Anda di halaman 1dari 7

Makalah Kasus Penyelewengan Pajak Oleh Dhana Widyatmika

A. Latar Belakang Masalah


Pajak adalah beban bagi perusahaan, sehingga wajar jika tidak satupun

perusahaan (wajib pajak) yang dengan senang hati dan suka rela membayar pajak.

Mengingat pajak adalah beban yang akan mengurangi laba bersih perusahaan- maka

perusahaan akan berupaya semaksimal mungkin agar dapat membayar pajak sekecil

mungkin dan berupaya untuk menghindari pajak. Namun demikian penghindaran pajak

harus dilakukan dengan cara-cara yang legal agar tidak merugikan perusahaan di

kemudian hari. Penghindaran pajak dengan cara illegal adalah penggelapan pajak. Hal ini

perbuatan kriminal, karena menyalahi aturan yang berlaku.


Pajak merupakan sumber penerimaan Negara disamping penerimaan dari sumber

lain. Dengan posisi yang sedemikian penting itu pajak merupakan penerimaan strategis

yang harus dikelola dengan baik oleh negara. Dalam struktur keuangan Negara tugas dan

fungsi penerimaan pajak dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pajak dibawah Departemen

Keuangan Republik Indonesia.


Pemerintahan dinilai terlalu menyederhanakan kasus mafia pajak yang melibatkan

Gayus HP Tambunan. Akibatnya, pengungkapan kasusnya tidak tuntas dan penegakan

hukumnya juga tidak maksimal. Oleh sebab itu, tak heran jika di saat kasus Gayus masih

ditangani, muncul lagi kasus Dhana Widyatmika. Dhana adalah PNS di Direktorat

Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, yang punya uang puluhan miliar di rekeningnya.

membiarkan mafia pajak terus merajalela sudah melahirkan kesimpulan bahwa

pemerintahan ini tidak serius memberantas korupsi.


Pencurian pajak dalam jumlah miliaran rupiah tidak mungkin berani dilakukan

seorang petugas eselon rendah seperti Dhana. Tak mungkin pula atasannya tidak tahu

penggelapan nilai pajak yang dilakukan bawahannya itu. Jadi, memang ada oknum
pemerintah yang diuntungkan dari pembiaran terhadap eksistensi mafia pajak. Maka itu

masih banyak lagi oknum-oknum yang terlibat dalam kasus-kasus penggelapan pajak

lainnya yang masih belum terungkapkan.


Dalam kasus-kasus lain yang merupakan kasus penggelapan pajak, pemerintah

harus sesrius dalam menanganinya, sehingga tidak ada lagi oknum-oknum yang berani

melakukan penggelapan pajak, seperti yang dilakukan Dhana Widyatmika.


Dalam hal ini, makalah ini akan membahas tentang kasus pajak yang dilakukan

oleh Dhana Widyatmika. Dhana merupakan salah satu pegawai yang bekerja di kantor

pajak dan melakukan penggelapan uang atau melakukan penyelewengan pajak. Dhana

Widyatmika ini termasuk pegawai muda, yang berani melakukan kasus penggepalan

pajak ini.
B. Perumusan Masalah
1. Siapakah Dhana Widyatmika itu?
2. Berapakah kerugian yang diderita akibat kasus ini?
3. Bukti-bukti apa saja yang diungkapkan dalam kasus ini?
4. Siapa saja yang terkait dalam kasus ini?
5. Penyelesaian apa yang dilakukan pemerintah terhadap kasus ini?
C. Pembahasan Masalah

Sosok Dhana Widyatmika, seorang mantan PNS Ditjen Pajak, yang menjadi

tersangka kasus korupsi yang telah ditetapkan oleh kejaksaan agung yang

pemberitaannya kini mengemuka di media massa. Dhana Widyatmika disebut-sebut

sebagai The Next Gayus, karena memiliki rekening dibeberapa bank yang jumlahnya

miliaran. Identitas Dhana Widyatmika sendiri terungkap dari informasi Kabag Humas

dan TU Ditjen Imigrasi Maryoto Sumadi. Ketika wartawan detikFinance

mengkonfirmasikan mengenai identitas yang sebelumnya disingkat dengan DW, maka

Maryoto Sumadi membenarkan nama Dhana Widyatmika masuk dalam daftar cekal di

imigrasi.
Berdasarkan laporan yang dilansir oleh DetikFinance, menyebutkan bahwa Dhana

Widyatmika merupakan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Setelah

melanjutkan program sarjana, dia meneruskan studi pasca sarjana di Program Studi Ilmu

Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Setelah

lulus STAN, Dhana mulai bekerja di Ditjen Pajak pada tahun 1996. Karirnya berkembang

terus. Pada 2011, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pajak (Dirjen

Pajak) Dhana Widyatmika menjabat sebagai Account Representative pada Kantor

Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam.

