Anda di halaman 1dari 10

EVALUASI KAPASITAS PERENCANAAN EMBUNG UNTUK KEBUTUHAN

PERENCANAAN IRIGASI DI DESA SEIFULU SIMEULUE TENGAH NANGGROE


ACEH DARUSSALAM (NAD)

Dita melisa dan Boas Hutagalung


Departemen Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No.1 Kampus USU Medan
Email: dmelisa89@yahoo.com
Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil,Universitas Sumatera Utara, Jl.Perpustakaan No.1 Kampus USU
medan
Email: boashutagalung@yahoo.co.id

ABSTRAK

Embung sebagai salah satu sarana pemanfaatan sumber daya air mempunyai fungsi untuk penyimpanan dan
penyedia air, salah satunya untuk kebutuhan irigasi yang merupakan komponen yang sangat penting guna
meningkatkan produksi pertanian. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan besar debit andalan yang
dibutuhkan embung Seifulu dan menghitung berapa besar kebutuhan air di irigasi dalam menentukan pola tanam
yang terbaik. Metode dalam penelitian yang digunakan adalah dengan melakukan survei data primer dan data
sekunder kemudian pengamatan sumber air,sistem irigasi, kedalaman embung dengan menggunakan alat
bathrimetri (kontur dasar embung) kemudian dianalis berdasarkan analisis volume tampungan, analisis curah
hujan, analisis kebutuhan air irigasi dan debit andalan. Penelitian ini memberikan kesimpulan dari hasil analisa
curah hujan maksimum rata-rata terjadi pada bulan november sebesar 200 mm dan terendah pada bulan juli 50
mm, dari hasil analisis dengan menggunakan 24 alternatif pola tanam didapat nilai NFR yang terbesar 2,05
mm/hari dan yang terkecil yaitu sebesar 1,77 mm/hari dan alternatif ke-20. Dari hasil analisa debit andalan yang
didapatkan 1,03 m/detik. Berdasarkan analisa maka didapt volume tampungan pada embung Seifulu maka
didapat volume tampungan 52810,763 m.

Kata Kunci : Perencanaan embung, curah hujan, pola tanam

ABSTRACT
Embung as one means of utilization of water resources has functions for storage and water providers, one for
irrigation needs are very important components in order to increase agricultural production. The purpose of this
research is to obtain the required large ponds discharge mainstay Seifulu and calculate how much irrigation
water needs to determine the best cropping pattern. The method used in this research is to conduct a survey of
primary data and secondary data, then observations of water sources, irrigation systems, ponds depth using tools
bathrimetri (basic contour ponds) then dianalis bin volume analysis, analysis of rainfall, irrigation water demand
analysis and discharge mainstay. This study provides conclusions from the analysis the maximum rainfall
occurred on average in November amounted to 200 mm and the lowest in July 50 mm, from the results of the
analysis using 24 alternative cropping patterns obtained NFR greatest value 2.05 mm / day and a the smallest is
equal to 1.77 mm / day and an alternative to-20. From the analysis mainstay obtained discharge 1.03 m / sec.
Based on the analysis of the volume didapt bin on the importance of the ponds Seifulu bin 52810.763 m
volume.

Keywords: Planning Embung, rainfall, cropping pattern

1.PENDAHULUAN
Pada musim kemarau sebagian besar wilayah di Simeulue Tengah sering mengalami kekeringan, sungai-sungai
yang pada musim penghujan banyak terdapat air, pada musim kemarau menjadi berkurang airnya dan sebagian
kawasan terkadang menjadi kering. Sungai Sebuluh adalah salah satu sungai yang pada musim kemarau
mengalami kekeringan. Alternatif pemecahan yang melanda desa Seifulu dan sekitarnya maka pemerintah
Kabupaten Simeulue Tengah, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum merencanakan Embung di desa Seifulu
Kabupaten Simeulue Tengah. dengan adanya perencanaan embung Seifulu ini diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan air untuk kebutuhan persawahan setempat. Sistim pekerjaan peningkatan dan pemeliharaan jaringan
pembangunan Embung Seifulu yang sesuai standar sangat di perlukan dalam usaha meningkatan produksi beras.
pada daerah-daerah embung tersebut diatas dan sekaligus memudahkan pelaksanaan exploitasi dan
Pemeliharaan (E&P) yang efektif dan efisien, sehingga didapatkan tingkat maksimum usia teknis dan waktu dari
embung tersebut yang sesuai dengan disain dan pelaksanaan program pola tanam dan tertib tanam, serta
menjamin pendayagunaan pengadaan air yang dibutuhkan cukup untuk meningkatkan pendayagunaan areal
Irigasi sekaligus untuk melipat gandakan produksi dalam upaya mencapai kecukupan pangan yang
kesinambungan. Oleh sebab itu di perlukan suatu studi guna menyusun alternatif pemecahan masalah dan
perencanaan teknis untuk mendapatkan fungsi dan manfaat dari sistem pengelolaan air yang baik, sehingga roda
kehidupan dan perekonomiaan masyarakat dengan memanfaatkan dan pengembangan lahan ada.

