Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lansia atau menua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam kehidupan
manusia. Menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari
suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua
merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui 3 tahap
kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. 3 tahap ini berbeda baik secara
biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami
kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan figur tubuh yang tidak
proporsional.
Tuli adalah suatu bentuk gangguan sensorik yang kejam. Berbeda dengan
kebutaan, tuli lebih sering menimbulkan cemoohan daripada rasa simpati.
Ketidakmampuan untuk mendengar pembicaraan dan mengontrol suaranya
sendiri, seorang penderita tuli berat akan bertingkah laku seperti orang bodoh.
Karena terisolasi dari keluarga dan teman-teman serta selalu menerima sikap
kurang simpatik, ia sering menderita depresi. Tinnitus yang sering menyertai
ketulian dan jarang dijumpai ketulian tanpa disertai gangguan ini dapat
menimbulkan kesengsaraan hampir seberat yang ditimbulkan oleh ketulian itu
sendiri.
Presbikusis adalah gangguan pendengaran sensorineural pada usia lanjut
akibat proses degenerasi organ pendengaran yang terjadi secara perlahan dan
simetris pada kedua sisi telinga. Pada audiogram terlihat gambaran penurunan
pendengaran bilateral simetris yang mulai terjadi pada nada tinggi dan bersifat
sensorineural dengan tidak ditemukannya kelainan yang mendasari selain
proses menua secara umum.
Kejadian presbikusis di seluruh dunia semakin meningkat setiap tahunnya.
Kejadian ini mungkin saja berhubungan dengan semakin meningkatnya jumlah
penduduk di dunia. Di Amerika, diperkirakan sekitar 25-30% orang-orang
dengan rentang usia 65-74 tahun mengalami gangguan pendengaran.

1
Selanjutnya, kejadian gangguan pendengaran ini meningkat sampai 40-45%
pada orang-orang yang berusia lebih dari 75 tahun (Roland, 2014). Penelitian
di Brazil menyebutkan bahwa presbikusis dialami oleh populasi yang berusia
65-75 tahun sekitar 30-35%, sedangkan pada populasi yang berusia lebih dari
70 tahun sekitar 40-50% (Fernanda, 2009). Di Arab Saudi, ditemukan
prevalensi kejadian prebikusis pada subjek penelitian yang berusia 46-50 tahun
adalah sekitar 10,17%, dan meningkat menjadi 38,3% pada subjek penelitian
dengan rentang usia 71-75 tahun (Al-Ruwali dan Hagr, 2010). Selanjutnya,
penelitian yang dilakukan di Korea yang tepatnya berlokasi di Seoul, provinsi
Kyunggi dan Kangwon, menunjukkan bahwa kejadian presbikusis pada orang-
orang berusia 65 tahun ke atas adalah sekitar 43,4% (Hee-Nam, dkk, 2000).
Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran yang dilakukan 7
provinsi di Indonesia pada tahun 1994-1996 didapatkan bahwa angka prevalensi
presbikusis sebesar 2,6% (Kemenkes RI, 2006). Jumlah penduduk di Indonesia
yang berusia lebih dari 60 tahun pada tahun 2005 adalah sekitar 19,9 juta orang
dengan prevalensi presbikusis sebesar 8,48% dari jumlah populasi (Dina, 2013).
Diperkirakan penderita presbikusis di Indonesia pada tahun 2025 akan
mengalami peningkatan mencapai 4 kali lipat dari sebelumnya (Soesilorini,
2011).
Umumnya diketahui bahwa presbikusis merupakan akibat dari proses
degenerasi. Diduga kejadian presbikusis mempunyai hubungan dengan faktor-
faktor herediter, pola makan, metabolisme, arteriosklerosis, infeksi, bising,
gaya hidup atau bersifat multifaktor. Menurunnya fungsi pendengaran secara
berangsur merupakan efek kumulatif dari pengaruh faktor-faktor tersebut diatas
(Suwento & Hendarmin, 2007).
Komite nasional penanggulangan gangguan pendengaran dan ketulian
menyatakan bahwa diperlukan pengetahuan, pengenalan, dan pencegahan
presbikusis oleh masyarakat bersama-sama kader dan tenaga kesehatan, selain
peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi tenaga kesehatan di lini
terdepan untuk mendiagnosis presbikusis. Skrining pendengaran sebaiknya juga
dilakukan secara rutin pada penderita dengan usia diatas 60 tahun untuk
menurunkan morbiditas akibat presbikusis (Kemenkes RI, 2006).

2
Menurut Muwani (2007), peran perawat pada gangguan sistem ini sebagai
pemberi asuhan keperawatan pada gangguan sistem pendengaran (presbikusis)
dengan baik dan benar. Peran sebagai edukator untuk pemberi pengetahuan
tentang gangguan yang diderita oleh pasien. Peran sebagai pendidik yaitu
perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga dengan
tujuan keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan keluarga secara
mandiri dan bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga. Peran
sebagai koordinator yaitu untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari
berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan. Peran
sebagai pelaksana yaitu perawat yang bekerja dengan klien dan keluarga baik
di rumah, klinik, maupun di rumah sakit bertanggung jawab dalam memberikan
perawatan langsung. Peran sebagai pengawas kesehatan yaitu perawat harus
melakukan home visit atau kunjungan rumah yang teratur untuk
mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga,
perawat tidak hanya melakukan kunjungan tetapi diharapkan ada tindak lanjut
dari kunjungan ini. Perawat sebagai konsultan yaitu perawat sebagai
narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan, agar keluarga
mau meminta nasehat pada perawat maka hubungan antara keluarga dan
perarawat harus dibina dengan baik, perawatan harus terbuka dan dapat
dipercaya. Peran sebagai kolaborator yaitu perawat harus bekerja sama dengan
pelayanan rumah sakit, puskesmas, dan anggota tim kesehatan yang lain untuk
mencapai tahap kesehatan keluarga yang optimal, kolaborasi tidak hanya
dilakukan sebagai perawat di rumah sakit tetapi di keluarga dan komunitas pun
juga dapat dilaksanakan. Peran sebagai fasilitator yaitu agar dapat
melaksanakan peran fasilitator dengan baik, maka perawat komunitas harus
mengetahui sistem pelayanan kesehatan, misalnya sistem rujukan dan dana
sehat. Peran sebagai penemu kasus yaitu perawat dapat mengidentifikasi
kesehatan secara dini (Case Finding), sehingga tidak terjadi ledakan atau
kejadian luar biasa. Peran sebagai modifikasi lingkungan yaitu perawat dapat
memodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah, masyarakat, dan lingkungan
sekitarnya agar dapat tercipta lingkungan yang sehat.

3
B. Tujuan Makalah
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pembelajaran diharapkan mahasiswa mampu memahami
asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan sistem pendengaran
(presbikusis).
2. Tujuan Khusus
a. Dapat memahami tentang pengertian lansia.
b. Dapat memahami tentang batasan usia lansia.
c. Dapat memahami tentang proses menua.
d. Dapat memahami tentang karakteristik lansia.
e. Dapat memahami tentang perubahan yang terjadi pada lansia.
f. Dapat memahami tentang perubahan sistem pendengaran pada lansia.
g. Dapat memahami tentang masalah kesehatan yang terjadi pada lansia.
h. Dapat memahami tentang pengertian presbikusis.
i. Dapat memahami tentang etiologi presbikusis.
j. Dapat memahami tentang klasifikasi presbikusis.
k. Dapat memahami tentang faktor risiko presbikusis.
l. Dapat memahami tentang tanda dan gejala presbikusis.
m. Dapat memahami tentang pathway presbikusis.
n. Dapat memahami tentang pemeriksaan diagnostik presbikusis.
o. Dapat memahami tentang penatalaksanaan presbikusis.
p. Dapat memahami tentang komplikasi presbikusis.
q. Dapat memahami tentang pengkajian keperawatan.
r. Dapat memahami tentang diagnosa keperawatan.
s. Dapat memahami tentang intervensi keperawatan.

C. Metode Penulisan
Metode penulisan yang kami gunakan adalah deskriptif, kajian pustaka
dilakukan dengan mencari literature di internet dan buku panduan.

4
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar
1. Pengertian Lansia
Lansia atau menua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam kehidupan
manusia. Menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai
dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan.
Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah
melalui 3 tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. 3 tahap ini
berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti
mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan
kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran
kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan figure
tubuh yang tidak proporsional.
Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan
dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup.
Usia tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan (Fatimah, 2010). Usia
lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses
perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade
(Notoadmojo, 2010).

