Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Metode geolistrik merupakan metode geofisika yang mempunyai fokus
tentang sifat resistivitas (tahanan jenis) batuan yang ada di dalam bumi. Tahanan
jenis secara sederhana adalah kemampuan suatu batuan untuk dapat menahan arus
listrik yang melaluinya. Tahanan jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor :
kandungan mineral logam dan non logam, suhu, elektrolit padat dan cair,
porositas, permeabiltas, massa jenis, dan kemas. Dalam praktiknya, metode
geolistrik memiliki beberapa konfigurasi elektroda : konfigurasi Schlumberger,
Wenner, Dipole-Dipole, Pole-dipole, Dipole-Dole dan Pole-Pole.
Metode Potensial Diri atau secara umum disebut dengan metode SP (Self
Potential) merupakan metode dalam geolistrik yang paling sederhana dilakukan, karena
hanya memerlukan alat ukur tegangan (milliVoltmeter) yang peka dan dua elektroda
khusus (porous pot electrode). Metode Potensial Diri merupakan metode yang paling tua
diantara metode-metode Geofisika yang lain, yang telah diperkenalkan pada tahun 1830
di Inggris oleh Robert Fox. Metode Potensial Diri merupakan metode pasif dalam bidang
geofisika, karena untuk mendapatkan informasi bawah tanah, melalui pengukuran yang
tanpa menginjeksikan arus listrik lewat permukaan tanah.
Elektroda porous pot digunakan didalam pengukuran potensial diri medium tanah
dari di permukaan. Elektroda tersebut terdiri dari kawat tembaga yang dimasukkan dalam
tabung keramik dengan dinding berpori, diisi dengan larutan Copper Sulphate (CuSO4 ).
Mengapa dalam metode SP digunakan elektroda porous pot untuk menghindari adanya
efek polarisasi. Potensial diri dapat terjadi karena adanya proses elektrokimia dibawah
permukaan tanah yang disebabkan oleh kandungan mineral tertentu. Didalam pengukuran
potensial diri, gangguan yang terjadi secara alami tidak dapat dihindarkan, misalnya
adanya arus telluric. Oleh karena itu, untuk mengetahui saat pengukuran potensial diri
ada gangguan telluric atau tidak, maka potensial yang terjadi karena arus telluric perlu
diukur, dan kemudian digunakan untuk melakukan koreksi terhadap data pengukuran
potensial diri (SP). Sedang saat dilakukan pengukuran potensial diri, hindarkan dari hal-
hal yang dapat mengganggu karena dilakukan oleh manusia, misalnya jangan melakukan
pengukuran potensial diri bersamaan dengan survei resistivity, yang harus
menginjeksikan arus listrik kedalam tanah. Karena injeksi arus listrik tersebut akan

1
mengganggu potensial diri yang terjadi secara alami. Sato dan Mooney (1960) membuat
hipotesa bahwa potensial mineralisasi dapat timbul jika kondisi lingkungan didukung
oleh adanya proses elektrokimia sehingga dapat menimbulkan potensial elektrokimia
yang terjadi dibawah permukaan tanah, seperti dijelaskan pada gambar III.11. Pada
gambar III.11, dibawah permukaan tanah terdapat ore body yang mengandung mineral
sulfida, yang sebagian masuk atau terbenam dibawah muka air tanah (Water Table),
sehingga menyebabkan proses elektrokimia. Apabila muka air tanah berada diatas atau
dibawah ore body, maka tidak akan terjadi proses elektrokimia, sehingga tidak
menimbulkan potensial diri.

1.2.Maksud dan Tujuan


Maksud dari penelitian ini adalah untuk memahami metode self potensial dan
cara pengolahan data tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
mengidentifikasi kebocoran pipa yang ada di bawah permukaan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Geologi Lokal


Secara geografis, Kabupaten Sleman terletak diantara 107o 15 03 dan 107o 29
30 Bujur Timur, 7o 47 51 dan 7o 47 30 Lintang Selatan dengan batas batas
wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Kabupaten Magelang
- Sebelah Timur : kabupaten Klaten
- Sebelah Selatan : Kabupaten Bantul dan Yogyakarta
- Sebelah Barat : Kabupaten Kulon Progo
Luas wilayah Kabupaten Sleman adalah 57.482 Ha atau 574,82 km2 atau sekitar
18% dari luas Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 3.185,80 km2 , dengan jarak terjauh
Utara Selatan 32 km, Timur Barat 35 km. secara administrative terdiri dari 17 wilayah
Kecamatan, 86 Desa dan 1.212 Dusun.
Topografi
Kabupaten Sleman mempunyai keadaan tanah pada bagian selatan relatif datar
kecuali pada daerah bagian tenggara kecamatan Prambanan yang tanahnya
kabanyakan adalah perbukitan. Akan tetapi jika dilihat makin ke utara keadaan
tanahnya semakin miring dan pada bagian utara di sekitar daerah lereng Merapi
tanahnya relatif lebih curam dan terjal.
Geologi dan Jenis Tanah
Keadaan tanah di Kabupaten Sleman dipengeruhi oleh keberadaan Gunung
Merapi dimana terdapat endapan vulkanik mewakili dari 90% dari seluruh wilayah.
Selain itu jenis tanahnya kebanyakan adalah regosol, untuk tingkat kesuburan
tanahnya sendiri cukup baik.
Hidrologi dan Hidrogeologi
Secara umum wilayah di Kabupaten Sleman adalah wilayah yang tidak pernah
kekurangan air karena didukung oleh Selokan Mataram. Selain itu kualitas air
banyak mengandung unsur Fe dan Mn. Pada wilayah di bagian utara berpotensi
sebagai kawasan resapan lereng kaki merapi.

