Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PRAKTIKUM PILOT PLANT

Double Pipe Heat Exchanger dan Shell and Tube Heat Exchanger

Dosen Pembimbing : Harita Nurwahyu Chamidy, LRSC., MT

Kelompok/Kelas : I / 3A-TKPB

Anggota : 1. Abdul Faza M (151424001)

2. Afifah Nur Aiman (151424002)

3. Agus Hermawan (151424003)

Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2017

Tanggal Pengumpulan Praktikum : 18 Oktober 2017

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV

TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

TAHUN 2017
DAFTAR ISI

BAB I ......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN .................................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 3
1.2 Tujuan Praktikum .................................................................................................... 4
BAB II ....................................................................................................................................... 5
LANDASAN TEORI ............................................................................................................... 5
BAB III.................................................................................................................................... 18
METODOLOGI PERCOBAAN........................................................................................... 18
3.1 Alat dan Bahan ........................................................................................................ 18
3.2 Prosedur Kerja ........................................................................................................ 18
BAB IV .................................................................................................................................... 20
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN .................................................................... 20
4.1 Data Pengamatan .................................................................................................... 20
4.2 Hasil Percobaan ....................................................................................................... 21
4.3 Pembahasan ............................................................................................................. 29
BAB V ..................................................................................................................................... 34
KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................................................. 34
5.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 34
5.2 Saran......................................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 35
LAMPIRAN............................................................................................................................ 36

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di era modern saat ini energi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang
berpengaruh penting dalam kehidupan manusia. Dimana hampir seluruh aktifitas
manusia berhubungan dengan energi. Seiring dengan berjalannya waktu kebutuhan
akan energi semakin lama semakin meningkat. Dengan meningkatnya harga energi
yang dibutuhkan, maka butuhnya suatu usaha untuk melakukan efesiensi pada energi
tersebut. Salah satu cara meningkatkan efesiensi dengan mengambil energi dari sumber
yang berbeda untuk digunakan. Energi yang dapat digunakan tersebut adalah energi
panas. Sumber energi panas yang tersedia tercermin pada propertis fisika seperti massa
aliran, temperatur, viskositas, panas spesifik, densitas, dan konduktivitas termal. Maka
dibutuhkan sebuah alat untuk mengambil sumber panas tersebut yaitu dengan
menggunakan heat exchanger.

HE (heat exchanger) adalah suatu alat digunakan dalam proses perpindahan


panas fluida dengan fluida yang lain tanpa terjadi perpindahan massa didalamnya dan
dapat dipergunakan sebagai pemanas maupun pendingin. HE pada lapangan memiliki
tipe yang beragam. HE yang sering digunakan ialah HE dengan tipe shell-and-tube
dengan segmental baffle. Alat ini terdiri dari sebuah shell silindris di bagian luar dan
sejumlah tube (tube bundle) di bagian dalam, dimana temperatur fluida di dalam tube
bundle berbeda dengan di luar tube (di dalam shell) sehingga terjadi perpindahan panas
antara aliran fluida di dalam tube dan di luar tube. Adapun daerah yang berhubungan
dengan bagian dalam tube disebut dengan tube side dan yang di luar dari tube disebut
shell side. Pemilihan yang tepat suatu alat penukar kalor akan menghemat biaya
operasional harian dan perawatan. Bila alat penukar kalor dalam keadaan baru, maka
permukaan logam dari pipa-pipa pemanas masih dalam keadaan bersih setelah alat
beroperasi beberapa lama maka terbentuklah lapisan kotoran atau kerak pada
permukaan pipa tersebut. Tebal tipisnya lapisan kotoran tergantung dari fluidanya.
Adanya lapisan tersebut akan mengurangi koefisien perpindahan panasnya. Harga
koefisien perpindahan panas untuk suatu alat penukar kalor selalu mengalami

3
perubahan selama pemakaian. Batas terakhir alat dapat berfungsi sesuai dengan
perencanaan adalah saat harga koefisien perpindahan panas mencapai harga minimum

1.2 Tujuan Praktikum

Memahami fungsi alat penukar kalor jenis Double Pipe dan jenis Shell & Tube
Memahami mekanisme operasi alat penukar kalor jenis Double Pipe dan jenis
Shell & Tube
Mengetahui komponen-komponen utama alat penukar kalor jenis jenis Double
Pipe dan jenis Shell & Tube
Mengetahui cara menghitung total heat transfer coefficient alat penukar kalor
jenis Double Pipe dan jenis Shell & Tube yang ada di laboratorium Pilot Plant.

4
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Heat Exchanger


Sesuai dengan namanya, maka alat penukar kalor (heat exchanger) berfungsi
mempertukarkan suhu antara dua fluida dengan melewati dua bidang batas. Bidang batas
pada alat penukar kalor ini berupa pipa yang terbuat dari berbagai jenis logam sesuai
dengan penggunaan dari alat tersebut.
Pada percobaan ini akan dilakukan pengamatan unjuk kerja alat penukar kalor pipa
ganda (double pipe heat exchanger) yang terdiri dari dua pipa konsentris. Pipa yang berada
di luar dikenal sebagai annulus (shell), sedangkan bagian dalam dikenal sebagai pipa (tube).

2.2 Prinsip Kerja Heat Exchanger

Heat exchanger adalah heat exchanger antara dua fluida dengan melewati dua
bidang batas. Bidang batas pada heat exchanger adalah dinding pipa yang terbuat dari
berbagai jenis logam. Pada heat exchanger ini, terdapat dari dua pipa konsentris, yaitu:
annullus/shell (pipa yang berada di luar) dan tube (pipa yang berada di dalam).

Berdasarkan jenis alirannya heat exchanger dibagi menjadi tiga, yaitu:

A. Pararel Flow
Kedua fluida ,mengalir dalam heat exchanger dengan aliran yang searah. Kedua
fluida memasuki HE dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan temperatur yang
besar akan berkurang seiring dengan semakin besarnya x, jarak pada HE. Temperatur
keluaran dari fluida dingin tidak akan melebihi temperatur fluida panas.
B. Counter Flow
Berlawanan dengan paralel flow, kedua aliran fluida yang mengalir dalam HE masuk
dari arah yang berlawanan. Aliran keluaran yang fluida dingin ini suhunya mendekati
suhu dari masukan fluida panas sehingga hasil suhu yang didapat lebih efekrif dari
paralel flow. Mekanisme perpindahan kalor jenis ini hampir sama dengan paralel
flow, dimana aplikasi dari bentuk diferensial dari persamaan steady-state:
dQ U T t a" dL (1)
dQ WCdT wcdt (2)

5
C. Cross flow Heat exchanger

Dimana satu fluida mengalir tegak lurus dengan fluida yang lain. Biasa dipakai
untuk aplikasi yang melibatkan dua fasa. Misalnya sistem kondensor uap (tube and
shell heat exchanger), di mana uap memasuki shell, air pendingin mengalir di dalam
tube dan menyerap panas dari uap sehingga uap menjadi cair.

2.3 Komponen Penyusun Heat Exchanger

Komponen-komponen dari penyusun Heat Exchanger, terdiri dari:

A. Shell dan Tube

Suatu sillinder yang dilengkapi dengan inlet dan outlet nozzle sebagai tempat keluar
masuknya fluida. Ada 2 jenis tube dalam shell, yaitu finned tube (tube yang mempunyai
sirip (fin) pada bagian luar tube) dan bare tube (tube dengan permukaan yang rata)

B. Tube Sheet

Tempat untuk merangkai ujung-ujung tube sehingga menjadi satu yang disebut tube
bundle. HE dengan tube lurus pada umumnya menggunakan 2 buah tube sheet.
Sedangkan pada tube tipe U menggunakan satu buah tube sheet yang berfungsi untuk
menyatukan tube-tube menjadi tube bundle dan sebagai pemisah antara tube side
dengan shell side.

C. Baffle

Berfungsi sebagai penyangga tube, menjaga jarak antar tube, menahan vibrasi yang
disebabkan oleh aliran fluida, dan mengatur aliran turbulen sehingga perpindahan
panas lebih sempurna. Jenis baffle yaitu battle melintang (segmental, dish and
doughnut) dan baffle memanjang.

