Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN HASIL PRATIK TATANAN NYATA PADA PASIEN Ny.

S DENGAN
POST OPERASI BATU GINJAL DI RUANG IGD RSUD KAB. JOMBANG

Dosen Pembimbing :

Ratna Puji. P. S.Kep, Ns, M.s

Disusun oleh kelompok 11:


1. Tita Heni Febrianti (151001041)
2. Usha Meilasari (151001042)
3. Verra Shintya Putri (151001043)
4. Vina Ismawati (151001044)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2016/2017
LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEPERAWATAN TATANAN NYATA RSUD JOMBANG
Ruang IGD

Nama kelompok :Kelompok 11


Anggota Kelompok :
1. Tita Heni Febrianti (151001041)
2. Usha Meilasari (151001042)
3. Verra Shintya Putri (151001043)
4. Vina Ismawati (151001044)

Asuhan keperawatan pada Ny. S diagnosa medis Post OP batu Ginjal di IGD RSUD
Jombang yang dilaksanakan padatanggal 12 Juni 2017 telah disahkan sebagai Laporan
tatanan nyata Semester IV Prodi S1 Keperawatan STIKES PEMKAB JOMBANG

Jomban, 20 Juni 2017


Mengetahui
Pembimbing Lahan Dosen Pembimbing

Fikri Mubarok, S.kep,Ns Ratna Puji. P. S.Kep, Ns, M.s

NIP. NIK. 011985210820110771

Mengetahui
Kepala Ruangan IGD

Seputro Edhy S.S.Kep.Ns


NIP.

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan, rahmat
taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Tatanan Nyata dengan
judul Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Aritmia Pada Ny. S Di RSUD
JOMBANG dalam bentuk makalah. Dengan selesainya masalah ini, tidak lupa penulis
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ketua STIKES PEMKAB JOMBANG, drg. Budi Nugroho, MPPM
2. Ketua program studi S1 Keperawatan STIKES PEMKAB JOMBANG, Dr. Sestu
Retno D.A.,S.Kp,M.Kes
3. Dosen pembimbing Ratna Puji. P. S.Kep, Ns, M.s
4. Kepala ruangan Baskoro Setioputro
5. Pembimbing Lahan Fikri Mubarok, S.kep,Ns

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih ada kekurangan maupun
kesalahan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
penyempurnaan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Atas perhatiannya penulis
ucapkan terimakasih.

Jombang, 20 Juni 2017

Penulis

iii
DAFTAR ISI

JUDUL ....................................................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................... ii

KATA PENGANTAR ............................................................................................... iii

DAFTAR ISI.............................................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang ................................................................................................ 1


1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi ............................................................................................................. 3


2.2 Etiologi ............................................................................................................. 3
2.3 Klasifikasi batu saluran kemih ......................................................................... 5
2.4 Patofiologi ........................................................................................................ 6
2.5 Manifestasi Klinis ............................................................................................. 7
2.6 Komplikasi ...................................................................................................... 8
2.7 Pemeriksaan Penunjang .................................................................................... 8
2.8 Penatalaksanaan ................................................................................................ 10
2.9 Pencegahan ....................................................................................................... 11

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

3.1 Pengkajian ..................................................................................................... 14


3.2 Primary Survey .............................................................................................. 14
3.3 Diagnosa ........................................................................................................ 16
3.4 Intervensi dan Implementasi ......................................................................... 16
3.5 Evaluasi .......................................................................................................... 18

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan .................................................................................................... 19