2. Batasan Usia Lansia


Menurut World Health Organization (WHO) ada beberapa batasan usia
lansia, yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age) : 45-59 tahun
b. Usia lanjut (elderly) : 60-74 tahun
c. Lansia tua (old) : 75-90 tahun
d. Lansia sangat tua (very old) : >90 tahun

3. Proses Menua
Menua didefinisikan sebagai penurunan, kelemahan, meningkatnya
kerentanan terhadap berbagai penyakit dan perubahan lingkungan,

5
hilangnya mobilitas dan ketangkasan, serta perubahan fisiologis yang terkait
dengan usia (Aru et al., 2009). Penuaan adalah suatu proses normal yang
ditandai dengan perubahan fisik, sosial, dan psikologis yang dapat terjadi
pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan
kronologis tertentu. Hal ini merupakan suatu fenomena yang kompleks dan
multidimensional yang dapat diobservasi dan berkembang sampai pada
keseluruhan sistem (Stanley, 2010).
Proses menua adalah sebuah proses yang mengubah orang dewasa sehat
menjadi rapuh disertai dengan menurunnya cadangan hampir semua sistem
fisiologis dan disertai pula dengan meningkatnya kerentanan terhadap
penyakit dan kematian. Proses menua normalnya merupakan suatu proses
yang ringan, ditandai dengan menurunnya fungsi secara bertahap tetapi
tidak ada penyakit sama sekali sehingga kesehatan tetap terjaga baik. Proses
menua patologis ditandai dengan kemunduran fungsi organ sejalan dengan
umur tetapi bukan akibat umur tua, melainkan akibat penyakit yang muncul
pada umur tua.
Ada dua jenis teori penuaan yaitu, teori biologi, teori psikososial. Teori
biologis meliputi teori genetik dan mutasi, teori imunologis, teori stress,
teori radikal bebas, teori rantai silang, teori menua akibat metabolisme.
Teori psikososial meliputi pelepasan, teori aktivitas, teori interaksi sosial,
teori kepribadian berlanjut, teori perkembangan (Stanley, 2010).
Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain:
a. Hereditas/keturunan genetik
b. Pengalaman hidup
c. Status kesehatan
d. Nutrisi
e. Stress
f. Lingkungan

4. Karakteristik Lansia
Menurut Bustan (2007) ada beberapa karakterisktik lansia yang perlu
diketahui untuk mengetahui keberadaan masalah kesehatan lansia, yaitu:

6
a. Jenis Kelamin
Lansia lebih banyak wanita dari pada pria.
b. Status Perkawinan
Status pasangan masih lengkap dengan tidak lengkap akan
mempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologi.
c. Living Arrangement
Keadaan pasangan, tinggal sendiri, bersama istri atau suami, tinggal
bersama anak atau keluarga lainnya.

5. Perubahan yang Terjadi Pada Lansia


Banyak perubahan yang terjadi pada lansia. Adapun perubahan yang
terjadi pada lanjut usia, yaitu:
a. Perubahan fisik
1) Kardiovaskuler: kemampuan memompa darah menurun, elastisitsas
pembuluh darah menurun, dan meningkatnya resistensi pembuluh
darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.
2) Respirasi: elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat
sehingga menarik napas lebih berat, dan terjadi penyempitan
bronkus.
3) Muskuloskeletal: cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh
(osteoporosis), bungkuk (kifosis), serta persendian membesar dan
menjadi kaku.
4) Gastrointestinal: esophagus membesar, asam lambung menurun,
lapar menurun, dan peristaltik menurun.
5) Persyarafan: syaraf panca indra mengecil sehingga fungsinya
menurun serta lambat dalam merespon.
6) Vesika urinaria: otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan
retensi urin.
7) Kulit: keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Elastisitas
menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih dan kelenjar
keringat menurun (Nugroho, 2008).

7
b. Perubahan sosial
Perubahan fisik yang dialami lansia seperti berkurangnya fungsi
indera pendengaran, pengelihatan, gerak fisik dan sebagainya
menyebabkan gangguan fungsional, misalnya badannya membungkuk,
pendengaran sangat berkurang, pengelihatan kabur sehingga sering
menimbulkan keterasingan. Keterasingan ini akan menyebabkan lansia
semakin depresi, lansia akan menolak untuk berkomunikasi dengan
orang lain (Darmajo, 2009).
c. Perubahan psikologis
Pada lansia pada umumnya juga akan mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi: proses belajar,
persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia semakin lambat. Sementara,
fungsi kognitif meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan
kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi menurun, yang
berakibat lansia menjadi kurang cekatan (Nugroho, 2008).

6. Perubahan Sistem Pendengaran Pada Lansia


Perubahan sistem pendengaran yang dapat terjadi pada lansia, yaitu:
a. Gangguan pendengaran karena hilangnya daya pendengaran pada
telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada yang tinggi,
suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia di
atas 65 tahun.
b. Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
c. Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan/stress.
d. Tinitus (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau
rendah, bisa terus-menerus atau intermiten).
e. Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang atau
berputar).

8
7. Masalah Kesehatan yang Terjadi Pada Lansia
Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia akibat perubahan
sistem, antara lain:
a. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pernafasan, antara lain:
penyakit paru obstruksi kronik, tuberkulosis, influenza, dan pneumonia.
b. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem kardiovaskuler, antara
lain: hipertensi, penyakit jantung koroner, dan cardiac heart failure.
c. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem neurologi, seperti:
cerebro vaskuler accident.
d. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem musculoskeletal, antara
lain: faktur, osteoarthritis, rheumatoid arthritis, gout artritis, dan
osteporosis.
e. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem endokrin, seperti:
diabetes mellitus.
f. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem sensori, antara lain:
katarak, glaukoma, dan presbikusis.
g. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem pencernaan, antara lain:
ginggivitis atau periodontis, gastritis, hemoroid, dan konstipasi.
h. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem reproduksi dan
perkemihan, antara lain: menoupause, BPH, dan inkontinensia urine.
i. Lansia dengan masalah kesehatan pada sistem integumen, antara lain:
dermatitis seborik, pruritus, candidiasis, herpes zoster, ulkus ekstremitas
bawah, dan pressure ulcers.
j. Lansia dengan masalah kesehatan jiwa, seperti: demensia.

B. Konsep Penyakit
1. Pengertian Presbikusis
Gangguan pendengaran adalah penurunan fungsi termasuk peningkatan
threshold dan penurunan diskriminasi percakapan (Moller, 2006).
Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan secara sebagian ataupun
keseluruhan untuk mendengarkan suara pada salah satu maupun kedua
telinga (Susanto, 2010).

9
Gangguan pendengaran pada lansia sering juga disebut dengan
presbikusis. Presbikusis merupakan gangguan pendengaran sensorineural
yang terjadi pada orang-orang usia lanjut. Gangguan pendengaran ini
ditandai dengan hilangnya kemampuan telinga dalam mendengar suara-
suara berfrekuensi tinggi yang biasanya terjadi secara bilateral atau
mengenai kedua buah telinga. Presbikusis menjadi masalah penting di
lingkungan sosial. Akibat dari gangguan ini, biasanya para lansia
memutuskan untuk mengurangi penggunaan telepon yang akhirnya
menyebabkan menurunkan kemampuan bersosialisasi dengan orang lain
serta semakin menurunkan fungsi pengindraan (Roland, 2014).
Presbikusis adalah ketulian setelah beberapa waktu akibat mekanisme
penuaan pada telinga dalam (Boies, 2014). Presbikusis adalah peristiwa
berkurangnya pendenganran tak terjelaskan, progresif lambat, simetris,
dominan pada frekuensi tinggi yang disebabkan karena proses penuaan
(Lalwani, 2008). Presbikusis adalah suatu kondisi yang sering terkait
dengan degenerasi selsel rambut di koklea, dan gangguan pendengaran
terkait usia yang pada awalnya dianggap disebabkan oleh karena perubahan
morphologic pada sel-sel rambut koklea (Moller, 2006).

2. Etiologi Presbikusis
Walaupun penyebab pasti presbikusis masih belum diketahui secara
pasti, namun telah diterima secara umum bahwa penyebab presbikusis
adalah multifaktorial. Berikut beberapa penyebab yang dipercaya dapat
menyebabkan terjadinya presbikusis:
a. Aterosklerosis
Pada keadaan arterosklerosis, dapat terjadi berkurangnya sampai
hilangnya perfusi serta oksigenasi ke koklea. Keadaan hipoperfusi ini
menyebabkan terbentuknya metabolit berupa reactive oxygen dan juga
radikal bebas. Akibat dari penumpukan oksidan ini, menyebabkan
terjadinya kerusakan pada struktur telinga dalam serta DNA
mitokondria yang berada pada sel-sel di telinga dalam. Akibat dari
kerusakankerusakan inilah berkembang presbikusis (Roland, 2014).