D. Tie Rods

Batangan besi yang dipasang sejajar dengan tube dan ditempatkan di bagian paling luar
dari baffle yang berfungsi sebagai penyangga agar jarak antara baffle yang satu dengan
lainnya tetap.

6
2.4 Jenis-Jenis Heat Exchanger
A. Berdasarkan Fungsinya
1) Heat exchanger
Heat exchanger mengontrol kalor antara dua proses aliran: aliran fluida panas
yang membutuhkan pendinginan ke aliran fluida temperatur rendah yang
membutuhkan pemanasan. Kedua fluida biasanya satu fasa atau suatu fluida yang
berbentuk gas dan lainnya berbentuk cairan.

2) Condenser
Condenser adalah tipe lain dimana hidrokarbon atau gas lainnya yang mencair
sebagian atau seluruhnya dengan pemindahan panas.
3) Cooler Chiller
Berfungsi memindahkan panas, baik panas sensibel maupun panas laten fluida
yang berbentuk uap kepada media pendingin, sehingga terjadi perubahan fasa uap
menjadi cair. Media pendingin biasanya digunakan air atau udara. Condensor
biasanya dipasang pada top kolom fraksinasi. Pada beberapa kasus refrijeran
biasa digunakan ketika temperatur rendah dibutuhkan. Pendinginan itu sering
disebut chiller.
4) Reboiler
Digunakan untuk menguapkan kembali sebagian cairan pada dasar kolom
(bottom) distilasi, sehingga fraksi ringan yang masih ada masih teruapkan. Media
pemanas yang digunakan adalah uap (steam). Reboiler bisa dipanaskan melalui
media pemanas atau dipanaskan langsung. Yang terakhir reboilernya adalah
furnace atau fire tube
5) Heater Superheater
Heater digunakan untuk memanaskan fluida yang memiliki viskositas tinggi baik
bahan baku ataupun fluida proses dan biasanya menggunakan steam sebagai
pemanas. Superheater memanaskan gas dibawah temperatur jenuh.

7
B. Berdasarkan Konstruksinya
1) Tubular Exchanger
- Double-pipe Heat exchanger
Terdiri dari satu buah pipa yang diletakkan di dalam sebuah pipa lainnya
yang berdiameter lebih besar secara konsentris. Fluida yang satu mengalir di
dalam pipa kecil sedangkan fluida yang lain mengalir di bagian luarnya. Pada
bagian luar pipa kecil biasanya dipasang fin atau sirip memanjang, hal ini
dimaksudkan untuk mendapatkan permukaan perpindahan panas yang lebih luas.
Double pipe ini dapat digunakan untuk memanaskan atau mendinginkan fluida
hasil proses yang membutuhkan area perpindahan panas yang kecil (biasanya
hanya mencapai 50 m2).
Double-pipe Heat exchanger ini juga dapat digunakan untuk mendidihkan
atau mengkondensasikan fluida proses tapi dalam jumlah yang sedikit. Kerugian
yang ditimbulkan jika memakai Heat exchanger ini adalah kesulitan untuk
memindahkan panas dan mahalnya biaya per unit permukaan transfer. Tetapi,
double pipe Heat exchanger ini juga memiliki keuntungan yaitu Heat exchanger
ini dapat dipasang dengan berbagai macam fitting (ukuran).
Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung
(indirect contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida
sehingga kedua fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah
(fluida pendingin) mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu
yang lebih tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus). Penukar
kalor demikian mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun dalam
susunan vertikal. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses
konveksi, sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari
fluida yang bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.
Kelebihan Double-pipe Heat exchanger:
Dapat digunakan untuk fluida yang memiliki tekanan tinggi.
Mudah dibersihkan pada bagian fitting
Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa
Dapat dipasang secara seri ataupun parallel
Dapat diatur sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop dan LMTD
sesuai dengan keperluan

8
Mudah bila kita ingin menambahkan luas permukaannya
Kalkulasi design mudah dibuat dan akurat
Kekurangan Double-pipe Heat exchanger:
Relatif mahal
Terbatas untuk fluida yang membutuhkan area perpindahan kalor kecil (<50 m2)
Biasanya hanya digunakan untuk sejumlah kecil fluida yang akan dipanaskan
atau dikondensasikan.

- Shell and tube


Jenis ini terdiri dari shell yang didalamnya terdapat rangkaian pipa kecil yang
disebut tube bundle. Perpindahan panas terjadi antara fluida yang mengalir di dalam
tube dan fluida yang mengalir di luar tube (pada shell side). Shell and tube ini
merupakan Heat exchanger yang paling banyak digunakan dalam proses-proses
industri.
Keuntungan Shell and Tube Heat exchanger merupakan Heat exchanger yang
paling banyak digunakan di proses-proses industri karena mampu memberikan ratio
area perpindahan panas dengan volume dan massa fluida yang cukup kecil. Selain
itu juga dapat mengakomodasi ekspansi termal, mudah untuk dibersihkan, dan
konstruksinya juga paling murah di antara yang lain. Untuk menjamin bahwa fluida
pada shell-side mengalir melintasi tabung dan dengan demikian menyebabkan
perpindahan kalor yang lebih tinggi, maka di dalam shell tersebut dipasangkan
sekat/penghalang (baffles).
Shell and tube ini dibagi lagi sesuai dengan penggunaannya yaitu class R (untuk
keperluan proses dengan tekanan tinggi), class C (untuk keperluan proses dengan
tekanan dan temperatur menengah dan fluida yang tidak korosif, serta class B
(untuk keperluan fluida yang korosif). Proses pertukaran panas pada kedua fluida
ini terjadi pada dinding tube dimana terdapat dua proses perpindahan yaitu secara
konduksi dan konveksi. Dilihat dari konstruksinya, Heat exchanger tipe Shell and
Tube dibedakan atas:
Fixed Tube Sheet
Fixed Tube Sheet merupakan jenis shell and tube Heat exchanger yang terdiri
dari tube-bundle yang dipasang sejajar dengan shell dan kedua tube sheet

9
menyatu dengan shell. Kelemahan pada tipe ini adalah kesulitan pada
penggantian tube dan pembersihan shell.
Floating Tube Sheet
Floating Tube Sheet merupakan Heat exchanger yang dirancang dengan salah
satu tipe tube sheetnya mengambang, sehingga tube-bundle dapat bergerak di
dalam shell jika terjadi pemuaian atau penyusutan karena perubahan suhu.
Tipe ini banyak digunakan dalam industri migas karena pemeliharaannya
lebih mudah dibandingkan fix tube sheet, karena tube-bundlenya dapat
dikeluarkan, dan dapat digunakan pada operasi dengan perbedaan temperatur
antara shell dan tube side di atas 200oF.
U tube/U bundle
U tube/U bundle merupakan jenis HE yang hanya mempunyai 1 buah tube
sheet, dimana tube dibuat berbentuk U yang ujung-ujungnya disatukan pada
tube sheet sehingga biaya yang dibutuhkan paling murah di antara Shell and
Tube Heat exchanger yang lain. Tube bundle dapat dikeluarkan dari shellnya
setelah channel headnya dilepas. Tipe ini juga dapat digunakan pada tekanan
tinggi dan beda temperatur yang tinggi. Masalah yang sering terjadi pada
Heat exchanger ini adalah terjadinya erosi pada bagian dalam bengkokan tube
yang disebabkan oleh kecepatan aliran dan tekanan di dalam tube, untuk itu
fluida yang mengalir dalam tube side haruslah fluida yang tidak mengandung
partikel-partikel padat.