4.2 Saran .............................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batu saluran kemih adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan
substansi yang terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena faktor
lain yang mempengaruhi daya larut substansi (Nurlina, 2008). Batu saluran kemih yang
muncul dapat disebabkan oleh faktor instrinsik dan ekstrinsik. Faktor ekstrinsik yang
paling mempengaruhi adalah faktor gaya dan pola hidup masyarakat terutama
mayarakat kota. Pola hidup masyarakat kota cenderung statis dan praktis. Pola hidup
dikatakan statis karena masyarakat kota cenderung kurang aktivitas/gerak dan mobilitas
dibantu dengan mesin seperti kendaraan bermotor dan eskalator.
Faktor pola minum yang memicu timbulnya batu saluran kemih antara lain kurang
meminum air putih, banyak mengkonsumsi jus tomat, anggur, apel, vitamin C dan soft
drink, sementara banyak mengkonsumsi teh, kopi, susu dan jus jeruk mengurangi
kemungkinan terbentuknya batu saluan kemih. Makanan yang mempengaruhi
kemungkinan terbentuknya batu saluran kemih antara lain terlau banyak protein hewan,
lemak, kurang sayur, kurang buah, dan tingginya konsumsi fastfood/junkfood.
Mengkonsumsi suplemen makanan dan obat-obatan tertentu juga dapat memicu
terbentuknya batu saluran kemih. Sering menahan BAK dan kegemukan juga dapat
menaikkan kemungkinan terkena batu saluran kemih (Muslim, 2007).
Proses ini dinamakan nukleasi heterogen. Prevalensi penyakit ini diperkirakan
sebesar 7% pada perempuan dewasa dan 13% pada laki-laki dewasa. Empat dari lima
pasien adalah laki-laki, sedangkan usia puncak adalah dekade ketiga sampai ke empat .
Di Indonesia sendiri, penyakit ginjal yang paling sering ditemui adalah gagal ginjal dan
nefrolitiasis. Prevalensi tertinggi penyakit nefrolitiasis yaitu di daerah DI Yogyakarta
(1,2%), diikuti Aceh (0,9%), Jawa Barat, Jawa Tengah , dan Sulawesi Tengah masing-
masing (0,8%)..

1.2 Rumusan Masalah


1 Mengetahui bagaimana Definisi dari Batu Ginjal
2 Apa penyebab terjadinya Batu Ginjal
3 Klasifikasi batu saluran kemih
4 Bagaimana patofiologi dari Batu Ginjal

1
5 Gejala dan komplikasi apa yang muncul
6 Apa saja pemeriksaan penunjang pada pasien dengan Batu Ginjal
7 Penatalaksanaan Pencegahan pada Batu Ginjal
8 Bagaimana Asuhan Keperawatan pada penderita Batu Ginjal

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui dan dapat memahami tentang Batu Ginjal serta megetahui
bagaimana cara melakukan asuhan keperawatan yang efektif.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal
dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-
69).
Nefrolitiasis (batu ginjal) merupakan salah satu penyakit ginjal, dimana
ditemukannya batu yang mengandung komponen kristal dan matriks organik yang
merupakan penyebab terbanyak kelainan saluran kemih.
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras seperti
batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas (ginjal dan
ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra), yang dapat menyebabkan
nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di
dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Batu
ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein.
Batu saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk
di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan
aliran kemih atau infeksi (Sjabani, 2006). Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu
ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan
batu ini disebut urolitiasis.

2.2 Etiologi
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan
garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan
penghambat pembentuka batu yang normal (Sjabani, 2006). Brunner dan Sudarth
(2003) dan Nurlina (2008) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi
pembentukan batu saluran kemih, yaitu:
1. Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan
hiperoksalouria.
2. Faktor Eksogen
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral
dalam air minum.

3
Muslim (2007) menyebutkan beberapa hal yang mempengaruhi pembentukan saluran
kemih antara lain:
1. Infeksi
Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal
dan akan menjadi inti pembentuk batu saluran kemih. Infeksi bakteri akan
memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine
menjadi alkali.
2. Stasis dan Obstruksi Urine
Adanya obstruksi dan stasis urine pada sistem perkemihan akan
mempermudah Infeksi Saluran Kencing (ISK)
3. Jenis Kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan
3:1
4. Ras
Batu saluran kemih lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.
5. Keturunan
Orang dengan anggota keluarga yang memiliki penyakit batu saluran
kemih memiliki resiko untuk menderita batu saluran kemih dibanding
dengan yang tidak memiliki anggota keluarga dengan batu saluran kemih.
6. Air Minum
Faktor utama pemenuhan urine adalah hidrasi adekuat yang didapat dar
minum air. Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan
mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum
menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat.
7. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan
terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk.
8. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan panas
sehingga pengeluaran cairan menjadi meningkat, apabila tidak didukung
oleh hidrasi yang adekuat akan meningkatkan resiko batu saluran kemih.
Makanan

4
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani, kalsium, natrium
klorida, vitamin C, makanan tinggi garam akan meningkatkan resiko
pembentukan batu karena mempengaruhi saturasi urine.