10
b. Diet dan metabolisme
Diabetes diketahui dapat mempercepat proses pembentukan
aterosklerosis yang selanjutnya akan menyebabkan gangguan perfusi
serta oksigenasi dari koklea. Pada keadaan diabetes juga didapati
proliferasi dan hipertropi dari tunika intima di endotel yang juga
nantinya akan menyebabkan gangguan perfusi ke koklea. Penelitian
yang dilakukan oleh Le dan Keithley mendemonstrasikan bahwa diet
tinggi antioksidan seperti vitamin C dan E dapat mengurangi
progresifitas presbikusis pada tikus (Roland, 2014).
c. Paparan terhadap bising
Dari penelitian yang dilakukan menggunakan model dari tikus yang
memiliki struktur telinga menyerupai manusia, didapati bahwa paparan
terhadap bising mampu meningkatkan kejadian presbikusis. Paparan
bising menyebabkan rusaknya sel-sel di telinga termasuk di dalamnya
sel yang berasal dari spiral ligament, sel fibrosit tipe IV. Dari penelitian
sebelumnya didapati bahwa kerentanan terhadap kerusakan fibrosit tipe
IV dapat menyebabkan perubahan ambang batas pendengaran yang
bermakna. Gambaran histopatologi pada tikus yang terpapar bising
menunjukkan bahwa terjadi hilangnya sel-sel spiral ganglion, yang
merupakan badan sel dari saraf aferen di koklea, yang bersinaps dengan
sel-sel rambut dalam (inner hair cells). Intinya, paparan bising pada usia
muda dapat meningkatkan risiko terjadinya presbikusis seiring dengan
bertambahnya usia seseorang (Kujawa dan Liberman, 2006).
d. Genetik
Disebut-sebut bahwa genetik berperan penting dalam menentukan
kerentanan seseorang terhadap faktor-faktor lingkungan seperti bising,
obat-obat ototoksik dan bahan-bahan kimia, serta stress. Pada penelitian
lain didapati bahwa terdapat beberapa gen yang mengalami mutasi pada
penderita presbikusis, yaitu gen GJB2 dan gen SLC26A4. Selain itu,
didapati bahwa orang-orang yang mengalami dua mild mutations pada
gen GJB2 akan terjadi peningkatan risiko berkembangnya presbikusis
dini (Roland, 2014 dan Rodriguez-Paris, dkk, 2008).

11
3. Klasifikasi Presbikusis
American National Standards Institute membagi gangguan pendengaran
berdasarkan ambang batas pendengaran seseorang, seperti berikut (Shah,
2013):
a. Slight hearing loss : 16-25 dB
b. Mild hearing loss : 26-40 dB
c. Moderate hearing loss : 41-55 dB
d. Moderately Severe hearing loss : 56-70 dB
e. Severe hearing loss : 71-90 dB
f. Profound : >90 dB
Menurut Boies (2014), terdapat empat tipe patologik yang telah
diklasifikasikan Schuknecht, yaitu:
a. Pada presbikusis sensorik, yang mula-mula hilang adalah sel-sel rambut
pada gelang basal koklea dan menyebabkan ketulian nada tinggi,
kemudian akan menyebabkan gangguan saraf-saraf koklea.
b. Pada neuropresbikusis, yang menjadi gangguan primer adalah hilangnya
saraf-saraf koklea dan sel-sel rambut relatif dipertahankan. Pada kasus
ini, diskriminasi kata-kata relatif lebih terganggu dengan hanya sedikit
gangguan sel rambut.
c. Pada presbikusis stria terjadi degenerasi dan penciutan stria vaskularis,
diskriminasi kata-kata masih bagus walaupun proses degenerasi
menyebabkan ketulian sedang hingga berat yang sifatnya relatif datar.
Stria vaskularis merupakan daerah metabolisme aktif pada koklea yang
bertanggung jawab terhadap sekresi endolymph dan mempertahankan
gradien ion sepanjang organ corti (Lalwani, 2008).
d. Pada ketulian koklear konduktif, tidak ada ditemukan kerusakan pada
sel rambut, saraf, dan stria vaskularis. Kerusakan diduga berkaitan
dengan keterbatasan gerak basilaris membrane.

12
4. Faktor Risiko Presbikusis
Menurut Sousa, dkk (2009), terdapat beberapa faktor risiko yang dapat
menyebabkan terjadinya presbikusis, yaitu:
a. Usia
b. Jenis kelamin
c. Diabetes melitus
d. Gangguan pendengaran yang diturunkan
e. Penyakit-penyakit jantung
f. Merokok
g. Konsumsi alkohol

5. Tanda dan Gejala Presbikusis


Tanda utama dari presbikusis adalah terjadinya penurunan sensitivitas
ambang batas pendengaran pada suara berfrekuensi tinggi. Perubahan ini
dapat terjadi pada dewasa muda, tetapi terutama secara jelas terjadi pada
orang-orang dengan usia 60 tahun ke atas. Seiring bertambahnya usia,
penurunan sensitivitas ini akan mencapai ke suara dengan frekuensi yang
rendah pula. Pada kebanyakan kasus presbikusis dijumpai terjadinya
kehilangan sel rambut luar (outer hair cell) pada koklea bagian basal
(Soesilorini, 2011).

13
6. Pathway Presbikusis

Faktor Usia

Degenerasi tulang-tulang
pendengaran bagian dalam

Hilangnya sel-sel rambut


pada basal kokhlea

Gangguan neuron-neuron
kokhlea

Fungsi pendengaran
menurun

Tidak mau mengikuti


Pendengaran terhadap kata- Menarik diri
kegiatan di rumah
kata/rangsang suara menurun dari lingkungan
maupun masyarakat

Gangguan Harga Diri


Lebih banyak
Komunikasi Herbal Rendah
Istirahat

Kurang Aktivitas

14
7. Pemeriksaan Diagnostik Presbikusis
Penegakan diagnosis gangguan pendengaran pada lanjut usia dapat
dilakukan dengan beberapa pemeriksaan, seperti:
a. Otoskopik
Pada pemeriksaan otoskopik akan dijumpai penampakan membran
timpani yang suram, serta kekakuan atau berkurangnya mobilitas dari
membran timpani pada tuli konduktif. Tekniknya dengan cara pasien
duduk dengan posisi badan condong ke depan dan kepala lebih tinggi
sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga
dan membran timpani. Atur lampu kepala supaya fokus dan tidak
mengganggu pergerakan, kira kira 20-30 cm di depan dada pemeriksa
dengan sudut kira kira 60 derajat, lingkaran focus dari lampu, diameter
2-3 cm. Untuk memeriksa telinga, harus diingat bahwa liang telinga
tidak lurus. Untuk meluruskannya maka daun telinga ditarik ke atas
belakang, dan tragus ditarik ke depan. Pada anak, daun telinga ditarik ke
bawah. Dengan demikian liang telinga dan membran timpani akan
tampak lebih jelas. Liang telinga dikatakan lapang apabila pada
pemeriksaan dengan lampu kepala tampak membran timpani secara
keseluruhan (pinggir dan reflex cahaya) Seringkali terdapat banyak
rambut di liang telinga, atau liang telinga sempit (tak tampak
keseluruhan membran timpani) sehingga perlu dipakai corong telinga.
Pada anak oleh karena liang telinganya sempit lebih baik dipakai
corong telinga. Kalau ada serumen, bersihkan dengan cara ekstraksi
apabila serumen padat, irigasi apabila tidak terdapat komplikasi irigasi
atau di suction bila serumen cair. Untuk pemeriksaan detail membran
timpani spt perforasi, hiperemis atau bulging dan retraksi, dipergunakan
otoskop. Otoskop dipegang seperti memegang pensil. Dipegang dengan
tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan dan dengan tangan kiri
bila memeriksa telinga kiri. Supaya posisi otoskop ini stabil maka jari
kelingking tangan yang memegang otoskop ditekankan pada pipi pasien.

15
Untuk melihat gerakan membran timpani digunakan otoskop pneumatic
(Soetirto, Hendarmin, dan Bashiruddin, 2007).
b. Tes Penala
Pemeriksaan ini merupakan tes kualitatif. Penala terdiri dari 1 set (5
buah) dengan frekuensi 128 Hz, 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz dan 2048 Hz.
Pada umumnya dipakai 3 macam penala : 512 Hz, 1024 Hz, 2048 Hz.
Jika akan memakai hanya 1 penala, digunakan 512 Hz.
1) Tes Rinne, ialah tes untuk membandingkan hantaran melalui udara
dan hantaran melalui tulang pada telinga yang di periksa. Cara
pemeriksaannya: penala digetarkan, tangkainya diletakkan di
prosesus mastoid, setelah tidak terdengar penala dipegang di depan
telinga kira-kira 2 cm. Bila masih terdengar disebut Rinne positif
(+), bila tidak terdengar disebut Rinne negatif (-).
2) Tes Weber, ialah tes pendengaran untuk membandingkan hantaran
tulang telinga kiri dengan telinga kanan. Cara pemeriksaannya:
penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan di garis tengah
kepala (di verteks, dahi, pangkal hidung, di tengah-tengah gigi seri
atau di dagu). Apabila bunyi penala terdengar lebih keras pada salah
satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak
dapat dibedakan ke arah telinga mana bunyi terdengar lebih keras
disebut Weber tidak ada lateralisasi.
3) Tes Schwabach, ialah membandingkan hantaran tulang orang yang
diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Cara
pemeriksaannya: penala digetarkan, tangkai penala diletakkan pada
prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian
tangkai penala segera dipindahkan pada prosesus mastoideus telinga
pemeriksa yang pendengarannya normal. Bila pemeriksa masih
dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila pemeriksa
tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya
yaitu penala diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksa lebih
dulu. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut Schwabach

