bahwa untuk program pensiun iuran pasti pada PT Astra Agro Lestari, mewajibkan
Iuran yang setara dengan 10% gaji bulanan pekerja yang akan dibayarkan pada setiap
akhir bulan kepada Dana Pensiun Astra Dua (DPA 2), dengan asumsi gaji tahunan
sebesar Rp 300.000.000,-.

23
Ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut:

Beban pensiun Rp 300.000.000,-


Kas Rp 300.000.000,-

Program Pensiun Imbalan Pasti

Program Pensiun Imbalan Pasti pada PT Astra Agro Lestari dikelola oleh Dana
Pensiun Astra Satu (DPA 1) dan pesertanya adalah pekerja yang telah menjadi peserta
Dana Pensiun Astra Satu (DPA 1) sebelum dan pada tanggal 20 April 1992. Program
pensiun Imbalan Pasti merupakan program pensiun yang menetapkan jumlah imbalan
pensiun yang akan diterima oleh pekerja pada saat pensiun, setelah memperhitungkan
Faktor-faktor seperti umur, masa kerja, dan jumlah kompensasi.

Biaya pensiun dari program pensiun imbalan pasti didebit ke beban pensiun,
sedangkan jumlah yang belum didanai dikredit kekewajiban pensiun yang belum
didanai. Sebagai ilustrasi, diasumsikan bahwa DPA 1 memerlukan biaya pensiun
tahunan sebesar Rp 500.000.000,- dan pada tahun berjalan PT Astra Agro Lestari
membayar Rp 200.000.000,- ke Dana Pensiun Astra Satu (DPA 1). Ayat jurnal untuk
mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut:

Beban pensiun Rp 500.000.000,-


Kas Rp 300.000.000,-
Kewajiban pension yang belum Didanai Rp 200.000.000,-

h. Kebijakan Akuntansi Imbalan Kerja :

1. Imbalan Kerja Jangka Pendek


Imbalan Kerja Jangka Pendek diakui pada saat terutang kepada pekerjanya.
2. Imbalan Pensiun
a. Kewajiban imbalan pensiun merupakan nilai kini kewajiban kewajiban imbalan
pasti pada tanggal neraca dikurangi dengan nilai wajar aset program dan
penyesuaian atas keuntungan atau kerugian aktuarial dan biaya jasa lalu yang
belum diakui.

24
b. Kewajiban imbalan pensiun dihitung oleh aktuaris independen dengan
menggunakan metode project unit credit.
c. Nilai kini kewajiban imbalan pasti ditentukan dengan mendiskontokan estimasi
arus kas masa depan dengan menggunakan tingkat bunga obligasi jangka
panjang yang berkualitas tinggi dalam mata uang rupiah sesuai dengan mata
uang dimana imbalan tersebut akan dibayarkan dan yang memiliki jangka waktu
yang sama dengan kewajiban imbalan pensiun yang bersangkutan.
d. Keuntungan dan kerugian aktuarial yang timbul dari penyesuaian dan perubahan
asumsi-asumsi aktuarial yang jumlahnya melebihi jumlah yang lebih besar dari
10% dari nilai wajar aset program atau 10% dari nilai kini kewajiban nilai kini
kewajiban imbalan pasti, dibebankan atau dikreditkan kelaporan laba rugi
konsolidasian selama rata-rata sisa masa kerja yang diharapkan dari pekerja
tersebut.
e. Biaya jasa lalu diakui langsung dilaporan laba rugi konsolidasian, kecuali biaya
jasa lalu yang menjadi hak (vested) apabila pekerja yang bersangkutan masih
tetap bekerja selama periode waktu tertentu (periode vesting). Dalam hal ini,
biaya jasa lalu akan diamortisasikan secara garis lurus sepanjang periode vesting
tersebut.
f. Keuntungan/kerugian aktuarial dan biaya jasa lalu yang belum diakui yang
terkait dengan kutailmen dan penyelesaian juga langsung
dikreditkan/dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasian.

3. Imbalan Pasca Kerja Lainnya

Group memberikan imbalan Pasca Kerja lainnya, seperti uang pisah, uang
penghargaan, dan uang kompensasi. Hak atas imbalan ini pada umumnya diberikan
apabila karyawan bekerja hingga mencapai usia pensiun dan memenuhi masa kerja
tertentu. Estimasi biaya imbalan diakru sepanjang masa kerja karyawan, dengan
menggunakan metode akuntansi yang sama dengan metode yang digunakan dalam
perhitungan program pensiun imbalan pasti, namun disederhanakan. Kewajiban ini
dihitung setiap tahun oleh aktuaris independen.

25
4. Imbalan Jangka Panjang Lainnya

Imbalan jangka panjang lain seperti cuti berimbalan jangka panjang dan
penghargaan jubilee diberikan berdasarkan peraturan Grup dan dihitung dengan
mendiskontokan estimasi biaya imbalan yang diakru secara proporsional sepanjang
periode Vesting. Biaya jasa lalu dan keuntungan/kerugian aktuarial atas imbalan ini
langsung diakui pada laporan laba rugi konsolidasian.

26