Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cairan tubuh didistribusikan ke dalam 2 kompartemen utama,yaitu
kompartemen intraselular dan ekstraseluler serta 1 kompartemen tambahan
yaitu kompartemen transelular. Cairan dapat berpindah-pindah secara bebas
sampai terjadi keseimbangan sehingga konsentrasi zat-za tterlarut dalam nilai
osomalaritas di kedua kompartemen utama dipertahankan sama.1

Terapi cairan selama perioperatif meliputi cairan pada masa prabedah,


selama pembedahan dan pascabedah. Terapi cairan meliputi penggantian
kehilangan cairan, memenuhi kebutuhan air, elektrolit dan nutrisi untuk
membantu tubuh mendapatkan kembali keseimbangan normal dan pulihnya
perfusi ke jaringan, oksigenasi sel, dengan demikian akan mengurangi
iskemia jaringan dan kemungkinan kegagalan organ.2

Dalam pemberian cairan pada pasien perioperatif, harus diperhitungkan


kebutuhan cairan basal, penyakit yang menyertai, medikasi, teknik dan obat
anestetik serta kehilangan cairan akibat pembedahan. Penderita yang
menjalani pembedahan mengalami perubahan fisiologi tubuh, baik karena
penyakitnya sendiri atau akibat trauma pembedahan. Perubahan-perubahan
tersebut antara lain :

a. Peningkatan rangsang simpatis yang menimbulkan sekresi katekolamin


dan menyebabkan takikardi, konstriksi pembuluh darah, peningkatan kadar
gula darah.

b. Rangsangan terhadap kelenjar hipofisis

Bagian anterior : sekresi growth hormone yang mengakibatkan


kenaikan kadar gula darah, dan sekresi ACTH

1
Sherwood, lauralee.2011. Fisiologi manusia dari sel ke system. Jakarta:EGC
2
Suntoro, A, Terapi Cairan Perioperatif , dalam Muhiman, M. dkk.,Anestesiologi, CV.
Infomedika, Jakarta

1
Bagian posterior : sekresi ADH yang mengakibatkan retensi air
(Syndrome Inappropriate of ADH secretion)
c. Peningkatan sekresi aldosteron akibat stimulasi ACTH dan berkurangnya
volume ekstra sel.
d.Peningkatan kebutuhan oksigen dan kalori karena peningkatan
metabolism3
Mengingat pentingnya perhitungan cairan selama perioperatif, maka dari itu
penulis tertarik untuk mengambil judul makalah cairan tubuh dan terapi cairan
selama perioperatif.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari makalah ini, antara lain :
1. Bagaimana komposisi normal cairan tubuh manusia?
2. Bagaimana perhitungan terapi cairan yang dibutuhkan selama
perioperatif?

1.3 Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui komposisi cairan


tubuh manusia dan perhitungan terapi cairan yang dibutuhkan selama
perioperatif, meliputi: cairan pada masa prabedah, selama pembedahan dan
pascabedah.

3
Latief, Said A, dkk. 2001. Anestesiologi Ed. 2.Jakarta: FKUI

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cairan Tubuh Manusia

Di dalam tubuh manusia, cairan akan terdistridusi ke dalam 2


kompartemen utama yaitu cairan intraselular (ICF) dan cairan ekstrasellular
(ECF). Cairan intraselular adalah cairan yang terdapat di dalam sel sedangkan
cairan ekstraselular adalah cairan yang terdapat di luar sel. Kedua
kompartemen ini dipisahkan oleh sel membran yang memiliki permeabilitas
tertentu. Hampir 67% dari total bodys water tubuh manusia terdapat di dalam
cairan intrasellular dan 33% sisanya akan berada pada cairan ekstraselular.1
Air yang berada di dalam cairan ekstrasellular ini kemudian akan
terdistribusi kembali kedalam 2 Sub-Kompartemen yaitu pada cairan
interstisial (ISF) dan cairan intravaskular (plasma darah). 75% dari air pada
kompartemen cairan ekstraselular ini akan terdapat pada sela-sela sel (cairan
interstisial) dan 25%-nya akan berada pada plasma darah (cairan intravaskular).
Pendistribusian air di dalam 2 kompartemen utama (Cairan Intrasellular dan
Cairan Ekstrasellular) ini sangat bergantung pada jumlah elektrolit dan
makromolekul yang terdapat dalam kedua kompartemen tersebut. Karena sel
membran yang memisahkan kedua kompartemen ini memiliki permeabilitas
yang berbeda untuk tiap zat, maka konsentrasi larutan (osmolality) pada kedua
kompartemen juga akan berbeda.1

