Anda di halaman 1dari 126

UNIVERSITAS INDONESIA

APLIKASI COMFORT THEORY KOLCABA


PADA ANAK DENGAN STOMA YANG MENGALAMI
MASALAH INTEGRITAS KULIT
DI RUANG RAWAT BEDAH ANAK (BCh)
RSUPN Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA

KARYA ILMIAH AKHIR

NETI MUSTIKAWATI
1106043072

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATANANAK
DEPOK, JULI 2014

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

APLIKASI COMFORT THEORY KOLCABA


PADA ANAK DENGAN STOMA YANG MENGALAMI
MASALAH INTEGRITAS KULIT
DI RUANG RAWAT BEDAH ANAK (BCh)
RSUPN Dr. CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA

KARYA ILMIAH AKHIR

Disusun untuk memenuhi tugas akhir program profesi spesialis keperawatan anak

NETI MUSTIKAWATI
1106043072

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATANANAK
DEPOK, JULI 2014

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014
Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014
Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
karya ilmiah akhir ini yang berjudul Aplikasi Comfort Theory Kolcaba pada
Anak dengan Stoma yang Mengalami Masalah Integritas Kulit di Ruang Rawat
Bedah Anak (BCh) RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Karya ilmiah
akhir ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Ners Spesialis
Keperawatan Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Karya ilmiah akhir ini dapat penulis susun dengan baik, berkat bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu pada kesempatan ini, penulis juga
menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Dr. Nani Nurhaeni, S.Kp., MN., selaku supervisor utama yang telah
meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk memberikan bimbingan selama
penyusunan karya ilmiah akhir ini.
2. Siti Chodidjah, SKp., MN, selaku supervisor yang juga telah meluangkan
waktu, pikiran, dan tenaga untuk memberikan bimbingan selama penyusunan
karya ilmiah akhir ini.
3. Dra. Juniati Sahar, SKp., M.App., PhD. selaku Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia.
4. Segenap dosen dan staf Program Ners Spesialis Keperawatan Anak di
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
5. Seluruh keluargaku tercinta yang selalu memberikan dukungan,beserta semua
pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini.
Penulis berharap semoga Allah SWT selalu melimpahkan pahala atas segala
kebaikan dan bantuan yang telah diberikan.

Depok, Juli 2014

Penulis

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATANANAK
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

Karya Ilmiah Akhir, Juli 2014


Neti Mustikawati

Aplikasi Comfort Theory Kolcaba pada Anak dengan Stoma yang Mengalami
Masalah Integritas Kulit di Ruang Rawat Bedah Anak (BCh) RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta

vii + 57 halaman + 3 gambar + 7 lampiran

Abstrak

Karya Ilmiah Akhir ini memberikan gambaran tentang pelaksanaan Program


Residensi Ners Spesialis Keperawatan Anak dalam bentuk kegiatan praktik
residensi 1 dan 2. Karya Ilmiah Akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran
aplikasi teori keperawatan Comfort Theory dari Katharine Kolcaba pada asuhan
keperawatan anak dengan stoma dan pencapaian kompetensi baik sebagai pemberi
asuhan, advocator, conselor, educator, colaborator, dan change agent selama
praktik residensi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada anak dengan
stoma adalah adanya kerusakan kulit peristoma. Masalah integritas kulit
merupakan masalah keperawatan yang sering dijumpai pada anak dengan stoma
sebagai akibat dari adanya kontak kulit dengan feses. Masalah integritas kulit
dapat bersifat aktual maupun risiko seperti yang ditemukan pada lima kasus
kelolaan. Tiga kategori intervensi keperawatan berdasarkan comfort theory telah
diberikan untuk mengatasi masalah integritas kulit. Hasil evaluasi pada akhir
perawatan menunjukkan bahwa tidak semua masalah integritas kulit ini dapat
teratasi. Masih dibutuhkan banyak dukungan agar intervensi keperawatan dapat
dilaksanakan secara optimal guna mencegah dan mengatasi masalah integritas
kulit pada anak dengan stoma agar kebutuhan klien akan kenyamanan terpenuhi.

Kata kunci : integritas kulit, stoma, comfort theory


Daftar Pustaka : 19 (2006-2013)

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


UNIVERSITY OF INDONESIA
SPECIALIST PEDIATRIC NERS PROGRAM
FACULTY OF NURSING

Final Assignment, July 2014


Neti Mustikawati

The Application of Kolcabas "Comfort Theory" among Children with Stoma


Who Have Skin Integrity Problems in Pediatric Surgery Ward (BCh) RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo Jakarta

vii + 57 pages + 3 picture + 7 enclosure

Abstract

Final assignment provides an overview about the implementation of the


Residency Specialist Pediatric Ners Program in the form of practical activities
residency 1 and 2. The aims from this final assignment is to provide an overview
the application of nursing theory "Comfort Theory" Katharine Kolcaba on
nursing care of children with a stoma and the achievement of competence well as
caregivers, advocator, counselor, educator, colaborator, and change agent during
practice residency. One of the stoma complications is periostomal skin damage
that can occur among pediatric patients. The skin integrity is a common problem
in children with a stoma as a result of stool contamination. Skin integrity
problems can be actual or risk such as those found in five cases managed. Three
categories of nursing interventions based on comfort theory has been given to
solve the skin integrity problems. There are five pediatric patients with stoma
were included in this study. The result of the study showed that not all of the skin
integrity problems could be solved. In order to prevent and overcome of the skin
integrity problem in children with stoma, a good quality and supports of the
nursing interventions are needed that affects in fulfill of comfort needs.

Key word : skin integrity, stoma, comfort theory


References : 19 (2006-2013)

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .................. ii
HALAMAN PERSETUJUAN ................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv
KATA PENGANTAR ....... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................... vi
ABSTRAK ..................................................................................................... vii
ABSTRACT ................................................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................. ix
DAFTAR GAMBAR ......... x
DAFTAR LAMPIRAN .......... xi

1. PENDAHULUAN .......... 1
1.1 Latar Belakang ........................ 1
1.2 Tujuan ......................... 5
1.3 Sistemetika Penulisan ............. 5

2. APLIKASI TEORI KEPERAWATAN PADA ASUHAN


KEPERAWATAN ............... 7
2.1 Gambaran Kasus ..................................................... 7
2.2 Tinjauan Teoritis ......................................... 14
2.3 Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses
Keperawatan ....................................................................................... 24
2.4 Aplikasi Teori Keperawatan pada Kasus Terpilih .............................. 28

3. PENCAPAIAN KOMPETENSI ............................................................ 40


3.1 Target Kompetensi Ners Spesialis Keperawatan Anak ....................... 40
3.2 Peran Ners Spesialis Keperawatan Anak ............................................ 42

4. PEMBAHASAN...................................................................................... 45
4.1 Penerapan Teori Keperawatan Comfort Theory Katharine
Kolcaba dalam Asuhan Keperawatan Anak dengan Stoma yang
Mengalami Masalah Integritas Kulit .................................................. 45
4.2 Kendala yang Ditemukan dalam Penerapan Teori Keperawatan
Comfort Theory Katharine Kolcaba .............................................. 50
4.3 Praktik Spesialis Keperawatan Anak dalam Pencapaian Target
Kompetensi ........................................................................................ 51

5. SIMPULAN SARAN.............................................................................. 55
5.1 Simpulan ............................................................................................. 55
5.2 Saran ................................................................................................... 56

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Kulit ............................................................................... 15


Gambar 2.2 Taxonomic structure of comfort .................................................... 25
Gambar 2.3 Concepts in the Comfort Theory ................................................... 26

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kontrak belajar residensi keperawatan anak 1


Lampiran 2 : Kontrak belajar residensi keperawatan anak 2
Lampiran 3 : Kasus kelolaan 3
Lampiran 4 : Laporan hasil proyek inovasi di ruang BCh RSCM

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kulit merupakan organ tubuh yang paling luas dan memiliki berbagai macam
fungsi yang penting dalam mempertahankan kesehatan dan melindungi individu
dari cedera. Kulit tersusun atas 3 lapisan mulai dari lapisan terluar yaitu lapisan
epidermis, kemudian di bawahnya terdapat lapisan dermis, dan subdermis
(subkutan) merupakan lapisan paling bawah. Kulit yang normal (terjaga
integritasnya) sangat dibutuhkan agar kulit mampu menjalankan fungsinya,
sehingga mempertahankan integritas kulit merupakan hal yang harus mendapat
perhatian perawat. Fungsi keperawatan yang penting adalah mempertahankan
integritas kulit dan meningkatkan penyembuhan luka (Kozier, 2010).

Integritas kulit merupakan keutuhan kulit, yaitu kulit yang normal dan tidak
terdapat luka pada kulit. Penampilan kulit dan integritas kulit dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi
penampilan kulit dan integritas kulit diantaranya adalah genetik, usia, dan status
kesehatan individu, sedangkan faktor eksternal adalah aktivitas. Kerusakan
integritas kulit merupakan sebuah ancaman bagi klien lansia, klien yang
mengalami keterbatasan fisik, penyakit kronik, trauma, dan klien yang menjalani
prosedur invasif (Kozier, 2010).

Prosedur invasif merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kerusakan


integritas kulit. Salah satu contoh dari prosedur invasif adalah adanya tindakan
pembedahan yang dilakukan sebagai bagian dari penatalaksanaan terapeutik pada
suatu penyakit tertentu, dimana prosedur ini pada akhirnya dapat mempengaruhi
integritas kulit. Pembedahan dilakukan dengan cara harus melukai jaringan tubuh
individu, dimana hal ini merupakan tindakan traumatis terhadap kulit. Luka yang
timbul akibat dari adanya prosedur pembedahan termasuk dalam luka yang
disengaja dan dapat diklasifikasikan sebagai luka bersih-terkontaminasi (Kozier,
2010).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Prosedur pembedahan sebagai salah satu bagian dari penatalaksanaan terapeutik
sering dilakukan pada anak yang mengalami penyakit/kelainan gastrointestinal
dan saluran genitourinaria. Salah satu prosedur pembedahan yang sering
dilakukan adalah prosedur ostomi, yaitu pembedahan yang dilakukan untuk
membuat stoma. Pembuatan stoma (ostomi) dilakukan dengan tujuan untuk
mengalihkan aliran feses atau urin. Pembuatan stoma sering dilakukan pada anak
dengan kasus penyakit seperti malformasi rektal, hirschprung, dan kondisi lain
yang membutuhkan adanya stoma. Stoma adalah lubang terbuka dari suatu saluran
berongga yang menghubungkan saluran tersebut dengan permukaan kulit (Grace
& Borley, 2007). Secara umum terdapat 2 tipe stoma, yaitu stoma feses dan stoma
urin. Stoma feses dapat berupa kolostomi, ileostomi, jejunostomi atau
duodenostomi. Sedangkan untuk stoma urin atau dikenal dengan istilah urostomi
dapat berupa vesikostomi, ureterostomi, dan nephrostomi (American Pediatric
Surgical Nurses Association/APSNA, 2008).

Hidup dengan stoma akan mengubah pengalaman hidup individu. Perubahan ini
juga akan dialami oleh anak yang hidup dengan stoma beserta keluarganya.
Adanya stoma pada abdomen anak dapat menimbulkan berbagai masalah.
Komplikasi yang sering terjadi pada perawatan stoma diantaranya adalah laserasi
pada stoma, terpisahnya jaringan mukokutaneus, nekrosis stoma, obstruksi, hernia
peristoma, kerusakan kulit peristoma, infeksi, prolaps, dan retraksi pada stoma
(APSNA, 2008).

Salah satu dari komplikasi pada stoma yang telah disebutkan di atas adalah
adanya kerusakan kulit peristoma. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
kerusakan kulit peristoma, diantaranya adalah adanya kontak feses dengan kulit
dalam jangka waktu yang cukup lama, adanya alergi kulit terhadap perekat
kantong stoma, kondisi kulit yang mengalami kelebihan kelembaban karena
selalu dalam kondisi basah, ditambah lagi dengan adanya gesekan pada kulit
(Jordan & Christian, 2013).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Rata-rata angka kejadian komplikasi kulit peristoma yang dilaporkan adalah
sekitar 10% sampai 70%. Sebuah studi pada tahun 2010 yang melibatkan 89
pasien selama 1 tahun setelah pembedahan ostomi, 50% dari pasien pernah
mengalami komplikasi kulit peristoma (Jordan & Christian, 2013). Berdasarkan
pengalaman residen selama melakukan praktik residensi di ruang BCh RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta didapatkan data bahwa rata-rata setiap hari ada
sekitar 5 pasien anak yang dirawat dengan stoma. Berdasarkan pelaksanaan
proyek inovasi yang telah dilakukan oleh residen tentang aplikasi pengkajian kulit
peristoma dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool didapatkan hasil bahwa
dari dari 9 pasien anak dengan stoma ada 4 pasien yang mengalami komplikasi
kulit peristoma dengan skor DET masing-masing berkisar antara 2 sampai 3 yang
termasuk dalam komplikasi ringan.

Komplikasi yang terjadi pada kulit peristoma ini akan menimbulkan masalah baru
bagi anak, diantaranya adalah munculnya rasa nyeri akibat adanya iritasi pada
kulit peristoma yang menimbulkan ketidaknyaman. Ketidaknyamanan ini
mengakibatkan anak rewel, anak menjadi takut bila akan dilakukan perawatan
stoma. Kondisi ini dapat memunculkan stress dan trauma yang dapat dialami oleh
anak (Jordan & Christian, 2013).

Pemberian asuhan keperawatan pada anak, tidak terlepas dari filosofi keperawatan
anak. Asuhan yang berpusat pada keluarga (family centered care) dan asuhan
yang tidak menimbulkan trauma (atraumatic care) merupakan filosofi dalam
keperawatan anak. Dalam asuhan berpusat pada keluarga ada dua konsep dasar
yaitu memampukan dan memberdayakan keluarga. Sedangkan dalam atraumatic
care tujuan utamanya adalah jangan melukai. Tujuan utama ini dapat dicapai
dengan 3 prinsip yaitu : mencegah atau meminimalkan pemisahan anak dari
keluarga, meningkatkan rasa kendali, dan mencegah atau meminimalkan nyeri dan
cedera pada tubuh (Wong, Hockenberry-Eaton,Wilson,Winkelstein, & Schwartz,
2008).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Teori keperawatan comfort theory dari Katherine Kolcaba yang berkaitan
dengan kebutuhan pasien akan kenyamanan sangat sesuai untuk diaplikasikan
pada asuhan keperawatan pada klien yang mengalami masalah kerusakan
integritas kulit. Kolcaba (1994, 2001, 2003 dalam Kolcaba, 2005) mendefinisikan
kenyamanan adalah suatu keadaan yang mendesak dan diperkuat melalui
kebutuhan manusia yang dimiliki untuk meringankan (relief), memudahkan
(ease), dan transendensi (transcendence) yang ditujukan pada empat konteks
pengalaman (fisik, psikospiritual, sosiokultural, dan lingkungan). Comfort theory
telah banyak diujicobakan dan didukung dalam berbagai populasi pasien, seperti
pada wanita yang menderita kanker payudara stadium awal yang akan menjalani
radioterapi (Kolcaba & Fox, 1999 dalam Kolcaba, 2005).

Anak dengan stoma yang mengalami masalah kerusakan integritas kulit akan
mengalami ketidaknyamanan dalam konteks fisik karena keutuhan jaringan kulit
telah mengalami kerusakan. Dibutuhkan tindakan untuk meningkatkan
kenyamanan melalui intervensi keperawatan yang terdiri dari tiga kategori yaitu:
(a) standard comfort interventions, untuk menjaga homeostasis dan mengontrol
nyeri; (b) coaching, untuk mengurangi kecemasan, memberikan jaminan dan
informasi, menumbuhkan harapan, mendengarkan, dan membantu rencana
pemulihan dan (c) comfort food for the soul, yaitu hal-hal tambahan yang lebih
baik yang bisa dilakukan oleh perawat untuk membuat anak-anak / keluarga
merasa diperhatikan dan dikuatkan, seperti pijat/massage atau imajinasi terpimpin
/guided imagery (Kolcaba, 2005).

Pemberian intervensi pada anak dengan stoma yang mengalami masalah integritas
kulit dapat berupa standard comfort interventions seperti mengkaji kondisi stoma
dan kulit peristoma, melakukan perawatan stoma, pemberian obat untuk
mengatasi masalah integritas kulit. Coaching dengan memberikan edukasi kepada
keluarga tentang perawatan stoma. Comfort food for the soul dengan mengajak
klien bermain.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis merasa
tertarik untuk menerapkan teori keperawatan comfort theory dari Katherine
Kolcaba dalam asuhan keperawatan pada klien anak dengan stoma yang
mengalami masalah integritas kulit di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Untuk memberikan gambaran aplikasi teori keperawatan Comfort Theory
Katharine Kolcaba pada klien anak dengan stoma yang mengalami masalah
integritas kulit di ruang rawat bedah anak (BCh) RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta.
1.2.2 Tujuan khusus
1.2.2.1 Memberikan gambaran asuhan keperawatan pada klien anak dengan
masalah integritas kulit dan analisis teori yang diterapkan.
1.2.2.2 Memberikan gambaran pencapaian kompetensi dan peran perawat
sebagai praktisi keperawatan baik sebagai pemberi asuhan, advocator,
conselor, educator, colaborator, dan change agent dalam memberikan
asuhan keperawatan pada klien anak dengan masalah integritas kulit di
ruang rawat bedah anak (BCh) RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta.
1.2.2.3 Membahas kesenjangan atau kendala yang ditemui di lapangan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien anak dengan masalah
integritas kulit dengan menerapkan teori keperawatan Comfort Theory
Katharine Kolcaba.

1.3 Sistematika penulisan


Karya ilmiah akhir ini terdiri dari 5 bab dengan sistematika penyusunan sebagai
berikut: bab 1 berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan dan
sistematika penulisan. Bab 2 berisi aplikasi teori keperawatan dalam praktik
meliputi gambaran kasus, tinjauan teoritis, integrasi teori dan konsep keperawatan
dalam proses keperawatan, aplikasi teori keperawatan pada kasus terpilih. Bab 3

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


menjelaskan tentang pencapaian kompetensi selama pelaksanaan praktik residensi
ners spesialis keperawatan anak. Bab 4 pembahasan yang terdiri dari pembahasan
penerapan teori keperawatan Comfort Theory Katharine Kolcaba pada klien
anak dengan masalah integritas kulit dan pembahasan praktik spesialis
keperawatan anak dalam pencapaian target kompetensi. Karya ilmiah ini diakhiri
dengan bab 5 mencakup simpulan dan saran untuk proses perbaikan praktik
residensi keperawatan anak serta lampiran-lampiran yang terkait dengan
pelaksanaan praktik ini.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 2
APLIKASI TEORI KEPERAWATAN
PADA ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Gambaran Kasus


Ada 5 kasus yang akan dibahas dalam bab 2 karya ilmiah ini. Kasus-kasus
yang dipilih adalah kasus-kasus pada klien yang mengalami masalah
keperawatan kerusakan integritas kulit khususnya kulit peristoma baik yang
bersifat aktual maupun masih risiko yang telah dirawat selama praktik
residensi di ruang rawat BCh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
2.1.1 Kasus 1
Anak P, laki-laki, usia 2 tahun, masuk ruang BCh pada tanggal 24 Oktober
2013 dengan diagnosis atresia ani on colostomi post PSARP pro tutup
stoma. Klien masuk RSCM untuk rencana tutup stoma. Klien terlahir tidak
memiliki anus, kemudian dilakukan operasi kolostomi pada saat klien
berusia 3 hari di RS M. Yunus Bengkulu. Kemudian pada bulan Desember
2012 pada saat umur 11 bulan, klien menjalani operasi PSARP (posterior
sagital anorectoplasty) di RSCM.

Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 29 Oktober 2013 didapatkan


data bahwa keluarga menyatakan sudah siap untuk menjalani operasi dan
berharap operasi segera dapat dilakukan agar anak kembali normal/sehat.
Keluarga sudah tidak merasakan kekhawatiran tentang operasi yang akan
dijalani oleh anaknya karena sudah pernah mengalami operasi
sebelumnya. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data terdapat stoma di
abdomen kuadran kiri bawah warna merah, ada produksi feses, BAB
melalui stoma dengan konsistensi lunak, terpasang kantong kolostomi
untuk menampung feses. Kulit peristoma tampak kemerahan.

Diagnosa keperawatan yang muncul saat sebelum operasi adalah


kerusakan integritas kulit dan kesiapan meningkatkan koping keluarga.
Intervensi yang telah dilakukan antara lain adalah dengan memberikan
dukungan dan memfasilitasi kebutuhan keluarga akan informasi tentang

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


prosedur operasi yang akan dijalani oleh klien, memantau kondisi stoma
dan kulit peristoma, melakukan perawatan stoma.

Klien dilakukan operasi penutupan stoma (Santulli) pada tanggal 1


November 2013. Data yang didapatkan setelah operasi adalah klien
tampak lemah, klien mengatakan sakit pada daerah operasi yaitu di perut,
tampak ada luka pasca tutup stoma di abdomen kuadran kiri bawah
tertutup balutan kering dan bersih, klien masih puasa, terpasang infus.
Terapi yang didapatkan cefotaxim 3 x 200 mg, farmadol 3 x 200 mg.

Diagnosa keperawatan yang muncul pasca operasi adalah nyeri akut, risiko
infeksi, dan risiko konstipasi. Intervensi yang telah dilakukan antara lain
adalah dengan memantau tanda-tanda vital, memberikan analgetik sesuai
dengan terapi, memantau kondisi luka pasca operasi, memberikan edukasi
pada keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan luka pasca operasi,
memberikan edukasi pada keluarga tentang diet yang dibutuhkan oleh
klien. Klien sudah diperbolehkan pulang pada tanggal 6 November 2013
dalam kondisi baik dan sehat. Klien dianjurkan untuk kontrol kembali di
poli bedah pada tanggal 11 November 2013.
2.1.2 Kasus 2
Anak A, laki-laki, usia 7 tahun, masuk ruang BCh pada tanggal 24
Februari 2014 dengan diagnosis Morbus Hirschsprung. Klien masuk
RSCM untuk rencana operasi Duhamel. Ketika usia 2 minggu, klien tidak
bisa buang air besar (BAB) disertai muntah dan perut membuncit. Untuk
mengatasi masalah ini keluarga membawa klien ke tukang pijat dan
setelah dipijat klien dapat BAB lagi. Kondisi seperti ini terjadi berulang
kali sampai klien berusia 6 tahun. Dan ketika upaya keluarga yang biasa
dilakukan tidak berhasil akhirnya klien dibawa ke RS. Klien telah
menjalani prosedur pembedahan kolostomi pada tanggal 29 Maret 2013
untuk mengatasi masalah kesulitan buang air besar (BAB) yang dialami
oleh klien.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Pada saat dilakukan pengkajian awal pada tanggal 24 Februari 2014
didapatkan data bahwa keluarga menyatakan sudah siap untuk menjalani
operasi dan berharap operasi segera dapat dilakukan agar anak kembali
normal/sehat, meskipun masih ada rasa khawatir tentang operasi yang
akan dijalani oleh anaknya. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data
terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna merah, produksi
vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak, terpasang kantong
plastik untuk menampung feses. Kulit peristoma tidak tampak adanya
kemerahan. Hasil pemeriksaan colon in loop menyimpulkan bahwa dapat
sesuai dengan gambaran Morbus Hirschsprung dengan zona transisi di
rectum sepanjang 5,02 cm.