2) Spiral tube
- Plate Heat exchanger
Kedua aliran masuk dari sudut dan
melewati bagian atas dan bawah
plat-plat parallel dengan fluida
panas melewati jalan-jalan (ruang
antar plat) genap dan fluida dingin
melewati jalan-jalan ganjil. Plat-
plat dapat dipasang secara
melingkar agar dapat memberikan
perpindahan panas yang besar dan Gambar 3. Plate Heat Exchanger
mencegah terjadinya fouling (deposit yang tidak diinginkan). Plate Heat
10
exchanger juga mudah untuk dilepas dan dipasang kembali sehingga mudah
untuk dibersihkan. Heat exchanger ini dibagi atas 3 macam :
- Plate and frame or gasketed plate exchanger
Jenis ini terdiri dari bingkai-bingkai dan plat-plat yang disusun rapat,
permukaan plat mempunyai alur-alur yang berpasangan sehingga jika
dirangkai mempunyai dua aliran. Heat exchanger ini digunakan untuk
temperatur dan tekanan rendah seperti mendinginkan cooling water.
- Spiral plate heat exchanger
- Lamella (ramen) heat exchanger

C. Berdasarkan Flow arrangements


Terdapat dua jenis Heat Exchanger berdasarkan flow arrangements yakni single
pass dan multiple pass. Pada single pass, kedua fluida melewati sistem hanya satu kali,
sedangkan pada multiple pass, salah satu atau kedua fluida mengalir bolak-balik secara
zigzag. Pada single pass aliran fluida bisa parallel ataupun berlawanan, sedangkan pada
multiple pass merupakan kombinasai keduanya. Fluida juga dapat mengalir secara
crossflow. Yang pertama, kedua fluida tidak bercampur, mereka melewati jalan
masing-masing tanpa bercampur. Yang kedua, kedua fliuda bercampur tanpa terjadi
reaksi kimia. Jika luas shell besar, cross flow akan menghasilkan koefisien perpindahan
kalor yang lebih tinggi daripada aliran aksial yang terjadi di dalam tabung double-pipe.
D. Berdasarkan Arah Aliran
- Paralel Flow
Kedua fluida ,mengalir dalam heat exchanger dengan aliran yang searah. Kedua
fluida memasuki HE dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan temperatur
yang besar akan berkurang seiring dengan semakin besarnya x, jarak pada HE.
Temperatur keluaran dari fluida dingin tidak akan melebihi temperatur fluida
panas.
- Counter Flow
Berlawanan dengan paralel flow, kedua aliran fluida yang mengalir dalam HE
masuk dari arah yang berlawanan. Aliran keluaran yang fluida dingin ini suhunya
mendekati suhu dari masukan fluida panas sehingga hasil suhu yang didapat lebih
efekrif dari paralel flow.
- Cross Flow Heat exchanger

11
Dimana satu fluida mengalir tegak lurus dengan fluida yang lain. Biasa dipakai
untuk aplikasi yang melibatkan dua fasa. Misalnya sistem kondensor uap (tube
and shell Heat exchanger), di mana uap memasuki shell, air pendingin mengalir
di dalam tube dan menyerap panas dari uap sehingga uap menjadi cair.
Dari ketiga tipe Heat exchanger tersebut tipe counter flow yang paling efisien
ketika kita membandingkan laju perpindahan kalor per unit area. Dengan beda
temperatur fluida yang paling maksimal di antara kedua tipe Heat exchanger
lainnya, maka beda temperatur rata-rata (log mean temperature difference) akan
maksimal dan pada akhirnya laju perpindahan kalor akan maksimal pula.

2.5 Parameter Heat Exchanger


A. Logaritmic Mean Temperature Difference (LMTD)

Pada awalnya kita mengandaikan U (bisa juga digantikan oleh h ) sebagai nilai konstan
(nilai U dapat dilihat pada tabel pada lampiran). U sendiri merupakan koefisien heat transfer
overall. Aturan untuk nilai U adalah sebagai berikut :
1. Fluida dengan konduktivitas termal rendah seperti tar, minyak atau gas, biasanya
menghasilkan h yang rendah. Ketika fluida tersebut melewati heat exchanger, U
akan cenderung untuk turun
2. Kondensasi dan Pemanasan merupakan proses perpindahan kalor yang efektif.
Proses ini dapat meningkatkan nilai U.
3. Untuk U yang tinggi, tahanan dalam exchanger pasti rendah
4. Untuk fluida dengan konduktivitas yang tinggi , mempunyai nilai U dan h yang
tinggi.
Untuk U pada suhu yang hampir konstan, variasi temperatur dari aliran fluida dapat
dihitung secara overall heat transfer dalam bentuk perbedaan temperatur rata-rata dari aliran
dua fluida, yang dapat dibuat persamaan sebagai berikut :
Q UATmean (3)
Yang menjadi masalah kali ini adalah bagaimana membuat persamaan tersebut menjadi
benar. Kita harus dapat menghitung nilai dari T yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena
terlihat pada grafik mengenai kecenderungan perubahan temperatur fluida akan lebih cepat
sejalan dengan posisinya (grafik bisa dilihat dari lampiran). Selain itu pada counterflow dan
pararel flow, perhitungan tersebut bisa berbeda. Oleh karena itu perlu dicari suatu persamaan
yang dapat menyelesaikan masalah ini. Dengan menurunkan rumus awal sebagai berikut :

12
dQ U (dA)T (mc p ) h dTh (mc p ) c dTc (4)

Keterangan : h untuk aliran panas dan c untuk aliran dingin


Setelah itu kita menyamakan persamaan antara persamaan untuk counterflow dan
persamaan untuk pararel flow dan didapat :
Ta Tb
Q UA (5)
ln( Ta / Tb
Dimana Ta adalah selisih antara suhu keluaran shell dengan suhu fluida pendingin
awal dan Tb adalah selisih antara suhu keluaran shell dengan suhu fluida pendingin akhir.
t mean yang dimaksud dalam persamaan tersebut adalah LMTD, yaitu :
Ta Tb
Tmean LMTD (6)
ln( Ta / Tb
Namun demikian penggunaan LMTD juga cukup terbatas. Kita harus menggunakan
faktor koreksi F yang dapat dilihat dalam grafik pada lampiran. Sehingga rumusnya menjadi :
Q UAF (LMTD ) (7)

C. Koefisien perpindahan kalor keseluruhan U (overall coefficient of heat transfer),


Koefisien perpindahan kalor keseluruhan (U), terdiri dari dua macam yaitu:
1) UC adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor
masih baru
2)UD adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor sudah
kotor.
Secara umum kedua koefisien itu dirumuskan sebagai:

(8)

D. Fouling Resistance
Jika sebuah pipa baru saja digunakan, maka keadaannya masih normal dan bersih
sehingga tidak mengganggu proses perpindahan kalor. Namun pada suatu saat fluida yang

13
terus menerus mengalir dalam pipa akan membentuk seperti sebuah lapisan yang akan
mengganggu aliran kalor. Hal inilah yang disebut dengan fouling resistance. Untuk
menghitung fouling resistance dapat digunakan rumus berikut ini :
1 1
Rd
U D UC
Dimana U pipa yang sudah tua tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
1
U (9)
1 ri ln( r0 / rp ) r j ln( rp / ri ) r
i Rd
hi k insulator k pipe r0 h0

Untuk U<<10000 W/m2 C fouling mungkin tidak begitu penting, karena hanya
menghasilkan resistan yang kecil. Namun pada water to water heat exchanger dimana nilai
U disekitar 2000 maka fouling factor akan menjadi penting. Pada finned tube heat exchanger
dimana gas panas mengalir di dalam tube dan gas yang dingin mengalir melewatinya, nilai
U mungkin sekitar 200, fouling factor akan menjadi signifikan.

Gambar 4. Kekotoran Pipa

E. Efektivitas Heat exchanger


Efektivitas heat exchanger dapat dirumuskan sebagai berikut :



Ch Thin Thout

Cc Tcout Tcin
T
(10)
Cmin hin Tcmin Cmin Thin Tcin

actual heat transferred



max imum heat that could possibly be transferred from one stream to another

Maka untuk mencari efektifitas untuk paralel single pass HE adalah sebagai berikut :
1 exp (1 Cmin / Cmax ) NTU
(11)
1 Cmin / Cmax
Sedangkan untuk counterflow adalah sebagai berikut :

14
1 exp (1 Cmin / Cmax ) NTU
(12)
1 (Cmin / Cmax ) exp (1 Cmin / Cmax ) NTU
Keterangan : NTU (Number of Transfer Unit) bisa didapatkan dari rumus :
UA
NTU (13)
C min
Cmin merupakan nilai C tekecil antara Ch dan Cc, sedangkan Cmax merupakan nilai yang
terbesar.

