Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu tanggung jawab utama dari seorang ahli anestesi adalah untuk
bertindak sebagai penjaga pasien yang dibius selama operasi. Bahkan,
"kewaspadaan" adalah motto dari American Society of Anesthesiologists (ASA).
Karena monitoring sangat membantu dalam mempertahankan kewaspadaan yang
efektif, standar untuk pemantauan intraoperatif telah diadopsi oleh ASA.
Kewaspadaan yang optimal membutuhkan pemahaman tentang teknologi yang
canggih. Bab ini mengkaji indikasi, kontraindikasi, teknik dan perangkat,dan
komplikasi yang terkait, serta pertimbangan klinis lain yang paling penting dan
banyak digunakan dalam monitoring anestesi.
Pemantauan atau monitoring berasal dari bahasa latin monere yang
artinya memperingatkan atau memberi peringatan. Dalam tindakan anestesi harus
dilakukan monitoring terus menerus tentang keadaan pasien yaitu reaksi terhadap
pemberian obat anestesi khusus terhadap fungsi pernafasan dan jantung. Hal ini
dapat dilakukan dengan panca indera kita yaitu dengan meraba, melihat atau
mendengar dan yang lebih penting serta obyektif dengan alat.
Monitoring anesthesia merupakan suatu standar aplikasi pemeliharaan
anestesi, monitoring menginterprestasikan data klinis yang tersedia untuk
membantu mengenali kegawatan yang terjadi sekarang, yang akan terjadi dan
kondisi sistem jaringan yang tidak menguntungkan. Dalam melakukan
pemantauan yang kompleks dibutuhkan keseimbangan antara pengetahuan dan
skill dalam bidang anestesi. Walaupun kesalahan manusia tidak dapat dihindari,
hal ini menyangkut tentang keamanan dari pasien yang sangat bergantung pada
kewaspadaan dan respons kita terhadap masalah yang potensial.
Dibutuhkan pemahaman yang menyeluruh tentang prinsip-prinsip anestesi
pada saat pemantauan dan parameter tingkat kesadaran normal dan abnormal pada
pasien. Tujuan dilakukan pemantauan mengurangi resiko insiden dan kegawatan

1
terhadap pasien selama periode perioperatif dengan mendeteksi konsekuensi dari
suatu masalah pada saat anestesi, ditandai dengan peringatan tanda-tanda pasien
gawat.
Pemantauan saat anestesi dikenal menjadi hal yang rutin dilakukan seiring
dengan perkembangan yang pesat di bidang fasilitas klinik, pelatihan dan faktor
lain yang mempengaruhi pasien. Dari perkembangan tersebut menurunkan
keterkaitan antara mortalitas dan morbiditas pada pasien selama periode
perioperatif.
Untuk dapat melakukan pemantauan dengan baik selain faktor manusia
diperlukan juga alat-alat pantau agar lebih akurat. Alat pantau berfungsi sebagai
pengukur, menayangkan dan mencatat perubahan-perubahan fisiologis pasien.
Walaupun terdapat banyak alat pantau yang canggih tetapi faktor manusia sangat
menentukan sekali karena sampai saat ini belum ada alat pantau yang dapat
menggantikan fungsi manusia untuk memonitor pasien. Alat pantau perlu
dipelihara dengan baik sehingga informasi-informasi yang didapat dari alat pantau
tersebut dapat dipercaya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah monitoring anestesi pada pasien?


2. Bagaimanakah monitoring alat-alat anestesi?
3. Bagaimanakah monitoring obat-obat anestesi?
4. Bagaimanakah monitoring lingkungan anestesi?
5. Bagaimanakah monitoring seorang dokter saat anestesi?

1.3 Tujuan

1. Memahami pemantauan selama anestesi dalam mendeteksi secara dini


perubahan-perubahan fisiologis pasien selama anestesi, sehingga dapat
diambil tindakan secepatnya bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
2. Mengetahui tentang anestesi pada pasien.

2
3. Mengetahui tentang monitoring alat-alat anastesi
4. Mengetahui monitoring obat-obat anestesi
5. mengetahui monitoring lingkungan anestesi
6. mengetahui monitoring dokter saat anestesi.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Monitoring Anesthesia

Monitoring anestesi adalah segala usaha untuk memperhatikan,


mengawasi dan memeriksa pasien dalam anestesi untuk mengetahui keadaan dan
reaksi fisiologis pasien terhadap tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan utama
monitoring anestesi adalah mendiagnosa adanya permasalahan, perkiraan
kemungkinan terjadinya kegawatdaruratan, dan evaluasi hasil suatu tindakan,
termasuk efektivitas dan adanya efek tambahan.
Saat ini sudah terdapat standar monitoring anestesi yang diadopsi dari
ASA. Standar ini berlaku untuk semua perawatan anestesi meskipun, dalam
keadaan darurat, tindakan dukungan kehidupan yang sesuai lebih diutamakan.
Standar ini juga dapat dilampaui setiap saat berdasarkan penilaian dari ahli
anestesi yang bertanggung jawab pada saat itu. Hal ini dimaksudkan untuk
meningkatkan kualitas perawatan pasien, tetapi mengamati dan mengikuti standar
ini juga tidak dapat menjamin hasil dari setiap pasien. 1

STANDAR 12

Ahli anestesi yang memenuhi syarat harus hadir di ruangan operasi sepanjang
pelaksanaan semua prosedur anestesi umum, anestesi regional, dan perawatan
anestesi yang membutuhkan pemantauan. Tujuanya yaitu dikarenakan dapat
terjadi perubahan yang cepat dalam status pasien selama anestesi, ahli anestesi

1The Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland. 2007. Recommendations For
Standards Of Monitoring During Anaesthesia And Recovery

2 Committee of Origin: Standards and Practice Parameters. 2011. Standards For Basic Anesthetic

Monitoring.

