Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis peritoneal merupakan suatu peradangan peritoneum


parietal atau visceral yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium
tuberculosis. Penyakit ini sering mengenai seluruh peritoneum, alat-alat
sistem gastrointestinal, mesenterium dan organ genetalia interna (1,2).

Penyakit ini jarang berdiri sendiri, biasanya merupakan kelanjutan proses


tuberkulosis di tempat lain terutama dari paru, namun sering ditemukan
bahwa pada waktu diagnosa ditegakkan, proses tuberkulosisi di paru
sudah tidak terlihat lagi. Hal ini bisa terjadi karena proses tuberkulosis di
paru mungkin sudah menyembuh terlebih dahulu sedangkan
penyebarannya masih berlangsung di tempat lain (1,2).

Di negara yang sedang berkembang tuberkulosis peritoneal masih


sering dijumpai termasuk di Indonesia, sedangkan di Amerika dan negara
barat lainnya walaupun sudah jarang tetapi ada kecendrungan meningkat
dengan meningkatnya jumlah penderita AIDS dan imigran. Karena
perjalanan penyakitnya yang berlangsung secara perlahan-lahan dan
sering tanpa keluhan atau gejala yang jelas maka penyakit ini sering tidak
terdiagnosa atau terlambat ditegakkan (1,2). Tidak jarang penyakit ini
mempunyai keluhan menyerupai penyakit lain seperti sirosis hati atau
neoplasma dengan gejala asites yang tidak terlalu menonjol (1,2),

contohnya di Bangladesh pernah didapatkan suatu kasus pada seorang


wanita dengan diagnosa Tuberkulosis peritoneal yang disertai dengan
peningkatan kadar serum CA 125 (tumor marker untuk Ca Ovarium)
sebesar 592.1 U/mL (kadar normal <8.0 U/mL), tetapi setelah diobati
dengan OAT kadar serum CA 125 tersebut perlahan-lahan menurun ke
nilai normalnya (3).
2

BAB II

PERITONITIS

II.I Definisi

Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan


pembungkus visera dalam rongga perut.

Peritonitis adalah suatu respon inflamasi atau supuratif dari peritoneum


yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri.

Gambar 1. Peritonitis (4).

II.II Klasifikasi

Peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Peritonitis bakterial primer


3

Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara


hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus
infeksi dalam abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial,
biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus. Peritonitis
bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Spesifik : misalnya Tuberculosis.


b. Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an
Tonsilitis.
2. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa)

Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi


tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umumnya
organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal.
Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya
infeksi ini.

Bakteri anaerob, khususnya spesies Bacteroides, dapat


memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi.
Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat
memperberat suatu peritonitis.

3. Peritonitis tersier, misalnya:


a. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur
b. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan.

Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung,


sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan
urine.

4. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis:


a. Aseptik/steril peritonitis
b. Granulomatous peritonitis
4

c. Hiperlipidemik peritonitis
d. Talkum peritonitis

II.III Gambaran Klinis

Gambaran klinis yang terjadi ditandai adanya nyeri abdomen (akut


abdomen) dengan nyeri tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya
(peritoneum viseral) kemudian lama kelamaan makin jelas lokasinya
(peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis umumnya hampir sama
dengan infeksi berat lainnya, yakni demam tinggi atau pasien yang dalam
keadaan sepsis dapat terjadi hipotermi, takikardi, dehidrasi, hingga
menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya mempunyai
punctum maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi.

Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan


tanda tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium
menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa
menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus
menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus.

Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik
dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok.
Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang
menyebabkan pergeseran peritoneum dengan peritoneum. Nyeri subjektif
berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau
mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri
tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya.
5

BAB III

PERITONITIS TUBERKULOSIS

III.I Definisi

Tuberkulosis peritoneal merupakan suatu peradangan peritoneum


parietal atau visceral yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium
tuberculosis. Penyakit ini sering mengenai seluruh peritoneum, alat-alat
sistem gastrointestinal, mesenterium dan organ genetalia interna (1,2).