Adapun permasalahan-permasalahan yang di hadapi bangsa Indonesia pada umumnya khususnya di Kabupaten
Simeulue saat ini, adalah masalah pangan yang produktif. Hal ini disebabkan, terjadinya pertukaran fungsi
lahan, terjadinya keausan lahan, perluasan lahan yang lambat, dan lain-lainnya. Embung merupakan suatu
bangunan konservasi air berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan air limpasan (run off) serta air
lainnya untuk mendukung usaha pertanian dan perkebunan Daerah simeulue Tengah. Daerah Irigasi terletak di
Kabupaten Simeulue Tengah, dengan luas lahan berkisar 60 Ha. Untuk mencapai Daerah Embung Seifulu dari
Kabupaten Simeulue dapat di tempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua dengan jarak tempuh 70
km. Sumber air daerah embung Seifulu dengan Catchment Area seluas 4 km.

1.1 Dasar Teori


Hidrologi adalah suatu ilmu tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Pada prinsipnya, jumlah air di alam ini
tetap dan mengikuti suatu aliran yang dinamakan siklus hidrologi. Siklus Hidrologi adalah suatu proses yang
berkaitan, dimana air diangkut dari lautan ke atmosfer (udara), ke darat dan kembali lagi ke laut,

Hujan yang jatuh ke bumi baik langsung menjadi aliran maupun tidak langsung yaitu melalui vegetasi atau
media lainnnya akan membentuk siklus aliran air mulai dari tempat yang tinggi (gunung, pegunungan) menuju
ke tempat yang rendah baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah yang berakhir di laut.

Air hujan sebagian mengalir meresap kedalam tanah atau yang sering disebut dengan infiltrasi, dan bergerak
terus kebawah. Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian menguap (evaporasi dan transpirasi) dan membentuk uap
air. Sebagian lagi mengalir masuk kedalam tanah (infiltrasi, perkolasi, kapiler). Air tanah adalah air yang
bergerak di dalam tanah yang terdapat di dalam ruang ruang antara butir butir tanah dan di dalam retak
retak dari batuan. Dahulu disebut air lapisan dan yang terakhir disebut air celah (fissure water). Aliran air tanah
dapat dibedakan menjadi aliran tanah dangkal, aliran tanah antara dan aliran dasar (base flow). Disebut aliran
dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi sistem jaringan sungai. Hal ini dapat dilihat pada musim
kemarau, ketika hujan tidak turun untuk beberapa waktu, pada suatu sistem sungai tertentu aliran masih tetap
dan kontinyu

1.1.1 Definisi Embung


Embung adalah bangunan yang berfungsi untuk menampung air hujan dan digunakan pada musim kemarau bagi
suatu kelompok masyarakat desa, atau embung didefenisikan sebagai konservasi air berbentuk kolam untuk
menampung air hujan dan air limpasan (run off) serta sumber air lainnya untuk mendukung usaha pertanian,
perkebunan dan peternakan. Embung Seifulu ini memakai beton struktur, dan memakai berupa tanggul dari
timbunan tanah pilihan. Embung Seifulu dari muka tanah berjarak 5 meter dengan beton struktur dan urug
dengan timbunan pilihan. Panjang tanggul embung Seifulu ini berkisar 200 meter, rata-rata muka tanah
permukaan air minimum 7 meter.

1.1.2 Curah Hujan Rata-Rata Areal


Curah hujan ratarata adalah tinggi air hujan yang jatuh pada suatu wilayah, dihitung setiap periode waktu
(perbulan atau pertahun). Data hujan yang tercatat di setiap stasiun penakar hujan adalah tinggi hujan di sekitar
stasiun tersebut. Ada tiga cara untuk menghitung hujan rata-rata daearah aliran yang bisa dilakukan, yaitu

Metode Arithmetic Mean biasanya cara ini digunakan pada daearah datar dan banyak stasiun penakar hujannya
dan dengan anggapan bahwa di daerah tersebut sifat curah hujannya adalah merata. Perhitungan dengan cara ini
lebih obyektif daripada cara isohyet, dimana faktor subyektif masih turut menentukan.