F. Perpindahan Kalor pada Alat Penukar Kalor

(14)
tm merupakan suhu rata-rata log atau Log Mean Temperature Difference (LMTD).
Untuk shell and tube heat exchanger, nilai LMTD harus dikoreksi dengan faktor yang
dicari dari grafik yang sesuai (Fig 18 s/d Fig 23 Kern). Caranya adalah dengan
menggunakan parameter R dan S.

(15-16)
Nilai LMTD dihitung dengan persamaan sbb:
Bila UD konstan
Untuk aliran searah (co-current)

Atau

15
Untuk aliran berlawanan arah (Counter Current)

(17)
Nilai LMTD yang diperoleh ini harus dikoreksi dengan faktor FT yang dicari dari grafik
yang sesuai. Caranya yaitu dengan menggunakan parameter R dan S:

(18-19)
Dan harga tm =FT.LMTD

16
Bila UD tidak konstan (berubah) terhadap suhu
Untuk aliran searah atau aliran berlawanan arah, maka persamaan LMTD berupa
persamaan implisit:

(20)

17
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


- Seperangkat alat heat exchanger Shell and Tube & Double Pipe
- Fluida (air)
- Steam

3.2 Prosedur Kerja


- Proses pertukaran panas pada STHE

Mengalirkan air dingin hingga HE terisi

Mengalirkan steam

Mengatur laju alir steam hingga suhu air panas tidak lebih dari 600C

Mengatur laju alir fluida panas tetap pada 4 LPM

Mengalirkan fluida dingin dengan variasi laju alir dingin 4 LPM, 6 LPM, dan 8
LPM

Mencatat suhu masuk dan keluar tiap aliran fluida

Mengulangi langkah 1-6 pada laju alir fluida dingin tetap 4 LPM degan variasi
laju alir fluida panas

18
- Pengoperasian pada alat STHE

Membuka V2 dan menutup V1

Membuka V8 dan V6

Membuka dan mengatur V14

Mengamati temperatur indikator

Mengamati perubahan suhu tiap 2 menit

Melakukan variasi laju alir

- Proses pertukaran panas DPHE

Menutup valve pembuangan DPHE dan membuka valve sirkulasi

Membuka valve V13 yang merupakan aliran masukan steam sehingga steam
mengalir menuju heater

Mengatur V13 agar steam dapat memanaskan air dingin dari V4

Mengamati temperatur indikator baik masukan ataupun keluaran sampai stabil

Mengamai perubahan suhu yang terjadi setiap 2 menit

Melakukan bariasi laju alir

19
BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

Tabel 4.1 Data Pengamatan Double Pipe Heat Excharger II

Laju Alir Laju Alir Air Panas Air Dingin


Waktu
Air Panas Air Dingin
(menit) T in (oC) T out (oC) T in (oC) T out(oC)
(L/m) (L/m)
0 50 45 33 41
2 55 49 40 52.5
8,92 3 4 56 50 41 54
6 57 51 42 56
8 57 50 38 56
0 46 40 30 33
2 42 37 30 34
8,92 5 4 41 36 29 35
6 40 35 29 32
8 40 35 26 34
0 46 42 26 29
2 45 41 26 28
8,92 7 4 50 45 26 30
6 54 48 26 30
8 50 45 26 30
0 40 37 28 29
2 38 36 28 29
1,68 3
4 38 36 28 29
6 36 34 28 29
0 36 30 24 26
2 40 30 24 26
1,68 5
4 41 29 21 24
6 41 30 23 26
0 42 32 26 27
2 42 31 26 27
1,68 7
4 44 30 26 27
6 42 30 26 27

20
Tabel 4.2 Data Pengamatan Shell & Tube Heat Excharger (Tipe 1-2)

Laju Alir Laju Alir


Waktu Air Panas Air Dingin
Air Panas Air Dingin
(menit)
(L/m) (L/m) T in (oC) T out (oC) T in (oC) T out(oC)
0 46 29 22 28
2 50 34 29 33
3 3
4 56 35 29 34
6 58 33 26 32

0 48 35 26 31

2 47 33 26 32
3 6
4 48 35 26 31

6 51 36 26 32

0 40 36 27 29

2 40 36 27 28
6 3
4 40 36 27 29

6 39 34 27 28

0 42 32 27 29

2 39 32 27 30
6 6
4 39 32 27 31

6 37 32 27 30

4.2 Hasil Percobaan


A. Double Pipe Heat Exchanger

Tabel 4.3 Efisiensi dan Koefisien Perpindahan Panas Keseluruhan pada Double Pipe
Heat Excharger II

Laju Alir
Laju Alir
Air Waktu Qlepas Qterima U
Air Dingin (%)
Panas (menit) (kJ) (kJ) (W/m2K)
(L/m)
(L/m)
0 50 45 33 14.6474
8,92 3 2 55 49 40 46.9226
4 56 50 41 53.1875

21
6 57 51 42 73.1514
8 57 50 38 77.5058
0 46 40 30 8.3435
2 42 37 30 17.0131
8,92 5 4 41 36 29 29.4698
6 40 35 29 13.7494
8 40 35 26 34.4870
0 46 42 26 8.1214
2 45 41 26 5.5890
8,92 7 4 50 45 26 9.1618
6 54 48 26 7.7708
8 50 45 26 9.1618
0 40 37 28 1.9191
2 38 36 28 2.2528
1,68 3
4 38 36 28 2.2528
6 36 34 28 2.9484
0 36 30 24 8.1517
2 40 30 24 6.7605
1,68 5
4 41 29 21 8.0280
6 41 30 23 9.1252
0 42 32 26 4.5462
2 42 31 26 4.9058
1,68 7
4 44 30 26 4.9701
6 42 30 26 5.3656

22
- Pengaruh Laju Alir Air Dingin terhadap Efisiensi Double Pipe Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Panas Tetap

Efisiensi Double Pipe Heat Exchanger Efisiensi Double Pipe Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Panas 8.92 liter/menit pada Laju Alir Air Panas 1.68 liter/menit
100.00 100.00

80.00 80.00
Efisiensi

60.00

Efisiensi
60.00

40.00 40.00

20.00 20.00

0.00 0.00
0 2 4 6 8 10 0 2 4 6 8
Waktu(menit) Waktu(menit)

Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit
Laju Alir Air Dingin 5 liter/menit Laju Alir Air Dingin 5 liter/menit
Laju Alir Air Dingin 7 liter/menit Laju Alir Air Dingin 7 liter/menit

Kurva 4.1 Kurva 4.2

- Pengaruh Laju Alir Air Panas terhadap Efisiensi Double Pipe Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Dingin Tetap

Efisiensi Double Pipe Heat Exchanger Efisiensi Double Pipe Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit pada Laju Alir Air Dingin 5 liter/menit
100.00 100.00
80.00 80.00
Efisiensi

Efisiensi

60.00 60.00
40.00 40.00
20.00 20.00
0.00 0.00
0 2 4 6 8 10 0 2 4 6 8 10
Waktu(menit) Waktu(menit)

Laju Alir Air Panas 8.92 liter/menit Laju Alir Air Panas 8.92 liter/menit
Laju Alir Air Panas 1.68 liter/menit Laju Alir Air Panas 1.68 liter/menit

Kurva 4.3 Kurva 4.4

23
Efisiensi Double Pipe Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Dingin 7 liter/menit
80.00

60.00

Efisiensi
40.00

20.00

0.00
0 2 4 6 8
Waktu(menit)

Laju Alir Air Panas 8.92 liter/menit


Laju Alir Air Panas 1.68 liter/menit

Kurva 4.5
- Pengaruh Laju Alir Air Dingin terhadap Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
Double Pipe Heat Exchanger pada Laju Alir Air Panas Tetap

