Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

GENETIKA
Topik 6
Berangkai dan Pindah Silang

Disusun Oleh :
Asti Cahyaningtias
15304241023

PENDIDIKAN BIOLOGI INTERNASIONAL


JURUSAN PNDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
Topik 6
Berangkai dan Pindah Silang

I. Tujuan

Mengetahui terjadinya pindah silang secara imitasi.

II. Dasar Teori


Saat ini kita telah mengetahui bahwa banyaknya gen pada kacang ercis dan juga pada
setiap spesies organisme lainnya, jauh lebih banyak daripada jumlah kromosomnya. Artinya,
di dalam sebuah kromosom tertentu dapat dijumpai lebih dar sebuah gen. Gen-gen yang
terdapat pada kromosom yang sama dinamakan gen-gen yang berangkai (linkage genes),
sedang fenomenanya dinamakan berangkai (linkage) (Agus Hery Sutanto, 2011). Sedangkan
menurut Tim Genetika Jurdik Biologi FMIPA UNY (2012), berangkai atau linkage adalah
beberapa gen yang berbeda alelnya, seringkali terdapat bersama pada sebuah kromosom.
Fenomena berangkai pertama kali ditemukan pada percobaan dihibrid W. Bateson dan
R.C Punnet pada tahun 1906. Akan tetapi merekan tidak bisa membeikan interpretasi terhadap
hasil persilangan yang diperoleh. Baru sekitar 5 tahun kemudian seorang ahli genetika dan
embriologi dari Amerika Serikat, T.H Morgan, dapat menjelaskan mekanisme pewarisan gen-
gen berangkai pada lalat Drosophila melanogaster. Dari konsep mengenai berangkai ini
selanjutnya berkembang pengetahuan mengenai pindah silang (crossing over) dan pemetaan
kromosom, yang sebagian besar melibatkan karya Morgan dan mahasiswanya (Agus Hery
Sutanto, 2011).
Dua buah gen yang berangkai akan cenderung untuk tetap bersama-sama di dalam
gamet yang terbentuk. Akan tetapi diantara keduanya masih terdapat pula kemungkinan untuk
mengalami segregasi dan rekombinasi sehingga akan diperoleh kombinasi gen-gen seperti
yang dijumpai pada gamet tipe rekombinasi. Terjadinya segregasi dan rekombinasi dua buah
gen berangkai ini tidak lain karena mereka mengalami peristiwa yang dinamakan pindah silang
(crossing over) yaitu pertukaran materi genetik (gen) diantara kromosom-kromosom homolog
(Agus Hery Sutanto, 2011).
Peristiwa pindah silang, bersama-sama dengan pemilihan bebas (hukum Mendel III),
merupakan mekanisme penting yang mendasari pembentukan keanekaragaman genetik karena
kedua-duanya akan menghasilkan kombinasi baru di antara gen-gen yang terdapat pada
individu sebelumnya. Selanjutnya, seleksi alam akan bekerja untuk mempertahankan genotipe-
genotipe dengan kombinasi gen yang adaptif saja.

Tautan dapat terjadi pada kromosom tubuh maupun kromosom kelamin. Tautan pada
kromosom tubuh disebut tautan autosomal atau tautan non-kelamin. Sedangkan tautan kelamin
disebut juga tautan seks.
Gen-gen yang mengalami tautan pada satu kromosom tidak selalu bersama-sama pada
saat pembentukan gamet melalui pembelahan meiosis. Gen-gen yang tertaut tersebut dapat
mengalami pindah silang. Pindah silang (crossing over) adalah peristiwa pertukaran gen-gen
suatu kromatid dengan gen-gen kromatid homolognya (Suryo,2010).
Peristiwa pindah silang diikuti oleh patah dan melekatnya kromatid pada waktu profase
dalam pembelahan meiosis. Pindah silang mengakibatkan rekombinasi sehingga dihasilkan
kombinasi parental dan rekombinasi pada fenotipenya. Dalam menghitung presentase tipe
rekombinan di antara keturunan dapat digunakan unit peta, yaitu jarak antara gen-gen untuk
menyatakan posisi relatifnya pada suatu kromosom. Untuk menentukan unit peta antara gen-
gen, terlebih dahulu dihitung nilai pindah silang (NPS) = (jumlah tipe rekombinan / jumlah
individu seluruhnya) x 100% (Suryo,2010).