4
yang memenuhi syarat harus terus hadir untuk memantau pasien dan memberikan
perawatan anestesi.

STANDAR 23

Selama anestesi, oksigenasi, ventilasi, sirkulasi, dan suhu pasien harus terus
dievaluasi.

a. Oksigenasi

Tujuannya adalah ntuk memastikan konsentrasi oksigen yang cukup dalam udara
inspirasi dan darah selama semua prosedur anestesi.

Metode:
1) Udara inspirasi: Selama setiap pemberian anestesi umum menggunakan
mesin anestesi, konsentrasi oksigen dalam sistem pernapasan pasien harus
diukur oleh oxygen analyzer dengan penggunaan alarm dengan batas
konsentrasi oksigen yang rendah.
2) Oksigenasi darah: Selama anestesi, metode kuantitatif untuk menilai
oksigenasi seperti pulse oximetry harus digunakan.
b. Ventilasi

Tujuanannya adalah untuk memastikan ventilasi yang memadai terhadap pasien


selama semua prosedur anestesi.

Metode:
1) Setiap pasien yang menerima anestesi umum harus memiliki kecukupan
ventilasi yang terus dievaluasi. Tanda-tanda klinis kualitatif seperti
pengapatan pengembangan dada, reservoir breathing bag, dan auskultasi
suara nafas sangat berguna.
2) Apabila tracheal tube atau laryngeal mask dimasukkan, posisi yang benar
harus diverifikasi oleh penilaian klinis dan dengan identifikasi konsentrasi
karbon dioksida dalam udara ekspirasi. Analisis End-Tidal CO2 yang terus-

3 Ibid

5
menerus, yang digunakan dari waktu intubasi, sampai ekstubasi atau
memindahkan pasien ke lokasi perawatan pascaoperasi, harus terus dilakukan
dengan menggunakan metode kuantitatif seperti capnography, atau
capnometry.
3) Bila ventilasi dikendalikan oleh ventilator mekanik, sebaiknya digunakan
sebuah perangkat yang mampu mendeteksi bila ada komponen yang terputus
dari sistem pernapasan. Perangkat harus memberikan sinyal yang dapat
terdengar saat alarm telah melampaui ambang batas.
4) Selama anestesi regional dan perawatan anestesi yang memerlukan
pengawasan, kecukupan ventilasi harus dievaluasi, setidaknya, dengan
pengamatan terus-menerus tanda-tanda klinis kualitatif.
c. Sirkulasi

Tujuannnya adalah untuk memastikan kecukupan fungsi peredaran darah pasien


selama semua prosedur anestesi.

Metode:
1) Setiap pasien yang menerima anestesi harus memiliki elektrokardiogram terus
ditampilkan dari awal anestesi sampai saat bersiap-siap meninggalkan lokasi
anestesi.
2) Setiap pasien yang menerima anestesi harus diukur tekanan darah arteri dan
denyut jantung nya dan dievaluasi setidaknya setiap 5 menit.
3) Setiap pasien yang menerima anestesi umum harus terus dievaluasi
setidaknya salah satu dari hal berikut: palpasi denyut nadi, auskultasi bunyi
jantung, pemantauan dari penelusuran tekanan intraarterial, pemantauan USG
denyut perifer, pulse plethysmography atau oksimetri.
d. Suhu Tubuh

Tujuannya adalah untuk membantu dalam pemeliharaan suhu tubuh yang tepat
selama semua prosedur anestesi.

Metode:

6
Setiap pasien yang menerima anestesi harus dipantau suhu tubuhnya pada keadaan
yang diperkirakan dan diantisipasi, akan tejadi perubahan suhu tubuh yang
signifikan secara klinis.

2.1.1 Monitoring Sistem Saraf


Pada pasien sehat sadar, oksigenasi pada otaknya adekuat jikkalau
orientasi terhadap personal, waktu dan tempat baik. Pada saat pasien dalam
keadaan tidak sadar, monitoring terhadap SSP dikerjakan dengan memeriksa
respons pupil terhadap cahaya, responterhadap trauma pembedahan, respons
terhadap otot apakah relaksasi cukup atau tidak.4

2.1.2 Monitoring Sistem Kardiovaskular


Monitoring sistem kardiovakular dapat dilakukan dengan memantau hal-
hal berikut ini:5
A. Nadi
Monitoring terhadap nadi merupakan keharusan, karena gangguan
sirkulasi sering terjadi selama anestesi. Pemantauan frekuensi dan irama nadi
dapat dilakukan dengan mudah, misalnya dengan meraba arteri temporalis, arteri
radialis, arteri femoralis atau arteri karotis. Dengan meraba nadi, kita mendapat
informasi tentang kuat lemahnya denyut nadi, teratur tidaknya irama nadi,
frekuensi denyut nadi.Makin bradikardi makin menurunkan curah
jantung.Monitoring nadi secara kontinyu dapat dilakukan dengan peralatan
elektronik seperti EKGatau oksimeter yang disertai dengan alarm.