Koefisien Perpindahan Panas Total (U) Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
Double Pipe Heat Exchanger pada Laju Double Pipe Heat Exchanger pada Laju
Alir Air Panas 8.92 liter/menit Alir Air Panas 1.68 liter/menit
100.0000 10.0000
80.0000 8.0000
60.0000 6.0000
U
U

40.0000 4.0000

20.0000
2.0000
0.0000
0.0000
0 2 4 6 8 10
0 2 4 6 8
Waktu(menit) Waktu(menit)

Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit
Laju Alir Air Dingin 5 liter/menit Laju Alir Air Dingin 5 liter/menit
Laju Alir Air Dingin 7 liter/menit Laju Alir Air Dingin 7 liter/menit

Kurva 4.6 Kurva 4.7

24
- Pengaruh Laju Alir Air Panas terhadap Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
Double Pipe Heat Exchanger pada Laju Alir Air Dingin Tetap

Koefisien Perpindahan Panas Total (U)


Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
Double Pipe Heat Exchanger pada
Double Pipe Heat Exchanger pada
Laju Alir Air Dingin 5 liter/menit
Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit
100.0000 40.0000
80.0000 30.0000
Efisiensi

Efisiensi
60.0000
20.0000
40.0000
20.0000 10.0000

0.0000 0.0000
0 2 4 6 8 10 0 2 4 6 8 10
Waktu(menit) Waktu(menit)

Laju Alir Air Panas 8.92 liter/menit Laju Alir Air Panas 8.92 liter/menit
Laju Alir Air Panas 1.68 liter/menit Laju Alir Air Panas 1.68 liter/menit

Kurva 4.8 Kurva 4.9


Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
Double Pipe Heat Exchanger pada
Laju Alir Air Dingin 7 liter/menit

10.0000
8.0000
Efisiensi

6.0000
4.0000
2.0000
0.0000
0 2 4 6 8 10
Waktu(menit)

Laju Alir Air Panas 8.92 liter/menit


Laju Alir Air Panas 1.68 liter/menit

Kurva 4.10

25
Shell and Tube Heat Exchanger
Tabel 4.4 Efisiensi dan Koefisien Perpindahan Panas Keseluruhan pada Shell & Tube
Heat Excharger (Tipe 1-2)

Laju Alir Laju Alir


Waktu Qlepas Qterima U
Air Panas Air Dingin (%)
(menit) (kJ) (kJ) (W/m2K)
(L/m) (L/m)

0 210.909 75.0831 35.5998 13.37141

2 198.239 49.9314 25.1875 13.42065


3 3
4 259.646 62.4143 24.0382 12.80523

6 308.84 74.9788 24.2775 13.69911

0 161.176 124.965 77.533 31.59387

2 173.702 149.958 86.3302 31.64706


3 6
4 161.176 124.965 77.533 31.2265

6 186.539 149.958 80.3893 34.12204

0 99.4588 24.9861 25.1221 10.57628

2 99.4588 12.4931 12.561 11.17534


6 3
4 99.4588 24.9861 25.1221 10.79212

6 124.468 12.4931 10.0372 9.961957

0 247.78 49.9722 20.168 19.26852

2 174.255 74.9584 43.0164 23.81151


6 6
4 174.255 99.9445 57.3553 24.8571

6 124.503 74.9584 60.2063 18.07911

26
- Pengaruh Laju Alir Air Dingin terhadap Efisiensi Shell & Tube Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Panas Tetap

Efisiensi Shell & Tube Heat Exchanger Efisiensi Shell & Tube Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Panas 3 liter/menit pada Laju Alir Air Panas 6 liter/menit
100 70
90
60
80
70 50
Efisiensi

Efisiensi
60 40
50
40 30
30 20
20
10
10
0 0
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8
Waktu (menit) Waktu(menit)

Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit
Laju Alir Air Dingin 6 liter/menit Laju Alir Air Dingin 6 liter/menit

Kurva 4.11 Kurva 4.12


- Pengaruh Laju Alir Air Panas terhadap Efisiensi Shell & Tube Heat Exchanger
pada Laju Alir Air Dingin Tetap

Efisiensi HE pada Laju Alir Air Dingin 3 Efisiensi HE pada Laju Alir Air Dingin 6
liter/menit liter/menit
40 100
35 90
80
30
70
25
Efisiensi

Efisiensi

60
20 50
15 40
30
10
20
5 10
0 0
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8
Waktu (menit) Waktu (menit)

Laju Alir Air Panas 3 liter/menit Laju Alir Air Panas 3 liter/menit
Laju Alir Air Panas 6 liter/menit Laju Alir Air Panas 6 liter/menit

Kurva 4.13 Kurva 4.14

27
- Pengaruh Laju Alir Air Dingin terhadap Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
Shell & Tube Heat Exchanger pada Laju Alir Air Panas Tetap

Koefisien Perpindahan Panas Total (U) Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
pada Laju Alir Air Panas 3 liter/menit pada Laju Alir Air Panas 6 liter/menit
40.000 30.000
35.000
25.000
30.000
20.000
25.000
20.000 15.000
U

U
15.000
10.000
10.000
5.000
5.000
0.000 0.000
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8
Waktu (menit) Waktu(menit)

Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit
Laju Alir Air Dingin 6 liter/menit Laju Alir Air Dingin 6 liter/menit

Kurva 4.15 Kurva 4.16

- Pengaruh Laju Alir Air Panas terhadap Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
Shell & Tube Heat Exchanger pada Laju Alir Air Dingin Tetap

Koefisien Perpindahan Panas Total (U) Koefisien Perpindahan Panas Total (U)
pada Laju Alir Air Dingin 3 liter/menit pada Laju Alir Air Dingin 6 liter/menit
16.000 40.000
14.000 35.000
12.000 30.000
10.000 25.000
8.000
U

20.000
U

6.000 15.000
4.000 10.000
2.000 5.000
0.000 0.000
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8
Waktu(menit) Waktu (menit)

Laju Alir Air Panas 3 liter/menit Laju Alir Air Panas 6 liter/menit
Laju Alir Air Panas 3 liter/menit Laju Alir Air Panas 6 liter/menit

Kurva 4.17 Kurva 4.18

28
4.3 Pembahasan
A. Pembahasan oleh Abdul Faza Mahran
o Double Pipe Heat Exchanger
Berdasarkan tabel A yaitu pengaruh lajur alir air dingin terhadap efisiensi
double pipe heat exchanger pada lajur alir air panas tetap dapat disimpulkan bahwa
efisiensi lebih besar pada laju alir air dingin yang rendah. Hal tersebut dikarenakan
pada laju alir air dingin yang rendah, panas yang diterima oleh air dingin per laju
alir akan lebih banyak dibandingkan dengan laju alir air dingin yang lebih besar.
Namun, pada laju alir yang rendah nilai total koefisien perpindahan yang dimiliki
cenderung kecil karena hambatan panas untuk berpindah lebih kecil. Pada laju alir
air dingin yang lebih besar (7 liter/menit) memiliki nilai efisiensi yang lebih kecil
dan cenderung fluktuatif. Hal ini dikarenakan perpindahan panas yang akan diserap
oleh air dingin akan lebih sedikit, sedangkan beban pemanasan/medium untuk
berpindah lebih besar sehingga panas yang dipindahkan/diserap akan lebih sedikit
dan effisiensi dihasilkan kecil
Berdasarkan tabel B, pada laju air dingin tetap air terlihat bahwa effisiensi
memiliki nilai lebih besar pada laju air panas besar (8.92 liter/menit). Pada laju alir
tersebut kurva yang dihasilkan pun stabil dalam mengalami penaikkan effisiensi.
Hal tersebut karena semakin lama waktu kontak, media perpindahan panas telah
mengalami pemanasan pada waktu tertentu sehingga perpindahan yang terjadi akan
lebih maksimal dan tidak terdapat hambatan. Selain itu pada lajur alir air panas
besar, kalor lepas yang dilepas oleh air akan lebih besar karena tidak akan terjadi
akumulasi panas pada titik tertentu karena air terus mengalir dengan laju tinggi.
yang lebih kecil memiliki nilai efisiensi yang lebih besar. Walaupun pada laju air
panas sempat menyentuh effisiensi yang tinggi namun data tidak stabil dan
cenderung fluktuatif. Namun pada alir panas yang kecil ini koefisien perpindahan
panas lebih besar. Hal tersebut karena kalor yang dilepas dan diterima untuk
menaikkan suhu air dingin per satuan luas lebih banyak.
Selain itu pada double pipe heat exhanger 1 dimana memiliki nilai total heat transfer
koefisien lebih besar dibanding double pipe heat exchanger 2. Hal tersebut karena
double pipe heat exchanger 1 memiliki diameter lebih besar karena mengecilnya
luas permukaan mengakibatkan menaiknya nilai reynold dan pressure drop.
o Shell & Tube Heat Exhanger