2.1.1 Proporsi dari Cairan Tubuh


Persentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan
tergantung beberapa hal antara lain :
a.Umur
b.Kondisi lemak tubuh
c.Sex
Presentase cairan berdasarkan umur:
1. Bayi (baru lahir) 75 %
2. Dewasa :

3
a.Pria (20-40 tahun) 60 %
b.Wanita (20-40 tahun) 50 %
3. Usia Lanjut 45-50 %
Pada orang dewasa kira-kira 40 % berat badannya atau 2/3 dari TBW-nya
berada di dalam sel (cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 1/3 dari TBW atau
20 % dari berat badannya berada di luar sel (ekstraseluler) yanng terbagi dalam
15 % cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler.3

2.1.2 Kebutuhan Cairan


Kebutuhan air pada orang dewasa setiap harinya adalah 30-35
ml/kgBB/24jam
Kebutuhan ini meningkat sebanyak 10-15 % tiap kenaikan suhu 1 C
Kebutuhan elektrolit Na 1-2 meq/kgBB (100meq/hari atau 5,9 gram)
Kebutuhan elektrolit K 1 meq/kgBB (60meq/hari atau 4,5 gram)2

Kebutuhan Harian Bayi Dan Anak


Berat badan Kebutuhan air (perhari)
s/d 10 kg 100 ml/kgBB
11-20 kg 1000 ml + 50 ml/kgBB (untuk tiap kg di atas 10 kg)
> 20 kg 1500 ml + 20 ml/kgBB (untuk tiap kg di atas 20 kg)

2.1.3 Intake Cairan :


Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum
kira-kira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500
ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari
makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.2

2.1.4 Output Cairan :


Kehilangan caiaran tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
a.Urin:
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius
merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal
output urine sekitar 1400 -1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam.

4
b.IWL (Insesible Water Loss) :
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme
difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini
adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu
tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat.

c.Keringat :
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas,
respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer
melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf
simpatis pada kulit.

d.Feces :
Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang
diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa kolon.2

Dengan demikian, keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran air


adalah sebagai berikut:
Air masuk
Minuman : 800-1700 ml
Makanan : 500-1000 ml
Hasil oksidasi : 200-300 ml

Air keluar
Urine : 1400-1500 ml
Tinja : 100-200 ml
IWL : 300-400 m

2.2 Evaluasi Volume Intravaskular


Evaluasi volume intravascular dapat diketahui dari pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium dan penilaian hemodinamik pasien. 4

4
Morgan, G. Edward Jr,. Maged, S. Mikhail, and Murray,Michael J,. 2006. Clinical
Anesthesiology, Fourth Edition. United States of America: Appleton & Lange.

5
a. Pemeriksaan fisik
Petunjuk terpenting kondisi hipovolemia meliputi turgor kulit, hidrasi
selaput lendir, volume darah saat pulsasi perifer, denyut jantung istirahat,
tekanan darah dan (ortostatik) perubahan dari telentang ke posisi duduk atau
berdiri, serta laju aliran kemih. Sayangnya, banyak obat yang digunakan
selama anestesi, serta efek fisiologis dari stres bedah, mengubah tanda-tanda
ini dan membuat pemeriksaan fisik tidak dapat diandalkan segera pada periode
pasca operasi. Selama Intraoperatif pemeriksaan fisik keadaan hipovolemia
yang paling sering digunakan adalah kepenuhan pulsasi perifer (radial atau
dorsalis pedis), laju aliran kemih, dan tanda-tanda tidak langsung, seperti
respon tekanan darah terhadap ventilasi tekanan positif dan vasodilatasi atau
efek inotropik negatif dari anestesi.

