Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

MTBS DAN MTBM


Di Susun Oleh

KELOMPOK 3
Andika Mohamad Salim

Lutfiani Samaun

Prian Pakaya

Rahmatia S. Djauhari

Sumira Umanahu

Kelas : 1B / D-IV Keperawatan

Mata Kuliah : Kebijakan Kesehatan Nasional

Dosen Pengajar : Bapak Paulus Pangalo, SKM, M.Kes

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO

T.A 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang MTBS
dan MTBM ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami
berterima kasih pada Bapak Paulus Pangalo, SKM, M.Kes selaku dosen kami yang telah
memberikan tugas ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai konsep MTBS dan MTBM. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah ini,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Gorontalo, Januari 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Bila angka ini
dikonversikan secara matematis, maka setidaknya terjadi 400 kematian bayi perhari atau 17
kematian bayi setiap 1 jam di seluruh Indonesia, sedangkan Angka Kematian Balita (AKBAL)
sebesar 44/1000 kelahiran hidup yang berarti terjadi 529 kematian/hari atau 22 kematian
balita setiap jamnya. Bila kita mencoba menghitung lebih jauh lagi, berarti terjadi lebih dari
15.000 kematian balita setiap bulannya.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, ada beberapa penyakit
utama yang menjadi penyebab kematian bayi dan balita. Pada kelompok bayi (0-11 bulan),
dua penyakit terbanyak sebagai penyebab kematian bayi adalah penyakit diare sebesar 31,4%
dan pneumonia 24%, sedangkan untuk balita, kematian akibat diare sebesar 25,2%,
pneumonia 15,5%, Demam Berdarah Dengue (DBD) 6,8% dan campak 5,8%.
Berdasarkan data diatas WHO dan UNICEF terdorong untuk mengembangkan suatu
strategi yang disebut Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). MTBS merupakan
pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit di fasilitas pelayanan kesehatan dasar.
Dalam pelayanan dengan pendekatan MTBS selain upaya kuratif juga dilakukan sekaligus
upaya promotif dan preventif. MTBS diracang terutama untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh para medis dengan mengintegrasikan kegiatan
manajerial seperti pelatihan, supervisi, komunikasi, monitoring dan evaluasi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah Manajemen Terpadu Balita Sakit ?
2. Bagaimanakah Manajemen Terpadu Bayi Muda ?

1.3 Tujuan Penulisan


Mengetahui tentang Manajemen Terpadu Balita Sakit dan Manajemen Terpadu Bayi Muda
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Manajemen Terpadu Balita Sakit


2.1.1 Pengertian MTBS
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood
Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita
sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS
bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita
sakit. Konsep pendekatan MTBS yang pertama kali diperkenalkan oleh WHO merupakan
suatu bentuk strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka
kematian, kesakitan dan kecacatan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang.
Penyakit-penyakit terbanyak pada balita yang dapat di tatalaksana dengan MTBS
adalah penyakit yang menjadi penyebab utama kematian, antara lain pneumonia, diare,
malaria, campak dan kondisi yang diperberat oleh masalah gizi (malnutrisi dan anemia).
Langkah pendekatan pada MTBS adalah dengan menggunakan algoritma sederhana yang
digunakan oleh perawat dan bidan untuk mengatasi masalah kesakitan pada Balita. Bank
Dunia, 1993 melaporkan bahwa MTBS merupakan intervensi yang cost effective untuk
mengatasi masalah kematian balita yang disebabkan oleh Infeksi Pernapasan Akut (ISPA),
diare, campak malaria, kurang gizi, yang sering merupakan kombinasi dari keadaan tersebut.
Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya
termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll). MTBS mengkombinasikan perbaikan tatalaksana
kasus pada balita sakit (kuratif) dengan aspek gizi, imunisasi dan konseling ( promotif dan
preventif).
Agar penerapan MTBS dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka diperlukan
langkah-langkah secara sistematis dan menyeluruh, meliputi pengembangan sistem pelatihan,
pelatihan berjenjang, pemantauan pasca pelatihan, penjaminan ketersediaan formulir MTBS,
ketersediaan obat dan alat, bimbingan teknis dan lain-lain.

2.1.2 Tujuan MTBS


Menurunkan secara signifikan angka kesakitan dan kematian global yang terkait
dengan penyebab utama penyakit pada balita, melalui peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan di unit rawat jalan fasilitas kesehatan dasar dan memberikan kontribusi terhadap
pertumbuhan perkembangan kesehatan anak.
Penerapan MTBS dengan baik dapat meningkatkan upaya penemuan kasus secara
dini, memperbaiki manajemen penanganan dan pengobatan, promosi serta peningkatan
pengetahuan bagi ibu ibu dalam merawat anaknya dirumah serta upaya mengoptimalkan
system rujukan dari masyarakat ke fasilitas pelayanan primer dan rumah sakit sebagai
rujukan. ( Modul MTBS 1, 2008 ).