16
memanjang dan bila pasien dan pemeriksa kira-kira sama-sama
mendengarnya disebut dengan Schwabach sama dengan pemeriksa.
Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Diagnosis
Positif Tidak ada Sama dengan Normal
lateralisasi Pemeriksa
Negatif Lateralisasi ke Memanjang Tuli konduktif
telinga yang sakit
Positif Lateralisasi ke Memendek Tuli Sensorineural
telinga yang sehat
Catatan : Pada tuli konduktif <30 dB, Rinne bisa masih positif.
(Soetirto, Hendarmin, dan Bashiruddin, 2007)
c. Audiometri Nada Murni
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan audiometer dan hasil
pencatatannya disebut sebagai audiogram. Sebagai sumber suara
digunakan nada murni (pure tone) yaitu bunyi yang hanya terdiri dari 1
frekuensi. Pemeriksaan dilakukan pada ruang kedap suara, dengan
menilai hantaran suara melalui udara (air conduction) melalui
headphone pada frekuensi 125, 250, 5000, 1000, 2000, 4000 dan 8000
Hz. Hantaran suara melalui tulang (bone conduction) diperiksa dengan
memasang bone vibrator pada prosesus mastoid yang dilakukan pada
frekuensi 500, 1000, 2000, 4000 Hz. Intensitas yang biasa digunakan
antara 10100 dB (masing-masing dengan kelipatan 10), secara
bergantian pada kedua telinga. Suara dengan intensitas terendah yang
dapat didengar dicatat pada audiogram untuk memperoleh informasi
tentang jenis dan derajat ketulian.
d. Audiometri Tutur (Speech Audiometry)
Pada tes ini di pakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus (suku
kata).
Monosilabus = satu suku kata
Bisilabus = dua suku kata
Kata-kata ini disusun dalam daftar yang disebut : Phonetically balance
word LBT (PB, LIST). Pasien diminta untuk mengulangi kata-kata yang

17
didengar melalui kaset tape recorder. Pada tuli perseptif koklea, pasien
sulit untuk membedakan bunyi S, R, N, C, H, CH, sedangkan pada tuli
retrokoklea lebih sulit lagi. Misalnya pada tuli perseptif koklea, kata
kadar didengarnya kasar, sedangkan kata pasar didengarnya
padar.
Apabila kata yang betul, speech discrimination score:
1) 90-100% : berarti tuli pendengaran normal
2) 75-90% : tuli ringan
3) 60-75% : tuli sedang
4) 50-60% : kesukaran mengikuti pembicaraan sehari-hari
5) <50% : tuli berat
Guna pemeriksaan ini ialah untuk menilai kemampuan pasien dalam
pembicaraan sehari-hari, dan menilai untuk pemberian alat bantu dengar
(hearing aid).
Istilah:
1) SRT (speech reception test) = kemampuan untuk mengulangi kata-
kata yang benar sebanyak 50 %, biasanya 20-30 dB di atas ambang
pendengaran.
2) SDS (speech discrimination scor) = skor tertinggi yang dapat
dicapai oleh seseorang pada intensitas tertentu (Soetirto, Hendarmin,
dan Bashiruddin, 2007).

8. Penatalaksanaan Presbikusis
Menurut Lalwani (2008), penatalaksanaan pada presbikusis bisa berupa
terapi:
a. Hearing Aids (Alat Bantu Dengar)
Pada pasien usia lanjut, penurunan fungsi untuk diskriminasi suara dan
pemahaman kata-kata pada lingkungan bising dapat diturunkan dengan
terapi pendengaran, biasanya melalui proses amplifikasi. Alat bantu
dengar sekarang telah disempurnakan secara fisik dan dapat dipasang
seutuhnya dalam ear canal. Untuk memaksimalkan keuntungan
pendengaran, alat bantu dengar sebaiknya dipilih secara teliti. Akhir-

18
akhir ini alat bantu dengar digital sudah tersedia dan menjanjikan
perbaikan yang bermakna pada ketajaman percakapan, terutama pada
kondisi mendengar yang menyulitkan.
b. Assistive devices
Selain hearing aids banyak alat bantu lain yang dapat membantu
individu atau kelompok untuk dapat mendengar televisi, radio, dan
percakapan pada handphone. Pada televisi dapat digunakan headphone
yang dimasukkan pada lubang pendengaran pada televisi, listening loop
dengan telecoil pada hearing aid, perangkat infrared tanpa kabel yang
mengirim signal televisi langsung ke pendengar melalui receiver.
Telephone amplifier and devices dapat memperbesar suara dari signal
telephone. Sekarang terdapat perangkat handset amplifiers yang dapat
dihubungkan langsung pada dasar telephone atau earphone.
c. Cochlear implant adalah suatu alat elektronik yang ditanam melalui
operasi untuk menstimulasi saraf pendengaran, alat ini memegang peran
penting pada auditoric rehabilitation pasien usia lanjut dengan
penurunan pendengaran sensorineural berat.

9. Komplikasi Presbikusis
Menurut Clinic Medical (2014), kehilangan pendengaran dapat
memiliki dampak yang besar pada kualitas hidup penderita prebiskusis,
terutama mereka yang sudah lanjut usia. Masalah seperti ini sering ditemui
pada penderita yang belum mencari pengobatan atau tidak pernah berobat.
Komplikasi yang mungkin timbul di antaranya adalah:
a. Gelisah
b. Salah sangka (merasa orang lain menjadi marah pada kita karena kita
kurang mendengarkan pembicaraan mereka)
c. Depresi

19
10. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status perkawinan, pekerjaan,
alamat, tanggal masuk rumah sakit, golongan darah dan lain sebagainya.
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Klien susah mendengar pesan atau rangsangan suara.
2) Riwayat kesehatan sekarang
a. Saat sekarang keluarga klien mengatakan susah mendengar
pesan atau rangsangan berupa suara.
b. Ketika berbicara dengan orang lain klien tidak mengerti
terhadap pembicaraan.
c. Untuk lebih mengerti, klien sering meminta untuk mengulangi
pembicaraan.
d. Keluarga klien mengatakan lebih senang menyendiri dan dengan
kesendiriannya itu klien mengekspresikan kesepian dan keluarga
klien mengatakan bahwa klien sering menarik diri dari
lingkungan dan tidak mau tampil bersama anggota keluarga.
e. Untuk mengisi kebosanannya, keluarga klien mengatakan
bahwa klien lebih banyak tidur dan tidak mau melakukan
aktivitas apapun.
f. Komunikasi dengan klien sebagian besar berjalan melalui pesan-
pesan tertulis.
3) Riwayat penyakit dahulu
a) Dikaji dari keluarga klien, apakah klien mengalami penyakit
akut maupun kronis.
b) Sejak kapan gangguan pendengaran mulai dirasakan klien
biasanya prebikusis sering muncul pada umur 60 tahun keatas,
tapi hal tersebut belum terlalu mengganggu bagi klien.
c) Apakah klien pernah mengalami cedera kepala dan
mengalami alergi terhadap berbagai makanan dan minuman.

20
Bagaimana gaya hidup klien, apakah klien seorang perokok
berat atau tidak.
d) Apakah klien sering terpajan dengan suara bising.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit pada
sistem pendengaran, apakah ada kelurga yang menderita DM.
5) Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi
(1) Kesimetrisan daun telinga (simetris kiri dan kanan).
(2) Posisi telinga normal yaitu sebanding dengan titik puncak.
(3) Penempatan pada lipatan luar mata (masih terdapat tampak
atau tidak).
(4) Terdapat pembengkakan pada auditorius eksternal atau
tidak.
b) Palpasi
(1) Apakah terdapat nyeri raba?
(2) Apakah ada pembengkakan?
6) Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan otoskopi
Menggunakan alat otoskop untuk memeriksa meatus akustikus
eksternus dan membran timpani dengan cara inspeksi.
Hasil:
(1) Serumen berwarna kuning, konsistensi kental.
(2) Dinding liang telinga berwarna merah muda.
b) Tes ketajaman pendengaran
(1) Tes penyaringan sederhana
Hasil:
(a) Biasanya klien tidak mendengar secara jelas angka-
angka yang disebutkan.
(b) Klien tidak mendengar secara jelas detak jarum jam pada
jarak 12 inchi.

21
(2) Uji rinne
Hasil: biasanya klien tidak mendengarkan adanya getaran
garpu tala dan tidak jelas mendengar adanya bunyi dan saat
bunyi menghilang.

11. Diagnosa Keperawatan


a. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang
pendengaran bagian dalam.
b. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.
c. Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dengan lingkungan.