3
Penggunaan Tanah
Luas keseluruhan wilayah Kabupaten Sleman sebagian digunakan untuk lahan
persawahan. Ruang terbangun + 40% dari luas total Kabupaten Sleman, tata guna
lahan terbagi atas sungai, waduk, perkebunan serta permukiman. Selain itu tata guna
lahan tersebut cenderung berkembang secara organis di sekitar pusat pendidikan dan
perumahan baru.
Klimatologi
Wilayah Kabupaten Sleman beriklim tropis dengan curah hujan berkiar antara
1.500-4.000 mm/th yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan. Menurut
data Stasiun Meteorologi suhu udara rata-rata menunjukkan angka 22o c-35o c.
Secara umum geologi lokal daerah Sleman didominasi secara keselurahan oleh
endapan merapi muda (Gambar 2.1). Merapi merupakan salah satu gunung teraktif
dengan ditandai besarnya frekuensi aktivitas berupa semburan material vulkanik. Merapi
yang saat ini merupakan bagian dari merapi muda, di mana mempunyai rentang umur dari
2000 tahun lalu hingga sekarang. Aktivitas Merapi muda ini terdiri dari aliran basalt dan
andesit, awan panas serta letusan magmatik. Letusan terkadang tidak begitu eksplosif,
namun sering kali diikuti oleh aliran piroklastik pada letusannya (Ratdomopurbo dan
Andreastuti, 2000).
Material piroklastik yang dihasilkan oleh Gunung Merapi terdiri dari berbagai
macam jenis yaitu blok yang berukuran besar, tephra yang berukuran lapili dan debu.
Aktivitas Gunung Merapi memberikan efek tumpahan material yang bersifat eksplosif di
mana material piroklastik yang tertumpah dengan segala macam ukuran akan terdistribusi
di sekitar Gunung Merapi. Materi Vulkanik tersebut akan tersebar secara geografis
dengan dipengaruhi bentukan gunung api yang memberikan jalur alir serta komposisi
materi itu sendiri (Ratdomopurbo dan Andreastuti, 2000).
Arah aliran piroklastik Gunung Merapi itu sendiri sering dipengaruhi oleh beberapa
faktor yakni kerucut puncak Gunung Merapi yang berbentuk seperti tapal kuda. Arah
bukaannya mengarah Barat sampai Barat Daya sehingga arah alirannya selalu melalui
sungai Bebeng dan sungai Senowo. Hasil material vulkanik pada waktu lampau juga
mengarah ke Barat Barat Daya yang ditandai oleh gundukan endapan Gunung merapi
di danau Borobudur pada abad XII XIII (Newhall et all, 2000). Sedangkan bagian
Timur merupakan bagian dari struktur merapi tua yang jarang terkena dampak aliran
piroklastik letusan Gunung Merapi. Material Gunung Merapi yang berukuran lapili dan
debu akan mudah tersebar dalam jarak yang relatif jauh oleh bantuan angin sedangkan
material yang berukuran blok yang hanya mengandalkan gaya gravitasi dan aliran sungai,

4
sehingga endapan lahar dan boulder akan ditemui pada jarak terdekat dari Gunung
Merapi sekitar 20 Km (Kusumaningsih, 2004).