R = 1n (R1 + R2 + ... + Rn ) (1)


dengan R : Area Rainfall (mm), n : Jumlah stasiun pengamat, R1 ,R2 , ..., Rn : Point Rainfall stasiun ke-i (mm).
Metode Poligon Thiessen cara ini memasukkan faktor pengaruh daerah yang diwakili oleh stasiun penakar
hujan yang disebut weighting factor atau disebut juga Koefisien Thiessen. Cara ini biasanya digunakan apabila
titik-titik pengamatan di dalam daerah studi tidak tersebar secara merata. Metode Theissen akan memberikan
hasil yang lebih teliti daripada cara aljabar tetapi untuk penentuan titik pengamatannya dan pemilihan
ketinggian akan mempengaruhi ketelitian yang akan didapat juga seandainya untuk penentuan kembali jaringan
segitiga jika terdapat kekurangan pengamatan pada salah satu titik pengamatan.

1.1.3 Debit Andalan


Debit andalan (dependable flow) adalah debit yang selalu tersedia sepanjang tahun yang dapat dipakai untuk
irigasi. Dalam penelitian ini debit andalan merupakan debit yang memiliki probabilitas 80%. Debit dengan
probabilitas 80% adalah debit yang memiliki kemungkinan terjadi di bendung sebesar 80% dari 100% kejadian.
Jumlah kejadian yang dimaksud adalah jumlah data yang digunakan untuk menganalisis probabilitas tersebut.
Jumlah data minimum yang diperlukan untuk analisis adalah lima tahun dan pada umumnya untuk memperoleh
nilai yang baik data yang digunakan hendaknya berjumlah 10 tahun data.

Debit andalan 80% ialah debit dengan kemungkinana terpenuhi 80% atau tidak terpenuhi 20% dari periode
waktu tertentu. Untuk menentukan kemungkinan terpenuhi atau tidak terpenuhi, debit yang sudah diamati
disusun dengan urutan dari terbesar menuju terkecil.

1.1.4 Pengertian Evapotranspirasi


Evapotranspirasi atau disebut penguapan adalah gabungan dari dua peristiwa yakni evaporasi dan transpirasi
yang terjadi secara bersamaan disebut juga peristiwa evapotranspirasi. Kedua proses ini sulit untuk dibedakan
karena keduanya terjadi secara simultan. Faktor iklim yang sangat mempengaruhi peristiwa ini, diantaranya
adalah suhu, udara, kelembaban, kecepatan angin, tekanan udara,dan sinar matahari. Banyak rumus tersedia
untuk menghitung besarnya evapotranspirasi yang terjadi, salah satunya adalah Metode Penman.

1.1.5 Perhitungan Evapotranspirasi

Metode ini pertama kali dibuat oleh H.L Penman (Rothamsted Experimental Station, Harpenden, England)
tahun 1984. Metode Penman pada mulanya dikembangkan untuk menentukan besarnya evaporasi dari
permukaan air terbuka (E0). Dalam perkembangannya, metode tersebut digunakan untuk menentukan besarnya
evapotranspirasi potensial dari suatu vegetasi dengan memanfaatkan data iklim mikro yang diperoleh dari atas
vegetasi yang akan menjadi kajian. Banyak rumus tersedia untuk menghitung besarnya evapotranspirasi yang
terjadi salah satunya adalah Metode Penman.

ETO = c [ w Rn + (1 w) f(u) (ea ed) (2)

1.1.6 Curah Hujan Efektif

Turunnya curah hujan pada suatu areal lahan mempengaruhi pertumbuhan tanaman di areal tersebut. Curah
hujan tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk mengganti kehilangan air yang terjadi akibat
evapotranspirasi, perkolasi, kebutuhan pengolahan tanah dan penyiapan lahan. Curah hujan efektif merupakan
curah hujan yang jatuh pada suatu daerah dan dapat digunakan tanaman untuk pertumbuhannya. Jumlah hujan
yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman tergantung pada jenis tanaman. Namun, tidak semua jumlah curah hujan
yang turun pada daerah tersebut dapat dipergunakan untuk tanaman dalam pertumbuhannya, maka disini perlu
diperhitungkan dan dicari curah hujan efektifnya. Curah hujan efektif (Reff) ditentukan berdasarkan besarnya
R80 yang merupakan curah hujan yang besarnya dapat dilampaui sebanyak 80% atau dengan kata lain
dilampauinya 8 kali kejadian dari 10 kali kejadian. Artinya, bahwa besarnya curah hujan yang terjadi lebih kecil
dari R80 mempunyai kemungkinan hanya 20%. Untuk menghitung besarnya curah hujan efektif berdasarkan
R80 = Rainfall equal or exceeding in 8 years out of 10 years, dinyatakan dengan rumus sebagai berikut
R80 = (n/5) + 1 (3)
dengan Reff = R80 = curah hujan efektif 80 % (mm/hari), n/5) + 1 = Rangking curah hujan efektif di hitung