III.II Epidemiologi

Tuberkulosis peritoneal lebih sering dijumpai pada wanita dibanding


pria dengan perbandingan 1,5:1 dan lebih sering ditemukan pada dekade
ke 3 dan 4. Tuberkulosis peritoneal dijumpai pada 2 % dari seluruh
tuberkulosis paru dan 59,8% dari tuberculosis abdominal. Peneliti lain
melaporkan dari 91 pasien tuberkulosis peritoneal, hanya 2 pasien (2,1%)
yang didiagnosis memiliki TBC paru. Pada saat ini dilaporkan bahwa
kasus tuberkulosis peritoneal di negara maju semakin meningkat dan
peningkatan ini sesuai dengan meningkatnya insiden AIDS di negara maju
(1,2).

Di Asia dan Afrika dimana tuberkulosis masih banyak dijumpai,


tuberkulosis peritoneal masih merupakan masalah yang penting. Manohar
dkk melaporkan di Rumah Sakit King Edward II Durban Afrika Selatan
menemukan 145 kasus tuberkulosis peritoneal selama periode 5 tahun
(1984-1988) dengan cara peritoneoskopi. Daldiyono menemukan
sebanyak 15 kasus di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
selama periode 1968-1972 dan Sulaiman di rumah sakit yang sama
periode 1975-1979 menemukan sebanyak 30 kasus tuberkulosa
6

peritoneal, begitu juga Sibuea dkk melaporkan ada 11 kasus tuberkulosis


peritoneal di Rumah Sakit Cikini Jakarta untuk periode 1975-1977.(7)
Sedangkan di Medan Zain LH melaporkan ada 8 kasus selama periode
1993-1995 (1,2).

III.III Anatomi

Lapisan peritonium dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis


(tunika serosa).
2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina
parietalis.
3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina
parietalis.

Bagian parietal mempunyai banyak persyarafan dan ketika teriritasi


akan menyebabkan rasa sakit yang hebat yang terlokalisir pada area
tertentu. Peritonium parietal dipersyarafi oleh serabut tepi yang berasal
dari T6-L1 (syaraf somatik) sedangkan peritoneum visceral di persyarafi
oleh serabut sensoris yang menerima rangsangan melalui syaraf simpatis
dan N.Splanchnicus T5-L3.

Peritoneum parietal akan menimbulkan nyeri somatik karena


rangsangan pada bagian yang di persyarafi syaraf tepi, misalnya
regangan pada peritoneum parietal ataupun luka dinding perut. Nyeri
dirasakan seperti di tusuk-tusuk dan pasien dapat menunjukan secara
tepat letaknya dengan jari. Rangsangan yang menimbulkan nyeri dapat
berupa rabaan, tekanan, rangsang kimiawi ataupun proses radang.
Peritoneum parietal mempunyai komponen somatik dan visceral dan
memungkinkan lokalisasi rangsangan yang berbahaya dengan
menimbulkan defanse muscular dan nyeri lepas.
7

Peritoneum visceral dipersyarafi oleh syaraf otonom dan tidak peka


terhadap rabaan atau pemotongan hanya berespon terhadap traksi dan
regangan. Lokasi nyeri yang timbul tidak jelas dan diffuse. Saluran yang
berasal dari usus depan (foregut) yaitu lambung, duodenum, sistem
hepatobilier dan pancreas akan menyebabkan nyeri ulu hati atau
epigastrium. Bagian saluran cerna yang berasal dari usus tengah yaitu
usus halus dan usus besar sampai pertengahan colon tranversum
menyebabkan nyeri di sekitar umbilicus. Bagian saluran cerna lainnya
yaitu colon sigmoid yang berasal dari usus belakang ( hindgut).