2.3 Klasifikasi batu saluran kemih


Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran kemih dapat
diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus untuk mengetahui adanya
kalsium, magnesium, amonium, karbonat, fosfat, asam urat oksalat, dan sistin.

1. Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK yaitu sekitar
70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di jumpai dalam
bentuk murni atau juga bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu
kalsium oksalat, batu kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur tersebut.
Terbentuknya batu tersebut diperkirakan terkait dengan kadar kalsium yang
tinggi di dalam urine atau darah dan akibat dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri
dari dua tipe yang berbeda, yaitu:
a. Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna cokat/
hitam dengan konsentrasi asam oksalat yang tinggi pada air kemih.
b. Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu
batu berwarna kuning, mudah hancur daripada whewellite.
2. Batu asam urat
Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat. Pasien
biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh asam urat.
Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai peluang
lebih besar menderita penyakit BSK, karena keadaan tersebut dapat
meningkatkan ekskresi asam urat sehingga pH air kemih menjadi rendah.
Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar
sehingga membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu asam urat ini adalah tipe
batu yang dapat dipecah dengan obat-obatan. Sebanyak 90% akan berhasil
dengan terapi kemolisis.
3. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini disebabkan
oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan

5
kuman pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease
dan merubah urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak. Kuman yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah : Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus.
4. Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan ginjal.
Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi kejadian 1-2%.
Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang,
pembentukan batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urine
yang asam. Selain karena urine yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat
juga terjadi pada individu yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada
individu yang statis karena imobilitas. Memerlukan pengobatan seumur hidup,
diet mungkin menyebabkan pembentukan batu, pengenceran air kemih yang
rendah dan asupan protein hewani yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam
air kemih.

2.4 Patofisiologi
1. Teori Intimatriks
Sjabani (2006) meyebutkan terbentuknya batu saluran kencing memerlukan
adanya substansi organik sebagai inti. Substansi ini terdiri dari
mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan
agregasi substansi pembentukan batu.
2. Teori Supersaturasi
Sjabani (2006) menyebutkan erjadi kejenuhan substansi pembentuk batu
dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan
mempermudah terbentuknya batu.
3. Teori Presipitasi-Kristalisasi
Sjabani (2006) menyebutkan perubahan pH urine akan mempengaruhi
solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap
sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam
fosfat.
4. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat

6
(Muslim, 2007)Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat,
pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan
mempermudah terbentuknya batu saluran kemih.

2.5 Manifestasi Klinis


Manisfestasi klinik adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine, terjadi obstruksi
yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi
piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi biasanya disertai gejala demam,
menggigil, dan dysuria. Namun, beberapa batu jika ada gejala tetapi hanya sedikit
dan secara perlahan akan merusak unit fungsional (nefron) ginjal, dan gejala lainnya
adalah nyeri yang luar biasa ( kolik)
Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu :
a. Rasa Nyeri
Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang (kolik)
tergantung dari lokasi batu. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai
nyeri tekan diseluruh area kostovertebratal, tidak jarang disertai mual
dan muntah, maka pasien tersebut sedang mengalami kolik ginjal. Batu
yang berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut,
dan kolik yang menyebar ke paha dan genitalia. Pasien sering ingin
merasa berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya
air kemih disertai dengan darah, maka pasien tersebut mengalami kolik
ureter.
b. Demam
Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah
sehingga menyebabkan suhu badan meningkat melebihi batas normal.
Gejala ini disertai jantung berdebar, tekanan darah rendah, dan pelebaran
pembuluh darah di kulit.
c. Infeksi
BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder akibat
obstruksi dan statis di proksimal dari sumbatan. Infeksi yang terjadi di
saluran kemih karena kuman Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus.
d. Hematuria dan kristaluria

7
Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air kemih (hematuria) dan
air kemih yang berpasir (kristaluria) dapat membantu diagnosis adanya
penyakit BSK.
e. Mual dan muntah
Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali
menyebabkan mual dan muntah

2.6 Komplikasi
a. Obstruksi urine dapat terjadi di sebelah hulu dari batu dibagian mana saja di
saluran kemih. Obstruksi diatas kandung kemih dapat menyebabkan