12. Intervensi Keperawatan


a. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang
pendengaran bagian dalam.
Tujuan: komunikasi verbal klien berjalan dengan baik.
Kriteria Hasil:
1) Menerima pesan melalui metode alternative.
2) Mengerti apa yang diungkapkan.
3) Memperlihatkan suatu peningkatan kemampuan untuk
berkomunikasi.
4) Menggunakan alat bantu dengar dengan cara yang tepat.
Intervensi:
1) Kaji tingkat kemampuan klien dalam penerimaan pesan.
2) Periksa apakah ada serumen yang mengganggu pendengaran.
3) Bicara dengan pelan dan jelas.
4) Gunakan alat tulis pada waktu menyampaikan pesan.
5) Beri dan ajarkan klien pada penggunaan alat bantu dengar.
6) Pastikan alat bantu dengar dapat berfungsi dengan baik.
7) Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan telinga.

22
b. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.
Tujuan: klien dapat menerima keadaan dirinya.
Kriteria Hasil:
1) Mengenal perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri.
2) Berhubungan sosial dengan orang lain.
3) Mendapat dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien
untuk berhubungan dengan orang lain.
4) Membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Intervensi:
1) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-
tandanya.
2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan
penyebab klien tidak mau bergaul atau menarik diri.
3) Diskusi bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda
serta penyebab yang mungkin.
4) Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan.
5) Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan dan kerugian dari
perilaku menarik diri.
6) Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain.
7) Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai klien.
8) Bina hubungan saling percaya dengan klien.
9) Anjurkan anggota keluarga untuk secar rutin dan bergantian
mengunjungi klien.
10) Beri reinforcement positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh
keluarga.
11) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip
hubungan terpeutik.

23
c. Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dengan lingkungan.
Tujuan: klien dapat melakukan aktivitas tanpa kesulitan.
Kriteria Hasil:
1) Menceritakan perasaan-perasaan bosan.
2) Melaporkan adanya peningkatan dalam aktivitas yang
menyenangkan.
3) Menceritakan metode koping terhadap perasaan marah atau depresi
yang disebabkan oleh kebosanan.
Intervensi:
1) Beri motivasi untuk dapat saling berbagi perasaan dan pengalaman.
2) Bantu klien untuk mengatasi perasaan marah dari berduka.
3) Variasikan rutinitas sehari-hari.
4) Libatkkan individu dalam merencanakan rutinitas sehari-hari.
5) Rencanakan suatu aktivitas sehari-hari.
6) Beri alat bantu dengar dalam melakukan aktivitas.

24
BAB III
TINJAUAN KASUS
Kasus :
Oma M (74 thn) berasal dari Jawa Barat yang saat ini tinggal di Panti Werdha
Tresna Budi Mulia 1 sejak 5 tahun yang lalu. Oma M tidak pernah mengenyam
pendidikan formal, beragama Islam, sejak usia 53 tahun ditinggal suami
(meninggal). Oma M memiliki 2 orang anak yang saat ini tinggal di Singapura. Oma
M dan anaknya sudah tidak pernah berkomunikasi sejak 10 tahun yang lalu. Karena
di rumah tinggal sendiri dan tidak punya penghasilan maka dibawa ke panti oleh
ketua RT setempat. Penampilan umum Oma M terlihat bersih, rapi, bertubuh kurus,
dan ramah.
Oma M semasa muda pernah bekerja di instansi swasta. Saat ini sumber
ekonomi hanya pemberian pengunjung panti. Klien tinggal di Wisma Dahlia, 1
kamar berdua dengan Oma Darajatun. Kondisi kamar cukup bersih, peralatan
makan tertata rapi di atas meja, tidak ada pakaian kotor yang menumpuk atau
tergantung, dan kondisi tempat tidur cukup bersih. Pertukaran udara dan cahaya
matahari cukup bersih. Tingkat kenyamanan dan privacy cukup terjamin. Klien
juga punya tongkat 1 buah, tapi jarang digunakan. Klien mengaku ia lebih senang
menyendiri dan menarik diri dari lingkungan. Klien juga mengatakan tidak mau
berkumpul bersama teman-temannya atau sekedar mengobrol. Klien mengatakan ia
sulit untuk mengikuti perintah untuk melakukan aktivitas di panti. Klien
mengatakan tidak mau mengikuti kegiatan sehari-hari di panti. Di setiap wisma
terdapat seorang perawat lulusan. Oma M sering melakukan puasa senin kamis dan
rajin sholat 5 waktu yang dilaksanakan di mushola.
Klien mengatakan pendengarannya mulai menurun sejak 8 tahun yang lalu.
Klien mengatakan susah menerima atau mendengar apa yang sedang dibicarakan
oleh orang lain kepadanya. Klien mengeluh susah mendengar rangsang suara. Klien
mengeluh tidak mengerti terhadap pembicaraan orang, sehingga klien mudah
merasa tersinggung dan curiga.
Berdasarkan indeks KATZS, Oma M mampu pemenuhan kebutuhan ADL
secara mandiri. Hasil observasi klien mampu memenuhi kebutuhan makan,
kontinen, berpindah, ke kamar kecil, dan berpakaian secara mandiri. Kebutuhan

25
istirahat tidur klien tidak terganggu. Oma M mengatakan sakit yang dialaminya
adalah wajar karena sudah tua.
Hasil pemeriksaan fisik diperoleh TB 157 cm, BB 52 kg, keadaan umum baik,
klien tampak bersih. Skala koma glasgow: 15, N: 76x/mnt, S: 36,8C, RR: 18x/mnt,
TD: 130/80 mmHg. Klien hanya mengkonsumsi makanan yang disediakan dari
dapur umum panti. Klien mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang disediakan
pendamping wisma tanpa keluhan mual. Klien mengatakan tinggal di panti
membuatnya makan teratur 3x/hari dengan snack 2x/hari dan tambahan susu, teh
atau kopi sehingga klien merasakan badannya lebih gemuk semenjak tinggal di
panti. Keadaan gigi klien: sudah ompong semuanya, klien mengatakan tidak ada
kesulitan menelan dan mengunyah makanan. Kemampuan pendengaran agak
menurun sehingga lawan bicara harus berbicara agak keras supaya klien
mendengar.
Saat dilakukan pengkajian, klien lambat dalam berespon terhadap rangsang
suara. Klien terlihat bingung jika diajak berbicara. Klien juga selalu meminta untuk
mengulangi pembicaraan yang orang lain katakan. Komunikasi sebagian besar
berjalan melalui pesan-pesan tertulis. Klien lebih suka duduk menyendiri, sehingga
klien dapat mengekspresikan perasaan kesepiannya, perasaan sedihnya, dan terlihat
murung. Klien selalu menarik diri dari lingkungan disekitarnya. Klien lebih banyak
tidur. Klien juga tampak terlihat gelisah atau bosan. Sebagian besar waktu klien
digunakan untuk istirahat. Klien tidak mendengarkan adanya getaran garpu tala
serta tidak jelas mendengar adanya bunyi dan saat bunyi menghilang. Klien juga
tidak komunikatif saat dilakukan pengkajian oleh perawat.
Hasil pengkajian Short Potable Mental Status Questionaire (SPMSQ) dengan
skor: 10, Mini Mental State Exam (MMSE) dengan skor: 25, Inventaris Depresi
Beck dengan skor: 3, Apgar Keluarga skor: 8.

A. Pengkajian Keperawatan
1. Data Biografi
Nama : Oma M
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat &tanggal lahir : Bandung, 21 November 1943

26
Pendidikan terakhir : Tidak bersekolah
Agama : Islam
Status perkawinan : Janda
Tinggi badan/ berat badan : 157cm/ 52 kg
Penampilan umum : Rapih, bersih, bertubuh kurus, dan ramah
Alamat : Panti Werdha Tresna Budi Mulia 1
Orang yang mudah dihubungi : Perawat panti
Hubungan dengan klien : Penjaga klien
Alamat & telepon : Panti Werdha Tresna Budi Mulia 1
Diagnosa Medis : Gangguan pendengaran
(Presbikusis)

2. Riwayat Keluarga
Genogram :

Keterangan :
= meninggal = perempuan masih hidup
= hubungan perkawinan = laki-laki masih hidup
= pasien

3. Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan saat ini: klien tidak memiliki perkerjaan
Pekerjaan sebelumnya : semasa muda klien pernah bekerja sebagai
karyawan di instansi swasta
Sumber-sumber pendapatan: saat ini sumber ekonomi klien hanya dari
pemberian pengunjung panti