dari curah hujan terkecil, n = jumlah data. Menghitung curah hujan efektif dengan rumus :
Reff = mm (4)

Dengan R80 = Curah jhujan dengan probabilitas 80 %.

2. METODOLOGI
Dalam penelitian, data merupakan hal yang memiliki peranan penting sebagai alat penelitian hipotesis
pembuktian untuk mencapai tujuan penelitian. Data yang dibutuhkan pada dasarnya dibagi dalam dua kelompok
yaitu data primer dan data sekunder. Data primer ini diperoleh dengan cara melakukan pengamtan/ pengukuran
langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait atau badan-badan
tertentu.

2.1 Analisa Data


Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dalam suatu perhitungan untuk memperoleh hasil
penelitian yang selanjutnya akan diambil kesimpulan dari tujuan penulisan ini. Adapun cara analisis
penelitian ini adalah :
1. Menganalisa curah hujan yaitu dengan mengambil data curah hujan
2. Pengamatan Kedalaman embung yaitu untuk mengamati langsung kedalaman embung sebaiknya
langsung mengamati dilapangan dengan menggunakan alat untuk mengukur kedalaman danau
bathimetri ( kontur dasar danau atau embung).
3. Pengamatan sumber air embung berasal dari aliran sungai Seifulu dan air hujan.
4. Menghitung volume tampungan embung tersebut.
5. Menganalisa kebutuhan air irigasi, yaitu berapa banyak air yang dibutuhkan untuk irigasi
setempat.
6. Menghitung debit andalan, yaitu berapa debit air yang tersedia sepanjang tahun yang dipakai
untuk kebutuhan irigasi.
7. Mendokumentasikan gambar bangunan embung sebagai bukti bahwa penulis telah mengamati
keadaan embung tersebut dilapangan.
8. Kesimpulan dan saran.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Analisa Curah Hujan
Dalam penelitian ini data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan dari stasiun Bandara
Lasikin simeulue yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika selama10 tahun.
Tabel 1. Curah Hujan Rata-rata DAS embung Seifulu

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agst Sep Okt Nov Des
2001 194 99 86 114 68 14 48 49 70 222 194 105
2002 181 156 121 121 7 47 56 106 82 265 169 149
2003 88 128 234 77 120 143 47 35 178 107 215 198
2004 155 41 139 115 121 130 39 32 94 178 209 200
2005 144 148 151 127 66 126 38 23 126 182 204 146
2006 191 28 123 93 214 95 53 31 59 112 182 197
2007 156 52 133 88 72 15 45 56 70 89 203 217
2008 254 140 118 197 89 28 8 132 117 76 158 164
2009 142 68 102 221 202 190 99 78 90 107 265 184
2010 198 88 217 189 78 20 70 74 121 80 207 212
Rata-
rata 170 95 142 134 104 81 50 61 100 142 200 177
3.2 Curah Hujan Efektif
Tabel 2. Curah Hujan Efektif
Nomor
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agst Sep Okt Nov Des Prob
Urut
1 254 156 234 221 214 190 99 132 178 265 265 217 10%
2 198 148 217 197 202 143 70 106 126 222 215 212 20%
3 194 140 151 189 121 130 56 78 121 182 209 200 30%
4 191 128 139 127 120 126 53 74 117 178 207 198 40%
5 181 99 133 121 89 95 48 56 94 112 204 197 50%
6 156 88 123 115 78 47 47 49 90 107 203 184 60%
7 155 68 121 114 72 28 45 35 82 107 194 164 70%
8 144 52 118 93 68 20 39 32 70 89 182 149 80%
9 142 41 102 88 66 15 38 31 70 80 169 146 90%
10 88 28 86 77 7 14 8 23 59 76 158 105 100%
R-80 144,0 51,5 117,5 93,0 67,5 20,0 38,5 31,5 69,5 88,5 182,0 148,5
R-eff
105,1 37,6 85,8 67,9 49,3 14,6 28,1 23,0 50,7 64,6 132,9 108,4
(mm)
R-eff
7,0 2,5 5,7 4,5 3,3 1,0 1,9 1,5 3,4 4,3 8,6 7,2
(mm/hari)