Gambar 2.1. Peta Geologi Daerah Yogyakarta. Garis hitam putus putus
menunjukan sesar (Wartono Rahardjo, 1977)

5
2.2. Penelitian Terdahulu
PENENTUAN ARAH FLUIDA PANAS BAWAH PERMUKAAN DI OBYEK
WISATA GUCI MENGGUNAKAN METODE SELF POTENTIAL
Nadine Vaidila, Supriyadi, Suharto Linuwih
Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Gedung D7 Lt. 2, Kampus Sekaran Gunungpati, Semarang 50229

ABSTRAK
Penelitian arah aliran fluida bawah permukaan telah dilakukan di daerah
manifestasi panas bumi obyek wisata Guci Kabupaten Tegal menggunakan metode self
potential. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan arah aliran fluida panas bawah
permukaan di daerah obyek wisata Guci khususnya di pancuran 7. Pengambilan data
pengukuran self potential menggunakan konfigurasi elektroda tetap dengan jarak interval
elektroda 2 meter dan sebanyak 5 lintasan. Konfigurasi elektroda yang digunakan yaitu
konfigurasi teknik basis tetap (fixed base). Pada teknik ini salah satu elektroda dibuat
tetap berada pada satu titik yang disebut titik referensi, sementara elektroda yang lain
dipindah-pindah untuk setiap pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan nilai self
potential yang didapat dengan nilai terendah -29,8 mV dan nilai yang tertinggi 47,3 mV.
Dari nilai sebaran potensial tersebut dapat diprediksi arah aliran fluida di daerah obyek
wisata Guci mengarah dari Utara menuju Selatan.

Keywords: Obyek wisata Guci, Self potential, Arah aliran fluida Guci tourist
destination, Self potential, Fluid flow direction

Pengukuran menggunakan metode SP telah dilakukan di daerah prospek panas


bumi gunungapi Slamet. Lokasi yang dipilih adalah kawasan sekitar mata air panas
pancuran tujuh obyek wisata Guci Kabupaten Tegal sebagai manifestasi panas bumi
gunungapi Slamet. Luas daerah yang diteliti 75 x 100 meter.
Jumlah titik pengukuran dalam daerah penelitian adalah 100 titik, dengan jarak
antar titik 2 meter. Penelitian difokuskan untuk mendeteksi aliran fluida panas
bawah permukaan di daerah penelitian.
Teknik pengukuran pada penelitian SP ini menggunakan teknik basis tetap (fixed
base). Pada teknik ini salah satu elektroda (porous pot) dibuat tetap berada pada satu titik
yang disebut titik referensi, sementara elektroda yang lain dipindah-pindah untuk setiap
pengukuran.

6
Berdasarkan hasil penelitian SP ini didapatkan nilai potensial tertinggi 47,3 mV
dan nilai potensial terendah -29,8 mV. Potensial listrik alami ini bisa terjadi berbagai
faktor, diantaranya proses elektrokinetik, proses difusi, dan proses
mineralisasi.
Interpretasi geologi bawah permukaan ini didasarkan pada data geologi dan
berbagai informasi yang terkait dengan daerah penelitian ini. Topografi daerah
pengukuran ternyata tidak datar betul. Dari data hasil pengukuran elevasi 21 elektroda
sepanjang lintasan kabel yang dibentangkan dari Selatan ke Utara
menunjukkan bahwa nilai elevasi yang terukur berbanding lurus dengan jarak
titik pengukuran. Semakin jauh dari titik referensi nilai elevasinya semakin tinggi.
Hal ini menyebabkan adanya aliran fluida dari daerah yang memiliki elevasi yang
lebih tinggi (Utara) ke daerah yang memiliki elevasi yang lebih rendah
(Selatan).
Aliran fluida karena pengaruh gravitasi ini bisa menimbulkan potensial
elektrokinetik. Aliran fluida yang merupakan proses mekanis ini pula yang menyebabkan
terjadinya arus listrik konveksi per satuan luas dalam pori-pori
batuan yang mengalir dari Utara ke Selatan di sepanjang lintasan pengukuran. Hasil
pengukuran SP di lima lintasan nampak pada gambar 5 berikut ini. Pada gambar tersebut
Nampak sebaran nilai SP terhadap jarak elektroda. Data penelitian ini juga menunjukkan
bahwa di ke-lima lintasan pengukurannya
cenderung bersifat resistive yang ditunjukkan oleh nilai SP yang relatif
kecil.

7
Gambar 2.2. Grafik nilai SP terhadap jarak elektroda pada ke-lima lintasan

Berdasarkan pada gambar 4 di atas menunjukkan nilai potensial yang


rendah yaitu -29,8 mV pada lintasan ke-empat dan nilai potensial yang tinggi pada
lintasan ke-tiga yaitu 47,3 mV. Nilai tersebut relatif rendah. Hal ini menunjukkan
bahwa daerah pengukuran merupakan daerah konduktif. Berdasarkan grafik nilai SP
terhadap jarak elektroda nampak juga bahwa aliran fluida panas bawah permukaan
diperkirakan berarah dari Utara ke Selatan.
Pada lintasan ke-empat terdapat beberapa elektroda yang nilai potensialnya relatif
sama. Hal ini dapat disebabkan karena pada saat penelitian digital milivoltmeter
berpindah terlalu cepat atau tanpa ada waktu jeda yang cukup. Berbeda dengan lintasan
pertama, ke-dua, ke-tiga dan ke-lima, nilai potensialnya cenderung mengalami
penurunan. Karena semakin nilai potensialnya menurun, maka aliran fluida akan berarah
menuju nilai potensial yang rendah.
Dari hasil penelitian self potential yang telah dilakukan di obyek wisata Guci
diperoleh data berupa nilai besaran potensial dalam satuan mV. Data tersebut kemudian
diinterpolarisakan menjadi peta kontur isopotensial yang menggambarkan sifat kelistrikan
daerah penelitian.