Diagnosa keperawatan yang muncul pada saat sebelum operasi adalah


ansietas dan risiko kerusakan integritas kulit. Intervensi yang telah
dilakukan antara lain adalah dengan memfasilitasi kebutuhan keluarga
akan informasi tentang prosedur operasi yang akan dijalani oleh klien,
memantau kondisi stoma dan kulit peristoma, dan melakukan perawatan
stoma.

Klien dilakukan operasi Duhamel dan penutupan stoma pada tanggal 3


Maret 2014. Data yang didapatkan setelah operasi adalah klien tampak
lemah, klien mengatakan sakit pada daerah operasi yaitu di perut dan anus,
tampak di anus adanya kolon yang diprolapskan, tampak ada luka pasca
tutup stoma di abdomen kuadran kiri bawah tertutup balutan kering dan
bersih, klien masih puasa, terpasang infus Ka En 1B. Hasil pemeriksaan
laboratorium pasca operasi didapatkan hemoglobin 11,1 (normal 11,5-
14,5), leukosit 20,70 (normal 4,00-12,00). Terapi yang didapatkan
cefotaxim 3 x 300 mg, farmadol 3 x 200 mg.

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasca operasi adalah nyeri akut,
risiko kekurangan volume cairan, dan risiko infeksi. Intervensi yang telah
dilakukan antara lain adalah dengan memantau tanda-tanda vital,

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


pemantauan cairan, memberikan analgetik dan antibiotika sesuai dengan
terapi, memantau kondisi luka pasca operasi, memberikan edukasi pada
keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan luka pasca operasi.

Pada tanggal 13 Maret 2014 klien menjalani operasi yang kedua yaitu
untuk pemotongan stump (kolon yang diprolapskan) dan klien sudah
diperbolehkan pulang pada tanggal 14 Maret 2014 dalam kondisi baik dan
sehat. Klien sudah dapat BAB melalui anus meskipun masih sedikit.
2.1.3 Kasus 3
Anak A, laki-laki, usia 2 tahun, masuk ruang BCh pada tanggal 17 Maret
2014 dengan diagnosis atresia ani fistel recto uretra pasca kolostomi. Klien
masuk RSCM untuk rencana operasi pembuatan anus. Pada saat berusia 3
hari, klien mengalami muntah pada saat disusui. Ibu mengatakan tidak
mengetahui tentang kondisi pasti anaknya karena sejak lahir bayi dirawat
terpisah dengan ibu. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata bayi tidak
memiliki anus. Kemudian dilakukan operasi pembuatan stoma (kolostomi)
pada saat klien berumur 4 hari di RS Persahabatan dan dirawat selama 3
minggu. Dokter telah menganjurkan agar klien dilakukan operasi
pembuatan anus pada saat berusia 8 bulan di RSCM. Namun karena
berbagai faktor keluarga baru dapat membawa klien untuk operasi di
RSCM pada saat klien sudah berusia hampir 2 tahun.

Pada saat dilakukan pengkajian awal pada tanggal 17 Maret 2014


didapatkan data klien tampak aktif, tidak ada keluhan yang dirasakan.
Keluarga mengatakan sudah merasa siap anaknya dioperasi, meskipun
tetap ada rasa kekhawatiran namun tetap harus dijalani demi kesembuhan
anak. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data terdapat stoma di abdomen
kuadran kiri bawah warna merah, produksi vital, BAB melalui stoma
dengan konsistensi lunak, terpasang kantong plastik untuk menampung
feses. Kulit peristoma tampak adanya kemerahan. Hasil pemeriksaan
lopografi menunjukkan adanya atresia ani dengan jarak kontras terdistal ke
anal dimple +/- 3,71 cm.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Diagnosa keperawatan yang muncul pada awal sebelum operasi adalah
ansietas dan kerusakan integritas kulit. Intervensi yang telah dilakukan
antara lain adalah dengan memfasilitasi kebutuhan keluarga akan
informasi tentang prosedur operasi yang akan dijalani oleh klien,
memantau kondisi stoma dan kulit peristoma, melakukan perawatan
stoma, dan memberikan edukasi perawatan stoma pada keluarga.

Klien dilakukan operasi PSARP (posterior sagital anorectoplasty) pada


tanggal 24 Maret 2014. Data yang didapatkan setelah operasi adalah klien
tampak gelisah, klien mengeluh sakit pada daerah operasi yaitu di anus,
tampak ada luka jahit post operasi di anus, klien masih puasa, terpasang
infus N4+KCL. Hasil pemeriksaan laboratorium pasca operasi tidak
dilakukan. Terapi yang didapatkan cefotaxim 3 x 200 mg, farmadol 3 x
180 mg. Masih terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna
merah, produksi vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak,
terpasang kantong kolostomi untuk menampung feses. Kulit peristoma
masih tampak adanya kemerahan.

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasca operasi adalah risiko


kekurangan volume cairan, risiko infeksi, nyeri akut, hipertermia, dan
kerusakan integritas kulit. Intervensi yang telah dilakukan antara lain
adalah dengan memantau tanda-tanda vital, pemantauan cairan,
memberikan analgetik dan antipiretik sesuai dengan terapi, memantau
kondisi luka pasca operasi, memberikan edukasi pada keluarga tentang
pentingnya menjaga kebersihan luka pasca operasi. Klien sudah
diperbolehkan pulang pada tanggal 29 Maret 2014 dalam kondisi baik
dan sehat. Klien dianjurkan untuk kontrol kembali di poli bedah pada
tanggal 3 April 2014.
2.1.4 Kasus 4
Anak S, perempuan, usia 6 bulan, masuk ruang BCh pada tanggal 6 April
2014 dengan diagnosis invaginasi dengan multipel perforasi colon pasca
reseksi anastomosis colo-colica dan ileostomi. Satu bulan sebelum masuk

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


rumah sakit (SMRS) klien mengalami demam tinggi selama hampir 1
minggu. Keluarga tidak membawa klien ke pelayanan kesehatan, hanya
diberikan obat turun panas. Demam turun naik, timbul kemerahan pada
kulit di hampir seluruh tubuh, dan disertai batuk seperti penyakit campak,
dan kemudian klien sembuh. Empat hari sebelum masuk rumah sakit klien
mengalami diare dengan konsistensi lunak terdapat darah berwarna
kehitaman. Klien dibawa ke klinik 24 jam dan diberikan obat diare, namun
kondisi klien tidak membaik, klien mengalami muntah dan menangis
terus. Keluarga membawa klien ke RS di Bogor dan dirawat untuk
rehidrasi cairan. Setelah dilakukan pemeriksaan USG didapatkan hasil
curiga invaginasi dan klien disarankan untuk dirujuk ke RSCM. Klien
masuk IGD RSCM pada tanggal 3 April 2014 dan dilakukan operasi
laparatomi eksplorasi pada tanggal 4 April 2014. Klien dipindahkan ke
ruang BCh pada tanggal 6 April 2014.

Pada saat dilakukan pengkajian awal pada tanggal 7 April 2014 didapatkan
data klien tampak lemah, tampak adanya luka pasca operasi laparatomi
melintang di bagian tengah abdomen tertutup balutan, terdapat stoma di
kuadran kanan bawah warna merah, ada produksi feses dengan konsistensi
cair dan berwarna kehijauan yang ditampung di kantong kolostomi.
Terpasang kateter, terpasang akses vena dalam di paha sebelah kanan
dengan cairan N5+KCL dan aminofusin. Klien sudah boleh minum ASI,
minum sedikit-sedikit.

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasca operasi adalah nyeri akut,
risiko kekurangan volume cairan, risiko ketidakseimbangan nutrisi:kurang
dari kebutuhan tubuh, hipertermia, risiko kerusakan integritas kulit dan
risiko infeksi. Intervensi yang telah dilakukan antara lain adalah dengan
memantau tanda-tanda vital, pemantauan cairan, memberikan analgetik
dan antipiretik sesuai dengan terapi, memantau kondisi luka pasca operasi,
memberikan edukasi pada keluarga tentang pentingnya menjaga
kebersihan luka pasca operasi, memberikan edukasi pada keluarga tentang

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


perawatan stoma. Klien sudah diperbolehkan pulang pada tanggal 14 Apri
2014 dalam kondisi membaik. Klien dianjurkan untuk kontrol kembali di
poli bedah pada tanggal 18 April 2014.
2.1.5 Kasus 5
Anak G, laki-laki, usia 11 tahun, masuk ruang BCh pada tanggal 20 Maret
2014 dengan diagnosis fraktur pelvis MTB 1 pasca pemasangan anterior
frame, raw surface regio inguinal dextra dan perineal pasca debridement +
tutup defek + pemasangan NPWT (negative pressure wound therapy),
raw surface regio gluteal dan femoralis dextra pasca STSG (split thickness
skin graft), serta pasca kolostomi. 4 bulan sebelum masuk rumah sakit
klien tertabrak truk dan terseret di aspal sejauh beberapa meter. Klien
dibawa ke RS Imanuel Lampung dengan kondisi terdapat luka terbuka
pada pangkal paha kanan, pantat dan pinggang. Klien dilakukan operasi
kolostomi. Klien juga dipasang kateter, klien sempat dirawat selama 1
bulan, kemudian klien pulang dan rawat jalan selama 3 minggu. Pada saat
dilakukan penggantian selang kateter, selang keluar dari sela paha kanan,
dan kemudian klien dirujuk ke RS Abdul Muluk, karena alasan
keterbatasan alat klien dirujuk ke RSCM.

Klien pernah dirawat di RSCM sebelumnya, yaitu pada tanggal 20


Februari sampai 19 Maret 2014 dan terpaksa dipulangkan karena jatah
jaminan kesehatannya telah habis. Namun klien masuk kembali ke ruang
BCh RSCM pada tanggal 20 Maret 2014. Klien telah menjalani beberapa
prosedur operasi diantaranya adalah pada tanggal 7 Maret 2014 klien
menjalani operasi ekstra fiksasi dengan anterior frame dan STSG. Pada
tanggal 17 Maret 2014 klien menjalani operasi untuk mengatasi ruptur
parsial urethra anterior dengan metode PER (primary endoscopic
realignment).

Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 28 April 2014 didapatkan


data klien masih mengeluh nyeri, klien masih kesulitan untuk bergerak,
saat ini klien sudah mobilisasi duduk. Tampak ada alat fiksasi eksternal

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


yang terpasang melingkar di pinggang bagian depan. Tampak terpasang
alat NPWT di daerah inguinal dekstra dan perineal. Terdapat luka pada
kedua femur terbalut kassa. Terdapat luka pada area gluteal terbalut kassa.
Terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna merah, produksi
vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak, terpasang kantong
kolostomi untuk menampung feses. Kulit peristoma masih tampak adanya
kemerahan. Klien terpasang kateter.

Diagnosa keperawatan yang muncul adalah nyeri akut, kerusakan


integritas kulit, hambatan mobilitas fisik dan risiko infeksi. Intervensi
yang telah dilakukan antara lain adalah dengan melakukan perawatan luka,
memantau tanda-tanda infeksi , memberikan analgetik sesuai dengan
terapi, memantau kondisi luka pasca operasi, memberikan edukasi pada
keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan luka pasca operasi.
Melakukan kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan mobilisasi.
Sampai praktik residensi berakhir klien masih dirawat di ruang BCh
RSCM.

2.2 Tinjauan Teoritis


Pada tinjauan teoritis ini akan dijelaskan mengenai anatomi dan fisiologi kulit,
integritas kulit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, stoma, kerusakan
integritas kulit peristoma, pengkajian, perawatan serta pencegahannya.
2.2.1 Anatomi dan fisiologi kulit
Kulit merupakan organ tubuh yang paling luas dan berat pada manusia.
Kulit memiliki kurang lebih 16% dari berat tubuh manusia dan menutupi
daerah permukaan tubuh yang luasnya diperkirakan berkisar dari 1,2 2,3
meter persegi. Kulit menjadi sebuah barrier yang memisahkan organ-
organ internal dengan lingkungan luar, dan ikut berpartisipasi dalam
banyak fungsi tubuh yang vital. Kulit menjadi pembatas bagi cairan tubuh
sekaligus memberikan perlindungan pada jaringan tubuh yang ada di
bawahnya dari serangan mikroorganisme, zat-zat berbahaya, dan radiasi
(Smeltzer, 2002; Bickley, 2009).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2.2.1.1 Anatomi kulit
Kulit tersusun dari tiga lapisan, yaitu epidermis, dermis, dan jaringan
subkutan. Lapisan yang paling superfisial adalah epidermis, merupakan
lapisan yang tipis dan tidak mengandung pembuluh darah. Lapisan
epidermis dibagi menjadi dua bagian, yaitu lapisan tanduk (stratum
korneum) di sebelah luar yang terdiri atas sel mati yang mengalami
keratinisasi, dan lapisan seluler di sebelah dalam yang merupakan tempat
terbentuknya melanin serta keratin (Smeltzer, 2002; Bickley, 2009).

Dermis membentuk bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan


dan struktur pada kulit. Dermis tersusun atas dua lapisan yaitu lapisan
papilaris yang berada langsung di bawah epidermis dan tersusun terutama
dari sel-sel fibroblast yang dapat menghasilkan salah satu bentuk kolagen,
dan lapisan retikularis yang terletak di bawah lapisan papilaris dan juga
memproduksi kolagen serta berkas-berkas serabut elastik. Dermis juga
tersusun dari pembuluh darah serta limfe, serabut saraf, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea dan akar/folikel rambut (Smeltzer, 2002; Bickley, 2009).

Nutrisi untuk epidermis bergantung pada dermis yang ada di bawahnya.


Lapisan dermis di bagian bawah akan menyatu dengan jaringan subkutan
(hipodermis). Jaringan subkutan merupakan lapisan kulit paling dalam.
Lapisan ini terutama berupa jaringan adiposa atau juga dikenal dengan
lemak tubuh yang memberikan bantalan antara lapisan kulit dan struktur
internal seperti otot dan tulang. Jaringan ini memungkinkan mobilitas
kulit, perubahan kontur kulit, dan penyekatan panas tubuh (Smeltzer,
2002; Bickley, 2009).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Gambar 2.1 Anatomi Kulit
2.2.1.2 Fisiologi kulit
Menurut Smeltzer (2002) dijelaskan bahwa kulit memiliki beberapa
fungsi, yaitu:
1. Perlindungan
Kulit yang menutupi sebagian besar tubuh memiliki ketebalan sekitar
12 mm saja, padahal kulit memberikan perlindungan yang sangat
efektif terhadap invasi bakteri dan benda asing lainnya. Bagian stratum
korneum epidermis merupakan barrier yang paling efektif terhadap
berbagai faktor lingkungan seperti zat-zat kimia, sinar matahari, virus,
fungus, gigitan serangga, luka karena gesekan dan trauma. Kulit dapat
mencegah penetrasi zat-zat dari luar yang berbahaya. Kulit juga dapat
mencegah kehilangan cairan dan subtansi lain yang vital bagi
homeostasis tubuh. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi
protektif kulit mencakup usia kulit, daerah kulit yang terlibat, dan
status vaskuler.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2. Sensibilitas
Ujung-ujung reseptor serabut saraf pada kulit memungkinkan tubuh
untuk memantau secara terus menerus keadaan lingkungan di
sekitarnya. Fungsi utama reseptor pada kulit adalah untuk mengindera
suhu, rasa nyeri, sentuhan yang ringan dan tekanan. Berbagai ujung
saraf ini bertanggung jawab untuk bereaksi terhadap setiap stimuli
yang berbeda.
3. Keseimbangan air
Stratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air sehingga
dapat mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari
bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam
jaringan subkutan. Bila kulit mengalami kerusakan, seperti pada luka
bakar, cairan dan elektrolit dalam jumlah yang besar dapat hilang
dengan cepat sehingga bisa terjadi kolaps sirkulasi, syok serta
kematian. Namun kulit tidak sepenuhnya impermeabel terhadap air,
sejumlah kecil air akan mengalami evaporasi secara terus menerus dari
permukaan kulit. Evaporasi ini dinamakan perspirasi tidak kasat mata
(insensible perspiration). Kehilangan air yang tidak kasat mata
(insensible water loss) bervariasi menurut suhu tubuh, seperti pada
kondisi demam maka kehilangan ini dapat meningkat. Ketika terendam
dalam air, kulit dapat menimbun air sehingga dapat terjadi
pembengkakan kulit.
4. Pengaturan suhu
Tubuh secara terus menerus akan menghasilkan panas sebagai hasil
metabolisme makanan yang memproduksi energi. Panas ini akan
hilang terutama lewat kulit. Ada tiga mekanisme kehilangan panas dari
tubuh ke lingkungan, yaitu proses radiasi, konduksi, dan konveksi.
Evaporasi dari kulit akan membantu kehilangan panas lewat konduksi.
Pada kondisi normal ketiga mekanisme kehilangan panas ini akan
digunakan semuanya, namun jika suhu di lingkungan sekitar sangat
tinggi, maka radiasi dan konveksi tidak akan efektik sehingga
evaporasi merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan panas.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Dalam kondisi yang normal produk panas dari metabolisme akan
diimbangi oleh kehilangan panas, dan suhu internal tubuh akan
dipertahankan agar tetap konstan pada suhu kurang lebih 370C.
Pengeluaran keringat merupakan proses lain yang digunakan tubuh
untuk mengatur laju kehilangan panas. Pengeluaran keringat atau
perspirasi tidak akan terjadi sebelum suhu internal tubuh melampui
370C tanpa tergantung pada suhu kulit.
5. Produksi vitamin
Kulit yang terpajan sinar ultraviolet dapat mengubah subtansi yang
diperlukan untuk mensintesis vitamin D (kolekalsiferol). Vitamin D
merupakan unsur esensial untuk mencegah penyakit riketsia, suatu
keadaan yang terjadi akibat defisiensi vitamin D, kalsium serta fosfor,
dan yang menyebabkan deformitas tulang.
6. Fungsi respon imun
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sel dermal (sel-
sel Langerhans, interleukin-1 yang memproduksi keratinosit, dan sub
kelompok limfosit-T) merupakan komponen penting dalam sistem
imun.
2.2.1.3 Masalah pada kulit
A. Lesi
Kulit yang normal tidak memilik lesi. Lesi kulit merupakan
karakteristik yang paling menonjol pada kelainan dermatologik. Lesi
kulit dapat disebabkan oleh berbagai faktor etiologi. Pada umumnya
lesi kulit berasal dari (1) kontak dengan agen penyebab cedera, seperti
organisme infektif, bahan kimia yang beracun, dan trauma fisik; (2)
faktor herediter; (3) faktor eksternal yang mengakibatkan reaksi pada
kulit, misal alergen; (4) penyakit sistemik dengan lesi merupakan
manifestasi kutaneus, seperti campak (Wong, 2008).

Lesi kulit dapat diklasifikasikan sebagai lesi primer dan lesi sekunder.
Lesi kulit primer merupakan lesi yang pertama timbul dari kulit yang
sebelumnya normal. Lesi kulit primer dapat berupa makula, bercak,

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


papula, plak, nodul, tumor, vesikel, bula, urtika, pustula, dan kista.
Lesi kulit sekunder terjadi akibat perubahan pada lesi primer, lesi ini
dapat berupa erosi, ulkus, fisura, skuama, krusta, parut, keloid, atrofi,
likenifikasi (Smeltzer, 2002; Wong, 2008).
B. Luka
Luka adalah gangguan pada struktural atau fisiologi integumen yang
membutuhkan respon perbaikan jaringan yang normal atau tidak
normal. Luka dapat diklasifikasikan sebagai luka akut dan luka kronis.
Luka akut merupakan luka dengan proses penyembuhan dalam rentang
waktu yang normal dan tanpa komplikasi. Luka kronis adalah luka
yang tidak sembuh dalam rentang waktu yang normal diharapkan atau
disertai dengan banyak komplikasi (Wong, 2008).

Proses penyembuhan luka terbagi dalam tiga fase: inflamasi,


proliferasi, dan maturasi (remodeling). Fase inflamasi dimulai segera
setelah cedera dan berlangsung selama 3 sampai 6 hari. Dua proses
utama yang terjadi selama fase ini adalah hemostasis dan fagositosis.
Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat dari vasokontriksi
pembuluh darah besar pada area yang terkena, retraksi (penarikan
kembali pembuluh darah yang cedera, deposisi fibrin (jaringan ikat)
dan pembentukan bekuan darah pada area tersebut. Fagositosis
merupakan proses penghancuran mikroorganisme dan debris sel oleh
makrofag. Fase inflamasi juga meliputi respon vaskular dan seluler
yang bertujuan membuang semua zat asing dan jaringan yang rusak
dan mati. Aliran darah ke area luka meningkat, membawa oksigen dan
zat gizi yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan luka (Wong,
2008; Kozier, 2010).

Fase proliferasi merupakan fase kedua dalam proses penyembuhan


luka yang terjadi pada hari ke-3 atau ke-4 sampai hari ke-21 setelah
cedera. Fibroblas (sel jaringan ikat) yang bermigrasi ke luka dalam 24
jam setelah cedera mulai mensintesis kolagen. Kolagen merupakan zat

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


protein berwarna keputihan yang dapat meningkatkan kekuatan
regangan pada luka. Pembuluh darah kapiler akan tumbuh melewati
luka dan meningkatkan aliran darah. Saat jaringan pembuluh darah
kapiler terbentuk, jaringan akan terlihat merah cerah, jaringan ini
disebut jaringan granulasi yang rapuh dan mudah berdarah. Fase
maturasi mulai terjadi sekitar hari ke-21 dan dapat berlangsung selama
1 sampai 2 tahun setelah cedera luka. Selama proses maturasi
jaringan, luka akan mengalami pembaruan bentuk dan kontraksi
(Wong, 2008; Kozier, 2010).

Faktor- faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka


diantaranya adalah lingkungan luka yang kering, defisiensi nutrisi,
gangguan sirkulasi, stres, antiseptik, kortikosteroid, benda asing,
infeksi, friksi mekanis, akumulasi cairan, radiasi, dan penyakit. Faktor-
faktor tersebut dapat menghambat proses penyembuhan luka (Wong,
2008).
2.2.2 Integritas kulit
Integritas kulit merupakan keutuhan kulit, yaitu kulit yang normal dan
tidak terdapat luka pada kulit. Integritas kulit dapat dipengaruhi oleh faktor
intrinsik dan ekstrinsik. Kondisi-kondisi seperti berikut ini merupakan
faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi integritas kulit, yaitu adanya
edema, hipotermia, dehidrasi, sepsis, beberapa jenis obat seperti inotropik,
imobilitas, perfusi yang kurang baik, anemia inkontinensia, nyeri dan
sedasi, penurunan berat badan sesuai umur serta kurang gizi. Sedangkan
yang menjadi faktor ekstrinsik diantaranya adalah adanya tekanan,
geseran, gesekan, dan kelembaban (Fergusson, 2008; Kozier, 2010).