Curah hujan efektif yang diperoleh probabilitas 80 % yang nilainya terbesar adalah R-80 = 182 pada bulan
november. Pada tabel 4.3 analisa curah hujan efektif diperoleh dengan menggunakan perhitungan sebagai
berikut :
Contoh pada perhitungan berikut ini dipakai R-80 = 182 pada bulan november.
1
R-eff = 0,73x x( R 80)
15
= 0,73 x x 182
= 8,85 hari/mm

3.3 Evapotranspirasi
Berikut ini adalah tabel evapotranspirasi untuk kebutuhan dasar bagi tanaman yang harus dipenuhi oleh sistem
irigasi berikut :
Tabel 3. Tabel Evapotranspirasi

Besaran Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Agt. Sep. Okt. Nov. Des.
Temperatur, t ( C ) 26,25 25,25 25,96 25,98 26,98 26,39 25,72 27,20 25,59 25,92 25,67 25,79
Kec. Angin, U
5,5 6,29 4,08 5,09 4,72 5,26 4,88 3,57 3,58 4,71 4,12 5,59
(knots)
Kec. Angin, U
109,87 114,34 112,9 113,47 123,7 115,34 129,48 129,49 117,61 109,73 104,98 107,46
(km/hari)
f(U)=0.27(1+U/100) 0,58 0,59 0,59 0,62 0,62 0,66 0,64 0,64 0,59 0,57 0,55 0,56
Sunshine, n/N (%) 51,40 56,50 47,40 55,20 54,00 66,80 57,00 60,80 49,50 38,90 48,60 40,30
RH (%) 0,86 0,86 0,87 0,86 0,88 0,85 0,86 0,87 0,87 0,87 0,88 0,87
ea (mbar) (Tabel ) 33,60 34,02 34,02 35,28 36,96 38,95 37,11 36,12 35,49 35,07 34,02 34,44
ed = ea x RH/100 29,33 28,77 29,06 28,91 29,99 29,36 28,34 28,49 28,64 28,96 28,99 28,78
ea ed 4,76 4,72 4,39 4,62 4,24 5,02 4,71 4,71 4,15 4,46 4,05 4,39
W (Tabel ) 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75
1W 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25
Ra (Tabel ) 14,03 14,87 15,43 15,40 15,03 14,60 14,80 15,17 15,30 15,03 14,30 13,83
Rs = (0.25 + 0.5
7,11 7,92 7,52 8,10 7,82 8,53 7,92 8,40 7,61 6,68 7,05 6,25
n/N) Ra
Rns = (1 - a) Rs ;
5,05 5,64 4,74 5,19 4,82 4,89 4,89 4,35 4,43 4,91 4,46 5,00
a=0.25
f(T) (Tabel ) 15,96 15,89 15,88 15,96 15,99 15,83 15,85 15,79 15,79 15,88 15,81 15,84
f(ed) = 0.34 - 0.044
0,11 0,10 0,10 0,10 0,10 0,11 0,11 0,11 0,11 0,11 0,10 0,10
Ved
f(n/N)= 0.1 + 0.9
0,56 0,61 0,53 0,60 0,59 0,70 0,61 0,65 0,55 0,45 0,54 0,46
n/N
Rn1 =
0,81 0,91 0,63 0,75 0,67 0,75 0,73 0,57 0,57 0,71 0,64 0,83
f(T).f(ed).f(n/N)
Rn = Rns - Rn1 4,24 4,72 4,11 4,45 4,15 4,14 4,07 3,78 3,86 4,21 3,82 4,17
U (m/det) 1,27 1,32 1,31 1,31 1,43 1,33 1,50 1,49 1,36 1,27 1,22 1,24
U siang/ U malam 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00
C (konstanta) 0,96 0,96 0,93 0,95 0,93 0,94 0,93 0,91 0,06389 0,94 0,93 0,94
ET=C(W.Rn+(1-
3,66 4,08 3,43 3,81 3,51 3,61 3,52 3,27 3,24 3,57 3,19 3,54
W)(ea-ed).f(U))
ET (mm/bulan) 113,51 118,38 107,91 114,21 108,81 108,35 109,16 101,36 97,16 110,79 95,57 109,86

3.4 Analisa Kebutuhan Air Irigasi


Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan 24 alternatif pola tanam didapat nilai NFR (Net Farm Ratio)
yang terkecil yaitu 1,77 mm/hari, dimana alternatif yang digunakan adalah alternatif ke-20. Dengan awal Land
Preparation pada periode Okteber II.

