Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH

PERANAN PEMUDA ISLAM DALAM MENGHADAPI PERKEMBANGAN


RADIKALISME DI INDONESIA

NAMA : HASAN

CABANG PALOPO

TEMA : Analisis Perkembangan Gerakan Radikalisme di Indonesia

INTERMEDIATE TRAINING (LK II) TINGKAT NASIONAL

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

CABANG SAMARINDA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan
sebaik-baiknya. Di dalam makalah ini terdapat penjelasan tentang peran pancasila
dalam rangka membendung/mencegah radikalisme dibidang agama, politik,
sosial, dan pertahanan keamanan dikalangan pemuda, dengan itu diharapkan para
pembaca dapat memahami dan dapat menjadikan makalah ini sebagai pedoman.

Semoga kami dapat memberikan sedikit pengetahuan. Dan kami berharap


seluruh generasi muda Indonesia menjadi penerus bangsa yang berwawasan luas
dan siap bersaing di negara lain. Dan makalah ini dapat selesai sesuai dengan
rencana berkat bantuan dari semua pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah terlibat secara
langsung maupun tidak secara langsung sehingga makalah ini dapat terselesaikan
tepat waktu.

Tidak lupa saran dan kritik yang bersifat membangun agar pekerjaan yang
kami buat dapat diubah sebagaimana mestinya. Serta pembaca yang budiman
sangat kami harapkan melalui situs internet kami :

Palopo, 07 November 2017

HASAN
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I : PENDAHULUAN .............................................................................. 1

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA....................................................................

BAB III : PEMBAHASAN ..............................................................................

BAB IV : PENUTUP .......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... iii

LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................... iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kita mengenal Indonesia sebagai negara pluralis, di mana kemajemukan
hadir dan berkembang di dalamnya. Sebut saja, suku, ras, budaya, bahkan
agama. Kemajemukan yang terjadi di Indonesia pun tidak terlepas dari
kemajuan di berbagai bidang ilmu yang menyentuh berbagai sendi kehidupan
masyarakat Indonesia. Kemajemukan itu telah membawa akibat yaitu adanya
perjumpaan yang semakin intensif antar kelompok - kelompok manusia.
Salah satunya adalah pergesekan yang seringkali terjadi di antara agama-
agama yang berbeda. Ketika keyakinan terhadap suatu agama itu cenderung
dimutlakkan maka akan sangat berpotensi pada timbulnya pergesekan atau
ketegangan. Apabila hal itu tidak segera diatasi maka semakin lama akan
terjadi benturan yang mengakibatkan terpecah belahnya serta perusakan-
perusakan kehidupan manusia serta mengancam kemajemukan yang telah
ada. Ketika memfokuskan pada agama, maka sesungguhnya ada fenomena
yang menarik dalam hubungan antar umat beragama di Indonesia. Fenomena
menarik karena sebagian besar masyarakat Indonesia senantiasa
mengkondisikan dirinya dalam hubungan mayoritas-minoritas, apalagi ketika
hal itu dikaitkan dengan urusan agama. Hal itu sudah terbukti dalam sejarah
perjalanan bangsa yang panjang serta pengalaman-pengalaman konkrit yang
hadir dalam realitas masyarakat Indonesia.
Di katakana juga Bahwa Indonesia adalah ber Ideologi Pancasila Sebagai
Dasar Negara, yang di mana nilai nilai Pancasila itu sangat berkaitan antara
Agama Ras, Budaya, dan Keadilan Sosial. Negara Indonesia juga merupakan
Negara Kesatuan yang di jelaskan Semboyan Bangsa Indonesia Yaitu
Bhinneka Tunggal Ika yang artinya Berbeda beda tetap satu.
Realitas itu nampak kembali melalui peristiwa-peristiwa kemanusiaan
yang kini tengah dihadapi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Meningkatnya radikalisme dalam agama di Indonesia menjadi fenomena
sekaligus bukti nyata yang tidak bisa begitu saja diabaikan ataupun
dihilangkan. Radikalisme keagamaan yang semakin meningkat di Indonesia
ini ditandai dengan berbagai aksi kekerasan dan teror. Aksi tersebut telah
menyedot banyak potensi dan energi kemanusiaan serta telah merenggut hak
hidup orang banyak termasuk orang yang sama sekali tidak mengerti
mengenai permasalahan ini. Meski berbagai seminar dan dialog telah digelar
untuk mengupas persoalan ini yaitu mulai dari pencarian sebab hingga sampai
pada penawaran solusi, namun tidak juga kunjung memperlihatkan adanya
suatu titik terang. Fenomena tindak radikalisme dalam agama memang bisa
dipahami secara beragam, namun secara esensial, radikalisme agama
umumnya memang selalu dikaitkan dengan pertentangan secara tajam antara
nilai-nilai yang diperjuangkan kelompok agama tertentu dengan tatanan nilai
yang berlaku atau dipandang mapan pada saat itu. Dengan demikian, adanya
pertentangan, pergesekan ataupun ketegangan, pada akhirnya menyebabkan
konsep dari radikalisme selalu saja dikonotasikan dengan kekerasan fisik.
Apalagi realitas yang saat ini telah terjadi dalam kehidupan masyarakat
Indonesia sangat mendukung dan semakin memperkuat munculnya
pemahaman seperti itu.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka kami
merumuskan beberapa pokok permasalahan sebagai berikut :
1. Kurangnya pengetahuan atau pemahaman tentang nilai-nilai pancasila
2. Menganggap perjuangan islam sebagai tindakan radikalisme
3. Adanya perbedaan pendapat dan pemahaman tentang radikalisme
4. Banyaknya kelompok yang saling menjatuhkan satu sama lain
5. Perkembangan teknologi menyebabkan pembodohan dan pembohongan
publik yang menyebabkan permusuhan antar kelompok.
C. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Maksud
a. Dapat memahami Nilai-nilai Pancasila
b. Mampu menelaah kembali makna radikalisme
c. Mengetahui cara mencegah pengembangan radikalisme
d. Mampu menyatukan pendapat dan pemahaman tentang radikalisme
e. Menjadikan perkembangan teknologi sebagai media untuk menyatukan
pendapat.
2. Tujuan
Dengan tersusunnya makalah ini dapat memecahkan permasalahan yang
terjadi dan memberi solusi serta mecegah terjadinya perkembangan
radikalisme di Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. MAKNA PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA


1. Pengertian Pancasila
Pancasila merupakan dasar ideologi bagi Negara Kesatuan Republik
Indonesa (NKRI), Pancasila merupakan gabungan dari dua kata yaitu
Panca yang memiliki arti lima dan Sila yang memiliki arti prinsip atau
asas, jadi bisa disimpulkan bahwa Pancasila memiliki arti 5 Prinsip utama
yang menjadi acuan bagi segala bentuk aspek-aspek kehidupan Bangsa
dan Negara Indonesia.
2. Isi Pancasila
a. Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Sila kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
c. Sila Ketiga: Persatuana Indonesia.
d. Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan.
e. Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
3. Fungsi Umum Pancasila
a. Berfungsi sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
b. Menjadi sumber utama dalam peraturan-peraturan negara.
c. Berfungsi sebagai perjanjian luhur.
d. Menjadi falsafah dalam kehidupan bangsa indonesia.
4. Arti dan Makna Pancasila
a. Makna dan Arti Ketuhanan Yang Maha Esa.
1) Memiliki arti sebagai bentuk pengakuan adanya kuasa yang satu
yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
2) Memberikan kebebasan dan keamanan dalam memeluk dan
beribadah menurut kepercayaan agamanya masing-masing.
3) Tidak memberikan paksaan terhadap warga-warganya untuk
memeluk suatu agama atau berpindah ke agama lain.
4) Memberikan jaminan perkembangan dan pertumbuhan ajaran
agama masing-masing.
5) Negara memberikan kebebasan dan menjadi fasilitator bagi
tumbuh kembang agama yang di anut oleh masyarakatnya.
b. Makna dan Arti Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
1) Memberikan hak dan kewajiban kepada masyarakatnya dalam
mengeluarkan pendapat sebagai bukti keadilan.
2) Kemerdekaan merupakan hak setiap masyarakat Indonesia,
mereka berhak mendapatkan kebebasan dan keamanan dalam
kehidupan mereka.
3) Menegakkan keadilan dan menjunjung tinggi kemerdekaan bagi
setiap rakyat Indonesia.
c. Makna dan Arti Persatuana Indonesia.
1) Sikap nasionalisme yang wajib dimiliki tiap-tiap warga indonesia.
2) Mencintai bangsa dan tanah air Indonesia.
3) Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
4) Menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tolong menolong
terhadap sesama rakyat Indonesia.
5) Mencegah terjadinya kekuatan dan kekuasaan perseorangan.
6) Tidak adanya perbedaan dan permusuhan ketika adanya
perbedaan budaya dan warna kulit.
d. Makna dan Arti Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan.
1) Hakikat sila keempat adalah negara menggunakan sistem
demokrasi.
2) Permusyawaratan memiliki makna bahwa setiap persoalan dan
permasalahan diputuskan secara bersama, disetujui bersama, dan
diselesaikan secara bersama-sama.
3) Rakyat dipimpin oleh pemimpin yang hikmat dan bijaksana
dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan negara.
e. Makna dan Arti Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
1) Kemakmuran dan kesejahteraan merupakan hak bagi seluruh
rakyat Indonesia.
2) Memberikan perlindungan kepada yang lemah dan yang memiliki
kekurangan.
3) Kekayaan alam Indonesia dipergunakan untuk kebahagiaan dan
kepentingan bersama.
5. Sikap positif dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila
a. Senantiasa menghargai dan menghormati pendapat orang lain.
b. Menghormati ornag yang lebih tua dari kita.
c. Tidak membeda-bedakan orang dalam masalah hubungan sosial dan
sebagainya.
d. Menyelesaikan masalah dengan cara bermusyawarah untuk
mendapatkan hasil dan tujuan yang maksimal.
e. Tidak membeda-bedakan orang dalam amsalah pertemanan, seperti
karena perbedaan budaya atau perbedaan warna kulit.
f. Mendapatkan hak dan kebebasan dalam menjalankan agama yang di
anut masing-masing.
g. Mendapatkan hak dan wewenang dalam mengemukaan pendapat di
depan umum.
h. Senantiasa membantu orang yang sedang kesusahan.
6. Makna Pancasila Sebagai Dasar Negara
Pancasila sebagai dasar negara memiliki mana bahwasannya Pancasila
menjadi landasan, pondasi utama, titik acuan bangsa dan negara Indonesia
dalam mengatur bangsa maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).
Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya Pancasila
dalam mengatur unsur-unsur kehidupan berbangsa dan bernegara, segala
bentuk peraturan-peraturan yang ada di Indonesia harus berlandaskan
pancasila.
7. Fungsi Pancasila Sebagai Dasar Negara
a. Pancasila Menjadi Pedoman Hidup Dalam Berbangsa dan Bernegara
Pancasila berperan sebagai pedoman bagi rakyatnya dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, dengan begitu segala bentuk aturan-aturan
yang ada di indonesia ini harus berlandaskan pancasila, begitu juga
dengan keputusan-keputusan yang ditetapkan ketika menyelesaikan
suatu persoalan berbangsa dan bernegara.
b. Pancasila Mendarah Daging Di Dalam Jiwa Bangsa Indonesia
Pancasila haruslah mendarah daging pada tiap-tiap jiwa masyarakat
indonesia, ketika menjalankan kehidupan sehari-hari, bersosialisasi,
dalam pekerjaan, dan bentuk aspek-aspek kehidupan lainnya.
c. Sebagai Cerminan Kepribadian Bangsa Indonesia
Menjadikan pancasila sebagai Kepribadian kita merupakan hal yang
sangat penting, selain itu Pancasila juga bisa menjadi identitas seorang
yang berkebangsaan Indonesia, karena itu Pancasila seharusnya
mendiami tiap pribadi-pribadi rakyat indonesia.
d. Menjadikan Pancasila Sebagai Sumber Hukum
Menjadikan pancasila sebagai sumber diatas segala sumber hukum
yang berlaku di indonesia, atau bisa dikatakan Pancasila menajadi
pondasi utama dan landasan bagi semua hukum-hukum yang ada di
Indonesia, tidak ada satupun yang boleh menetapkan suatu peraturan
yang bertentangan dengan Pancasila.
e. Menjadi Cita-Cita dan Arah Tujuan Bangsa Indonesia
Pancasila yang menjadi dasar negara dibentuk dan disusun untuk
menjadi pedoman hukum, selain menjadi pedoman Pancasila juga
berfungsi sebagai cita-cita bangsa indonesia, seharusnya kita sebagai
bangsa Indonesia Memimpikan dan mengidam-idamkan sebuah
negara yang memiliki rasa keyakinan Ketuhanan YME yang tinggi,
rasa kemanusiaan yang tinggi, persatuan dan kesatuan yang kokoh,
senantiasa bermusyawarah dalam mengambil dan menentukan suatu
keputusan, dan terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat
indonesia.

B. MAKNA RADIKALISME
Kata radikalisme ditinjau dari segi terminologis berasal dari kata dasar
radix yang artinya akar (pohon). Bahkan anak-anak sekolah menengah
lanjutan pun sudah mengetahuinya dalam pelajaran biologi. Makna kata
tersebut, dapat diperluas kembali, berarti pegangan yang kuat, keyakinan,
pencipta perdamaian dan ketenteraman, dan makna-makna lainnya. Kata ini
dapatdikembangkan menjadi kata radikal, yang berarti lebih adjektif. Hingga
dapat dipahami secara kilat, bahwa orang yang berpikir radikal pasti memiliki
pemahaman secara lebih detail dan mendalam, layaknya akar tadi, serta
keteguhan dalam mempertahankan kepercayaannya. Memang terkesan tidak
umum, hal inilah yang menimbulkan kesan menyimpang di masyarakat.
Setelah itu, penambahan sufiks isme sendirri memberikan makna tentang
pandangan hidup (paradigma), sebuah faham, dan keyakinan atau ajaran.
Penggunaannya juga sering disambungkan dengan suatu aliran atau
kepercayaan tertentu.
Radikalisme dalam arti bahasa berarti paham atau aliran yang
mengingikan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara
kekerasan atau drastis dan revolusioner. Namun, bisa juga berarti, konsep
sikap jiwa dalam mengusung perubahan. Sementara itu Radikalisme menurut
Wikipedia adalah suatu paham yang dibuat oleh sekelompok orang yang
menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis
dengan menggunakan cara- cara kekerasan.
Ketua umum Dewan Masjid Indonesia, Dr. dr. KH. Tarmidzi Taher
memberikan komentarnya tentang radikalisme bemakna positif, yang
memiliki makna tajdid (pembaharuan) dan islah (peerbaikan), suatu spirit
perubahan menuju kebaikan. Hingga dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara para pemikir radikal sebagai seorang pendukung reformasi jangka
panjang.
Dari sini, dapat dikembangkan telisik makna radikalissme, yaitu
pandangan / cara berfikir seseorang yang menginginkan peningkatan mutu,
perbaikan, dan perdamaian lingkungan multidimensional, hingga semua
lapisan masyarakatnya dapat hidup rukun dan tenteram.
Namun demikian, dalam perkembangannya pemahaman terhadap
radikalisme itu sendiri mengalami pemelencengan makna, karena minimnya
sudut pandang yang digunakan, masyarakat umum hanya menyoroti apa yang
kelompok-kelompok radikal lakukan (dalam hal ini praktek kekerasan), dan
tidak pernah berusaha mencari apa yang sebenarnya mereka cari (perbaikan).
Hal serupapun dilakukan oleh pihak pemerintah, hingga praktis
pendiskriminasian terhadap paham yang satu ini tak dapat dielakkan.