Tabel 2.1 Tanda hipovolemia

Pitting edema presacral pada pasien terbaring di tempat tidur atau pretibial
dan peningkatan aliran kemih rawat jalan adalah tanda-tanda hypervolemia
pada pasien dengan fungsi jantung , hati , dan ginjal yang normal. Tanda-tanda

6
Akhir hypervolemia termasuk takikardia, crackles paru, mengi, sianosis,
sekresi paru berbusa .

b. Evaluasi laboratorium
Beberapa pengukuran laboratorium dapat digunakan sebagai pengganti
volume intravaskular dan kecukupan perfusi jaringan . Pengukuran ini meliputi
hematokrit serial, pH darah arteri, osmolalitas tertentu , natrium urin atau
konsentrasi klorida , natrium serum , dan kreatinin serum untuk rasio nitrogen
urea darah (BUN). Pengukuran ini merupakan indeks tidak langsung dari
evaluasi volume intravaskular dan sering tidak dapat diandalkan selama
intraoperatif, sebab evaluasi laboratorium dipengaruhi oleh banyak variabel
lain dan hasilnya sering tertunda. Tanda-tanda dehidrasi meliputi Laboratorium
hematokrit meningkat, asidosis metabolik yang progresif, berat jenis urin lebih
besar dari 1.010, natrium urin kurang dari 10 mEq / L , osmolalitas urin lebih
besar dari 450 mOsm / kg, hipernatremia, dan rasio BUN -kreatinin lebih besar
dari 10:1.

c. Pengukuran hemodinamik
Pemantauan tekanan vena sentral diindikasikan pada pasien dengan fungsi
jantung dan paru normal bila status volume sulit untuk dinilai dengan cara lain
atau ketika terjadi perubahan cepat. Pembacaan tekanan vena central harus
ditafsirkan dalam pandangan pengaturan klinis. Nilai-nilai rendah (< 5 mm Hg)
mungkin normal kecuali yang terkait dengan tanda-tanda lain dari hipovolemia.
Selain itu, respon terhadap bolus cairan (250 mL) adalah sama pentingnya :
elevasi kecil ( 1-2 mm Hg ) mungkin menunjukkan perlunya lebih banyak
cairan, sedangkan peningkatan besar ( > 5 mm Hg ) menunjukkan kebutuhan
cairan yang lebih lambat dan perlu dilakukan evaluasi ulang status volume.
Pembacaan tekanan vena central lebih besar dari 12 mm Hg dianggap tinggi
dan menyiratkan hypervolemia tanpa adanya disfungsi ventrikel kanan,
peningkatan tekanan intratoraks, atau penyakit perikardial.
Pemantauan tekanan arteri pulmonalis diperlukan jika tekanan vena
sentral tidak berkorelasi dengan penilaian klinis atau jika pasien memiliki
disfungsi ventrikel kanan primer atau sekunder; yang terakhir ini biasanya
karena penyakit paru atau ventrikel kiri. Pembacaan tekanan oklusi arteri

7
pulmonalis (PAOP) kurang dari 8 mm Hg menunjukkan hipovolemia dengan
adanya tanda-tanda klinis. Namun , nilai-nilai kurang dari 15 mm Hg mungkin
berhubungan dengan hipovolemia relatif pada pasien dengan keadaan ventrikel
yang buruk. Pengukuran PAOP lebih besar dari 18 mm Hg, umumnya
menyiratkan volume overload pada ventrikel kiri. Adanya penyakit katup
mitral (khususnya stenosis), stenosis aorta berat, atau miksoma atrium kiri atau
trombus mengubah hubungan normal antara PAOP dan ventrikel kiri volume
akhir diastolik.

