Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS KREATININ DAN UREA DALAM URINE

TUJUAN
Menganalisis kreatinin dan urea dalam urine

LANDASAN TEORI
Kreatinin adalah produk sisa metabolisme yang dihasilkan oleh pemecahan kreatin
otot. Kadar kreatinin serum menunjukkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi oleh
ginjal. Kadar kreatinin merupakan indikator fungsi ginjal yang lebih akurat. Kadar kreatinin
serum akan meningkat sesuai penurunan fungsi ginjal (Horne, 1993).
Urea adalah senyawa organik yang ditemukan dalam urin yang berhasil disintesis oleh
Wohler pada awal abad ke-19. Rumus molekul urea yakni CO(NH 2)2 (Campbell, 1999). Urea
berdifusi bebas masuk ke dalam cairan intrasel dan ekstrasel. Zat ini dipekatkan dalam urine
untuk diekskresikan. Kadar dalam darah mencerminkan keseimbangan antara produksi dan
ekskresi urea (Sacher, 2002).
Kreatinin bereaksi dengan reagen alkali prikat untuk membentuk larutan berwarna
orange-merah yang dapat diukur menggunakan spektrofotometer. Panjang gelombang yang
digunakan yakni 490 nm (Ochei, 2000).
Penentuan urea dapat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri
dan potensiometri. Metode Berthelot digunakan untuk menentukan senyawa urea dalan
larutan serum kontrol. Hasil hidrolisis urea dengan urease menghasilkan amonia dan
karbondioksida. Ion amonium yang terbentuk bereaksi dengan hipoklorit dan salisilat
membentuk larutan kuning kehijau-hijauan yang dapat diukur secara spektrofotometri
(Khairi, 2005).
Nilai rujukan untuk kreatinin adalah 0,6 sampai 1,3 mg/dL untuk laki-laki dan 0,5
sampai 1,0 mg/dL untuk perempuan. Konsentrasi BUN (nitrogen urea darah) serum normal
adalah sekitar 5 sampai 20 mg/dL (Sacher, 2002).
Spektrofotometer UV-Visibel digunakan untuk mengukur absorbansi pada spectrum
daerah UV dan visible. Instrument ini merupakan bentuk colorimeter yang dapat
menyediakan cahaya monokromatis. Prisma akan memecah cahaya menjadi komponen
warnanya dan dapat langsung menjadi cahaya monokromatis dari larutan sampel yang
dianalisis. Sorotan cahaya mengandung kekuatan foton. Saat foton mengenai molekul analit,
analit akan mengadsorp foton, sehingga jumlah foton berkurang (Nair, 2007).
Spektrofotometer UV-Vis ditampilkan sebagai nilai A (absorbansi) atau e (absorptifitas molar,
L.cm-1.mol-1) pada sumbu ordinat (Y) dan nilai l (panjang gelombang, nm) pada sumbu absis
(X) (Murhadi, 2004).

ALAT DAN BAHAN


k.wr 14
Alat-alat yang dibutuhkan pada percobaan ini meliputi labu takar 100 ml, labu takar
25 ml, pipet ukur 1 ml, pipet ukur 5 ml, pipet ukur 10 ml, pipet tetes, pipet pump, gelas
beker, wadah sampel (botol plastik), dan kuvet.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini meliputi larutan stok
kreatinin 1000 ppm, larutan stok urea 500 ppm, larutan asam pikrat 0,036 M, larutan NaOH
1,4 M, alkohol 96%, larutan HCl 1 M, sampel urine segar, akuades, dan p-
dimetilaminbenzaldehid.