C. ISLAM SEBAGAI AGAMA PERDAMAIAN


Al-Quran merupakan petunjuk, jalan hidup bagi manusia yang tidak ada
keraguan di dalamnya. Petunjuk menuju ke arah kebahagian, kebahagiaan
dunia dan kebahagiaan akhirat. Al-Quran juga mengajarkan pada kita untuk
selalu berbuat baik dan untuk selalu menjaga perdamaian dan kerukunan
antar umat beragama. Islam diturunkan sebagai rahmat atau kasih sayang
kepada seluruh ummat manusia. Sebagai orang yang meyakini akan
kebenaran al-Quran maka ia tidak akan pernah ragu untuk selalu menebar
kasih sayang kepada semua manusia, bahkan kepada binatang sekalipun.
Kasih sayang merupakan core spirit dalam ajaran Islam. Allah SWT
berfirman: Dan tiadalah Kami utus engkau (ya Muhammad) melainkan
sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. aL Anbiya [21]; 107).
Dengan kasih sayang sebagai inti ajaranya para pemeluk agama Islam
yang meyakini akan kebenaran ajaranya akan selalu bertindak tanduk dan
berperilaku dilandasi dengan rasa kasih sayang. Ia akan selalu
mengedepankan rasa kasih sayang ini dalam berinteraksi dengan siapapun
tanpa memandang perbedaan suku , agama, ras dan aliran.
Allah berfirman: ... dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. (QS. Al-Araf [
7] : 156), Islam juga mengajarkan ummatnya untuk menjalankan misi
menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari kemunkaran.
Demi- kianlah prinsip-prinsip dasar dalam Islam yang menunjukkan bahwa
Islam adalah agama rahmah bagi kaum Muslimin sendiri maupun bagi
seluruh umat manusia di seluruh dunia. Islam sangat membenci aksi
kezhaliman apa pun bentuknya. Karena Islam senantiasa mengajarkan dan
memerintahkan kepada umatnya untuk menjunjung tinggi kedamaian,
persahabatan, dan kasih sayang. Bahkan al- Quran menyatakan, bahwa orang
yang melakukan aksi kezhaliman termasuk golongan orang yang merugi
dalam kehidupannya. Di dunia akan di cap sebagai pelaku kejahatan dan di
akhirat kelak akan dimasukkan ke dalam api neraka Jahannam. Dalam surah
al-Kahfi [18]: 103-106, Allah berfirman Katakanlah: Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya. Banyak sekali orang yang tanpa dilandasi ilmu yang cukup
bertindak mengatasnamakan agama. Ia merasa sebagai wakil kebenaran.
Sehingga perkataanya harus diikuti tanpa mau menerima kritik. Karena sudah
terlanjur ditokohkan, akhirnya terjadilah banyak kekacauan dan kekisruhan .
dalam masyarakat awam. Karena pemahan agama yang sempit menjadi
pemicunya. Dalam agama Islam ada ajaran amar maruf nahi mungkar.
Konsep amar maruf nahi munkar juga bisa mendatangkan pemahaman keliru
sehingga mengidentikkannya dengan kekerasan. Hadis yang terkenal
mengenai nahi munkar adalah: Man ra-a minkum munkaran falyughaiyirhu
biyadih, faman lam yastathi fabilisanih, faman lam yastathi fabiqalbih,
wahua adhaful iman. Artinya: Barangsiapa di antara kamu melihat
kemungkaran maka cegahlah dengan tangan, kalau ia tidak sanggup (berbuat
demikian), maka hendaklah ia meng- ubah dengan lisannya, dan kalau tidak
sanggup (pula), maka hendaklah ia melakukan dengan hatinya (mendoakan),
yang demikian adalah selemah-lemah iman. (H.R. Ahad bin Hanbal, Muslim
dan Ashab as-Sunan (para ahli hadis penyusun kitab hadis Sunan). Sekiranya
hadis ini dipahami secara tekstual, maka cara nahi mungkar yang utama
adalah dengan cara kekerasan, yaitu dengan tangan. Tetapi tidak semua hadis,
termasuk ayat, dapat dipahami secara tekstual. Adakalanya yang tertulis mesti
dipahami secara kontekstual. Mencegah dengan tangan tersebut bukanlah
dimaknai dengan kekerasan, tetapi dengan kekuasaan. Artinya kita harus
mencegah kemungkaran dengan kekuasaan yang kita miliki, seorang
pemimpin harus mencegah bawahannya dari perilaku kemung- karan, sebab
dia berkuasa atas bawahannya; orang tua harus mencegah anaknya dari
kemungkaran, sebab orang tua juga berkuasa atas anaknya; seorang suami
juga mesti mencegah istrinya berbuat kemungkaran sebab suami berkuasa
atas istrinya; begitu seterusnya. Sayangnya pemahaman akan ajaran nahi
munkar dan kasih sayang yang diembankan kepada ummat Islam ini belum
secara sungguh-sungguh diprak- tekkan. Hal ini lebih banyak terjadi
dikarenakan pemahaman dan pengamalan agama yang masih rendah. Sering
kita lihat bagaimana sesama ummat Islam saja hanya karena beda aliran, beda
ustadz, beda pemahaman, beda atribut, beda almamater, saling merendahkan,
menyalahkan, menyudutkan bahkan sampai tataran yang paling parah yaitu
saling mengkafirkan. Kita sering melihat bagaimana begitu intensnya
pengajian di kampung- kampung yang diadakan oleh masyarakat. Pengajian-
pengajian ini diadakan secara bergiliran dari satu rumah-ke rumah lain.
Sekilas nampak adanya kerukunan dan kebersamaan. Namun sayang peran
kiyai yang begitu sentral belum bisa mengubah pola pikir para pengikutnya
akan arti penting perubahan menuju kemajuan. Para kiyai masih merasa
cukup puas dengan banyaknya para peserta pengajian. Sehingga materi terasa
monoton. Materi dalam berdakwah yang lebih banyak mengajak pada pola
hidup jabariyah yang terus diulang dan diulang menjadikan pola fikir
jabariyah terbentuk dan mengkristal. Sehingga setiap ada usaha usaha
pembaruan ke arah perbaikan qodariyah kurang dan bahkan cenderung tidak
diapresiasi karena hal tersebut dianggap sebagai hal baru yang akan merusak
tatanan akan kebiasaan yang sudah ada. Kondisi status quo yang banyak
diciptakan oleh para kiyai di kampung- kampung, kurang dan bahkan tidak
mau memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berpartisipasi dalam aktifitas
keagamaan. Para pemuda yang sebenarnya memiliki banyak potensi, tidak
terserap aspirasinya secara baik. Mereka jadi sungkan dan akhirnya tidak atau
kurang peduli dengan perkembangan ke- agamaan di daerahnya. Ahirnya
aktifitas keagamaan ini lebih banyak didominasi oleh orang-orang tua.
Sebagian ummat Islam sekarang ini sudah terjebak dalam budaya saling
menyalahkan antar golongan, berbangga dengan golongan dan kelompok
masing-masing. Bahkan banyak ustadz yang secara terbuka beradu
argumentasi di dunia maya. Di YouTube bisa kita temukan banyak sekali
rekaman video yang berisi hujatan, pelemahan, perendahan, penyalahan
bahkan penistaan antara satu ustadz dengan ustadz yang lain.Ini merupakan
ancaman serius bagi semangat NKRI. Penistaan antar Ustadz sebenarnya
tidak pelu terjadi seandainya ada silaturahmi dan dialog antar ustadz.
Perseteruan ini berakibat fatal pada kerukunan yang ingin sama-sama kita
wujudkan. Mereka saling membanggakan pengikutnya yang banyak dan
tersebar dimana-mana. Mereka lupa atau memang tidak mau tahu dengan
keberadaan kelompok lain yang dianggap kurang sempurna atau bahkan salah
dalah mempraktekkan agamanya. Perendahan dan penistaan secara terbuka
dan sangat transparan dilaku- kan para kiyai dan ustad di depan para
pengikutnya atau jamaahnya. Akhirnya yang terjadi adalah ketidak rukunan
dan ketidak nyamanan dalam menjalankan agama, yang sesungguhnya masih
sama- sama pemeluk agama Islam. Memang untuk mencari model kiyai
paripurna setelah wafatnya rasulullah SAW, terutama hari ini, sangatlah sulit.
Sebab ukuran-ukuran atau standardnya bukan lagi dengan menggunakan
standar rasional-intelektual atau standar-standar empirisme, seperti
kemashuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan ensiklopedis misalnya.
Islam kultural yang lebih banyak mengusung tema-tema keislaman yang
dilandasi nilai-nilai kearifan lokal sering berhadapan dengan faham Islam
transnasioanal yang anti terhadap budaya lokal yang dianggapnya banyak
mengandung bidah dan khurofat. Islam kultural ini pada dasarnya adalah
Islam yang diusung oleh para walisongo yang menggunakan pendekatan
budaya untuk mengajak masyarakat agar mau mengenal Islam. Budaya dan
