Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Muttaqin (2008) pada buku yang berjudul Asuhan keperawatan
perioperatif, Konsep, Proses dan Aplikasi dijelaskan bahwa fraktur cruris adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada
tulang fibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya.
Menurut Puspitasari (2012) dalam jurnal yang berjudul Asuhan Keperawatan
pada Tn. y dengan Close Fraktur Cruris (Tibia Fibula) 1/3 Distal Dextra di Ruang
Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta dijelaskan
bahwa fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur cruris (tibia- fibula)
merupakan salah satu kasus kegawatan, dimana pada awal akan memberikan implikasi
pada berbagai masalah keperawatan pada pasien, meliputi respon nyeri hebat akibat
diskontinuitas jaringan tulang, resiko tinggi perdarahan intra operasi, resiko tinggi infeksi
port de entree luka operasi dan resiko jatuh post operasi.
Menurut Reksoprodjo (2010) dalam buku yang berjudul Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah: Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dijelaskan bahwa
fraktur cruris dapat disebabkan karena trauma langsung, yaitu benturan pada tulang
secara langsung dan mengakibatkan terjadi fraktur di tempat itu, trauma tidak langsung,
yaitu titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan, fraktur patalogis
disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lain-lain,
degenerasi, yaitu terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri atau usia lanjut
dan spontan, yang terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti saat berolahraga.
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat pada tahun 2011-2012 terdapat 5,6 juta
orang meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita fraktur akibat kecelakaan lalu lintas.
Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terjadi diintegritas tulang. Penyebab terbanyak
Fraktur adalah kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas dan

Page | 1
sebagainya. Tetapi fraktur juga bisa terjadi akibat faktor lain seperti proses degeneratif
dan patologi (Depkes RI, 2005). Menurut Depkes RI 2011, dari sekian banyak kasus
fraktur di indonesia, fraktur pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan memiliki
prevalensi yang paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46,2%. Dari 45.987
orang dengan kasus fraktur ekstremitas bawah akibat kecelakaan, 19.629 orang
mengalami fraktur pada tulang femur, 14.027 orang mengalami fraktur cruris, 3.775
orang mengalami fraktur tibia, 970 orang mengalami fraktur pada tulang-tulang kecil di
kaki dan 336 orang mengalami fraktur fibula. Walaupun peran fibula dalam pergerakan
ektremitas bawah sangat sedikit, tetapi terjadinya fraktur pada fibula tetap saja dapat
menimbulkan adanya gangguan aktifitas fungsional tungkai dan kaki.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cahyani Tri Puspitasari pada tahun 2012
dengan judul Asuhan Keperawatan pada Tn. y dengan Close Fraktur Cruris (Tibia
Fibula) 1/3 Distal Dextra di Ruang Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. Moewardi Surakarta yang dilakukan di Surakarta terdapat data bahwa jumlah klien
dengan gangguan sistem muskuloskeletal terutama penderita Fraktur di ruang Instalasi
bedah Sentral (IBS) yaitu pada bulan Juli- September 2012 terdapat 179 kasus, dimana
dari 116 kasus (64,81%) terjadi pada pria dan 63 kasus (35,19%) terjadi pada wanita.
Sedangkan, pada fraktur cruris terdapat 18 orang (15,51%) laki-laki serta 6 orang
(9,52%) perempuan.
Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur cruris, yaitu shock yang dapat timbul
akibat rasa nyeri yang sangat hebat yang ditimbulkan oleh fraktur itu sendiri,Infeksi
karena adanya luka yang menghubungkan dunia luar yang akan merupakan pintu masuk
kuman, nekrosis vaskuler yang menyebabkan tenganggunya aliran darah ke salah satu
fragmen sehingga fragmen tersebut mati karena terjadi iskemia, cedera vaskuler dan
syaraf terjadi akibat dari tindakan ujung patahan tulang yang tajam yang menimbulkan
iskemia ekstremitas dan gangguan syaraf dan disease Atrophy dan disease osteoporosis
yang dapat terjadi karena pada ekstremitas yang patah kurang latihan gerak sendi atau
karena ekstremitas itu tidak pernah atau jarang digerakkan atau dipakai dalam
beraktivitas.
Peran perawat pada kasus fraktur cruris antara lain sebagai pemberi asuhan
keperawatan dimana perawat akan memberikan kebutuhan dasar manusia yang

Page | 2
dibutuhkan dengan menggunakan proses asuhan keperawatan, sebagai advokat dimana
perawat akan memberikan informasi kepada klien maupun keluarga klien dalam
mengambil keputusan atas tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada klien,
sebagai pendidik dimana perawat akan membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan, gejala penyakit, bahkan tindakan yang diberikan untuk merubah
perilaku dari klien, sebagai koordinator dimana perawat akan memberikan pengarahan
serta perencanaan dalam pelayanan kesehatan dari tim kesehatan yang lain agar
pelayanan kesehatan dapat sesuai dengan kebutuhan klien, sebagai kolabolator dimana
perawat akan berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk melakukan diskusi
dalam penentuan asuhan keperawatan, dan sebagai konsultan dimana perawat akan
berperan sebagai tempat berkosultasi terhadap tindakan keperawatan yang sesuai dengan
asuhan keperawatan.
Berdasarkan banyaknya dan bahayanya komplikasi yang dapat terjadi pada
fraktur cruris, kami membuat makalah ini agar mahasiswa mengetahui lebih lanjut
tentang fraktur cruris serta memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
fraktur cruris.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang didapatkan dalam makalah ini, yaitu
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan fraktur cruris?
1.2.2 Bagaimana etiologi dari fraktur cruris?
1.2.3 Bagaimana manifestasi klinis dari fraktur cruris?
1.2.4 Bagaimana patofisiologi dari fraktur cruris?
1.2.5 Bagaimana derajat keparahan fraktur cruris?
1.2.6 Apa saja pemeriksaan penunjang pada fraktur cruris?
1.2.7 Apa saja komplikasi yang dapat terjadi dari fraktur cruris?
1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan dari fraktur cruris?
1.2.9 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan fraktur cruris?

1.3 Tujuan Masalah


1.3.1 Tujuan Umum

Page | 3
Setelah dilakukan pembelajaran, diharapkan mahasiswa mampu memahami
tentang penyakit dan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan fraktur
cruris.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi dari fraktur cruris
2. Untuk mengetahui etiologi dari fraktur cruris
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari fraktur cruris
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari fraktur cruris
5. Untuk mengetahui derajat keparahan fraktur cruris
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada fraktur cruris
7. Untuk mengetahui komplikasi dari fraktur cruris
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari penyakit fraktur cruris
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan fraktur cruris

Page | 4
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Menurut Muttaqin (2008) dalam buku yang berjudul Asuhan keperawatan
perioperatif, Konsep, Proses dan Aplikasi dijelaskan bahwa fraktur cruris adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada
tulang fibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya.
Menurut Puspitasari (2012) dalam jurnal yang berjudul Asuhan Keperawatan
pada Tn. y dengan Close Fraktur Cruris (Tibia Fibula) 1/3 Distal Dextra di Ruang
Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta dijelaskan
bahwa fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang
umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur cruris (tibia- fibula)
merupakan salah satu kasus kegawatan, dimana pada awal akan memberikan implikasi
pada berbagai masalah keperawatan pada pasien, meliputi respon nyeri hebat akibat
diskontinuitas jaringan tulang, resiko tinggi perdarahan intra operasi, resiko tinggi infeksi
port de entree luka operasi dan resiko jatuh post operasi.