CARA KERJA
Analisis Kreatinin
Larutan blanko dibuat dengan 3 ml akuades, 1 ml asam pikrat 0,036 M, dan
0,5 ml NaOH 1,4 M yang dicampur dan dikomplekskan 15 menit. Penentuan
maksimum dilakukan dengan 3 ml larutan kreatinin 10 ppm, 1 ml asam pikrat 0,036
M, dan 0,5 ml NaOH 1,4 M yang dicampur dan dikomplekskan 15 menit. Larutan
diukur absorbansinya pada 470 515 nm dengan interval 5 nm. Setelah itu dibuat
grafik vs A untuk menentukan maksimum.
2 ml larutan kreatinin 1000 ppm diambil dan diencerkan dalam labu takar 100
ml. Pembuatan larutan standar dilakukan dengan larutan kreatinin 20 ppm diambil
1,25 ml; 2,5 ml; 5 ml; 7,5 ml; 10 ml; dan 12,5 ml dan diencerkan ke labu takar 25 ml
untuk membentuk larutan larutan kreatinin 1, 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Tiap
konsentrasi diambil 3 ml dan dimasukkan ke botol plastik dan ditambahkan 1 ml
asam pikrat 0,036 M dan 0,5 ml NaOH 1,4 M. Larutan dikomplekskan 15 menit dan
diukur absorbansinya pada maksimum.
Penentuan konsentrasi sampel dilakukan dengan 1 ml sampel urine yang
diencerkan dalam labu takar 100 ml. 3 ml urine tersebut ditambah 1 ml asam pikrat
0,036 M dan 0,5 ml NaOH 1,4 M yang dikomplekskan 15 menit dan diukur
absorbansinya.
Analisis Urea
Larutan pengompleks dibuat dari 1 gram p-dimetilaminbenzaldehid, 50 ml
etanol 96%, dan 10 ml HCl 1 M yang dicampur. Larutan blanko dibuat dengan 2 ml
akuades dan 3 ml larutan pengompleks dicampur dan dikomplekskan 1 jam.
Penentuan maksimum dilakukan dengan 2 ml larutan urea 500 ppm dan 3 ml
larutan pengompeks dicampur dan dikomplekskan 1 jam. Larutan diukur
absorbansinya pada 410 435 nm dengan interval 5 nm. Setelah itu dibuat grafik
untuk menentukan maksimum.
Pembuatan larutan standar dilakukan dengan larutan urea 500 ppm diambil 5
ml; 7,5 ml; 10 ml; 12,5 ml;15 ml; 17,5 ml; 20 ml; 22,5 ml; dan 25 ml dan diencerkan
ke labu takar 25 ml untuk membentuk larutan urea 100, 150, 200, 250, 300, 350, 400,
450, dan 500 ppm. Tiap larutan diambil 2 ml dan dimasukkan ke botol plastik
k.wr 14
dan ditambahkan 3 ml larutan pengompleks. Larutan dikomplekskan 1 jam. Tiap
larutan diukur absorbansinya pada maksimum.
Penentuan konsentrasi sampel dilakukan dengan 1 ml sampel urine yang
diencerkan dalam labu takar 100 ml. 2 ml urine tersebut ditambah 3 ml larutan
pengompleks dan dikomplekskan 1 jam dan diukur absorbansinya pada maksimum.

HASIL DAN PEMBAHASAN


HASIL PERCOBAAN
Panjang gelombang maksimum:

Analisis kreatinin: 485 nm

Analisis urea: 435 nm
Kadar kreatinin dan urea dalam urine:

Kadar kreatinin: 76317 ppm

Kadar urea: -282407 ppm

PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan proses analisis kandungan kreatinin dan urea
dalam urine. Metode yang digunakan yakni dengan spektrofotometri UV-Vis, di mana
pada tiap analisis akan ditambahkan suatu pengompleks sehingga dapat membentuk
senyawa kompleks yang berwarna dan dapat diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer UV-Vis.
Penggunaan larutan standar dan sampel harus diencerkan dahulu saat
preparasi karena proses analisis dengan spektrofotometri tidak dapat dilakukan
dengan larutan yang berkonsentrasi tinggi. Jika digunakan larutan berkonsentrasi
tinggi justru akan menyebabkan penyimpangan nilai absorbansi, di mana grafik
antara konsentrasi vs absorbansi menjadi tidak linear lagi karena konsentrasi yang
tinggi menyebabkan adanya interaksi molekul itu sendiri, sehingga penyerapan
radiasi tidak maksimal.
Pada setiap analisis diawali dengan mengukur panjang gelombang
maksimumnya. Hal ini dikarenakan pada panjang gelombang tertentu terjadi proses
absorpsi maksimum yang ditunjukkan dengan nilai absorbansi yang paling besar.
Sehingga, pada panjang gelombang maksimum inilai yang merupakan kondisi paling
sesuai untuk melakukan analisis.
Pada setiap analisis harus tersedia larutan blanko. Larutan blanko ini
bertujuan untuk mengetahui besarnya absorbansi terhadap larutan jika tanpa analit.
Larutan blanko biasanya digunakan untuk tujuan kalibrasi sebagai larutan
pembanding dalam analisis. Dapat dikatakan juga sebagai larutan penetral karena
untuk menstabilkan absorpsi akibat perubahan voltase dari sumber cahaya. Sehingga,
saat pengujian dengan spektrofotometri UV-Vis, pengujian harus selalu diawali
pengujian terhadap larutan blanko.
k.wr 14
Analisis Kreatinin dalam Urine
Pada analisis kreatinin dalam urine dilakukan tiga macam percobaan, yaitu
penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi (penentuan
absorbansi larutan standar), dan penentuan absorbansi sampel. Analisis kreatinin
dilakukan dengan melakukan penambahan pengompleks berupa asam pikrat dan
larutan NaOH yang dikomplekskan selama 15 menit.
Larutan asam pikrat akan berperan untuk mengikat kreatinin secara tautomer.
Sementara itu, adanya larutan NaOH akan menciptakan suasana basa dalam larutan.
Hal ini dilakukan karena asam pikrat dengan kreatinin jika dalam suasana basa dapat
membentuk kompleks asam pikrat-kreatinin yang berwarna kuning jingga yang
kadarnya dapat diukur dengan spektrofotometer UV-Vis.
Larutan perlu dikomplekskan 15 menit karena pada waktu tersebut
menunjukkan waktu kestabilan kompleks. Pada waktu tersebut merupakan kondisi di
mana senyawa telah membentuk senyawa kompleks yang kuat dan stabil, sehingga
nilai absorbansinya maksimum.
Reaksi yang terjadi antara kreatinin dan asam pikrat adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil percobaan penentuan panjang gelombang maksimum,