2.1.3 Strategi MTBS


Strategi MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
a) Komponen I : meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus
balita sakit (dokter, perawat, bidan, petugas kesehatan)
b) Komponen II : memperbaiki sistem kesehatan agar penanganan penyakit pada balita
lebih efektif
c) Komponen III : Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di
rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan
pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yang dikenal sebagai Manajemen Terpadu
Balita Sakit berbasis masyarakat).

2.1.4 Pelaksana MTBS


Pelaksana pada pelayanan kesehatan dengan pendekatan MTBS adalah tenaga
kesehatan di unit rawat jalan tingkat dasar yaitu paramedis atau dokter. MTBS bukan
dirancang untuk fasilitas pelayanan rawat inap dan bukan untuk kader.

2.1.5 Prosedur Pelaksanaan MTBS


Beberapa macam prosedur penanganan balita sakit sesuai standar MTBS ini, antara
lain meliputi: penilaian, klasifikasi penyakit, tindakan/pengobatan, nasehat bagi ibu dan
tindak lanjut. Detail Penjelasan langkah-langkah tersebut sebagai berikut :
a. Menilai dan membuat klasifikasi penyakit
Menilai dan membuat klasifikasi penyakit anak umur 2 bulan sampai 5 tahun.
Tindakan ini dilakukan dengan cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sedangkan
pengklasifikasian delakukan dengan membuat sebuah keputusan mengenai kemungkinan
penyakit atau masalah serta tingkat keparahannya. Menilai dan membuat klasifikasi penyakit
dilakukan dengan beberapa kegiatan, antara dengan memeriksa tanda bahaya umum,
merupakan tanda penyakit yang serius. Tanda bahaya umum dapat terjadi pada penyakit
apapun dan tidak dapat membantu menentukan jenis penyakit secara spesifik. Hanya dengan
satu tanda bahaya umum saja, sudah cukup untuk menunjukkan bahwa penyakit itu berat,
sehingga sebelum melakukan penilaian setiap penyakit, penting memeriksa beberapa tanda
bahaya umum seperti Tidak bisa minum atau menetek, Muntahkan semuanya, Kejang, serta
Letargis atau tidak sadar
-Menanyakan keluhan utama
Beberapa jenis pertanyaan yang penting untuk diajukan terkait dengan Menilai batuk
atau sukar bernapas dan klasifikasinya, menilai diare dan klasifikasinya, menilai demam dan
klasifikasinya, serta menilai masalah telinga dan klasifikasinya.
-Menilai batuk atau sukar bernapas dan klasifikasinya
Setelah memeriksa tanda bahaya umum, ditanyakan kepada ibu apakah menderita
batuk atau sukar bernapas, jika anak batuk atau sukar bernapas, sudah berapa lama,
menghitung frekuensi napas, melihat tarikan dinding dada bawah ke dalam, dan melihat dan
dengar adanya stridor. Kemudian dilakukan klasifikasi apakah anak menderita pneumonia
berat, pneumonia atau batuk bukan pneumonia.
-Menilai diare dan klasifikasinya
Setelah memeriksa batuk atau suka bernapas, petugas menanyakan kepada ibu apakah
anak menderita diare, jika anak diare, tanyakan sudah berapa lama, apakah beraknya berdarah
(apakah ada darah dalam tinja). Langkah berikutnya adalah memeriksa keadaan umum anak,
apakah anak letargis atau tidak sadar, apakah anak gelisah dan rewel/mudah marah; melihat
apakah mata anak cekung, memeriksa kemampuan anak untuk minum: apakah anak tidak bisa
minum atau malas minum, apakah anak haus minum dengan lahap; memeriksa cubitan kulit
perut untuk mengetahui turgor: apakah kembalinya sangat lambat (lebih dari 2 detik) atau
lambat. Setelah penilaian didapatkan tanda dan gejala diare, maka selanjutnya diklasifikasikan
apakah anak menderita dehidrasi berat, ringan/sedang, tanpa dehidrasi, diare pesisten berat,
diare persisten atau disentri.
-Menilai demam dan klasifikasinya.
Demam merupakan masalah yang sering dijumpai pada anak kecil. Tanyakan kepada
ibu apakah anak demam, selanjutnya periksa apakah anak teraba panas atau mengukur suhu
tubuh dengan termometer. Dikatakan demam jika badan anak teraba panas atau jika suhu
badan 37,5 derajat celcius atau lebih. Jika anak demam, tentukan daerah resiko malaria: resiko
tinggi, resiko rendah atau tanpa resiko malaria. Jika daerah resiko rendah atau tanpa resiko
malaria, tanyakan apakah anak dibawa berkunjung keluar daerah ini dalam 2 minggu terakhir.
Jika ya, apakah dari resiko tinggi atau resiko rendah malaria kemudian tanyakan sudah berapa
lama anak demam. Jika lebih dari 7 hari apakah demam terjadi setiap hari, lihat dan raba
adanya kaku kuduk, lihat adanya pilek, apakah anak menderita campak dalam 3 bulan
terakhir, lihat adanya tanda-tanda campak: ruam kemerahan di kulit yang menyeluruh dan
terdapat salah satu gejala berikut: batuk, pilek atau mata merah.
-Menilai masalah telinga dan klasifikasinya.
Setelah memeriksa demam, petugas menanyakan kepada ibu apakah anak mempunyai
masalah telinga. Jika anak mempunyai masalah telinga, tanyakan apakah telinganya sakit,
lihat adakah nanah keluar dari telinga, raba adakah pembengkakan yang nyeri di belakang
telinga. Kemudian klasifikasikan apakah anak menderita mastoiditis, infeksi telinga akut,
infeksi telinga kronis atau tidak ada infeksi telinga.
-Memeriksa status gizi dan anemia serta klasifikasinya. Setiap anak harus diperiksa status
gizinya karena kekurangan gizi merupakan masalah yang sering ditemukan, terutama diantara
penduduk miskin. Langkahnya yaitu memeriksa apakah anak tampak sangat kurus, memeriksa
pembengkakan pada kedua kaki, memeriksa kepucatan telapak tangan: apakah sangat pucat
atau agak pucat, dan membandingkan berat badan anak menurut umur. Kemudian
mengklasifikasikan sesuai tanda/gejala apakah gizi buruk dan/atau anemia berat, bawah garis
merah (BGM) dan/atau anemia, tidak BGM dan tidak anemia.