2.2 Etiologi
Menurut Reksoprodjo (2010) dalam buku yang berjudul Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah: Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dijelaskan bahwa
penyebab dari fraktur cruris, yaitu:
1. Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang secara langsung dan mengakibatkan
terjadi fraktur di tempat itu
2. Trauma tidak langsung, yaitu titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan
3. Fraktur patalogis disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker
tulang dan lain-lain
4. Degenerasi, yaitu terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri atau usia
lanjut

Page | 5
5. Spontan, yaitu terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olahraga

2.3 Manifestasi Klinis


Menurut Puspitasari (2012) dalam jurnal yang berjudul Asuhan Keperawatan
pada Tn. y dengan Close Fraktur Cruris (Tibia Fibula) 1/3 Distal Dextra di Ruang
Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta dijelaskan
bahwa tanda dan gejala dari fraktur cruris, yaitu:
1. Nyeri sebagai akibat dari peningkatan tekanan saraf sensorik karena pergerakan
fragmen tulang
2. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dari
perdarahan ke jaringan sekitarnya
3. Deformitas, karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah pada eksremitas
4. Krepitasi teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan yang lainnya.

2.4 Patofisiologi
Jika tulang patah maka periosteum dan pembuluh darah pada kortek, sum-sum
dan jaringan lunak sekitarnya mengalami gangguan atau kerusakan. Perdarahan terjadi
dari ujung tulang yang rusak dan dari jaringan lunak (otot) yang ada disekitarnya.
Hematoma terbentuk pada kannal medullary antara ujung fraktur tulang dan bagian
bawah periosteum. Jaringan nekrotik ini menstimulasi respon inflamasi yang kuat yang
dicirikan oleh vasodilasi, eksudasi plasma dan lekosit, dan infiltrasi oleh sel darah putih
lainnya. Kerusakan pada periosteum dan sum-sum tulang dapat mengakibatkan keluarnya
sum-sum tulang terutama pada tulang panjang, sum-sum kuning yang keluar akibat
fraktur masuk ke dalam pembuluh darah dan mengikuti aliran darah sehingga
mengakibatkan terjadi emboli lemak apabila emboli lemak ini sampai pada pembuluh
darah kecil, sempit, dimana diameter emboli lebih besar dari pada diameter pembuluh
darah maka akan terjadi hambatan aliran-aliran darah yang mengakibatkan perubahan
perfusi jaringan. Emboli lemak dapat berakibat fatal apabila mengenai organ-organ vital
seperti otak, jantung, dan paru-paru.
Kerusakan pada otot dan jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat
karena adanya spasme otot di sekitarnya. Sedangkan kerusakan pada tulang itu sendiri

Page | 6
mengakibatkan terjadinya perubahan ketidakseimbangan dimana tulang dapat menekan
persyarafan pada daerah yang terkena fraktur sehingga dapat menimbulkan fungsi syaraf,
yang ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan. Selain itu apabila perubahan
susunan tulang dalam keadaan stabil atau benturan akan lebih mudah terjadi proses
penyembuhan fraktur dapat dikembalikan sesuai dengan anatominya

Page | 7
Pathway Fraktur Cruris

Trauma Langsung Trauma Tak Langsung

Deformitas Kreptasi Timbul Pergerakan Abnormal

Tindakan Pembedahan Patah Tulang GANGGUAN MOBILITAS


(Pemasangan Alat Osteosintetis) (Fraktur) Cruris FISIK

Rusaknya Periosteum
Terputusnya
Pembuluh darah
Kontinuitas Jaringan

Penurunan Aliran
Perdarahan
Adanya Perangsangan pada Darah
Luka Insisi Reseptor Nyeri
Hematum di Canal Medulla
Perfusi Jaringan Perifer
Proses Tranduksi Extermitas Bagian Bawah
Mengalami Jaringan Mati

NYERI AKUT
Merangsang Terjadinya
Proses Peradangan

RISIKO INFEKSI GANGGUAN


INTEGRITAS KULIT

Sumber:

Zen, Intang Sulistiani (2015)

Page | 8
2.5 Derajat Keparahan Fraktur
Menurut Zen(2015), derajat keperahan fraktur, dapat dibagi 3, yaitu
1. Derajat I
Bila terdapat hubungan dengan dunia luar disebut luka kecil, biasanya diakibatkan
oleh karena tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar
2. Derajat II
Lukanya lebih besar (>1 cm), luka disebabkan oleh benturan dari luar
3. Derajat III
Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih ke atas jaringan lunak banyakyang ikut
rusak (otot, syaraf, pembuluh darah).

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Irwan (2012), Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada fraktur
cruris, yaitu:
1. Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur
2. Pemeriksaan darah lengkap
Dapat menunjukan tingkat kehilangan darah hingga cedera (pemeriksaan Hb dan
Ht). Nilai leukosit meningkat sesuai respon tubuh terhadap cedera
3. Golongan darah
Dilakukan untuk persiapan transfusi darah jika ada kehilangan darah yang
bermakna akibat cedera atau tindakan pembedahan
4. Pemeriksaan kimia darah
Untuk mengkaji ketidakseimbangan yang dapat menimbulkan masalah pada saat
operasi

2.7 Komplikasi
Menurut Zen (2015), komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur cruris, yaitu:
1. Shock
Shock ini dapat timbul akibat rasa nyeri yang sangat hebat yang ditimbulkan oleh
fraktur itu sendiri. Di samping itu, karena fraktur juga bisa menyebabkan pendarahan
yang hebat sehingga bisa menyebabkan shock hipovolemik

Page | 9
2. Infeksi
Pada patah tulang terbuka sering terjadi infeksi karena adanya luka yang
menghubungkan dunia luar yang akan merupakan pintu masuk kuman
3. Nekrosis vaskuler
Patah tulang dapat menganggu aliran darah ke salah satu fragmen sehingga
fragmen tersebut mati karena terjadi iskemia
4. Cedera vaskuler dan syaraf
Dapat terjadi akibat dari tindakan ujung patahan tulang yang tajam yang
menimbulkan iskemia ekstremitas dan gangguan syaraf
5. Disease atrophy dan disease osteoporosis
Bisa terjadi karena pada ekstremitas yang patah kurang latihan gerak sendi atau
karena ekstremitas itu tidak pernah/jarang digerakkan atau dipakai dalam beraktivitas.

2.8 Penatalaksanaan
Menurut Irwan (2012), jenis tindakan untuk fraktur yaitu:
1. Pemakaian traksi untuk mencapai alignment dengan memberi beban seminimal
mungkin pad daerah distal
2. Manipulasi dengan Closed reduction and external fixation (reduksi tertutup dan
fiksasi eksternal), digunakan gips sebagai fiksasi eksternal, dilakukan jika kondisi
umum pasien tidak mengijinkan untuk menjalani pembedahan
3. Prosedur operasi dengan open reduction and internal fixation (ORIF). Dilakukan
pembedahan dan dipasang fiksasi internal untuk mempertahankan posisi tulang
(misalnya sekrup, plat, kawat, paku). Alat ini bisa dipasang di sisi maupun di dalam
tulang, digunakan jenis yang sama antara plate dan sekrup untuk menghindari
terjadinya reaksi kimia
4. Jika keadaan luka sangat parah dan tidak beraturan maka kadang dilakukan juga
debridement untuk memperbaiki keadaan jaringan lunak di sekitar fraktur.