2.3 Cairan Intravena


Kontroversi sering terjadi mengenai penggunaan koloid dibandingkan
cairan kristaloid untuk pasien bedah. Para pendukung koloid berpendapat
bahwa dengan menjaga tekanan onkotik plasma, koloid lebih efektif dalam
mengembalikan volume intravaskular normal dan curah jantung. Pendukung
kristaloid , di sisi lain , berpendapat bahwa solusi kristaloid sama-sama efektif
bila diberikan dalam jumlah yang cukup. Kekhawatiran bahwa koloid dapat
meningkatkan pembentukan cairan edema paru pada pasien dengan
peningkatan permeabilitas kapiler paru tampaknya tidak berdasar, karena pada
paru, tekanan onkotik interstitial paralel dengan plasma. Beberapa generalisasi
dapat dibuat:
1. Kristaloid, jika diberikan dalam jumlah yang cukup, yang sama efektifnya
dengan koloid dalam mengembalikan volume intravaskular .
2. Mengganti defisit volume intravaskular dengan kristaloid biasanya
membutuhkan tiga sampai empat kali volume yang dibutuhkan saat
menggunakan koloid.
3. Kebanyakan pasien bedah memiliki defisit cairan ekstraselular yang
melebihi defisit intravascular.
4. Defisit cairan intravaskular yang parah dapat lebih cepat dikoreksi dengan
menggunakan larutan koloid.
5. Pemberian cepat dalam jumlah besar kristaloid ( > 4-5 L ) lebih sering
dikaitkan dengan edema jaringan yang signifikan .

8
Beberapa bukti menunjukkan - tetapi tidak membuktikan - yang ditandai
edema jaringan dapat mengganggu transportasi oksigen, penyembuhan
jaringan, dan kembalinya fungsi usus setelah operasi besar.4

2.3.1 Cairan Kristaloid


Kristaloid harus dianggap sebagai cairan resusitasi awal pada pasien
dengan perdarahan dan syok septik, pada pasien luka bakar, pada pasien
dengan cedera kepala untuk mempertahankan tekanan perfusi serebral, dan
pada pasien yang menjalani plasmapheresis dan reseksi hati. Jika 3-4 L
kristaloid telah diberikan, respon hemodinamik tidak memadai, koloid dapat
ditambahkan.
Karena sebagian besar kehilangan cairan intraoperatif merupakan cairan
isotonik, maka cairan yang paling umum digunakan adalah larutan Ringer
laktat. Meskipun sedikit hipotonik, RL menyediakan sekitar 100 mL air per
liter dan cenderung untuk menurunkan natrium serum 130 mEq/L, RL
umumnya memiliki efek pada komposisi cairan ekstraselular dan tampaknya
menjadi solusi yang paling fisiologis ketika volume besar diperlukan. Laktat
dalam larutan ini diubah oleh hati menjadi bikarbonat. Ketika diberikan
dalam volume besar, normal saline menghasilkan asidosis hiperkloremik
pengenceran karena natrium yang tinggi dan kandungan klorida ( 154 mEq /
L) konsentrasi bikarbonat plasma menurun dengan meningkatnya konsentrasi
klorida. Normal saline adalah solusi pilihan untuk alkalosis metabolik
hipokloremik. Lima persen dekstrosa dalam air ( D5W ) digunakan untuk
penggantian defisit air murni dan sebagai cairan pemeliharaan untuk pasien
pada pembatasan natrium. Hipertonik 3 % saline digunakan dalam terapi
hiponatremia gejala yang parah. Tiga sampai 7,5 % larutan saline telah
dianjurkan untuk resusitasi pasien dalam syok hipovolemik . Solusi ini harus
diberikan perlahan-lahan (sebaiknya melalui kateter vena sentral) karena
mereka mudah menyebabkan hemolisis.4

2.3.2 Cairan Koloid


Sifat osmotik zat dengan berat molekul tinggi dalam koloid cenderung
mempertahankan cairan ini di dalam intravaskular. Meskipun waktu paruh

9
cairan kristaloid di dalam intravaskular adalah 20-30 menit, cairan yang
paling koloid memiliki waktu paruh intravaskular antara 3 dan 6 jam. Indikasi
yang berlaku umum untuk koloid meliputi:
1. Resusitasi cairan pada pasien dengan defisit cairan intravaskular yang
parah ( misalnya, syok hemoragik ) sebelum kedatangan darah untuk
transfusi
2. Resusitasi cairan dengan adanya hipoalbuminemia atau kondisi berat
yang berhubungan dengan besar kerugian protein seperti luka bakar.
Pada pasien luka bakar koloid juga harus dipertimbangkan jika cedera
melibatkan lebih dari 30 % dari luas permukaan tubuh atau jika lebih dari
3-4 L kristaloid telah diberikan 18-24 jam postinjury

