Anda di halaman 1dari 3

1

Chapter 24: Asal Mula Spesies


Buku : Campbell Jilid 2

Spesies biologis adalah anggota dari suatu populasi yang dapat mengawini satu sama lain
dan menghasilkan keturunan yang fertil, namun jika mengawini spesies lain tidak dapat
menghasilkan keturunan yang fertil. Hal ini menyebabkan setiap spesies mengalami isoalsi
reproduktif, dimana masing-masing spesies terisolasi karena adanya faktor-faktor (sawar) yang
menghalangi perkawinan antar spesies yang secara otomatis dapat mengahambat pencampuran
gen dengan spesies lain. Sawar ini sendiri dibagi menjadi dua, yaitu Sawar Prazigotik dan Sawar
Sawar Pascazigotik. Sawar Prazigotik adalah faktor-faktor yang dapat menghalangi spesies-
spesies berbeda yang berusaha saling kawin dengan menghalangi pembuahan telur. Salah
satunya dengan adanya isolasi habitat yang membuat spesies satu dengan spesies lainnya tidak
bisa bertemu akibat masing-masing dari spesies tersebut tinggal di dalam habitat yang berbeda
wilayah, isolasi perilaku yang menekankan adanya ritual percumbuan sehingga tidak adanya
ketertarikan antara spesies satu dengan spesies lainnya, isolasi temporal yang menekankan
bahwa setiap spesies kawin pada waktu yang berbeda-beda, isolasi mekanis yang membuat dua
spesies berbeda tidak dapat kawin akibat adanya perbedaan morfologi atau struktur alat kelamin,
serta isolasi gametik yang membuat sperma suatu spesies tidak dapat membuahi sel telur spesies
lain. Sawar pascazigotik sendiri akan mencegah akan mencegah zigot hibrida dari hasil
pembuahan antara dua spesies yang berbeda menjadi organisme dewasa yang dapat bertahan
hidup dan fertil, dengan mencegahnya kawin dengan salah satu spesies induknya ataupun
menghasilkan keurunan yang fertil serta terganggunya perkembangan embrio hasil pembuahan
dari kedua spesies tersebut sehingga gagal mencapai kematangan seksual. Konsep ini tidak
berlaku bagi fosil ataupun organisme yang hanya dapat bereproduksi secara aseksual saja.

Spesies secara morfologi menerangkan bahwa setiap spesies dapat ditentukan


berdasarkan karakter fenotip yang dimilikinya. Spesies pengenanalan menekankan bahwa
adaptasi perkawinan pada suatu populasi telah tetap. Spesies secara kohesi menerangkan bahwa
spesies sebagai populasi memiliki sifat genetik yang berbeda dengan populasinya. Spesies secara
ekologi menerangkah bahwa setiap spesies dapat ditentukan berdasarkan relung ekologinya. Dan
yang terakhir, spesies secara filogenetik menerangkan bahwa setiap individu dalam suatu spesies
2

berasal dari nenek moyang yang sama. Sedangkan spesies secara evolusioner mendefinisikan
bahwa suatu spesies merupakan urutan dari populasi yang tertua dan dapat berkembang secara
bebas.

Spesiasi sendiri merupakan proses pembentukan spesies baru yang ada baik pada setiap
genus, famili, maupun takson yang lebih tinggi yang dimulai dengan adanya spesies baru yang
benar-benar baru , sehingga bisa dianggap anggota takson yang lebih tinggi. Asal mulanya dari
spesies atau tingkatan takson yang baru sendiri dapat dipelajari dengan memperdalam teori
makroevolusi. Ada berbagai macam mekanisme dari spesiasi, yaitu spesiasi alopatrik dan
simpatrik.

Spesiasi Alopatrik Spesiasi Simpatrik

Spesiasi alopatrik sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu populasi yang membentuk spesies
baru karena terisolasi secara geografis dari populasi induknya atau populasi paling tetuanya.
Populasi yang memisahkan diri tersebut disebut isoalt periferal. Keadaan yang menyebabkan
terjadinya spesiasi alopatrik sendiri antara lain karena adanya perbedaan gen antara isolat
periferal dengan tetuanya, adanya mutasi dan hanyutan genetik pada isolat periferal sebagai
bentuk adaptifnya, serta adanya evolusi akibat seleksi alam pada isolat periferal karena telah
menempati wilayah geografis yang berbeda. Evolusi banyak spesies yang beradaptasi secara
meluas dari populasi tetuanya disebut penyebaran (radiasi) adaptif. Sedangkan spesiasi simpratik
yaitu pembentukan spesies yang terjaid akibat adanya perubahan kromosom ataupun perkawinan
tidak acak dan terbentuk di daerah geografis yang sama dengan spesies tetuanya. Spesiasi ini
lebih identik dengan terjadinaya poliploidi, autopoliploidi ataupun alopoliploid.
3

Mekanisme lain yaitu dengan adanya perubahan genetik dalam populasi. Spesiasi dapat
dikaitkan dengan perubahan yang terjadi pada suatu lokus gen atau divergensi kumulatif pada
banyak lokus. Biasanya perubahan genetik dapat tejadi karena adanya suatu populasi yang
memisah menjadi dua wilayah dan perubahan genetik tersebut merupakan bentuk adaptifnya
terhadap lingkungan baru, mengingat bahwa seleksi alam hanya akan meningkatkan adaptasi
yang memperbesar keberhasilan reproduksi anggota populasi. Mekanisme lainnya yaitu
berdasarkan model kesetimbangan bersela atau Punctuated equilibrium, yang menyatakan bahwa
populasi yang memisahkan diri dengan populasi tetuanya akan mengalami perubahan yang
bertahap atau relatif selama hidupnya, dalam kata lain mengalami mikroevolusi.

Zona hibrida diketahui menyediakan kesempatan untuk mempelajari faktor-faktor yang


menyebabkan isoalsi repodukstif. Pola zoba hibrida sendiri terbentuk karena banyaknya jumlah
kelompok organisme yang berbeda saling bertemu dan kemudian menghasilkan beberapa
keturunan. Zona hibrida dapat terbentuk seiring berjalannya waktu. Hal ini dapat memicu
terbentuknya hibrida yang tidak bugar dan melemahnya penghalang reproduksi, sehingga
menyebabkan bersatunya lungkang gen.

Terbentuknya struktur baru akibat evolusi dapat dikatakan berasal dari hasil modifikasi
struktur populasi tetuanya. Biasanya struktur biologisnya mengalami ekspaktasi dengan
berevolusi dan kemudian memiliki fungsi yang lain. Selain itu, terbentuknya sruktur baru juga
berasal dari adanya pengontrolan gen, mengingat perannya sebagai faktor utama dalam
pemuncula struktur baru. Gen tersebut bisa saja mengalami mutasi sehingga mengatur
perkembangan dari suatu spesies tersebut. Pembentukan struktur juga dapat terjadi karena
spesies mengalami makroevolusi ataupun lebih sering mengalami spesiasi.