8
Peta kontur isopotensial yang dihasilkan dari data SP ditampilkan pada gambar 5
di bawah ini.

Gambar 2.3. Peta kontur isopotensial daerah penelitian dengan lima lintasan

Berdasarkan peta kontur isopotensial yang telah dibuat menggunakan


software Surfer 10 dapat diinterpretasikan bahwa daerah penelitian merupakan
zona konduktif. Hal ini diindikasikan rendahnya nilai potensial diri yang terukur,
yangsecara numerik bernilai negatif (Kartini dan Danusaputro, 2005). Zona anomali
potensial paling negatif mencapai 29,8 mV. Hal ini mengindikasikan bahwa di zona
daerah tersebut kemungkinan terdapat sumber aliran fluida panas
bawah permukaan yang cukup dangkal.
Pada peta tersebut dapat terlihat aliran fluida panas bawah permukaan dari Utara
ke Selatan, selain diperkirakan mengikuti perubahan topografi, ternyata juga sesuai
dengan perubahan anomali potensial diri. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hamzah
dkk. (2008), bahwa semakin kecil anomali potensial diri (bernilai negatif), maka
akumulasi aliran air ke lokasi itu relatif besar.

9
BAB III
DASAR TEORI

3.1. Metode Geolistrik


Geolistrik adalah metode geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik dalam
bumi dan bagaimana mendeteksinya dipermukaan bumi. Dalam hal ini meliputi
pengukuran potensial, arus, dan medan elektromagnetik yang terjadi, baik secara almiah
maupun akibat injeksi arus kedalam bumi. Oleh karena itu metode geolistrik mempunyai
banyak macam, termasuk didalamnya potensial diri, arus telurik, magnetotelluric,
elektromagnetik, induksi polarisasi, dan resistivity (tahanan jenis). Oleh karena itu
metode geolistrik sendiri secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Geolistrik yang bersifat pasif
Geolistrik dimana energi yang dibutuhkan telah ada terlebih dahulu sehingga
tidak diperlukan adanya injeksi/pemasukan arus terlebih dahulu. Geolistrik macam ini
disebut Self Potensial (SP). Pengukuran SP dilakukan pada lintasan tertentu dengan
tujuan untuk mengukur beda potensial antara dua titik yang berbeda sebagai V1 dan V2.
cara pengukurannya dengan menggunakan dua buah porouspot dimana tahanannya selalu
diusahakan sekecil mungkin. Kesalahan dalam pengukuran SP biasanya terjadi karena
adanya aliran fluida dibawah permukaan yang mengakibatkan lompatan-lompatan tiba-
tiba terhadap terhadap nilai beda potensial. Oleh karena itu metode ini sangat baik untuk
eksplorasi geothermal.
2. Geolistrik yang bersifat aktif
Geolistrik dimana energi yang dibutuhkan ada karena penginjeksian arus ke
dalam bumi terlebih dahulu. Geolistrik macam ini ada dua metode, yaitu metode
resistivitas dan Polarisasi Terimbas (Induce Polarization). Yang akan dibahas lebih lanjut
adalah geolistrik yang bersifat aktif. Metode yang diuraikan ini dikenal dengan nama
Geolistrik tahanan jenis atau disebut dengan metode Resistivitas (resistivity). Tiap-tiap
media mempunyai sifat yang berbeda terhadap aliran listrik yang melaluinya, hal ini
tergantung pada tahanan jenisnya. Pada metode ini, arus listrik diinjeksikan ke dalam
bumi melalui dua buah elektrode arus dan beda potensial yang terjadi diukur melalui dua
buah elektrode potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap
jarak elektrode berbeda kemudian dapat diturunkan variasi harga hambatan jenis masing-
masing lapisan bawah permukaan bumi, dibawah titik ukur (sounding point).