Definisi kerusakan integritas kulit adalah perubahan/gangguan epidermis


dan/atau dermis. Batasan karakteristik untuk menegakkan diagnosa
keperawatan ini adalah adalah adanya kerusakan pada lapisan kulit
(dermis), gangguan/kerusakan permukaan kulit (epidermis), dan invasi
struktur tubuh. Ada 2 faktor yang berhubungan dengan terjadinya masalah

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


kerusakan integritas kulit, yaitu faktor eksternal, dan internal. Faktor
eksternal meliputi zat kimia, kelembaban, hipertermia, hipotermia, faktor
mekanik (tekanan, geseran, gesekan), obat/medikasi, imobilisasi fisik, dan
radiasi. Faktor internal mencakup perubahan status cairan, perubahan
pigmentasi, perubahan turgor, ketidakseimbangan nutrisi, defisit
imunologis, gangguan sirkulasi, gangguan status metabolik, gangguan
sensasi, tonjolan tulang, dan faktor perkembangan (usia yang ekstrem
muda atau tua). Diagnosa keperawatan kerusakan integritas kulit dapat
bersifat aktual karena sudah terjadi kerusakan kulit maupun risiko yang
dapat mengancam integritas kulit (Herdman, 2012; Wilkinson, 2012).
2.2.3 Stoma
2.2.3.1 Definisi stoma
Stoma adalah lubang terbuka dari suatu saluran berongga yang
menghubungkan saluran tersebut dengan permukaan kulit (Grace &
Borley, 2007). Stoma dibuat melalui suatu prosedur pembedahan yang
disebut dengan ostomi. Pembuatan stoma dilakukan untuk mengalihkan
aliran dari feses atau urin pada kasus-kasus dengan penyakit/kelainan
pada gastrointestinal dan saluran genitourinaria.
2.2.3.2 Jenis stoma
Pada prinsipnya terdapat 2 jenis stoma , yaitu stoma feses dan stoma urin.
Stoma feses digunakan untuk mengeluarkan feses, stoma ini dapat berupa:
1) kolostomi yaitu suatu lubang terbuka pada usus besar, 2) ileostomi yaitu
suatu lubang terbuka pada usus halus, dan 3) jejunostomi atau
duodenostomi suatu lubang terbuka pada jejunum atau duodenum. Stoma
urin atau dikenal dengan istilah urostomi (lubang eksternal pada saluran
kemih), digunakan untuk mengeluarkan urin. Stoma urin dapat berupa: 1)
vesikostomi, lubang eksternal pada kandung kemih, 2) ureterostomi,
lubang eksternal pada ureter, dan 3) nephrostomi, lubang eksternal pada
ginjal (Grace & Borley, 2007; APSNA, 2008).

2.2.3.3 Komplikasi stoma

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Komplikasi yang umum terjadi pada perawatan stoma diantaranya adalah:
laserasi pada stoma, terpisahnya jaringan mukokutaneus, nekrosis stoma,
obstruksi, hernia peristoma (herniasi), kerusakan kulit peristoma
(dermatitis peristoma) dan infeksi, prolaps, retraksi pada stoma, serta
stenosis (Grace & Borley, 2007; APSNA, 2008).
2.2.3.4 Perawatan stoma
Merawat stoma memerlukan penguasaan ketrampilan dasar yaitu:
mengosongkan dan melepaskan kantong, merawat stoma, dan kulit
peristomal, serta menggunakan kantong stoma baru. Mengganti kantong
stoma dilakukan dengan cara sebagai berikut: kosongkan kantong,
lepaskan kantong, angkat skin barrier dengan menekan kulit dan buang
kantong. Bersihkan kulit dengan kassa dan air hangat/matang/NaCl 0,9%,
kemudian keringkan kulit sekitar stoma. Kaji stoma dan kulit peristoam
,ukur stoma dan potong lubang kantong sesuai ukuran stoma. Angkat
kertas perekat dari skin barrier dan pasang kantong pada stoma, tekan
perekat dari tempat yang paling dalam sampai yang terluar hingga merata.
Tutup ujung kantong dengan penjepit (APSNA, 2008).

Untuk mengosongkan kantong stoma dilakukan dengan cara sebagai


berikut: tarik ke atas bagian bawah kantong agar isi tidak tumpah, buka
dan lepas penjepit kantong kolostomi, alirkan isi kantong ke toilet atau
gelas ukur/plastik. Bersihkan sisa kotoran dengan air matang atau NaCl
0,9%, jika kantong sudah kosong, tutup kembali dan ikat dengan penjepit.
(APSNA, 2008).
2.2.4 Pengkajian kulit peristoma
The Ostomy Skin Tool merupakan salah satu alat standar untuk menilai
kondisi kulit peristoma. Alat ini menggunakan pengamatan klinis langsung
untuk menghitung gabungan skor (Discolourration, Erosion, Tissue
overgrowth/DET skor) untuk menjelaskan tingkat keparahan gangguan
kulit peristoma. Alat ini juga mampu memfasilitasi monitoring kulit secara
konsisten, serta mampu melakukan penilaian yang ketat terhadap efek dari
perawatan ostomi yang bervariasi dalam peralatannya. Dengan penggunan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


instrumen ini memungkikan evaluasi dan monitoring dilakukan dengan
lebih objektif terhadap kulit peristoma oleh para profesional kesehatan
yang berbeda-beda secara umum. Penilaian yang komprehensif ini terbukti
dapat mempengaruhi outcome (hasil) dari pasien menjadi lebih baik dalam
hal untuk monitoring (pengawasan) dan berkelanjutan (Martins et. al,
2009).

The Ostomy Skin Tool dikembangkan oleh sebuah kelompok internasional


yang terdiri dari 12 perawat ahli ostomi bekerja sama dengan Coloplast
(sebuah perusahaan peralatan ostomi dari Denmark), serta petunjuk dari
para ahli dermatologi. The Ostomy Skin Tool terdiri dari dua bagian, yaitu
The DET score dan The diagnostic guide. The DET score terdiri dari 3
domain yaitu, D untuk Discolourration yaitu perubahan warna kulit, E
untuk Erosion yaitu kulit yang mengalami erosi, dan T untuk Tissue
overgrowth yaitu pertumbuhan jaringan yang berlebihan (Martins et. al,
2009; Page, 2009; Jordan & Christian, 2013; Coloplast, 2010).

Total skor DET memberikan informasi tingkat keparahan secara


keseluruhan dari masalah pada kulit peristoma. Sedangkan sub skor untuk
membantu mengidentifikasi masalah. Setiap domain terdiri dari dua hal
yang dinilai yaitu area (luas/daerah) dan severity (keparahan). Nilai atau
poin untuk area mulai dari 0 3, dan untuk severity mulai dari 1-2. Nilai
untuk DET gabungan berkisar mulai dari 0 (normal) sampai 15 (kondisi
terburuk). Komplikasi ringan dengan nilai DET kurang dari 4, sedang
kurang dari 7, dan berat dengan nilai 8 atau lebih (Jordan & Christian,
2013).

The diagnostic guide digunakan untuk menetapkan perubahan visual yang


paling relevan. Kemudian mengikuti alur panduan petunjuk ini, kita
menjawab serangkaian pertanyaan yang disesuaikan dengan hasil
pengamatan, sehingga pada akhirnya gangguan kulit peristoma dapat
dikategorikan sesuai dengan penyebabnya dan memutuskan regimen

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


pengobatan yang tepat sesuai dengan panduan/petunjuk yang sudah
tersedia (Martins et. al, 2009; Page, 2009; Jordan & Christian, 2013;
Coloplast, 2010)

Pedoman ini menjelaskan ada empat kategori dalam komplikasi kulit


peristoma, yaitu: 1) Chemical irritation (iritasi kimiawi), iritasi kimiawi
dapat terjadi karena iritasi (dermatitis kontak iritan) atau reaksi alergi
(dermatitis alergi). Penyebab iritasi kimiawi adalah kebocoran feses atau
urin dari kolostomi, ileostomi, atau urostomi sehingga terjadi kontak
dengan kulit peristoma. Penyebab lain karena kontak dengan sabun,
perekat tertentu, dan saat melepaskan perekat. 2) Mechanical trauma
(trauma mekanik), trauma mekanik biasanya terjadi karena sistem kantong
stoma atau pada saat penggantian kantong. Penyebab lain seperti adanya
tekanan dari cincin kantong stoma atau tehnik pembersihan yang kasar.3)
Disease related complication (berhubungan dengan penyakit), komplikasi
yang berhubungan dengan penyakit yang mungkin sudah ada sebelumya
seperti psoriasis, ekzema, atau dermatitis seboroik. 4) Infection related
complication (berhubungan dengan infeksi), komplikasi yang berhubungan
dengan infeksi biasanya karena bakteri atau jamur. Dua infeksi kulit
perstoma yang sering terjadi adalah folikulitis dan infeksi jamur candida
(Jordan & Christian, 2013).

2.3 Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan


Comfort theory merupakan salah satu teori keperawatan yang termasuk dalam
kategori middle range theory yang digunakan untuk praktik keperawatan dan
penelitian. Comfort theory ini dikategorikan dalam middle range theory
karena terbatasnya jumlah konsep dan proposisi, rendahnya tingkat abstraksi,
dan kemudahan aplikasi untuk praktek yang sebenarnya (Kolcaba, 2003).
Comfort theory memiliki tujuan utama agar manusia mencapai kenyamanan
yang menyeluruh. Kondisi kenyamanan ini tidak hanya sekedar bebas dari
rasa sakit, kecemasan, dan ketidaknyamanan fisik lainnya, tetapi termasuk

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


juga kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi penderitaan (Kolcaba, 1994
dalam Peterson & Berdow, 2004).
2.3.1 Konsep Comfort Theory
Kolcaba (1994, 2001, 2003 dalam Kolcaba, 2005) mendefinisikan
kenyamanan adalah sebagai suatu keadaan yang mendesak dan diperkuat
melalui kebutuhan manusia yang dimiliki untuk meringankan (relief),
memudahkan (ease), dan melebihkan (transcendence) yang ditujukan pada
empat konteks pengalaman (fisik, psikospiritual, sosiokultural, dan
lingkungan).

Kolcaba mengidentifikasi ada 3 tipe kenyamanan, yaitu relief, ease, dan


transcendence. Relief adalah suatu keadaan ketidaknyamanan yang
dimiliki oleh seseorang dan membutuhkan tindakan untuk membantu
mengatasi dan meringankan ketidaknyamanan tersebut. Ease adalah suatu
keadaan yang mengacu kepada kepuasan klien karena tidak adanya
ketidaknyamanan tertentu. Transcendence adalah suatu keadaan di mana
kemampuan seseorang mengalami peningkatkan untuk mengatasi
ketidaknyamanan yang tidak bisa dihindarinya, dibutuhkan penguatan dan
motivasi (Sandra & Timothy, 2004; Tomey & Alligood, 2006).

Ketiga tipe kenyamanan tersebut terjadi dalam empat konteks pengalaman,


yaitu: physical (fisik), psychospiritual (psikospiritual), environmental
(lingkungan), dan sociocultural (sosial budaya). Physical berkaitan dengan
sensasi tubuh dan mekanisme homeostasis. Psychospiritual berkaitan
dengan kesadaran internal diri, termasuk harga diri, seksualitas, konsep
diri, dan makna dalam hidup, hubungan dengan tatanan yang lebih tinggi
atau tatanan yang sudah ada. Environmental berkaitan dengan kondisi
lingkungan eksternal yang mempengaruhi. Sociocultural berkaitan dengan
hubungan antar pribadi, keluarga, dan hubungan sosial (Sandra &
Timothy, 2004; Tomey & Alligood, 2006).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Relief Ease Transcendence
Physical
Psychospiritual
Environmental
Sociocultural
Gambar 2.2 Taxonomic structure of comfort

Gambar 2.3 Concepts in the Comfort Theory


2.3.2 Proses Keperawatan Berdasarkan Comfort Theory
Proses keperawatan adalah pendekatan keperawatan profesional yang
dilakukan untuk mengidentifikasi, mendiagnosis, dan mengatasi respon
manusia terhadap kesehatan dan penyakit.
2.3.2.1 Pengkajian keperawatan
Pengkajian adalah proses pengumpulan data secara sistematis yang
bertujuan untuk menentukan status kesehatan dan fungsional klien pada
saat ini dan waktu sebelumnya, serta untuk menentukan pola respons klien
saat ini dan waktu sebelumnya. Pengkajian dengan menggunakan comfort
theory dimulai dari mencari kebutuhan akan perawatan kesehatan yang
berupa kebutuhan akan kenyamanan pada empat konteks kenyamanan
yaitu fisik, psikospiritual, lingkungan, dan sosial budaya. Kebutuhan akan
kenyamanan dalam empat konteks tersebut kemudian akan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


diklasifikasikan ke dalam tiga tipe kenyamanan, yaitu relief, ease, dan
transcendence.
2.3.2.2 Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah keputusan klinis tentang respon individu,
keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang aktual dan
potensial. Diagnosis keperawatan dalam comfort theory merupakan hasil
dari pengkajian kebutuhan akan kenyamanan pada empat konteks
kenyamanan yaitu fisik, psikospiritual, lingkungan, dan sosial budaya.
2.3.2.3 Perencanaan asuhan keperawatan (intervensi)
Dalam comfort theory ada tiga kategori intervensi keperawatan untuk
kenyamanan, yaitu (a) standard comfort interventions untuk menjaga
homeostasis dan mengontrol nyeri; (b) coaching untuk mengurangi
ansietas, memberikan jaminan informasi dan membangkitkan harapan; dan
(c) comfort food for the soul adalah intervensi perawat dengan
menawarkan sesuatu yang menyenangkan untuk membuat anak dan
keluarga merasa lebih diperhatikan dan lebih merasa dikuatkan, seperti
masase atau imajinasi terbimbing (Kolcaba, 2003).
2.3.2.4 Implementasi keperawatan
Pada tahap ini perawat melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan
intervensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Intervensi disusun
berdasarkan diagnosis keperawatan yang muncul sehingga diharapkan
dapat mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan.
2.3.2.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Tahap ini sangat
penting untuk menentukkan adanya perbaikan kondisi atau kesejahteraan
klien. Dalam comfort theory pada tahap evaluasi ini diharapkan muncul
perilaku mencari kesehatan (health seeking behaviors) dan pada akhirnya
akan tercapai keutuhan sebagai individu yang merasakan kepuasan akan
asuhan keperawatan yang telah diterima.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2.4 Aplikasi Teori Keperawatan pada Kasus Terpilih
2.4.1 Pengkajian
Anak A, laki-laki, usia 2 tahun, masuk ruang BCh pada tanggal 17 Maret
2014 dengan diagnosis atresia ani fistel recto uretra pasca kolostomi. Klien
masuk RSCM untuk rencana operasi pembuatan anus. Pada saat berusia 3
hari, klien mengalami muntah pada saat disusui. Ibu mengatakan tidak
mengetahui tentang kondisi pasti anaknya karena sejak lahir bayi dirawat
terpisah dengan ibu. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata bayi tidak
memiliki anus. Kemudian klien dilakukan operasi pembuatan stoma
(kolostomi) pada saat klien berumur 4 hari di RS Persahabatan dan dirawat
selama 3 minggu. Dokter telah menganjurkan agar klien dilakukan operasi
pembuatan anus pada saat berusia 8 bulan di RSCM. Namun karena
berbagai faktor keluarga baru dapat membawa klien untuk operasi di
RSCM pada saat klien sudah berusia hampir 2 tahun.

Pada saat dilakukan pengkajian awal pada tanggal 17 Maret 2014


didapatkan data klien tampak aktif, tidak ada keluhan yang dirasakan.
Keluarga mengatakan sudah merasa siap anaknya di operasi, meskipun
tetap ada rasa kekhawatiran namun tetap harus dijalani demi kesembuhan
anak. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data terdapat stoma di abdomen
kuadran kiri bawah warna merah, produksi vital, BAB melalui stoma
dengan konsistensi lunak, terpasang kantong plastik untuk menampung
feses. Kulit peristoma tampak adanya kemerahan. Hasil pemeriksaan
lopografi menunjukkan adanya atresia ani dengan jarak kontras terdistal ke
anal dimple +/- 3,71 cm.

Klien dilakukan operasi PSARP (posterior sagital anorectoplasty) pada


tanggal 24 Maret 2014. Data yang didapatkan setelah operasi adalah klien
tampak gelisah, klien mengeluh sakit pada daerah operasi yaitu di anus,
tampak ada luka jahit post operasi di anus, klien masih puasa, terpasang
infus N4+KCL. Hasil pemeriksaan laboratorium pasca operasi tidak
dilakukan. Terapi yang didapatkan cefotaxim 3 x 200 mg, farmadol 3 x

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


180 mg. Masih terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna
merah, produksi vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak,
terpasang kantong kolostomi untuk menampung feses. Kulit peristoma
masih tampak adanya kemerahan.

Pengkajian dapat dilihat dalam taksonomi berikut ini:


Relief Ease Transcendence
Physical Kulit perstoma Perawatan Klien tampak
tampak stoma yang rileks, sudah
kemerahan. baik. terbiasa dengan
kondisi ini.
Psychospiritual Kecemasan Ketidakpastian Butuh
orang tua. tentang dukungan
keberhasilan spiritual, dan
operasi. informasi.
Environmental Keramaian Keterbatasan Butuh
ruangan. privasi. lingkungan
yang tenang
dan familiar.
Sociocultural Tidak bisa Perlu adaptasi Butuh dukugan
menjalankan penyesuaian dari keluarga
kebiasaan dan dengan dan informasi.
tradisi seperti di lingkungan RS.
rumah.

Berdasarkan hasil pengkajian pada konteks fisik didapatkan data pada


kondisi relief kulit perstoma tampak kemerahan. Kondisi ini
membutuhkan penanganan dengan perawatan stoma yang baik sehingga
klien bisa meningkatkan kenyamanan pada fase ease. Pada fase
transcendence telah tercapai kondisi dimana klien tampak rileks, dan
sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Pada konteks psikospiritual pada
kondisi relief ditemukan kecemasan orang tua. Pada fase ease didapatkan
kecemasan orang tua disebabkan karena ketidakpastian tentang
keberhasilan operasi, sehingga dibutuhkan dukungan spiritual, dan
informasi agar tercapai fase transcendence.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Pengkajian pada konteks lingkungan didapatkan kondisi ruangan yang
ramai sebagai fase relief yang menyebabkan keterbatasan privasi pada fase
ease. Dibutuhkan kondisi lingkungan yang tenang dan familiar agar
tercapai fase transcendence. Pada konteks sosial budaya fase relief tidak
bisa menjalankan kebiasaan dan tradisi seperti di rumah, sehingga
diperlukan adaptasi penyesuaian dengan lingkungan RS sebagai fase ease.
Dibutuhkan dukugan dari keluarga dan informasi agar tercapai fase
transcendence.
2.4.2 Diagnosis keperawatan
Berdasarkan data yang sudah dikumpulkan dari hasil pengkajian maka
dapat diidentifikasi beberapa diagnosis keperawatan yang muncul pada
An. A. Diagnosa keperawatan yang muncul sebelum dilakukan tindakan
operasi adalah sebagai berikut:
a. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan kontak kulit
dengan feses.
b. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan prosedur pembedahan
dan kondisi anak.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang muncul setelah dilakukan tindakan
operasi adalah sebagai berikut:
a. Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan status
puasa sebelum dan/atau sesudah pembedahan.
b. Risiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur pembedahan.
c. Nyeri akut yang berhubungan dengan insisi pembedahan.
d. Hipertermia yang berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme.
e. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan kontak kulit
dengan feses.
2.4.3 Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan diperlukan guna mengatasi diagnosis keperawatan
yang muncul pada An. A. Beberapa intervensi yang telah ditetapkan
adalah sebagai berikut:

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


a. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan kontak kulit
dengan feses.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat menunjukkan
integritas kulit yang normal dengan kriteria keluarga dapat
menunjukkan cara perawatan stoma, kemerahan di area kulit peristoma
berkurang, skor DET berkurang (0-2).
Intervensi:
Standard comfort interventions:
1. Kaji dan pantau kondisi stoma, serta kulit peristoma.
2. Berikan perawatan stoma.
3. Lakukan kolaborasi: pemberian obat untuk kulit yang iritasi.
Coaching:
1. Ajarkan kepada keluarga tentang cara melakukan perawatan stoma.
2. Berikan dukungan informasi tentang perawatan stoma.
Comfort food for the soul:
1. Ajak klien bermain dengan jenis permainn yang disukai anak
(mobil-mobilan).
b. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan prosedur pembedahan
dan kondisi anak.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga klien dapat
menunjukkan penurunan kecemasan dengan kriteria keluarga mampu
menyatakan pemahaman tentang prosedur pembedahan, keluarga
kooperatif dan ikut berpartisipasi aktif dalam pemberian asuhan
keperawatan.
Intervensi:
Standard comfort interventions:
1. Pertahankan sikap yang tenang dan menyakinkan.
2. Dorong keluarga untuk mengungkapkan perasaannya.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Coaching:
1. Fasilitasi keluarga untuk mendapatkan informasi yang berkaitan
dengan prosedur pembedahan.
2. Dampingi keluarga saat mendapatkan informasi untuk memastikan
pemahaman keluarga.
Comfort food for the soul:
1. Berikan pujian pada keluarga saat ikut berpartisipasi aktif dalam
memberikan perawatan pada anak.
c. Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan status
puasa sebelum dan/atau sesudah pembedahan.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami
kekurangan volume cairan dengan kriteria tidak ada tanda gejala
dehidrasi (turgor baik, balance cairan dalam 24 jam positif, tanda-tanda
vital dalam batas normal).
Intervensi:
Standard comfort interventions:
1. Kaji dan pantau tanda gejala dehidrasi.
2. Pantau tanda-tanda vital.
3. Catat masukan dan pengeluaran cairan.
4. Lakukan kolaborasi: pemberian cairan parenteral, pemeriksaan
laboratorium (darah lengkap, elektrolit).
5. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium.
Coaching:
1. Ajarkan dan libatkan keluarga untuk memantau masukan dan
pengeluaran cairan.
2. Ajarkan dan libatkan keluarga dalam pemberian minum pada anak.
3. Ajarkan dan libatkan keluarga dalam pemantauan tanda gejala
dehidrasi.
Comfort food for the soul:
1. Beri dorongan dan umpan balik positif atas kerja sama selama
perawatan.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


d. Risiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur pembedahan.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami infeksi
dengan kriteria tidak ada tanda gejala infeksi.
Intervensi:
Standard comfort interventions:
1. Kaji dan pantau tanda gejala infeksi pada luka pasca operasi.
2. Pantau tanda-tanda vital.
3. Berikan perawatan luka dengan mempertahankan tehnik aseptik.
4. Pertahankan nutrisi adekuat
5. Lakukan kolaborasi: pemberian antibiotika, pemeriksaan
laboratorium (leukosit)
6. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium.
Coaching:
1. Ajarkan keluarga tentang pentingnya cuci tangan dan menjaga
kebersihan lingkungan sekitar pasien.
2. Ajarkan dan libatkan keluarga dalam perawatan luka pasca operasi.
3. Ajarkan dan libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi anak.
Comfort food for the soul:
1. Berikan pujian pada keluarga saat ikut berpartisipasi aktif dalam
memberikan perawatan pada anak.
e. Nyeri akut yang berhubungan dengan insisi pembedahan.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami nyeri
atau penurunan nyeri pada tingkat yang dapat diterima oleh anak,
dengan kriteria penurunan rasa gelisah, tanda-tanda vital dalam batas
normal, skor VAS 0-2.
Intervensi:
Standard comfort interventions:
1. Kaji dan pantau intesitas nyeri anak.
2. Pantau tanda-tanda vital.
3. Lakukan managemen nyeri non farmakologik: distraksi.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