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Adapun pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien batu saluran kemih
adalah (American Urological Association, 2005) :
1. Urinalisa
Warna kuning, coklat atau gelap. : warna : normal kekuning-kuningan,
abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine,
kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 6,8 (rata-
rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali
(meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat),
Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin
mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing
, BUN hasil normal 5 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan
kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN
menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN
dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran
pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil
normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25
mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk
mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada
serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif
pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
2. Laboratorium

8
a. Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau
polisitemia.
b. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH
merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi
serum dan kalsium urine.
3. Foto KUB (Kidney Ureter Bladder)
Menunjukkan ukuran ginjal, ureter dan bladder serta menunjukan adanya
batu di sekitar saluran kemih.
4. Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis ginjal, dan untuk mengeluarkan batu yang kecil.
5. USG Ginjal
Untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.
6. EKG (Elektrokardiografi)
Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
7. Foto Rontgen
Menunjukan adanya batu didalam kandung kemih yang abnormal,
menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan
sepanjang ureter.
8. IVP (Intra Venous Pyelografi )
Menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih, membedakan
derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan
abnormal otot kandung kemih dan memberikan konfirmasi cepat
urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan
abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
9. Pielogram retrograd
Menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih.
Diagnosis ditegakan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi
intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia darah dengan urine dalam
24 jam untuk mengukur kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, dan
volume total merupakan upaya dari diagnostik. Riwayat diet dan medikasi
serta adanya riwayat batu ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam
keluarga di dapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan
terbentuknya batu kandung kemih pada klien.

9
2.8 Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis
batu, mencegah kerusakan nefron, mengidentifikasi infeksi, serta mengurangi obstruksi
akibat batu (Sjabani, 2006). Cara yang biasanya digunakan untuk mengatasi batu
kandung kemih adalah terapi konservatif, medikamentosa, pemecahan batu, dan operasi
terbuka.
1. Terapi konservatif
Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter kurang dari 5 mm. Batu
ureter yang besarnya kurang dari 5 mm bisa keluar spontan (Fillingham
dan Douglass, 2000). Untuk mengeluarkan batu kecil tersebut terdapat
pilihan terapi konservatif berupa (American Urological Association,
2005):
a. Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari\
b. blocker
c. NSAID
Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu
syarat lain untuk terapi konservatif adalah berat ringannya keluhan
pasien, ada tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau
ISK menyebabkan konservatif bukan merupakan pilihan. Begitu juga
dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya
ginjal tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi ginjal ) tidak ada
toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan
intervensi (American Urological Association, 2005).
2. Extracorporal Shock Wave Lithotripsy ( ESWL )
ESWL banyak digunakan dalam penanganan batu saluran kemih.
Badlani (2002) menyebutkan prinsip dari ESWL adalah memecah batu
saluran kemih dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan
oleh mesin dari luar tubuh. Gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin
di luar tubuh dapat difokuskan ke arah batu dengan berbagai cara.
Sesampainya di batu, gelombang kejut tadi akan melepas energinya.
Diperlukan beberapa ribu kali gelombang kejut untuk memecah batu
hingga menjadi pecahan-pecahan kecil, selanjutnya keluar bersama
kencing tanpa menimbulkan sakit.
3. Ureterorenoskopic (URS)
10
Pengembangan ureteroskopi sejak tahun 1980 an telah mengubah
secara dramatis terapi batu ureter. Kombinasi ureteroskopi dengan
pemecah batu ultrasound, EHL, laser dan pneumatik telah sukses
dalam memecah batu ureter. Keterbatasan URS adalah tidak bisa
untuk ekstraksi langsung batu ureter yang besar, sehingga diperlukan
alat pemecah batu seperti yang disebutkan di atas. Pilihan untuk
menggunakan jenis pemecah batu tertentu, tergantung pada
pengalaman masing-masing operator dan ketersediaan alat tersebut.
4. Percutaneous Nefro Litotripsy (PCNL)
PCNL yang berkembang sejak dekade 1980 secara teoritis dapat
digunakan sebagai terapi semua batu ureter. Namun, URS dan ESWL
menjadi pilihan pertama sebelum melakukan PCNL. Meskipun
demikian untuk batu ureter proksimal yang besar dan melekat
memiliki peluang untuk dipecahkan dengan PCNL (Al-Kohlany,
2005). Menurut Al-Kohlany (2005), prinsip dari PCNL adalah
membuat akses ke kalik atau pielum secara perkutan. Kemudian
melalui akses tersebut dimasukkan nefroskop rigid atau fleksibel, atau
ureteroskop, untuk selanjutnya batu ureter diambil secara utuh atau
dipecah.
5. Operasi Terbuka
Fillingham dan Douglass (2000) menyebutkan bahwa beberapa
variasi operasi terbuka untuk batu ureter mungkin masih dilakukan.
Hal tersebut tergantung pada anatomi dan posisi batu, ureterolitotomi
bisa dilakukan lewat insisi pada flank, dorsal atau anterior. Saat ini
operasi terbuka pada batu ureter kurang lebih tinggal 1 -2 persen saja,
terutama pada penderita-penderita dengan kelainan anatomi atau
ukuran batu ureter yang besar.