Pada tempat-tempat peritoneum viseral dan mesenterium dorsal


mendekati peritoneum dorsal terjadi perlekatan. Tetapi tidak semua
tempat terjadi perlekatan. Akibat perlekatan ini ada bagian-bagian usus
yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi dan sekarang terletak
disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. Bagian-
bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga
yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale disebut terletak
intraperitoneal. Rongga tersebut disebut cavum peritonei.
8

Gambar 2. Peritoneum (5).

Dengan demikian:

1. Duodenum terletak retroperitoneal;


2. Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat
penggantung mesenterium;
3. Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal;
4. Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat
penggantung disebut mesocolon transversum;
9

5. Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat


penggantung mesosigmoideum; cecum terletak intraperitoneal;
6. Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat
penggantung mesenterium.

III.IV Patogenesis

Peritoneum dapat dikenai oleh tuberkulosis melalui beberapa cara (1,2):

1. Melalui penyebaran hematogen terutama dari paru-paru


2. Melalui dinding usus yang terinfeksi
3. Dari kelenjar limfe mesenterium
4. Melalui tuba falopi yang terinfeksi

Pada kebanyakan kasus, tuberkulosis peritoneal terjadi bukan sebagai


akibat penyebaran perkontinuitatum tapi sering karena reaktifasi proses
laten yang terjadi pada peritoneum yang diperoleh melalui penyebaran
hematogen proses primer terdahulu (infeksi laten Dorman infection) (1,2).

Seperti diketahui bahwa lesi tuberkulosa bisa mengalami supresi dan


menyembuh, akan tetapi infeksi masih dalam fase laten dimana ia bisa
menetap selama hidup pasien dan suatu saat bisa aktif kembali dan
berkembang menjadi tuberkulosa (1,2).

III.V Patologi

Terdapat 3 bentuk tuberkulosis peritoneal (1,2)

1. Bentuk eksudatif

Bentuk ini dikenal juga sebagai bentuk yang basah atau bentuk
dengan asites yang banyak. Gejala yang menonjol ialah perut
membesar dan berisi cairan (asites). Pada bentuk ini perlengketan
10

tidak banyak dijumpai. Tuberkel sering dijumpai kecil-kecil


berwarna putih kekuning-kuningan nampak tersebar di peritoneum
atau pada alat-alat tubuh yang berada di rongga peritoneum.
Bentuk ini paling sering dijumpai (95,5%).

2. Bentuk adhesif

Disebut juga sebagai bentuk kering atau plastik dimana cairan tidak
banyak dibentuk. Pada jenis ini lebih banyak terjadi perlengketan.
Usus dibungkus oleh peritoneum dan omentum yang mengalami
reaksi fibrosis. Pada bentuk ini terdapat perlengketan-perlengketan
antara peritoneum dan omentum. Perlengketan yang luas antara
usus dan peritoneum sering memberikan gambaran seperti tumor,
kadangkadang terbentuk fistel.

3. Bentuk campuran

Bentuk ini kadang-kadang disebut juga bentuk kista. Pembentukan


kista terjadi melalui proses eksudasi bersama-sama dengan adhesi
sehingga terbentuk cairan dalam kantong-kantong perlengketan
tersebut.

Beberapa penulis menganggap bahwa pembagian ini lebih bersifat


untuk melihat tingkat penyakit, dimana pada mulanya terjadi bentuk
exudatif dan kemudian bentuk adhesif (1,2).

III.VI Gejala Klinis

Gejala klinis bervariasi, umumnya keluhan dan gejala timbul perlahan-


lahan, sering penderita tidak menyadari keadaan ini. Pada penelitian yang
dilakukan di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo lama keluhan berkisar
dari 2 minggu sampai 2 tahun dengan rata-rata lebih dari 16 minggu (1,2).
11

Variasi keluhan pasien tuberkulosis peritoneal menurut beberapa


penulis adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Keluhan pasien tuberkulosis peritoneal menurut beberapa


penulis (1,2).

