Anda di halaman 1dari 8

Critical Review Program

Nusantara Sehat 2015


10 Juni 2015 22:46 Diperbarui: 17 Juni 2015 06:07 5540 0 0
Critical Review Program Nusantara Sehat 2015

Oleh: A. Saputri Mulyana*

*Mahasiswa Program Magister Fakultas Ilmu Keperawatan, Kekhususan


Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Universitas Indonesia. 2015

Lahirnya program Nusantara Sehat 2015 dilatarbelakangi oleh


pelayanan kesehatan di Indonesia yang tidak merata, sehingga dianggap perlu
upaya untuk mencapai pembangunan kesehatan secara nasional (Permenkes RI
N0. 23 tahun 2015 tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Berbasis Tim
dalam Mendukung Program Nusantara Sehat).

Realita menunjukkan, terjadi ketidakmerataan distribusi tenaga kesehatan, baik


dari segi kualitas, jumlah, maupun jenis tenaga kesehatan. Kondisi ini semakin
memprihatinkan pada daerah-daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan
(DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan (DBK). Padahal, kesehatan adalah
hak seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, bagaimanapun, sudah seharusnya
pemerintah bertanggung jawab agar masyarakat Indonesia tetap memperoleh
pelayanan kesehatan yang berkualitas. Sebagaimana yang telah tertuang pada
UUD 1945 pasal 28H, bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan
kesehatan.

Namun, untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan yang berkualitas


sebagaimana mestinya, program Nusantara Sehat 2015 perlu ditinjau kembali.
Jika merujuk pada tujuan dibentuknya program ini, yaitu menguatkan layanan
kesehatan primer melalui peningkatan jumlah, sebaran, komposisi, dan mutu
tenaga kesehatan lintas profesi (dengan melibatkan dokter, perawat, dan tenaga
kesehatan lainnya) ke puskesmas-puskesmas pada daerah DTPK dan DBK,
maka dapat ditarik benang merahnya, bahwa dalam implementasi program
tersebut, pemerintah menitikberatkan pada 2 (dua) hal, yaitu ketersediaan
tenaga kesehatan dan upaya untuk menjaga kualitas tenaga sebelum bertugas
pada daerah khusus tersebut (https://nusantarasehat.kemkes.go.id).

UU No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan pada pasal 15 menyatakan


bahwa dalam menyusun perencanaan tenaga kesehatan, salah satu faktor yang
perlu diperhatikan selain jenis, kualifikasi, jumlah, pengadaan, dan distribusi
tenaga kesehatan adalah ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan. Kebijakan
pemerintah terkait program Nusantara Sehat seolah luput dengan pasal 15
tersebut. Padahal, ketersediaan fasilitas juga menjadi salah satu poin penting
dalam peningkatan kualitas sistem pelayanan.

Hasil studi yang dilakukan oleh Bata, dkk. (2013) menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien. Dimana salah satu
indikator dari kualitas pelayanan yang dimaksud adalah ketersediaan sarana dan
prasarana kesehatan. UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan,
mempertegas bahwa fasilitas pelayanan kesehatan merupakan suatu alat
dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan
kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan
oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

Alasan ini semakin diperkuat oleh Permenkes No .75 tahun 2014 tentang
puskesmas. Pada pasal 7 (tujuh) dinyatakan bahwa dalam melakukan upaya
pembangunan kesehatan, puskesmas harus menyelenggarakan pelayanan
kesehatan dasar secara komprehensif, berkesinambungan, dan bermutu. Untuk
mewujudkan hal itu, maka dalam pendirian Puskesmas harus memenuhi
persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, peralatan kesehatan, ketenagaan,
kefarmasian dan laboratorium. Sehingga, dalam memaksimalkan upaya
pemerintah untuk menciptakan sistem pelayanan kesehatan secara nasional
melalui program Nusantara Sehat, dimana target wilayah kerjanya adalah
puskesmas-puskesmas di daerah terpencil, ketersediaan fasilitas kesehatan
sangat perlu dipertimbangkan, selain ketersediaan dan kualitas tenaga
kesehatan.