Page | 10
2.9 Asuhan Keperawatan
1. Pengakajian
1) Identifikasi klien:
a. Nama lengkap f. suku bangsa
b. Umur g. pendidikan
c. jenis kelamin h. pekerjaan
d. status perkawinan i. penghasilan
e. agama j. Alamat.
2) Identifikasi penanggung jawab
3) Riwayat penyakit antara lain :
a. Keluhan utama
Pada keluhan utama akan nampak semua apa yang dirasakan klien pada
saat itu seperti nyeri pada tungkai sebelah kanan akibat fraktur sifat-sifat dari
nyeri, lokasi, identitas, serta keluhan-keluhan lain yang menyertai
b. Riwayat kesehatan masa lalu atau lampau
Riwayat kesehatan masa lalu atau lampau akan memberikan informasi-
informasi tentang kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita dan
diterima pada masa yang lalu
4) Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi: bentuk (tulang panjang)- Adanya deformitas - Adanya luka laserasi
b. Palpasi: pada fraktur, bila dipalpasi akan timbul nyeri
5) Laboratorium
Hb <10 mg% menandakan anemia dan bila jumlah leukosit >10.000/mm3
menandakan adanya infeksi
6) Radiologi xray akan menunjukkan adanya fraktur

2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan luka bekas operasi, cedera pada jaringan yang
ditandai dengan nyeri pada luka operasi, wajah meringis menahan sakit, berhati-
hati dalam melindungi ekstremitas yang patah

Page | 11
2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskular,
imobilisasi tungkai yang ditandai dengan ketidak mampuan bergerak, tidak bisa
melakukan aktivitas, penurunan kekuatan otot, terpasang traksi seklet, fixasi
external
3) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka,
tindakan pembedahan untuk pemasangan traksi pent, skrup ditandai dengan
gangguan perlukaan di permukaan kulit, destruksi lapisan kulit atau jaringan,
keluhan nyeri, tekanan pada area yang sakit atau area sekitarnya
4) Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya kerusakan kulit, trauma
jaringan, terpejam pada lingkungan pembedahan untuk reposisi
3. Intervensi Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


No Diagnosa Keperawatan Rasional
(NOC) Keperawatan (NIC)
1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Jelaskan tindakan 1. Klien mengerti
dengan luka bekas Keperawatan, gangguan yang akan diberikan terhadap yang
operasi, cedera pada rasa nyaman nyeri dapat pada klien dilakukan dan mau
jaringan yang ditandai teratasi dengan kriteria bekerjasama untuk
dengan nyeri pada luka hasil: mengatasi masalah
operasi, wajah meringis 1. Klien menyatakan 2. Pertahankan klien
menahan sakit, berhati- nyeri berkurang atau Imobilisasi bagian 2. Mengurangi keluhan
hati dalam melindungi hilang yang patah nyeri dan mencegah
ekstremitas yang patah 2. Klien mampu perubahan tulang
berpartisipasi dalam dan mencegah
aktivitas kesalahan posisi
3. Klien bisa beristirahat 3. Tinggikan dan tulang
dengan santai dukung ekstremitas meningkatkan
4. Klien dapat yang terkena 3. Aliran darah baik
menunjukkan 4. Hindari penggunaan vena menurunkan
penggunaan sprey plastik oedema serta
keterampilan relaksasi mengurangi nyeri

Page | 12
5. Skala nyeri 0 dengan 4. Dapat meningkatkan
menggunakan skala (0- 5. Evaluasi keluhan ketidaknyamanankar
5) nyeri atau ena peningkatan
ketidaknyamaan, produksi panas
perhatikan lokasi 5. Mempengaruhi
dan karakteristik, pilihan atau
termasuk intensitas pengawasan
6. Ciptakan keefektifan
lingkungan yang intervensi
nyaman selanjutnya.
7. Ajarkan dan
anjurkan klien
tehnik relaksasi 6. Menambah
8. Tawarkan tindakan kenyamanan pasien
pengurang nyeri
7. Menurunkan ketidak
9. Bantu pasien dalam nyamanan pada
mengidentifikasi peristaltik usus
tingkat nyeri yang 8. Dengan tehnik
beralasan dan dapat relaksasi dapat
di terima meningkatkan
kenyamanan
10. Kolaborasi medis 9. Untuk membantu
dalam pemberian pengobatan nyeri
analgetik untuk membantu
penanganan nyeri

10. mempermudah kerja


sama dengan
intervensi terapi lain

Page | 13
2. Gangguan mobilitas Setelah dilakukan tindakan 1. Ketidakmampuan 1. Klien mungkin
fisik berhubungan keperawatan, gangguan gerak dan jelaskan dibatasi oleh
dengan kerusakan mobilitas fisik dapat tentang pandangan diri
rangka neuromuskular, teratasi dengan kriteria immoblilitas tentang keterbatasan
imobilisasi tungkai hasil: fisik aktual serta
yang ditandai dengan 1. Klien dapat memerlukan
ketidak mampuan meningkatkan atau 2. Bantu klien untuk informasi tentang
bergerak, tidak bisa mempertahankan berlatih gerak pada immobilisasi.
melakukan aktivitas, mobilitas pada tingkat ekstremitas yang 2. Meningkatkan aliran
penurunan kekuatan paling tinggi sakit dan tidak darah ke otot dan
otot, terpasang traksi 2. Dapat mempertahankan sakit tulang untuk
seklet, fixasi external posisi fungsional meningkatkan tonus
3. Dapat melakukan otot dan mencegah
aktivitas kontraktur
4. Meningkatkan
kekuatan otot,
5. Klien bebas bergerak
3. Gangguan integritas Setelah dilakukan tindakan 1. Bantu klien dalam 1. latihan gerak sedini
kulit berhubungan keperawatan gangguan melakukan latihan mungkin dapat
dengan cedera tusuk, integritas kulit dapat secara dini setelah mengurangi
fraktur terbuka, tindakan teratasi dengan kriteria nyeri berkurang komplikasi dan
pembedahan untuk hasil: mendukung pulihnya
pemasangan traksi pent, 1. Klien tidak menyatakan 2. Bantu klien dalam fungsi organ
skrup ditandai dengan ketidakmampuan perawatan diri 2. Agar klien merasa
gangguan perlukaan di tulang, nyaman dan percaya
permukaan kulit, 2. Mencapaipenyembuhan diri
destruksi lapisan kulit luka sesuai waktu atau
atau jaringan, keluhan penyembuhan lesi
nyeri, tekanan pada area terjadi
yang sakit atau area

Page | 14
sekitarnya

4. Risiko terjadinya infeksi Setelah dilakukan tindakan 1. Jaga kesterilan luka 1. Mengurangi
berhubungan dengan keperawatan tidak terdapat dan rawat luka kontaminasi
adanya kerusakan kulit, tanda tanda infeksi secara teratur
trauma jaringan, dengan klinik
terpejam pada septik aseptik
lingkungan pembedahan 2. Kaji tonus otot,
untuk reposisi refleks tendon serta 2. Kekakuan otot,
kemampuan untuk spasme tonik otot
berbicara tahan dan disfusi
3. Monitor tanda- menunjukkan
tanda vital terjadinya tetanus
3. Untuk mendeteksi
4. Observasi terhadap adanya tanda-tanda
adanya nyeri, sepsis
kemerahan, 4. Adanya kemerahan,
oedema, oedema, nyeri,
pengeluaran pengeluaran nanah
rasa terbakar
merupakan tanda-
tanda infeksi
sehingga perawatan
dapat segera
mengatasinya.

Page | 15
BABIII

TINJAUAN KASUS

3.1 Kasus

Seorang wanita mengalami fraktur 1/3 proksimal fibula sinistra. Klien mengalami nyeri,
edema dan kaki klien terlihat adanya penonjolan yang abnormal. Klien dilakukan pemaasangan
gips. Saat ini klien mengeluh badan panas, kaki klien yang di gips terasa nyeri dan gatal. Klien
gelisah dan meminta gipsnya dibuka saja. TD 140/80 mmhg, suhu 38 derajat, RR 18x/menit,
nadi 90x/menit. Hasil lab leukosit 15.000.klien telah diberikan antibiotik. Klien mengatakan
skala nyerinya yaitu 5. Klien mengatakan nyeri yang dirasakan karena pemasangan gips. Klien
mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk. Klien merasakan nyeri hanya di daerah yang dipasang
gips saja. Klien mengatakan nyeri timbul jika klien melakukan pergerakaan. Saat dilakukan
pengkajian, klien terlihat meringis kesakitan. Klien terlihat sedang menggaruk kakinya yang
sedang gatal.