4. Atur posisi anak sesuai kebutuhan.
5. Lakukan kolaborasi: pemberian analgetik.
Coaching:
1. Ajarkan pada anak tentang cara mengatasi nyeri yang dapat
dipahami dan dilakukan oleh anak.
2. Libatkan keluarga dalam penatalaksanaan nyeri anak.
Comfort food for the soul:
1. Berikan sentuhan yang lembut pada anak.
2. Berikan dukungan keluarga dan sediakan waktu bagi keluarga untuk
menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan perawatan anak.
f. Hipertermia yang berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme.
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat mempertahankan
suhu tubuh dalam batas normal, dengan kriteria suhu tubuh normal (36-
37,50C)
Intervensi:
Standard comfort interventions:
1. Pantau tanda-tanda vital.
2. Kaji penyebab terjadinya peningkatan suhu tubuh.
3. Lakukan kolaborasi : pemberian antipiretik, pemeriksaan
laboratorium.
4. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium.
Coaching:
1. Ajarkan dan libatkan keluarga untuk melakukan kompres hangat.
2. Ajarkan dan libatkan keluarga dalam pemberian minum pada anak.
Comfort food for the soul:
1. Berikan dukungan keluarga dan sediakan waktu bagi keluarga untuk
menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan perawatan anak.
2.4.4 Implementasi keperawatan
Terlampir.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2.4.5 Evaluasi keperawatan
Berdasarkan implementasi yang sudah dilakukan pada An. A selama
dirawat di ruang BCh, kemudian dilakukan evaluasi sebagai berikut:
1. Pra operasi (17 21 Maret 2014)
a. Tanggal 17 Maret 2014 (sore)
S: Keluarga mengatakan sudah merasa siap anaknya di operasi,
meskipun tetap ada rasa kekhawatiran namun tetap harus
dijalani demi kesembuhan anak.
O: Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data terdapat stoma di
abdomen kuadran kiri bawah warna merah, produksi vital, BAB
melalui stoma dengan konsistensi lunak, terpasang kantong
plastik untuk menampung feses. Kulit peristoma tampak adanya
kemerahan.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Ansietas (orang tua) belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi sesuai dengan rencana keperawatan.
b. Tanggal 18 Maret 2014 (sore)
S: Keluarga mengatakan cemas karena belum ada kepastian jadwal
operasi.
O: Terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna merah,
produksi vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak,
terpasang kantong plastik untuk menampung feses. Kulit
peristoma tampak adanya kemerahan.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Ansietas (orang tua) belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi sesuai dengan rencana keperawatan.
c. Tanggal 19 Maret 2014 (pagi)
S: Keluarga mengatakan senang dan lega karena sudah ada
kepastian jadwal operasi.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


O: Terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna merah,
produksi vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak,
terpasang kantong plastik untuk menampung feses. Kulit
peristoma tampak adanya kemerahan.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Ansietas (orang tua) sudah teratasi.
P: Lanjutkan intervensi untuk masalah kerusakan integritas kulit.
d. Tanggal 20 Maret 2014 (pagi)
S: Keluarga mengatakan kulit sekitar stoma masih sedikit merah.
O: Terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna merah,
produksi vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak,
terpasang kantong plastik untuk menampung feses. Kulit
peristoma tampak adanya kemerahan.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi untuk masalah kerusakan integritas kulit.
e. Tanggal 21 Maret 2014 (pagi)
S: Keluarga mengatakan kulit sekitar stoma masih sedikit merah.
O: Terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna merah,
produksi vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak,
terpasang kantong plastik untuk menampung feses. Kulit
peristoma tampak adanya kemerahan.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi untuk masalah kerusakan integritas kulit.
2. Pasca operasi (24 29 Maret 2014)
a. Tanggal 24 Maret 2014 (sore)
S: Ibu menyakan kapan anak boleh minum.
O: Klien tampak lemah, klien masih puasa, tampak ada luka jahit
post operasi di anus, terpasang infus N4+KCL. Masih terdapat
stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna merah, produksi

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak, terpasang
kantong kolostomi untuk menampung feses. Kulit peristoma
masih tampak adanya kemerahan.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Muncul masalah baru risiko kekurangan volume cairan.
3) Muncul masalah baru risiko infeksi.
P: Lanjutkan intervensi sesuai dengan rencana keperawatan.
b. Tanggal 25 Maret 2014 (pagi)
S: Ibu mengatakan anak tidak bisa diam, banyak bergerak, ibu
ketakutan kalau luka jahitan di anus terbuka/lepas. Ibu
mengatakan klien sudah bisa minum sedikit-sedikit
O: Klien tampak gelisah, klien mengeluh sakit pada daerah operasi
yaitu di anus, tampak ada luka jahit post operasi di anus, VAS 3
terpasang infus N4+KCL. Masih terdapat stoma di abdomen
kuadran kiri bawah warna merah, produksi vital, BAB melalui
stoma dengan konsistensi lunak, terpasang kantong kolostomi
untuk menampung feses. Kulit peristoma masih tampak adanya
kemerahan.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Risiko kekurangan volume cairan masih bisa terjadi.
3) Risiko infeksi masih bisa terjadi
4) Muncul masalah baru nyeri akut
P: Lanjutkan intervensi sesuai dengan rencana keperawatan.
c. Tanggal 26 Maret 2014 (malam)
S: Ibu mengatakan anak demam, minum hanya sedikit.
O: Klien tampak gelisah, klien mengeluh sakit pada daerah operasi
yaitu di anus, tampak ada luka jahit post operasi di anus,VAS 2.
Masih terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah warna
merah, produksi vital, BAB melalui stoma dengan konsistensi
lunak, terpasang kantong kolostomi untuk menampung feses.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Kulit peristoma masih tampak adanya kemerahan. Suhu 380C,
kulit teraba hangat.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Risiko kekurangan volume cairan masih bisa terjadi.
3) Risiko infeksi masih bisa terjadi
4) Nyeri akut belum teratasi.
5) Muncul masalah baru hipertermia.
P: Lanjutkan intervensi sesuai dengan rencana keperawatan.
d. Tanggal 28 Maret 2014 (pagi)
S: Ibu mengatakan anak sudah berkurang rewelnya, tapi masih
demam.
O: Klien tampak tenang, tampak ada luka jahit post operasi di anus,
VAS 0. Masih terdapat stoma di abdomen kuadran kiri bawah
warna merah, produksi vital, BAB melalui stoma dengan
konsistensi lunak, terpasang kantong kolostomi untuk
menampung feses. Kulit peristoma masih tampak adanya
kemerahan tapi mulai berkurang. Suhu 38,30C, kulit teraba
hangat.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Risiko kekurangan volume cairan masih bisa terjadi.
3) Risiko infeksi masih bisa terjadi.
4) Nyeri akut sudah teratasi.
5) Hipertermia belum teratasi.
P: Lanjutkan intervensi sesuai dengan rencana keperawatan.
e. Tanggal 29 Maret 2014 (pagi)
S: Ibu mengatakan anak sudah tidak panas
O: Tampak ada luka jahit post operasi di anus. Masih terdapat stoma
di abdomen kuadran kiri bawah warna merah, produksi vital,
BAB melalui stoma dengan konsistensi lunak, terpasang
kantong kolostomi untuk menampung feses. Kulit peristoma

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


masih tampak adanya kemerahan tapi sudah berkurang. Suhu
370C.
A:
1) Kerusakan integritas kulit belum teratasi.
2) Risiko kekurangan volume cairan tidak terjadi.
3) Risiko infeksi masih bisa terjadi.
4) Hipertermia sudah teratasi.
P: Pastikan keluarga memahami tentang perawatan luka pasca
operasi dan perawatan stoma di rumah.

Klien sudah diperbolehkan pulang pada tanggal 29 Maret 2014 dalam


kondisi baik dan sehat. Klien dianjurkan untuk kontrol kembali di poli
bedah pada tanggal 3 April 2014.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 3
PENCAPAIAN KOMPETENSI

Standar profesi perawat Indonesia ditetapkan untuk memastikan masyarakat


menerima pelayanan dan asuhan keperawatan yang kompeten dan aman. Standar
diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disepakati, sedangkan kompetensi
dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup
atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan
atau tugas dengan standar kinerja (performance) yang ditetapkan. Standar
kompetensi perawat merefleksikan atas kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh
individu yang akan bekerja di bidang pelayanan keperawatan. (PPNI, 2005).

3.1 Target Kompetensi Ners Spesialis Keperawatan Anak


Praktik residensi dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu praktik residensi I dan
praktik residensi II. Praktik residensi I memiliki beban studi sebesar 11 SKS
yang dilaksanakan selama 18 minggu dimulai dari tanggal 16 September
2013 sampai dengan 17 Januari 2014. Praktik residensi I dilaksanakan di
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, yaitu di ruang perinatologi selama
4 minggu, ruang BCh selama 6 minggu, dan ruang infeksi lantai 1 gedung A
selama 6 minggu. Penempatan ruangan untuk praktik residensi ini
disesuaikan dengan area peminatan masing-masing residen.

Praktik residensi II memiliki beban studi sebesar 6 SKS yang dilaksanakan


selama 11 minggu dimulai dari tanggal 24 Februari sampai dengan 9 Mei
2014. Praktik residensi II merupakan lanjutan dari praktik residensi I dengan
memilih salah satu area peminatan dari beberapa area peminatan yang telah
dilalui oleh residen pada praktik residensi II. Praktik residensi II dilaksanakan
di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta selama 11 minggu.

3.1.1 Ruang Perinatologi


Praktik residensi I dimulai dari ruang perinatologi yang berlangsung selama
4 minggu dari tanggal 16 September sampai dengan 11 Oktober 2013.
Kompetensi yang telah dicapai selama praktik di ruang perinatologi

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


diantaranya adalah memberikan asuhan keperawatan pada bayi dengan
kasus sepsis neonatorum, prematuritas, hiperbilirubinemia, RD (respiratory
distress), dan BBLR (bayi berat badan lahir rendah). Residen juga
melakukan penilaian usia gestasi dengan menggunakan ballard score,
memberikan penyuluhan kesehatan tentang manajemen laktasi dan
perawatan metode kangguru, melakukan resusitasi pada bayi baru lahir,
penggunaan CPAP (continous positive airway pressure) dan fototerapi, serta
menerapkan asuhan perkembangan merupakan kompetensi lain yang telah
didapatkan residen di ruang perinatologi.
3.1.2 Ruang BCh
Praktik di ruang BCh dilaksanakan pada saat praktik residensi I dan II.
Praktik residensi I berlangsung selama 6 minggu dimulai dari tanggal 28
Oktober sampai dengan 6 Desember 2013. Kompetensi yang telah dicapai
selama praktik di ruang BCh diantaranya adalah memberikan asuhan
keperawatan pada anak dengan kasus atresia ani, morbus hirschprung, dan
apendisitis. Residen juga melakukan perawatan perioperatif, perawatan luka,
perawatan stoma, dan melakukan irigasi rektal. Residen melaksanakan
proyek inovasi kelompok tentang Discharge Planning Melalui Edukasi
Perawatan Stoma Mengggunakan Media Video kepada Keluarga di Ruang
Bedah Anak (BCh) RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Untuk praktik residensi II berlangsung selama 11 minggu dimulai dari


tanggal 24 Februari sampai dengan 9 Mei 2014. Kompetensi yang telah
dicapai selama praktik di ruang BCh diantaranya adalah memberikan asuhan
keperawatan pada anak dengan kasus morbus hirschprung, atresia ani,
invaginasi, apendisitis, dan fraktur pelvis. Melakukan perawatan
perioperatif, perawatan luka, perawatan stoma, dan melakukan irigasi rektal.
Melaksanakan proyek inovasi individu tentang aplikasi pengkajian kulit
peristoma dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool pada pasien anak
dengan stoma di ruang BCh RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


3.1.3 Ruang Infeksi
Praktik residensi I berakhir di ruang infeksi lantai 1 gedung A yang
berlangsung selama 6 minggu dari tanggal 9 Desember 2013 sampai tanggal
17 Januari 2014. Kompetensi yang telah dicapai selama praktik di ruang
infeksi diantaranya adalah memberikan asuhan keperawatan pada anak
dengan kasus endokarditis, HIV-AIDS, dan penyakit kawasaki. Residen
melakuan pemberian obat melalui beberapa rute seperti intravena, dan
inhalasi, penatalaksanaan kondisi kritis/kegawatan (apneu/henti nafas),
memenuhi kebutuhan cairan melalui pemberian infus, transfusi, dan lain-
lain, serta melakukan prosedur penghisapan lendir, dan pemberian terapi
oksigen.

3.2 Peran Ners Spesialis Keperawatan Anak


Sebagai seorang ners spesialis keperawatan anak, beberapa peran yang telah
dilakukan oleh residen selama praktik residensi diantaranya adalah:
3.2.1 Pemberi asuhan keperawatan (care giver)
Selama praktik residensi di ruang perinatologi, ruang infeksi, dan ruang
BCh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, residen telah menjalankan
peran ini dengan memberikan asuhan keperawatan pada klien secara
langsung melalui pendekatan proses keperawatan. Sebagai langkah awal
dari proses keperawatan, residen melakukan pengkajian pada klien dan
keluarga secara menyeluruh meliputi aspek fisik, psikospiritual,
sosiokultural, dan lingkungan. Langkah berikutnya adalah menetapkan
diagnosa keperawatan berdasarkan dari hasil pengkajian yang telah
dilakukan pada tahap awal. Menetapkan intervensi keperawatan
berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditegakkan dan
melaksanakan intervensi keperawatan yang telah ditentukan. Melakukan
evaluasi sebagai tahap akhir dari proses keperawatan.
3.2.2 Pendidik (edukator)
Residen telah menjalankan peran sebagai pendidik dengan memberikan
edukasi kepada keluarga tentang perawatan stoma, perawatan luka, dan
perawatan lainnya yang terkait dengan kondisi penyakit klien. Edukasi

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


dilakukan melalui berbagai metode pengajaran yang disesuaikan dengan
kemampuan klien dan keluarga, serta dengan memanfaatkan penggunaan
media yang telah tersedia di ruangan.
3.2.3 Advokat/pembela klien
Sebagai pembela klien, perawat melindungi hak azasi dan hukum dari
klien, menyediakan bantuan dalam menegakkan hak-hak klien jika
dibutuhkan. Peran ini dilakukan oleh residen pada saat ada klien yang akan
menjalani prosedur pembedahan/operasi namun ternyata keluarga belum
diberikan penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani. Residen
berusaha memfasilitasi dengan melakukan kolaborasi dengan dokter
penanggung jawab untuk memberikan informasi kepada keluarga, serta
mendampingi klien dan keluarga pada saat pemberian informasi untuk
menjamin bahwa klien dan keluarga telah benar-benar memahami
informasi yang telah disampaikan.
3.2.4 Konselor/konsultan
Peran sebagai konselor/konsultan ditujukan untuk membantu klien dan
keluarga mengetahui dan mengklarifikasi masalah kesehatan, serta
memilih keputusan yang sesuai untuk menyelesaikan masalah. Perawat
bertanggung jawab dalam memberikan informasi, mendengarkan secara
objektif, menjadi pendukung, dan menjadi orang yang dipercaya. Perawat
tidak harus membuat keputusan, tetapi lebih cenderung membantu klien
dan keluarga untuk membuat keputusan yang terbaik. Peran ini telah
dicapai oleh residen melalui konsultasi dan bimbingan yang diberikan
kepada keluarga klien dalam mengambil keputusan untuk perawatan
anaknya.
3.2.5 Agen perubah/ pembaharu (change agent/ inovator)
Residen melakukan proyek inovasi sebagai salah satu upaya menjalankan
peran sebagai agen perubah. Proyek inovasi dilakukan di ruang BCh
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta baik secara berkelompok
maupun individu. Proyek inovasi yang dilaksanakan secara berkelompok
mengambil tema Discharge planning melalui edukasi perawatan stoma
mengggunakan media video kepada keluarga di Ruang Bedah Anak RS

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Cipto Mangunkusumo. Sedangkan proyek inovasi yang dilaksanakan
secara individu mengambil tema Aplikasi pengkajian kulit peristoma
dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool pada pasien anak dengan
stoma di ruang BCh RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
3.2.6 Kolaborator
Dalam praktik keperawatan, perawat harus bekerja sama dengan disiplin
pelayanan kesehatan lainnya guna mengkoordinasikan pemberian
pelayanan kesehatan kepada klien. Peran sebagai kolaborator telah
dilakukan oleh residen pada saat mengelola klien dengan melakukan
kolaborasi dengan dokter, ahli gizi, petugas laboratorium, dan juga
farmasi.
3.2.7 Peneliti
Residen tidak melaksanakan penelitian selama praktik residensi, namun
residen melakukan analisis jurnal penelitian yang terkait dengan masalah
yang ditemukan pada kasus kelolaan.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Penerapan Teori Keperawatan Comfort Theory Katharine Kolcaba


dalam Asuhan Keperawatan Anak dengan Stoma yang Mengalami
Masalah Integritas Kulit
Menjaga integritas kulit merupakan salah fungsi keperawatan yang penting.
Integritas kulit perlu dipertahankan agar kulit tetap dapat menjalankan
fungsinya sebagai salah satu organ yang berperan penting dalam memberikan
perlindungan terhadap tubuh. Kerusakan integritas kulit merupakan salah satu
komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan stoma. Kerusakan kulit
peristoma dapat terjadi karena adanya kontak antara kulit dengan isi stoma
(feses) yang tumpah atau trauma pada penggantian alat. Kulit peristoma yang
mengalami kerusakan akan terlihat kemerahan (iritasi) dan menimbulkan rasa
nyeri, sehingga kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan klien, padahal
kebutuhan klien akan rasa nyaman merupakan hal penting yang harus
terpenuhi. Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan kenyamanan tersebut
maka dibutuhkan adanya tindakan/intervensi keperawatan yang sesuai untuk
mengatasi masalah yang muncul.

4.1.1 Pengkajian dan Diagnosis Keperawatan


Pengkajian kondisi kulit peristoma pada kelima kasus terpilih menunjukkan
hasil bahwa 3 dari 5 kasus terpilih telah terjadi masalah kerusakan integritas
kulit yang aktual yaitu pada kasus 1, 3, dan 5 sedangkan 2 kasus masih
bersifat risiko yaitu pada kasus 2 dan 4. Indikasi pembuatan stoma pada 5
kasus terpilih bervariasi, 2 kasus dengan diagnosis atresia ani, dan 3 kasus
lain masing-masing dengan diagnosis hirschprung, invaginasi, dan fraktur
pelvis yang disertai dengan luka terbuka. Sebagian besar klien berjenis
kelamin laki-laki yaitu 4 dan hanya 1 klien berjenis kelamin perempuan,
dengan rentang umur termuda yaitu 6 bulan sampai 11 tahun. Berdasarkan
jenis stoma, 4 klien dengan kolostomi dan 1 klien dengan ileostomi, dengan
lama klien hidup dengan stoma bervariasi mulai dari 1 minggu sampai 2
tahun.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Pada kasus 1, 3 dan 5 sudah muncul diagnosis keperawatan berupa
kerusakan integritas kulit yang terjadi pada klien, ditandai dengan adanya
kemerahan yang tampak pada kulit di sekitar stoma. Sedangkan pada kasus
2 dan 4 diagnosis keperawatan yang muncul masih berupa risiko kerusakan
integritas kulit, karena kondisi kulit peristoma masih baik tidak tampak
adanya kemerahan. Kemerahan pada kulit atau eritema dapat terjadi karena
berbagai faktor penyebab salah satu diantaranya adalah hiperemia atau
peningkatan aliran darah akibat dari proses inflamasi. Adanya kemerahan
yang tampak pada kulit peristoma menunjukkan bahwa sudah terjadi
kerusakan pada lapisan epidermis kulit. Kerusakan yang sudah terjadi pada
lapisan epidermis kulit dapat diklasifikasikan dalam luka derajat 1
(Smeltzer, 2002; Wong, 2008). Ditemukannya tanda kemerahan yang
tampak pada kulit peristoma klien menunjukkan bahwa klien telah
mengalami masalah kerusakan integritas kulit.

Kerusakan kulit peristoma yang terjadi termasuk sebagai lesi primer atau
lesi yang pertama timbul dari kulit yang sebelumnya normal. Faktor
penyebab terjadinya kerusakan kulit peristoma diantaranya adalah adanya
kontak feses dengan kulit peristoma. Feses mengandung enzim pencernaan
yaitu proteolitik dan lipolitik, khususnya protase dan lipase yang bersifat
basa. Biasanya enzim pencernaan ini dalam kondisi tidak aktif ketika feses
melewati saluran pencernaan, namun karena pada anak dengan stoma feses
tidak sempurna melewati saluran pencernaan sehingga kondisi ini
menyebabkan kulit peristoma lebih berisiko untuk mengalami kerusakan.

Kulit peristoma yang tampak kemerahan termasuk dalam tipe kenyamanan


relief dalam konteks fisik yang membutuhkan tindakan untuk membantu
mengatasi dan meringankan ketidaknyamanan tersebut. Komplikasi pada
kulit peristoma tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, namun juga
bisa menimbulkan harga diri rendah dan isolasi sosial serta penurunan
kualitas hidup. Pada klien yang usianya masih masuk dalam kategori bayi
dan todler belum muncul masalah yang berkaitan dengan konteks

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


psikospiritual, lingkungan, dan sosial budaya. Adanya stoma pada klien
tidak mempengaruhi harga diri, kehidupan sosial maupun kualitas hidup
klien. Namun pada klien yang sudah masuk usia sekolah adanya stoma
berpengaruh pada konteks psikospiritual, lingkungan, dan sosial budaya,
sudah muncul rasa malu dan berusaha menutup diri kalau disinggung
pertanyaan yang berkaitan dengan stoma.