Pada pemeriksaan jasmani gejala yang sering dijumpai adalah asites,


demam, pembengkakan perut, nyeri perut, pucat dan kelelahan.
Tergantung lamanya keluhan, keadaan umum pasien bisa masih cukup
baik sampai keadaan kurus dan kahektia. Pada wanita sering dijumpai
tuberkulosis peritoneal disertai oleh proses tuberkulosis pada ovarium
atau tuba, sehingga pada pemeriksaan alat genitalia bisa ditemukan
tanda-tanda peradangan yang sering sukar dibedakan dengan kista ovarii
(1,2).

Gejala yang lebih rinci dapat dilihat pada table 2 dibawah ini :

Tabel 2. Pemeriksaan jasmani pada 30 penderita tuberkulosis peritoneal


di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 1975-1979 (1,2).
12

Fenomena papan catur yang selalu dikatakan karakteristik pada


penderita tuberkulosis peritoneal ternyata tidak sering dijumpai (13%) (1,2).

III.VII Diagnosis

Pada tahun 1964 Paustian menentukan bahwa satu atau lebih dari
empat kriteria berikut harus dipenuhi untuk mendiagnosa adanya suatu
tuberkulosis abdominal (6):

1. Pada pemeriksaan histologi tuberkel ditemukan adanya nekrosis


kaseasi.
2. Pada operasi ditemukan adanya gambaran yang khas pada
tuberkulosis abdominal, yang dilanjutkan dengan biopsi nodul
mesenterikus yang menunjukkan gambaran histologis pada
tuberkulosis.
3. Pada inokulasi hewan ataupun kultur jaringan yang dicurigai
ditemukan adanya pertumbuhan dari M. Tuberkulosis.
4. Pada pemeriksaan histologi lesi ditemukan adanya basil tahan
asam.

Kriteria-kriteria ini harus benar-benar diingat, dan diagnosa sebaiknya


didukung oleh gambaran radiologi maupun histology yang adekuat.
13

Penemuan penemuan yang tidak spesifik antara lain meningkatnya LED,


anemia dan hipoalbuminemia (6).

III.VIII Laboratorium

Pada pemeriksaan darah sering dijumpai adanya anemia penyakit


kronis, leukositosis ringan ataupun leukopenia, trombositosis, dan sering
dijumpai laju endap darah (LED) yang meningkat. Sebagian besar pasien
memiliki hasil pemeriksaan tes tuberkulin yang negative. Uji faal hati
terganggu dan sirosis hepatis tidak jarang ditemukan bersama-sama
dengan tuberculosis peritoneal (1,2).

Pada pemeriksaan analisa cairan asites umumnya memperlihatkan


eksudat dengan protein > 3 gr/dl. Jumlah sel diantara 100-3000 sel/ml,
biasanya lebih dari 90% adalah limfosit. LDH biasanya meningkat(9,11).
Cairan asites yang perulen dapat ditemukan, begitu juga cairan asites
yang bercampur darah (serosanguineus). Pemeriksaan basil tahan asam
(BTA) didapati hasilnya kurang dari 5% yang positif dan kultur cairan
ditemukan kurang dari 20% yang hasilnya positif (13). Ada beberapa
peneliti yang mendapatkan hampir 66% kultur BTA positif yang akan
meningkat sampai 83% bila menggunakan kultur cairan asites yang telah
disetrifuge dengan jumlah cairan lebih dari 1 liter. Hasil kultur cairan asites
ini dapat diperoleh dalam waktu 4-8 minggu (1,2).

Perbandingan serum asites albumin (SAAG) pada tuberculosis


peritoneal ditemukan rasionya < 1,1 gr/dl namun hal ini juga bisa dijumpai
pada keadaan keganasan, sindroma nefrotik, penyakit pankreas, kandung
empedu atau jaringan ikat. Sedangkan bila ditemukan rasionya >1,1 gr/dl
ini merupakan cairan asites akibat portal hipertensi (1,2).