27
Kecukupan terhadap kebutuhan: kebutuhan klien sudah tercukupi karena
tersedia di panti

4. Riwayat Lingkungan Hidup


Type tempat tinggal: bangunan panti merupakan bangunan permanen, klien
tinggal di Wisma Dahlia
Jumlah kamar: terdapat 2 tempat tidur dalam 1 kamar
Kondisi tempat tinggal: kondisi kamar cukup bersih, peralatan makan tertata
rapi di atas meja, tidak ada pakaian kotor yang
menumpuk atau tergantung, kondisi tempat tidur
cukup bersih. Pertukaran udara dan cahaya
matahari cukup bersih
Jumlah orang yang tinggal dalam satu kamar: 2 orang
Derajat privasi: tingkat kenyamanan dan privacy cukup terjamin
Tetangga terdekat: Oma D
Alamat dan telepon: Panti Werdha Tresna Budi Mulia 1

5. Riwayat Rekreasi
Hobi/minat: klien mengaku ia lebih senang menyendiri dan menarik diri
dari lingkungan. Klien juga tidak mau berkumpul bersama
teman-temannya atau sekedar mengobrol
Keanggotaan dalam organisasi: tidak ada
Liburan/perjalanan: klien mengatakan ia sulit untuk mengikuti perintah
untuk melakukan aktivitas di panti dan klien tidak mau
mengikuti kegiatan sehari-hari di panti

6. Sistem Pendukung
Perawat/bidan/dokter/fisiotherapi: di setiap wisma terdapat seorang lulusan
perawat
Jarak dari panti : dekat
Rumah sakit : ada Jaraknya 2 km

28
Klinik : ada Jaraknya 0,2 km
Pelayanan kesehatan di panti: tidak ada
Makanan yang dihantarkan: klien hanya mengkonsumsi makanan yang
disediakan dari dapur umum panti. Klien
mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang
disediakan pendamping wisma tanpa keluhan
mual. Klien mengatakan tinggal di panti
membuatnya makan teratur 3x/hari dengan
snack 2x/hari dan tambahan susu, teh atau kopi
Perawatan sehari-hari yang dilakukan panti: tidak ada

7. Deskripsi Kekhususan
Kebiasaan ritual : klien rajin sholat 5 waktu
Yang lainnya : klien sering melakukan puasa Senin Kamis

8. Status Kesehatan
Status kesehatan umum selama 5 tahun yang lalu:
klien mengatakan pendengarannya mulai menurun sejak 8 tahun yang lalu
Keluhan utama: klien mengatakan susah menerima atau mendengar apa
yang sedang dibicarakan oleh orang lain kepadanya. Klien
mengeluh susah mendengar rangsang suara
a. Provokative/Paliative: -
a. Quality/Quantity: -
b. Region: -
c. Severity scale: -
d. Timming: -
Obat-obatan: -
Status imunisasi: -
Alergi (Obat-obatan/makanan/faktor lingkungan): klien tidak memiliki
alergi terhadap apapun
Penyakit yang diderita: klien mengatakan tidak menderita penyakit lain dan
klien merasa sehat-sehat saja

29
9. Aktivitas Hidup Sehari-hari
Bathing (mandi/personal hygiene) : A (mandiri)
Dressing (berpakaian) : A (mandiri)
Toileting (melakukan eliminasi) : A (mandiri)
Transfering (pergerakan) : A (mandiri)
Continence (kontrol thd eliminasi) : A (mandiri)
Feeding (makan) : A (mandiri)
Psikologis,
a. Persepsi klien: klien mengatakan sakit yang dialaminya adalah wajar
karena sudah tua
b. Konsep diri: -
c. Emosi: -
d. Adaptasi: -
e. Mekanisme pertahanan diri: -

10. Pemeriksaan Fisik (Tinjauan Sistem)


a. Keadaan umum : Baik
b. Tingkat kesadaran : Compos mentis
c. Skala koma glasgow : 15
d. Tanda-tanda vital : TD = 130/80 mmHg RR = 18x/menit
N = 76x/menit S = 36,8C
e. Sistem kardiovaskuler: irama jantung teratur, tidak ada kelainan bunyi
jantung, tidak ada sakit dada
f. Sistem pernafasan: jalan nafas bersih, tidak sesak, tidak menggunakan
otot bantu pernafasan, irama teratur, kedalaman
nafas dalam, tidak batuk, tidak ada sputum, tidak
ada suara nafas tambahan, tidak nyeri saat bernafas,
tidak menggunakan alat bantu nafas
g. Sistem integument: tugor kulit tidak elastis, temperature kulit hangat,
warna kulit pucat, keadaan kulit baik, tidak ada
kelainan kulit

30
h. Sistem perkemihan: tidak ada perubahan pola berkemih, warna BAK
kuning jernih, tidak ada distensi kandung kemih,
tidak ada keluhan sakit pinggang
i. Sistem musculoskeletal: tidak ada kesulitan dalam pergerakan, tidak
sakit pada tulang, sendi, atau kulit, tidak ada
fraktur, keadaan tonus otot baik
j. Sistem endokrin: tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, nafas tidak
berbau keton, tidak ada luka ganggren
k. Sistem immune: tidak ada gangguan hematologi, tidak ada perdarahan
l. Sistem gastrointestinal: ada karies gigi, tidak ada penggunaan gigi palsu,
tidak ada stomatitis, lidah tidak kotor, saliva
normal, tidak ada muntah, tidak ada nyeri
daerah perut, tidak ada diare, tidak konstipasi,
hepar teraba, abdomen lembek, keadaan gigi
klien sudah ompong semuanya, tidak ada
kesulitan menelan dan mengunyah makanan
m. Sistem reproduksi: tidak ada masalah pada bagian reproduksi
n. Sistem persyarafan: tidak ada keluhan sakit kepala, tidak ada tanda-
tanda peningkatan TIK, tidak ada gangguan sistem
persyarafan, reflek fisiologis dan patologis normal
o. Sistem penglihatan: posisi mata simetris, kelopak mata normal,
pergerakan bola mata normal, konjungtiva anemis,
kornea normal, sclera ikterik, pupil isokor, tidak
ada kelainan otot-otot mata, fungsi penglihatan
baik, tidak ada tanda-tanda radang, tidak memakai
kacamata, tidak memakai lensa kontak,
kemampuan melihat dalam jarak pandang 50
meter
p. Sistem pendengaran: daun telinga normal, kondisi telinga tengah
normal, tidak ada cairan dari telinga, tidak ada
perasaan penuh di telinga, tidak ada tinnitus,
kemampuan pendengaran agak menurun (kurang),

31
tidak ada gangguan keseimbangan, tidak memakai
alat bantu

11. Pemeriksaan Status Kognitif/Afektif/Sosial


a. Status kognitif/afektif
1) Short Potable Mental Status Questinare (SPMSQ) : 10
2) Mini Mental State Exam (MMSE) : 25
3) Inventaris Depresi Beck : 3
b. Status sosial
1) Apgar Keluarga : 8

12. Data Penunjang


Laboratorium : -
Radiologi :-
EKG :-
USG :-
CT-Scan :-

32
ANALISA DATA
NO DATA MASALAH INTERPRETASI
(SIGN/SYMPTOM) (PROBLEM) (ETIOLOGI)
1 Data Subjektif:
a. Klien mengatakan Hambatan Komunikasi Ketidakcukupan
pendengarannya mulai Verbal Stimuli
menurun sejak 8 tahun yang
lalu.
b. Klien mengatakan susah
menerima atau mendengar apa
yang sedang dibicarakan oleh
orang lain kepadanya.
c. Klien mengeluh susah
mendengar rangsang suara.
d. Klien mengeluh tidak mengerti
terhadap pembicaraan orang,
sehingga klien mudah merasa
tersinggung dan curiga.

Data Objektif:
a. Klien lambat dalam berespon
terhadap rangsang suara.
b. Klien terlihat bingung jika
diajak berbicara.
c. Klien juga selalu meminta
untuk mengulangi
pembicaraan yang orang lain
katakan.
d. Komunikasi sebagian besar
berjalan melalui pesan-pesan
tertulis.

33
e. Klien tidak mendengarkan
adanya getaran garpu tala serta
tidak jelas mendengar adanya
bunyi dan saat bunyi
menghilang.
f. Klien juga tidak komunikatif
saat dilakukan pengkajian oleh
perawat.
2 Data Subjektif:
a. Klien mengaku ia lebih senang Harga Diri Rendah Kurang Respek dari
menyendiri dan menarik diri Kronik Orang Lain
dari lingkungan.
b. Klien juga mengatakan tidak
mau berkumpul bersama
teman-temannya atau sekedar
mengobrol.

Data Objektif:
a. Klien lebih suka duduk
menyendiri, sehingga klien
dapat mengekspresikan
perasaan kesepiannya,
perasaan sedihnya, dan terlihat
murung.
b. Klien selalu menarik diri dari
lingkungan disekitarnya.
3 Data Subjektif:
a. Klien mengatakan ia sulit Hambatan Mobilitas Keengganan Memulai
untuk mengikuti perintah Fisik Pergerakan
untuk melakukan aktivitas di
panti.

34
b. Klien mengatakan tidak mau
mengikuti kegiatan sehari-hari
di panti.