kebiasaan yang baik selama tidak bertentangan dengan akidah islamiyah
sudah semestinya dipertahankan. Secara kuantitas ummat yang begitu besar
namun secara kualitas pemahaman keagamaan masih relatif rendah, sehingga
kehidupanya dalam persaingan modern dan serba global sering disudutkan
dan disalahkan di berbagai media pemberitaan, bahan olok dan perendahan
terhadap nilai nilai ajaran Islam yang sesungguhnya sangat mengedepankan
perdamaian dicitrakan sebagai agama yang mengajarkan teror dan faham
radikalisme. Kalau ummat Islam ingin meraih kejayaan dan ingin benar-benar
menjadi ummat yang terbaik di dunia maka mereka sudah semestinya mau
mengamalkan ajaran agamanya secara berkualitas, penuh rasa toleran,
terbuka, tidak anti terhadap kritik serta selalu mengedepankan perdamaian
sebagaimana Islam itu sendiri yang berarti damai. Siap berkompetisi dengan
umat agama lain,untuk membutikan kebenaran ajaran Islam. Sayangnya
ummat Islam selalu diajak pada posisi status quo oleh para kiayi dan
ustadnya, sehingga mereka cenderung berfaham anti kemapanan. Apapun
yang baru dan diluar kebiasaan dianggapnya sebagai bidah yang harus
dihindari. Ummat terus diajak bersabar dalam menghadapi semua masalah,
tanpa ada usaha sistematis untuk bisa dan mampu mengatasi problemnya. Al
Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin yang banyak menjadi rujukan oleh
banyak kiyai dan ustadz menyatakan bahwa sabar adalah ibarat dari tetapnya
penggerak agama dalam menghadapi penggerak nafsu syahwat.
Konsep sabar sebagaimana dikemukakan oleh Al Ghozali di atas bisa
sangat berbahaya bagi kemajuan, perubahan pada pola pikir ummat Islam.
Ummat akan merasa benar dan terlegitimasi untuk berlaku sabar dan
cenderung mandeg atau berhenti dalam menghadapi kehidupan yang terus
berkembang dan berubah ini. Akhirnya ummat dengan semangat sabar, dan
menghindari keinginan keinginan yang bersifat duniawi, mengakibatkan daya
ikhtiar untuk berubah sangat rendah. Karena keinginan-keinginan duniawi
dikhawatirkan akan menjadi keinginan-keinginan syahwat, yang akan meng-
ganggu gerak dan semangat beragama. Akhirnya ummat Islam menjadi
phobia terhadap hal-hal baru serta perubahan-perubahan yang mengarah pada
kemajuan dan perbaikan kehidupan di dunia ini. Apalagi kalau perubahan,
perubahan pada kemandekan serta perbaikan ke arah kemajuan itu dilakukan
secara progressif, maka reaksi merekapun akan sangat keras. Akibatnya para
generasi muda yang bersemangat untuk hidup maju dan membuat progres
dalam kehidupanya, baik dalam bidang agama secara normatif maupun
keduniaan secara praktis, tidak akan mendapat apresiasi oleh ummat Islam
secara proporsional. Hal ini berawal dari konsep bahwa Tuhan Maha Kuasa,
manusia tidak bebas berkehendak dan berbuat. Perbuatan manusia adalah
perbuatan Tuhan sebagaimana ada dalam konsep jabariah yang berasal dari
kata jabara atau ter- paksa yang kemudian menjadi paham jabariah
predestination atau fatalism.
Kesuksesan yang mereka anggap baik dan mereka apresiasi hanyalah
kesuksesan atau prestasi yang berkisar pada pengetahuan agama saja secara
sempit. Seperti pandai membaca Al Quran, banyak hapalnya, rajin mengaji
kesana kemari walaupun tingkat ekonominya sangat memprihatinkan. Kalau
ada yang mengeluh tentang kemiskinannya, cukup disarankan dengan kata
yang sabar ya, semua sudah takdir Tuhan tanpa memberi solusi bagaimana
cara memecahkan masalah ekonomi yang sedang dihadapi tersebut. Ini adalah
suatu pandangan yang sangat berlawanan dengan realitas kehidupan yang
ada, dimana manusia dituntut untuk terus berfikir dan bekerja keras untuk
bisa mencapai apa yang ia harapkan. Dengan kesuksesanya ia akan bisa
membantu sesama ummat, baik itu berupa material maupun berujud im-
material, berupa motivasi dan saran untuk solusi, jadi tidak hanya mengajak
untuk bersabar. Bahkan sering kita jumpai orang-orang yang rajin mengaji
mengatakan, mengapa kerja begitu keras, padahal harta kan tidak dibawa
mati. Itu adalah ungkapan yang seolah-olah sangat religius dan bijaksana,
padahal itu adalah ungkapan sinisme pada orang-orang yang mengalami
kesuksesan. Ia sendiri tidak mendapatkan kesuksesan seperti orang lain
karena memang tidak mau kerja keras dan merasa cukup dengan apa yang ada
pada dirinya yang sebenarnya masih sangat kekurangan. Sebagian orang ada
yang mengklaim bahwa kalau seseorang itu bekerja keras kemudian sukses,
maka yang akan terjadi adalah ia setelah kaya menjadi jauh pada agama.
Pernyataan ini begitu sering kita dengar sampai akhirnya hal ini tanpa sadar
menjadi keyakinan banyak orang. Bahkan ada keyakinan sebagian ummat
Islam yang secara dangkal mengartikan dunia adalah penjara bagi orang
mukmin dan sorga bagi orang kafir. Walaupun banyak yang mengatakan
bahwa hadis ini dhaif, dan memang masih perlu dicek ulang, namun
nampaknya masya- rakat sudah terlanjur meyakininya, sehingga sulit untuk
kita ubah pandangan tersebut. Padahal kalau kita perhatikan benar-benar
masyarakat yang kaya banyak juga yang dermawan dan rajin menjalankan
perintah agamanya. Pandangan ini diperkuat oleh sinetron yang sangat
populer yang menceritakan dan menggambarkan bagaimana seorang sosok
haji Muhyiddin yang kaya raya , sangat kikir dan malas dalam beribadah.
Sinetron ini sangat populer karena memang sinetron merupakan potret
kehidupan keseharian kita. Begitu miripnya dengan kehidupan kita sehari-
hari, sampai-sampai sebagian ummat Islam merasa wajib untuk menonton
film ini. Keyakinan masyarakatpun menjadi bertambah kuat, kalau kaya dan
sukses justru akan membawa manusia ke arah syahwat dan lemah dalam
menjalankan agamanya. Sehingga sering terjadi dimana masyarakat miskin
memusuhi sebagi- an masyarakat lain yang kaya. Bukannya bekerjasama
tetapi justru sebaliknya. Hal ini juga sangat berpotensi memunculkan
radikalisme yang akan dibahas khusus di paparan berikutnya. Namun seiring
dengan berjalanya waktu dan semakin baiknya mutu pendidikan generasi
muda ummat Islam, maka makin terbukalah pemikiran generasi muda Islam
dalam menghadapi kehidupan dunia yang penuh dengan tantangan ini.
Mereka sudah bisa melihat sendiri bagaimana orang kaya juga banyak yang
menjadi dermawan dan rajin menjalankan ibadahnya. Merekapun termotivasi
untuk menjadi seperti mereka. Sehingga mereka lebih siap dalam menghadapi
faham-faham hidup baru yang terus berkembang saat ini. Merekapun relatif
bisa menyesuaikan diri dengan keadaan zaman sekarang. Walaupun masih
ada saja ummat Islam yang berpenampilan religius tapi sebenarnya pola
pikirnya mengikuti faham orang- orang modern, seperti faham pragmatisme,
hedonisme, kapitalisme, material- isme, konsumerisme. Mereka tidak tahu
tentang faham ini namun mereka secara aktif mempraktekannya. Pandangan
ini merupakan faham free will yaitu faham dimana manusia mempunyai
kebebasan dalam berbuat, sedangkan Tuhanlah yang menciptakan daya
kebebasan pada manusia. Penggunaan daya kebebasan itu sendiri diserahkan
kepada manusia. Paham ini sering disebut paham qodariah.4 Islam sebagai
rahmatan lil alamin yang melekat pada para pemeluknya saat ini, terus
mengalami degradasi seiring dengan merebaknya faham modern- isme yang
terefleksikan dalam faham pragmatisme, hedonisme, kapitalisme,
materialisme, konsumerisme dan seterusnya. Suatu faham yang berkembang
dan diyakini akan kebenaranya secara luas yang sebenarnya belum tentu baik
menurut ajaran agama Islam. Karena kebenaran faham modernisme tersebut
bersifat sangat relatif. Namun sayangnya sebagian besar ummat Islam
terlanjur silau dengan jargon-jargon modernitas yang selalu disuarakan di
media masa, dan lupa akan nilai-nilai mulia yang sebenarnya juga dimiliki
dan diajarkan agamanya sendiri yaitu agama Islam yang memiliki kebenaran
absolut.