-Memeriksa status imunisasi. Petugas memeriksa status imunisasi dari setiap anak yang
sakit, kemudian menuliskan tanggal pemberian imunisasi untuk setiap jenis vaksin. Jika data
imunisasi tidak ada, tanyakan pada ibu imunisasi apa saja yang sudah pernah diberikan
kepada anaknya dan kapan diberikan. Semua anak harus mendapat semua jenis imunisasi
yang dianjurkan sebelum ulang tahunnya yang pertama.

-Memeriksa pemberian vitamin A. Setiap balita berumur 6 bulan sampai 5 tahun perlu
mendapat suplemen vitamin A untuk mencegah kebutaan dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Pemberian vitamin A biasanya dilakukan setahun 2 kali di Posyandu pada bulan vitamin A
yaitu Februari dan Agustus. Menanyakan kepada ibu apakah anaknya yang berumur 6 bulan
keatas telah mendapatkan tambahan vitamin A dan kapan yang terakhir. Tuliskan tanggal
pemberian vitamin A, jika pemberian terakhir telah lebih dari 6 bulan, anak tersebut sudah
memerlukan 1 dosis vitamin A sesuai umurnya. Anjurkan kepada ibu untuk secara teratur
melanjutkan pemberian vitamin A kepada anaknya di posyandu pada bulan vitamin A sampai
anaknya berumur 5 tahun.
-Memeriksa masalah kesehatan lainnya. Setelah dilakukan penilaian terhadap tanda bahaya
umum, batuk atau sukar bernapas, diare, demam, memeriksa status gizi dan anemia, kemudian
periksa apakah ada masalah kesehatan/keluhan lain.