3.2 Asuhan keperawatan


3.2.1. Pengakajian
1. Identifikasi klien:
Nama lengkap : Ny. F
Umur : 16 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Status perkawinan : belum menikah
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pelajar
Penghasilan :
Alamat : Jl. Buntu Rt 08 Rw 03 No. 14
3.2.2. Identifikasi penanggung jawab
Nama : Tn. J
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki

Page | 16
Pekerjan : Wiraswasta
Hubungan dengan klien : Ayah
Alamat : Jl. Buntu Rt 08 Rw 03 No. 14
3.2.3. Riwayat penyakit antara lain :
Keluhan utama

Klien mengalami nyeri, edema dan kaki klien terlihat adanya penonjolan
yang abnormal, klien mengeluh badan panas, kaki klien yang di gips terasa
nyeri dan gatal, klien meminta gipsnya dibuka, klien mengatakan nyeri
seperti ditusuk-tusuk. Klien merasakan nyeri hanya di daerah yang dipasang,
Klien mengatakan nyeri timbul jika klien melakukan pergerakaan

Riwayat kesehatan masa lalu atau lampau


Keluarga mengatakan klien tidak memiliki penyakit apapun dan tidak
pernah dirawat di rumah sakit
3.2.4. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi : terlihat edema pada kaki kiri dankaki
klienterlihatadanyapenonjolan yang abnormal, kaki
kliendilakukanpemaasangangips, klienterlihatmeringiskesakitan.
Klienterlihatsedangmenggarukkakinya yang sedanggatal.
b. Palpasi : nyeri saat di pegang pada bagian fraktur
c. Tanda tanda vital : TD 140/80 mmhg, suhu 380, RR 18x/menit, nadi
90x/menit
3.2.5. Laboratorium
Hasil lab leukosit 15.000
3.2.6. Radiologi xray : menunjukkan adanya fraktur1/3 proksimal fibula sinistra.

Page | 17
3.3. Analisa Data

DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI


Data Subjektif: Nyeri akut Agens cedera
1. Klien mengatakan mengalami nyeri berhubungan fisik(fraktur)
2. Klien mengatakan nyeri di rasakan karena pemasangan
gips
3. Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk
4. Klien mengatakan skala nyerinya yaitu 5
5. Klien mengatakan merasakan nyeri hanya di daerah
yang dipasang gips saja.
6. Klien mengatakan nyeri timbul jika klien melakukan
pergerakan.
Data Objektif :
1. Klien terlihat meringis kesakitan
2. Klien terlihat gelisah
3. Tanda-tanda vital : TD 140/80 mmhg, suhu 380 C, RR
18x/menit, nadi 90x/menit
4. Skala nyeri : 5
Data Subjektif : Resiko Kerusakan
1. Klien mengeluh badan panas Infeksi integritas
2. klien mengeluh kaki yang di gips terasa nyeri dan gatal kulit, Trauma
Data Objektif : jaringan
1. kaki klien terlihat adanya penonjolan yang abnormal
2. Suhu : 380 C
3. Hasil laboratorium : leukosit 15.000
Data Subjektif : Hambatan Kerusakan
1. Klien mengatakan nyeri timbul jika klien melakukan mobilitas integritas
pergerakan. fisik struktur
2. klien meminta gipsnya untuk dibuka tulang, nyeri
Data Objektif :

Page | 18
1. klien mangalami fraktur 1/3 proksimal fibula sinistra
2. klien mengalami nyeri, edema dan kaki klien terlihat
adanya penonjolan yang abnormal
3. klien dilakukan pemasangan gips
Data Subjektif : Gangguan Gejala terkait
1. klien mengatakan kaki yang di gips terasa gatal rasa nyaman penyakit
2. klien mengeluh badan panas
3. klien meminta gipsnya untuk dibuka
Data Objektif :
1. klien terlihat meringis kesakitan
2. Klien terlihat sedang menggaruk kakinya yang sedang
gatal
3. klien terlihat gelisah
4. suhu tubuh : 380C

3.4. Diagnosa Keperawatan


1) Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik (fraktur)
2) Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan faktor biologis (peningkatan
leukosit)
3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
struktur tulang, nyeri
4) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit

3.5. Intervensi

No Diagnosa Intervensi Rasional


Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)
Keperawatan Keperawatan (NIC)
Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Pemberian 1. Pemberian
berhubungan keperawatan selama 3x24 jam,nyeri analgesik : analgesik :
1.
dengan agens akut dapat teratasi dengan kriteria 1) Tentukan
1) Untuk
cedera fisik hasil : diharapkan klien: lokasi,

Page | 19
(fraktur) 1. Tingkat nyeri, ditingkat ke : karakteristik, mengetahui
1) Nyeri yang dilaporkan : 3 kualitas dan lokasi,
(sedang) keparahan karakteristik,
2) Frekuensi nafas : 3 (Deviasi nyeri sebelum kualitas dan
sedang dari kisaran normal) mengobati keparahan
3) Denyut nadi radial : 3 (Deviasi nyeri nyeri sebelum
sedang dari kisaran normal) 2) Cek perintah mengobati
4) Tekanan darah : 3 (Deviasi pengobatan nyeri
sedang dari kisaran normal) meliputi 2) Untuk
obat, dosis, mengetahui
2. Tingkat ketidaknyamanan, dan frekuensi perintah
ditingkatkan ke : obat pengobatan
1) Nyeri : 3 (sedang) analgesik meliputi obat,
2) Meringis : 3 (sedang) yang dosis, dan
3. Pergerakkan, ditingkatkan ke: diresepkan frekuensi obat
1) Bergerak dengan mudah : 3 3) Cek adanya analgesik yang
(cukup terganggu) riwayat diresepkan
4. Tanda-tanda vital, ditingkat ke : alergi obat 3) Untuk
1) Suhu tubuh : 3 (Deviasi 4) Pilih rute mengetahui
sedang dari kisaran normal) intravena adanya
2) Denyut nadi radial : 3 (Deviasi daripada rute riwayat alergi
sedang dari kisaran normal) intra obat
3) Tingkat pernafasan : 3 muskular, 4) Untuk
(Deviasi sedang dari kisaran untuk injeksi mempermudah
normal) pengobatan kan dalam
4) Tekanan sistolik : 3 (Deviasi nyeri yang pemberian
sedang dari kisaran normal) sering, jika obat.
5. Keparahan cedera fisik, memungkink 5) Agar
ditingkatkan ke : an kebutuhan
1) fraktur ekstremitas : 3 (sedang) 5) Berikan kenyamanan
kebutuhan dan aktifitas

Page | 20
kenyamanan pasien dapat
dan aktivitas terpenuhi yang
lain yang dapat
dapat membantu
membantu relaksasi untuk
relaksasi memfasilitasi
untuk penurunan
memfasilitasi nyeri
penurunan 2. Pengalihan :
nyeri 1) Untuk
2. Pengalihan : membuat
1) Motivasi pasien agar
individu merasa
untuk nyaman.
memilih 2) Agar
teknik mengetahui
pengalihan mengenai
yang manfaat
diinginkan merangsang
2) Ajarkan berbagai
pasien indera
mengenai 3) Agar pasien
manfaat cara terlibat di
merangsang dalam
berbagai pengalihan
indera 4) Agar pasien
3) Ajarkan mendapat
pasien cara partisipasi dari
terlibat di keluarga dan
dalam orang terdekat
pengalihan lainnya, serta