29
Berdasarkan grafik, pada laju alir dingin lebih besar menunjukkan nilai total
heat transfer koefisien perpindahan panas yang lebih besar. Hal tersebut karena
kalor yang dipindahkan lebih banyak dan tidak ada akumulasi panas pada titik
tertentu karena laju alir besar. Selain itu hambatan panas untuk berpindah lebih
kecil. Sedangkan pada laju alir panas lebih besar menunjukkan nilai total heat
transfer koefisien yang cenderung kecil. Ketika laju alir air panas dan dingin
sebanding yaitu pada laju alir air dingin dan air panas 6 liter/menit menunjukkan
nilai total heat transfer yang lebih besar. Hal ini karena pada laju alir panas yang
sebanding dengan air dingin, ketika air panas melepas kalor , air dingin akan lebih
banyak menyerap kalor pada laju alir besar.

B. Pembahasan oleh Afifah Nur Aiman


Kurva 4.1 dan 4.2 menunjukkan perubahan efisiensi heat exchanger saat laju
alir air dingin beruubah dan laju alir air panas tetap dan kurva 4.3-4.5 menunjukkan
pengaruh perubahan laju alir air panas terhadap efisiensi DPHE dengan laju alir air
dingin tetap. Dari kurva tersebut, dapat diketahui bahwa selama perubahan waktu,
perpindahan panas yang terjadi tidak stabil dikarenakan adanya perubahan debit air
panas maupun air dingin yang tidak terkendali selama berjalannya waktu. Sehingga
untuk mengetahui pengaruh debit terhapa perpindahan panas, nilai efisiensi dan
koefisien perpindahan panas total dirata-ratakan dan dibuat kurva seperti dibawah
ini.

Pengaruh Laju Alir Air Dingin Pengaruh Laju Alir Air Dingin
terhadap Efisiensi Rata-rata pada terhadap Koefisien Perpindahan Panas
DPHE Keseluruhan Rata-rata pada DPHE
50 60
50
Efisiensi Rata-rata
Efisiensi Rata-rata

40
40
30
30
20
20
10 10
0 0
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8
Laju Alir Air Dingin Laju Alir Air Panas

Laju Alir Air Panas 8.92 l/menit Laju Alir Air Panas 8.92 l/menit
Laju Alir Air Panas 1.68 l/menit Laju Alir Air Panas 1.68 l/menit

Kurva diatas menunjukkan efisiensi dan koefisien perpindahan panas


keseluruhan rata-rata pada double pipe heat exchanger semakin besar jika laju alir

30
air panas lebih besar. Akan tetapi pada laju alir panas yang sama, efisiensi rata-rata
akan menurun saat laju alir air dingin dinaikkan.
Pada hasil praktikum ini, jika laju alir air panas dinaikkan, perpindahan panas
semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan teori dimana, semakin tinggi laju alir air maka
perpindahan panas akan semakin besar. Hal ini disebabkan jika laju alir air tinggi,
nilai Nre juga akan tinggi (turbulen). Jika aliran turbulen maka perpindahan panas
akan semakin besar (Geankoplis, 1978).
Pada penambahan laju alir air dingin, pada beberapa titik perpindahan panas
akan berkurang. Contoh saat laju alir air dingin dinaikkan menjadi 7 l/menit,
koefisien perpidahan panas berkurang. Hal ini disebabkan oleh penambahan laju
aliran sangat tinggi yang mengakibatkan waktu tinggal semakin berkurang sehingga
waktu untuk proses perpindahan panas menjadi lebih pendek. Jadi akan ada titik
dimana ketika laju alir air ditambahkan akan terjadi penurunan efisiensi maupun
koefisien perpindahan panasnya.
Sama seperti pada kurva DPHE, efisiensi dan koefisien perpindahan panas pada
kurva 4.11-4.18 tidak konstan selama perubahan waktu sehingga dibuat kurva
efisiensi dan koefisien perpindahan panas total rata-rata seperti dibawah ini.

Pengaruh Laju Alir Air terhadap Pengaruh Laju Alir Air terhadap
Efisiensi rata-rata pada STHE Koefisien Perpindahan Panas
Keseluruhan Rata-rata pada STHE
90
80 35
70 30
60 25
Efisiensi

Efisiensi

50 20
40
15
30
20 10
10 5
0 0
0 2 4 6 8 0 2 4 6 8
Laju alir air dingin Laju alir air dingin

Laju alir air panas 3 l/menit Laju alir air panas 3 l/menit
Laju alir air panas 6 l/menit Laju alir air panas 6 l/menit

Pada saat laju alir air panas 3 l/menit efisiensi dan koefisien perpindahan panas
saat laju alir air dingin 3 l/menit lebih rendah daripada saat 6 l/menit begitu pula
saat laju alir air panas dinaikkan menjadi 6 l/menit. Hal tersebut menunjukkan
bahwa semakin tinggi laju alir air dingin, perpindahan panas akan semakin tinggi.
Akan tetapi pada laju alir air dingin 3 l/menit, perpindahan panas saat laju air panas

31
tinggi lebih kecil. Seperti yang telah dijelaskan pada kurva DPHE, perpindahan
panas akan berkurang pada saat laju alir air dinaikkan karena waktu tinggal yang
lebih singkat.

C. Pembahasan oleh Agus Hermawan


- Double Pipe Heat Exchanger

Berdasarkan kurva 4.1 dan 4.2, nilai efisiensi rata-rata yang tertinggi adalah
pada laju alir panas tetap 1,68 liter/menit(laju alir panas tetap yang terendah) dan
laju alir dingin terendah(3 liter/menit). Hal ini dikarenaka pada laju alir air dingin
& laju alir air panas yang rendah dapat memberikan waktu kontak yang relatif lebih
lama. Waktu kontak yang lebih lama ini pun dapat mengakibatkan panas yang
terserap akan lebih banyak, sehingga efisiensi perpindahan panas pada DPHE akan
lebih tinggi. Begitupun yang terjadi pada kurva 4.3, 4.4 dan 4.5 (variasi laju alir air
dingin tetap dan laju alir air panas berubah-ubah). Efisiensi rata-rata yang tertinggi
adalah pada kurva laju air dingin tetap 3 liter/menit dan laju alir air panas 1,68
liter/menit. Seperti pada kurva 4.1 dan 4.2, efisiensi tertinggi terjadi pada saat
pengoperasian laju alir air dingin & laju alir air panas yang terendah, karena pada
laju alir air panas yang lebih rendah, panas yang dilepas akan lebih banyak karena
terjadi kontak yang efektif.

Pada kurva 4.6 dan 4.7 didapat, nilai koefisien perpindahan panas total (U)
yang tertinggi adalah pada kurva 4.7 (laju alir panas tetap yang terendah). Hal ini
dikarenakan kalor yang dilepas untuk menaikkan suhu air yang lebih dingin lebih
banyak.

Pada kurva 4.8, 4.9, 4.10, U yang tertinggi adalah pada kurva 4.10 (laju alir
air dingin tetap 7 liter/menit & laju alir air panas 8,92 liter/menit), hal ini
dikarenakan pada laju alir air dingin yang lebih tinggi memiliki efisiensi yang
rendah, sehingga panas yang diserap akan lebih sedikit. Hal ini berkebalikan dengan
kurva 4.3, 4.4, dan 4.5 yang mempunyai efisiensi terbesar pada laju alir air panas
terendah & laju alir air dingin terendah.