2.9 Pencegahan
Pencegahan BSK terdiri dari pencegahan primer atau pencegahan tingkat pertama,
pencegahan sekunder atau pencegahan tingkat kedua, dan pencegahan tersier atau
pencegahan tingkat ketiga. Tindakan pencegahan tersebut antara lain :
1. Pencegahan Primer

11
Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak
terjadinya penyakit BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab
dari penyakit BSK. Sasarannya ditujukan kepada orang-orang yang
masih sehat, belum pernah menderita penyakit BSK. Kegiatan yang
dilakukan meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan, dan
perlindungan kesehatan. Contohnya adalah untuk menghindari terjadinya
penyakit BSK, dianjurkan untuk minum air putih minimal 2 liter per
hari. Konsumsi air putih dapat meningkatkan aliran kemih dan
menurunkan konsentrasi pembentuk batu dalam air kemih. Serta
olahraga yang cukup terutama bagi individu yang pekerjaannya lebih
banyak duduk atau statis.

2. Pencegahan Sekunder
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan
perkembangan penyakit agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya
komplikasi. Sasarannya ditujukan kepada orang yang telah menderita
penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan dengan diagnosis dan
pengobatan sejak dini. Diagnosis Batu Saluran Kemih dapat dilakukan
dengan cara pemeriksaan fisik, laboraturium, dan radiologis. Hasil
pemeriksaan fisik dapat dilihat berdasarkan kelainan fisik pada daerah
organ yang bersangkutan :
a. Keluhan lain selain nyeri kolik adalah takikardia, keringatan,
mual, dan demam (tidak selalu).
b. Pada keadaan akut, paling sering ditemukan kelembutan pada
daerah pinggul (flank tenderness), hal ini disebabkan akibat
obstruksi sementara yaitu saat batu melewati ureter menuju
kandung kemih.
Urinalisis dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi infeksi yaitu
peningkatan jumlah leukosit dalam darah, hematuria dan bakteriuria,
dengan adanya kandungan nitrit dalam urine. Selain itu, nilai pH urine
harus diuji karena batu sistin dan asam urat dapat terbentuk jika nilai pH
kurang dari 6,0, sementara batu fosfat dan struvit lebih mudah terbentuk
pada pH urine lebih dari 7,2.

12
3. Pencegahan Tersier
Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak terjadi
komplikasi sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang
membutuhkan perawatan intensif. Sasarannya ditujukan kepada orang
yang sudah menderita penyakit BSK agar penyakitnya tidak bertambah
berat. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan rehabilitasi seperti
konseling kesehatan agar orang tersebut lebih memahami tentang cara
menjaga fungsi saluran kemih terutama ginjal yang telah rusak akibat
dari BSK sehingga fungsi organ tersebut dapat maksimal kembali dan
tidak terjadi kekambuhan penyakit BSK , dan dapat memberikan kualitas
hidup sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

13
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

Ny. S berusia 77 tahun datang ke RSUD Jombang dengan keluhan nyeri, kemeng ada
abdomen sebelah kanan dengan luka bekas jahitan post op. Pasien mengeluh sakit pada luka
post op dan mengeluarkan cairan sehingga di bawa ke RS. Setelah dilakukan pemeriksaan
fisik didapatkan kesadaran compos mentis (E4 V5 M6) dan diperoleh tanda tanda vital TD :
130/ 90 mmHg, Nadi 69x/menit, RR 26x/menit , suhu 36,5oC.