Banyak dokter menggunakan larutan koloid dalam hubungannya dengan


kristaloid ketika kebutuhan penggantian cairan melebihi 3-4 L sebelum
transfusi . Perlu dicatat bahwa solusi ini disusun normal saline (Cl: 145-154
mEq / L) dan juga dapat menyebabkan asidosis metabolik hiperkloremik.
Hetastarch ( HES ) tersedia sebagai solusi 6 % dengan berat molekul
rata-rata 450.000. Molekul kecil dieliminasi oleh ginjal, sedangkan molekul
besar harus menjadi yang pertama diuraikan oleh amilase . Hetastarch sangat
efektif sebagai plasma expander dan lebih murah daripada albumin . Selain
itu, hetastarch adalah nonantigenic, dan reaksi anafilaktoid jarang terjadi .
Pemeriksaan koagulasi dan waktu perdarahan umumnya tidak terpengaruh
secara signifikan setelah infus hingga 0,5-1,0 L.4

2.4 Terapi Cairan Perioperatif 2


2.4.1 Preoperatif
Pasien normohidrasi
pengganti puasa (DP): 2 ml/kgBB/jam puasa
(bedakan dengan kebutuhan cairan per hari (30-35ml/kg/hari))
cairan yang digunakan : kristaloid
pemberian dibagi dalam 3 jam selama anestesi :
50 % dalam 1 jam pertama
25 % dalam 1 jam kedua

10
25 % dalam 1 jam ketiga

2.4.2 Durante operasi


Stress operasi:
operasi ringan : 4 ml/kgBB/jam
operasi sedang : 6 ml/kgBB/jam
operasi berat : 8 ml/kgBB/jam

Jenis pembedahan (menurut MK Sykes)


a. Pembedahan kecil / ringan
Pembedahan rutin kurang dari 30 menit.
Pemberian anestesi dapat dengan masker.
b. Pembedahan sedang.
Pembedahan rutin pada pasien yang sehat.
Pemberian anestesi dengan pipa endotracheal.
Lama operasi kurang dari 3 jam.
Jumlah perdarahan kurang dari 10% EBV
c. Pembedahan besar.
Pembedahan yang lebih dari 3 jam.
Perdarahan lebih dari 10% EBV
Pembedahan di daerah saraf pusat, laparatomi, paru dan
kardiovaskuler

Perdarahan :
hitung EBV
Wanita dewasa = BB x 65 ml/kgBB
Laki-laki dewasa = BB x 70 ml/kgBB
Anak = BB x 80 ml/kgBB
jika perdarahan
10% EBV : berikan kristaloid substitusi dengan
perbandingan 1 : 2-4ml cairan
10% kedua : berikan koloid 1 : 1 ml cairan
> 20 % EBV : berikan darah 1 : 1 ml darah

11
Contoh :
Pria BB 50 kg
EBV 50 X 70 ml = 3500 ml
maka jika perdarahan 800 ml digantikan dengan
10% pertama (350 ml) kristaloid 700-1400 ml
10% kedua (350 ml) koloid 350 ml
100 ml darah 100 ml

Pada anak dan bayi


Pemeliharaan:
10 kg pertama 4 ml/kgBB/jam
10 kg kedua 2 ml/kgBB/jam
Kg selanjutnya 1 ml/kgBB/jam
(bedakan dengan kebutuhan per hari)
Defisit puasa (DP): cairan pemeliharaan x jam puasa
Stress operasi :
Ringan : 2 ml/kgBB/jam
Sedang : 4 ml/kgBB/jam
Berat : 6 ml/kgBB/jam

Penggantian Cairan Selama Puasa

50 % selama jam I operasi


25 % selama jam II operasi
25 % selama jam III operasi

Blood loss
Metode yang paling umum digunakan untuk memperkirakan
kehilangan darah adalah pengukuran darah dalam tabung suction dan
visual memperkirakan darah pada spons bedah dan bantalan laparotomi
("lap"). Sebuah spons sepenuhnya direndam (4x4) diperkirakan menahan
10 mL darah, sedangkan "lap" menahan 100-150 mL. Perkiraan yang
lebih akurat diperoleh jika spons dan "lap" ditimbang sebelum dan

12
setelah digunakan (terutama selama prosedur pediatrik). Hematokrit
serial atau konsentrasi hemoglobin mencerminkan rasio sel darah dengan
plasma.5