Page | 21
4) Dorong berikan
partisipasi pengajaran
keluarga dan yang
orang diperlukan
terdekat 5) Agar
lainnya, serta mengetahui
berikan seberapa
pengajaran sanggup
yang pasien
diperlukan melakukannya
5) Evaluasi dan dan
dokumentasi merencanakan
kan respon tindakan
pasien keperawatan
terhadap yang akan
6) kegiatan dilakukan.
pengalihan 3. Terapi relaksasi
3. Terapi relaksasi : :
1) Tunjukkan 1) Agar pasien
dan mengetahui
praktikkan teknik relaksasi
teknik 2) Agar pasien
relaksasi dapat
pada klien mengulang
2) Dorong praktik teknik
pasien untuk relaksasi, jika
mengulang memungkinkan
praktik 3) Untuk
teknik mengetahui
relaksasi, jika respon terhadap
memungkink terapi relaksasi

Page | 22
an
3) Evaluasi dan
dokumentasi
kan respon
terhadap
terapi
relaksasi

Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda- 1. Monitor tanda-

keperawatan selama 2x24 jam,nyeri tanda vital tanda vital

akut dapat teratasi dengan kriteria 1) Monitor 1) Untuk

hasil : diharapkan klien: tekanan mengetahui


darah, nadi, tekanan
1. Keparahan infeksi suhu, dan darah, nadi,
1) Demam ditingkatkan status suhu, dan
Resiko tinggi ke: 3 (Deviasiasi pernafasan status
Infeksi sedang dari kisaran 2) Monitor pernafasan
berhubungan normal) irama dan pasien
2. dengan faktor 2) Nyeri ditingkatkan ke: tekanan 2) Untuk
biologis 3 (Deviasi sedang dari jantung mengetahui
(peningkatan kisaran normal) 3) Monitor irama dan
leukosit) 2. Keparahan cedera fisik warna kulit, tekanan
1) Fraktur ekstremitas suhu dan jantung
ditingkat : 3 (Deviasi kelembaban pasien
sedang dari kisaran 4) Monitor pola 3) Untuk
normal) pernafasan megetahui
2) Gangguan imobilitas (misalnya warna kulit,
ditingkatkan ke: 3 Cheyne- suhu dan
(Deviasi sedang dari stokes, kelembaban
kisaran normal) Kussmaul, pasien

Page | 23
Biot, 4) Untuk
apneutic, mengetahui
ataksia, dan pola
bernafas pernafasan
berlebihan) pasien
2. Kontrol infeksi (misalnya
1) Monitor dan Cheyne-
jaga suhu stokes,
ruangan Kussmaul,
antara 20 0 Biot,
dan 240 C apneutic,
2) Monitor dan ataksia, dan
jaga bernafas
kelembaban berlebihan)
relative 2. Kontrol infeksi
antara 20% 2. Untuk
dan 60% mengetahui
3) Batasi dan dan menjaga
kontrol lalu suhu
lalang ruangan
pengunjung antara 20 0
4) Lakukan dan 240 C
tindakan- 3. Untuk
tindakan mengetahui
pencegahan dan menjaga
universal atau kelembaban
Universal relative
Precauntions antara 20%
5) Berikan dan 60
terapi 4. Untuk
antibiotik menjaga

Page | 24
yang sesuai kenyamanan
3. Perlindungan pasien
Infeksi 5. Agar
1) Monitor pencegahan
adanya tanda dapat
dan gejala menyeluruh
infeksi 6. Agar terapi
sistemik dan antibiotik
lokal sesuai
2) Berikan dengan
perawatan anjuran dan
kulit yang kebutuhan
tepat untuk pasien
area (yang 4. Perlindunga
mengalami) n Infeksi
edema 1) Untuk
3) Periksa mengetahui
kondisi setiap adanya
luka tanda dan
4) Tingkatkan gejala
asupan nutrisi infeksi
yang cukup sistemik
5) Anjurkan dan local
asupan cairan 2) Agar
dengan tepat perawatan
6) Anjurkan kulit tepat
istirahat untuk area
7) Anjarkan (yang
pasien dan mengalami)
keluarga edema
mengenal 3) Untuk

Page | 25
tanda dan mengetahui
gejala infeksi kondisi
dan kapan setiap luka
harus 4) Agar
melaporkann asupan
ya kepada nutrisi
pemberi pasien
pelayanan tercukupi
kesehatan 5) Agar
8) Ajarkan asupan
pasien dan cairan
keluarga pasien
bagaimana sesuai
cara dengan
menghindari kebutuhan
infeksi 6) Agar
4. Perawatan luka kebutuhan
1) Berikan istirahat
balutan pasien
sesuai terpenuhi
dengan jenis 7) Agar pasien
luka dan
2) Periksa luka keluarga
setiap kali mengenal
perubahan tanda dan
balutan gejala
3) Bandingkan infeksi dan
dan catat kapan harus
setiap melaporkan
perubahan nya kepada
luka pemberi

Page | 26
4) Reposisi pelayanan
pasien kesehatan
setidaknya 8) Agar pasien
setiap 2 jam dan
dengan tepat keluarga
5) Anjurkan mengetahui
pasien dan bagaimana
keluarga cara
untuk menghindar
mengenal i infeksi
tanda dan 4. Perawatan luka
gejala infeksi 1) Agar
6) Dokumentasi balutan
kan lokasi, sesuai
ukuran dan dengan
tampilan jenis luka
2) Mengetahui
keadaan
luka setiap
kali
perubahan
balutan
3) Untuk
mengetahui
setiap
perubahan
luka
4) Untuk
mencegah
adanya
decubitus

Page | 27
5) Agar pasien
dan
keluarga
mengenal
tanda dan
gejala
infeksi
6) Untuk
mengetahui
lokasi,
ukuran dan
tampilan.
Setelah dilakukan tindakan 1. Perawatan Perawatan tirah
keperawatan selama 7x24 jam,nyeri tirah baring baring
akut dapat teratasi dengan kriteria 1) Monitor 1) Untuk
hasil : diharapkan klien: kondisi mengetahu
7. Ambulasi kulit i kondisi
Hambatan 1) Menopang berat badan (pasien) kulit
mobilitas ditingkatkan ke: 3 2) Gunakan pasien
fisik (Deviasi sedang dari alat di 2) Agar
berhubungan kisaran normal) tempat pasien
3 dengan 2) Berjalan dengan pelan tidur terlindungi
kerusakan ditingkatkan ke: 3 yang saat tidur
integritas (Deviasi sedang dari melindun (mencegah
struktur kisaran normal) gi pasien terjadinya
tulang, nyeri 8. Pergerakan 2. Peningkatan cedera)
1) Keseimbangan latihan : 4. Peningkatan
ditingkatkan ke: 3 Perengangan latihan
(Deviasi sedang dari 1) Bantu 1) Agar pasien
kisaran normal) pasien dapat
2) Cara berjalan ditingkatkan untuk mengekplor

Page | 28
ke: 3 (Deviasi sedang dari mengekpl asi
kisaran normal) orasi keyakinann
3) Pergerakan otot keyakina ya sendiri,
ditingkatkan ke: 3 nnya motivasi,
(Deviasi sedang dari sendiri, dan tingkat
kisaran normal) motivasi, kebugaran
5. Tingkat kecemasan dan neuromusku
1) Perasaan gelisah tingkat loskletalnya
ditingkatkan ke: 3 kebugara 2) Agar pasien
(Deviasi sedang dari n dapat
kisaran normal) neuromus mengemban
2) Peningkatan tekanan darah kulosklet gkan
ditingkatkan ke: 3 al rencana
(Deviasi sedang dari 2) Bantu latihan yang
kisaran normal) mengemb menggabun
angkan gkan urutan
rencana tertib
latihan gerakan
yang perenganga
menggab n, kenaikan
ungkan dalam
urutan durasi
tertib gerakan
gerakan pada fase
perengan menahan
gan, (hold
kenaikan phase), dan
dalam kenaikan
durasi dalam
gerakan jumlah
pada fase pengulanga