10
Metode ini lebih efektif bila dipakai untuk eksplorasi yang sifatnya relatif
dangkal. Metode ini jarang memberikan informasi lapisan kedalaman yang lebih dari
1000 atau 1500 feet. Oleh karena itu metode ini jarang digunakan untuk eksplorasi
hidrokarbon, tetapi lebih banyak digunakan untuk bidang geologi seperti penentuan
kedalaman batuan dasar, pencarian reservoir air, eksplorasi geothermal, dan juga untuk
geofisika lingkungan. Jadi metode resistivitas ini mempelajari tentang perbedaan
resistivitas batuan dengan cara menentukan perubahan resistivitas terhadap kedalaman.
Setiap medium pada dasarnya memiliki sifat kelistrikan yang dipengaruhi oleh batuan
penyusun/komposisi mineral, homogenitas batuan, kandungan mineral, kandungan air,
permeabilitas, tekstur, suhu, dan umur geologi. Beberapa sifat kelistrikan ini adalah
potensial listrik dan resistivitas listrik.
Geolistrik resistivitas memanfaatkan sifat konduktivitas batuan untuk mendeteksi
keadaan bawah permukaan. Sifat dari resistivitas batuan itu sendiri ada 3 macam, yaitu :
1. Medium konduktif
Medium yang mudah menghantarkan arus listrik. Besar resistivitasnya adalah 10 -8
ohm m sampai dengan 1 ohm.m.
2. Medium semi-konduktif
Medium yang cukup mudah untuk menghantarkan arus listrik. Besar resistivitasnya
adalah 1 ohm m sampai dengan 107 ohm.m.
3. Medium resistif
Medium yang sukar untuk menghantarkan arus listrik. Besar resistivitasnya adalah
lebih besar 107 ohm.m.
Dalam batuan, atom-atom terikat secara kovalen, sehingga batuan mempunyai
sifat menghantar arus listrik. Aliran arus listrik didalam batuan/mineral dapat
digolongkan menjadi 3, yaitu :

1. Konduksi secara elektronik


Terjadi jika batuan/mineral mempunyai banyak elektron bebas sehingga arus listrik
dapat mengalir karena adanya elektron bebas.
2. Konduksi elektrolitik
Terjadi jika batuan/mineral bersifat porous/pori-pori tersebut terisi oleh cairan-cairan
elektrolit dimana arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolit secara perlahan-lahan.
3. Konduksi dielektrik
Terjadi jika batuan/mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik, yaitu
terjadi polarisasi saat bahan-bahan dialiri arus listrik.

11
Batuan yang mempunyai resistivitas (tahanan jenis) tinggi maka
konduktivitasnya (kemampuan mengahantarkan arus listrik) akan semakin kecil,
demikian pula sebaliknya bila batuan dengan resistivitas rendah maka konduktivitasnya
akan semakain besar. Sifat kelistrikan batuan itu sendiri digolongkan menjadi 3, yaitu :
1. Resisitivitas
Batuan dianggap sebagai medium listrik yang mempunyai tahanan listrik. Suatu arus
listrik berjalan pada suatu medium/batuan akan menimbulakn densitas arus dan
intensitas arus.
2. Aktivitas elektro kimia
Aktivitas elektro kimia batuan tergantung dari komposisi mineralnya serta
konsentrasi dan komposisi elektrolit yang terlarut dalam air tanah (ground water)
yang kontak dengan batuan tersebut.
3. Konstanta dielektrik
Konstanta dielektrik pada batuan biasanya berhubungan dengan permeabilitas dalam
material/batuan yang bersifat magnetik.
Kita juga dapat melihat bahwa sifat kelistrikan batuan dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain adalah :
1. Kandungan mineral logam
2. Kandungan mineral non logam
3. Kandungan elektrolit padat
4. Kandungan air garam
5. Perbedaan tekstur batuan
6. Perbedaan porositas batuan
7. Perbedaan permeabilitas batuan
8. Perbedaan temperatur
Keuntungan dari metode resistivity (tahanan jenis) ini adalah :
1. Dapat membedakan macam-macam batuan tanpa melakukan pengeboran
2. Biayanya relatif murah
3. Pemakaiannya mudah.

3.2. Self Potential


Metode Potensial Diri atau secara umum disebut dengan metode SP (Self
Potential) merupakan metode dalam geolistrik yang paling sederhana dilakukan, karena
hanya memerlukan alat ukur tegangan (milliVoltmeter) yang peka dan dua elektroda
khusus (porous pot electrode). Metode Potensial Diri merupakan metode yang paling tua

12
diantara metode-metode Geofisika yang lain, yang telah diperkenalkan pada tahun 1830
di Inggris oleh Robert Fox. Metode Potensial Diri merupakan metode pasif dalam bidang
geofisika, karena untuk mendapatkan informasi bawah tanah, melalui pengukuran yang
tanpa menginjeksikan arus listrik lewat permukaan tanah.