D. RADIKALISME DI DUNIA DIGITAL


Buku Deradikalisasi Dunia Maya : Mencegah Simbiosis Terorisme dan
Media ini ditulis oleh seorang Mayjen TNI yang sekarang menjabat sebagai
Panglima Kodam VII/ Wirabuana berisikan tentang penanggulangan
terorisme dengan mengedepankan pada upaya sistematis untuk mengubah
dunia maya yang saat ini disesaki dengan konten radikal di jagat antar
jaringan alias internet, agar tidak mempengaruhi para pembaca dan
penggunanya. Di dalam buku ini akan menjelaskan tentang bagaimana
menangkal sebuah paham deradikalisasi dalam pendekatan budaya dan dunia
maya. Dalam buku ini juga mampu menyampaikan analisanya secara
mendalam yang berkaitan dengan masalah radikalisme yang terjadi di dunia
maya. Selain itu, buku ini juga secara terang-terangan menjelaskan
penyebaran sebuah terorisme dan paham radikalisme yang saat ini telah
marak di dunia maya khususnya internet.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat memiliki beberapa dampak
negatif, khususnya pada media internet. Saat ini internet telah menjadi media
baru yang digunakan untuk menyebarkan paham radikalisme. Internet seperti
telah menjadi wadah yang sangat pas karena penyebaran informasinya yang
cukup cepat, dapat menjangkau khalayak luas, dan setiap orang sangat mudah
untuk mengaksesnya. Dengan kehadiran internet yang memiliki banyak
kelebihan tersebut sangat dinikmati dan menguntungkan bagi para kelompok
teroris yang akan menyebarkan sebuah paham radikalnya. Melalui media
internet para kelompok teroris bisa dengan mudah untuk merekrut anggota
baru, mengadakan pelatihan, melakukan propaganda, pendidikan, dan
pembinaan jaringan kelompoknya. Dalam buku ini, terdapat juga data-data
yang berisi hasil monitoring, terdapat situs negatif, dan contoh-contoh kasus
yang pernah terjadi di Indonesia maupun di luar negeri.
Melalui media baru ini, sebuah propaganda dapat dilakukan dalam bentuk
tulisan, video, dan ajakan-ajakan yang bisa disebarkan baik melalui website,
media sosial, blog, dan sebagainya. Dimana hal tersebut terbukti sangat
efektif dan efisien dalam upaya untuk menyebarluaskan sebuah kebencian,
memperluas jaringan, ataupun mencari anggota baru untuk ikut bergabung
dengan kelompoknya serta mengikuti paham-paham yang diajarkannya.
Munculnya perubahan teknologi dan informasi baru berbasis media
internet semakin memudahkan para kelompok teroris untuk meningkatkan
jaringan dan melakukan propaganda terhadap paham radikalisme yang
mereka anut. Para pelaku radikal memanfaatkan teknologi baru ini untuk
untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat. Banyak para organisasi
atau kelompok yang menggunakan media internet untuk menjalankan
kegiatannya demi mencapai tujuan yang mereka inginkan. Fenomena tersebut
membuat penggunaan internet oleh berbagai organisasi atau kelompok
dijadikan sebagai seuatu pola, modus, bahkan strategi baru yang cukup
efisien demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Seperti saat ini, kekuatan
para kelompok teroris tidak lagi melalui jaringan perorangan melainkan
melalui jaringan yang dapat terhubung secara global yaitu internet.
Buku ini menurut saya layak untuk dibaca dan sangat menarik, karena dapat
menambah pengetahuan bagi para pembacanya tentang bagaimana cara untuk
menangkal sebuah paham deradikalisasi dalam pendekatan budaya dan dunia
maya. Selain itu, literature mengenai penyebaran terorisme melalui media
baru yaitu internet ini belum banyak yang mengulasnya. Perkembangan dunia
maya tidak dapat dibendung lagi, tetapi kitalah yang dapat melakukan
perubahan dengan memberikan konten-konten kedamaian di dalamnya.
Seperti juga terorisme, penulis buku ini mengatakan terorisme tidak dihadapi
dengan kekerasan tapi dengan kelembutan, nah aksi kekerasan yang dulu saya
perhatikan kini berubah menjadi paham yang berbahaya. Dari pernyataan
tersebut, saya menangkap bahwa aksi-aksi para kelompok teroris yang kejam
tersebut diawali dengan sebuah perekrutan anggota yang penuh dengan
kelembutan, tetapi sangat membahayakan.
Dari setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Menurut saya, tidak banyak
kekurangan dalam buku Deradikalisasi Dunia Maya : Mencegah Simbiosis
Terorisme dan Media ini, dalam buku ini masih kurang menambahkan
penjelasan mengenai langkah-langkah ataupun kiat-kiat yang bisa dilakukan
setiap orang agar terhindar dari penyebaran paham radikalisme tersebut yang
merupakan ajaran berbahaya itu, khususnya bagi para pembaca yang masih
asing atau awan dengan paham radikal dan para generasi muda. Untuk itu
para pembaca bias dengan mudah mewaspadai dan mengenali ancaman dari
paham radikal yang saat ini beredar di dunia maya.
Dari fenomena terorisme saat ini sepertinya semakin menjamur dan
semakin terang-terangan menunjukan keberadaanya di masyarakat. Para
kelompok terorisme sepertinya bisa semakin berkembang seiring dengan
adanya media baru yaitu internet. Di dunia maya, para pelaku paham radikal
lebih menyasar pada kalangan anak muda atau remaja, karena dianggap
bahwa anak muda atau remaja lebih mudah terpengaruh dan lebih mudah
untuk mempengaruhinya terhadap hal-hal yang seperti itu. Dengan
membendung pengaruh terorisme dan penyebaran paham radikalisme di
dunia maya tidak cukup hanya dengan memotong dan mematikan akses
media mereka. Kebijakan deradikalisasi dunia maya dapat digambarkan
sebagai upaya untuk melawan sebuah ideologi dan propaganda dari para
kelompok radikal, kemudian menghiasi dunia maya dengan berbagai bentuk
atau konten perdamaian, dan akhirnya diharapkan dapat meningkatkan daya
tahan masyarakat dari pengaruh paham radikal terorisme.

E. PERANAN PEMUDA ISLAM DALAM MEMBENDUNG PAHAM


RADIKALISME-TERORISME
Pemuda Islam sebagai generasi penerus bangsa dituntut untuk mampu
menciptakan suasana yang nyaman, aman dan kondusif di tengah perbedaan
yang muncul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia
membutuhkan peran pemuda sebagai pemersatu keberagaman yang hadir di
Indonesia.
Peranan pemuda dalam membendung paham radikalisme dapat dilakukan
melalui kerja sama dengan tenaga pendidik formal dalam memberikan
informasi mengenai nilai-nilai agama yang benar. Tidak hanya memberikan
informasi para pemuda yang harus berperan dalam penanaman nilai agama
yang benar dalam jiwa para anak bangsa.
Selain itu arus informasi gerakan radikalisme di dunia yang begitu mudah
sampai kepada anak bangsa juga menjadi prioritas perhatian pemuda
Indonesia. Pemuda hendaknya menjadi pemfilter paham-paham negatif yang
menyentuh anak bangsa.
Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap bahaya paham radikalisme
juga menjadi perhatian para pemuda. Pemuda harus berperan memberikan
penyuluhan ataupun sosialisai berkenaan dengan hal tersebut. Informasi akan
mudah sampai di masyarakat ketika para pemuda turun langsung ke lapangan
berbaur dengan masyarakat dalam penyampaian bahaya paham tersebut.
Dengan penyuluhan tersebut masyarakat tidak lagi kebingungan akan
hadirnya paham tersebut di sekitarnya, sehingga masyarakat mampu
menghindari paham tersebut.
Paradigma masyarakat yang masih menganggap sebuah perbedaan adalah
kekacauan juga harus dihilangkan dalam memori ingatan masyarakat.
Pemuda mampu berperan dalam proses perubahan paradigma tersebut dengan
mengadakan berbagai kegiatan yang mampu mempererat tali silaturahmi
antar kelompok masyarakat. Kesenjangan sosial antara kelompok yang satu
dengan yang lainnya akan mudah hilang ketika tali silaturahmi terikat erat
diantara mereka.
Gerakan gerakan Radikalisme yang beredar di tengah masyarakat juga
berperan besar dalam penyebaran paham tersebut. Pada permasalahan ini
pemuda dituntut untuk membentuk sebuah organisasi kemanusiaan atau
organisasi yang mampu menyibukkan masyarakat ke arah positif. Dengan
dibentuknya organisasi kemanusiaan tersebut pemuda berperan sebagai
penggerak masyarakat untuk tetap peduli terhadap orang lain yang terkena
bencana atau musibah sehingga para pemuda mampu kembali mempererat tali
silaturahmi antar kelompok masyarakat.
Peran-peran tersebut akan berjalan ketika dalam diri para pemuda telah
tertanam sikap keprihatinan terhadap maraknya kasus perpecahan ataupun
pertikaian di masyarakat. Ketika sikap tersebut telah tertanam dalam diri
pemuda maka dorongan untuk mempersatukan bangsa Indonesia akan terus
digalakkan dan pemuda sebagai unsur terpenting di dalamnya.
BAB III
PEMBAHASAN