Page | 29
menahan n untuk
(hold setiap
phase), gerakan
dan lambat-
kenaikan merengang-
dalam menahan
jumlah (slow-
pengulan stretch-
gan untuk hold),
setiap konsisten
gerakan dengan
lambat- tingkat
merengan kebukuran
g- muskuloske
menahan letal atau
(slow- adanya hal
stretch- yang
hold), bersifat
konsisten patologi
dengan 3) Agar pasien
tingkat dapat
kebukura perlahan-
n lahan
muskulos merenggang
keletal kan otot
atau atau sendi
adanya ke titik
hal yang perenggang
bersifat an penuh
patologi (atau
3) Instruksik ketidaknya

Page | 30
an untuk manan yang
perlahan- wajar) dan
lahan tahan
merengga selama
ngkan waktu
otot atau tertentu dan
sendi ke perlahan-
titik lahan
perengga lepaskan
ngan otot-otot
penuh yang
(atau direnggang
ketidakny kan
amanan 4) Agar
yang anggota
wajar) keluarga
dan tahan ikut
selama berperan
waktu dalam
tertentu perencanaa
dan n,
perlahan- pengajaran,
lahan dan
lepaskan pemantauan
otot-otot rencana
yang latihan
direnggan pasien.
gkan 5. Perawatan
4) Kolabora kaki
si dengan 1) Untuk
anggota menget

Page | 31
keluarga ahui
dalam cara
perencan berjala
aan, n dan
pengajara tumpua
n, dan n berat
pemantau badan
an paisen
rencana pada
latihan. kaki
3. Perawatan 2) Untuk
kaki menget
1) Monitor ahui
cara edema
berjalan pada
dan kaki
tumpuan dan
berat tungkai
badan kaki
paisen 6. Pencegahan
pada kaki jatuh
2) Monitor 1) Untuk
edema mengetahui
pada kaki perilaku
dan dan faktor
tungkai yang
kaki mempernga
4. Pencegahan ruhi risiko
jatuh jatuh
1) Identifika 2) Untuk
si mengetahui

Page | 32
perilaku gaya
dan berjalan
faktor (terutama
yang kecepatan),
mempern keseimbang
garuhi an dan
risiko tingkat
jatuh kelelahan
2) Monitor dengan
gaya ambulasi
berjalan pasien
(terutama 3) Untuk
kecepatan mengetahui
), kemampuan
keseimba pasien
ngan dan untuk
tingkat berpindah
kelelahan dari tempat
dengan tidur kursi
ambulasi dan
3) Monitor sebaliknya
kemampu 4) Untuk
an untuk mengetahui
berpindah orientasi
dari pasien
tempat terhadap
tidur lingkungan
kursi dan fisik
sebalikny 5) Agar
a keluarga
4) Orientasi dapat

Page | 33
kan mengetahui
pasien mengenai
pada factor risiko
lingkunga yang
n fisik berkontribu
5) Ajarkan si terhadap
keluarga adanya
mengenai kejadian
factor jatuh dan
risiko bagaimana
yang keluarga
berkontri bisa
busi menurunka
terhadap n risiko ini
adanya 6) Agar pasien
kejadian dapat
jatuh dan beradaptasi
bagaiman dirumah
a untuk
keluarga meningkatk
bisa an
menurun keamanan
kan risiko 7. Bantu
ini perawatan diri
6) Anjurkan 1) Untuk
adaptasi mengetahu
dirumah i
untuk kemampua
meningka n
tkan perawatan
keamana diri pasien

Page | 34
n secara
5. Bantuan mandiri
perawatan 2) Untuk
diri mengetahu
1) Monitor i
kemampu kebutuhan
an pasien
perawata terkait
n diri dengan
secara alat-alat
mandiri kebersihan
2) Monitor diri, alat
kebutuha bantu
n pasien untuk
terkait berpakaian,
dengan berdandan,
alat-alat elimanasi
kebersiha dan makan
n diri, 3) Agar
alat bantu kebutuhan
untuk perawatan
berpakaia diri pasien
n, dapat
berdanda terpenuhi
n, 4) Agar
elimanasi pasien
dan dapat lebih
makan mandiri
3) Berikan dalam
bantuan melakukan
sampai aktifitas

Page | 35
pasien
mampu
melakuka
n
perawata
n diri
mandiri
4) Dorong
kemandir
ian
pasien,
tapi bantu
ketika
pasien tak
mampu
melakuka
nnya.
Setelah dilakukan tindakan 1. Pengurangan 1. Pengurangan
keperawatan selama 3x24 jam,nyeri kecemasan kecemasan
akut dapat teratasi dengan kriteria 1) Kaji 1) Untuk
hasil : diharapkan klien: untuk mengetahui
Gangguan 1. Tingkat kecemasan tanda tanda verbal
rasa nyaman 1) Perasaan gelisah verbal dan non
berhubungan ditingkatkan ke: 3 dan non verbal
4
dengan gejala (Deviasi sedang dari verbal kecemasan
terkait kisaran normal) kecemasa 2) Agar pasien
penyakit 2) Peningkatan tekanan n merasa
darah ditingkatkan ke: 3 2) Dengarka lebih tenang
(Deviasi sedang dari n pasien 3) Untuk
kisaran normal) 3) Dorong mengetahui
2. Status kenyamanan verbalisas verbalisasi

Page | 36
1) Relaksasi otot i perasaan,
ditingkatkan ke: 4 perasaan, persepsi
(Deviasi ringan dalam persepsi dan
kisaran normal) dan ketakutan
2) Posisi yang nyaman ketakutan 4) Agar pasien
ditingkatkan ke: 4 4) Instruksik dapat
(Deviasi ringan dalam an pasien menggunak
kisaran normal) utnuk an teknik
3) Perawatan pribadi dan menggun relaksasi
kebersihan ditingkatkan akan i. Teknik
ke: 3 (Deviasi sedang teknik menenangkan
dalam kisaran normal) relaksasi 1) Untuk
4) Suhu tubuh ditingkatkan 2. Teknik mempertaha
ke: 5 (Deviasi tidak menenangka nkan kontak
terganggu dalam kisaran n mata dengan
normal) 1) Pertahank pasien
5) Gatal-gatal ditingkatkan an kontak 2) Agar pasien
ke: 4 (Deviasi ringan mata dapat merasa
dalam kisaran normal) 2) Yakinkan aman
3. Memantau keparahan keselamat 3) Agar pasien
melakukan tindakan-tindakan an dan dapat
keparahan. keamana menggunaka
n pasien n metode
3) Instruksik mengurangi
an pasien kecemasan
untuk (misalnya
menggun teknik
akan bernafas
metode dalam,
menguran distraksi,
gi visualisasi,

Page | 37
kecemasa meditasi,
n relaksasi otot
(misalnya progresif,
teknik mendengar
bernafas music
dalam, lembut) jika
distraksi, diperlukan
visualisas 4) Mengurangi
i, kecemasan
meditasi, dengan
relaksasi terapi obat
otot ii. Manajemen
progresif, lingkungan
mendeng 1) Agar tercipta
ar music lingkungan
lembut) yang aman
jika bagi pasien
diperluka 2) Agar
n lingkungan
4) Berikan pasien bebas
obat anti dari benda-
kecemasa benda
n jika berbahaya
diperluka 3) Untuk
n mengurangi
3. Manajemen resiko cedera
lingkungan : pada pasien
kenyamanan 4) Agar
1) Ciptakan istirahat
lingkunga pasien dapat
n yang terpenuhi

Page | 38
aman 5) Agar pasien
bagi tidak merasa
pasien kesepian
2) Singkirka 2. Pengaturan
n benda- posisi
benda 1) Agar tidak
berbahay terjadi
a dari penekanan
lingkunga pada luka
n 2) Agar posisi
3) Lindungi pasien
pasien nyaman,
dengan dapat
pegangan mengurang
pada sisi i rasa nyeri
atau 3) Menguran
bantalan gi resiko
di sisi cedera
ruangan pada
yang pasien
sesuai. 3. Pemberian
4) Batasi obat
pengunju 1) Mencegah
ng terjadinya
5) Izinkan kesalahan
keluarga dalam
atau pemberian
orang obat
terdekat dengan
untuk prosedur 5
tinggal benar