4.1.2 Intervensi dan Implementasi Keperawatan


Intervensi keperawatan dalam comfort theory terdiri dari standard comfort
interventions, coaching, dan comfort food for the soul. Untuk mengatasi
masalah kerusakan integritas kulit pada kasus klien dengan stoma ketiga
jenis intervensi ini digunakan. Standard comfort interventions merupakan
intervensi yang dilakukan untuk menjaga homeostasis dan mengontrol
nyeri. Mengkaji dan memantau kondisi stoma, serta kulit peristoma,
memberikan perawatan stoma, melakukan kolaborasi: pemberian obat untuk
kulit yang iritasi merupakan intervensi kenyamanan standar yang dilakukan
untuk mengatasi masalah kerusakan integritas kulit.

Mengajarkan kepada keluarga tentang cara melakukan perawatan stoma,


dan memberikan dukungan informasi tentang perawatan stoma merupakan
intervensi coaching untuk mengurangi ansietas, memberikan jaminan
informasi dan membangkitkan harapan. Mengajak klien bermain merupakan
intervensi comfort food for the soul, yaitu intervensi perawat dengan
menawarkan sesuatu yang menyenangkan untuk membuat anak dan
keluarga merasa lebih diperhatikan dan lebih merasa dikuatkan.

Mengkaji kondisi stoma dan kulit peristoma harus dilakukan sejak awal
klien masuk dan selama klien menjalani perawatan untuk mengetahui
perkembangan kondisi stoma dan kulit peristoma. Pengkajian ini juga
penting dilakukan untuk menilai efektifitas perawatan stoma yang telah
dilakukan. Salah satu alat ukur yang digunakan dalam mengkaji kondisi

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


kulit peristoma adalah the ostomy skin tool (OST) (Martins, Tavernelli, &
Serrano, 2009).

Ketrampilan dasar dalam perawatan stoma terdiri dari cara mengosongkan


dan melepaskan kantong stoma, merawat stoma dan kulit peristoma, serta
cara penggunaan kantong stoma baru. Prinsip dalam perawatan stoma dan
kulit peristoma adalah sebagai berikut: membersihkan stoma dan kulit
peristoma dengan menggunakan air atau larutan salin normal, mengeringkan
kulit peristoma sebelum menempelkan kantong stoma sampai benar-benar
kering agar perekat kantong stoma dapat menempel dengan kuat, pastikan
lubang kantong stoma yang digunakan ukurannya sama dengan diameter
stoma untuk mencegah kebocoran, mengosongkan kantong stoma bila telah
terisi sepertiga kantong, jangan membairkan kantong stoma mengembang
karena terisi oleh udara/gas segera buka kantong stoma untuk
mengeluarkannya, dan segera ganti kantong stoma bila terjadi kebocoran.
Kantong stoma dapat bertahan sampai 3-5 hari bila tidak terjadi kebocoran.

Edukasi tentang perawatan stoma dan kulit peristoma juga diberikan kepada
keluarga dalam rangka memberdayakan dan memandirikan keluarga. Klien
dengan stoma membutuhkan perawatan dalam jangka waktu yang cukup
lama oleh sebab itu penting untuk melibatkan keluarga dalam merawat
stoma melalui edukasi yang diberikan secara berkelanjutan. Memampukan
keluarga dalam merawat stoma melalui edukasi bukanlah pekerjaan yang
mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilannya seperti
faktor pendidikan keluarga, latar belakang sosial budaya keluarga, dan
ketersediaan sarana prasarana yang mendukung. Diperlukan pengawasan
dan dukungan agar keluarga merasa dihargai atas segala usaha yang telah
dilakukan dalam merawat anaknya.

Pada klien yang telah mengalami kerusakan integritas kulit dilakukan


kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat untuk mengatasi iritasi
kulit. Klien telah diberikan resep obat berupa bedak ostomi untuk mengatasi

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


iritasi kulit, namun yang kadang menjadi kendala adalah ketidaktersediaan
obat tersebut di apotik RSCM, sehingga keluarga harus membeli di luar
RSCM dengan harga yang cukup mahal. Kesulitan yang dijumpai dalam
pengobatan kulit peristoma adalah karena obat harus dalam bentuk kering
seperti bedak/powder agar perekat kantong stoma tetap dapat menempel
dengan kuat. Obat yang mengandung unsur minyak harus dihindari karena
mengakibatkan perekat kantong stoma tidak dapat menempel dengan kuat di
kulit sehingga berisiko untuk terjadinya kebocoran kantong stoma.

Mengajak anak bermain atau dengan mengikutsertakan anak dalam program


bermain yang ada di ruangan sangat membantu anak untuk merasa nyaman
berada di lingkungan RS, sehingga intervensi ini dilakukan sebagai
intervensi comfort food for the soul.

4.1.3 Evaluasi Keperawatan


Berdasarkan hasil evaluasi dari 5 kasus terpilih dapat diuraikan sebagai
berikut: pada kasus 1, masalah kerusakan integritas kulit peristoma sudah
dapat teratasi pada saat setelah operasi penutupan stoma. Pada kasus 2,
masalah risiko kerusakan integritas kulit peristoma tidak terjadi sampai pada
akhir perawatan karena klien telah menjalani operasi penutupan stoma. Pada
kasus 3, masalah kerusakan integritas kulit peristoma belum dapat teratasi
secara keseluruhan namun sudah menunjukkan adanya perubahan dengan
semakin berkurangnya area kulit peristoma yang mengalami kemerahan.
Hal ini terjadi karena selama minggu pertama perawatan klien belum
mendapatkan obat untuk mengatasi iritasi kulit karena persediaan obat
tersebut di apotik RSCM masih kosong, latar belakang sosial budaya
keluarga yang kurang mendukung dalam menjaga kebersihan terutama
dalam perawatan stoma meskipun sudah berulang kali diberikan edukasi.

Pada kasus 4 masalah kerusakan integritas kulit yang pada awalnya masih
bersifat risiko menjadi aktual pada hari ke-4 perawatan di BCh. Kondisi ini
terjadi karena sejak setelah operasi balutan pada luka operasi belum pernah

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


dibuka, sehingga ganti balut pasca operasi untuk pertama kalinya baru
dilakukan pada sekitar hari ke-7 pasca operasi karena rencana klien akan
dipulangkan. Residen pernah mencoba melakukan klarifikasi kepada
perawat dan dokter penanggungjawab namun tidak mendapatkan jawaban
yang memuaskan, dan pada catatan medis klien juga tidak ada dokumentasi
yang jelas tentang instruksi ganti balut. Selama ini balutan luka operasi
memang terlihat kering dan bersih, ada produksi stoma dengan jenis
ileostomi. Pada saat balutan dibuka ternyata terdapat pus pada luka
laparotomi, kedua jaringan kulit belum menyatu dengan baik karena adanya
eksudat. Sehingga kepulangan klien akhirnya harus ditunda untuk proses
penyembuhan luka pasca operasi.

Pada kasus 5 masalah kerusakan integritas kulit yang terjadi tidak hanya di
area peristoma namun juga di beberapa area lain (inguinal dekstra, gluteal)
yang mengalami luka terbuka akibat kecelakaan, sehingga membutuhkan
waktu lebih lama untuk proses penyembuhan luka juga intervensi lain yang
lebih kompleks karena harus melibatkan beberapa disiplin ilmu seperti
dokter spesialis bedah plastik, bedah orthopedi, dan bedah urologi.

4.2 Kendala yang Ditemukan dalam Penerapan Teori Keperawatan


Comfort Theory Katharine Kolcaba
Teori keperawatan Comfort Theory dari Katharine Kolcaba dapat
diaplikasikan pada hampir semua aspek dalam proses keperawatan mulai dari
pengkajian sampai evaluasi. Pengkajian dengan menggunakan comfort theory
mampu untuk menggali semua data dari klien secara komprehensif mulai dari
konteks fisik, psikospiritual, lingkungan, dan sosial budaya. Namun masih
saja ada beberapa kendala yang dijumpai selama menerapkan comfort theory
dalam melakukuan asuhan keperawatan. Kendala yang dihadapi dalam tahap
pengkajian ini adalah ketika mengkaji konteks psikospiritual pada anak
terutama yang belum mampu berkomunikasi, dibutuhkan pengamatan
terhadap perilaku anak untuk mendapatkan data tentang psikospiritual anak.
Kendala lain adalah ketika harus melakukan analisis data dari hasil

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


pengkajian pada empat konteks kenyamanan untuk diklasifikasikan ke dalam
tiga tipe kenyamanan dari Kolcaba yaitu relief, ease, dan transcendence
karena tidak ada standar baku yang jelas dari masing-masing kategori.

Intervensi dalam Kolcaba terbagi atas tiga kategori yaitu standard comfort
interventions, coaching dan comfort food for the soul. Ketiga kategori
intervensi ini dapat digunakan dalam mengatasi masalah ketidaknyamanan di
empat konteks kenyamanan yang muncul pada klien. Namun keberhasilan
pelaksanaan intervensi untuk mengatasi masalah sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor di luar teori keperawatan, seperti ketersediaan sarana prasarana,
kemampuan keluarga untuk ikut berpartisipasi aktif dalam perawatan anak.
Dibutuhkan kreatifitas dan inovasi perawat untuk mengatasi segala
keterbatasan yang ada.

Berdasarkan hasil evaluasi keperawatan tidak semua masalah integritas kulit


dapat teratasi, bahkan justru ada yang menjadi lebih buruk. Hal ini
menunjukkan bahwa penerapan teori keperawatan comfort theory belum
mampu menjamin keberhasilan dalam memberikan asuhan keperawatan
kepada klien. Banyak faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan asuhan
keperawatan seperti adanya kerja sama antara disiplin ilmu yang lain,
pengembangan intervensi yang berdasarkan evidence based practice sebagai
upaya agar klien terpenuhi kebutuhan kenyamanan sepanjang pemberian
asuhan keperawatan.

4.3 Praktik Spesialis Keperawatan Anak dalam Pencapaian Target


Kompetensi
Program Residensi Ners Spesialis Keperawatan Anak diselenggarakan dalam
dua semester, yaitu residensi keperawatan anak 1 dan 2. Penekanan program
residensi keperawatan anak adalah pada penerapan hasil analisis berbagai
konsep dan teori keperawatan serta kebijakan pemerintah yang berhubungan
dengan keperawatan anak dan keluarganya pada berbagai tatanan pelayanan
kesehatan. Selama pelaksanaan kegiatan praktik residensi keperawatan anak,

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


residen telah berusaha melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan target
kompetensi yang telah ditetapkan pada awal proses pembelajaran yang
tercantum dalam bentuk kontrak belajar.

Pada praktik residensi keperawata anak 1, residen memilih area peminatan di


bedah anak dan infeksi, sedangkan untuk area peminatan perinatologi
merupakan area yang harus dilalui oleh semua residen. Di ruang perinatologi
semula residen merencanakan dalam kontrak untuk dapat menjalankan
kompentesi sekaligus peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
pada neonatus dengan masalah respirasi: respiratory distress syndrom (RDS),
dan neonatus dengan masalah infeksi: sepsis, namun ternyata pada
kenyataannya residen tidak hanya mendapatkan 2 kasus tersebut tapi lebih
banyak lagi kasus-kasus lain yang berkaitan seperti prematuritas,
hiperbilirubinemia, BBLR (berat badan bayi lahir rendah), dan bayi dengan
berbagai kelainan kongenital lainnya. Residen juga mencoba menerapkan
asuhan perkembangan, meskipun masih banyak kendala yang ditemui pada
saat pelaksanaan karena kurangnya dukungan dari ruangan. Banyak tindakan
keperawatan yang berkaitan dengan kebutuhan neonatus yang dapat residen
lihat dan mencoba untuk melakukannya dengan bimbingan seperti resusitasi
neonatus, CPAP (continous positive airway pressure), fototerapi. Residen
juga sempat mendapatkan bimbingan baik dari dokter spesialis anak maupun
dari perawat ruangan. Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi residen karena
bisa mendapatkan banyak pengalaman yang sangat berharga.

Ruang berikutnya yang dilalui residen pada praktik residensi keperawatan


anak 1 adalah ruang bedah anak (BCh) RSCM, di ruangan ini residen
menargetkan untuk dapat mengelola kasus anak dengan anorectal
malformation, hirschsprungs disease dan luka bakar. Namun ternyata selama
praktik residen tidak menemukan kasus luka bakar yang dirawat di ruang
BCh, karena di RSCM terdapat unit khusus untuk perawatan luka bakar,
sehingga target ini tidak tercapai dan diganti dengan kasus apendisitis. Pada
praktik residensi keperawatan anak 2, residen juga mengambil peminatan di

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


bedah anak. Residen menargetkan untuk dapat melaksanakan asuhan
keperawatan pada anak dengan malformasi anorektal, penyakit hirschsprung,
invaginasi, apendisitis, dan hernia. Hampir semua kasus ini dapat residen
kelola, kecuali untuk kasus hernia yang diganti dengan kasus fraktur pelvis
yang memiliki stoma karena kebutuhan residen akan kasus anak dengan
stoma guna memenuhi tugas karya ilmiah akhir.

Selama di ruang BCh kompetensi dalam perawatan perioperatif bisa residen


dapatkan, seperti mempersiapkan klien untuk pembedahan, memantau
stabilisasi hemodinamik pasca operasi. Ketrampilan lain yang juga residen
dapatkan terutama dalam hal melakukan perawatan luka dan perawatan
stoma. Dalam rangka mengaplikasikan peran sebagai agen pembaharu,
residen juga melakukan proyek inovasi baik secara individu maupun
kelompok, dimana kedua proyek ini berkaitan dengan perawatan stoma.
Proyek inovasi ini mendapat dukungan dari perawat yang ada di ruang BCh,
dan dapat dilaksanakan selama masih ada praktik residensi, namun setelah
praktik berakhir biasanya keberlangsungan dari proyek inovasi ini tidak bisa
dijamin akan tetap diaplikasikan seterusnya di ruangan dikarenakan
kurangnya monitoring dan juga kesibukan perawat. Residen juga
mendapatkan bimbingan langsung dari dokter spesialis bedah anak sehingga
residen bisa mendapatkan banyak ilmu sekaligus jawaban atas semua
keraguan/masalah yang dijumpai selama praktik.

Target kompetensi di ruang infeksi yang tercantum dalam kontrak belajar


adalah untuk melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan masalah
sistem respirasi: pneumonia, sistem persarafan: kejang demam, dan sistem
gastro-hepatologi: diare. Namun ternyata pada saat pelaksanaan praktik
residen menemukan kasus-kasus yang lebih menarik yang belum pernah
residen jumpai sebelumnya sehingga pada akhirnya residen memilih kasus
endokarditis, HIV-AIDS, dan penyakit kawasaki sebagai kasus kelolaan.
Banyak ketrampilan yang didapatkan residen selama praktik di ruang infeksi,
seperti pemantauan cairan, pemberian obat-obatan melalui berbagai rute, dan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


penatalaksanaan pada pasien dengan kegawatan seperti henti nafas. Residen
banyak menjumpai kasus-kasus penyakit yang sangat kompleks selama
praktik di ruang infeksi, sehingga hal ini semakin menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi residen.

Sebagai seorang ners spesialis keperawatan anak diharapkan mampu berperan


secara mandiri sebagai: 1) praktisi asuhan keperawatan anak, 2) pendidik dan
konsultan di bidang keperawatan anak, 3) advokat bagi klien, 4) pengelola
asuhan keperawatan anak, dan 5) peneliti terkait keperawatan anak.
Pencapaian kompetensi dalam kaitan dengan peran sebagai seorang ners
spesialis keperawatan anak yang telah dicapai oleh residen diantaranya adalah
peran sebagai pemberi asuhan keperawatan dengan memberikan asuhan
keperawatan secara langsung kepada klien. Peran sebagai pendidik dan
konsultan juga sudah dapat dicapai oleh residen dengan memberikan edukasi
dan konsultasi kepada klien dan keluarganya, serta peran sebagai advokat
yang melindungi hak klien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
lebih baik.

Telah banyak kompentensi yang berhasil dicapai oleh residen selama praktik
residensi keperawatan anak ini berkat dukungan dan bimbingan dari berbagai
pihak. Residen menyadari untuk tidak merasa cukup dan puas dengan semua
yang telah didapat selama praktik. Hal yang terpenting adalah untuk tetap
mengembangkan ilmu dan mempraktikannya dalam tatanan nyata sehingga
apa yang selama ini telah diperoleh tidak menjadi sesuatu yang sia-sia tapi
dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu keperawatan khususnya
keperawatan anak.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
5.1.1 Seorang ners spesialis keperawatan anak dituntut untuk mampu memberikan
asuhan keperawatan pada anak dengan menerapkan berbagai konsep dan
teori keperawatan yang ada. Masalah integritas kulit merupakan masalah
keperawatan yang menjadi fokus pembahasan dalam karya ilmiah akhir ini.
Masalah integritas kulit sering terjadi pada anak dengan stoma karena
adanya kontak kulit dengan feses dalam jangka waktu yang lama. Residen
memilih salah satu teori keperawatan yaitu comfort theory dari Katharine
Kolcaba untuk diaplikasikan pada saat pemberian asuhan keperawatan pada
anak dengan stoma yang mengalami masalah integritas kulit.
5.1.2 Residen menemukan adanya masalah integritas kulit pada lima kasus
kelolaan yang telah dipilih, baik yang sudah aktual maupun masih risiko.
Pengkajian kondisi kulit peristoma pada kelima kasus terpilih menunjukkan
hasil bahwa 3 dari 5 kasus terpilih telah terjadi masalah kerusakan integritas
kulit yang aktual yaitu pada kasus 1, 3, dan 5 serta 2 kasus masih bersifat
risiko yaitu pada kasus 2 dan 4. Masalah keperawatan lain yang juga muncul
pada lima kasus terpilih berkaitan dengan masalah keperawatan perioperatif
(pra dan pasca operasi), yaitu ansietas (orang tua), risiko kekurangan
volume cairan, risiko infeksi, nyeri akut, dan hipertermia. Intervensi yang
sudah dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan integritas kulit
diantaranya adalah dengan melakukan pemantauan kondisi stoma dan kulit
peristoma, melakukan perawatan stoma, mengajarkan keluarga tentang
perawatan stoma, melakukan kolaborasi pemberian obat untuk mengatasi
kerusakan integritas kulit. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada
akhir perawatan untuk masalah integritas kulit didapatkan hasil bahwa untuk
kasus kerusakan integritas kulit yang aktual belum dapat teratasi untuk
kasus 3 dan 5, sedangkan untuk kasus 1 sudah teratasi. Untuk kasus yang
masih risiko, kasus 2 tidak terjadi masalah kerusakan integritas kulit dan
kasus 4 justru terjadi masalah kerusakan integritas kulit.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


5.1.3 Target kompetensi dan peran sebagai seorang ners spesialis keperawatan
anak yang telah tercapai selama praktik residensi keperawatan anak adalah
melaksanakan peran sebagai praktisi asuhan keperawatan anak yang
memberikan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan
berbagai kasus penyakit, menjadi pendidik (educator) dan konsultan
(conselor) di bidang keperawatan anak, peran sebagai advokat klien dan
juga peran sebagai agen pembaharu. Namun tidak semua target kompetensi
dan peran tersebut dapat tercapai karena berbagai alasan seperti kurangnya
kesempatan, dan fasilitas yang kurang mendukung. Menjalani praktik
residensi keperawatan anak merupakan pengalaman yang sangat berharga,
banyak ilmu pengetahuan yang didapat sehingga menambah kepercayaan
diri dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak.
5.1.4 Teori keperawatan comfort theory dari Katherine Kolcaba dapat
diaplikasikan dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan
masalah integritas kulit. Meskipun penerapan teori ini belum mampu
menjamin keberhasilan mengatasi suatu masalah keperawatan, namun
dengan penerapan teori ini diharapkan klien benar-benar dapat terpenuhi
kebutuhan akan rasa nyaman selama pemberian asuhan keperawatan.
Kenyamanan merupakan aspek penting caring, dibutuhkan kerja sama
antara klien dan perawat untuk menciptakan proses kenyamanan.

5.2 Saran
5.2.1 Teori keperawatan comfort theory Katharine Kolcaba merupakan kategori
midle range theory yang lebih mudah diaplikasikan pada praktik
keperawatan dan penelitian. Teori ini memang dapat diaplikasikan dalam
pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan berbagai kasus penyakit.
Namun masih diperlukan telaah lebih lanjut guna penyempurnaan aplikasi
teori ini di tatanan nyata sehingga lebih bisa dipahami dan tidak
menimbukan perbedaan persepsi, seperti penjabaran yang lebih jelas dalam
tiga tipe kenyamanan Kolcaba.
5.2.2 Masalah integritas kulit sering ditemukan pada klien dengan stoma,
sehingga kondisi ini membutuhkan perhatian yang serius dari perawat untuk

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


dapat tetap mempertahankan integritas kulit melalui intervensi keperawatan
yang harus selalu bisa mengikuti kemajuan perkembangan ilmu
keperawatan khususnya dalam perawatan stoma. Sehingga sebagai seorang
ners spesialis keperawatan anak harus selalu dituntut untuk dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat baik melalui pelatihan,
seminar, dan selalu aktif terlibat dalam praktik keperawatan, serta selalu
mencari solusi dari masalah yang dihadapi melalui penelitian.
5.2.3 Keberhasilan pelaksanaan intervensi dalam mengatasi masalah keperawatan
yang muncul membutuhkan dukungan sarana prasarana yang memadai
seperti tersedianya alat-alat untuk perawatan stoma yang disesuaikan dengan
kebutuhan anak, sehingga pihak Rumah Sakit seharusnya dapat
memfasilitasi kebutuhan tersebut agar klien bisa mendapat pelayanan
kesehatan yang optimal.
5.2.4 Banyak permasalahan yang dihadapi oleh residen selama menjalani praktik
residensi keperawatan anak terutama yang berkaitan dengan pemberian
asuhan keperawatan pada kasus yang dikelola sehingga dibutuhkan
bimbingan dan arahan dari pembimbing melalui proses diskusi yang lebih
intensif dan sistematis. Diharapkan dengan adanya bimbingan ini dapat
memperbaiki persepsi yang salah terhadap sesuatu hal sehingga untuk ke
depan bisa lebih baik lagi dalam memberikan asuhan keperawatan.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


DAFTAR PUSTAKA

American Pediatric Surgical Nurses Association/APSNA. (2008). Pocket guide to


pediatric surgical nursing. Canada: Jones and Bartlett Publishers.
Bickley, L.S. (2009). Buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan Bates. Ed.
8. (Andry Hartono, penerjemah). Jakarta: EGC.
Fergusson, D. (2008). Clinical assessment and monitoring in chlidren. UK:
Blackwell Publishing.
Grace, P.A., & Borley, N.R. (2007). At a Glance Ilmu Bedah Ed 3. Alih bahasa:
dr. Vidhia Umami. Jakarta: Erlangga.
Haugen, V., Ratliff, Catherine R. (2013). Tools for Assessing Peristomal Skin
Complications. J Wound Ostomy Continence Nurs,40(2),131-134
Herdman, T.H. (2012). Diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi 2012-
2014. Alih bahasa: Made Sumarwati, Nike Budhi Subekti. Jakarta: EGC.
Jemec, G.B., Martins, L., Claessens, I., Ayello, E.A., Hansen, A.S., Poulsen, L.H.,
Sibbald, R.G. (2013) Assessing peristomal skin changes in ostomy patients:
validation of the Ostomy Skin Tool. British Journal of Dermatology; 164:
330-335

Jordan, R., Christian, M. (2013). Understanding peristomal skin complications.