A. NILAI-NILAI PANCASILA YANG TERLUPAKAN


Faktor-faktor yang mempengaruhi Hilangnya Pancasila karena adanya
perkembangan Teknologi, sehingga memunculkan pandangan hidup yang
terlalu banyak, adapun Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Terlalu banyaknya orang yang sudah melupakan nilai Pancasila terutama
dalam Sila pertama yaitu ;
a. Ke Tuhanan Yang Maha Esa yang dimana setiap Bangsa Indonesia
diwajibkan memeluk Agama dengan Kepercayaan masing-masing
sebagai pemersatu Bangsa, namun sekarang realita yang terjadi semua
pemeluk Agama saat ini yang terjadi sudah melupakan Sila yang
Pertama, dikarenakan adanya kepentingan kelompok dan saling
menjatuhkan terhadap kelompok lain, sehingga hilangnya sebuah
Kesatuan Berbangsa dalam Mempertahankan NKRI, kemudian
b. Etika Sosial Budaya sudah terlupakan yang dimana dulunya
masyarakat selalu bergotong royong dan juga hubungan silaturahmi
masih sangat erat dijalan namun setelah budaya Luar masuk
mempengaruhi Bangsa Indonesia sdh semakin jelas terlihat pada saat
ini, gotong royong dalam masyarakatpun kini semakin berkurang,
kemudian berbagai Budaya luar dan Tekhnologi canggih yang masuk
dalam negeri ini, membuat masyarakat terlepas kendali untuk menilai
sesuatu termasuk budaya luar dan Tekhnologi membuat kita sangat
sulit untuk mengambil kesimpulan yang mana dampak baiknya dan
mudhoratnya dan begitu pula dengan Teknologi semakin terlepasnya
hubungan silaturahmi, dan berbagai isu yang membuat Bangsa ini
semakin terjebak dalam kepentingan, terutama dalam berita atau
informasi sehingga sekarang masyarakat telah di persibukkan dengan
dunianya sendiri.
c. Etika dalam beragama telah terlupakan misalnya dalam beraga Islam
banyak dari kita yang tidak lagi mengikuti ajaran yang sesungguhnya,
contohnya dalam berpaikan terutama dalam kaum Hawa, telah banyak
keluar dari norma-norma Islam.
2. Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab telah banyak terlupakan,
adapun hal-hal yang mempengaruhi tersebut yaitu :
a. Etika Pemerintahan dan Politik telah jauh dari keadilan yang sangat
kita harapkan, hal ini karena lagi-lagi kepentingan Individu dimana
yang Berkuasa semakin menindas yang lemah, dan yang lemahpun
semakin dalam ketertindasan sehingga hal ini mengakibatkan
hilangnya nilai kemanusiaan yang adil dan beradap telah jauh dari
pandangan dalam nilai keadilan yang Beradap.
b. Etika Sosial Budaya juga kini semakin melenceng, realita yang
terjadipun bisa kita lihat diberbagai tempat, misalnya ketika ada
Pejabat, atau kalangan atas yang masuk Rumah Sakit dengan kalangan
Ploretar, pasti yang selalu di dahulukan, dalam segi pelayananpun
adalah kalangan Atas, dibandingkan dengan kalangan bawah atau
masyarakat kecil.
c. Pekembangan Zamanpun tidak terlepas dari Kemanusiaan yang Adil
dan Beradab dan Kini Realita yang telah terjadi begitu banyaknya
Budaya dari luar yang masuk dalam negeri ini sehingga kurangnya
kita menempatkan sesuatu itu pada tempatnya, contoh kecil yang
terjadi pada saat ini bisa kita lihat yaitu, meraknya Pergaulan Bebas
bagi kalangan pemuda yang kurang terkontrol, kurangnya sopan
santun dalam bertutur kata.
3. Persatuan Indonesia kini tidak lagi kita gunakan, bahkan kita telah
melupakan hal ini sehingga membuat kita keluar dari Ideologi Pancasila
dalam Ke-Bhinnekaan Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tetap satu,
karena mungkin kita beranggapan bahwa yang bersatu itu kalau kita
berbahasa Indonesia, kita menganggap sudah bersatu kalau kita
berkelompok, padahal dengan berkelompoklah kita semakin jauh dari
pada persatuan, sebab dengan kita berkelompok pasti saling menjatuhkan,
karena adanya tujuan lain yang baik kepentingan Individu maupun
kelompok, maka hal ini kita harusnya kembali kepada Bhinneka Tunggal
Ika.
4. Kerakyatan yang di pimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Perwakilan, Hal ini pula kita semakin jauh daripada sila
yang ke empat, karena sudah terlalu banyak realita yang terjadi yang bisa
kita ceritakan misalnya, para pemimpin di negeri ini membuat
kearifannya semakin hilang, tak terlepas juga dengan Integritias diri
sebagai Pemimpin sehinggal memunculkan kekuasaan yang merusak
Negara sendiri misalnya korupsi terjadi diberbagai daerah dalam Negara
sendiri yaitu, Indonesia. Terlalu banyaknya pemimpin yang berkuasa
yang Dzolim dengan penuh Nepotizme akan janji-janji yang diberikan
kepada rakyat namun tidak memenuhi janji-janjinya.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga sangat jauh lagi
terhadap persatuan yang sesungguhnya, dan telah keluar dari Bhinneka
Tunggal Ika, Realita yang terjadipun sangat begitu jelas terlihat terjadi
dalam Negara ini seperti Jakarta dan Papua yang dimana Papua lebih
berpotensi dalam Sumber daya alamnya yang kita lihat tambang emas
Privot, sedangkan Jakarta lebih berpotensi terhadap Sumber daya
Manusianya, kenapa semua dialihkan di Jakarta sehingga perkembangan
Jakarta lebih tinggi dari pada Papua

B. FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA RADIKALISME- TERORIS.


Radikalisme sesungguhnya bukan sebuah paham yang muncul begitu saja
tetapi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara faktor-
faktor itu adalah :
1. Kapitalisme Global dan Problem Kemiskinan
Sistem kapitalisme yang sampai hari ini berkuasa berhasil
menciptakan kesejahteraan dengan kemajuan tingkat produktivitas dan
kecanggihan teknologi yang semakin tinggi. Sebagai sistem ekonomi,
kapitalisme yang diterapkan dunia Barat dinilai merusak dasar-dasar
kebudayaan dan menyingkirkan mereka yang lemah secara ekonomi, di
samping mampu berkuasa secara politik di level kebijakan negara.
Ketidakberdayaan umat Islam terhadap hegemoni ekonomi kapitalisme
barat menyebabkan sebagian umat Islam melakukan resistensi.
2. Pemahaman agama
Lemahnya pemahaman agama menjadi salah satu faktor mudahnya
masyarakat menerima paham ini. Radikalisme ini merupakan sasaran
yang tepat bagi orang-orang yang bertujuan menyelewengkan ajaran
agama atau mengajarkan paham-paham keagamaan yang sesat. "Umat
yang lemah dari segi pemahaman biasabnya mudah tergiur dengan
bujukan material untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran
agama. Termasuk tindakan redikalisme," ujar Menag Maftuh Basyuni.
Selain itu, masyarakat yang memiliki pengetahuan agama yang lemah dari
segi pengamalan perlu diberi sentuhan-sentuhan tasawuf atau penjelasan
tentang himatut tasyri'. Sentuhan tersebut dapat mendorong untuk
memahami esensi dari perintah dan larangan agama secara lebih luas.
Dari berbagai hasil penelitian, pengikut tarekat memiliki tingkat
kesadaran menjalankan ibadah yang tinggi dan menampakan kesadaran
moral yang tinggi pula. Kondisi itu merupakan suatu bentuk sumbangan
yang berharga dalam rangka membangun moral bangsa secara umum.
Komitmen komunitas penganut tarekat seperti ini diharapkan
senantiasa menjadi contoh penegakan nilai-nilai moral keagamaan dan
penghayatan spiritual sehingga tanggung jawab ulama ke depan semakin
berat sebab masyarakat saat ini semakin terbuka terhadap pengaruh dari
luar akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Peran ulama di
lingkungan ponpes juga perlu dipertahankan.
Selain itu, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Telah menjadi
rahasia umum bahwa radikalisme Islam (dan juga dalam agama-agama
lain) lebih sering dimotivasi oleh persoalan-persoalan ekonomi ketimbang
masalah agama. Peningkatan kesejahteraan bisa diartikan dengan
pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan lapangan kerja, dan
pemerataan pendapatan. Untuk mewujudkan semua itu dapat dilakukan,
misalnya, dengan memberikan kredit lunak kepada rakyat kecil,
reoptimalisasi koperasi, peningkatan industri agraris, dan memberikan
pelatihan-pelatihan kerja.
3. Sosial Politik
Gejala kekerasan agama lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-
politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah
oleh Barat disebut sebagai radikalisme itu lebih tepat dilihat akar
permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka
historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan
Azyumardi Azra 11 bahwa memburuknya posisi negara-negara Muslim
dalam konflik utara-selatan menjadi penopong utama munculnya
radikalisme. Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik
yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat
kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok
lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik.
Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta historis bahwa umat
Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga menimbulkan
perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi. Dengan membawa
bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama kaum radikalis mencoba
menyentuh emosi keagamaan dan mengggalang kekuatan untuk mencapai
tujuan mulia dari politiknya. Tentu saja hal yang demikian ini tidak
selamanya dapat disebut memanipulasi agama karena sebagian perilaku
mereka berakar pada interpretasi agama dalam melihat fenomena historis.
Karena dilihatnya terjadi banyak penyimpangan dan ketimpangan sosial
yang merugikan komunitas Muslim maka terjadilah gerakan radikalisme
yang ditopang oleh sentimen dan emosi keagamaan.
4. Emosi Keagamaan
Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah
faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas
keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal
ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan
agama (wahyu suci yang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu
mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama,
jihad dan mati stahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi
keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya
interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.
Ada sebagian kalangan yang memahami bahwa apa yang dipahaminya
merupakan hal yang paling benar. Mereka menganggap bahwa kelompok
atau golongannya yang paling benarsendiri. Sementara orang lain yang
tak memiliki pandangan yang sama dengannya dinyatakan salah.
Mestinya, adanya perbedaan yang muncul di tengah-tengah kehidupan
kita dapat diselesaikan dengan melakukan komunikasi dan dialog.
Bukannya mengedepankan penyelesaian yang melibatkan kekerasan. Kita
mestinya menarik teladan dari tokoh-tokoh Islam terdahulu, seperti
Mohamad Natsir, yang meski berbeda pandang dengan tokoh lainnya,
namun tetap mengedepankan dialog dan tetap saling menghormati di
antara mereka. Mereka memberikan contoh yang bijak dalam menghadapi
perbedaan yang ada.
5. Faktor Kultural
Ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi
munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural,
sebagaimana diungkapkan Musa Asyari 12 bahwa di dalam masyarakat
selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring
kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang
dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa terhadap budaya
sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggab
sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bummi. Sedangkan fakta
sejarah memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya
atas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat sekarang ini
merupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Barat telah
dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi selurh sendi-sendi
kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan
tertindas. Barat, dengan sekularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa
yang mengotori budaya-budaya bangsa Timur dan Islam, juga dianggap
bahaya terbesar dari keberlangsungan moralitas Islam.