Perbandingan glukosa cairan asites dengan darah pada tuberculosis


peritoneal <0,96, sedangkan pada asites dengan penyebab lain rationya
14

>0,96.(1) Pemeriksaan cairan asites lain yang sangat membantu, cepat


dan non invasive adalah pemeriksaan adenosin deaminase actifity (ADA),
interferon gama (IFN) dan PCR.Menurut Gupta dkk kadar ADA 30 u/l
mempunyai sensitifitas 100% dan spesifisitas 94,1% serta mengurangi
positif palsu dari sirosis hati atau keganasan karena nilai ADA nya 14
10,6 u/l (1,2).

Hafta A. dkk dalam suatu penelitian yang membandingkan konsentrasi


ADA pada pasien tuberkulosis peritoneal, tuberkulosis peritoneal
bersamaan dengan sirosis hati dan pasien-pasien yang hanya sirosis hati.
Didapatkan hasilnya 131,1 38,1 u/l pada pasien tuberkulosis peritoneal,
29 18,6 u/l pada pasien tuberculosis peritoneal dengan sirosis hati dan
12,9 7 u/l pada pasien yang hanya mempunyai sirosis hati. Pada asites
dengan konsentrasi protein yang rendah maka nilai ADA nya akan rendah
pula sehingga dapat menyebabkan negative palsu. Oleh sebab itu pada
kasus seperti ini dapat dilakukan pemeriksaan INF (1,2).

Fathy M.E. melaporkan angka sensitifitas INF 90,9 % , ADA 81,8%


dan PCR 36,3% dengan masing-masing spesifisitas 100% untuk
mendiagnosis tuberkulosis peritoneal (17). Bargava dkk melakukan
penelitian terhadap kadar ADA pada cairan asites dan serum pasien
tuberkulosis peritoneal. Kadar ADA 36 u/l pada cairan asites dan 54 u/l
pada serum dan perbandingan kadar ADA pada asites dan serum > 0,984
mendukung diagnosis tuberkulosis peritoneal (1,2).

Pemeriksaan yang lain adalah mengukur kadar CA-125 (cancer


antigen 125). CA-125 merupakan antigen yang terkait karsinoma ovarium,
antigen ini tidak ditemukan pada ovarium orang dewasa normal namun
dilaporkan juga meningkat pada kista ovarium, gagal ginjal kronis,
penyakit autoimum, pankreas, sirosis hati dan tuberkulosis peritoneal (1,2).
15

Zain L.H. di Medan pada tahun 1996 menemukan dari 8 kasus


tuberkulosis peritoneal dijumpai kadar CA-125 meninggi dengan kadar
rata-rata 370,7 u/ml (66,2 907 u/ml). Dengan demikian disimpulkan
bahwa bila dijumpai peninggian serum CA-125 disertai dengan cairan
asites yang eksudat, jumlah sel > 350/m 3, limfosit yang dominan maka
tuberculosis peritoneal dapat dipertimbangkan sebagai diagnose (1,2).

Beberapa peneliti menggunakan CA-125 ini untuk melihat respon


pengobatan seperti yang dilakukan Mas M.R. dkk (Turkey, 2000) yang
menemukan CA-125 sama tingginya dengan kanker ovarium 475,80
106,19 u/ml dan setelah pemberian obat anti tuberkulosis kadar serum
CA-125 menjadi 20,80 5,18 (normal < 35 u/ml) setelah 4 bulan
pengobatan anti tuberkulosa (1,2).

Akhir-akhir ini Teruya J. dkk pada tahun 2000 di Jepang menemukan


peningkatan kadar CA 19-9 pada serum dan cairan asites penderita
tuberkulosis peritoneal, setelah diobati selama 6 minggu dijumpai
penurunan kadar CA 19-9 menjadi normal (1,2).