Kehilangan Cairan Lainnya


Kehilangan cairan selain darah selama prosedur pembedahan
terutama karena penguapan dan redistribusi internal cairan tubuh.
Kehilangan cairan dari evaporasi luka besar berbanding lurus dengan luas
permukaan yang terekspos serta durasi prosedur bedah. Trauma, radang,
atau infeksi jaringan (seperti yang terjadi dengan luka bakar, luka yang
luas, pembedahan bedah, atau peritonitis) dapat menyerap sejumlah besar
cairan dalam ruang interstitial dan dapat mentranslokasi cairan di
permukaan serosa ( ascites ) atau ke lumen usus. Kehilangan cairan yang
signifikan dari cairan limfatik mungkin terjadi selama pembedahan
retroperitoneal luas.
Idealnya, kehilangan darah harus diganti dengan larutan kristaloid
atau koloid untuk mempertahankan volume intravaskular
(normovolemia) sampai bahaya anemia melebihi risiko transfusi. Pada
saat itu , kehilangan darah lebih lanjut diganti dengan transfusi sel darah
merah untuk mempertahankan konsentrasi hemoglobin (atau hematokrit)
di tingkat itu . Bagi sebagian besar pasien , titik yang sesuai dengan
hemoglobin antara 7 dan 8 g / dL ( atau hematokrit 21-24 % ) .
Dalam prakteknya , kebanyakan dokter memberikan solusi laktat
Ringer di sekitar tiga sampai empat kali volume darah yang hilang , atau
koloid dalam rasio 1:1 , sampai titik transfusi tercapai . Pada saat itu ,
darah diganti satuan unit seperti yang hilang , dengan dibentuk kembali
dikemas sel darah merah. Titik transfusi dapat ditentukan sebelum
operasi dari hematokrit dan dengan memperkirakan volume darah. Pasien
dengan hematokrit yang normal umumnya harus ditransfusi hanya
setelah kehilangan cairan yang lebih besar dari 10-20 % dari volume

5
Collins, VI.1996.Fluids and Electrolytes in Physicologic and Pharmachologic Bases of
Anesthesia. Williams & Wilkins, USA, p : 165-187.

13
darah mereka . Titik yang tepat didasarkan pada kondisi medis pasien
dan prosedur bedah.4

2.4.3 Pasca operasi


Terapi cairan pasca bedah ditujukan untuk :
a. Memenuhi kebutuhan air, elektrolit, nutrisi
b. Mengganti kehilangan cairan pada masa paska bedah (cairan lambung,
febris)
c. Melanjutkan penggantian defisit pre operatif dan durante operatif
d. Koreksi gangguan keseimbangan karena terapi cairan

Pada penderita pasca operasi nutrisi diberikan bertahap (start low go


slow). Penderita pasca operasi yang tidak mendapat nutrisi sama sekali
akan kehilangan protein 75-125 gr/hari Hipoalbuminemia edema
jaringan, infeksi, dehisensi luka operasi, penurunan enzym pencernaan2

14
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
1. Jumlah cairan dalam tubuh manusia dewasa sekitar 60% dari total berat
badannya, yang terdiri dari 40% cairan intraseluler, 20% Cairan
ekstraseluler ( 5% cairan intravaskuler, 15 % cairan ekstraseluler).
2. Terapi cairan selama perioperatif terdiri dari cairan preoperative, cairan
durante operatif, dan cairan postoperatif.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Sherwood, lauralee.2011. Fisiologi manusia dari sel ke system. Jakarta:EGC


2. Suntoro, A, Terapi Cairan Perioperatif , dalam Muhiman, M.
dkk.,Anestesiologi, CV. Infomedika, Jakarta
3. Latief, Said A, dkk. 2001. Anestesiologi Ed. 2.Jakarta: FKUI
4. Morgan, G. Edward Jr,. Maged, S. Mikhail, and Murray,Michael J,. 2006.
Clinical Anesthesiology, Fourth Edition. United States of America: Appleton
& Lange.
5. Collins, VI.1996.Fluids and Electrolytes in Physicologic and Pharmachologic
Bases of Anesthesia. Williams & Wilkins, USA, p : 165-187.

16