Dhana Widyatmika merupakan PNS golongan III/c dengan pangkat penata. Ia kini

berusia 37 tahun. Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Fuad Rahmany mengungkapkan

'The Next Gayus' ini tidak lagi menjadi pegawai pajak. Karena, atas keinginannya sendiri

Dhana Widyatmika ini meminta pindah ke instansi lain. Mantan pegawai Direktorat

Jenderal Pajak Dhana Widyatmika dituntut hukuman 12 tahun penjara untuk tiga

perbuatan pidana oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Agung. Selain hukuman

penjara, majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi diminta menjatuhi hukuman

membayar denda Rp 1 miliar dan subsider kurungan enam bulan. Dhana dianggap

terbukti melakukan tiga perbuatan pidana.

Pertama, tindak pidana korupsi menerima gratifikasi berupa uang senilai Rp 2,75

miliar. Perbuatan pertama Dhana tersebut diuraikan jaksa dalam dakwaan primer dan

subsider. Dakwaan primer memuat Pasal 12 B ayat 1 Undang-Undang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP, sedangkan dakwaan subsidernya

memuat Pasal 11 undang-undang yang sama. Menurut jaksa, pada 11 Januari 2006,

Dhana menerima uang dari Herly Isdiharsono senilai Rp 3,4 miliar yang ditransfer ke
rekening Bank Mandiri Cabang Nindya Karya, Jakarta. Penerimaan uang 3,4 miliar itu

berkaitan dengan penerimaan melawan hukum, yaitu mengurangi kewajiban pajak PT

Mutiara Virgo. Kemudian, sebanyak Rp 1,4 miliar dari uang tersebut digunakan Dhana

untuk membayar rumah atas nama Herly Isdiharsono. Sedangkan sisanya, Rp 2 miliar,

dipakai untuk kepentingan pribadi Dhana. Adapun Herly ikut ditetapkan sebagai

tersangka kasus ini. Atas bantuan para pegawai pajak tersebut, PT Mutiara Virgo hanya

membayar Rp 30 miliar dari nilai Rp 128 miliar yang seharusnya. Adapun total uang

yang dikucurkan PT Mutiara Virgo melalui direkturnya, Jhonny Basuki, ke para pegawai

pajak tersebut mencapai Rp 20,8 miliar. Kejaksaan Agung pun menetapkan Jhonny

sebagai tersangka kasus ini. Kemudian, pada 10 Oktober 2007, Dhana kembali menerima

uang gratifikasi senilai Rp 750 juta dari pencairan cek perjalanan di Bank Mandiri

Cabang Nindya Karya.

Kedua, Dhana terbukti melakukan tindakan korupsi yang merugikan negara

senilai Rp 1,2 miliar. Dhana terbukti melakukan atau turut serta melakukan perbuatan

melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang

dapat merugikan keuangan negara. Dakwaan primer memuat Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal

18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Subsider, memuat Pasal 3

juncto Pasal 18 UU Tipikor. Atau, dakwaan kedua, dua, primer yang memuat Pasal 12

Huruf e Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan subsidernya

memuat Pasal 12 huruf g undang-undang yang sama. Menurut tim JPU Kejaksaan Agung,

Dhana bersama-sama dengan Salman Magfiron sengaja menggunakan data eksternal

sebagai dasar perhitungan pajak PT Kornet Trans Utama, sehingga pajak yang harus

dibayarkan perusahaan tersebut menjadi lebih tinggi. Dhana dan Salman pun
mengadakan pertemuan dengan Direktur PT Kornet Trans Utama, Lee Jung Ho atau Mr

Leo, yang intinya menawarkan bantuan untuk mengurangi nilai pajak yang harus

dibayarkan perusahaan tersebut dengan meminta imbalan Rp 1 miliar. Namun,

permintaan imbalan tersebut diacuhkan PT Kornet. Perusahaan itu kemudian mengajukan

keberatan melalui Pengadilan Pajak yang hasilnya memenangkan PT Kornet. Atas

kemenangan perusahaan tersebut, Dhana dianggap merugikan negara Rp 1,2 miliar atau

paling setidak-tidaknya Rp 241.000.