Wound Care Advisor; Vol 2(3). Diunduh tanggal 24 Januari 2014 dari
http://www.WoundCareAdvisor.com.

Kolcaba, K. & Di Marco, M.A. (2005). Comfort Theory and Its Application to
Pediatric Nursing Pediatr Nurs. 31(3),187-194.

Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder S.J. et al (2010). Buku ajar
fundamental keperawatan: konsep, proses, dan praktik Ed 7 volume 2 Alih
bahasa, Andry Hartono, Sari Kurnianingsih, Setiawan.. Jakarta: EGC.
Martins, L., Tavernelli, K., Cobos Serano. (2008). Introducing a peristomal skin
assessment tool: The Ostomy Skin Tool. WCET J;28(2):S8-S13. Diunduh
tanggal 24 Januari 2014 dari http://www.WoundCareAdvisor.com.

Peterson, S.J., & Bredow T.S. (2004). Midle range theories aplication to nursing
research. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins
Recalla, S., et al. (2013). Ostomy Care and Management A Systematic Review. J
Wound Ostomy Continence Nurs;40(5):489-500. Diunduh tanggal 3 Januari
2014 dari http://www.nursingcenter.com ... CEConnection.
Sandra, J.P., & Timothy, S.B. (2004). Middle range theories: application to
nursing research. Philadelphia: Lippincott.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Smeltzer, S.C. (2002). Buku ajar keperawatan medikal-bedah Brunner &
Suddarth. Alih bahasa: Agung Waluyo. Jakarta: EGC
Sodikin. (2011). Asuhan keperawatan anak gangguan sistem gastrointestinal dan
hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika.
Tomey, A.M.,& Alligood, M.R. (2006). Nursing Theorist and their work. ( 6th ed).
. USA: Mosby Elsevier

Wilkinson, J.M., & Ahern, N.R. (2012). Buku saku diagnosis keperawatan:
diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Ed.9. Alih bahasa:
Esty Wahyuningsih. Jakarta: EGC.
Wong, D.L., et al. (2008). Buku ajar keperawatanpediatrik Wong. Volume 2.
Alih bahasa, Andry Hartono, Sari Kurnianingsih, Setiawan. Jakarta: EGC.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


KONTRAK BELAJAR
RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK I

Disusun oleh:
NETI MUSTIKAWATI
1106043072

PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
SEPTEMBER, 2013

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


KONTRAK BELAJAR
RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK I
NAMA MAHASISWA : Neti Mustikawati
NPM : 1106043072
TEMPAT PRAKTIK : Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
MATA AJAR : Praktik Klinik KeperawatanAnak LanjutI

No. Tujuan Kompetensi Metode Waktu Keterangan

1. Mahasiswa mampu Praktik 16 September R. Perinatologi


memberikan asuhan 11 Oktober2013 RSCM
keperawatan pada
neonatus.

a. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 16 September R. Perinatologi


asuhan 1. Pengkajian 11 Oktober2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: riwayat kehamilan
neonatus dengan dan kelahiran.
masalah respirasi: b. Pemeriksaan fisik, meliputi: pemeriksaan
Respiratory fisik bayi baru lahir khususnya pada sistem
Distress Syndrom respirasi (thorax, paru)
(RDS). c. Pemeriksaan penunjang, meliputi:
laboratorium darah, rontgen thorax,analisa
gas darah (AGD).
2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan
hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


aman (jaga kehangatan suhu bayi).
c. Manajemen pelayanan keperawatan
neonatus dengan ganggua nafas.
d. Tatalaksana neonatus dengan RDS, yang
meliputi mempertahankan kepatenan jalan
nafas, mempertahankan fungsi pernafasan
normal dan kebutuhan oksigen yang
optimal, mencegah hipoksia.
e. Monitoring hemodinamik dan fungsi tubuh.
f. Pencegahan dan pengendalian infeksi.
g. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: perawatan bayi dengan
RDS, tehnik mencuci tangan dan tindakan
aseptik, antisipasi berduka, perawatan pasca
RDS di rumah.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada neonatus
b. Identifikasi masalah yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan
c. Identifikasi praktik berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based
practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan neonatus
yang profesioanl, etis dan legal, serta peka
budaya
b. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 16 September R. Perinatologi
asuhan 1. Pengkajian 11 Oktober2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: riwayat kehamilan dan
neonatus dengan kelahiran, riwayat penyakit keluarga.
masalah infeksi: b. Pemeriksaan fisik, meliputi: pemeriksaan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Sepsis. fisik bayi baru lahir, tanda dan gejala
sepsis.
c. Pemeriksaan penunjang, meliputi: darah
lengkap, elektrolit, indikator sepsis
2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan
hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang
aman (aseptik).
c. Manajemen pelayanan keperawatan
neonatus
d. Tatalaksana neonatus dengan sepsis,
meliputi mempertahankan lingkungan
aseptik, menerapkan developmental care,
e. Monitoring hemodinamik dan fungsi tubuh
terkait sepsis dan kolaborasi pemberian
antibiotik yang adekuat
f. Pencegahan dan pengendalian infeksi
g. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: perawatan bayi dengan
sepsis, tehnik mencuci tangan dan tindakan
aseptik, antisipasi berduka, perawatan pasca
sepsis di rumah.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada neonatus
b. Identifikasi masalah yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


c. Identifikasi praktik berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based
practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan neonatus
yang profesioanl, etis dan legal, serta peka
budaya
2. Mahasiswa mampu 1. Melakukan pengkajian dan mengidentifikasi Wawancara 16 September R. Perinatologi
melakukan kegiatan kebutuhan dan permasalahan di ruangan. Obseravasi 11 Oktober2013 RSCM
proyek inovasi secara 2. Melakukan analisa dan menentukan masalah. Presentasi
3. Menyusun proposal proyek inovasi yang sesuai
kelompok. Diskusi
dengan kebutuhan atau permasalahan.
4. Melakukan konsultasi dengan supervisor. Praktik
5. Mempresentasikan proposal proyek inovasi. secara
6. Melaksanakan kegiatan proyek inovasi. kelompok
7. Melakukan evaluasi.
8. Mempresentasikan hasil pelaksanaan proyek
inovasi.
9. Menyusun laporan kegiatan
Depok, September 2013
Mahasiswa

Neti Mustikawati

Supervisor Utama Supervisor

Nani Nurhaeni, S.Kp., MN Happy Hayati M.Kep., Sp.Kep.An

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


KONTRAK BELAJAR
RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK I
NAMA MAHASISWA : Neti Mustikawati
NPM : 1106043072
TEMPAT PRAKTIK : Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
MATA AJAR : Praktik Klinik Keperawatan Anak Lanjut II

No. Tujuan Kompetensi Metode Waktu Keterangan

1. Mahasiswa mampu Praktik 9 Desember R. Infeksi


memberikan asuhan 2013 RSCM
keperawatan pada 17Januari2014
anak dengan
kondisi/penyakit akut
dan kegawatan

a. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 9 Desember R. Infeksi


asuhan 1. Pengkajian 2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: keluhan, riwayat 17Januari2014
anak berbagai usia penyakit sekarang, riwayat kesehatan lalu.
dengan b. Pemeriksaan fisik, meliputi: pemeriksaan
kondisi/penyakit fisik lengkap khususnya pada sistem
akut pada sistem respirasi.
respirasi: c. Pemeriksaan penunjang, meliputi:
Pneumonia laboratorium darah, rontgen dada.
2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang
aman
c. Tatalaksana anak dengan pneumonia:
batuk efektif, terapi oksigen, fisioterapi
dada.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
e. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: tanda bahaya
pneumonia berat, perawatan di rumah.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak
b. Identifikasi masalah yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan
c. Identifikasi praktik berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based
practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan anak
dengan pneumonia yang profesioanl, etis
dan legal, serta peka budaya
b. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 9 Desember R. Infeksi
asuhan 1. Pengkajian 2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: keluhan, riwayat 17Januari2014
anak berbagai usia penyakit sekarang, riwayat kesehatan lalu,
dengan riwayat kesehatan keluarga, faktor
kondisi/penyakit predisposisi kejang, riwayat tumbuh
akut pada sistem kembang.
persarafan: Kejang b. pemeriksaan fisik lengkap khususnya pada
Demam sistem neurologi.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


c. Pemeriksaan penunjang, meliputi:
laboratorium darah, EEG.
2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan
hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang
aman
c. Tatalaksana anak kejang demam, meliputi:
pemantauan suhu dan tingkat kesadaran,
tindakan keamanan pada saat kejang,
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
e. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: perawatan demam ,
pengawasan kejang.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak
b. Identifikasi masalah yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan
c. Identifikasi praktik berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based
practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan anak
dengan kejang demam yang profesioanl,
etis dan legal, serta peka budaya

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


c. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 9 Desember R. Infeksi
asuhan 1. Pengkajian 2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: keluhan, riwayat 17Januari2014
anak berbagai usia penyakit sekarang, riwayat kesehatan lalu,
dengan riwayat kesehatan lingkungan.
kondisi/penyakit b. Pemeriksaan fisik, meliputi: pemeriksaan
akut pada sistem fisik lengkap khususnya pada sistem
gastro-hepatologi: gastrointestinal, tanda-tanda dehidrasi.
Diare c. Pemeriksaan penunjang, meliputi:
laboratorium darah, elektrolit.
2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan
hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang
aman
c. Tatalaksana anak dengan diare, meliputi:
pemantauan keseimbangan cairan dan
elektrolit, pemantauan intake dan output
cairan, kebutuhan cairan.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
e. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: penatalaksanaan intake
dan output anak, pencegahan diare,
penatalaksanaan diare di rumah.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak
b. Identifikasi masalah yang timbul terkait

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


dengan pemberian asuhan keperawatan
c. Identifikasi praktik berdasarkan pembuktian
ilmiah (evidence based practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan anak
dengan diare yang profesioanl, etis dan
legal, serta peka budaya
2. Mahasiswa mampu 1. Melakukan kajian literatur. Studi 9 Desember R. Infeksi
menyusun rencana 2. Melakukan pengkajian keadaan ruangan, literatur 2013 RSCM
proposal evidence based meliputi kesiapan SDM dan sarana. 17Januari2014
practice(EBP) 3. Menyusun proposal yang sesuai dengan kajian Diskusi
literatur dan temuan di ruangan.
Konsultasi
4. Melakukan konsultasi dengan supervisor.
5. Melakukan konsultasi dengan kepala ruang dan
diklat.
6. Melakukan revisi proposal sesuai masukan.

Depok, September 2013


Mahasiswa

Neti Mustikawati
Supervisor Utama Supervisor

Nani Nurhaeni, S.Kp., MN Happy Hayati M.Kep., Sp.Kep.An

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


KONTRAK BELAJAR
RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK I
NAMA MAHASISWA : Neti Mustikawati
NPM : 1106043072
TEMPAT PRAKTIK : Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
MATA AJAR : Praktik Klinik Keperawatan Anak Lanjut III

No. Tujuan Kompetensi Metode Waktu Keterangan

1. Mahasiswa mampu Praktik 28 R. Bedah


memberikan asuhan RSCM
keperawatan pada Oktober
anak berbagai usia 6Desember2013
dengan
kondisi/penyakit
kronik.

a. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 28 September R. Bedah


asuhan 1. Pengkajian 6Desember2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: riwayat kehamilan dan
anak berbagai usia kelahiran, riwayat penyakit sekarang,
dengan riwayat kesehatan lalu, riwayat kesehatan
kondisi/penyakit keluarga, riwayat pembedahan, riwayat
kronik: Anorectal tumbuh kembang.
Malformation b. Pemeriksaan fisik, meliputi: pemeriksaan
fisik lengkap khususnya pada sistem
gastrointestinal.
c. Pemeriksaan penunjang, meliputi:
laboratorium darah, rontgen, USG.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan
hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang
aman
c. Tatalaksana anak dengan Anorectal
Malformation, meliputi: pola eliminasi
feses, perawatan post colostomi.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
e. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: perawatan stoma.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak
b. Identifikasi masalah yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan
c. Identifikasi praktik berdasarkan pembuktian
ilmiah (evidence based practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan anak
dengan Anorectal Malformationyang
profesioanl, etis dan legal, serta peka
budaya
b. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 28 September R. Bedah
asuhan 1. Pengkajian 6Desember2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: keluhan, riwayat
anak berbagai usia penyakit sekarang, riwayat kesehatan lalu,
dengan riwayat kesehatan lingkungan, riwayat
kondisi/penyakit tumbuh kembang anak.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


kronik:Hirschsprun b. Pemeriksaan fisik, meliputi: pemeriksaan
gs Disease fisik lengkap khususnya pada sistem
gastrointestinal.
c. Pemeriksaan penunjang, meliputi:
laboratorium darah, elektrolit, rontgen,
USG.
2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan
hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang
aman
c. Tatalaksana anak dengan Hirschsprungs
Disease , meliputi: pemantauan nutrisi,
eliminasi feses.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
e. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: perawatan anak
dengan Hirschsprungs Diseasedi rumah.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak
b. Identifikasi masalah yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan
c. Identifikasi praktik berdasarkan pembuktian
ilmiah (evidence based practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan anak
dengan Hirschsprungs Diseaseyang
profesioanl, etis dan legal, serta peka

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


budaya
c. Melaksanakan Mahasiswa mampu melakukan: Praktik 28 September R. Bedah
asuhan 1. Pengkajian 6Desember2013 RSCM
keperawatan pada a. Anamnesa, meliputi: keluhan, riwayat
anak berbagai usia penyakit sekarang.
dengan b. Pemeriksaan fisik, meliputi: pemeriksaan
kondisi/penyakit fisik lengkap khususnya pada sistem
kronik: Luka Bakar integumen, penghitungan luas luka bakar.
c. Pemeriksaan penunjang, meliputi:
laboratorium darah, elektrolit.
2. Penetapan diagnosa keperawatan berdasarkan
masalah, etiologi, tanda dan gejala.
3. Perencanaan keperawatan, meliputi:
a. Gunakan komunikasi terapeutik dan
hubungan interpersonal yang baik dalam
pemberian pelayanan keperawatan
b. Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang
aman
c. Tatalaksana anak dengan luka bakar,
meliputi: pemantauan keseimbangan cairan
dan elektrolit, pemantauan intake dan
output cairan, kebutuhan cairan,
mempertahankan jalan nafas, managemen
nyeri, perawatan luka bakar.
d. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
e. Membuat perencanaan pendidikan
kesehatan, meliputi: tehnik cuci tangan,
perawatan luka, kebutuhan nutrisi.
4. Implementasi keperawatan
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan
6. Pendokumentasian asuhan keperawatan
meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


b. Identifikasi masalah yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan
c. Identifikasi praktik berdasarkan pembuktian
ilmiah (evidence based practice)
d. Identifikasi praktik keperawatan anak
dengan luka bakar yang profesioanl, etis dan
legal, serta peka budaya
2. Mahasiswa mampu 1. Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan Presentasi 28 September R. Bedah
melakukan presentasi 2. Melakukan studi literatur yang mendukung Diskusi 6Desember2013 RSCM
kasus kasus kelolaan
3. Melakukan konsultasi dengan supervisor
4. Menyusun makalah presentasi
5. Melakukan presentasi

Depok, September 2013


Mahasiswa

Neti Mustikawati

Supervisor Utama Supervisor

Nani Nurhaeni, S.Kp., MN Happy Hayati M.Kep., Sp.Kep.An

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


KONTRAK BELAJAR
RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK II

Disusun oleh:
NETI MUSTIKAWATI
1106043072

PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
FEBRUARI, 2014

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


KONTRAK BELAJAR
RESIDENSI KEPERAWATAN ANAK II
NAMA MAHASISWA : Neti Mustikawati
NPM : 1106043072
TEMPAT PRAKTIK : Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
MATA AJAR : Praktik Klinik Khusus dalam Keperawatan Anak (6 SKS=11 minggu)

No. Tujuan Kompetensi Metode Waktu Keterangan

1. Mahasiswa mampu Melaksanakan asuhan keperawatan dengan mengaplikasikan Praktik 17 Februari R. Bedah
memberikan asuhan Theory of Comfort Katherine Kolcaba pada anak dengan 9 Mei 2014 Anak (BCh)
keperawatan pada anak kasus-kasus sebagai berikut: (masing-masing 1 kasus) RSCM
di berbagai usia dengan A. Malformasi Anorektal
penyakit akut dan 7. Melakukan pengkajian berdasarkan empat konteks
kronik pada berbagai kenyamanan Kolcaba, yaitu:
sistem tubuh yang d. Fisik: anus tidak ada lubang, konstipasi, distensi
membutuhkan tindakan abdomen, kolostomi.
pembedahan e. Psikospiritual: anak rewel, takut, sedih.
(perawatan f. Lingkungan: adaptasi dengan lingkungan rumah sakit.
perioperatif) sebanyak g. Sosiokultural: hubungan dengan orang asing,
6 kasus. perpisahan dengan keluarga, dan teman.
Dikategorikan berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
8. Menetapkan diagnosa keperawatan sesuai dengan data dan
masalah yang ditemukan.
9. Menentukan intervensi keperawatan dan
mengimplementasikannya berdasarkan tiga jenis
intervensi kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Standard comfort interventions: pemantauan tanda-
tanda vital, pengkajian pasien, pemantauan hasil

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


laboratorium, pemberian obat-obatan, kolaborasi
dokter untuk tindakan pembedahan.
b. Coaching: pendidikan kesehatan tentang perawatan
kolostomi, discharge planning, berikan dukungan dan
motivasi.
c. Comfort food for soul: gunakan komunikasi yang
terapeutik dan bina hubungan interpersonal yang baik
dalam pemberian asuhan keperawatan, fasilitasi
keluarga untuk dirujuk ke kelompok khusus.
10. Melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan,
berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
11. Pendokumentasian asuhan keperawatan meliputi:
e. Proses keperawatan pada anak.
f. Identifikasi masalah etik dan legal yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan.
g. Identifikasi praktik keperawatan berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based practice).

B. Penyakit Hirschsprung
1. Melakukan pengkajian berdasarkan empat konteks
kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Fisik: konstipasi, muntah, distensi abdomen,
kolostomi/ileostomi.
b. Psikospiritual: anak rewel, kesakitan, takut.
c. Lingkungan: adaptasi dengan lingkungan rumah sakit.
d. Sosiokultural: hubungan dengan orang asing,
perpisahan dengan keluarga, dan teman.
Dikategorikan berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2. Menetapkan diagnosa keperawatan sesuai dengan data dan
masalah yang ditemukan.
3. Menentukan intervensi keperawatan dan
mengimplementasikannya berdasarkan tiga jenis
intervensi kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Standard comfort interventions: pemantauan tanda-
tanda vital, pengkajian pasien, pemantauan hasil
laboratorium, pemberian obat-obatan, kolaborasi dokter
untuk tindakan pembedahan.
b. Coaching: pendidikan kesehatan tentang perawatan
stoma, dan irigasi rektal, discharge planning, berikan
dukungan dan motivasi.
c. Comfort food for soul: gunakan komunikasi yang
terapeutik dan bina hubungan interpersonal yang baik
dalam pemberian asuhan keperawatan, fasilitasi
keluarga untuk dirujuk ke kelompok khusus.
4. Melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan,
berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
5. Pendokumentasian asuhan keperawatan meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak.
b. Identifikasi masalah etik dan legal yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan.
c. Identifikasi praktik keperawatan berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based practice).
C. Invaginasi
1. Melakukan pengkajian berdasarkan empat konteks
kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Fisik: muntah, distensi abdomen, bising usus melemah,
kolostomi/ileostomi.
b. Psikospiritual: anak rewel, takut, kesakitan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


c. Lingkungan: : adaptasi dengan lingkungan rumah
sakit.
d. Sosiokultural: hubungan dengan orang asing,
perpisahan dengan keluarga, dan teman.
Dikategorikan berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
2. Menetapkan diagnosa keperawatan sesuai dengan data dan
masalah yang mungkin ditemukan.
3. Menentukan intervensi keperawatan dan
mengimplementasikannya berdasarkan tiga jenis
intervensi kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Standard comfort interventions: pemantauan tanda-
tanda vital, pengkajian pasien, pemantauan hasil
laboratorium, pemberian obat-obatan, kolaborasi dokter
untuk tindakan pembedahan.
b. Coaching: pendidikan kesehatan tentang perawatan
stoma, dan perawatan luka, discharge planning, berikan
dukungan dan motivasi.
c. Comfort food for soul: gunakan komunikasi yang
terapeutik dan bina hubungan interpersonal yang baik
dalam pemberian asuhan keperawatan.
4. Melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan,
berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
5. Pendokumentasian asuhan keperawatan meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak.
b. Identifikasi masalah etik dan legal yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan.
c. Identifikasi praktik keperawatan berdasarkan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


pembuktian ilmiah (evidence based practice).
D. Apendisitis
1. Melakukan pengkajian berdasarkan empat konteks
kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Fisik: demam, konstipasi, diare, nyeri abdomen,
gelisah.
b. Psikospiritual: anak rewel, takut, kesakitan.
c. Lingkungan: adaptasi dengan lingkungan rumah sakit.
d. Sosiokultural: hubungan dengan orang asing,
perpisahan dengan keluarga, dan teman.
Dikategorikan berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
2. Menetapkan diagnosa keperawatan sesuai dengan data dan
masalah yang mungkin ditemukan.
3. Menentukan intervensi keperawatan dan
mengimplementasikannya berdasarkan tiga jenis
intervensi kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Standard comfort interventions: pemantauan tanda-
tanda vital, pengkajian pasien, pemantauan hasil
laboratorium, pemberian obat-obatan, kolaborasi dokter
untuk tindakan pembedahan.
b. Coaching: pendidikan kesehatan tentang perawatan
luka post appendiktomi.
c. Comfort food for soul: gunakan komunikasi yang
terapeutik dan bina hubungan interpersonal yang baik
dalam pemberian asuhan keperawatan.
4. Melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan,
berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


5. Pendokumentasian asuhan keperawatan meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak.
b. Identifikasi masalah etik dan legal yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan.
c. Identifikasi praktik keperawatan berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based practice).
E. Hernia
1. Melakukan pengkajian berdasarkan empat konteks
kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Fisik: adanya benjolan di abdomen/scrotum.
b. Psikospiritual: anak rewel, takut, kesakitan.
c. Lingkungan: adaptasi dengan lingkungan rumah sakit.
d. Sosiokultural: hubungan dengan orang asing,
perpisahan dengan keluarga, dan teman.
Dikategorikan berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
2. Menetapkan diagnosa keperawatan sesuai dengan data dan
masalah yang mungkin ditemukan.
3. Menentukan intervensi keperawatan dan
mengimplementasikannya berdasarkan tiga jenis
intervensi kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Standard comfort interventions: pemantauan tanda-
tanda vital, pengkajian pasien, pemantauan hasil
laboratorium, pemberian obat-obatan, kolaborasi dokter
untuk tindakan pembedahan.
b. Coaching: pendidikan kesehatan tentang perawatan
luka post herniotomi.
c. Comfort food for soul: gunakan komunikasi yang
terapeutik dan bina hubungan interpersonal yang baik
dalam pemberian asuhan keperawatan.
4. Melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan,

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
5. Pendokumentasian asuhan keperawatan meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak.
b. Identifikasi masalah etik dan legal yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan.
c. Identifikasi praktik keperawatan berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based practice).
F. Hipospadia
1. Melakukan pengkajian berdasarkan empat konteks
kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Fisik: adanya lubang pada batang penis.
b. Psikospiritual: anak rewel, takut.
c. Lingkungan: adaptasi dengan lingkungan rumah sakit.
d. Sosiokultural: hubungan dengan orang asing,
perpisahan dengan keluarga, dan teman.
Dikategorikan berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
2. Menetapkan diagnosa keperawatan sesuai dengan data dan
masalah yang mungkin ditemukan.
3. Menentukan intervensi keperawatan dan
mengimplementasikannya berdasarkan tiga jenis
intervensi kenyamanan Kolcaba, yaitu:
a. Standard comfort interventions: pemantauan tanda-
tanda vital, pengkajian pasien, pemantauan hasil
laboratorium, pemberian obat-obatan, kolaborasi dokter
untuk tindakan pembedahan.
b. Coaching: pendidikan kesehatan tentang perawatan
luka post operasi.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


c. Comfort food for soul: gunakan komunikasi yang
terapeutik dan bina hubungan interpersonal yang baik
dalam pemberian asuhan keperawatan.
4. Melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan,
berdasarkan tiga tipe kenyamanan, yaitu:
a. Relief
b. Ease
c. Transcendence
5. Pendokumentasian asuhan keperawatan meliputi:
a. Proses keperawatan pada anak.
b. Identifikasi masalah etik dan legal yang timbul terkait
dengan pemberian asuhan keperawatan.
c. Identifikasi praktik keperawatan berdasarkan
pembuktian ilmiah (evidence based practice).
2. Mahasiswa mampu 10. Melakukan pengkajian dan mengidentifikasi rmasalah Wawancara 17 Februari R. Bedah
melakukan kegiatan dan kebutuhan di ruangan. Observasi 9 Mei 2014 Anak (BCh)
proyek inovasi secara 11. Menyusun proposal proyek inovasi dan dikonsultasikan Kuesioner RSCM
mandiri. dengan supervisor. Presentasi
12. Mempresentasikan rencana proyek inovasi dengan lahan Diskusi
praktik. Praktik
13. Melaksanakan kegiatan proyek inovasi. secara
14. Melakukan evaluasi dari hasil kegiatan proyek inovasi. individu
15. Menyusun laporan kegiatan dan mempresentasikan
laporan hasil pelaksanaan proyek inovasi.