Peristiwa pindah silang akan menyebabkan terbentuknya gamet tipe rekombinasi yang
merupakan hasil pindah silang. Sementara itu, persentase gamet tipe rekombinasi sampai
dengan batas tertentu (lebih kurang 20%) memperlihatkan korelasi positif dengan jarak fisik
antara dua gen berangkai. Dengan demikian besarnya persentase pindah silang
menggambarkan jarak fisik antara dua gen berantai .

Pindah silang dibedakan menjadi dua yaitu:


1. Pindah silang tunggal merupakan pindah silang yang terjadi pada satu tempat. Dengan
terjadinya pindah silang ini akan terbentuk 4 macam gamet. Dua macam gamet memiliki
gen-gen yang sama dengan gen-gen yang dimiliki induk (parental), sehingga dinamakan
gamet tipe parental. Dua gamet lainnya merupakan gamet-gamet baru, yang terjadi akibat
adanya pindah silang. Gamet-gamet ini dinamakan gamet rekombinasi. Gamet tipe
parental dibentuk lebih banyak dibanding dengan tipe rekombinasi.
2. Pindah silang ganda merupakan pindah silang yang terjadi pada dua tempat. Jika pindah
silang ganda (double crossing over) berlangsung diantara dua buah gen yang terangkai,
maka terjadinya pindah silang ganda ini tidak akan tampak dalam fenotip, sebab gamet-
gamet yang dibentuk hanya dari tipe parental saja atau dari tipe rekombinasi atau tipe
parental dan tipe rekombinasi akibat pindah silang tunggal. Akan tetapi, misalkan diantara
gen A dan B masih ada gen ketiga, misalnya gen C, maka terjadinya pindah silang ganda
antara A dan B akan nampak (Suryo,2010).
Muller menegaskan bahwa suatu pindah silang yang terjadi pada suatu tempat tentu
menghambat terjadinya pindah silang lain yang berdekatan. Inilah yang dinamakan
interferensi. Untuk mencari besarnya interferensi harus dicari besarnya koefisien koinsidens
(KK) dahulu, yaitu perbandingan antara banyaknya pindah silang ganda yang sesungguhnya
dengan banyaknya pindah silang ganda yang diharapkan (Elrod & Stansfield, 2002).

III. Metode
a) Alat
1. Kamera
2. Kertas label
b) Bahan
Lilin lunak (malam)
c) Cara Kerja

Menyiapkan alat dan bahan

Membuat 2 pasang bentuk benang (strand) dari lilin lunak, masing-masing pasangan terdiri
dari 2 benang lilin dengan warna sama yang berbeda dengan pasangan lainnya. 2 pasang
bentuk benang ini menggambarkan 4 kromatid.

Menentukan lokasi sentromer pada kromatid tersebut, dengan lilin yang warnanya sama
(sentromer belum membelah)

Membuat konfigurasi terjadinya pindah silang sesuai dengan ketentuan berikut ini:
1. PS tunggal (2-3)
2. PS ganda (2-3, 2-3)
3. PS Ganda (1-3, 2-4)
4. PS Ganda (2-3, 2-4)
5. PS Ganda (2-3, 1-4)
6. PS Ganda (1-3, 2-4, 2-3)

IV. Hasil dan Pembahasan


Hasil

No Macam Pindah Gambar Kromosomdalam Gamet Persentase Gamet


Tipe Pindah Silang
Silang

1 PS tunggal (2-3) Gamet tipe pindah


silang = 50%
Gamet tipe Parental
= 50 %
Gamet tipe
Rekombinasi =
50%

2 PS ganda (2-3, 2-3) Gamet tipe pindah


silang = 50%
Gamet tipe Parental
= 50 %
Gamet tipe
Rekombinasi =
50%
3 PS ganda (1-3, 2-4) Gamet tipe pindah
silang = 100%
Gamet tipe Parental
=0%
Gamet tipe
Rekombinasi =
100%

4 PS ganda (2-3) (2-4) Gamet tipe pindah


silang = 75%
Gamet tipe Parental
= 25 %
Gamet tipe
Rekombinasi =
75%
5 PS ganda (2-3, 1-4) Gamet tipe pindah
silang = 100%
Gamet tipe Parental
=0%
Gamet tipe
Rekombinasi =
100%

6 PS ganda (1-3, 2-4, Gamet tipe pindah


2-3) silang = 100%
Gamet tipe Parental
= 0%
Gamet tipe
Rekombinasi =
100%
Praktikum kali ini bertopik Berangkai dan Pindah Silang. Praktikum ini bertujuan
untuk mengetahui terjadinya pindah silang secara imitasi. Praktikum ini dilakukan pada hari
Kamis, tanggal 13 April 2017 pada pukul 09.20-11.00 WIB bertempat di Laboratorium
Genetikan FMIPA UNY. Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah kamera
dan lilin lunak atau malam.