Tabel 4. Analisa Kebutuhan Air Irigasi untuk Alternatif-20

Re Eto P WLR Koefisien Tanaman Etc NFR DR


Bulan
mm/hari mm/hari mm/hari mm/hari C1 C2 C3 C mm/hari mm/hari ltr/dtk/ha
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Jan I 7,01 3,66 2,00 2,20 0,95 1,05 1,05 1,02 3,72 0,91 0,16
II 7,01 3,66 2,00 1,10 0,00 0,95 1,05 0,67 2,44 0,00 0,00
Feb I 2,51 4,08 2,00 1,10 0,00 0,95 0,32 1,29 1,89 0,34
II 2,51 4,08 2,00 LP LP LP LP 10,43 9,92 1,77
Mar I 5,72 3,43 2,00 1,10 LP LP LP 9,97 6,25 1,11
II 5,72 3,43 2,00 1,10 1,10 LP LP 9,97 6,25 1,11
Apr I 4,53 3,81 2,00 1,10 1,05 1,10 1,10 1,08 4,13 2,70 0,48
II 4,53 3,81 2,00 1,10 1,05 1,05 1,10 1,07 4,06 2,64 0,47
Mei I 3,29 3,51 2,00 2,20 0,95 1,05 1,05 1,02 3,57 4,48 0,80
II 3,29 3,51 2,00 1,10 0,95 1,05 0,67 2,34 2,16 0,38
Juni I 0,97 3,61 2,00 1,10 0,95 0,32 1,14 3,27 0,58
II 0,97 3,61 2,00 0,50 0,17 0,60 1,63 0,29
Juli I 1,87 3,52 2,00 0,95 0,50 0,48 1,70 1,83 0,33
II 1,87 3,52 2,00 0,96 0,95 0,50 0,80 2,83 2,95 0,53
Ags I 1,53 3,27 2,00 1,05 0,96 0,95 0,99 3,23 3,69 0,66
II 1,53 3,27 2,00 1,02 1,05 0,96 1,01 3,30 3,77 0,67
Sep I 3,38 3,24 2,00 0,95 1,02 1,05 1,01 3,26 1,88 0,33
II 3,38 3,24 2,00 0,95 1,02 0,66 2,13 0,75 0,13
Okt I 4,31 3,57 2,00 0,95 0,32 1,13 0,00 0,00
II 4,31 3,57 2,00 LP LP LP LP 10,06 7,75 1,38
Nop I 8,86 3,19 2,00 1,10 LP LP LP 9,80 2,94 0,52
II 8,86 3,19 2,00 1,10 1,10 LP LP 9,80 2,94 0,52
Des I 7,23 3,54 2,00 1,10 1,05 1,10 1,10 1,08 3,84 0,00 0,00
II 7,23 3,54 2,00 1,10 1,05 1,05 1,10 1,07 3,78 0,00 0,00
Padi-I 2,05 1,77
Kebutuhan Air Maksimum Padi-II 4,71 0,84
Jagung 2,06 0,37
3.5 Analisa Debit Andalan

Dari data debit bulanan tersebut diurutkan dari yang terbesar hingga terkecil dalam sepuluh tahun pengamatan
tersebut. Karena pengamatan dilakukan selama 10 tahun, maka nilai debit andalan berada pada urutan ke-8 dari
sepuluh tahun. Kemungkinan terpenuhinya 80% dalam satu tahun. Berikut adalah hasil pengurutan datanya.

Tabel 5. Nilai Debit Andalan

Urutan
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agst Sept Okt Nov Des
Debit Bulanan (m/detik)
9,52 3,87 2,32 1,88 1,49 1,33 1,13 1,13 0,97 0,77 0,56 0,14
1
9,38 3,65 2,31 1,87 1,48 1,29 1,29 1,12 0,92 0,72 0,46 0,08
2
7,56 3,46 2,25 1,83 1,47 1,23 1,23 1,11 0,89 0,71 0,47 0,07
3
6,64 3,19 2,15 1,74 1,46 1,22 1,22 1,11 0,89 0,68 0,44 0,06
4
5,71 3,03 2,04 1,71 1,45 1,21 1,21 1,09 0,87 0,66 0,38 0,06
5
5,42 2,93 2,04 1,70 1,45 1,25 1,25 1,05 0,86 0,66 0,38 0,55
6
5,1 2,87 2,04 1,56 1,44 1,20 1,20 1,03 0,84 0,60 0,37 0,50
7
4,51 2,82 1,19 1,55 1,41 1,17 1,17 1,03 0,82 059 0,23 0,45
8
4,21 2,59 1,97 1,55 1,41 1,16 1,16 1,03 0,80 0,57 0,20 0,40
9
3,88 2,39 1,92 1,54 1,35 1,14 1,14 0,99 0,79 0,57 0,18 0,02
10