.1. IDENTITAS PASIEN


NAMA : Ny. S
UMUR : 77 tahun
JENIS KELAMIN : perempuan
ALAMAT :Jln. Jawa No.6
AGAMA : Islam
PEKERJAAN : Pemborong
DX. MEDIS :
PENANGGUNGJAWAB : Ny.D (Putri Kandung dari Ny.S)
2. PRIMARY SURVEY:
Keluhan utama: Nyeri , kemeng pada abdomen sebelah kanan bekas jahitan post op
P :nyeri karena infeksi pada luka jahitan post operasi batu ginjal.
Q: nyeri kemeng sampai tidak bisa berjalan
R: nyeri abdomen kuadran 4 lateral pada luka jahitan. Nyei kemeng menjalar
ke kaki.
S: sedang
T: nyeri dirasakan mula-mula nyeri ringan kemudian menjadi tidak
tertahankan
Riwayat Penyakit Sekarang: Ny.S dibawa ke RS karena mengeluh sakit pada luka
post op dan lukanya keluar cairan
Riwayat penyakit dahulu : sebelumnya pasien sudah pernah operasi batu ginjal kiri,
kista kandungan, usus lengket. Pasien di operasi di RS Adi Husada
Riwayat penyakit keluarga : keluarga memiliki riwayat penyakit diabetes
Kesadaran (A,V,P,U): Alert
Airway : clear

14
Breathing : Spontan
Circulating : stabil
Exposition :
Keadaan luka : 10 cm
Bau : tidak berbau
Tanda-tanda infeksi :
Dolor : nyeri pda luka jahitan dan sekitar luka.
Kolor : terasa hangat
Tumor : bengkak
Rubor : -
Fungsio laesa : terdapat pus tidak berbau
Tanda-tanda vital : TD: 130/90 mm/Hg RR: 26 x/mnt
Nadi: 69 x/mnt Suhu: 36,5 C
Crt < 2 dtk akral hangat
GCS (Eye, Verbal, Motorik): E4 , V5, M6

3. PEMERIKSAAAN FISIK:
Inspeksi: Terdapat luka bekas jahitan dengan diameter kurang lebih sekitar 10 cm,
pada kuadran 4 lateral. pus bewarna kuning cair.
Palpasi: terdapat nyeri tekan dan keluar pus pada luka jahitan post op batu ginjal.
Perkusi: tympani

15
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil Pemeriksaan Lab


Hematologi

Nama Pemeriksaan Detail Pemeriksaan Hasil Normal

Darah Lengkap Hemoglobin 9,9 P : 11,4- 15,1 g/dl


L : 13,4 17,7

4700-10300/ cmm
Leukosit 14.000

Segmen 90
50 65 %
Cl 11
96-107 mg
Limfosit 5
25-35 %
Monosit 5
4-10 %

Masalah Keperawatan:
1.nyeri akut b.d agens cedera biologis
2.resiko infeksi b.d kurang pengetahuan

Intervensi dan Implementasi


No. Intervensi Rasional Jam/Waktu Implementasi

1. Lakukan pengkajian yang Menjadi parameter 12 Juni 1. Kolaborasi


komprehensif tentang nyeri, dasar untuk 2017 / pemberian Injeksi
termasuk lokasi, karakteristik, melihat sejauh a. Ranitidin
15.00 WIB
onset/durasi, mana renca b. Ketorolax
frekuensi,kualitas,intensitas,atau intervensi yang c. Seftriaxon
beratnya nyeri dan faktor diperlukan dan 2. Infus Nacl 250 cc
prepitasi sebagai evaluasi 3. Perawatan luka
keberhasilan dari Respon :
intervensi 15.10 WIB S : pasien
menajemen nyeri mengatakan nyeri