B. Tekanan darah
Tindakan anestesi umum atau regional adalah indikasi mutlak untuk
dilakukannya pengukuran tekanan darah. Teknik dan macam pengukuran tekanan
darah tersebut sangat bergantung pada kondisi pasien dan jenis tindakan
pembedahan. Pada banyak kasus, pengukuran setiap 3 sampai 5 menit dengan cara

4
Morgan, G. Edward Jr,. Maged, S. Mikhail, and Murray, Michael J,. 2006. Clinical
Anesthesiology, Fourth Edition. United States of America: Appleton & Lange. Hlm 123
5 Ibid. Hlm. 87

7
auskultasi dianggap sudah memenuhi syarat. Tetapi dalam kasus pasien dengan
kegemukan, pasien anak, atau pasien syok, akan lebih baik menggunakan teknik
Doppler atau oskilometer. Pengukuran harus dihindari pada anggota gerak tubuh
dengan abnormalitas atau dengan jalur intravena.
Selain memperhatikan sistole dan diastole, perlu juga diperhatikan mean
arterial preassure (MAP). MAP dapat dihitung dengan rumus tekanan diastole +
1/3 (tekanan sistole tekanan diastole) atau { (tekanan sistole + 2 tekanan
diastole) : 3 }.
Perlengkapan yang digunakan untuk mengukur tekanan darah secara non
invasif yang sederhana antara lain adalah manset (kaf), manometer dan
stetoskop.Yang perlu diperhatikan adalah ukuran kaf tidak boleh terlalu kecil atau
terlalu besar, karena akan mempengaruhi nilai pembacaan tekanan darah. Apabila
kaf yang digunakan terlalu kecil, maka tekanan darah yang terbaca akan lebih
tinggi dari seharusnya dan begitu pula sebaliknya.Dianjurkan lebar manset adalah
2/3 panjang lengan atau 20% - 50% lebih besar dari diameter lengan. Manometer
standar yang baik digunakan adalah manometer air raksa. Namun dapat juga
digunakan manometer aneroid, tetapi harus dikalibrasi dulu dengan manometer air
raksa. Untuk saat ini, penggunaan manometer dan stetoskop telah banyak
ditinggalkan, karena telah terdapat monitor elektronik yang secara teknis lebih
praktis digunakan.

Pengukuran Tekanan Darah SecaraNon Invasif


Metode Palpasi.
Sebelum melakukan pengukuran, kita harus menentukan terlebih dahulu
denyut arteri perifer yang dapat dirasakan. Setelah itu, kita kembangkan kaf
sampai denyut nadi tidak teraba. Perlahan-lahan kaf kita kempeskan sampai teraba
kembali denyut nadi. Tekanan sistolik terbaca saat arteri terasa berdenyut untuk
pertama kali. Tetapi oleh karena ketidaksensitifan perabaan kita dan adanya
perbedaan waktu antara aliran dibawah kaf dan pulsasi pada sebelah distal, maka
kita tidak dapat menentukan tekanan diastolik dan tekanan arteri rerata.

8
Metode Auskultasi
Teknik yang digunakan pada metode Korotkoff atau auskultasi hampir
sama dengan metode palpasi, hanya ditambah stetoskop yang ditempatkan di
sekitar arteri brakialis. Tekanan sistolik ditunjukkan saat pertama kali bunyi nadi
terdengar dan tekanan diastolik adalah saat bunyi tersebut menghilang. Bunyi
Korotkoff biasanya sulit didengarkan jika terjadi keadaan hipotensi atau
vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
Metode Doppler
Metode ini sangat baik digunakan pada pasien dengan kegemukan, pasien
anak-anak atau pasien yang dalam keadaan syok. Prinsip dari alat ini adalah
pulsasi dari dinding arteri atau pergerakan darah yang melalui suatu transduser
memancarkan suatu gelombang ultrasonik. Mula-mula kaf dipompa sampai
melewati batas tekanan sistolik. Perlahan-lahan kaf dikempeskan dan setelah
melalui batas tekanan sistolik, dinding arteri akan berpulsasi dan akan diteruskan
melalui transduser. Penempatan probe harus tepat diatas arteri. Pada metode
Doppler, tekanan yang dapat diukur hanyalah tekanan sistolik saja.

Gambar 1. Probe Doppler harus selalu tepat di atas arteri agar pengukuran tekanan
darah akurat.

9
Oskilometer
Pulsasi arteri akan menyebabkan oskilasi pada tekanan kaf. Oskilasi ini
kecil apabila kaf dikembangkan diatas tekanan sistolik. Saat tekanan kaf turun
sampai tekanan sistolik, pulasai akan dihantarkan ke seluruh kaf dan oskilasi akan
meningkat. Oskilasi maksimal terjadi saat mencapai tekanan arteri rerata, setelah
itu akan turun kembali. Monitor tekanan darah elektronik akan secara otomatis
mencatat perubahan gelombang oskilasi ini. Monitor oskilometer sebaiknya tidak
digunakan pada pasien yang menjalani pembedahan bypass kardiovaskuler.
Sampai sekarang ini, peralatan oskilometer ini masih terus dikembangkan, dan di
Amerika Serikat menjadi pilihan dalam pemantauan tekanan darah noninvasive.