Cara kerja dalam praktikum ini adalah yang pertama menyiapkan alat dan
bahan.kemudian membuat dua pasang bentuk benang dari lilin lunak. Masing-masing pasangan
terdiri dari 2 buah benang dengan warna sama dan berbeda dengan pasangan lainnya. Plastisin
yang digunakan pada praktikum ini berwarna orange dan hijau. 2 pasangan ini dibuat untuk
menggambarkan 2 pasang kromatid. Selanjutnya menentukan lokasi sentromer pada kromatid
dengan lilin yang warnanya sama (sentromer belum membelah). Menempelkan label untuk
memberi kode pada benag kromatid. Kemudian membuat konfigurasi terjadinya pindah silang
sesuai dengan ketentuan yang diinginkan yaitu : PS tunggal (2-3), PS ganda (2-3, 2-3), PS Ganda (1-
3, 2-4), PS Ganda (2-3, 2-4), PS Ganda (2-3, 1-4), dan PS Ganda (1-3, 2-4, 2-3). Plastisin berwarna
orange keduanya di beri label huruf besar ABC , sedangkan yang berwarna hijau diberi huruf
kecil abc
1. Pindah silang tunggal (2-3)
Pindah silang ini dilakukan dengan menyilangkan secara tunggal kromosom nomor 2
dan 3. Nomor kromosom diurutkan dari atas ke bawah (nomor 1, 2, 3) seperti gambar
berikut.

Dengan dipindah silang antara kromosom 2 dan 3, kromosom-kromosom itu akan


menjadi seperti pada gambar berikut.

Kemudian setelah adanya pemisahan, maka akan terbentuk sentromer baru di setiap
kromosomnya seperti pada gambar berikut.
Pindah silang ini membentuk genotip ABC pada strand 1, Abc pada strand 2, aBC
pada strand 3, dan abc padaa strand 4.
Pindah silang (crossing over) adalah peristiwa penukaran segmen dari kromatid-
kromatid bukan saudara dari sepasang kromosom homolog. Pada praktikum ini kromatid 1
dan 2 merupakan sister kromatid atau sepasang kromatid dan kromatid 3 dan 4 juga
merupakan sister kromatid. Pada praktikum ini pindah silang tunggal terjadi pada kromatid
nomor 2 dan 3 yang mana mereka bukanlah sepasang kromatid atau sister kromatid. Pindah
silang tunggal ini menghasilkan 4 macam gamet, dimana 2 gamet sama dengan gamet
parentalnya (ABC dan abc) dan dua gamet lainnya merupakan gamet baru dari hasil
terjadinya pindah silang atau gamet tipe rekombinan (Abc dan aBC). Berdasarkan pindah
silang tunggal (2-3) diketahui persentase dari hasil gamet yang didapat yang sama dengan
ciri gamet parental sebesar 50 % dan gamet rekombinasi sebesar 50%.

2. Pindah Silang Ganda (2-3, 2-3)


Pada uji kedua yaitu dilakukan pindah silang ganda (2-3)(2-3) yang artinya pindah
silang antara kromosom 2 dan 3, kemudian dipindahsilangkan lagi antara kromosom 2 dan
3.

Kemudian disilangkan lagi antara kromosom 2 dan 3 menjadi sebagai berikut.

Hasilnya terbentuk seperti gambar di bawah ini.


Pindah silang ini menghasilkan 4 genotip yang berbeda yaitu : ABC pada strand 1,
AbC pada strand 2, aBc pada strand, dan abc pada strand 4.

Pindah silang ganda merupakan pindah silang yang terjadi pada lebih dari satu tempat.
Jika pindah silang ganda (double crossing over) berlangsung di antara dua buah gen yang
terangkai, maka terjadinya pindah silang ganda ini tidak akan tampak pada fenotip, sebab
gamet-gamet yang dibentuk hanya dari tipe parental saja atau dari tipe rekombinansi atau
tipe parental dan tipe rekombinansi akibat pindah silang tunggal. Akan tetapi, jika di antara
gen A dan gen B masih ada gen ketiga, misalnya gen C, maka terjadinya pindah silang ganda
antara gen A dan gen B akan tampak.
Pada pindah silang ganda (2,3) (2,3) ini kromatid nomor 2 dan 3 disilangkan dan
kemudian didapatkan hasil 4 genotip yang berbeda yaitu ABC pada strand 1, Abc pada
strand 2, aBC pada strand 3, dan abc padaa strand 4. Kemudian dari hasil pindah silang
pertama tersebut kemudian disilangkan kembali pada strand nomer 2 dan 3. Hasil dari
pindah silang yang kedua ini adalah ABC pada strand 1, AbC pada strand 2, aBc pada strand,
dan abc pada strand 4. Hasil dari pindah silang ganda ini adalah 2 buah gamet tipe parental
dan 2 buah gamet tipe rekombinan. Dengan demikian, hasil yang diperoleh 50% merupakan
tipe gamet parental dan 50% tipe gamet rekombinan.