Usman (2009) dalam hasil studinya mendapatkan sebuah realita bahwa dalam
kurun tahun 2000-2005, lokasi pembangunan fasilitas kesehatan baru,
kebanyakan ditempatkan di desa-desa yang tergolong sejahtera, yang pada
umumnya menjadi ibukota kecamatan. Adapun bentuk fasilitas kesehatan yang
dikembangkan adalah dalam kategori fix facility (fasilitas tetap, tidak bergerak).
Karakteristik pelayanan kesehatan pada kategori ini cenderung bersifat pasif,
yang memicu tenaga kesehatan setempat menjadi kurang proaktif. Lebih banyak
menunggu kebutuhan masyarakat. Mereka baru terlihat aktif ketika terjadi
epidemi atau kejadian yang mengancam masyarakat. Pendayagunaan fasilitas
tidak menuntut pelayanan kesehatan yang mendekatkan kepada masyarakat
sebagai pasien. Kondisi ini mengindikasikan bahwa upaya untuk menciptakan
pemerataan pelayanan kesehatan menjadi sulit untuk direalisasikan.

Selain itu, UU No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan pada pasal 27 juga
memberikan pertimbangan tersendiri untuk meninjau kembali program
Nusantara Sehat 2015. Pasal 27 tersebut menguraikan bahwa tenaga kesehatan
yang bertugas di daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan, serta daerah
bermasalah kesehatan, selain memperoleh perlindungan dalam pelaksanaan
tugas, mereka juga berhak memperoleh hak kenaikan pangkat istimewa.

Namun, jika merujuk pada Permenkes Republik Indonesia No. 23 tahun 2015
tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Berbasis Tim (Team Based)
dalam Mendukung Program Nusantara Sehat, tenaga kesehatan yang telah
berkontribusi, tidak memperoleh hak kenaikan pangkat istimewa sebagaimana
yang tertuang pada UU No. 36 pasal 27 tersebut. Setelah menyelesaikan masa
penugasan, mereka hanya diberikan surat keterangan selesai masa penugasan
oleh Kementerian Kesehatan. Padahal, para tenaga kesehatan yang akan
melibatkan diri pada program tersebut harus mengiyakan beberapa persyaratan
yang seolah ikut bersaing dengan medan kerja yang tentu cukup menantang.
Diantaranya adalah tidak terikat kontrak kerja dengan instansi pemerintah
maupun swasta dan pernyataan bersedia meninggalkan pekerjaan tersebut
apabila masih terikat kontrak dengan pemerintah maupun swasta. Artinya,
mereka harus melepas segala bentuk pekerjaannya sebelum memutuskan untuk
melibatkan diri sebagai tenaga kesehatan untuk mensukseskan program
tersebut. Lantas, dimana bentuk apresiasi pemerintah terhadap masa depan
kepada mereka yang akan terjun langsung dalam membangun kesehatan
nasional dari daerah pinggiran?

Ayuningtyas (2014) mengemukakan bahwa dalam melakukan analisis


kebijakan, salah satu tahap yang perlu dilakukan setelah merumuskan masalah
adalah melakukan peramalan (forecasting). Terkait kebijakan program
Nusantara Sehat, maka penulis merumuskan 2 (dua) poin berikut, sebagai bahan
analisis sejauh mana program tersebut dapat menjawab kesenjangan yang telah
diuraikan sebelumnya.
Pertama, pemerintah tidak menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan
dalam penerapan program Nusantara Sehat. Jika hal ini dibiarkan tanpa ada
upaya serius dari pemerintah, maka tujuan/harapan pemerintah untuk
meningkatkan sistem kesehatan di seluruh penjuru Indonesia akan sulit
diwujudkan.