Pengukuran Tekanan Darah Secara Invasif


Kateterisasi Arteri
Indikasi dari pemantauan tekanan darah dengan menggunakan kateterisasi
arteri adalah tindakan anestesi dengan hipotensi buatan, antisipasi pada tindakan
pembedahan dengan perubahan tekanan darah yang cepat, tindakan pembedahan
yang memerlukan pemantauan tekanan darah dengan tepat secara cepat dan
pemantauan analisa gas darah secara berkala selama tindakan pembedahan.
Tindakan kateterisasi arteri ini dikontraindikasikan pada pembuluh darah yang
tidak terdapat kolateral atau pada pasien yang sebelumnya dicurigai adanya
insufisiensi pembuluh darah pada anggota gerak tubuh (misalnya Raynauds
phenomenon).
Arteri radialis merupakan arteri yang sering untuk pelaksanaan kanulasi.
Selain letaknya yang superfisial juga karena memiliki banyak kolateral. Arteri lain
yang dapat digunakan untuk kanulasi adalah arteri ulnaris, arteri brakialis, arteri
femoralis, arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis posterior serta arteri aksilaris.

Kateterisasi Vena Sentral


Indikasi dari kateterisasi vena sentral adalah untuk pemantauan tekanan
vena sentral pada penatalaksanaan cairan pada keadaan hipovolemi dan syok,

10
infus nutrisi parenteral dan obat-obatan, aspirasi emboli udara, insersi
transcutaneous pacing leads, dan pada pasien dengan akses vena perifer yang
tidak baik.
Kontraindikasi dari kateterisasi vena sentral termasuk didalamnya adalah
penyebaran sel tumor ginjal yang masuk ke atrium kanan atau fungating tricuspid
valve vegetations. Kontraindikasi lainnya adalah yang berhubungan dengan
tempat kanulasi. Sebagai contoh kanulasi vena jugularis interna
dikontraindikasikan (relatif) pada pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan
atau yang pernah dilakukan ipsilateral carotid endarterectomy, oleh karena
kemungkinan terjadinya penusukan arteri karotis yang tidak disengaja.
Komplikasi yang dapat terjadi selama tindakan kanulasi vena sentral
termasuk didalamnya adalah infeksi, emboli udara atau trombus, disritmia (jika
ujung kateter masuk ke atrium kanan atau ventrikel), hematom, pneumotoraks,
hidrotoraks, chylothorax, perforasi jantung, tamponade jantung, trauma pembuluh
darah atau nervus dan trombosis. Komplikasi ini dapat terjadi bila kita tidak
menggunakan teknik yang benar.

C. Elektrokardiografi
Semua pasien yang menjalani anestesi harus selalu dipantau gambaran
elektrokardiogramnya. Tidak ada kontraindikasi dalam pelaksanaan tindakan ini.
Gambaran EKG menunjukkan aktivitas listrik dari jantung. Selama tindakan
anestesi, EKG dipakai untuk pemantauan kejadian disritmia kordis, iskemia
miokard, perubahan elektrolit, henti jantung dan aktivitas alat pacu jantung.
Besarnya gambaran gelombang yang muncul, akan berkurang dengan peningkatan
ketebalan dinding dada atau elektroda yang digunakan tidak baik. Gambaran ini
juga dapat dipengaruhi oleh aktivitas peralatan listrik (misalnya elektro kauter)
yang digunakan selama tindakan pembedahan.
Dalam EKG, potensial listrik yang diukur adalah kecil, sehingga artefak
merupakan masalah yang sering timbul. Pergerakan dari pasien atau kabel lead,
penggunaan elektrokauter, 60-cycle interference dan elektroda yang kualitasnya
tidak baik akan dapat memberikan gambaran seperti disritmia

11
2.1.3 Monitoring Respirasi 6
A. Tanpa Alat
Dengan inspeksi kita dapat mengawasi pasien secara langsung gerakan
dada-perut baik pada saat bernapas spontan atau dengan napas kendali dan
gerakan kantong cadang apakah sinkron. Untuk oksigenasi warna mukosa bibir,
kuku pada ujung jari dan darah pada luka bedah apakah pucat, kebiruan, atau
merah muda.

B. Stetoskop
Dengan stetoskop prekordial atau esophageal dapat didengar suara
pernapasan.
Stetoskop prekordial: terbuat dari metal, sangat berat dan berbentuk
seperti bel. Stetoskop ini diletakkan di atas dada atau pada suprasternal
notch.Meskipun berat disini bertujuan untuk mempertahankan
posisinya saat dipasang, tetapi masih diperlukan perekat dua sisi untuk
lebih memperkuat, disamping untuk memperjelas suara yang keluar.
Stetoskop ini dihubungkan dengan menggunakan extension tubing ke
telinga dokter anestesi, dan dapat memantau keadaan pasien dan
lingkungan kamar operasi secara bersama-sama. Komplikasi yang
dapat timbul dari penggunaan alat ini adalah reaksi alergi pada kulit,
abrasi kulit dan rasa sakit saat pelepasan stetoskop dari tubuh pasien.

6 Miller, Ronald D. 2005. Millers Anesthesia, 7th edition. United States of America: Elsevier. Hlm 1411

12
Gambar 6. Stetoskop Prekordial

Stetoskop esophageal: terbuat dari plastic lembut berbentuk seperti


kateter dengan ujung distal yang dilindungi dengan balon. Meskipun
kualitas pemantauan napas dan suara jantung lebih baik dibandingkan
stetoskop prekordial, tapi penggunaannya tebatas pada pasien yang
dilakukan intubasi.