32
- Shell and Tube Heat Exchanger

Pada kurva 4.11 dan 4.12, efisiensi rata-rata terbesar adalah pada kurva 4.11
(laju alir air panas tetap terendah & laju alir air dingin tertinggi), seharusnya
efisiensi rata-rata tertinggi terdapat pada laju alir air dingin yang terendah. Hal ini
dikarenakan ketergantungan dari kodisi suhu masuk dan keluaran heat exchanger.
Hal yang serupa juga terjadi pada kurva 4.14, efisiensi teringgi pada laju alir air
dingin tetap tertinggi dan laju alir air panas terendah (seharusnya terjadi pada laju
alir air dingin tetap terendah).

Konstanta perpindahan panas total (U) rata-rata tertinggi adalah pada kurva
4.17 (pada laju alir air panas tertinggi). Menurut teori pada STHE 1-2 semakin besar
laju alir fluida panas, maka nilai LMTD mengalami peningkatan. Nilai LMTD
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap efisiensi.

33
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa
1) Efisiensi dan koefisien perpindahan panas total rata-rata pada DPHE sebagai
berikut

Laju Alir Air Laju Alir Air rata-rata U rata-rata


Panas (L/m) Dingin (L/m) (%) (W/m2K)
8,92 3 8.8 53.08294
8,92 5 28.8 20.61256
8,92 7 26 7.96096
1,68 3 28 2.343275
1,68 5 23 8.01635
1,68 7 26 4.946925
2) Efisiensi dan koefisien perpindahan panas total rata-rata pada STHE sebagai berikut
Laju Alir Air Laju Alir Air rata-rata U rata-rata
Panas (L/m) Dingin (L/m) (%) (W/m2K)
8,92 3 38.8 53.08294
8,92 5 28.8 20.61256
8,92 7 26 7.96096
1,68 3 28 2.343275
1,68 5 23 8.01635
1,68 7 26 4.946925
3) Pada percobaan ini semakin tinggi laju alir air maka perpindahan panas semakin
besar. Akan tetapi pada laju alir air yang sangat tinggi, perpindahan panas
berkurang karena waktu tinggal yang lebih pendek.

5.2 Saran
Selama praktikum disarankan untuk selalu melihat rotameter karena laju alir
dapat berubah secara tiba-tiba. Selain itu, valve untuk mengalirkan alir ke cooling tower
harus selalu dibuka agar air dapat disirkulasi sehingga air untuk proses tidak habis.

34
DAFTAR PUSTAKA

Bizzy, I. Setiadi, R. 2013. Studi Perhitungan Alat Penukar Kalor Tipe Shell and Tube Dengan
Programheat Transfer Research INC.( HTRI ). Palembang: Universitas Sriwijaya

Chemipul. 2015. Heat Exchanger : Alat Penukar Panas.


http://chemicalengineeringnow.blogspot.co.id/2015/03/heat-exchanger-alat-penukar-
panas.html (Diakses 16 Oktober 2017).

Geankoplis, Christie J. 1978. Transport Procss and Unit Operations 3rd ed. London: Prentice-
Hall International Inc

Incopera, Frank P and de Witt. 1990. Fundamentals of Heat Mass Transfer. Michigan
University-Wiley.

Mc Cabe. W L Smith. JC, Harriot P. Unit operation of Chemical Engineering 6th ed. Mc Graw-
Hill. New York. 1985. Chapter 11, 12, 15

Veriyawan, Rifnaldi dkk.2014. Optimasi Desain Heat Exchanger Shell-And- Tube


Menggunakan Metode Particle Swarm Optimization. Surabaya: Institut Teknologi
Sepuluh November

_____. 2016. Double Pipe Heat Exchanger. https://www.scribd.com/doc/314600136/Double-


Pipe-Heat-Exchanger (Diakese 16 Oktober 2017)

35
LAMPIRAN

1. Perhitungan
A. Doble Pipe Heat Exchanger
- Massa air berdasarkan suhu menggunakan interpolasi nilai

Laju Alir Laju Alir Air Panas Air Dingin


Air m Air m Waktu
Panas (kg/l) (kg/menit) Dingin (kg/l) (kg/menit) (menit) T in Tout T in Tout
(L/menit) (L/menit) (oC) (oC) (oC) (oC)

0.9877 8.8103 0.9947 2.9841 0 50 45 33 41


0.9856 8.7916 0.9922 2.9766 2 55 49 40 52.5
8.92 0.9851 8.7871 3 0.9918 2.9754 4 56 50 41 54
0.9846 8.7826 0.9909 2.9727 6 57 51 42 56
0.9873 8.8067 0.9929 2.9787 8 57 50 38 56
0.9885 8.8174 0.994 4.9700 0 46 40 30 33
0.9909 8.8388 0.9956 4.9780 2 42 37 30 34
8.92 0.9913 8.8424 5 0.9958 4.9790 4 41 36 29 35
0.9917 8.8460 0.9958 4.9790 6 40 35 29 32
0.9917 8.8460 0.9966 4.9830 8 40 35 26 34
0.9893 8.8246 0.9966 6.9762 0 46 42 26 29
0.9897 8.8281 0.9966 6.9762 2 45 41 26 28
8.92 0.9877 8.8103 7 0.9966 6.9762 4 50 45 26 30
0.9861 8.7960 0.9966 6.9762 6 54 48 26 30
0.9877 8.8103 0.9966 6.9762 8 50 45 26 30
0.9917 1.6661 0.9961 2.9883 0 40 37 28 29
0.9929 1.6681 0.9961 2.9883 2 38 36 28 29
1.68 3
0.9929 1.6681 0.9961 2.9883 4 38 36 28 29
0.9936 1.6692 0.9961 2.9883 6 36 34 28 29
0.9936 1.6692 0.9971 4.9855 0 36 30 24 26
0.9877 1.6593 0.9971 4.9855 2 40 30 24 26
1.68 5
0.9913 1.6654 0.998 4.9900 4 41 29 21 24
0.9913 1.6654 0.9974 4.9870 6 41 30 23 26
0.9909 1.6647 0.9966 6.9762 0 42 32 26 27
0.9909 1.6647 0.9966 6.9762 2 42 31 26 27
1.68 7
0.9901 1.6634 0.9966 6.9762 4 44 30 26 27
0.9909 1.6647 0.9966 6.9762 6 42 30 26 27

36
- Efisiensi DPHE

Air Panas Air Dingin


Waktu Laju Mass Laju Qterim Efisien
Cp Qlepas Massa Cp
(menit Alir a T kJ Alir T a si
) kJ (%)
(K) (K)
. .