Lahirnya program Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang telah lebih dulu
dikeluarkan oleh pemerintah, dapat menjadi bahan pembanding untuk
menganalisis program Nusantara Sehat ini. Kedua program tersebut setidaknya
hampir memiliki kesamaan misi, yaitu mendistribusikan tenaga kesehatan medis
dan bidan di daerah-daerah tertinggal, sebagaimana yang tertuang pada
Permenkes No. 7 tahun 2013 tentang Pedoman Pengangkatan dan Penempatan
Dokter dan Bidan sebagai Pegawai Tidak Tetap. Kondisi yang terjadi di
lapangan memperlihatkan bahwa sebagian tenaga kesehatan yang bertugas tidak
dapat memaksimalkan kewajibannya dalam memberikan pelayanan kesehatan
di puskesmas karena keterbatasan fasilitas. Sehingga, pengaruh hadirnya
program PTT terhadap peningkatan pelayanan kesehatan di daerah terpencil
tidak memberikan dampak yang cukup signifikan.

Poin yang kedua, jika tenaga kesehatan tidak memperoleh hak kenaikan
pangkat istimewa yang bertugas pada daerah Tertinggal, Perbatasan dan
Kepulauan (DTPK) serta pada Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK), maka
kemungkinan yang dapat terjadi adalah kurang maksimalnya pendistribusian
para klinisi untuk melibatkan diri sebagai tenaga kesehatan pada program
tersebut. Mengingat bahwa persyaratan yang ditawarkan cukup sulit, sementara
mereka akan ditempatkan bukan pada daerah yang aman, apalagi nyaman.
Larangan menikah, keharusan untuk menghentikan kontrak kerja (bagi yang
sebelumnya pernah bekerja), tentu menjadi pertimbangan tersendiri bagi
seorang calon tenaga kesehatan sebelum memutuskan bertugas pada daerah
tersebut. Dan setelah masa kerja habis, mereka tidak memperoleh jaminan/hak
istimewa selain surat keterangan bukti tugas.

Sejumlah penelitian menunjukkan tentang pentingnya


pemberian reward kepada tenaga kesehatan, terutama yang bertugas khusus di
daerah terpencil/tertinggal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Riyadi, dkk.
(2005), ada 3 (tiga) jenis insentif yang paling diharapkan oleh tenaga kesehatan.
Baik yang bekerja di daerah kecamatan terpencil maupun tidak terpencil. 92,3%
mengharapkan gaji/tunjangan, 69,2% mengharapkan ketersediaan fasilitas, dan
59% mengharapkan peningkatan karir. Persentase ini diperoleh dari tenaga
kesehatan yang bekerja di daerah terpencil. Lebih rinci lagi, Riyadi, dkk. (2005)
melaporkan bahwa terkhusus tenaga kesehatan yang ditempatkan di daerah
terpencil, peningkatan karir yang dimaksud adalah misalnya kenaikan pangkat,
pengangkatan sebagai PNS, atau adanya percepatan masa bakti. Berdasarkan
data tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketiga harapan itu menjadi hal yang
perlu dipertimbangkan oleh pemerintah dalam melakukan perencanaan tenaga
kesehatan, terutama yang akan ditugaskan di daerah tertinggal.

Rumusan tersebut tentu menjadi acuan dalam merumuskan alternatif solusi


terkait lahirnya program Nusantara Sehat 2015 yang baru saja dilahirkan. Oleh
karena itu, penulis merekomendasikan 2 (dua) hal agar dalam penerapan
kebijakan Nusantara Sehat 2015 dapat memberikan manfaat yang lebih
maksimal. Pertama, niat baik pemerintah untuk meningkatkan pelayanan
kesehatan secara merata di seluruh lapisan Indonesia melalui program
Nusantara Sehat, perlu dilakukan upaya serius untuk mewujudkannya. Secara
konkrit, perlu alokasi dana khusus untuk memaksimalkan program tersebut.
Baik untuk pendistribusian tenaga kesehatan yang berkualitas maupun untuk
ketersediaan sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan yang akan menunjang
pemberian pelayanan kesehatan.