b. Menentukan tindakan/pengobatan.
Setelah beberapa tahap kegiatan diatas, kemudian dilakukan kegiatan untuk
menentukan jenis tindakan atau pengobatan yang perlu dilakukan. Tindakan ini berarti
menentukan tindakan dan memberi pengaobatan di fasilitas kesehatan yang sesuai. Untuk
menentukan tindakan/pengobatan bagi penyakit anak maka kolom tindakan harus dilengkapi
mulai dari penilaian, tanda/gejala, klasifikasi dan tindakan yang akan dilakukan. Langkahnya
adalah merujuk anak, memberikan obat yang sesuai, mengajari ibu cara memberikan obat di
rumah, mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah, nasehat perawatan di rumah
tanpa obat dan meningkatkan kesehatan anak.
c. Menasehati ibu.
Nasehat bagi ibu meliputi menilai cara pemberian makan anak, anjuran pemberian
makan selama sakit dan sehat, menasehati ibu tentang masalah pemberian makan,
meningkatkan pemberian cairan selama sakit, menasehati ibu kapan harus kembali dan
menasehati ibu tentang kesehatannya sendiri.
d. Pemberian pelayanan tindak lanjut
Kegiatan ini berarti menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak datang atau
kunjungan ulang. Pelayanan pada anak yang datang untuk tindak lanjut menggunakan kotak-
kotak yang sesuai klasifikasi anak sebelumnya. Jika anak mempunyai masalah baru lakukan
penilaian, klasifikasi dan tindakan terhadap masalah baru tersebut seperti pada bagan
penilaian dan klasifikasi.
2.2 Manajemen Terpadu Bayi Muda
2.2.1 Konsep Dasar MTBM
Dalam perkembangannya MTBS juga mencakup Manajemen Terpadu Bayi Muda
umur kurang dari 2 bulan baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Umur 2 bulan tidak
termasuk pada Bayi Muda tapi ke dalam kelompok 2 bulan sampai 5 tahun. Bayi Muda
mudah sekali menjadi sakit, cepat menjadi berat dan serius bahkan meninggal terutama pada
satu minggu pertama kehidupan bayi. Penyakit yang terjadi pada 1 minggu pertama
kehidupan bayi hampir selalu terkait dengan masa kehamilan dan persalinan. Keadaan
tersebut merupakan karakteristik khusus yang harus dipertimbangkan pada saat membuat
klasifikasi penyakit. Pada bayi yang lebih tua pola penyakitnya sudah merupakan campuran
dengan pola penyakit pada anak.Sebagian besar ibu mempunyai kebiasaan untuk tidak
membawa Bayi Muda ke fasilitas kesehatan. Guna mengantisipasi kondisi tersebut program
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) memberikan pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir melalui
kunjungan rumah oleh petugas kesehatan.
Melalui kegiatan ini bayi baru lahir dapat dipantau kesehatannya dan didekteksi dini.
Jika ditemukan masalah petugas kesehatan dapat menasehati dan mengajari ibu untuk
melakukan Asuhan Dasar Bayi Muda di rumah, bila perlu merujuk bayi segera. Proses
penanganan Bayi Muda tidak jauh berbeda dengan menangani balita sakit umur 2 bulan
sampai 5 tahun.

2.2.2 Pelaksanaan MTBM


Proses manajemen kasus disajikan dalam bagan yang memperlihatkan urutan langkah-
langkah dan penjelasan cara pelaksanaannya:
a) Penilaian dan klasifikasi
b) Tindakan dan Pengobatan
c) Konseling bagi ibu
d) Pelayanan Tindak lanjut
Dalam pendekatan MTBS tersedia Formulir Pencatan untuk Bayi Muda dan untuk
kelompok umur 2 bulan sampai 5 tahun. Kedua formulir pencatatan ini mempunyai cara
pengisian yang sama yaitu :
a. Penilaian berarti melakukan penilaian dengan cara anamnesis dan pemeriksaan fisik.
b. Klasifikasi, membuat keputusan mengenai kemungkinan penyakit atau masalah serta
tingkat keparahannya dan merupakan suatu kategori untuk menentukan tindakan bukan
sebagai diagnosis spesifik penyakit
c. Tindakan dan pengobatan berarti menentukan tindakan dan memberi pengobatan difasilitas
kesehatan sesuai dengan setiap klasifikasi.
d. Konseling juga merupakan menasehati ibu yang mencakup bertanya, mendengar jawaban
ibu, memuji, memberi nasehat relevan, membantu memecahkan masalah dan mengecek
pemahaman.
e. Pelayanan tindak lanjut berarti menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak datang
untuk kunjungan ulang.

Menanyakan kepada ibu mengenai masalah bayi muda. Tentukan pemeriksaan ini
merupakan kunjungan atau kontak pertama dengan bayi muda atau kunjungan ulang untuk
masalah yang sama. Jika merupakan kunjungan ulang akan diberikan pelayanan tindak lanjut
yang akan dipelajari pada materi tindak lanjut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/
terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus pada kesehatan anak usia 0-59 bulan
(balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu
pendekatan/cara penatalaksanaan balita sakit. Dalam perkembangannya MTBS juga
mencakup Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) umur kurang dari 2 bulan baik dalam
keadaan sehat maupun sakit. Umur 2 bulan tidak termasuk pada bayi muda tapi ke dalam
kelompok 2 bulan sampai 5 tahun.

3.2 Saran
Dalam pembahasan materi ini, kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan,
untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Bagan MTBS Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta 2008
http://doctorhilarious.weebly.com/uploads/1/1/7/0/11709970/mtbs
https://idtesis.com/manajemen-terpadu-balita-sakit-mtbs-untuk/
http://www.indonesian-publichealth.com/prosedur-mtbs/