Tabel 6. Probabilitas Kejadian Debit dalam 10 tahun

No Debit PROB No Debit PROB Debit PROB No Debit PROB No Debit PROB No Debit PROB
m/det m/det m/det m/det m/det m/det
1 9,52
t 0,826446 21 2,59 17,35537 41 1,54 33,8843 61 1,16 50,41322 81 0,99 66,94215 101 0,57 83,47107
2 9,38 1,652893 22 2,39 18,18182 42 1,49 34,71074 62 1,14 51,23967 82 0,97 67,7686 102 0,56 84,29752
3 7,36 2,479339 23 2,32 19,00826 43 1,48 35,53719 63 1,13 52,06612 83 0,92 68,59504 103 0,47 85,12397
4 6,64 3,305785 24 2,32 19,83471 44 1,47 36,36364 64 1,29 52,89256 84 0,89 69,42149 104 0,44 85,95041
5 5,71 4,132231 25 2,31 20,66116 45 1,46 37,19008 65 1,25 53,71901 85 0,89 70,24793 105 0,38 86,77686
6 5,42 4,958678 26 2,25 21,4876 46 1,45 38,01653 66 1,23 54,54545 86 0,87 71,07438 106 0,38 87,60331
7 5,1 5,785124 27 2,15 22,31405 47 1,45 38,84298 67 1,22 55,3719 87 0,86 71,90083 107 0,37 88,42975
8 4,51 6,61157 28 2,09 23,1405 48 1,45 39,66942 68 1,21 56,19835 88 0,84 72,72727 108 0,23 89,2562
9 4,21 7,438017 29 2,04 23,96694 49 1,44 40,49587 69 1,2 57,02479 89 0,82 73,55372 109 0,2 90,08264
10 3,88 8,264463 30 1,97 24,79339 50 1,41 41,32231 70 1,17 57,85124 90 0,8 74,38017 110 0,18 90,90909
11 3,65 9,090909 31 1,92 25,61983 51 1,41 42,14876 71 1,16 58,67769 91 0,79 75,20661 111 0,14 91,73554
12 3,46 9,917355 32 1,88 26,44628 52 1,35 42,97521 72 1,14 59,50413 92 0,77 76,03306 112 0,08 92,56198
13 3,19 10,7438 33 1,87 27,27273 53 1,33 43,80165 73 1,13 60,33058 93 0,72 76,8595 113 0,07 93,38843
14 3,03 11,57025 34 1,83 28,09917 54 1,29 44,6281 74 1,12 61,15702 94 0,71 77,68595 114 0,06 94,21488
15 3,19 12,39669 35 1,74 28,92562 55 1,23 45,45455 75 1,11 61,98347 95 0,68 78,5124 115 0,06 95,04132
16 3,03 13,22314 36 1,71 29,75207 56 1,22 46,28099 76 1,11 62,80992 96 0,66 79,33884 116 0,55 95,86777
17 2,93 14,04959 37 1,7 30,57851 57 1,21 47,10744 77 1,09 63,63636 97 0,66 80,16529 117 0,5 96,69421
18 2,87 14,87603 38 1,56 31,40496 58 1,25 47,93388 78 1,05 64,46281 98 0,6 80,99174 118 0,45 97,52066
19 2,82 15,70248 39 1,55 32,2314 59 1,2 48,76033 79 1,03 65,28926 99 0,59 81,81818 119 0,4 98,34711
20 2,59 16,52893 40 1,55 33,05785 60 1,17 49,58678 80 1,03 66,1157 100 0,57 82,64463 120 0,02 99,17355
Gambar 1. Grafik Flow Duration Curve

12

10

8
Debit (m/detik)

Series1
4

0
0 20 40 60 80 100 120
Probabilitas

3.6 Perhitungan Volume Tampungan

Untuk menghitung volume tampungan Embung Seifulu, maka rumus yang di gunakan menghitung volume
tersebut adalah :

