Anda di halaman 1dari 26

TEKNIK PEMBESIAN KOLOM BETON

Hotma Prawoto Sulistyadi


Program Diploma Teknik Sipil
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 1


PERSYARATAN GEOMETRIK KOLOM
c1 > 300
c2
c1 c2 > 300
l0

Jika c1 < c2, maka c1 / c2


harus > 0.4

Selain itu, kelangsingan


maksimum kolom
Tinggi bersih (Ho)

hendaknya dibatasi agar


Ld tidak lebih dari 100
(H0)2
menghindari effek P-D

(Ho + Ld)/2 Sangat dianjurkan


(H0)1 ukuran penampang dan
tinggi teoritis kolom
sedemikian hingga
l0 kekakuan kolom lebih
besar daripada
kekakuan balok yang
merangka pada kolom
Hotma Prawoto - DTS SV UGM
tersebut 2
Dipilih nilai terbesar dari tiga rumusan berikut:
1. Lebih besar dari c1 atau c2
l0
2. Lebih besar dari Ho/6
3. Lebih besar dari 450 mm

Panjang penyaluran
Tinggi bersih (Ho)

tegangan tarik yang


Ld ditentukan oleh standar
dan tidak boleh kurang dari
300 mm
(Ho + Ld)/2

l0

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 3


150 > sx = 100 + ( 350 cx ) / 3 > 100
s/2
c1 / 4
l0 c2 / 4
s< 6 db
sx
6 db
s< 150
Tinggi bersih (Ho)

jarak sengkang maksimal


Ld dipilih nilai yang lebih kecil
dari d/4 atau 100

(Ho + Ld)/2

l0

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 4


Persyaratan tulangan lentur kolom (tulangan memanjang)
1. Rasio penulangan minimum 1% dan maksimum 6%
2. Sambungan mekanis maupun sambungan las harus dirancang
dengan kuat-leleh bajatulangan 125% dari kuat-leleh batang
yang disambung
3. Sambungan menurut butir 2 tersebut tidak diperbolehkan
diletakkan di lokasi yang potensial membentuk sendi plastis
4. Sambungan lewatan hanya boleh ditempatkan di setengah
ketinggian/panjang elemen dan harus diperhitungkan sebagai
sambungan lewatan tarik dan harus tetap mengikuti ketentuan
butir 1
5. Rasio volumetrik tulangan pengekang mengikuti ketentuan
dalam SNI

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 5


Persyaratan Penulangan

a. Luas Bajatulangan Minimum dan Luas Bajatulangan Maksimum

1. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa rangkak dan susut yang terjadi pada kolom
cenderung mentransfer beban aksial yang mula-mula bekerja pada beton ke
bajatulangan.
2. Agar bajatulangan tidak leleh terlalu dini akibat beban kerja maka perlu
bajatulangan dengan luas minimum.
3. Adanya luas minimum bajatulangan pada kolom sekaligus mengurangi rangkak
dan susut serta menjamin kolom mampu menahan beban lentur yang tak terduga
4. Dengan pertimbangan dari segi ekonomis dan juga kemudahan di dalam
pelaksanaan pekerjaan penulangan di lapangan, maka luas bajatulangan kolom
perlu dibatasi

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 6


Persyaratan Penulangan

Rumusan umum pembatasan luas bajatulangan di dalam penampang kolom


beton secara umum adalah :

1% Ag < Ast < 4% Ag

Ag = luas penampang beton


Ast = luas total penampang bajatulangan

Hotma Prawoto - DTS SV


7
UGM
Persyaratan Penulangan

b. Jarak Antara Tulangan Yang Disyaratkan

Untuk mengurangi pengaruh tekuk dan agar bajatulangan vertikal dapat bekerja
efisien, RSNI3, SK SNI 03-xxxx-2002 mensyaratkan jarak/spasi antar tulangan
sebagai berikut:
150

150

maksimum
135o

boleh lebih dari 150

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 8


Sengkang Pada Kolom Beton
Secara garis besar fungsi sengkang pada kolom beton adalah:
1. Pengekang beton (concrete confinement) agar beton tetap kokoh saat
menerima tekanan oleh beban
2. Pengikat bajatulangan longitudinal, sehingga antara beton dan
bajatulangan dapat bekerjasama di dalam melawan deformasi yang terjadi
pada kolom
3. Sebagai pemikul tegangan geser (baik oleh lentur maupun oleh puntir)
yang bekerja pada penampang

Sengkang sangat penting di dalam


struktur kolom beton bertulang

Hotma Prawoto - DTS SV


9
UGM
Sengkang Pada Kolom Beton
Beberapa ketentuan tentang sengkang pada kolom beton
Lap splice hooks in
alternate corner (typical) x x

Vertical bars
min min. cover
= 1 bar diameter

(a) 4 Bars (b) 6 Bars (e) 12 Bars


Note : ties shown dashed in (b) (c) and (d)
may be omitted if x < 6 in 3-bar bundles
x x x x

(c) 8 Bars (d) 8 Bars (f) 12 Bars

Hotma Prawoto - DTS SV


10
UGM
Sengkang Pada Kolom Beton
Ada 2 jenis sengkang di dalam kolom beton, yaitu:

SENGKANG BIASA
SENGKANG SPIRAL (SPIRAL)

Spiral

Sengkang biasa

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 11


2.5. Sengkang Pada Kolom Beton
Perbedaan di dalam mempertahankan keruntuhan setelah tulangan utama
leleh antara kolom dengan sengkang biasa dan kolom berspiral adalah sebagai
berikut:

Tul. Utama leleh Kolom berspiral

Kolom bersengkang

(tekan)