3. Mahasiswa mampu 1. Melakukan pengkajian secara komprehensif. Praktik 17 Februari R. Bedah


melakukan kegiatan 2. Membuat asuhan keperawatan secara lengkap dan sistematis. Diskusi 9 Mei 2014 Anak (BCh)
ronde keperawatan. 3. Menjelaskan kasus yang dikelola pada saat pelaksanaan RSCM
ronde keperawatan.
4. Mahasiswa mampu 1. Melakukan pengkajian secara komprehensif. Praktik 17 Februari R. Bedah
melakukan kegiatan 2. Membuat asuhan keperawatan secara lengkap dan sistematis. 9 Mei 2014 Anak (BCh)
ujian ketrampilan klinik 3. Melakukan ketrampilan klinik pada kasus yang dikelola saat RSCM
pelaksanaan ujian.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


5. Mahasiswa mampu 1. Melakukan pre conference. Praktik 17 Februari R. Bedah
melakukan kegiatan 2. Melakukan bimbingan (bed side teaching) pada mahasiswa. Diskusi 9 Mei 2014 Anak (BCh)
bimbingan mahasiswa 3. Melakukan post conference. RSCM
(1-3 orang)

6. Mahasiswa mampu 1. Melakukan pengamatan dan mengidentifikasi masalah yang Praktik 17 Februari R. Bedah
membuat satu jurnal ditemukan. Observasi 9 Mei 2014 Anak (BCh)
reflektif setiap minggu 2. Melakukan pencarian jurnal yang relevan dan menganalisis Literatur RSCM
masalah.
3. Membuat laporan jurnal reflektif (11 laporan).

Depok, 26 Februari 2014


Mahasiswa

Neti Mustikawati

Supervisor Utama Supervisor

Nani Nurhaeni, S.Kp., MN Siti Chodijah, SKp. MN

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN KEGIATAN PROYEK INOVASI


APLIKASI PENGKAJIAN KULIT PERISTOMA DENGAN
MENGGUNAKAN THE OSTOMY SKIN TOOL
PADA PASIEN ANAK DENGAN STOMA
DI RUANG BCH RSUPN CIPTO MANGUNKUSUMO
JAKARTA

Disusun oleh:
NETI MUSTIKAWATI
1106043072

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM NERS SPESIALIS KEPERAWATAN ANAK
DEPOK
MEI, 2014

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan kegiatan proyek inovasi. Laporan ini disusun sebagai salah satu
penugasan praktik residensi II kekhususan keperawatan anak.

Penulis menyadari bahwa laporan ini dapat tersusun dengan baik berkat bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu pada kesempatan ini, penulis
juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :
6. Ibu Yeni Rustina, SKp., MappSc., PhD, selaku koordinator mata ajar
residensi keperawatan anak II.
7. Ibu Elfi Syahreni, Ns., Sp.Kep.An., selaku ko-koordinator mata ajar residensi
keperawatan anak II.
8. Ibu Dr. Nani Nurhaeni. MN, selaku supervisor utama di ruang BCh yang
telah memberikan bimbingannya.
9. Ibu Siti Chodidjah, SKp., MN, selaku supervisor ruang BCh yang telah
memberikan bimbingannya.
10. Ibu Eka Widiati, SKp, selaku kepala ruang BCh RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo yang telah memberikan bantuan dan bimbingan.
11. Perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA) di ruang BCh RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo atas kerja sama nya dalam mengaplikasikan proyek
inovasi ini.
12. Seluruh pasien dan keluarga pasien yang telah berpartisipasi dalam
pelaksanaan proyek inovasi ini.
13. Rekan-rekan program ners spesialis keperawatan anak FIK UI atas segala
masukan dan dukungannya.

Penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi


pengembangan ilmu keperawatan khususnya keperawatan anak.
Depok, Mei 2014

Penulis

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......... i
KATA PENGANTAR ....... ii
DAFTAR ISI ................................. iii
DAFTAR LAMPIRAN ......... iv

1. PENDAHULUAN ........... 1
1.1 Latar Belakang Masalah .......... 1
1.2 Tujuan ......................... 3
1.3 Manfaat ................... 4

2. TINJAUAN PUSTAKA ..... 5


2.1 Stoma ......................................................... 5
2.2 Penilaian Kondisi Kulit Peristoma ............................. 8

3. PERENCANAAN ........................ 10
3.1 Profil Singkat RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo .... 10
3.2 Analisis SWOT ........ 10
3.3 Identifikasi Masalah ........ 11
3.4 Strategi Penyelesaian Masalah ............................................................ 11
3.5 Sasaran ............................................................................................... 14
3.6 Media ................................................................................................ 14
3.7 Rencana Pelaksanaan ..........................................................................
14
3.8 Anggaran Kegiatan ...........................................................................
14
4. PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN .....
4.1 Pelaksanaan ..................... 15
4.2 Pembahasan ......................... 15
19
5. PENUTUP .........................................................................................
5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 23
23
5.2 Saran ....................................................................................................
24

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Jurnal jurnal penelitian

Lampiran 2 : Instrumen The ostomy skin tool (OST)

Lampiran 3 : Modifikasi format

Lampiran 4 : Hasil pengkajian

Lampiran 5 : Daftar hadir

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Banyak anak dengan penyakit/kelainan gastrointestinal dan sebagian anak
dengan penyakit/kelainan saluran genitourinaria kembali dari pembedahan
dengan stoma untuk mengalihkan aliran dari feses atau urin. Stoma adalah
lubang terbuka dari suatu saluran berongga yang menghubungkan saluran
tersebut dengan permukaan kulit (Grace & Borley, 2007). Secara umum
terdapat 2 tipe stoma, yaitu stoma feses dan stoma urin. Stoma feses dapat
berupa kolostomi, ileostomi, jejunostomi atau duodenostomi. Sedangkan
untuk stoma urin atau dikenal dengan istilah urostomi dapat berupa
vesikostomi, ureterostomi, dan nephrostomi (American Pediatric Surgical
Nurses Association/APSNA,2008).

Hidup dengan stoma akan mengubah pengalaman hidup pada anak dan
keluarganya. Adanya stoma pada abdomen anak dapat menimbulkan berbagai
masalah. Komplikasi yang sering terjadi pada perawatan stoma diantaranya
adalah laserasi pada stoma, terpisahnya jaringan mukokutaneus, nekrosis
stoma, obstruksi, hernia peristoma, kerusakan kulit peristoma, infeksi,
prolaps, dan retraksi pada stoma (APSNA,2008).

Salah satu dari komplikasi pada stoma yang telah disebutkan di atas adalah
adanya kerusakan kulit peristoma. Faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya kerusakan kulit peristoma, diantaranya adalah adanya kontak feses
dengan kulit dalam jangka waktu yang cukup lama, adanya alergi kulit
terhadap perekat kantong stoma, kondisi kulit yang mengalami kelebihan
kelembaban karena selalu basah, ditambah lagi dengan adanya gesekan pada
kulit.

Kerusakan yang terjadi pada kulit peristoma ini akan menimbulkan masalah
baru bagi anak, diantaranya adalah munculnya rasa sakit/nyeri akibat adanya
iritasi pada kulit peristoma yang menimbulkan ketidaknyaman.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Ketidaknyamanan ini mengakibatkan anak rewel, anak menjadi takut bila
akan dilakukan perawatan stoma. Kondisi ini dapat memunculkan stress dan
trauma yang dapat dialami oleh anak.

Berdasarkan hasil obeservasi yang selama ini telah penulis lakukan di ruang
BCh, penulis menemukan ada sejumlah pasien anak yang harus menjalani
perawatan dengan stoma baik kolostomi maupun ileostomi. Penulis
menemukan ada sekitar 5 sampai 15 pasien selama 6 minggu menjalani
praktik di ruang BCh. Penulis juga mendapati ada beberapa dari pasien anak
dengan stoma ini mengalami masalah kerusakan integritas kulit berupa
iritasi/kemerahan, yaitu sekitar 5 sampai 10 pasien. Hal ini dapat memberikan
gambaran bahwa kejadian iritasi kulit pada area sekitar stoma bisa dikatakan
cukup tinggi yaitu sekitar 50-75%.

Perawatan stoma yang sesuai dengan prosedur sangat diperlukan guna


mencegah terjadinya komplikasi yang berkaitan dengan adanya stoma.
Perawatan stoma harus diberikan dan diajarkan kepada pasien beserta
keluarganya, agar keluarga mampu merawat stoma secara mandiri. Penulis
menjumpai perawatan stoma yang selama ini telah dilakukan oleh keluarga
sangat bervariasi, karena biasanya keluarga akan melakukan modifikasi
disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Modifikasi dalam perawatan
stoma boleh saja dilakukan sepanjang prinsip-prinsip dalam perawatan stoma
tetap harus diperhatikan.

Untuk menilai efektivitas perawatan stoma yang selama ini telah dilakukan
pada pasien diperlukan pengkajian kondisi kulit peristoma secara teratur agar
dapat dinilai perkembangannya. Pengkajian kondisi kulit peristoma yang
tepat juga sangat dibutuhkan untuk mengetahui kondisi kulit sejak awal
pasien dengan stoma agar dapat diketahui setiap ada perubahan yang terjadi
pada kulit pasien. Diperlukan adanya suatu alat ukur guna mengkaji kondisi
kulit peristoma agar penilaian dapat dilakukan secara objektif sehingga tidak
menimbulkan perbedaan persepsi antar sesama perawat yang mengkaji.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Adanya alat ukur yang terstandar juga mempermudah perawat menilai
perkembangan kondisi kulit pasien dengan stoma.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh penulis selama


praktik di ruang BCh, penulis belum menjumpai adanya format/alat untuk
mengukur kondisi kulit peristoma pada pasien dengan stoma. Penulis juga
menjumpai bahwa selama ini pengkajian yang telah dilakukan oleh perawat
di ruang BCh hanya dengan mengobservasi adanya kulit yang kemerahan
atau adanya kulit yang mengalami lecet (laserasi) tanpa adanya hasil/skor
yang pasti, sehingga hasil penilaian seperti ini tentu kurang valid karena lebih
bersifat subjektif dan dapat menimbulkan intrepretasi hasil yang berbeda-
beda.

Salah satu alat ukur yang penulis dapatkan dari beberapa jurnal yang telah
penulis baca adalah The Ostomy Skin Tool yang dibuat oleh 12 pakar
perawat ostomi bekerja sama dengan Coloplast (Martins, Tavernelli, &
Serrano, 2009). Alat ukur ini sudah mulai dipresentasikan pada saat Word
Council of Enterostomal Therapist pada tahun 2008 (Ann C., 2009).
Berdasarkan fenomena ini, penulis mengidentifikasi bahwa diperlukan
adanya suatu format/alat untuk mengukur kondisi kulit peristoma yang bisa
diterapkan di ruang BCh ini, agar perawat dapat memantau kondisi kulit
pasien dengan stoma lebih objektif dan menghasilkan data yang lebih akurat
dan valid. Serta diharapkan dengan diaplikasikannya alat ukur ini dapat
mencegah terjadinya komplikasi pada kulit peristoma serta mampu mengatasi
komplikasi yang terjadi dengan perawatan stoma yang disesuaikan dengan
kondisi masing-masing pasien.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengaplikasikan instrumen The Ostomy Skin Tool pada saat mengkaji
kulit peristoma pada pasien anak dengan stoma di ruang BCh.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Mengidentifikasi praktik perawat dalam melakukan pengkajian kulit
peristoma pada pasien anak dengan stoma yang selama ini telah
dilaksanakan di ruang BCh.
1.2.2.2 Menambah pengetahuan dan meningkatkan ketrampilan praktik perawat
di ruang BCh dalam melakukan pengkajian kulit peristoma dengan
menggunakan instrumen The Ostomy Skin Toolpada pasien anak
dengan stoma.
1.2.2.3 Mengidentifikasi data/skor dari hasil pengkajian kulit peristoma dengan
menggunakan instrumen The Ostomy Skin Toolpada pasien anak
dengan stoma di ruang BCh.

1.3 Manfaat
1.3.1 Rumah sakit
Penerapan proyek inovasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
mengaplikasikan pengkajian kulit peristoma pada pasien dengan stoma di
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
1.3.2 Perawat
Memberikan informasi kepada perawat sekaligus dapat menambah
kemampuan ketrampilan dalam mengkaji kulit peristoma pada pasien
dengan stoma di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
1.3.3 Keluarga dan pasien
Memberikan perawatan yang lebih berkualitas dan dapat
dipertanggungjawabkan karena berdasarkan evindence based practice
kepada pasien dan keluarga.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stoma
2.1.1 Definisi stoma
Stoma adalah lubang terbuka dari suatu saluran berongga yang
menghubungkan saluran tersebut dengan permukaan kulit (Grace &
Borley, 2007). Stoma dibuat melalui suatu prosedur pembedahan yang
disebut dengan ostomi. Pembuatan stoma dilakukan untuk mengalihkan
aliran dari feses atau urin pada kasus-kasus dengan penyakit/kelainan
pada gastrointestinal dan saluran genitourinaria.
2.1.2 Jenis stoma
Pada prinsipnya terdapat 2 jenis stoma , yaitu:
A. Stoma feses, jenis stoma ini digunakan untuk mengeluarkan feses.
Stoma feses ini dapat berupa:
1. Kolostomi, suatu lubang terbuka pada usus besar
2. Ileostomi, suatu lubang terbuka pada usus halus
3. Jejunostomi atau duodenostomi suatu lubang terbuka pada jejunum
atau duodenum
B. Stoma urin atau dikenal dengan istilah urostomi (lubang eksternal pada
saluran kemih), digunakan untuk mengeluarkan urin. Stoma urin dapat
berupa:
1. Vesikostomi, lubang eksternal pada kandung kemih (bladder)
2. Ureterostomi lubang eksternal pada ureter
3. Nephrostomi lubang eksternal pada ginjal (kidney)
(Grace & Borley, 2007; APSNA, 2008)
2.1.3 Komplikasi stoma
Komplikasi yang umum terjadi pada perawatan stoma diantaranya adalah:
1. Laserasi pada stoma
Laserasi terjadi ketika stoma mengalami trauma. Laserasi tampak
sebagai garis putih atau kuning pada mukosa stoma, biasanya pada
dasar stoma.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2. Terpisahnya jaringan mukokutaneus
Selama pembedahan pembuatan stoma usus di bawa ke luar pada
insisi dinding abdomen untuk mengeluarkan stoma yang matur dan
membuat celah pada kulit. Garis celah ini lah yang disebut
mucocutaneous junction Ketegangan yang berlebihan pada garis ini
dapat menyebabkan dehisense.
3. Nekrosis stoma
Komplikasi akut dini akibat gangguan aliran darah, stoma tampak
hitam atau ungu gelap. Penatalaksanaannya dengan reoperasi untuk
membuat stoma kembali.
4. Obstruksi
Obstruksi usus dapat terjadi secara mekanik maupun psikologik.
Obstruksi mekanik pada usus bagian proksimal dari stoma karena
makanan berserat merupakan masalah yang spesifik pada ileostomi.
5. Hernia peristoma (herniasi)
Terdapatnya usus pada jaringan subkutan biasanya akibat lubang
terbuka yang terlalu besar pada otot dinding abdomen. Merupakan
komplikasi jangka panjang yang paling sering terjadi. Sering
menyebabkan masalah perlekatan alat stoma. Penatalaksanaannya
dengan memperbaiki stoma dan penempatan ulang stoma.
6. Kerusakan kulit peristoma (dermatitis peristoma) dan infeksi
Terjadi akibat tumpahnya isi stoma ke kulit di sekitarnya atau trauma
pada penggantian alat. Penatalaksanaannya dengan perawatan stoma
yang lebih baik, penggantian alat, dan pemberian antiinflamsi topikal.
7. Prolaps
Panjang tangkai berlebihan akibat defek kulit yang longgar atau efek
kronis peristaltik usus. Lebih sering terjadi pada stoma loop
khususnya kolostomi loop. Penatalaksanaannya dengan mengganti
alat stoma atau memperbaiki stoma.
8. Retraksi pada stoma
Berkurang/hilangnya tangkai atau masuknya stoma ke dalam dinding
abdomen biasanya akibat tegangan pada usus yang digunakan.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Penatalaksanaannya dengan alat stoma yang cembung, perbaikan
stoma dengan pembedahan.
9. Stenosis
Penyempitan stoma atau orifisium kutan biasanya akibat defek kecil
pada kulit atau iskemia kronis stoma. Penatalaksanaannya dengan
dilatasi menggunakan dilator probe atau perbaikan stoma dengan
pembedahan. (Grace & Borley, 2007; APSNA, 2008).
2.1.4 Perawatan stoma
Merawat stoma diharuskan menguasai ketrampilan dasar yaitu:
mengosongkan dan melepaskan kantong, merawat stoma, dan kulit
peristomal, penggunaan kantong stoma baru, serta merawat mucous fistula
(American Pediatric Surgical Nurses Association, 2008).
2. Cara mengganti kantong stoma
a. Kosongkan kantong
b. Lepaskan kantong. Angkat skin barrier dengan menekan kulit dan
buang kantong.
c. Bersihkan kulit dengan kassa dan air hangat/matang/NaCl 0,9%.
Kemudian keringkan kulit sekitar stoma.
d. Kaji stoma dan kulit.
e. Ukur stoma dan potong lubang kantong sesuai ukuran stoma.
f. Angkat kertas perekat dari skin barrier dan pasang kantong pada
stoma.
g. Tekan perekat dari tempat yang paling dalam sampai yang terluar
hingga merata.
h. Tutup ujung kantong dengan penjepit.
3. Cara mengosongkan kantong.
a. Tarik ke atas bagian bawah kantong agar isi tidak tumpah.
b. Buka dan lepas penjepit kantong kolostomi.
c. Alirkan isi kantong ke toilet atau gelas ukur/plastik.
d. Bersihkan sisa kotoran dengan air matang atau NaCl 0,9%
e. Jika kantong sudah kosong, tutup kembali dan ikat dengan penjepit.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2.2 Penilaian Kondisi Kulit Peristoma
The Ostomy Skin Tool adalah sebuah alat standar untuk menilai kondisi kulit
peristoma. Alat ini menggunakan pengamatan klinis langsung untuk
menghitung gabungan skor (Discolourration, Erosion, Tissue
overgrowth/DET skor) untuk menjelaskan tingkat keparahan gangguan kulit
peristoma. Alat ini juga mampu memfasilitasi monitoring kulit secara
konsisten, serta mampu melakukan penilaian yang ketat terhadap efek dari
perawatan ostomi yang bervariasi dalam peralatannya. Dengan penggunan
instrumen ini memungkikan evaluasi dan monitoring dapat dilakukan dengan
lebih objektif terhadap kulit peristoma oleh para profesional kesehatan yang
berbeda-beda secara umum. Penilaian yang komprehensif ini terbukti dapat
mempengaruhi outcome (hasil) dari pasien menjadi lebih baik dalam hal
untuk monitoring (pengawasan) dan berkelanjutan (Martins et. al, 2009).