0 8.810 3.560 5 156.84 2.984 4.1781 8 99.74 63.60

2 8.792 4.183 6 220.66 2.977 4.1788 12.5 155.48 70.46

4 8.92 8.787 4.184 6 220.57 3 2.975 4.1789 13 161.64 73.28

6 8.783 4.184 6 220.48 2.973 4.179 14 173.92 78.88

8 8.807 4.184 7 257.93 2.979 4.1786 18 224.04 86.86

0 8.817 3.864 6 204.42 4.970 4.1783 3 62.30 30.48

2 8.839 4.178 5 184.65 4.978 4.1783 4 83.20 45.06

4 8.92 8.842 4.244 5 187.61 5 4.979 4.1788 6 124.84 66.54

6 8.846 4.319 5 191.05 4.979 4.1788 3 62.42 32.67

8 8.846 4.319 5 191.05 4.983 4.1798 8 166.62 87.22

0 8.825 3.864 4 136.39 6.976 4.1798 3 87.48 64.14

2 8.828 3.940 4 139.13 6.976 4.1798 2 58.32 41.92

4 8.92 8.810 3.560 5 156.84 7 6.976 4.1798 4 116.64 74.37

6 8.796 3.257 6 171.88 6.976 4.1798 4 116.64 67.86

8 8.810 3.560 5 156.84 6.976 4.1798 4 116.64 74.37

0 1.666 4.319 3 21.59 2.988 4.1796 1 12.49 57.85

2 1.68 1.668 4.471 2 14.92 3 2.988 4.1796 1 12.49 83.73

4 1.668 4.471 2 14.92 2.988 4.1796 1 12.49 83.73

37
6 1.669 4.623 2 15.43 2.988 4.1796 1 12.49 80.93

0 1.669 4.623 6 46.30 4.986 4.1803 2 41.68 90.02

2 1.659 4.319 10 71.67 4.986 4.1803 2 41.68 58.16


1.68 5
4 1.665 4.319 12 86.32 4.990 4.1812 3 62.59 72.51

6 1.665 4.244 11 77.74 4.987 4.1807 3 62.55 80.46

0 1.665 4.178 10 69.55 6.976 4.1798 1 29.16 41.92

2 1.665 4.178 11 76.51 6.976 4.1798 1 29.16 38.11


1.68 7
4 1.663 4.016 14 93.52 6.976 4.1798 1 29.16 31.18

6 1.665 4.168 12 83.25 6.976 4.1798 1 29.16 35.02

- Koefisien Perpindahan Panas Keseluruhan

Air Panas Air Dingin


Laju Alir Laju Alir U
Waktu LMTD
Air Panas Air Dingin
(menit) T in Tout T in Tout (oC) (2.)
(L/menit) (L/menit)
(oC) (oC) (oC) (oC)

0 50 45 50 45 10.43 14.6474
2 55 49 55 49 5.07 46.9226
8.92 3 4 56 50 56 50 4.65 53.1875
6 57 51 57 51 3.64 73.1514
8 57 50 57 50 4.43 77.5058
0 46 40 46 40 11.43 8.3435
2 42 37 42 37 7.49 17.0131
8.92 5 4 41 36 41 36 6.49 29.4698
6 40 35 40 35 6.95 13.7494
8 40 35 40 35 7.40 34.4870
0 46 42 46 42 16.49 8.1214
2 45 41 45 41 15.98 5.5890
8.92 7
4 50 45 50 45 19.50 9.1618
6 54 48 54 48 22.99 7.7708

38
8 50 45 50 45 19.50 9.1618
0 40 37 40 37 9.97 1.9191
2 38 36 38 36 8.49 2.2528
1.68 3
4 38 36 38 36 8.49 2.2528
6 36 34 36 34 6.49 2.9484
0 36 30 36 30 7.83 8.1517
2 40 30 40 30 9.44 6.7605
1.68 5
4 41 29 41 29 11.94 8.0280
6 41 30 41 30 10.50 9.1252
0 42 32 42 32 9.82 4.5462
2 42 31 42 31 9.10 4.9058
1.68 7
4 44 30 44 30 8.98 4.9701
6 42 30 42 30 8.32 5.3656

B. Shell And Tube Heat Exchanger


- Massa Air

Laju Alir Laju Alir


Air Panas Air Dingin
Air m Air m Waktu
Panas (kg/l) (kg/menit) Dingin (kg/l) (kg/menit) (menit) T in Tout T in Tout
(L/menit) (L/menit) (oC) (oC) (oC) (oC)
0.9893 2.9679 0.9977 2.9931 0 46 29 22 28
0.9877 2.9631 0.9958 2.9874 2 50 34 29 33
3 3
0.9851 2.9553 0.9958 2.9874 4 56 35 29 34
0.9841 2.9523 0.9966 2.9898 6 58 33 26 32

0.9885 2.9655 0.9966 5.9796 0 48 35 26 31

0.9893 2.9679 0.9966 5.9796 2 47 33 26 32


3 6
0.9885 2.9655 0.9966 5.9796 4 48 35 26 31

0.9913 2.9739 0.9966 5.9796 6 51 36 26 32

0.9917 5.9502 0.9964 2.9892 0 40 36 27 29

6 0.9917 5.9502 3 0.9964 2.9892 2 40 36 27 28

0.9917 5.9502 0.9964 2.9892 4 40 36 27 29

39
0.9929 5.9574 0.9964 2.9892 6 39 34 27 28

0.9909 5.9454 0.9964 5.9784 0 42 32 27 29

0.9929 5.9574 0.9964 5.9784 2 39 32 27 30


6 6
0.9929 5.9574 0.9964 5.9784 4 39 32 27 31

0.9932 5.9592 0.9964 5.9784 6 37 32 27 30

- Efisiensi HE

Air Panas Air Dingin


Waktu Laju Mass Qlepa Laju Qterim Efisiens
Cp Massa Cp
(menit Alir a T s Alir T a i

) (K) kJ (K) kJ (%)
. .

0 2.967 4.180 17 210.9 2.9931 4.181 6 75.08 35.5998

2 2.963 4.181 16 198.2 2.9874 4.179 4 49.93 25.1875


3 3
4 2.955 4.184 21 259.6 2.9874 4.179 5 62.41 24.0382

6 2.952 4.184 25 308.8 2.9898 4.180 6 74.98 24.2775

0 2.965 4.181 13 161.2 5.9796 4.180 5 124.96 77.533

2 2.967 4.181 14 173.7 5.9796 4.180 6 149.96 86.3302


3 6
4 2.965 4.181 13 161.2 5.9796 4.180 5 124.96 77.533

6 2.973 4.182 15 186.5 5.9796 4.180 6 149.96 80.3893

0 5.950 4.179 4 99.5 2.9892 4.179 2 24.99 25.1221

2 5.950 4.179 4 99.5 2.9892 4.179 1 12.49 12.561


6 3
4 5.950 4.179 4 99.5 2.9892 4.179 2 24.99 25.1221

6 5.957 4.179 5 124.5 2.9892 4.179 1 12.49 10.0372

0 5.945 4.168 10 247.8 5.9784 4.179 2 49.97 20.168

2 6 5.957 4.179 7 174.3 6 5.9784 4.179 3 74.96 43.0164

4 5.957 4.179 7 174.3 5.9784 4.179 4 99.94 57.3553

40
6 5.959 4.179 5 124.5 5.9784 4.179 3 74.96 60.2063

- Koefisien Perpundahan Panas Keseluruhan (U)

Laju Alir
Laju Alir U
Air Waktu LMTD
Air Panas Y Z Ft Tm
Dingin (menit) (oC) (.)
(L/menit)
(L/menit)
0 4.587 0.25 2.83 0.92 4.220 13.371
2 4.829 0.19 4.00 0.76 3.670 13.421
8.92 3 4 5.771 0.19 4.20 0.86 4.946 12.805
6 6.453 0.19 4.17 0.85 5.485 13.699
8 3.847 0.23 2.60 0.85 3.270 31.594
0 3.847 0.29 2.33 0.81 3.116 31.647
2 3.847 0.23 2.60 0.86 3.309 31.227
8.92 5 4 4.096 0.24 2.50 0.84 3.441 34.122
6 2.885 0.15 2.00 1.00 2.885 10.576
8 2.731 0.08 4.00 1.00 2.731 11.175
0 2.885 0.15 2.00 0.98 2.828 10.792
2 2.885 0.08 5.00 0.98 2.828 9.962
8.92 7 4 3.847 0.13 5.00 0.95 3.655 19.269
6 2.885 0.25 2.33 0.82 2.366 23.812
8 2.731 0.33 1.75 0.83 2.266 24.857
0 2.885 0.30 1.67 0.90 2.597 18.079
2 4.587 0.25 2.83 0.92 4.220 13.371
1.68 3
4 4.829 0.19 4.00 0.76 3.670 13.421
6 5.771 0.19 4.20 0.86 4.946 12.805
0 6.453 0.19 4.17 0.85 5.485 13.699
2 3.847 0.23 2.60 0.85 3.270 31.594
1.68 5
4 3.847 0.29 2.33 0.81 3.116 31.647
6 3.847 0.23 2.60 0.86 3.309 31.227
0 4.096 0.24 2.50 0.84 3.441 34.122
1.68 7
2 2.885 0.15 2.00 1.00 2.885 10.576

41
4 2.731 0.08 4.00 1.00 2.731 11.175
6 2.885 0.15 2.00 0.98 2.828 10.792

2. Skema Alat

42
3. Tugas Tambahan (menambahkan tanda valve pada alat DPHE dan STHE)

43