C. RADIKALISME ANCAMAN TERHADAP NKRI


NKRI bisa terbentuk berkat perjuangan para pendiri bangsa dahulu awal
kemerdekaan RI. Mereka berjuang sepenuh hati, mereka korbankan
kehidupan mereka untuk bisa mewujudkan persatuan dan keutuhan negara
Republik Indonesia. Sehingga sampai sekarang kita kenal banyak pahlawan
bangsa yang sudah gugur jauh mendahului kita dalam rangka
memperjuangkan cita-cita luhur bangsa.
Sayangnya banyak generasi muda yang tidak tahu atau tidak mau tahu
dengan perjuangan mereka para leluhur pendiri bangsa. Sehingga timbullah
sekarang ini banyak kelompok-kelompok yang secara diam-diam atau terang-
terangan ingin mengganti dasar negara RI yang merupakan landasan
terwujudnya persatuan dan kesatuan RI.
Mereka menyempal dan berafiliasi ke jaringan Islam aliran keras. Mereka
yang setuju dengan penggantian Pancasila dan UUD 45 bergabung dan
membuat kelompok ekslusif yang dibungkus dengan agama, sehingga
terkesan menarik bagi orang-orang awam yang tidak paham dengan politik.
Orang awan ini merasa terakomodasi ide-idenya, sebagai orang yang
marginal atau termarginalkan, mereka sama-sama tidk puas dengan
pengelolaan negara yang ada sekarang ini.
Sehingga mereka berbondong-bondong bergabung dan mendukung ide
penggantian idiologi Pancasila yang sudah menjadi kesepakatan bersama
antara rakyat dan pemerintah. Mereka bersatu dan bertekad ingin mengganti
idiologi Pancasila dengan sangat halus. Mereka berusaha memiliki sekolah
sendiri, bank sendiri,usaha sendiri, jaringan bisnis sendiri dan seterusnya
yang semua itu dijalankan oleh kelompok beraliran keras dengan dibungkus
agama.
Apabila ada organisasi mengganggu ketertiban umum, memecah belah
umat dan NKRI, bertentangan dengan ideologi Pancasila, maka Pemerintah
harus campur tangan. Pemerintah untuk tidak sekadar berwacana dalam me-
nangkal perkembangan radikalisme di Indonesia, namun harus berupa
tindakan reaktif cepat dan tepat sasaran. Pemerintah agar menegakan undang-
undang terorisme secara maksimal sehingga terorisme tidak berkembang di
Indonesia.
Kompomponen yang berperan penting terhadap situasi suatu negara, yaitu
agama, ekonomi dan politik. Faham radikalisme kegiatannya dapat
dikategorikan sebagai terorisme dimana terdapat suatu ancaman, kekerasan
dan mengambil hak asasi manusia. Untuk itu, bangsa Indonesia harus
bekerjasama menentang dan melawan untuk meminimalisir dampak dari
faham radikalisme serta mendorong pemerintah untuk mencoba mengurai
potret kemunculan faham radikalisme dengan mencoba membatasi potensi-
potensi perkembangan faham itu dari luar, yakni dengan cara membentengi
NKRI dari paham-paham yang tidak dibenarkan oleh agama. Salah satunya
bentengi NKRI dengan pemahaman sesuai ajaran Islam melalui pengajian,
pendekatan anak dengan orangtua, dan melalui diskusi-diskusi, dll.
Yang tidak kalah penting adalah revitalisasi lembaga, badan, dan organi-
sasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus. Organisasi-organisasi yang
ada di kampus memegang peranan penting untuk mencegah berkembangnya
paham radikalisme ini melalui pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang
komprehensif dan kaya makna.
Keanggotaan dan aktivisme organisasi merupakan faktor penting untuk
mencegah terjerumusnya seseorang ke dalam gerakan radikal yang ekstrem.
Sebaliknya terdapat gejala kuat para mahasiswa yang non aktivis dan kutu
buku sangat mudah terkesima sehingga segera dapat mengalami cuci otak dan
indoktrinasi pemikiran radikal dan ekstrem. Mereka cenderung naf dan polos
karena tidak terbiasa berpikir analitis, kritis, seperti lazimnya dalam
kehidupan dunia aktivis.
Menggalakkan propaganda anti radikalisme seharusnya menjadi salah
satu agenda utama untuk memerangi gerakan radikalisme dari dalam kampus.
Peran itu menjadi semakin penting karena organisasi mempunyai banyak
jaringan dan pengikut sehingga akan memudahkan propaganda-propaganda
kepada kader-kadernya. Jika ini dilaksanakan dengan konsisten, maka pelan
tapi pasti gerakan radikalisme bisa dicegah tanpa harus menggunakan
tindakan represif yang akan banyak memakan korban dan biaya.
Perlu langkah strategis, inovatif, terpadu, sistematis, serius, dan kom-
prehensif. Yang diperlukan bukan hanya pendekatan keamanan dan ideologi,
tetapi juga memperhatikan jaringan, modus operandi, dan raison detre
gerakan ini. Perlu perpaduan langkah ideologis, program deradikalisasi
melalui masya- rakat sipil, serta pendekatan ekonomi dan sosial. Ini guna
mencegah para mantan aktivis gerakan radikal dan teroris agar tak kembali
pada komunitas lamanya. Program memanusiakan ini, juga jadi salah salah
satu prasyarat mencegah meluasnya aksi radikalisme dan terorisme .
Untuk menjalankan langkah itu, pemerintah harus berdiri di garda depan
sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap keamanan warga
negaranya. Ketegasan dan keseriusan negara dalam melindungi warganya,
menciptakan rasa aman, serta mencegah aksi kekerasan akibat radikalisme
keagamaan ini menjadi amanah konstitusi yang mendesak dilakukan. Dalam
hal ini, pemahaman kembali Pancasila sebagai pilar bangsa dan pilihan
terhadap paham keagamaan yang toleran dan moderat harus menjadi agenda
yang dipertimbangkan. Ketegasan negara dan dukungan masyarakat tentu
akan jadi kekuatan strategis guna membendung proliferasi radikalisme
keagamaan ini.
Agar kita terhindar dari radikalisme yang mengatas namakan organisasi
keagamaan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan seperti, tidak mudah
percaya pada sembarang organisasi keagamaan, harus ditanya tentang
identitas organisasi keagamaan tersebut ,organisasi keagamaan haruslah
terbuka, dalam artian orga- nisasi tersebut tidak menutup-nutupi diri dari
masyarakat dan hindari orga- nisasi yang melakukan sesuatu yang terkesan
aneh seperti meminta uang dalam jumlah besar, mengganti nama kita, atau
memutus hubungan dengan keluarga.
Biasanya organisasi keagamaan yang menyeleweng akan langsung
membahas hal-hal yang berat seperti seperti permasalahan Negara atau
tentang kekafiran. Namun kita juga tidak harus terlalu anti atau menghindari
organisasi keagamaan, karena tidak semua organisasi keagamaan itu
nyeleneh, banyak juga organisasi keagamaaan yang sangat baik untuk diikuti.