3. PS ganda (1-3, 2-4)


Pada uji ketiga dipindah silang ganda pada kromosom (1-3)(2-4). Pindah silang
pertama dilakukan pada kromosom 1 dan 3, dan yang kedua pada kromosom 2 dan 4.
Menghasilkan kromosom seperti gambar berikut.
Pindah silang umumnya terjadi pada kromatid-kromatid tengah yaitu kromatid
nomor 2 dan 3 dari tetrad kromatid. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya pindah
silang pada kromatid-kromatid yang lain (Campbell, 2008: 318). Pada praktikum ini
kromatid nomor 1 disilangkan dengan kromatid nomor 3. Keduanya bukan sepasang
kromatid atau sister kromatid. Kemudian dari hasil pindah silang tersebut, kromatid nomor
2 dan 4 disilangkan. Hasil dari pindah silang tersebut adalah 4 gamet yang berbeda yaitu
Abc pada strand 1, Abc pada strand 2, aBC pada strand 3, dan abC pada strand 4. Dari hasil
pindah silang adalah 4 genotip dengan tipe rekombinan

4. Pindah Silang Ganda (2-3, 2-4)


Kegiatan keempat dilakukan pindah silang ganda pada kromosom (2-3)(2-4) yang
mana dipindah silang pertama pada kromosom 2 dan 3 kemudian dipindah silang lagi pada
kromosom 2 dan 4. Sehingga menghasilkan 4 gamet seperti gambar di bawah ini.
Pada pindah silang (2-3, 2-4), kromatid nomor 2 disilangkan dengan kromatid nomor
3, kemudian dari hasil tersebut kromatid nomor 2 disilangkan kembali dengan kromatid
nomor 4. Dari hasil pindah silang ini didapatkan 4 genotip yang berbeda yaitu ABC pada
strand 1, Abc pada strand 2, aBc pada strand 3, dan abC pada strand 4. Hasil pindah silang
ini terdiri dari 1 tipe parental dan 3 tipe rekombinan. Sehingga dapat diketahui hasil dari
pindah silang ganda pada kromosom (2-3)(2-4) memiliki 25% gamet dengan tipe parental
dan 75% gamet dengan tipe rekombinan.

5. Pindah Silang Ganda (2-3, 1-4)


Pada kegiatan kelima dilakukan pindah silang pada kromosom (2-3)(1-4). Kali ini
dilakukan uji silang yang melibatkan seluruh kromatid, yaitu pada pindah silang pertama
antara kromatid 2 dengan 3, selanjutnya pindah silang terjadi pada kromatid 1 dengan 4.

Pada pindah silang silang kali ini, kromatid nomor 2 disilangkan dengan kromatid
nomor 3, kemudian kromatid nomor 1 disilangkan dengan kromatid nomor 4. Hasil dari
pindah silang ini adalah 4 tipe gamet yang berbeda yaitu ABc pada strand 1, Abc pada strand
2, aBC pada strand 3, dan abC pada strand 4. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa
semua gamet hasil pindah silang pada (2-3, 1-4) adalah tipe rekombinan. Sehingga diketahui
bahwa hasilpindah silang ini memiliki persentase tipe rekombinan 100% sedangkan tipe
parentalnya 0%. Semakin banyak kromosom yang dipindah silangkan maka semakin tinggi
pula persentase gamet tipe rekombinannya.

6. Pindah Silang Ganda (1-3, 2-4, 2-3).


Kegiatan pindah silang keenam, dilakukan pindah silang ganda pada kromosom (1-
3)(2-4)(2-3). Pindah silang ini terjadi pada tiga tempat. Pindah silang pertama dilakukan
pada kromosom 1 dan 3, kemudian pada kromosom 2 dan 4 dan yang terakhir pindah silang
pada kromosom 2 dan 3.