16
keperawatan berkurang
O : keadaan luka
sudah bersih dan
2. Observasi reaksi non verbal dari Membantu dalam tidak keluar cairan
ketidaknyamanan mengindentifikasi atau pus
derajat 4. Mengobservasi
ketidaknyamanan TTV
dankebutuhan Suhu : 36,5 oC
untuk keefektifan TD : 130/90
analgesic. mmHg
Nadi : 69x/menit
15.15 RR : 26x/menit
Istirahat akan
Anjurkan klien untuk istrahat 5. Mengkaji Nyeri
3. meningkatkan
P :nyeri karena
suplai darah pada
infeksi pada luka
jaringan yang
jahitan post
mengalami
operasi batu
peradangan.
ginjal.
Q: nyeri kemeng
sampai tidak bisa
Analgetik
berjalan
Berikan Analgesik untuk memblok lintasan
4. 15.20 R: nyeri abdomen
mengurangi nyeri nyeri sehingga
kuadran 4 lateral
nyeri akan
pada luka jahitan.
berkurang
Nyei kemeng
menjalar ke kaki.
S: sedang
T: nyeri
dirasakan mula-
mula nyeri ringan
kemudian
menjadi tidak
tertahankan.

17
Evaluasi & Hands off
Evaluasi

SUBJEKTIF:

Pasien mengatakan nyeri berkurang

OBJEKTIF:

Pucat
Cairan tidak keluar dari jahitan pot op
Pemeriksaan Fisik

Suhu : 36,5 oC
TD : 130/90 mmHg
Nadi : 69x/menit
RR : 26x/menit

ASSESMENT: Masalah Teratasi

PLANNING: Pasien dipulangkan

18
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Batu ginjal atau nefrolitiasis merupakan suatu keadaan terdapatnya batu (kalkuli)
di ginjal. Batu atau kalkuli dibentuk didalam saluran kemih mulai dari ginjal ke
kandung kemih oleh kristalisasi dari substansi ekskresi didalam urine.
Penyebab batu ginjal antara lain, dehidrasi kronis, asupan cairan yang buruk, dan
imobilitas, diet tinggi purin dan abnormalitas metabolisme purin, gangguan reabsorpsi
ginjal dan gangguan aliran urin, infeksi saluran kemih. Dengan manifestasi klinik yang
muncul antara lain, nyeri pinggang yang berat, gejala gastrointestinal, batu kandung
kemih menimbulkan gejala yang mirip sistitits, suhu tubuh naik dan menggigil, nyeri
hebat dengan peningkatan produksi prostaglandin ginjal, aliran urine tiba-tiba terhenti,
dengan nyeri pada penis atau perineum.
Penatalaksanaan medis untuk betu ginjal berupa terapi medis dan simtomatik,
terapi mekanik (Litotripsi), dan Tindakan bedah. Mencegah lebih baik daripada
mengobati untuk itu berikut adalah pencegahan yang dapat dilakukan untuk
menghindari terbentuknya batu ginjal yaitu, minumlah air yang cukup, setidaknya 2
liter air sehari, pilih makanan yang kaya vitamin A, kembangkan pola hidup aktif,
kurangi makanan mengandung asam urat terlalu tinggi, jangan berlebihan
mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium oksalat tinggi, jangan berlebihan
mengkonsumsi susu dan produk susu, dan kurangi garam dalam makanan.

4.2 Saran

Diharapkan kepada mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan proses keperawatan


sebagai kerangka kerja untuk perawatan pasien penderita preoperasi maupun post
operasi Batu Ginjal.

19
DAFTAR PUSTAKA

Manza Adi Putra, Marco dkk.2016.NEFROLITIASIS. http://jukeunila.com/wp-


content/uploads/2016/04/5.2_Marco_Manza_Adi_Putra_done.pdf (diakses 13 juni 2017)

Purnomo, BB ( 2000), Dasar-dasar Urologi, Sagung Seto, Jakarta

Soeparman & Sarwono waspadji. 1999 . Ilmu Penyakit dalam. Gaya Baru. Jakarta . Brunner
& Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawatan Medikal bedah. EGC: Jakarta

Hanley JM, Saigal CS, Scales CD, Smith AC. Prevalences of kidney stone in the United
States. Journal European Association of Urology[internet]. 2012.; 62(1):160-5.Tersedia dari:
http://journal.unnes.ac.id/index.php/kem as

Nursalam & Baticaca. (2008). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika

Depkes. Laporan riset kesehatan dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;2013.

. HTAI. Penggunaan extracorporeal shockwave lithotripsy pada batu saluran kemih. Jakarta:
Health Technology Assasement Indonesia; 2005.