III.IX Pemeriksaan Penunjang

III.IX.I. Ultrasonografi. Pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) dapat


dilihat adanya cairan dalam rongga peritoneum yang bebas atau
terfiksasi (dalam bentuk kantong-kantong). Menurut Rama & Walter B
gambaran sonografi tuberkulosis peritoneal yang sering dijumpai
antara lain cairan yang bebas atau terlokalisasi dalam rongga
abdomen, abses dalam rongga abdomen, masa didaerah ileosaecal
dan pembesaran kelenjar limfe retroperitoneal. Adanya penebalan
mesenterium, perlengketan lumen usus dan penebalan omentum,
mungkin bisa dilihat dan harus diperiksa dengan seksama (1,2).
16

III.IX.II. CT Scan. Pemeriksaan CT Scan untuk tuberkulosis peritoneal


tidak ada suatu gambaran yang khas, namun secara umum ditemui
adanya gambaran peritoneum yang berpasir (1,2).

Rodriguez E. dkk yang melakukan suatu penelitian yang


membandingkan tuberkulosis peritoneal dengan karsinoma peritoneal.
Didapatkan penemuan yang paling baik untuk membedakannya
dengan melihat gambaran CT Scan terhadap peritoneum parietalis.
Bila peritoneumnya licin dengan penebalan yang minimal dan
pembesaran yang jelas menunjukkan suatu tuberkulosis peritoneal,
sedangkan adanya nodul yang tertanam dan penebalan peritoneum
yang tak teratur menunjukkan suatu karsinoma peritoneal (1,2).

III.IX.III. Peritonoskopi (Laparoskopi). Peritonoskopi / laparoskopi


merupakan cara yang terbaik untuk mendiagnosa tuberkulosis
peritoneal. Tuberkel pada peritoneum yang khas akan terlihat pada
lebih dari 90% pasien dan biopsi dapat dilakukan dengna terarah,
selanjutnya dilakukan pemeriksaan histology. Pada tuberkel peritoneal
ini dapat ditemui BTA pada hampir 75% pasien tuberkulosis peritoneal.
Hasil histologi yang penting adalah bila didapat granuloma yang lebih
spesifik yaitu jika didapati granuloma dengan perkejuan (1,2).

Gambaran yang dapat dilihat pada tuberkulosis peritoneal (1,2):

1. Tuberkel kecil ataupun besar pada dinding peritoneum atau pada


organ lain dalam rongga peritoneum seperti hati, omentum,
ligamentum atau usus.
2. Perlengketan di antara usus, omentum, hati, kandung empedu dan
peritoneum.
3. Penebalan peritoneum
4. Adanya cairan eksudat atau purulen, mungkin cairan bercampur
darah.
17
18

Gambar 3. Gambaran tuberkulosis peritoneal pada laparoskopi (7,8).

Walupun dengan cara peritoneoskopi tuberkulosis peritoneal dapat


dikenal dengan mudah namun gambarannya dapat menyerupai
penyakit lain seperti peritonitis karsinomatosis. Karena itu biopsi harus
selalu diusahakan dan pengobatan sebaiknya diberikan jika hasil
pemeriksaan patologi anatomi menyokong suatu tuberkulosis
peritoneal. Adanya jaringan perlengketan yang luas akan merupakan
hambatan dan kesulitan dalam memasukkan trokar dan lebih lanjut
ruangan yang sempit di dalam rongga abdomen juga menyulitkan
pemeriksaan dan tidak jarang alat peritonoskopi terperangkap didalam
suatu rongga yang penuh dengan perlengketan, sehingga sulit untuk
mengenal gambaran anatomi alat-alat yang normal dan dalam
19

keadaan demikian maka sebaiknya dilakukan laparotomi diagnostik


(1,2).

III.IX.IV. Laparatomi. Dahulu laparotomi eksplorasi merupakan


tindakan diagnosis yang sering dilakukan, namun saat ini banyak
penulis menganggap pembedahan hanya dilakukan jika dengan cara
yang lebih sederhana tidak meberikan kepastian diagnosis atau jika
dijumpai indikasi yang mendesak seperti obstruksi usus (1,2).