Page | 39
dengan 2) Untuk
pasien mengetahu
4. Pengaturan i
posisi kemungkin
1) Jangan an alergi
memposi terhadap
sikan obat,
pasien interaksi
dengan dan
penekana kontraindi
n pada kasi,
luka termasuk
2) Jangan obat
menempa obatan
tkan herbal
pasien 3) Untuk
pada mengetahu
posisi i alergi
yang bisa yang
meningka dialami
tkan nyeri pasien
3) Monitor sebelum
peralatan pemberian
traksi obat dan
terhadap tahan obat
pengguna obatan
an yang yang
sesuai diperlukan
5. Pemberian 4) Agar
obat mengetahu
1) Ikuti i efek

Page | 40
prosedur lima terapeutik
benar dalam pasien
pemberian terhadap
obat semua obat
2) Monitor obatan
kemungkinan b. Peningkatan
alergi keamanan
terhadap 1) Agar
obat, tercipta
interaksi dan limgkunga
kontraindikas n yang
i, termasuk aman dan
obat obatan nyaman
herbal 2) Agar
3) Catat alergi keluarga
yang dialami merasa
pasien lebih
sebelum tenang
pemberian 3) Agar
obat dan pasien atau
tahan obat keluarga
obatan yang dapat
diperlukan mengidenti
4) Monitor fikasi
pasien faktor apa
terhadap efek yang
terapeutik meningkat
untuk semua kan rasa
obat obatan keamanan
6. Peningkatan 4) Agar
keamanan pasien

Page | 41
1) Sediakan dapat
lingkungan mengguna
yang tidak kan koping
mengancam respon
2) Dengarkan yang telah
ketakutan menunjukk
keluarga an
pasien keberhasila
3) Bantu pasien n
atau keluarga sebelumny
mengidentifi a
kasi faktor c. Bantuan
apa yang modifikasi diri
meningkatka 1) Agar
n rasa meningkatk
keamanan an
4) Bantu pasien dukungan
untuk terhadap
mengidentifi perilaku
kasi respon pasien
koping yang 2) Agar pasien
biasanya dapat
5) Bantu pasien melakukan
untuk imagery
menggunaka atau
n koping imajinasi,
respon yang meditasi
telah atau
menunjukkan relaksasi
keberhasilan otot
sebelumnya progresif

Page | 42
7. Bantuan dalam
modifikasi mengusahk
diri an
1) Puji perubahan
lingkungan perilaku
fisik dan
lingkungan
sosial pasien
terkait
dengan
dukungan
terhadap
perilaku yang
diinginkan
Eksplorasi bersama
pasien penggunaan
imagery atau
imajinasi, meditasi
atau relaksasi otot
progresif dalam
mengusahkan
perubahan perilaku

Page | 43
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian
Pada kasus ini, fraktur fibula terjadi pada seorang wanita yaitu usia 16 tahun mengalami
fraktur 1/3 proksimal fibula sinistra karena kecelakaan. Sesuai dengan sumber literature
fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada perempuan dan sering berhubungan
dengan olah raga, pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada usia prevalensi cenderung
lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait
dengan perubahan hormone. Menurut (Depkes RI, 2005) Penyebab terbanyak Fraktur adalah
kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. Tetapi fraktur
juga bisa terjadi akibat faktor lain seperti proses degeneratif dan patologi. Pada kasus dan
sumber literature sama-sama ditemukan nyeri akut yang disebabkan karena adanya nyeri
tekan pada bagian area kaki akibat fraktur dan terpasangnya gips dikaki.
Pada kasus dan sumber literature mengatakan bahwa adanya manifestasi nyeri terus
menerus. Nyeri sebagai akibat dari peningkatan tekanan saraf sensorik karena pergerakan
fragmen tulang, Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma
dari perdarahan ke jaringan sekitarnya, dan deformitas karena adanya pergeseran fragmen
tulang yang patah pada eksremitas. Saat ekstremitas diperiksa, nyeri saat dipegang pada
bagian fraktur, terlihat edema pada kaki kiri dan kanan serta adanya penonjolan.
Pada kasus dan sumber literature pemeriksan penunjang dapat dilakukan dengan
pemeriksaan laboratorium : Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur. Pemeriksaan
darah lengkap, dapat menunjukan tingkat kehilangan darah hingga cedera (pemeriksaan Hb
dan Ht). Nilai leukosit meningkat sesuai respon tubuh terhadap cedera. Hb <10 mg%
menandakan anemia dan bila jumlah leukosit >10.000/mm3 menandakan adanya infeksi.
Golongan darah, Dilakukan untuk persiapan transfusi darah jika ada kehilangan darah yang
bermakna akibat cedera atau tindakan pembedahan. Pemeriksaan kimia darah, Untuk
mengkaji ketidakseimbangan yang dapat menimbulkan masalah pada saat operasi.
Sedangkan pada kasus ditemukan hasil lab leukosit 15.000 dan menandakan bahwa adanya
resiko infeksi karena faktor biologis (peningkatan leukosit) dan didukung pula data TTV
klien TD 140/80 mmHg, suhu 38 C.

Page | 44
4.2 Diagnosa
Pada kasus sama-sama ditemukan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen
cedera fisik (trauma). Pada kasus kami mengambil diagnose ini karena klien mengalami
kecelakaan lalu lintas dan terjadi patah tulang pada kaki kiri dan kanan. Klien telah
dilakukan pemasangan gips pada kaki. Pasca pemasangan gips pasien mengeluh nyeri
dan gatal pada area gips, nyeri seperti ditusuk-tusuk dengan skala 5 pada area gips yaitu
kaki kanan dan adanya nyeri tekan. Nyeri akut berhubungan dengan luka bekas operasi,
cedera pada jaringan yang ditandai dengan nyeri pada luka operasi, wajah meringis
menahan sakit, berhati-hati dalam melindungi ekstremitas yang patah. Pada sumber
literatur ini kemungkinan terjadi fraktur karena kecelakaan atau trauma lainnya sama
halnya dengan kasus.
Pada kasus dan sumber literature juga sama-sama ditemukan diagnosa keperawatan
tentang hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur
tulang karena pasca pemasangan gips klien seringkali meringis dan terlihat gelisah setiap
kali melakukan pergerakan di bagian kaki yang terpasang gips. klien meminta gipsnya
untuk dibuka saja, karena akan timbul kesakitan yang amat sangat apabila kakinya
digerakan sehingga pasien mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas dan
membutuhkan bantuan keluarganya untuk melakukan aktivitas. Sedangkan pada sumber
literatur Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskular,
imobilisasi tungkai yang ditandai dengan ketidak mampuan bergerak, tidak bisa
melakukan aktivitas, penurunan kekuatan otot, terpasang traksi seklet, fixasi external
karena terjadinya trauma dan menyebabkan nyeri serta keterbatasan untuk bergerak.
Pada kasus dan sumber literature juga sama-sama ditemukan diagnose keperawatan
tentang resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan integritas kulit dan trauma jaringan
karena terlihat adanya benjolan yang abnormal pada kaki klien, sehingga klien mengeluh
badan panas karena peningkatan suhu tubuh dan leukosit : 15.000 sebagai proses
terjadinya infeksi.
Pada kasus dan sumber literature tidak sama. Pada kasus ditemukan diagnose
keperawatan tentang gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit
sedangkan pada literature Gangguan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk,

Page | 45
fraktur terbuka, tindakan pembedahan untuk pemasangan traksi pent, skrup ditandai
dengan gangguan perlukaan di permukaan kulit, destruksi lapisan kulit atau jaringan,
keluhan nyeri, tekanan pada area yang sakit atau area sekitarnya. Pada kasus kami
mengambil diagnose ini karena klien mengatakan kaki yang di gips terasa gatal dan
meminta gipsnya untuk dibuka karena mengganggu kenyamanan klien selama di rawat
dan waktu tidur terganggu apabila klien mengeluh gatal di kaki yang terpasang gips
sehingga tampak klien menggaruk-garuk kakinya dan terlihat gelisah. Pada literature
gangguan rasa nyaman berhubungan dengan cedera dan fraktur karena terputusnya
kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa.