Data Objektif:
a. Klien lebih banyak tidur.
b. Klien juga tampak terlihat
gelisah atau bosan.
c. Sebagian besar waktu klien
digunakan untuk istirahat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakcukupan stimuli.
2. Harga diri rendah kronik berhubungan dengan kurang respek dari orang
lain.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan memulai
pergerakan.

35
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa
NO Data Pengkajian NOC NIC
Keperawatan
1 Data Subjektif: Hambatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Peningkatan komunikasi: kurang
a. Klien mengatakan komunikasi verbal selama 3x24 jam diharapkan hambatan pendengaran
pendengarannya mulai berhubungan komunikasi verbal klien dapat teratasi, a. Lakukan pengkajian dan skrinning rutin
menurun sejak 8 tahun yang dengan dengan kriteria hasil: terkait dengan fungsi pendengaran.
lalu. ketidakcukupan 1. Komunikasi, dipertahankan pada: b. Monitor akumulasi serumen yang
b. Klien mengatakan susah stimuli a. Menggunakan bahasa lisan, dari 1 berlebihan.
menerima atau mendengar (sangat terganggu) ditingkatkan ke-4 c. Instruksikan klien untuk tidak
apa yang sedang dibicarakan (sedikit terganggu). menggunakan benda asing yang lebih
oleh orang lain kepadanya. b. Menggunakan bahasa non verbal, kecildari ujung jari klien.
c. Klien mengeluh susah dari 3 (cukup terganggu) d. Catat dan dokumentasikan metode
mendengar rangsang suara. ditingkatkan ke-4 (sedikit komunikasi yang disukai klien.
d. Klien mengeluh tidak terganggu). e. Hindari lingkungan yang berisik saat
mengerti terhadap c. Mengenali pesan yang diterima, dari berkomunikasi.
pembicaraan orang, sehingga 1 (sangat terganggu) ditingkatkan f. Hindari berkomunikasi lebih dari 2-3
klien mudah merasa ke-4 (sedikit terganggu). kaki jauhnya dari klien.
tersinggung dan curiga.

36
Diagnosa
NO Data Pengkajian NOC NIC
Keperawatan
Data Objektif: 2. Memproses informasi, dipertahankan g. Hadapi klien secara langsung, bangun
pada: kontak mata, dan hindari berpaling di
a. Klien lambat dalam berespon
a. Memahami kalimat, dari 1 (sangat tengah kalimat.
terhadap rangsang suara.
terganggu) ditingkatkan ke-4 h. Sederhanakan bahasa dengan cara yang
b. Klien terlihat bingung jika
(sedikit terganggu). tepat.
diajak berbicara.
b. Memahami cerita, dari 1 (sangat 2. Perawatan telinga
c. Klien juga selalu meminta
terganggu) ditingkatkan ke-4 a. Monitor fungsi auditori.
untuk mengulangi
(sedikit terganggu). b. Monitor tanda dan gejala disfungsi yang
pembicaraan yang orang lain
3. Dukungan sosial, dipertahankan pada: dilaporkan klien.
katakan.
a. Informasi yang disediakan orang c. Lakukan tes pendengaran yang tepat.
d. Komunikasi sebagian besar
lain, dari 1 (tidak adekuat) d. Tekankan pada klien akan pentingnya tes
berjalan melalui pesan-pesan
ditingkatkan ke-3 (cukup adekuat). pendengaran secara tahunan.
tertulis.
b. Hubungan teman karib, dari 1 (tidak e. Instruksikan klien untuk membersihkan
e. Klien tidak mendengarkan
adekuat) ditingkatkan ke-3 (cukup telinga.
adanya getaran garpu tala
adekuat). 3. Rujukan
serta tidak jelas mendengar
c. Orang-orang yang dapat membantu a. Lakukan pemantauan untuk menentukan
adanya bunyi dan saat bunyi
sesuai kebutuhan, dari 1 (tidak kebutuhan rujukan.
menghilang.

37
Diagnosa
NO Data Pengkajian NOC NIC
Keperawatan
f. Klien juga tidak komunikatif adekuat) ditingkatkan ke-3 (cukup b. Evaluasi kemampuan mengakses
saat dilakukan pengkajian adekuat). kebutuhan lingkungan bagi klien di panti.
oleh perawat. c. Atur layanan perawatan panti yang tepat
sesuai kebutuhan.

38
D. IMPLEMENTASI & EVALUASI KEPERAWATAN
NO Hari/Tgl/Jam Diagnosa Implementasi Evaluasi TTD
Keperawatan Keperawatan Keperawatan
1 Selasa Hambatan komunikasi 1. Peningkatan komunikasi: kurang pendengaran S:
21 November 2017 verbal berhubungan a. Melakukan pengkajian dan skrinning rutin a. Klien mengatakan pendengarannya Kel. 4
08.30 dengan terkait dengan fungsi pendengaran. mulai menurun sejak 8 tahun yang
ketidakcukupan b. Memonitor akumulasi serumen yang lalu.
stimuli berlebihan. b. Klien mengatakan susah menerima
c. Menginstruksikan klien untuk tidak atau mendengar apa yang sedang
menggunakan benda asing yang lebih dibicarakan oleh orang lain
kecildari ujung jari klien. kepadanya.
d. Mencatat dan mendokumentasikan metode c. Klien mengeluh susah mendengar
komunikasi yang disukai klien. rangsang suara.
e. Menghindari lingkungan yang berisik saat d. Klien mengeluh tidak mengerti
berkomunikasi. terhadap pembicaraan orang,
f. Menghindari berkomunikasi lebih dari 2-3 sehingga klien mudah merasa
kaki jauhnya dari klien. tersinggung dan curiga.
g. Menghadapi klien secara langsung, bangun
kontak mata, dan hindari berpaling di
tengah kalimat.

39
h. Menyederhanakan bahasa dengan cara O:
yang tepat. a. Klien lambat dalam berespon
2. Perawatan telinga terhadap rangsang suara.
a. Memonitor fungsi auditori. b. Klien terlihat bingung jika diajak
b. Memonitor tanda dan gejala disfungsi yang berbicara.
dilaporkan klien. c. Klien juga selalu meminta untuk
c. Melakukan tes pendengaran yang tepat. mengulangi pembicaraan yang
d. Menekankan pada klien akan pentingnya orang lain katakan.
tes pendengaran secara tahunan. d. Komunikasi sebagian besar berjalan
e. Menginstruksikan klien untuk melalui pesan-pesan tertulis.
membersihkan telinga. e. Klien tidak mendengarkan adanya
3. Rujukan getaran garpu tala serta tidak jelas
a. Melakukan pemantauan untuk mendengar adanya bunyi dan saat
menentukan kebutuhan rujukan. bunyi menghilang.
b. Mengevaluasi kemampuan mengakses f. Klien juga tidak komunikatif saat
kebutuhan lingkungan bagi klien di panti. dilakukan pengkajian oleh perawat.
c. Mengatur layanan perawatan panti yang
tepat sesuai kebutuhan. A : Masalah belum teratasi

40
P: Intervensi dilanjutkan
1. Peningkatan komunikasi: kurang
pendengaran
a. Hindari lingkungan yang berisik
saat berkomunikasi.
b. Hindari berkomunikasi lebih
dari 2-3 kaki jauhnya dari klien.
c. Sederhanakan bahasa dengan
cara yang tepat.
2. Perawatan telinga
a. Lakukan tes pendengaran yang
tepat.
b. Tekankan pada klien akan
pentingnya tes pendengaran
secara tahunan.
c. Instruksikan klien untuk
membersihkan telinga.
3. Rujukan
a. Lakukan pemantauan untuk
menentukan kebutuhan rujukan.

41
b. Evaluasi kemampuan
mengakses kebutuhan
lingkungan bagi klien di panti.
c. Atur layanan perawatan panti
yang tepat sesuai kebutuhan.

