Anda di halaman 1dari 5

SEA TRIAL

DEFINISI
Yaitu pengujian performa kapal, yang dilakukan oleh owner kapal, pihak galangan, dan juga badan kapal,
Pengujiannya meliputi : kecepatan, manuver, penurunan dan penarikan jangkar, pemadam kebakaran, dan
yang menyangkut keseluruhan fungsi peralatan dan perlengkapan di kapal pada saat nanti kapal berlayar. prosedur
prosedur yang dilakukan dalam sea trial :
1. Starting Test
a) Pengaturan Awal Saat Kondisi Kapal Mati
Sarana harus disediakan untuk memastikan mesin yang dapat dibawa ke dalam operasi dari kondisi kapal
mati tanpa bantuan dari luar.

b) Starting Kompresor Udara

Dimana mesin utama diatur untuk starting udara maka kapasitas total penerima udara akan cukup
untuk memberikan starting tanpa pengisian, tidak kurang dari 12 kali distart berturut-turut dari mesin
utama, bergantian antara depan dan terbelakang jika jenis reversibel dan tidak kurang dari 6 kali
berturut-turut distart jika dari jenis non-reversibel. Setidaknya dua penerima udara kapasitas kira-kira
sama harus disediakan untuk instalasi multi-mesin, jumlah start diperlukan untuk setiap
mesin akan dipertimbangkan khusus.

c) Electric Starting
Dimana mesin utama dilengkapi dengan starter listrik, dua baterai harus dipasang. Setiap baterai harus
mampu starting mesin pada saat keadaan dingin dan kapasitas gabungan adalah cukup tanpa mengisi
ulang untuk menyediakan jumlah start dari mesin utama.

d) Starting dari Sumber Daya Darurat


Setiap generator darurat yang diatur secara otomatis untuk starting harus dilengkapi dengan sistem start
yang memiliki dua sumber independen energi yang tersimpan. Generator darurat harus mampu dan mudah
di start dalam kondisi dingin turun ke suhu 0 C.

2. Stopping Trials (Stop Inertia)

a. Kinerja menghentikan kapal biasanya diwakili oleh kecelakaan berhenti manuver, yang
menentukan kemampuan menghentikan kapal dari waktu urutan terbelakang penuh diberikan
sampai kapal berhenti mati di dalam air untuk kecepatan pendekatan yang diberikan. Selain
kecelakaan berhenti manuver, yang meluncur berhenti manuver ini harus dilakukan dengan
mesin memberikan kekuatan untuk baling-baling.
b. Stop Trials yang akan dilakukan sebagai berikut:

Hal ini harus dimulai ketika:

- kondisi pendekatan relatif didefinisikan dalam Kecepatan untuk penilaian di bawah (notasi LMA) adalah
setidaknya 90 persen dari kecepatan kapal sesuai dengan 85 persen dari output mesin yang maksimal.
Kecepatan pendekatan untuk penilaian di bawah (notasi LNMA) adalah setidaknya 100 persen dari
kecepatan kapal.
- permintaan daya astern penuh atau berhenti diberikan dari posisi kontrol mesin.
- Hal ini harus dihentikan ketika kapal telah berhenti mati di dalam air. Dimana kapal yang dilengkapi
dengan sarana tambahan untuk manuver atau berhenti, efektivitas cara tersebut harus dibuktikan dan
dicatat. Jarak berhenti yang dicapai ketika kapal awalnya melanjutkan ke depan dengan kecepatan minimal
90 persen dari kecepatan kapal.

3. Progressive Speed Trial

Dalam melakukan Progressive Speed Trial, tujuan utamanya adalah untuk mengukur kecepatan kapal
dalam kondisi operasi yaitu saat kapal berjalan terus menerus tanpa berhenti. Dengan demikian dapat
diketahui kemampuan maksimal kapal untuk kecepatan dan RPM propeller kapal pada kondisi yang telah
distandartkan, apakah telah sesuai dengan kontrak kerja terhadap pembuatan kapal tersebut.