Informasi yang didapatkan pada penggunaan baik itu stetoskop


prekordial atau esophageal adalah konfirmasi tentang ventilasi, kualitas
suara napas (misalnya wheezing), keteraturan dari denyut nadi dan kualitas
dari irama jantung.

C. Oksimetri Denyut
Oksimeter denyut mengukur denyut nadi dan tingkat saturasi oksigen
hemoglobin dengan menggunakan metode penyerapan gelombang cahaya dengan
panjang gelombang tertentu. Hasil yang didapatkan dengan menggunakan
oksimeter denyut ini dapat dipercaya dalam mengukur frekuensi denyut nadi dan
tingkat saturasi oksigen hemoglobin secara noninvasive, sehingga alat ini
digunakan sebagai peralatan standar dalam pemantauan selama
anestesi.Komplikasi penggunaan oksimeter denyut sangat jarang terjadi, tetapi
bila probe dipasang pada ekstremitas untuk jangka waktu yang lama, akan dapat
menimbulkan kerusakan kulit. Sayangnya, kelemahan dari pulse oksimeter ini

13
adalah tanda yang diterima apabila terjadi kegagalan oksigenasi biasanya
terlambat, yaitu setelah pasien mengalami hipoksemia yang mungkin terjadi
beberapa menit sebelumnya, contohnya pada terputusnya sistem pernafasan dari
mesin anestesi ke pasien.

D. Kapnometer
Kapnometer adalah alat non invasif untuk mengukur kadar CO2 pada satu
siklus respirasi di dalam sirkuit napas. Alat ini menggambarkan kadar CO2 pada
fase inspirasi dan ekspirasi serta menunjukkan kadar CO2 pada akhir ekspirasi
(End Tidal CO2 atau ETCO2). Pengukuran kadar CO2 dalam sirkuit nafas ini
berguna untuk menilai ventilasi yang adekuat, deteksi intubasi esofageal,
diskoneksi sirkuit nafas atau ventilator, problem sirkulasi dan deteksi hipertermia
maligna.
Kapnografi adalah pemeriksaan gold standard pada intubasi esofageal,
dimana tidak ada atau sangat kecil CO2 terdeteksi bila dilakukannya pemasangan
intubasi esofageal. Peningkatan tekanan intrakranial dengan menurunkan PaCO2
dapat dengan mudah dipantau dengan menggunakan analisa ETCO2. Penurunan
secara cepat ETCO2 adalah indikator yang sensitif terhadap terjadinya emboli
udara yang sering terjadi pada kraniotomi dengan posisi duduk.

2.1.4 Monitoring Suhu Tubuh 7

Selama tindakan anestesi, terutama dalam waktu yang lama atau pada bayi
dan anak kecil, tempertur pasien harus selalu dipantau. Alat yang digunakan untuk
memantau temperature adalah termistor atau thermocouple.
Dilakukan pada bedah lama atau pada bayi dan anak kecil. Pengukuran
suhu sangat pentingpada anak terutama bayi, karena bayi mudah sekali kehilangan
panas secara radiasi,konveksi, evaporasi dan konduksi, dengan konsekuensi
depresi otot jantung, hipoksia,asidosis, pulih anestesia lambat.

7 Miller, Ronald D. 2005. Millers Anesthesia, 7th edition. United States of America: Elsevier , hlm 1533

14
2.1.5 Monitoring Ginjal

Dalam tindakan anestesi pemantauan produksi urin menjadi hal yang


penting. Produksi urin menggambarkan fungsi system urogenital dan secara tidak
langsung menunjukkan keadaan curah jantung, volume intravaskuler dan aliran
darah ke ginjal.
Indikasi untuk dilakukan pemasangan kateter urin adalah pada pasien
dengan penyakit jantung kongestif, gagal ginjal, penyakit hati lanjut, atau pasien
syok. Selain itu kateterisasi urin merupakan tindakan yang rutin dilakukan pada
pembedahan jantung, bedah aorta atau pembuluh darah ginjal, kraniotomi, bedah
abdomen mayor, pembedahan dengan waktu lama dan pembedahan yang
kemungkinan memerlukan cairan yang banyak serta pemberian obat diuretika
selama pembedahan.
Jumlah urin yang keluar menggambarkan fungsi dan perfusi dari ginjal.
Semua ini adalah peunjuk keadaan fungsi ginjal, kardiovaskular dan volume
cairan. Urin yang keluar dianggap baik apabila volumenya lebih atau sama dengan
0,5 ml/kgBB/jam, dan bila kurang dari jumlah tersebut perlu mendaptkan
perhatian.