Lebelisasi daerah tertinggal, jangan sampai menjadi kambinghitam sebagai


alasan tidak perlunya ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang memadai.
Jika merujuk pada APBN Konstitusi bidang kesehatan tahun 2014, diketahui
bahwa alokasi anggaran kesehatan pada tahun 2014 mencapai 2,4% dari APBN
atau senilai Rp. 44.859 M. Salah satu sasaran kebijakan dalam APBN Konstitusi
Bidang Kesehatan dan Jaminan Sosial adalah peningkatan distribusi anggaran
untuk program yang bersifat belanja modal dan belanja pembangunan sebesar
60% dengan distribusi belanja modal dan pembangunan sebesar 50% untuk
program yang berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan, 30% untuk peningkatan sarana dan prasarana penunjang kesehatan,
dan 20% untuk peningkatan kualitas SDM tenaga kesehatan. Besar harapan agar
pengalokasian dana tersebut benar-benar disalurkan sesuai peruntukannya. Dan
menjadi catatan khusus bagi pemerintah terutama dalam memaksimalkan
pencapaian tujuan dari perumusan Program Nusantara Sehat 2015.

Sebagai rekomendasi kedua, pemerintah perlu memberikan hak istimewa


kepada para tenaga kesehatan yang telah bersedia mengabdikan diri untuk
bertugas pada daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) serta pada
Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Setelah masa kerja mereka telah habis (2
tahun), para tenaga kesehatan itu diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)
dalam lingkup Kementerian Kesehatan. Adapun penempatan kerja selanjutnya
diserahkan kepada pihak yang bersangkutan. Sehingga, dalam menjalankan
tugas selama di daerah tertinggal tersebut, mereka dapat memaksimalkan diri.
Program Nusantara Sehat 2015 perlu ditinjau kembali untuk dapat
memperhatikan semua aspek demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Tidak
hanya fokus pada pendistribusian tenaga kesehatan ke daerah terpencil, tapi
juga fokus pada ketersediaan fasilitas yang akan menunjang dan
memaksimalkan pelayanan kesehatan di daerah tersebut, sebagaimana yang
termaktub pada UUD 1945 dan UU No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan. Selain itu, pemerintah juga harus memberikan pangkat istimewa
kepada para tenaga kesehatan yang telah menjalankan tugas khusus pada daerah
tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan
(DBK). Dengan demikian, pada akhirnya akan memberikan kesimpulan
sederhana bahwa tidak akan ada lagi alasan tentang ketidakmerataan kesehatan
di Indonesia. Rakyat Indonesia harus sehat, di mana pun.

Referensi
Ayuningtyas, Dumilah. (2014). Kebijakan Kesehatan (Prinsip dan
Praktik). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Bata, dkk. (2013). Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan


Pasien Pengguna ASKES Sosial pada Pelayanan Rawat Inap di RSUD
Lakipadada Kabupaten Tana Toraja. Makassar: Universitas Hasanuddin.

UU No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan

UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

Usman, dkk. Strategi Penciptaan Pelayanan Kesehatan Dasar untuk


Kemudahan Akses Penduduk Desa Miskin. Jogjakarta: UGM.

Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Republik Indonesia No. 7 tahun 2013


tentang Pedoman Pengangkatan dan Penempatan Dokter dan Bidan sebagai
Pegawai Tidak Tetap.

Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Republik Indonesia No.75 tahun 2014


tentang Puskesmas.

Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2015


tentang Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Berbasis Tim (Team Based)
dalam Mendukung Program Nusantara Sehat.
Saputra, Wiko. 2014. APBN Bidang Kesehatan dan Jaminan Sosial
Kesehatan. Jakarta: Prakarsa

Riyadi, dkk. (2005). Laporan Kajian Kebijakan Perencanaan Tenaga Kesehatan.


Jakarta: Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

https://nusantarasehat.kemkes.go.id/index.php/tentang-kami/sekilas-nusantara-
sehat, diakses pada tanggal 31 Mei 2015