Ketiga, terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang, sebagaimana yang

dimaksud dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Menurut jaksa, Dhana menerima uang

dari tindak pidana korupsi yang selanjutnya secara bertahap ditransaksikan dengan

maksud untuk menyembunyikan asal-usul hartanya. Hal tersebut, kata Jaksa, dilakukan

Dhana dengan sejumlah cara.

Cara pertama, dengan transaksi perbankan secara bertahap. Dhana memasukkan

uang yang dimilikinya ke berbagai rekening, di antaranya, Bank CIMB Niaga Cabang

Jakarta sekitar Rp 4 miliar, Bank HSBC Cabang Jakarta Kelapa Gading sekitar Rp 2,6

miliar, Bank Standard Chartered sekitar 271.000 dollar AS, Bank Mandiri Cabang Imam

Bonjol Rp 474.000, CIMB Niaga Jakarta Sudirman sebesar Rp 54 juta dan Rp 30.000

dollar AS, kemudian Bank BCA Cabang Kalimalang sekitar Rp 4,1 miliar.

Cara kedua, dengan membelanjakan uang yang diduga berasal dari tindak pidana

korupsi tersebut untuk membeli logam mulia seberat 1.100 gram yang kemudian

disimpan dalam safe deposite box Bank Mandiri Cabang Mandiri Plaza, Jakarta.
Cara ketiga, membelanjakan uangnya untuk membeli tanah dan properti.

Keempat, menyembunyikan uang dalam beberapa mata uang asing. Kelima, membeli

barang-barang berharga. Keenam, membeli kendaraan bermotor uang disembunyikan

dengan cara seolah-olah sebagai barang dagangan PT Mitra Modern Mobilindo88,

menginvestasikan hartanya pada bidang properti.

Sebelumnya, dalam dakwaan, Dhana terancam maksimal 20 tahun penjara. Jaksa

mengatakan, terdapat hal-hal yang memberatkan dan meringankan Dhana. Adapun hal

yang meringakan karena berusia relatif muda sehingga diharapkan memperbaiki

perbuatan. Dhana akan mengajukan nota pembelaan atau pleidoi. Dhana Widyatmika

akan mengajukan sendiri dan penasihat hukum juga akan mengajukan sendiri. Majelis

hakim memberikan waktu satu minggu untuk mempersiapkan pleidoi. Sidang lanjutan

akan dilaksanakan Senin 29 Oktober 2012.

D. Kesimpulan

Seharusnya kasus sebelumnya seperti kasus Gayus, sudah menjadi pelajaran bagi

Indonesia bahwa lemahnya perhatian yang dilakukan pihak yang berwenang terhadap

kasus pajak sebelumnya. Kasus pajak ini bisa mencoret nama baik pegawai pajak lain

yang tidak melakukan penggelapan pajak seperti yang dilakukan Gayus Tambunan dan

Dhana Widyatmika. Tidak semua pegawai pajak melakukan hal yang sama seperti yang

dilakukan para penggelap pajak yang disebut kan di atas.

Kasus yang dilakukan Dhana ini, sangat merugikan Negara Indonesia. Kasus ini

masih baru, sehingga diharapkan kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita atau

bagi pemeriksa agar dapat memperhatikan orang-orang yang mencurigakan melakukan


penggelapan. Diharapkan kasus penggelapan lain, diharapkan dapat ditindaklanjuti

dengan cepat tanpa menunggu lama.

Atas kasus Dhana, Kejagung menetapkan empat orang tersangka. Herly

Isdiharsono, rekan Dhana di PT Mitra Modern Mobilindo dan Johny Basuki, wajib pajak

PT Mutiara Virgo yang sempat buron. Kemudian Firman dan Salman Maghfiron, atasan

dan bawahan Dhana di KPP Pancoran I saat menangani PT Kornet Trans Utama.
Kasus skandal pajak juga menyebut nama Gayus Halomoan Partahanan

Tambunan. Gayus diperiksa Kejaksaan Agung Republik Indonesia saksi di Lembaga

Pemasyarakatan Cipinang atas kasus korupsi dan pencucian uang, Dhana Widyatmika

Merthana. Kejagung menilai ada konspirasi antara mantan pegawai Ditjen pajak Gayus

Tambunan dan Dhana Widyatmika Mertahana, dengan wajib pajak PT Kornet Trans

Utama (KTU). Negara dinyatakan kalah, usai PT KTU menang di pengadilan banding.

Sampai saat ini kasus Dhana masih berlanjut.