2.1.6 Monitoring Blokade Neuromuskular


Stimulasi saraf untuk mengetahui apakah relaksasi otot sudah cukup baik
atau sebaliknya setelah selesai anestesia apakah tonus otot sudah kembali normal.8

8
Ibid, Hlm. 130

15
2.2 Monitoring Alat dan Mesin Anestesi 9

1.Syarat-syarat mesin anestesi yang yang ideal :


a. Dapat menyalurkan gas anestetik dengan dosis tepat
b. Ruang (dead space) minimal
c. Mengeluarkan CO2 dengan efisien
d. Bertekanan rendah
e. Kelembaban terjaga dengan baik
f. Penggunaannya sangat mudah dan aman
2.Komponen dasar mesin anestetik terdiri dari:
a. Sumber O2, N2O, dan udara tekan
b. Alat pantau tekanan gas (pressure gauge)
c. Katup penurun tekanan gas (pressure reducing valve)
d. Meter aliran gas (flowmeter)
e. Satu atau lebih penguap cairan anestetik (vaporizer)
f. Lubang keluar campuran gas (common gas outlet)
g. Kendali O2 darurat (oxygen flush control)
a). Alat Penunjuk Aliran Gas (FLOWMETER)

9
Morgan, G. Edward Jr,. Maged, S. Mikhail, and Murray, Michael J,. 2006. Clinical
Anesthesiology, Fourth Edition. United States of America: Appleton & Lange. Hlm. 43

16
a. Berbentuk tabung gelas yang berskala dalam satuan liter atau ml/menit dan
didalamnya terdapat indicator pengukuran yang umumnya berbentuk bola
atau rotameter.
b. Dapat dibuka dengan cara memutar tombol pemutar kearah berlawanan
arah jarum jam
c. Gas anestesia dan oksigen yang telah keluar melewati aliran, selanjutnya
akan bercampur pada satu pipa aliran menuju alat penguap zat anestesi
cair.

4. Alat Penguap (Vaporizer)

a. Adalah salah satu komponen mesin anestesi yang berfungsi untuk


menguapkan zat enestesi cair yang mudah menguap.
b. Dilengkapi dengan angka petunjuk (dial) yang berfungsi untuk mengatur
besar kecilnya zat anestesi yang keluar.

5. Komponen Penghubung Mesin Anestesi-Pasien


a. Konektor
Alat ini menghubungkan mesin anestesi dengan sungkup muka atau pipa
endotrakheal yang dipasang kedalam trachea pasien.
b. Sungkup Muka
Alat yang menyungkup muka pasien khusus pada daerah mulut dan hidung

17
Ukuran sesuai kelompok usia pasien.
Khusus untuk bayi dan anak yang berbentuk bulat dan transparan dengan
ukuran tersendiri disesuaikan dengan besarnya area mulut hidung.
c. Pipa Endotrakhea
Pipa yang dipasang kedalam trachea melalui mulut atau hidung.
Pemasangannya dibantu dengan laringoskop
Mesin anestesi sebelum digunakan harus diperiksa apakah berfungsi
baik atau tidak.
Periksa mesin dan peralatan kaitannya secara visual apakah ada
kerusakan atau tidak, apakah rangkaian sambungannya sudah benar.
Periksa alat penguap (vaporizer) apakah sudah terisi obat dan
penutupnya tidak longgar atau bocor.
Periksa apakah sambungan silinder gas atau pipa gas kemesin sudah
benar.
Periksa meter aliran gas (flowmeter) apakah berfungsi baik.
Periksa aliran gas O2 dan N2O

2.3. Monitoring Obat-obat Anastesi


Berdasarkan cara penggunaanya, obat anestesi dapat dibagi dalam sepuluh
kelompok, yakni :
1. Anastetika Inhalasi : halotan, enfluran, isofluran, scuofluran. Obat obat
ini diberikan sebagai uap melalui saluran nafas. Keuntungannya adalah
resepsi yang cepatmelalui paru paru seperti juga ekskresinya melalui
gelembung paru (alveoli) yang biasanya dalam keadaan utuh. Obat ini
terutama digunakan untuk memelihara anastesi.
2. Anastetika Intravena : thiopental, diazepam dan midazolam, ketamin, dan
propofol. Obat obat ini juga dapat diberikan dalam sediaan suppositoria
secara rectal, tetapi resorpsinya kurang teratur. Terutama digunakan untuk
mendahului (induksi) anastesi total, ataumemeliharanya, juga sebagai
anastesi pada pembedahan singkat.

18
3. Anestetika Intramuskular : sangat populer dalam praktek anestesi, karena
teknis mudah,relatif aman karena kadar plasma tidak mendadak tinggi.
Keburukannya ialah absorpsikadang diluar perkiraan, menimbulkan nyeri
dibenci anak-anak, dan beberapa bersifatiritan.
4. Spinal : dimasukkan kedalam ruang subarakhnoid (intratekal) seperti pada
bupivacaine.
5. Lidah dan mukosa pipi : absorpsi lewat lidah dan mukosa pipi dapat
menghindari efek sirkulasi portal, bersifat larut lemak, contohnya fentanil
lolipop untuk anak dan buprenorfin.
6. Rektal : sering diberikan pada anak yang sulit secara oral dan takut
disuntik.
7. Transdermal : contoh krem EMLA (eutectic mixture of local anesthetic),
campuranlidokain-prokain masing-masing 2,5%. Krem ini dioleskan ke
kulit intakdan setelah 1-2 jam baru dilakukan tusuk jarum atau tindakan
lain.
8. Epidural: dimasukkan kedalam ruang epidural yaitu antara duramater dan
ligamentumflavum. Cara ini banyak pada anestesia regional.
9. Oral : paling mudah, tidak nyeri, dapat diandalkan. Kadang harus
diberikan obat peri-anestesia, seperti obat anti hipertensi, obat penurun
gula darah, dan sebagainya. Sebagian besar diabsorpsi usus halus bagian
atas. Beberapa obat dihancurkan asam lambung.Pengosongan lambung
yang terlambat menyebabkan terkumpulnya obat di lambung.Sebelum obat
masuk sistemik, harus melewati sirkulasi portal. Maka dosis oral harus
lebih besar dari intramuskular, contohnya petidin, dopamin, isoprenalin,
dan propanolol.