3.3. Konfigurasi Pengukuran Self Potential

Gambar 3.1. Konfigurasi pengukuran Potensial Diri

Elektroda porous pot digunakan didalam pengukuran potensial diri medium tanah
dari di permukaan. Elektroda tersebut terdiri dari kawat tembaga yang dimasukkan dalam
tabung keramik dengan dinding berpori, diisi dengan larutan Copper Sulphate (CuSO4 ).
Mengapa dalam metode SP digunakan elektroda porous pot untuk menghindari adanya
efek polarisasi. Potensial diri dapat terjadi karena adanya proses elektrokimia dibawah
permukaan tanah yang disebabkan oleh kandungan mineral tertentu. Didalam pengukuran
potensial diri, gangguan yang terjadi secara alami tidak dapat dihindarkan, misalnya
adanya arus telluric. Oleh karena itu, untuk mengetahui saat pengukuran potensial diri
ada gangguan telluric atau tidak, maka potensial yang terjadi karena arus telluric perlu
diukur, dan kemudian digunakan untuk melakukan koreksi terhadap data pengukuran
potensial diri (SP). Sedang saat dilakukan pengukuran potensial diri, hindarkan dari hal-
hal yang dapat mengganggu karena dilakukan oleh manusia, misalnya jangan melakukan
pengukuran potensial diri bersamaan dengan survei resistivity, yang harus
menginjeksikan arus listrik kedalam tanah. Karena injeksi arus listrik tersebut akan
mengganggu potensial diri yang terjadi secara alami. Sato dan Mooney (1960) membuat
hipotesa bahwa potensial mineralisasi dapat timbul jika kondisi lingkungan didukung
oleh adanya proses elektrokimia sehingga dapat menimbulkan potensial elektrokimia
yang terjadi dibawah permukaan tanah, seperti dijelaskan pada gambar III.11. Pada
gambar III.11, dibawah permukaan tanah terdapat ore body yang mengandung mineral
sulfida, yang sebagian masuk atau terbenam dibawah muka air tanah (Water Table),
sehingga menyebabkan proses elektrokimia. Apabila muka air tanah berada diatas atau

13
dibawah ore body, maka tidak akan terjadi proses elektrokimia, sehingga tidak
menimbulkan potensial diri.

Gambar 3.2. Syarat terjadi potensial diri (Self Potential)

Karena proses elektrokimia tersebut, bagian atas dari ore body (tubuh sulfida)
akan mengalami proses reduksi. Sedang bagian bawah dari ore body yang terbenam
dibawah permukaan air tanah akan mengalami proses oksidasi. Karena proses tersebut,
maka ore body terbentuk seperti Cell. Bagian dalam dari ore body berfungsi sebagai
jalur transport elektron dari anoda ke katoda. Meskipun demikian, potensial diri yang
terjadi di alam yang dapat diukur dari permukaan tanah dapat ditimbulkan oleh beberapa
hal, antara lain :
1. Adanya perbedaan konsentrasi ion pada medium, atau perlapisan tanah.
Misalnya antara lapisan pasir dan lempung, atau antara medium yang
mengandung air tawar dan air asin.
2. Adanya aliran zat cair (air tanah) dalam perlapisan tanah. Air dalam tanah
banyak mengandung ion, aliran ion tersebut yang menyebabkan timbulnya
potensial di permukaan tanah. Potensial yang timbul ini disebut dengan
Streaming Potential atau Electrokinetic Potential.
3. Adanya proses elektrokimia di dalam medium yang banyak mengandung
mineral (senyawa sulfida). Potensial ini disebut dengan potensial
mineralisasi.

14
BAB IV
METODOLOGI

4.1. Akuisisi Data

Gambar 4.1. Desain Survei


Daerah penilitian Self Potential dilakukan di Lapangan UPN Veteran
Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian
dilakukan oleh Teknik Geofisika UPN Veterean Yogyakarta 2015. Akuisisi
lapangan dilaksanakan hari Sabtu dan Minggu pada tanggal 4 dan 5 November
2017 pukul 07.00-15.00 tiap harinya.

15
Gambar 4.2. Peralatan akuisisi data
Peralatan yang digunakan dalam pengukuran metode Self Potensial terdiri
dari beberapa alat, diantaranya :
1. Voltmeter yang digunakan untuk pengukur arus listrik dan tahanan listrik.
2. Porous pot untuk mengukur medan listrik yang nantinya akan terbaca
pada Voltmeter.
3. Kabel yang berguna untuk menghubungkan voltmeter dengan porous pot.
4. GPS yang digunakan untuk menentukan koordinat titik pengukuran.
5. Meteran yang berguna untuk penentuan spasi antar titik pengukuran
6. Alat tulis yang digunakan untuk mencatat hasil data pada saat akuisisi di
lapangan.