Dimana : A = Luas Section


Lx = Jarak antara Potongan X1 dan Potongan X2

Dari gambar potongan melintang Embung Seifulu maka dapat dihitung luas penampang Embung Seifulu dengan
cara menghitung luasan tiap-tiap section pada potongan Embung. Cara yang dilakukan untuk mengitung luasan
tersebut dengan menggunakan aplikasi autocad 2007. Berikut adalah hasil perhitungannya :
Potongan I-I
Luas potongan I-I dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan I-I adalah 371,815 m.
Potongan II-II
Luas potongan II-II dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan II-II adalah 545,649 m.
Potongan III-III
Luas potongan III-III dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan III-III adalah 167,188 m.
Potongan IV-IV
Luas potongan IV-IV dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007
\dengan perintah Area. Maka diketahui luas potongan IV-IV adalah 125,764 m.
Potongan V-V
Luas potongan V-V dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan V-V adalah 36,809 m.
Potongan VI-VI
Luas potongan VI-VI dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan VI-VI adalah 10,617 m.
Potongan VII-VII
Luas potongan VII-VII dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area.
Maka diketahui luas potongan VII-VII adalah 1,35 m.
Potongan VIII-VIII
Luas potongan VIII-VIII dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area.
Maka diketahui luas potongan VIII-VIII adalah 1,15 m.
Potongan IX-IX
Luas potongan IX-IX dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan IX-IX adalah 54,68 m.
Potongan X-X
Luas potongan X-X dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan X-X adalah 95,43 m.
Potongan XI-XI
Luas potongan XI-XI dapat dihitung dengan menggunakan aplikasi autocad 2007 dengan perintah Area. Maka
diketahui luas potongan XI-XI adalah 118,92 m.
Gambar 2. Potongan Embung Seifulu

Maka, V total = Pot I+ Pot II + Pot III + Pot IV + Pot V + Pot VI + Pot VII+ Pot VIII+ Pot IX + Pot X + Pot XI
= 25230,26 +16751,66 + 2929,52 + 2845,02 + 616,538 + 197,455 + 37,5 + 837,45 + 150,11 +
3215,25
= 52810,763 m
Dari hasil perhitungan Volume tampungan Embung Seifulu Simeulue Tengah yang didapatkan adalah
52810,763 m
4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

1. Dari Analisis Data Curah Hujan didapat curah hujan maksimum rata rata terlihat bahwa curah hujan
maksimum rata-rata terjadi di bulan November sebesar 200 mm dan terendah terjadi di bulan Juli sebesar
50 mm.
2. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan 24 alternatif pola tanam didapat nilai NFR ( Net Farm
Ratio ) yang terkecil yaitu sebesar 1,77 mm/hari, dimana alternatif yang digunakan adalah alternatif ke-20.
Dengan awal Land Preparation pada periode Oktober II.
3. Berdasarkan hasil analisa, maka didapat volume tampungan pada Embung Seifulu adalah 52810,763 m.
4. Berdasarkan dari hasil debit andalan yang didapatkan dari perhitungan untuk memenuhi kebutuhan irigasi
Seifulu adalah 1,03 m/detik.
5. Berdasarkan hasil analisa berdasarkan alternatif kebutuhan air tanam NFR dan DR pada irigasi Seifulu
terjadi meningkat pada bulan Okteber dan Nopember.

4.2 Saran
1. Untuk dapat meningkatkan luas areal irigasi Seifulu diperlukan pemanfaatan air dengan optimal sehingga
debit air yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan debit untuk peningkatan lahan.
2. Diharapkan pengembangan lahan dapat diiringi dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi
baik oleh pemerintah maupun oleh P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air).
3. Melakukan optimalisasi pemanfaatan air Embung untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan air minum bagi
masyarakat setempat.

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jendral Pengairan,Departemen Pekerjaan Umum, 1986. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria
Perencanaan Jaringan Irigasi (KP-01), Jakarta.
Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum, 1986. Standar Perencanaan Irigasi: Kriteria
Perencanaan Bagian Bangunan (KP-04), Jakarta.
Kohler, M.A, Linsley, R.K dan Paulhus, J.L.H, 1996. Hidrologi Untuk Insinyur, Penebit Erlangga, Jakarta.
Soedibyo. 2003. Teknik Bendungan, Pradnya Paramita, Jakarta.
Soemarto, C.D, 1999. Hidrologi Teknik, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Sri, Harto, BR. 1993. Analisis Hidrologi, Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Sosrodarsono, Suyono. 1983. Hidrologi Untuk Pengairan. Pradnya Paramita, Jakarta.
Triatmodjo, Bambang. 2009. Hidrologi Terapan. Penerbit Beta Offset, Yogyakarta.