kemudian dibuat grafik vs A. Panjang gelombang pada nilai absorbansi tertinggi
itulah yang merupakan panjang gelombang maksimumnya. Berdasarkan grafik
terlihat bahwa panjang gelombang maksimumnya adalah 485 nm. Jika dibandingkan
dengan teoritis, diketahui bahwa kompleks asam pikrat-kreatinin menyebabkan
larutan berwarna kuning jingga. Warna ini merupakan warna yang diamati, namun
warna yang diserap pada spektrofotometer UV-Vis merupakan warna
komplementernya. Warna kuning jingga memiliki warna komplementer biru dengan
panjang gelombang 435 500 nm, sehingga sudah cukup sesuai.
Pada penentuan absorbansi larutan standar, digunakan larutan standar
kreatinin dengan konsentrasi yang bervariasi. Berdasarkan hasil percobaan
penentuan absorbansi larutan standar dibuat kurva kalibrasi antara C vs A. Kurva
2
akan linier dengan persamaan garis y = 0,0126x 0,0241 dan R = 0,564. Dengan
menggunakan persamaan garis tersebut, maka absorbansi sampel yang diperoleh
disubstitusikan ke persamaan tersebut, sehingga diperoleh konsentrasi kreatinin
dalam sampel urine 76317 ppm. Nilai ini sangat jauh dari standar normal karena nilai
absorbansi sampel tidak berada pada range absorbansi larutan standarnya,
mengingat sampel yang digunakan merupakan sampel urine segar yang tidak dibuat
di laboratorium.

Analisis Urea dalam Urine


k.wr 14
Pada analisis urea dalam urine dilakukan tiga macam percobaan, yaitu
penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi (penentuan
absorbansi larutan standar), dan penentuan absorbansi sampel. Analisis urea
dilakukan dengan menggunakan pengompleks berupa campuran p-
dimetilaminbenzaldehid, etanol 96%, dan HCl 1 M. Pengompleks yang ditambahkan
ke urea akan membentuk kompleks urea-dimetil amin dalam suasana asam yang
berwarna jingga dan dapat diukur kadarnya dengan spektrofotometer UV-Vis.
Larutan perlu dikomplekskan 1 jam karena waktu tersebut menunjukkan
waktu kestabilan kompleks. Pada waktu tersebut merupakan kondisi di mana
senyawa telah membentuk senyawa kompleks yang kuat dan stabil, sehingga nilai
absorbansinya maksimum.
Reaksi yang terjadi antara urea dan pengompleksnya adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil percobaan penentuan panjang gelombang maksimum,


kemudian dibuat grafik vs A. Panjang gelombang pada nilai absorbansi tertinggi
itulah yang merupakan panjang gelombang maksimumnya. Berdasarkan grafik
terlihat bahwa panjang gelombang maksimumnya adalah 435 nm. Jika dibandingkan
dengan teoritis, diketahui bahwa kompleks urea-dimetilamin menyebabkan larutan
berwarna jingga. Warna ini merupakan warna yang diamati, namun warna yang
diserap pada spektrofotometer UV-Vis merupakan warna komplementernya. Warna
jingga memiliki warna komplementer biru violet dengan panjang gelombang sekitar
435 nm, sehingga sudah cukup sesuai.
Pada penentuan absorbansi larutan standar, digunakan larutan standar
kreatinin dengan konsentrasi yang bervariasi. Berdasarkan hasil percobaan, kurva C
2
vs A membentuk garis lurus dengan persamaan garis y = 0,000216x 0,855 dan R =
0,355. Dengan menggunakan persamaan garis tersebut, maka absorbansi sampel
yang diperoleh disubstitusikan ke persamaan tersebut, sehingga diperoleh
konsentrasi urea dalam sampel urine -282407 ppm. Hasilnya bernilai negatif dan
sangat jauh dari standar normal, padahal seharusnya konsentrasi tidak boleh negatif.
Hal ini karena nilai absorbansi sampel berada jauh di bawah range absorbansi larutan
standarnya, mengingat sampel yang digunakan merupakan sampel urine segar yang
tidak dibuat di laboratorium.

KESIMPULAN
Konsentrasi kreatinin dalam urine yakni 76317 ppm, sedangkan konsentrasi urea dalam
urine yakni -282407 ppm.
k.wr 14