D. PERGERAKAN ISLAM DI INDONESIA


Islam merupakan Ajaran kesempurnaan menuju keselamatan yang
dijadikan sebagai Pandangan hidup, namun sekarang yang terjadi pada saat
ini Islam hanya dijadikan sebagai alat kepentingan, bukan lagi sebagai
panutan yang yang seharusnya dijalankan sesuai dengan syariat-syariat yang
telah ditetapkan, adapun faktor-faktor dalam pergerakan Islam saat ini yaitu :
1. Terlalu banyak kelompok Islam yang melahirkan Egoisme dalam
berkelompok, yang membuat pertentangan saling membenarkan antara
kelompok, dan menyalahkan kelompok satu sama lain, karena tidak lain
lagi untuk kepentingan, maka hari inipun Islam dianggap sebagai paham
Radikal, karena hilangnya kesadaran bersama dan terjauh dari syariat
Islam yang sesungguhnya.
2. Kelompok Islam bukan lagi pandangan hidup melainkan strategi politik,
maka seharusnya Islam menjunjung tinggi nilai Pancasila, namun realita
yang terjadi Islam telah terpecah-belah dengan mementingkan kelompok
individu, bukan lagi yang bermasyarakat

E. SOLUSI MENGHADAPI RADIKALISME


Ada beberapa hal yanga dapat kita lakukan dalam rangkan menangkal
paham radikalisme yang dapat merusak cara pandang dan pemikiran kita,
antara lain:
1. Bersilaturrahim dengan Banyak Kalangan
Individu yang tertutup cenderung dapat dengan mudah terpengaruh
dengan bentuk-bentuk ajaran radikalisme. Salah satu yang dapat kita
lakukan adalah menjalin hubungan silaturrahmi yang positif dengan
sebanyak mungkin orang-orang di sekitar kita. Jangan jadi orang yang
tertutup. Abdul Wahhab bin Nasir dalam bukunya mengungkapkan bahwa
Rasulullah senantiasa menjalin silaturrahim dengan cara mengunjungi
kerabat-kerabatnya pada waktu dhuha, seperti kunjungan beliau ke rumah
Fahimah dan Ummu Aiman. (2014:55)
Berkaitan dengan Silaturrahmi Amin (2003: 68) mengemukakan
bahwa:Memelihara hubungan yang baik atau harmonis dengan sesama
manusia adalah suatu keharusan, dengan demikian kita akan memeroleh
berbagai keberuntungan, misalnya rezeki akan bertambah luas, juga kita
akan disayangi, tidak hanya oleh penduduk bumi tetapi juga penghuni
langit.
2. Banyak Membaca Berbagai Referensi
Dalam memahami sebuah ajaran, bila kita hanya mengacu pada satu
referensi, maka kecenderungan kita untuk ikut dan menjadi fanatik
menjadi lebih besar. Berbeda halnya bila kita banyak membaca buku.
Artinya satu hal dengan yang lain dapat kita perbandingkan sehingga kita
dapat lebih bijak dalam menyikapi sebuah permasalahan.
3. Selalu Ingin Memperbaiki Diri.
Dalam kesempatan yang lain Amin juga megungkapkan bahwa Bila kita
senantiasa berupaya memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan,
menyempurnakan kelemahan, meningkatkan prestasi, maka berarti kita
tergolong orang yang selalu menginginkan hasil atau prestasi yang lebih
baik. (Amin, 2003:76).
4. Menetapkan Tujuan Hidup
Tujuan hidup merupakan manifestasi dari pikiran kita. Segala sesuatu
yang memengaruhi pikiran kita akan menghasilkan tujuan tertentu.
Pengaruh itu bisa berasal dari lingkungan, keluarga, trauma masa lalu,
tokoh idola, motivasi orang sukses dan kemungkinan lainnya. Misalnya,
orang yang trauma terhadap hutang bisa jadi tujuan hidupnya ingin
terbebas dari hutang. Tujuan hidup itu sangat berpengaruh bagi
keberadaan kita saat ini dan impian kita di masa depan. Sangatlah penting
untuk mengawal proses pencapaian dengan menentukan tujan hidup
terlebih dahulu. (Syihab, 2013:19)
F. PEMUDA SEBAGAI BENTENG PERTAHAN DALAM MENGHADAPI
PERKEMBANGAN RADIKALISME
Dalam menghadapi tantangan Radikalisme tersebut harusnya
saat ini pemudalah yang berperan aktif untuk mencegah terjadinya
paham Radikalisme tersebut bukankankah yang harus kita ingat
kembali seperti yang dikatakan oleh Presiden Republik Indonesia
Jas Merah, yaitu jangan sekali-kali melupakan sejarah, dan juga
Bung Karno berkata berikan aku sepuluh pemuda maka akan
kugoncangkan dunia, perlu kita ketahui bahwa pemudalah yang
harus berperan aktif dalam mencegah terjadinya Radikalisme,
seperti ungkapan Pramoedya Ananta Toer Sejarah dunia adalah
sejarah orang muda, jika angkatan muda hari ini mati rasa maka
matilah sebuah Bangsa. Maka dari itu adapun solusi untuk
menghadapi Radikalisme adalah :
1. Pemuda harus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila untuk
menghadapi Radikalisme.
2. Pemuda yang mempunyai pengetahuan tentang Radikalisme
dan bukan Radikalisme
3. Menjadikan Teknologi sebagai Pemersatu.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Peran generasi muda melalui peningkatkan pengetahuan pendidikan dan
pemahaman agama pada dasarnya merupakan tempat untuk membendung
gerakan radikalisme di IndonesiaAda beberapa hal yanga dapat kita lakukan
dalam rangka menangkal paham radikalisme yang dapat merusak cara
pandang dan pemikiran kita, antara lain: bersilaturrahim dengan banyak
kalangan, banyak membaca berbagai referensi, selalu ingin memperbaiki
diri, dan menetapkan tujuan hidup.
Pemuda dituntut untuk membentuk sebuah organisasi kemanusiaan atau
organisasi yang mampu menyibukkan masyarakat ke arah positif. Dengan
dibentuknya organisasi kemanusiaan tersebut pemuda berperan sebagai
penggerak masyarakat untuk tetap peduli terhadap orang lain.

B. SARAN
Dengan selesainya penulisan makalah ini penulis menyarankan kepada
pembaca agar:
1. Senantiasa menjaga silaturrahmi dengan bayak kalangan agar memiliki
cara pandang yang luas terhadap sebuah persoalan.
2. Memperbanyak referensi bacaan agar terbentuk mindset dan wawasan
yang luas dalam melihat sebuah persoalan.
3. Menetapkan tujuan hidup agar tidak mudah terpengaruh paham dan
ajaran yang dapat membawa kita pada paham radikalisme yang
berbahaya.
DAFTAR PUSTAKA
1. https://pandaibesi.com/makna-pancasila-sebagai-dasar-negara.
2. Asysyathatharity,Derajat. Wasiat Gajah Mada, Jakarta : Puslitbang Lektur
dan Khazanah, 2013, Keagamaan Badan Litbang Dan Diktat Kementrian
agama RI.
3. Bahtiar, Amtsal. Filsafat Agama, Pamulang Timur Ciputat, LOGOS Wacana
Ilmu, 1997.
4. Ghozali, al- Imam. Ihyaulumiddin, terj. H.Muqorrobin Misbah dkk,
Semarang, Asy syfa, 1994,
5. uergensmeyer, Mark. Teror Atas Nama Tuhan, Jagakarsa Jakarta Selatan,
Nizam Pers, 2000,
6. Subandi, M.A. Psikologi Agama dan Kesehatan Mental , Jogjakarta, Pustaka
Pelajar, 2013,
7. Kasnawir, Apriawan. Peran Idiologi Pancasila Untuk membentengi diri dari
Radikalisme. 2015.
8. http://edukasi.kompasiana.com/2015/04/03/peran-idiologi-pancasila-untuk-
membentengi-diri-dari-radikalisme-isis--716190.html
9. Media Pusat, Damai. Membentengi Pemuda dari Radikalisme dan
Terorisme. 2013.
10. http://damailahindonesiaku.com/membentengi-pemuda-dari-radikalisme-dan-
terorisme.html
11. Zacky,pengertian.Radikalisme.2013. http://2beahumanbeing.blogspot.com/
2012/06/makalah-radikalisme-pengertian-konsep.html
12. Setiyono,2013,Menagih Kiprah Pemuda Yogyakarta, :Smart Writing.
13. M.Alfan Alfian,2013,HMI Menegakkan Pancasila Di Tengah
PraharaJakarta,Kompas Media Nusantara.
14. Soe Hok Gie,2015,Catatan Seorang Demostran,Jakarta,:LP3ES.
15. Said Munarudin,2014,Bintang Arasy,Banda Aceh,Syiah
KualaUniverstyPress.
16. Fauzan, Ahmad. 2015. Membendung gerakan radikalisme di
IndonesiaJakarta,: mizanpress.
17. Hardiman,F.Budi,2003.Terorisme:Definisis,Aksi dan
Regulasi,Jakarta,Imarsial
18. Amin, Rusli. 2003. Menjadi Remaja Sukses. Jakarta: Al-Mawardi Prima.
19. Shihab, Charis. 2013. 11 Ibadah Yang Mengantar Hidup Sukses dan Penuh
Barokah. Mitra Press.
20. Nasyir, Abdul Wahab bin. 2014. Keseharian Rasulullah. Jakarta: Al-Mahirah.
21. Majelis Ulama Indonesia Pusat. 2014. Mengenal dan Mewaspadai
Penyimpangan Syiah di Indonesia. Jakarta: FORMAS