Dari hasil pindah silang ini didapatkan 4 tipe gamet yang berbeda yaitu : AbcD pada
strand 1, Abcd pada strand 2, aBCD pada strand 3, dan abCd pada strand 4. Hasil pada
pindah silang ganda (1-3, 2-4, 2-3) adalah keempat gamet yang terbentuk merupakan tipe
rekombinan. Sehingga persentasenya tipe rekombinanya adalah 100% sedangkan persentase
tipe parentalnya 0%.

Berdasarkan hasil praktikum keeanam pindah silang di atas, dapat diketahui bahwa
pindah silang terjadi secara tunggal pada satu tempat atau ganda pada lebih dari satu tempat.
Pindah silang mengakibatkan terbentuknya gamet tipe pindah silang, yang dapat teridiri atas
tipe parental dan tipe rekombinan. Pindah silang ini terjadi pada pemisahan gamet secara
bebas pada saat meiosis.

V. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum pindah silang yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
pindah silang dapat menimbulkan berbagai variasi susunan gen dan genotip. Selain itu, persen
rekombinan pada pindah silang tunggal (2-3) dan pindah silang ganda (2-3 ; 2-3) adalah sebesar
50%. Pindah silang ganda (2-3 ; 2-4) sebesar 75%. Selanjutnya pada pindah silang ganda (1-3
; 2-4), pindah silang ganda (2-3 ; 1-4) dan pindah silang ganda (1-3 ; 2-4 ; 2-3) nilai persen
rekombinasi adalah sebesar 100%.

Pada peristiwa pindah silang tunggal dihasilkan tipe rekombinasi yang terjadi akibat
pindah silang sebesar 50% karena hanya melibatkan dua kromosom yang mengalami pindah
silang. Pada peristiwa pindah silang ganda dihasilkan tipe rekombinasi yang terjadi akibat
pindah silang sebesar 50%, 75% hingga 100% karena tidak hanya dua kromosom yang
mengalami pindah silang, tetapi sampai tiga atau emapat kromosom mengalami pindah silang.
Semakin banyak kromosom yang terlibat pindah silang, semakin besar tipe rekombinasi yang
terbentuk akibat pindah silang.

VI. Diskusi
1. Apa yang disebut dengan pindah silang?
Jawab: Peristiwa dimana gen-gen yang terangkai pada sebuah kromosom dengan jarak
yang berjauhan satu dengan lainnya, mengalami perubahan letak yang disebabkan karena
penukaran segmen dari kromatid-kromatid pada sepasang kromosom homolog.
2. Kapan peristiwa pindah silang itu terjadi? Mengapa bisa terjadi pindah silang?
Jawab: Pindah silang terjadi saat meiosis, pada tahap profase I, pascaduplikasi kromosom.
Pada profase I meiosis kedua kromosom homolog akan mengalami duplikasi menjadi
empat buah kormatid. Selanjutnya keempat kromatid ini akan membentuk sinapsis yang
dinamakan tetrad. Pada saat terbentuknya konfigurasi tetrad inilah pindah silang terjadi.
Pindah silang dapat terjadi karena gen-gen yang terangkai pada sebuah kromosom dengan
jarak yang berjauhan satu dengan lainnya, mengalami perubahan letak yang disebabkan
karena penukaran segmen dari kromatid-kromatid pada sepasang kromosom homolog.
3. Apakah pindah silang selalu menghasilkan tipe rekombinasi?
Jawab: Tidak. Pindah silang dapat menghasilkan tipe parental dan rekombinasi.
4. Kapan pindah silang itu akan menghasilkan gamet yang semuanya tipe parental dan kapan
semuanya tipe rekombinan?
Jawab: Pindah silang itu akan menghasilkan gamet yang semuanya tipe parental ketika
semua kromatid dalam satu sister kromatid mengalami pindah silang, sedangkan pindah
silang akan menghasilkan gamet yang semuanya tipe rekombinan ketika tidak ada
kromatid yang dalam satu sister kromatid yang meangalami pindah silang.
VII. Daftar Pustaka
Suryo. 2010. Genetika untuk Strata1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Henuhili, Victoria dan Suratsih. 2003. Genetika Common Book Edisi Revisi. FMIPA UNY.

Susanto, Agus Herry. 2011. Genetika. Yogyakarta: Graha Ilmu.


Lampiran

Macam pindah silang Hasil Pindah Silang

P S Tunggal (2-3)

P s Ganda (2-3,2-3)

P S Ganda (1-3, 2-4)

P S Ganda (2-3, 2-4)

P S Ganda (2-3,1-4)

P S Ganda (1-3, 2-4, 2-3)