42
INDEKS KATZ
Indeks Kemandirian Pada Aktivitas Kehidupan Sehari-hari

Nama Klien : Oma M Tanggal : 20 November 2017


Jenis Kelamin : P Umur : 74 tahun TB/ BB : 157 cm/ 52 kg
Agama : Islam Gol. Darah :-
Pendidikan : Tidak bersekolah
Alamat : Panti Werdha Tresna Budi Mulia 1

SKORE KRITERIA
A Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar
kecil, berpakaian dan mandi
B Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali satu
dari fungsi tersebut
C Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
dan satu fungsi tambahan
D Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian dan satu fungsi tambahan
E Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian, kekamar kecil dan satu fungsi tambahan
F Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian, kekamar kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan
G Ketergantungan pada ke enam fungsi tersebut
Lain-lain Tergantung pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat di
klasifikasikan sebagai C, D, E atau F

43
SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE (SPMSQ)
Penilaian ini untuk mengetahui fungsi intelektual Lansia

Nama Klien : Oma M Tanggal : 20 November 2017


Jenis Kelamin : P Umur : 74 tahun TB/ BB : 157 cm/ 52 kg
Agama : Islam Gol. Darah :-
Pendidikan : Tidak bersekolah
Alamat : Panti Werdha Tresna Budi Mulia 1
Nama Pewawancara : Kelompok 4

SKORE
No. PERTANYAAN JAWABAN
+ -
+ 1. Tanggal berapa hari ini ? 20 November 2017
+ 2. Hari apa sekarang ini ? Senin
+ 3. Apa nama tempat ini ? Panti werdha
+ 4. Berapa nomor telepon Anda ? Dimana alamat Jakarta
Anda ?(tanyakan bila tidak memiliki telpon)
+ 5. Berapa umur Anda ? 74 tahun
+ 6. Kapan Anda lahir ? Jakarta, 21 November 1943
+ 7. Siapa Presiden Indonesia sekarang ? Bapak Joko Widodo
+ 8. Siapa Presiden sebelumnya ? Bapak Susilo Bambang
Yudhoyono
+ 9. Siapa nama kecil ibu Anda ? Ny. R
+ 10. Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari 17, 14, 11, 8, 5, 2
setiap angka baru, semua secara menurun ?
10 Jumlah Kesalahan Total

KETERANGAN :
1. Kesalahan 0 2 Fungsi intelektual utuh
2. Kesalahan 3 4 Kerusakan intelektual Ringan
3. Kesalahan 5 7 Kerusakan intelektual Sedang
4. Kesalahan 8 10 Kerusakan intelektual Berat

Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan bila subyek hanya berpendidikan
SD
Bisa dimaklumi bila kurang dari 1 (satu) kesalahan bila subyek mempunyai
pendidikan lebih dari SD
Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan untuk subyek kulit hitam, dengan
menggunakan kriteria pendidikan yang lama (Dari Pfeiffer E (1975)

44
MINI MENTAL STATE EXAMINATION (MMSE)
Menguji Aspek-Kognitif dari Fungsi Mental

NILAI
PASIEN PERTANYAAN
Maksimum
ORIENTASI
5 5 (Tahun, Musim, Tgl, Hari, Bulan, apa sekarang ?
5 5 Dimanakita : (Negara Bagian, Wilayah, Kota) di RS, Lantai ?)
REGISTRASI
Nama 3 Obyek (1 detik untuk mengatakan masing-masing) tanyakan
3 3 klien ke 3 obyek setelah anda telah mengatakan. Beri 1 point untuk tiap
jawaban yang benar, kemudian ulangi sampai ia mempelajari ke 3 nya
jumlahkan percobaan & catat. Percobaan :
PERHATIAN & KALKULASI
5 5 Seri 7's ( 1 point tiap benar, berhenti setelah 5 jawaban, berganti eja
kata ke belakang) ( 7 kata dipilih eja dari belakang)
MENGINGAT
3 3 Minta untuk mengulangi ke 3 obyek diatas, beri 1 point untuk tiap
kebenaran.
BAHASA
9 4 Nama pensil & melihat (2 point)
Mengulang hal berikut tak ada jika ( dan atau tetapi) 1 point
30 25 Nilai Total

KETERANGAN :
Mengkaji Tingkat Kesadaran klien sepanjang Kontinum :
Composmentis, Apatis, Somnolens, Suporus, Coma.

Nilai Maksimum 30 (Nilai 21/kurang indikasi ada kerusakan kognitif perlu


penyelidikan lanjut)

45
INVENTARIS DEPRESI BECK
(Penilaian Tingkat Depresi Lansia dari Beck & Decle, 1972)

Nama Klien : Oma M Tanggal : 20 November 2017


Jenis Kelamin : P Umur : 74 tahun TB/ BB : 157 cm/ 52 kg
Agama : Islam Gol. Darah :-
Pendidikan : Tidak bersekolah
Alamat : Panti Werdha Tresna Budi Mulia 1
Nama Pewawancara : Kelompok 4

SKORE URAIAN
A KESEDIHAN
3 Saya sangat sedih/tidak bahagia, dimana saya tidak dapat
menghadapinya
2 Saya galau/sedih sepanjang waktu dan tidak dapat keluar darinya
1 Saya merasa sedih/galau
0 Saya tidak merasa sedih

B PESIMISME
3 Merasa masa depan adalah sia-sia & sesuatu tidak dapat membaik
2 Merasa tidak punya apa-apa & memandang ke masa depan
1 Merasa kecil hati tentang masa depan
0 Tidak begitu pesimis / kecil hati tentang masa depan

C RASA KEGAGALAN
3 Merasa benar-benar gagal sebagai orang tua (suami/istri)
2 Bila melihat kehidupan kebelakang, semua yang dapat saya lihat
kegagalan
1 Merasa telah gagal melebihi orang pada umumnya
0 Tidak merasa gagal

D KETIDAK PUASAN
3 Tidak puas dengan segalanya
2 Tidak lagi mendapat kepuasan dari apapun
1 Tidak menyukai cara yang saya gunakan
0 Tidak merasa tidak puas

46
E RASA BERSALAH
3 Merasa seolah sangat beuruk / tidak berharga
2 Merasa sangat bersalah
1 Merasa buruk/tidak berharga sebagai bagian dari waktu yang baik
0 Tidak merasa benar-benar bersalah

F TIDAK MENYUKAI DIRI SENDIRI


3 Saya benci diri saya sendiri
2 Saya muak dengan diri saya sendiri
1 Saya tidak suka dengan diri saya sendiri
0 Saya tidak merasa kecewa dengan diri sendiri

G MEMBAHAYAKAN DIRI SENDIRI


3 Saya akan bunuh diri jika saya punya kesempatan
2 Saya punya rencana pasti tentang tujuan bunuh diri
1 Saya merasa lebih baik mati
0 Saya tidak punya pikiran tentang membahayakan diri sendiri

H MENARIK DIRI DARI SOSIAL


3 Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain & tidak perduli
pada mereka semuanya
2 Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain & mempunyai
sedikit perasaan pada mereka
1 Saya kurang berminat pada orang lain dari pada sebelumnya
0 Saya tidak kehilangan minat pada orang lain

I KERAGU-RAGUAN
3 Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali
2 Saya mempunyai banyak kesulitan dalam membuat keputusan
1 Saya berusaha mengambil keputusan
0 Saya membuat keputusan yang baik

J PERUBAHAN GAMBARAN DIRI


3 Merasa bahwa saya jelek / tampak menjijikan
2 Merasa bahwa ada perubahan yang permanen dalam penampilan
1 Saya khawatir saya tampak tua / tidak menarik & ini membuat saya
tidak menarik
0 Tidak merasa bahwa saya tampak lebih buruk daripada sebelumnya

47
K KESULITAN KERJA
3 Tidak melakukan pekerjaan sama sekali
2 Telah mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk melakukan
sesuatu
1 Memerlukan upaya tambahan untuk memulai melakukan sesuatu
0 Saya dapat berkerja sebaik-baiknya

L KELETIHAN
3 Saya sangat lelah untuk melakukan sesuatu
2 Saya merasa lelah untuk melakukan sesuatu
1 Saya merasa lelah dari yang biasanya
0 Saya tidak merasa lebih lelah biasanya

M ANOREKSIA
3 Saya tidak lagi punya nafsu makan sama sekali
2 Nafsu makan saya sangat buruk sekarang
1 Nafsu makan saya tidak sebaik sebelumnya
0 Nafsu makan saya tidak buruk dari biasanya

KETERANGAN :
PENILAIAN
0-4 Depresi Tidak Ada / Minimal
5-7 Depresi Ringan
8 - 15 Depresi Sedang
16 + Depresi Berat

48
APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA
Alat Skrining Singkat Yang dapat digunakan untuk
mengkaji Fungsi Sosial lansia

Nama Klien : Oma M Tanggal : 20 November 2017


Jenis Kelamin : P Umur : 74 tahun TB/ BB : 157 cm/ 52 kg
Agama : Islam Gol. Darah :-
Pendidikan : Tidak bersekolah
Alamat : Panti Werdha Tresna Budi Mulia 1

NO. URAIAN FUNGSI SKORE

1. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (teman-


teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu ADAPTATION 2
menyusahkan saya.
2. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
membicarakan sesuatu dengan saya & mengungkapkan PARTNERSHIP 2
masalah dengan saya
3. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
menerima & mendukung keinginan saya untuk melakukan GROWTH 1
aktivitas / arah baru
4. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
mengekspresikan afek & berespons terhadap emosi-emosi AFFECTION 1
saya seperti marah, sedih/mencintai.
5. Saya puas dengan cara teman-teman saya & saya 2
menyediakan waktu bersama-sama. RESOLVE
PENILAIAN :
Pertanyaan-pertanyaan yang di Jawab :
Selalu : Skore 2 TOTAL 8
Kadang-kadang : Skore 1
Hampir Tidak Pernah : Skore 0

49
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengkajian Keperawatan

B. Diagnosa keperawatan

C. Intervensi keperawatan

50
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan

2. Saran

51