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 12


2.5. Sengkang Pada Kolom Beton
Pada kolom beton yang dibebani gaya aksial sentris, pola keruntuhan
adalah seperti terlihat pada Grafik di bawah ini:

Second maximum load


Shell spalls

Spiral breaks
Load

Spiral column

Tied column

0.5 1.0
Axial shortening (in)

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 13


2.5. Sengkang Pada Kolom Beton
Pada kolom beton yang dibebani gaya aksial eksentris, pola keruntuhan
adalah seperti terlihat pada Grafik di bawah ini:

Tied, e/h = 0.25


300 Ac = 100 in2 As = 1.24 in2
fc = 5810 psi fy = 43900 psi
Load (kips)

200
Spiral, e/h = 0.25
Ac = 113 in2 As = 4.8 in2
fc = 3620 psi fy = 43800
psi
100

0
0 1 2 3
Lateral deflection at midheight (in)

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 14


2.5. Sengkang Pada Kolom Beton
a. Sengkang dan Sengkang Ikat Biasa

Secara garis besar, ketentuan maksimum


135o

tentang sengkang menurut


RSNI3, SK SNI 03-xxxx-2002
adalah:

1. Diameter sengkang > D-10 untuk tulangan longitudinal < D-32


2. Diameter sengkang > D-13 untuk tulangan longitudinal D-36, D-
44, D-56
3. Spasi vertikal sengkang dan/atau sengkang ikat harus memenuhi
ketentuan berikut:
a. kurang dari 16 kali diameter tulangan longitudinal
b. kurang dari 48 kali diameter sengkang/sengkang-ikat
c. kurang atau samadengan ukuran terkecil komponen struktur

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 15


2.5. Sengkang Pada Kolom Beton
b. Sengkang Spiral

spiral
f1
Concrete core

fs
f2 p

f2
fs f2
fsp fsp
p
s f1

Dc f2

Spiral f2 f2
f1
f2

f1
Hotma Prawoto - DTS SV UGM 16
2.5. Sengkang Pada Kolom Beton
b. Sengkang Spiral Asp p ( Dc db )
rs =
db 0.25 p Dc2 s
Asp = 0.25 p db2
Ac = 0.25 p Dc2 Ag fc
rs < 0.45 -1
Ag = 0.25 p h2 Ac fsy

Dc
fsy < 420 Mpa
h
Jika ketentuan di atas dipenuhi, maka boleh
digunakan nilai Pn max sebagai berikut:
s
Pn max = 0.85 (fc (Ag - Ast) + fy Ast)

Secara rinci ketentuan mengenai spiral ini dapat dilihat


pada pasal 9.10., RSNI3, SK SNI 03-xxxx-2002

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 17


Jarak tulangan bujur kolom harus kurang
atau samadengan 150
Begel/sengkang kolom di daerah join
(daerah interseksi kolom dengan balok)
harus dipasang menerus

DETAIL INTERPRETASI SKEMATIK


Hotma Prawoto - DTS SV UGM 18
Jarak tulangan bujur kolom harus kurang
atau samadengan 150
Begel/sengkang kolom di daerah join
(daerah interseksi kolom dengan balok)
harus dipasang menerus

DETAIL INTERPRETASI SKEMATIK


Hotma Prawoto - DTS SV UGM 19
TEKNIK PEMBESIAN JOIN BALOK-KOLOM
Hotma Prawoto Sulistyadi
Program Diploma Teknik Sipil
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 20


Join balok-kolom merupakan bagian struktur terpenting
yang harus diupayakan memiliki kemampuan
mempertahankan diri dari kegagalan melalui
kemampuan inelastiknya, sehingga harus dirancang
sedemikian hingga:

1. Memiliki kekangan beton yang baik sehingga tidak


terjadi kehancuran beton di tempat tersebut
2. Susunan bajatulangan yang baik dan memberikan
kemudahan bagi pencoran dan pemadatan beton
3. Kualitas bahan yang baik dan memenuhi
persyaratan kuat-bahan yang ditetapkan oleh
regulasi yang berlaku

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 21


Join balok-kolom merupakan bagian struktur terpenting
yang harus diupayakan memiliki kemampuan
mempertahankan diri dari kegagalan melalui
kemampuan inelastiknya, sehingga harus dirancang
sedemikian hingga:

4. Menjamin tidak terjadi sendi plastis pada kolom


maupun join balok-kolom
5. Menjamin terjadinya sendi plastis di balok pada
tempat yang direncanakan, khususnya saat terjadi
gempa besar yang melampaui gempa rencana

Hotma Prawoto - DTS SV UGM 22


Daerah potensial Setengah tinggi kolom
terjadi sendi plastis

Setengah tinggi kolom

KONSEP PERANCANGAN TITIK


BUHUL (JOIN BALOK-KOLOM)
Hotma Prawoto - DTS SV UGM 23
CONTOH PENGGAMBARAN
SENGKANG KOLOM
500

1200
a = 100
500
16 D 22

a = 200

1600
a = 100

1200
2 D8-a 2 D 10 - a

2 D 10 - a
DETAIL PENULANGAN KOLOM 500 X 500
Hotma Prawoto - DTS SV UGM 24
CONTOH PENGGAMBARAN
SENGKANG KOLOM
500

1200
a = 100
500
16 D 22

a = 200

1600
a = 100

1200
2 D8-a 2 D 10 - a

2 D 10 - a
DETAIL PENULANGAN KOLOM 500 X 500
Hotma Prawoto - DTS SV UGM 25
CONTOH PENGGAMBARAN
SENGKANG KOLOM
400

1200
a = 100
400
12 D 16

a = 250

1600
2 D8-a

a = 100

1200
2 D8-a

2 D8-a

DETAIL PENULANGAN KOLOM 400 X 400


Hotma Prawoto - DTS SV UGM 26