2.3.1 Obat-Obatan Anestesi Umum:


1. Sulfas Atropin
2. Pethidin
3. Propofol/ Recofol
4. Succinil Cholin

19
5. Tramus
6. Efedrin

2.3.2 Obat untuk Anestesi Spinal:


1. Buvanest atau Bunascan
2. Catapress (kadang dokter tertentu menambahkannya untuk menambah
efek buvanest)

2.3.3 Obat-Obatan Emergency yang Harus ada dalam Kotak Emergency:


1. Atropin
2. Efedrin
3. Ranitidin
4. Ketorolac
5. Metoklorpamid
6. Aminofilin
7. Asam Traneksamat
8. Adrenalin
9. Kalmethason
10. Furosemid (harus ada untuk pasien urologi)
11. Lidocain
12. Lentamicyn salep mata
13. Oxitocyn (untuk pasien obsgyn)
14. Methergin (untuk pasien obsgyn)
15. Adrenalin

2.3.4 Obat - Obat Anestesi:


1. Fentanil (obat Analgetik)
Kemasaan : suntikan 50 g / ml
Dosis : 1-3 g / kgBB
Onset of action : IV 5-15 menit
Duration of Action IV 30-60 menit

20
Awitan Action : IV 30 detik
Eliminasi : hati
Efek Samping : hipotensi, bradikardi, apnea, pusing, penglihatan
kabur, kejang.
2. Ketamin (obat nalgetik)
Kemasaan : suntikan 10 mg / ml , 50 mg /ml, 100 mg/ml
Dosis : 0,5 mg-1 / kgBB
Onset of action : IV 1 menit
Duration of Action : IV 5 15 m3nit
Awitan Action : IV <30 detik
Eliminasi : hati
Efek Samping : hipertensi, takikardia, hipotensi, aritmia,
bradikardi
3. Petidin (obat Analgetik)
Kemasaan : suntikan 10 mg / ml
Dosis : 0,5-2 mg / kgBB
Onset of action : IV 5-20 menit
Duration of Action : IV 2-4 jam
Awitan Action : IV <1menit
Eliminasi : hati
Efek Samping : hipotensi, henti jantung, depresi pernafasan
4. Propofol (obat hipnotik sedative)
Kemasaan : Suntikan 10 mg/ml
Dosis : 1-2 mg / kgBB
Onset of action : IV 1 menit
Duration of Action : IV 5-10 menit
Awitan Action : IV 40 detik
Eliminasi : hati , ekstrahepatik (paru)
Efek Samping :hipotensi, aritmia, takikardia, bradikardi, apnea,
sakit kepala, pusing, mual,muntah.
5. Rocuronium bromide (obat muscle relaxan)

21
Kemasaan : suntikan 10 mg / ml
Dosis : 0,6-1,2 mg / kgBB
Onset of action : IV 1-3 menit
Duration of Action : IV 15-150 menit
Awitan Action : IV 45-90 detik
Eliminasi : ginjal, hati
Efek Samping : takikardia, aritmia, apnea, bronkospasme
6. Efedrin (bronkodilator, vasopresor)
Kemasaan : suntikan 25 mg / ml , 50 mg/ ml
Dosis : 5-20 mg / kgBB
Onset of action : IV 2-5 menit
Duration of Action : IV 10-60 menit
Awitan Action : IV hamper langsung
Eliminasi : ginjal, hati
Efek Samping : hipertensi, takikardia, aritmia,
7. Midazolam (obat premedikasi, sedasi sadar)
Kemasaan : suntikan 1mg / ml, 5 mg/ml
Dosis : 0,5-5 mg / kgBB
Onset of action : IV 3-5 menit
Duration of Action : IV 15-150 menit
Awitan Action : IV 15-80 menit
Eliminasi : ginjal
Efek Samping : takikardia, aritmia, apnea, bronkospasme
8. Ketorolak (obat Analgetik)
Kemasaan : suntikan 15 mg / ml , 30 mg/ml
Dosis : 0,5-1 mg / kgBB
Onset of action : IV 1-3 jam
Duration of Action : IV 3-7 jam
Awitan Action : < 1 menit
Eliminasi : ginjal, hati
Efek Samping : dispnea, asma, pusing, sakit kepala.

22
9. Lidokain
Kemasaan : suntikan 10 mg / ml
Dosis : 0,5-2 mg / kgBB
Onset of action : IV 1-2 menit
Duration of Action : IV 10-20 menit
Awitan Action : IV 45-90 detik
Eliminasi : hati , paru
Efek Samping : hipotensi, bradikardi, aritmia, depresi pernafasan
10. Deksamethasone
Kemasaan : suntikan 4 mg / ml
Dosis :0
Onset of action : IV 12-24 jam
Duration of Action : IV 36-54 jam
Awitan Action : IV beberapa menit
Eliminasi : ginjal, hati
Efek Samping : takikardia, aritmia, apnea, bronkospasme. 10

Memeriksa apakah semua obat-obat anestesi sudah lengkap untuk


diberikan sebelum, saat, dan setelah operasi dilaksanakan.

Memberikan Label pada spuit agar obat yang diberikan tidak tertukar.