16
Mulai

Persiapan Alat

Menentukan Lintasan

Merangkai Alat

Memasang Elektroda Potensial


(Porous pot)

Akuisisi Data

Nilai V

Mencatat hasil

Memindahkan Elektroda P

Packing Alat

Selesai

Gambar 4.3. Diagram Alir Pengambilan Data

17
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan akuisisi
lapangan:
1. Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan.
2. Menentukan lintasan yang akan diukur nilai potensial diri.
3. Hubungkan voltmeter rover dan base dengan porouspot yang sudah ada.
4. Sebelum melakukan akuisisi data lakukan, pasang porouspot pada titik-
titik yang susah ditentukan lintasan.
5. Didapatkan nilai Tegangan (V) pada alat dan catat hasil tersebut ke
tabulasi data
6. Ulangi langkah 4 dan 5 hingga semua titik pengukuran sudah dilakukan
akuisisi.

18
4.2. Pengolahan Data

Gambar 4.4. Diagram Alir Pengolahan Data

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam pengolahan data Self Potential


yang dijabarkan dalam diagram diatas:
1. Menyiapkan data Self Potential berupa tengangan (V) yang berasal dari
base ataupun rover. Data tersebut dipindahkan kedalam software microsoft
excel untuk diolah
2. Olah data yang sudah didapatkan di lapangan dengan mencari nilai SP
terkoreksi dengan rumus yang sesuai.

19
3. Membuat grafik SP terkoreksi vs waktu dengan menempatkan SP
terkoreksi pada sumbu Y dan waktu pada sumbu X. Kegunaan grafik ini
untuk mencari anomali.
4. Buka software surfe untuk membuat peta isopotensial dari data yang sudah
diolah dengan software excel. Pada koordinat X sebagai sumbu X,
koordinat Y sebagai sumbu Y dan pada sumbu Z diisi nilai SP terkoreksi.
5. Interpretasikan peta isopotential tersebut.
6. Tarik kesimpulan dari penelitian yang sudah dilakukan.

20
4.3. Interpretasi Data
Interpretasi data Self Potensial dilakukan dengan cara interpretasi kualitatif
dan interpretasi kuantitatif. Kedua interpretasi itu membahas grafik beda potensial
terhadap waktu dan peta isopotensial. Interpretasi akhir data tersebut berupa
gambaran bawah permukaan dimana mencari apakah terdapat kebocoran pipa atau
tidak.

21
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Grafik Beda Potensial Vs Waktu

Beda Potensial vs Waktu


200

150

100

50

0
7:12:00 AM
8:24:00 AM
9:36:00 AM
10:48:00 AM
12:00:00 PM
1:12:00 PM
2:24:00 PM
3:36:00 PM
4:48:00 PM
-50

-100

Beda Potensial vs Waktu

Beda potensial vs Waktu


200

150

100

50

0
7:12:00 AM 8:24:00 AM 9:36:00 AM 10:48:00 AM 12:00:00 PM 1:12:00 PM 2:24:00 PM
-50

-100

Beda potensial vs Waktu

Gambar 5.1. Grafik Beda Potensial Vs Waktu

Gambar diatas adalah grafik beda potensial terhadap waktu. Pada gambar
diatas terlihat terjadi penurunan dan peningkatan beda potensial dengan
seiringnya peningkatan waktu. Pada grafik dengan gambar biru adalah
pengukuran yang dilakukan hari pertama dan grafik orange adalah pengukuran
yang dilakukan pada hari kedua.

22
Pada hari pertama nilai potensial listrik ditempat pengukuran tersebut cukup
tinggi. Ini menunjukkan bahwa lapisan batuan dibawah permukaan tersebut relatif
konduktif. Arah arus listrik konduksi mengalir dari potensial tinggi ke potensial
rendah, sementara arus berlawanan arah dengan arus konveksi karena arus
konveksi adalah arah arus fluida maka dapat diketahui bahwa arah aliran fluida
dari potensial rendah ke potensial tinggi. Pada hari pertama tidak ditemukannya
anomali kebocoran pipa karena nilai beda potensial yang didapat tidak terjadi
penunjaman yang sangat tinggi. Pendugaan awal pada daerah dengan potensial
yang tinggi adalah terdapatnya akumulasi ion-ion yang menyebabkan nilai
potensial tinggi.
Pada hari kedua nilai potensial listrik ditempat pengukuran tersebut cukup
tinggi. Ini menunjukkan bahwa lapisan batuan dibawah permukaan tersebut relatif
konduktif. Arah arus listrik konduksi mengalir dari potensial tinggi ke potensial
rendah, sementara arus berlawanan arah dengan arus konveksi karena arus
konveksi adalah arah arus fluida maka dapat diketahui bahwa arah aliran fluida
dari potensial rendah ke potensial tinggi. Pada daerah yang terjadi penunjaman
nilai beda potensial yang tinggi dapat mengindikasikan keterdapatan anomali pada
titik tersebut. Ini menandakan pada daerah tersebut sebagai indikasi awal
keterdapatan kebocoran pipa pada daerah penelitian.