4.3 Intervensi Keperawatan


Pada sumber literature, intervensi pada diagnosa pertama yang ditegakkan nyeri akut
berhubungan dengan luka bekas operasi, cedera pada jaringan yang ditandai dengan nyeri pada
luka operasi, wajah meringis menahan sakit, berhati-hati dalam melindungi ekstremitas yang
patah Jelaskan tindakan yang akan diberikan pada pasien dengan rasional pasiien mengerti
terhadap yang dilakukan dan mau bekerjasama untuk mengatasi masalah pasien. Sedangkan
pada kasus, intervensi pad diagnosa pertama yang ditegakkan nyeri akut berhubungan dengan
agens cedera fisik (fraktur) yaitu pemberian analgesik : dengan Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas dan keparahan nyeri sebelum mengobati nyeri, cek perintah pengobatan meliputi obat,
dosis, dan frekuensi obat analgesik yang diresepkan, cek adanya riwayat alergi obat dan pilih
rute intravena daripada rute intra muskular, untuk injeksi pengobatan nyeri yang sering, jika
memungkinkan serta berikan kebutuhan kenyamanan dan aktivitas lain yang dapat membantu
relaksasi untuk memfasilitasi penurunan nyeri dengan rasional pemberian analgesik :

6) Untuk mengetahui lokasi, karakteristik, kualitas dan keparahan nyeri sebelum mengobati
nyeri
7) Untuk mengetahui perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan frekuensi obat analgesik
yang diresepkan
8) Untuk mengetahui adanya riwayat alergi obat
9) Untuk mempermudahkan dalam pemberian obat.

Page | 46
Agar kebutuhan kenyamanan dan aktifitas pasien dapat terpenuhi yang dapat membantu
relaksasi untuk memfasilitasi penurunan nyeri

tidak dibuat berdasarkan manajemen tindakan akan tetapi sesuai dengan diagnosa
keperawatan yang ada dan menggunakan rasional. Sementara pada kasus, intervensi dibuat
per manajemen tindakan dan sesuai dengan diagnosa keperawatan dan menggunakan
rasional. Sementara untuk tujuan dan kriteria hasil pada kasus diambil dari keluhan yang ada
dan sesuai dengan buku NIC dan NOC. Dan pada teori tujuan dan kriteria hasil
menggunakan data objektif dan data subjektif pasien.

Page | 47
BAB V
PENUTUP

5. 1 Kesimpulan

Menurut Muttaqin (2008) dalam buku yang berjudul Asuhan keperawatan


perioperatif, Konsep, Proses dan Aplikasi dijelaskan bahwa fraktur cruris adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada
tulang fibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya.

Pada pengkajian kasus ini, fraktur fibula terjadi pada seorang wanita yaitu usia 16 tahun
mengalami fraktur 1/3 proksimal fibula sinistra karena kecelakaan. Sesuai dengan sumber
literature fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada perempuan dan sering
berhubungan dengan olah raga, pekerjaan atau kecelakaan. Pada usia prevalensi cenderung
lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait
dengan perubahan hormone. Pada kasus dan sumber literature sama-sama ditemukan nyeri
akut yang disebabkan karena adanya nyeri tekan pada bagian area kaki akibat fraktur dan
terpasangnya gips dikaki.
Pada kasus dan sumber literature pemeriksan penunjang dapat dilakukan dengan
pemeriksaan laboratorium : Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur. Pemeriksaan
darah lengkap, dapat menunjukan tingkat kehilangan darah hingga cedera (pemeriksaan Hb
dan Ht). Nilai leukosit meningkat sesuai respon tubuh terhadap cedera bila jumlah leukosit
>10.000/mm3 menandakan adanya infeksi. Golongan darah, Dilakukan untuk persiapan
transfusi darah jika ada kehilangan darah yang bermakna akibat cedera atau tindakan
pembedahan. Pemeriksaan kimia darah, Untuk mengkaji ketidakseimbangan yang dapat
menimbulkan masalah pada saat operasi. Sedangkan pada kasus ditemukan hasil lab leukosit
15.000 dan menandakan bahwa adanya resiko infeksi karena faktor biologis (peningkatan
leukosit) dan didukung pula data TTV klien TD 140/80 mmHg, suhu 38 C.
Diagnosa keperawatan yang kamu temukan pada kasus ini adalah Nyeri akut
berhubungan dengan agens cedera fisik (fraktur), Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan
faktor biologis (peningkatan leukosit), Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan

Page | 48
kerusakan integritas struktur tulang, nyeri dan Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan
gejala terkait penyakit.
Intervensi keperawatan yang kami rencanakan berdasarkan dengan buku NIC dan NOC
dimana tujuan, kriteria hasil dan intervensi keperawatan yang kami buat disesuaikan dengan
kondisi dan kebutuhan klien.

5. 2 Saran
Dalam upaya meningkatkan asuhan keperawatan pada klien dengan Fraktur fibula
diperlukan usaha dari berbagai pihak, maka saran yang dapat kelompok sampaikan
diharapkan mahasiswa dapat terus belajar dan mampu memperkaya wawasan selama
masih pembelajara di perkuliahan. Mahasiswa diharapakan dapat menerapkan apa yang
sudah di pelajari dari perkuliahan. Untuk masyarakat luas diharapkan dapat menjaga
kesehatan.
Saran bagi institusi pendidikan diharapkan institusi dapat lebih memberikan
gambaran yang nyata antara teori yang ada dan kejadian yang nyata yang terdapat
dirumah sakit sehingga pada saat praktek mahasiswa mampu memahami segala kondisi
yang terjadi dirumah sakit dan mahasiswa mampu memahami penyaikit yang lebih jelas
dengan memperbanyak buku tentang asuhana keperawatan muskuloskeletal.
Bagi pembaca ataupun masyarakat luas Dilihat dari etiologinya fraktur tulang
paling sering terjadi akibat adanya trauma secara langsung maupun tidak langsung, maka
diharapkan pembaca untuk berhati-hati dalam melakukan segala aktifitas yang dapat
memicu terjadinya fraktur, serta pastikan memakai alat pelindung untuk mengurangi efek
trauma yang mungkin terjadi seperti fraktur fibula pada kasus ini.

Page | 49
DAFTAR PUSTAKA

Irwan, Muhammad. 2012. Askep Fraktur Tibia Fibula. Tersedia dalam


https://www.scribd.com/doc/82958682/askep-Fraktur-Tibia-Fibula di akses pada tanggal
21 April 2017
Muttaqin, Arif dan Sari Kumala. 2008. Asuhan Keperawatan Perioperatif, Konsep, Proses dan
Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.
Puspitasari, Cahyani Tri. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Tn. Y dengan Close Fraktur Cruris
(Tibia Fibula) 1/3 Distal Dextra di Ruang Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Moewardi Surakarta. Tersedia
Dalamhttp://eprints.ums.ac.id/22037/23/NASKAH_PUBLIKASI.pdf diakses pada tanggal 21
April 2017
Reksoprodjo.S. 2010. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah: Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta: Universitas Indonesia
Zen, Intang Sulistiani. 2015. Askep Fraktur Cruris. Tersedia dalam
https://www.scribd.com/document/328282257/ASKEP-FRAKTUR-CRURIS-docx diakses
pada tanggal 21 April 2017

Page | 50

Anda mungkin juga menyukai