4. Crash Stop Astern and Crash Stop Ahead Test

Tujuan dari trial Crash Stop Ahead & Crash Stop Astern adalah membuktikan bahwa kapal dapatdihentikan
secara mendadak pada saat-saat emergency, dan untuk menghitung waktu serta jarak di antara titik saat
dilakukannya Astern/Ahead hingga RPM menjadi stabil.

Beberapa prosedur yang harus dilakukan dalam melakukan test/trial ini antara lain :

1. Pertama, kapal harus diarahkan pada saru titik dengan mantap (konstan tidak berubah-ubah). Mengatur
arah kapal agar tetap melewati track dengan konstan tidak berubah. Pada posisi satu panjang kapal dimana
engine akan dihidupkan, mulailah data acquisition system
2. Selanjutnya melakukan setting engine astern pada posisi yang telah diterangkan, yang tercatat di
dalam trial agenda ( full, half, slow ).
3. Dengan daun kemudi tepat berada pada midship, test akan dilakukan hingga kapal benar- benar berhenti
diam di atas air.
4. Pada akhir dari ahead stoping test, test akan diulang dengan kapal pada saat permulaan bergerak dengan
kecepatan dan arah yang tetap stabil, menggunakan ahead engine order untuk berhenti.

5. Manuvering test
Pada test ini dilakukan pengujian untuk meentukan maneuver kapal dan stabilitas arah kapal. Hal
ini termasuk maneuver langsug, reverse spiral, zigzag dan penggunaan Lateral Truster. Percobaan ini j u g a
u n t u k mengukur efektivitas kemudi.

6. Steering gear test

Pada test ini yang dicatat berupa data berapa lama waktu yang dibutuhkan kapal untuk berubah
arah sesuai dengan derajat yang ditentukan. Selain itu juga dilihat kesesuaian antara arah stering gear
yang ada di atas dengan arah daun kemudi yang ada di bawah. Prosedur pengujiannya haruslah termasuk
beberapa proses pengujian, dan ketentuan berikut:
- Pengujian Steering gear utama;
- Pengujian steering gear bantuan/tambahan;
- Pengendalian sistem kendali steering gear ;
- Posisi kemudi pada deck navigasi;
- Power supply darurat;
- indikator sudut rudder pada hubunganya dengan posisi rudder sebenarnya;
- Pengendalian sistem kendali alarm steering gear power failure;
- Alarm power failure dari steering gear; dan
- Susunan peralatan otom automatic isolating dan perlengkapan automatic lainya.

7. Vibration test & Noise test

Pengujian ini mengukur berapa getaran yang di hasilkan saat kapal berlayar dan mengukur kebisingan yang
dihasilkan kapal, tingkat kebisingan ini di ukur pada semua tempat yang ada di kapal meliputi, engine room, kamr
tidur dan lain-lain. Standard untuk tigkat kebisingan di masing- masing ruangan berbeda.

kondisi yang harus dipenuhi untuk melakukan pengukuran kebisingan dan getaran :

I. Semua system permesinan dan supporting system termasuk system HVAC harus
dijalankan.
II. Pengukuran harus diambil dengan kapal melaju ke depan , pada kecepatan konstan
dan tentu saja , kedalaman laut tidak kurang dari lima kali syarat kapal .
III. Variasi sudut kemudi harus terbatas pada 2 dari posisi midship dan pergerakan kemudi
harus dijaga sepanjang waktu pengukuran .
8. Endurance test
Endurance trial adalah Test yang dilakukan untuk mengetahui kinerja dari engine pada saat
continous ranting dalam hal Power, RPM, Fuel Consumption, dan daya tahan.
Pada test ini yang direkam adalah aliran bahan bakar, pembuangan mesin, suhu air pendingin dan
kecepatan kapal. Test ini bertujuan untuk menguji ketahanan main engine.

9. Anchoring Test
Pengujian ini dilakukan menaikan turunkan rantai jangkar dan jangkar utama dengan ketentuan berapa
lama (detik) yang diatur klasifikasi ketika rantai dan jangkar diturunkan dan tes ini juga untuk menguji performa
windlass atau mesin jangkar.

10. Fire Fighting Test


Tujuan: Test ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan peralatan pemadam kebakaran dapat
bekerja dengan baik di laut ketika terjadi kegawat darutan kebakaran dalam pelayaran.