23
5.2. Peta Isopotential

Gambar 5.2. Peta Isopotential

Gambar diatas adalah gambar peta isopotensial pada daerah penelitian. Gambar
diatas memiliki gradasi warna bermacam-macam. Daerah dengan gradasi berwarna biru
adalah daerah dengan keterdapatan beda potensial yang rendah. Daerah ini ditandai
dengan nilai beda potensial -80 hingga 0 mV.Ini menandakan pada daerah tersebut adalah
daerah yang resistiv. Pada daerah dengan gradasi berwarna hijau hingga kuning adalah
daerah dengan keterdapatan beda potensial yang sedang. Daerah ini memiliki nilai beda
potensial 0 hingga 80 mV. Ini menandakan pada daerah tersebut adalah daerah yang
resistivitasnya sedang. Pada daerah dengan gradasi warna orange hingga merah adalah
daerah dengan beda potensial yang tinggi. Daerah ini memiliki nilai beda potensial 80
hingga 170 mV. Ini menandakan daerah tersebut adalah daerah yang memiliki
konduktifitas yang tinggi.
Pada bagian tenggara hingga selatan keterdapatan daerah dengan beda
potensial yang tinggi. Ini menandakan bahwa pada daerah tersebut memiliki
konduktivitas yang tinggi sehingga dapat ditarik kesimpulan kemungkinan
keterdapatan aliran fluida. Arah arus listrik konduksi mengalir dari potensial

24
tinggi ke potensial rendah, sementara arus berlawanan arah dengan arus konveksi
karena arus konveksi adalah arah arus fluida maka dapat diketahui bahwa arah
aliran fluida dari potensial rendah ke potensial tinggi. Pada daerah yang terjadi
penunjaman nilai beda potensial yang tinggi dapat mengindikasikan keterdapatan
anomali pada titik tersebut. Pada daerah dengan potensial yang tinggi adalah
terdapatnya akumulasi ion-ion yang menyebabkan nilai potensial tinggi. Ini
menandakan pada daerah tersebut sebagai indikasi awal keterdapatan kebocoran
pipa pada daerah penelitian.

25
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berikut ini adalah kesimpulan dari daerah penelitian yang ada di sekitar UPN
Veteran Yogyakarta:
Pada daerah dengan potensial yang tinggi adalah terdapatnya
akumulasi ion-ion yang menyebabkan nilai potensial tinggi. Ini
menandakan pada daerah tersebut sebagai indikasi awal keterdapatan
kebocoran pipa pada daerah penelitian.
Pada daerah yang terjadi penunjaman nilai beda potensial yang tinggi
dapat mengindikasikan keterdapatan anomali pada titik tersebut. Ini
menandakan pada daerah tersebut sebagai indikasi awal keterdapatan
kebocoran pipa pada daerah penelitian.

6.2. Saran
Saran untuk penelitian berikutnya adalah diperlukan data tambahan metode
geofisika lainnya. Salah satu data yang diperlukan data tambahan berupa data
CMD untuk mengetahui kepastian keterdapatan kebocoran pipa.

26
DAFTAR PUSTAKA

Bronto, S. dan Hartono, H.G., 2001, Panduan Ekskursi Geologi Kuliah Lapangan
2, STTNAS: Yogyakarta.
Hendrawan, Adnan,. dkk. 2016. Studi Petrologi Dan Petrografi Pada Alterasi
Bukit Berjo,Godean, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakartapenelitian Awal
Mengenai Alterasi Di Bukit Berjo.
(https://repository.ugm.ac.id/id/file/655266 Diakses pada 29 Oktober 2017)
Loke, M. H. 1999. Electrical Imaging Surveys for Enviromental an Engineering
Studies, A Praticial Guide to 2D and 3D Surveys. Penang: Geotomo.
Reynolds, J. M., 1997, An Introduction to Applied and Environmental
Geophysics, John Wiley and Sons Inc., England.
Santoso, Agus. 2017. Buku Panduan Praktikum Geolistrik. Sleman :
Laboratorium Geofisika Eksplorasi Jurusan Teknik Geofisika Fakultas
Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta.
Telford, W.M., dkk. 1990. Applied Geophysics Edition 2, New York: Cambridge
University Press.
Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., Keys, D.A. 1976. Applied
Geophysics, Edisi 1, Cambridge: Cambridge University Press.
Tim Pengajar dan Tim Asisten, 2017, Buku Panduan Praktikum Geolistrik,
Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pembangunan Veteran,
Yogyakarta.
Wartono Raharjo, Sukandarrumidi dan Rosidi. 1977. Peta Geologi Lembar
Yogyakarta, Jawa, Bandung: Direktorat Geologi.

27