III.X Pengobatan

Pada dasarnya pengobatan sama dengan pengobatan tuberculosis


paru. Obat-obatan seperti Streptomisin, INH, Etambutol, Ripamficin dan
Pirazinamid memberikan hasil yang baik, dan perbaikan akan terlihat
setelah 2 bulan pengobatan dan lamanya pengobatan biasanya mencapai
9 bulan sampai 18 bulan atau lebih (1,2).

Tabel 3. Dosis obat anti tuberkulosis

Nama obat Dosis harian Dosis maksimal Efek samping


(mg/kgBB/hari) (mg/hari)
1.Isoniazid (H) 5-15 300 Hepatitis, neuritisperifer,
hipersensitivitas
2. Ripamficin( R) 10-20 600 Hepatitis, peningkatan enzim
hati, reaksikulit,
gastrointestinal,
trombositopenia
3. Pirazinamid (Z) 15-30 2000 Hepatotoksik, artalgia,
gastrointestinal
4. Etambutol (E) 15-20 1250 Neuroitis optic, ketajaman
mata berkurang, buta warna
20

merah hijau, hipersensitivitas,


gastrointestinal

5. Streptomisin 15-40 1000 Ototoksik, nefrotoksik

Beberapa penulis berpendapat bahwa kortikosteroid dapat mengurangi


perlengketan, peradangan dan mengurangi terjadinya asites. Dan juga
terbukti bahwa kortikosteroid dapat mengurangi angka kesakitan dan
kematian, namun pemberian kortikosteroid ini harus dicegah pada daerah
endemis dimana terjadi resistensi terhadap Mikobakterium tuberculosis
(1,2).

Laparotomi dilakukan jika dijumpai indikasi yang mendesak seperti


obstruksi usus, perforasi adanya cairan asites yang bernanah.

III.XI Prognosis

Prognosis tuberkulosis peritoneal cukup baik jika diagnosis dapat


segera ditegakkan dan biasanya akan sembuh dengan pengobatan anti
tuberkulosis yang adekuat (1,2).
21

BAB IV

KESIMPULAN

1. Tuberkulosis peritoneal biasanya merupakan proses kelanjutan


dari tuberkulosis ditempat lain.
2. Gejala klinis yang bervariasi dan timbulnya perlahan-lahan sering
menyebabkan keterlambatan dalam mendiagnosa penyakit
tersebut.
3. Dengan pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan
penunjang lainnya yang tepat dapat membantu menegakkan
diagnosis.
4. Dengan pemberian obat anti tuberkulosa yang adekuat biasanya
pasien akan sembuh.
22

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

1. Zain LH. Tuberkulosis Peritoneal. Dalam : Noer S ed. Buku Ajar


Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing, 2009: h.727-30.
2. Sutadi SR. Tuberkulosis Peritoneal. USU digital library. 2003.
3. Malani AK. Peritoneal Tuberculosis (? Carcinomatosis). Mayo Clin
Proc. 2006; 81(4):443.
4. http://www.dluvux.com/2010/01/peritonitis-radang-selaput-rongga-
perut.html. Diakses tanggal 5 Juli 2010.
5. Zeinner MJ, Ashley SW.Peritoneum. Maingots Abdominal
Operations. 11th Ed. McGraw-Hill Companies
6. Sharma MP, Bhatia V. Abdominal Tuberculosis. Indian J Med Res
120, October 2004: pp.305-15.
7. http://pakarbedahanda.blogspot.com/2008/12/tb-peritoneum-man-
one-of-many-foreign.html. Diakses tanggal 5 Juli 2010.
8. http://2.bp.blogspot.com/_QM3jGT7QzWU/SVotp_baMDI/AAAAAA
AAALs/4G4TYRUFfUc/s1600-h/TB++Peritoneum.JPG. Diakses
tanggal 5 Juli 2010.