Menentukan jumlah dosis obat anestesi, durasi of action, onset of action,


efek samping, kontra indikasi, indikasi obat, dll dengan benar yang akan
diberikan kepada pasien.

Memeriksa apakah cairan yang diberikan sudah cukup untuk pasien,


lancar.

4.1. Monitoring Lingkungan


Memeriksa banyaknya perdarahan.
Dalam tindakan pembedahan besar, kehilangan darah menjadi masalah
yang penting. Selama tindakan anestesi dan pembedahan, kita harus
menghitung jumlah perdarahan, baik itu dari tabung suction, dari kasa
10 Omoigui, Sota. 2012. Obat-Obatan Anestesi Edisi II. Jakarta : EGC

23
operasi yang mengandung darah, dari kain penutup pasien, dari baju ahli
bedah, maupun dari darah yang mungkin ada di lantai. Pada anak-anak
atau bayi, jumlah perdarahan sedikit sudah dapat mengakibatkan anemia.
Memeriksa meja operasi apakah berfungsi dengan baik.
Memeriksa kesiapan apakah pasien membutuhkan pemasangan NGT
atau tidak.

4.2. Monitoring Keamanan Diri Sendiri (Dokter)


Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti handskun, masker,
pakaian steril, alas kaki steril, penutup kepala steril, dll.
Bekerja sesuai tata cara dan prosedur tindakan berdasarkan ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki agar tidak terjadi
malpraktik selama melakukan tindakan sebelum, saat, dan setelah
operasi dilaksanakan.

24
BAB III

KESIMPULAN

Monitoring anestesi adalah segala usaha untuk memperhatikan,


mengawasi dan memeriksa pasien dalam anestesi untuk mengetahui keadaan dan
reaksi fisiologis pasien terhadap tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan utama
monitoring anestesi adalah diagnosa adanya permasalahan, perkiraan
kemungkinan terjadinya kegawatan, dan evaluasi hasil suatu tindakan, termasuk
efektivitas dan adanya efek tambahan.
Ahli anestesi harus hadir di ruangan operasi selama dilakukannya operasi
pada anestesi umum dan regional untuk melakukan pengawasan selama prosedur
operasi, dikarenakan perubahan status pasien yang dapat berubah dengan cepat.
Monitoring anestesi terdiri dari monitoring pasien, monitoring alat-alat
anestesi, monitoring obat-obat anestesi, monitoring lingkungan anestesi, dan
monitoring keamanan diri sendiri (dokter).
Selama prosedur anesteasi berlangsung, harus terus dipantau hal-hal
berikut:
1. Monitoring Sistem Kardiovaskuler: nadi, tekanan darah,
elektrokardiografi, dan banyaknya Perdarahan.
2. Monitoring Respirasi: Dengan inspeksi kita dapat mengawasi pasien
secara langsung gerakan dada-perut baik pada saat bernapas spontan atau
dengan napas kendali dan gerakan kantong cadang apakah sinkron. Untuk
oksigenasi warna mukosa bibir, kuku pada ujung jari dan darah pada luka
bedah apakah pucat, kebiruan, atau merah muda.Perlu juga dilakukan
pemeriksaan ventilasi dengan menggunakan alat bantu seperti stetoskop,
oksimeter denyut, dan kapnometer.
3. Monitoring Suhu Tubuh: dilalukan untuk memantau bila terjadi hipotermi
atau hipertermi
4. Monitoring Ginjal: jumlah urin yang keluar menggambarkan fungsi dan
perfusi dari ginjal. Semua ini adalah peunjuk keadaan fungsi ginjal,
kardiovaskular dan volume cairan. Urin yang keluar dianggap baik apabila

25
volumenya lebih atau sama dengan 0,5 ml/kgBB/jam, dan bila kurang dari
jumlah tersebut perlu mendaptkan perhatian.
5. Monitoring Blokade Neuromuskular: stimulasi saraf untuk mengetahui
apakah relaksasi otot sudah cukup baik atau sebaliknya setelah selesai
anestesia apakah tonus otot sudah kembali normal.
6. Monitoring Sistem Saraf: pada pasien sehat sadar, oksigenasi pada otaknya
adekuat kalau orientasi terhadap personal, waktu dan tempat baik. Pada
saat pasien dalam keadaan tidak sadar, monitoring terhadap SSP
dikerjakan dengan memeriksa respons pupil terhadap cahaya, respon
terhadap trauma pembedahan, respons terhadap otot apakah relaksasi
cukup atau tidak.
7. Monitoring dilakukan sebelum, saat operasi, dan setelah operasi. Tujuan
dari monitoring anestesi adalah untuk mendiagnosa adanya permasalahan,
memperkirakan terjadinya kegawatan, dan e%aluasi hasil suatu tindakan
termasuk efekti%itas dan adanya efek tambahan

26
REFERENSI
1. Committee of Origin: Standards and Practice Parameters. 2011. Standards
For Basic Anesthetic Monitoring.
2. Miller, Ronald D. 2005. Millers Anesthesia, 7th edition. United States of
America: Elsevier
3. Morgan, G. Edward Jr,. Maged, S. Mikhail, and Murray, Michael J,. 2006.
Clinical Anesthesiology, Fourth Edition. United States of America:
Appleton & Lange.
4. Omoigui, Sota. 2012. Obat-Obatan Anestesi Edisi II. Jakarta : EGC
5. The Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland. 2007.
Recommendations For Standards Of Monitoring During Anaesthesia And
Recovery.

27