The Ostomy Skin Tool dikembangkan oleh sebuah kelompok internasional


yang terdiri dari 12 perawat ahli ostomi bekerja sama dengan Coloplast
(sebuah perusahaan peralatan ostomi dari Denmark), serta petunjuk dari para
ahli dermatologi. The Ostomy Skin Tool terdiri dari dua bagian, yaitu :
A. The DET score, terdiri dari 3 domain yaitu:
1. D untuk Discolourration yaitu perubahan warna kulit.
2. E untuk Erosion yaitu kulit yang mengalami erosi.
3. T untuk Tissue overgrowth yaitu pertumbuhan jaringan yang
berlebihan.
Total skor DET memberikan informasi tingkat keparahan secara
keseluruhan dari masalah pada kulit peristoma. Sedangkan sub skor
untuk membantu mengidentifikasi masalah. Setiap domain terdiri dari
dua hal yang dinilai yaitu area (luas/daerah) dan severity (keparahan).
Nilai atau poin untuk area mulai dari 0 3, dan untuk severity mulai dari
1-2. Nilai untuk DET gabungan berkisar mulai dari 0 (normal) sampai 15
(kondisi terburuk). Komplikasi ringan dengan nilai DET kurang dari 4,
sedang kurang dari 7, dan berat dengan nilai 8 atau lebih (Jordan &
Christian, 2013).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


B. The diagnostic guide
Digunakan untuk menetapkan perubahan visual yang paling relevan.
Kemudian mengikuti alur panduan petunjuk ini, kita menjawab
serangkaian pertanyaan yang disesuaikan dengan hasil pengamatan,
sehingga pada akhirnya gangguan kulit peristoma dapat dikategorikan
sesuai dengan penyebabnya dan memutuskan regimen pengobatan yang
tepat sesuai dengan panduan/petunjuk yang sudah tersedia (Martins et. al,
2009; Page, 2009; Jordan & Christian, 2013; coloplast)

Pedoman ini menjelaskan ada empat kategori dalam komplikasi


peristoma, yaitu:
1. Chemical irritation (iritasi kimiawi)
2. Mechanical trauma (trauma mekanik)
3. Disease related complication (berhubungan dengan penyakit)
4. Infection related complication (berhubungan dengan infeksi)

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 3
PERENCANAAN

Berdasarkan hasil pengkajian yang telah dilakukan selama praktik di ruang BCh
pada tanggal 24 Februari 14 Maret 2014 didapatkan data sebagai berikut:
3.1 Profil Singkat RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo
3.1.1 Visi
Menjadi Rumah Sakit Pendidikan yang mandiri dan terkemuka di Asia
Pasifik tahun 2015.
3.1.2 Misi
1. Memberikan pelayanan kesehatan paripurna dan bermutu serta
terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
2. Menjadi tempat pendidikan dan penelitian tenaga kesehatan.
3. Menjadi tempat penelitian dan pengembangan dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui manajemen yang
mandiri.
3.1.3 Motto
R : Respek
S : Sigap
C : Cermat
M : Mulia
3.2 Analisis SWOT
3.2.1 Strength (kekuatan)
1. Perawat di ruang BCH berjumlah sekitar 20 orang dengan latar belakang
pendidikan D3: 15 orang dan S1: 5 orang, serta 1 orang perawat yang
telah memiliki sertifikat ETN.
2. Perawat bekerja dengan metode tim, di mana setiap tim menangani
beberapa pasien, sehingga perawat dapat memahami kebutuhan
perawatan pasien secara menyeluruh serta perawat mampu memantau
perkembangan pasien secara terus menerus.
3.2.2 Weakness (kelemahan)
1. Instrumen masih dalam bahasa inggris, sehingga memerlukan waktu
lebih lama untuk memahami isinya.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2. Subjektifitas dari perawat yang melakukan penilaian masih dapat
mempengaruhi hasil pengkajian.
3.2.3 Opportinity (peluang)
1. RSCM merupakan rumah sakit pusat rujukan nasional dan sudah
mendapatkan sertifikat JCI.
2. RSCM merupakan rumah sakit pendidikan bagi dokter dan perawat,
sehingga pengembangan ilmu untuk meningkatkan kualitas perawatan
bagi pasien lebih berkembang.
3.2.4 Threat (ancaman)
1. Perbandingan antara jumlah pasien dan perawat yang kurang seimbang,
rata-rata setiap perawat harus merawat 6-8 pasien dalam setiap shift.
2. Prosedur untuk dapat diperlakukannya suatu instrumen membutuhkan
penelaahan yang cukup lama.
3.3 Identifikasi Masalah
Pengkajian kulit peristoma pada pasien anak dengan stoma sangat dibutuhkan
sebagai salah satu upaya preventif. Kerusakan kulit peristoma merupakan
salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien anak dengan stoma.
Pengkajian kulit peristoma membutuhkan alat ukur/tool yang sudah tersandar.
3.4 Strategi Penyelesaian Masalah
3.4.1 Tahap persiapan
A. Pembuatan pertanyaan masalah berdasarkan PICO: Patient
problem/Population, Intervention, Comparison, Outcome
Patient problem/Population : Belum tersedianya instrumen
yang dapat digunakan untuk
mengkaji kondisi kulit peristoma
pada pasien dengan stoma di ruang
BCh.
Intervention : Aplikasi instrumen The Ostomy
Skin Tool untuk mengkaji kondisi
kulit peristoma pada pasien anak
dengan stoma di ruang BCh RSUPN
Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Comparison : Tidak dilakukan comparison
(perbandingan).
Outcome : Perawat mampu melakukan
pengkajian kulit peristoma dengan
menggunakan instrumen The
Ostomy Skin Toolpada pasien anak
dengan stoma.
Pertanyaan masalah: apakah perawat mampu mengaplikasikan The
Ostomy Skin Tool pada pasien anak dengan stoma?
B. Pencarian (searching) jurnal/literatur
Kata kunci (keyword):
Assesment peristomal skin

Batasan metode penelitian dalam penelusuran jurnal:


_ Systematic Review or Meta-Analysis
_ Clinical Practice Guidelines

Jurnal penelitian yang ditelusuri:


_ Cochrane
_ CINAHL
_ PubMed

Informasi yang dibutuhkan dalam penulusuran jurnal:


1) Cochrane: tidak ditemukan
2) CINAHL: tidak ditemukan
3) PubMed:
a) Haugen, V., Ratliff, Catherine R. (2013). Tools for Assessing
Peristomal Skin Complications. J Wound Ostomy Continence
Nurs;40(2):131-134
Jurnal ini membandingkan empat jenis tool untuk menilai
komplikasi kulit peristoma. Berdasarkan hasil perbandingan
ini menunjukkan bahwa The ostomy skin tool merupakan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


alat ukur yang mempunyai banyak kelebihan untuk menilai
komplikasi kulit peristoma diantaranya adalah mudah
digunakan dan dapat diterapkan, telah diuji reliabilitas dan
validitasnya, untuk tipe stoma feses dan urin, serta terdapat
skor dengan rentang 0 sampai 15.
b) Jemec, G.B., Martins, L., Claessens, I., Ayello, E.A., Hansen,
A.S., Poulsen, L.H., Sibbald, R.G. Assessing peristomal skin
changes in ostomy patients: validation of the Ostomy Skin Tool.
British Journal of Dermatology; 164: 330-335
Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan dari uji interrater
reliability didapatkan nilai K=0,84 antar perawat dalam satu
kelompok, dan nilai K=0,54 antara dua kelompok perawat.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan penilaian
yang bermakna. Kesimpulan dari penelitian ini mendukung
validitas OST. Disarankan bahwa skala kategori dapat
digunakan untuk menggambarkan tingkat keparahan skor
DET.
C. Appraise literatur, melakukan analisis/penilaian jurnal.
D. Pembuatan kerangka acuan proyek inovasi.
E. Berkonsultasi dengan supervisor ruangan BCh.
F. Berkoordinasi dengan kepala ruangan, dan perawat ruang BCh
3.4.2 Tahap pelaksanaan
A. Melakukan presentasi dan sosialisasi mengenai The Ostomy Skin Tool
B. Mengaplikasikan The Ostomy Skin Tool
C. Melakukan evaluasi terhadap aplikasi
3.4.3 Tahap evaluasi
A. Evaluasi proses
Mengusulkan untuk menunjuk salah satu perawat ruang BCh sebagai
penanggung jawab tindak lanjut aplikasi kulit peristoma dengan
menggunakan the ostomy skin tool selama proses pemberian asuhan
keperawatan berlangsung pada pasien anak dengan stoma.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


B. Evaluasi hasil
Mengevaluasi hasil pengkajian dengan menggunakan the ostomy skin
tool yang telah diaplikasikan oleh perawat di ruang BCh pada pasien
anak dengan stoma.
3.5 Sasaran
Sasaran dari kegiatan ini adalah perawat dan pasien anak dengan stoma di
ruang rawat BCh RSCM.
3.6 Media
Media yang digunakan adalah instrumen The Ostomy Skin Tool.
3.7 Rencana Pelaksanaan
Pelaksanaan
No Kegiatan
Mg 1 Mg 2 Mg 3 Mg 4 Mg 5 Mg 6
Perkenalan dan kontrak
1.
kegiatan
2. Pengkajian dan analisis data
Sosialisasi (presentasi
3.
proposal)
4. Pelaksanaan program
5. Evaluasi proses kegiatan
6. Penulisan laporan
Presentasi hasil proyek
7.
inovasi

3.8 Anggaran Kegiatan


No. Kegiatan Biaya
1. Persiapan:
Pembuatan proposal Rp. 50.000,00
Bahan dan alat Rp. 200.000,00
Biaya presentasi (snack, dan lain-lain) Rp. 250.000,00
30 org X Rp 15.000

2. Pelaksanaan:
Penggandaan instrumen Rp. 200.000.00
3. Evaluasi:
Penyusunan laporan Rp. 50.000,00
Presentasi Rp. 250.000,00
JUMLAH Rp. 1.000.000,00

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 4
PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan proyek inovasi di ruang rawat bedah anak BCh dilakukan
melalui tahap-tahap sebagai berikut:
4.1.1 Tahap Persiapan
Presentasi proposal proyek inovasi dilakukan pada hari Selasa, 25 Maret
2014 di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo pada pukul
11.00WIB. Presentasi dihadiri oleh 11 orang peserta yang terdiri dari kepala
ruang BCh, perawat primer (PP), perawat asosiet (PA), dan mahasiswa.
Kegiatan dimulai dengan presentasi secara panel dari 5 mahasiswa residensi
keperawatan anak, dan dilanjutkan dengan diskusi serta tanya jawab.
Kegiatan presentasi ini menghasilkan beberapa kesepakatan diantaranya
adalah:
1. Adanya persetujuan dan ijin dari supervosir ruangan, kepala ruang, dan
perawat primer untuk mengaplikasikan pengkajian kulit peristoma
dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool pada semua anak yang
dirawat dengan stoma di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
2. Perlunya diadakan sosialisasi penggunaan The Ostomy Skin Tool pada
PP dan PA di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
3. Rencana pelaksanaan dan evaluasi dari aplikasi The Ostomy Skin Tool
oleh perawat pada semua anak yang dirawat dengan stoma di ruang BCh
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
4.1.2 Pelaksanaan Proyek Inovasi
Inovasi aplikasi pengkajian kulit peristoma dengan menggunakan The
Ostomy Skin Tool mulai dilaksanakan dari tanggal 24 Maret sampai 18
April 2014 (4 minggu) dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut:
1. Sosialisasi
Kegiatan sosialisasi pada PP dan PA di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Maret 2014.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


2. Pelaksanaan
Pelaksanaan aplikasi pengkajian kulit peristoma dengan menggunakan
The Ostomy Skin Tool dilakukan mulai dari tanggal 28 Maret 2014
sampai terakhir tanggal 16 April 2014. Namun uji coba instrumen
sudah dilakukan pada 2 kasus kelolaan sebelum diadakan presentasi
proyek inovasi ini. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Menyiapkan format pengkajian The Ostomy Skin Tool yang sudah
dilakukan modifikasi.
b. Menyiapkan pasien yang akan dikaji, yaitu pasien dengan stoma
yang akan dilakukan perawatan stoma (penggantian kantong stoma).
c. Mencuci tangan sebelum melakukan tindakan.
d. Melakukan pengkajian dengan mengobservasi area stoma dan kulit
peristoma dengan menggunakan panduan The Ostomy Skin Tool,
kemudian menentukan skor/hasil.
e. Mendokumentasikan hasil pengkajian pada format.
f. Mencuci tangan setelah selesai melakukan tindakan.
4.1.3 Hasil Pelaksanaan
Hasil dari pelaksanaan proyek inovasi di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo didapatkan sebagai berikut:
1. Aplikasi telah dilakukan pada 9 pasien dengan rentang umur pasien
antara 1 minggu sampai 11 tahun.
2. 5 pasien berjenis kelamin laki-laki, dan 4 pasien berjenis kelamin
perempuan.
3. 3 pasien dengan diagnosa medis hirschprung, 2 pasien dengan atresia
ani, 2 pasien dengan invaginasi, 1 pasien dengan atresia ileum, dan 1
pasien dengan fraktur pelvis.
4. Lama stoma pasien berkisar antara 1 minggu sampai 1,5 tahun.
5. Hasil pengkajian/pengukuran dari The Ostomy Skin Tool didapatkan
total skor DET mulai dari 0 sampai 3 yang termasuk kategori
komplikasi ringan.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


6. Frekuensi pengkajian dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool
pada setiap pasien dengan stoma tersebut dapat dilakukan antara 1
sampai 3 kali.
7. Dari 23 perawat yang ada di ruang BCh, baru 6 perawat yang telah
melakukan pengkajian dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool.
4.1.4 Kendala dan Solusi
Terdapat beberapa kendala yang dihadapai dalam pelaksanaan proyek
inovasi, diantarnya adalah sebagai berikut:
1. Pengkajian dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool ini hanya
berfokus pada mengkaji kondisi kulit di area peristoma tanpa mengkaji
kondisi stoma itu sendiri, padahal kondisi stoma juga harus diobservasi
terhadap kemungkinan adanya komplikasi seperti perubahan warna
pada stoma, produksi stoma, dan lain-lain. Sering pula dijumpai
kondisi dimana stoma disertai dengan adanya luka post operasi
(laparatomi), yang lokasinya berdekatan dengan stoma. Kondisi ini
dapat menimbulkan kebingungan dalam menentukan skor karena luka
post operasi berada pada area kulit peristoma yang tertutup oleh perekat
kantong stoma yang termasuk dalam area yang harus dikaji/diukur.

Untuk mengatasi kendala tersebut, dilakukan sedikit modifikasi pada


tool dengan menambahkan beberapa item pengkajian, seperti mengkaji
kondisi stoma terhadap warna, produksi, dan komplikasi, serta
mengkaji kondisi luka post operasi, bila terdapat luka post operasi di
area peristoma.
2. Adanya perbedaan persepsi penilaian terhadap kondisi kulit peristoma
antara satu penilai dengan penilai lainnya. Kondisi ini merupakan hal
yang biasa terjadi pada setiap pengkajian. Adanya sedikit perbedaan
merupakan hal yang wajar namun selisih angka tidak boleh melebihi 1-
2 poin. Memperbanyak latihan aplikasi tool/format yang dapat diakses
secara online melalui www.coloplast. Melakukan konfirmasi ulang
secara bersama-sama bila terdapat perbedaan yang signifikan guna
mendapatkan suatu kesepakatan dalam menentukan skor DET.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


4. Tidak adanya kepastian waktu pelaksanaan pengkajian juga menjadi
kendala dalam pelaksanaan proyek inovasi. Pelaksanaan pengkajian
dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool sangat tergantung pada
kondisi/kebutuhan pasien terhadap perawatan stoma yang kadang tidak
bisa dipastikan waktunya. Keterbatasan waktu dan tenaga perawat, serta
ketidaksesuaian jadwal dinas mahasiswa sangat mempengaruhi
pelaksanaan aplikasi. Hal ini mengakibatkan aplikasi format pengkajian
ini belum bisa dilakukan oleh semua perawat dan juga belum bisa
dilakukan pada semua pasien dengan stoma di ruang BCh. Diperlukan
komitmen bersama untuk bisa menjalankan aplikasi pengkajian kulit
peristoma dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool oleh semua
perawat yang ada di ruang BCh.
5. Aplikasi pengkajian kulit peristoma dengan menggunakan The Ostomy
Skin Tool ini baru sebatas mengaplikasikan penilaian terhadap kondisi
kulit peristoma dengan menentukan skor pada masing-masing item dan
menjumlahkannya untuk mendapatkan skor DET total kemudian
mengintrepretasikan hasil dari penilaian. Diperlukan tindak lanjut untuk
mengaplikasikan panduan/petunjuk tentang kesimpulan penilaian,
intervensi, dan monitoring agar tidak hanya sebatas menentukan skor
saja. Dibutuhkan pula adanya penyediaan sarana prasarana yang
memadai guna mendukung aplikasi untuk intervensi perawatan kulit
perirstoma.
4.1.5 Faktor Pendukung
Hal yang mendukung pelaksanaan proyek inovasi ini adalah, adanya
dukungan penuh dari kepala ruang BCh beserta staf perawatan yang
menyatakan sangat menyetujui pelaksanaan proyek ini karena memang
selama ini sudah direncanakan tentang adanya alat ukur/format untuk
mengkaji kondisi kulit peristoma yang selama ini belum tersedia di ruang
BCh. Adanya format pengkajian ini sangat membantu untuk memantau
kondisi kulit peristoma pada pasien dengan stoma yang dirawat di ruang
BCh yang jumlahnya cukup banyak. Faktor pendukung lainnya adalah
adanya jumlah pasien dengan stoma di ruang BCh yang cukup banyak rata-

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


rata ada 5 pasien setiap harinya, sehingga proyek inovasi ini dapat
terlaksana dengan baik.
4.1.6 Evaluasi
1. Evaluasi proses
Proses pelaksanaan proyek inovasi ini dapat berjalan dengan lancar
sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya. Meskipun ada
beberapa kendala yang dijumpai pada saat pelaksanaan proyek inovasi
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, namun telah ada beberapa
solusi yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut.
2. Evaluasi hasil
Hasil pelaksanaan proyek inovasi aplikasi pengkajian kulit peristoma
dengan menggunakan The Ostomy Skin Tool menunjukkan bahwa
dari 9 pasien anak dengan stoma yang telah dilakukan pengkajian
didapatkan data sebagai berikut: 5 pasien menunjukkan skor 0 (normal),
2 pasien menunjukkan skor 2, dan 2 pasien lagi menunjukkan skor 3.
Jadi dapat disimpulkan bahwa total skor DET dari 9 pasien yang telah
dikaji didapatkan skor mulai dari 0 sampai 3 yang termasuk dalam
kategori komplikasi ringan.

4.2 Pembahasan
Kerusakan kulit peristoma merupakan salah satu komplikasi yang dapat
terjadi pada pasien dengan stoma. Kerusakan kulit peristoma ini terjadi akibat
dari tumpahnya isi stoma yang berupa feses ke kulit di sekitarnya atau pun
karena adanya trauma pada saat penggantian alat (kantong stoma) (Grace &
Borley, 2007; APSNA, 2008). Feses mengandung enzim pencernaan yaitu
proteolitik dan lipotik, khususnya protase dan lipase yang bersifat basa,
sehingga dapat mengiritasi kulit. Sering terjadinya kontak antara kulit dengan
feses dalam waktu yang lama akan menyebabkan kulit lebih mudah
mengalami iritasi karena kelembaban yang berlebihan. Adanya trauma
mekanik pada saat penggantian alat seperti gesekan juga akan memperberat
kondisi kulit yang telah mengalami kerusakan (Humprey & Bergman, 2006;
Langemo et al., 2011; Gray et al., 2012). Upaya pencegahan dapat dilakukan

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


dengan mempertahankan agar kantong stoma tidak mengalami kebocoran
sehingga kulit peristoma tetap dalam kondisi kering tidak terkontaminasi oleh
feses.

Adanya perbedaan karakteristik struktur kulit pada pasien anak dan bayi juga
menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kerusakan
kulit peristoma. Kulit pada bayi (neonatus) memiliki tekstur yang lembut dan
halus karena kulit pada bayi lebih tipis daripada kulit anak yang lebih besar,
sehingga pada pasien stoma yang masih berusia bayi dan anak ini lebih
berisiko untuk mengalami kerusakan kulit peristoma. Hasil penerapan
pengkajian kulit peristoma dengan menggunakan the ostomy skin tool
didapatkan dari 9 pasien anak dengan stoma ada 4 pasien yang mengalami
kerusakan kulit peristoma dengan skor DET masing-masing berkisar antara 2
sampai 3 yang termasuk dalam komplikasi ringan, dengan rentang umur
antara 2 bulan sampai 11 tahun dan lama stoma antara 1 minggu sampai 1,5
tahun.

Kerusakan kulit peristoma yang merupakan salah satu komplikasi dari stoma
dapat dialami oleh pasien dengan stoma. Komplikasi ini dapat menimbulkan
adanya masalah keperawatan yaitu berupa kerusakan integritas kulit baik
risiko maupun aktual. Kerusakan integritas kulit adalah perubahan/gangguan
epidermis dan/atau dermis, dengan batasan karakteristik berupa adanya
kerusakan lapisan kulit. Faktor yang berhubungan dengan adanya kerusakan
integritas kulit diantaranya adalah kelembapan, faktor mekanik, dan lainnya
(NANDA, 2012). Kerusakan pada lapisan kulit dapat menimbulkan rasa
nyeri. Timbulnya rasa nyeri ini dapat menimbulkan masalah
ketidaknyamanan pada pasien.

Perawatan stoma memegang peranan yang sangat penting guna mencegah


terjadinya masalah kerusakan integritas kulit pada pasien dengan stoma.
Ketrampilan dasar dalam perawatan stoma meliputi: tindakan/cara
mengosongkan dan melepaskan kantong stoma, merawat stoma dan kulit

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


peristoma, menggunakan kantong stoma yang baru, serta merawat mucou
fistula. Pasien dan keluarga harus diberikan edukasi tentang perawatan stoma
agar pasien dan keluarga mampu melakukan perawatan stoma secara mandiri.

Untuk mengetahui perkembangan kondisi stoma dan kulit peristoma pada


pasien diperlukan adanya monitoring. Monitoring ini juga dilakukan untuk
mengevaluasi perawatan stoma yang sudah dilakukan selama ini. Dengan
menggunakan the ostomy skin tool ini diperoleh hasil dari 9 pasien anak
dengan stoma ada 5 pasien yang dapat dilakukan penilaian dengan frekuensi
lebih dari 1 kali (2-3 kali) dan didapatkan skor DET masing-masing berkisar
2-3. Belum dijumpai adanya penurunan skor dari penilaian yang pertama dan
selanjutnya. Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor yang
mempengaruhi diantaranya adalah kurang tersedianya sarana prasarana yang
mendukung pelaksanaan perawatan stoma dengan baik, seperti bedak ostomi
yang tidak tersedia di apotek RS karena stok kosong. Padahal pada pasien
yang mengalami iritasi kulit peristoma harus diberikan bedak ostomi guna
mengatasi iritasi kulit yang sudah terjadi. Kondisi stoma yang disertai dengan
adanya luka post operatif yang areanya berdekatan, cukup menyulitkan pada
saat dilakukan perawatan stoma. Pada kondisis ini luka post operatif relatif
lebih sering mengalami masalah seperti luka terbuka atau infeksi akibat
terkontaminasi dengan feses. Sehingga perlu adanya modifikasi dalam
perawatan stoma yang disesuaikan dengan kondisi/kebutuhan pasien.

The ostomy skin tool merupakan salah satu alat/instrumen yang dapat
digunakan untuk menilai kondisi kulit peristoma. Meskipun masih memiliki
beberapa keterbatasan dalam penggunaan instrumen ini, namun instrumen ini
tetap masih bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif alat untuk menilai
kondisi kulit peristoma pada pasien anak dengan stoma. Penggunaan the
ostomy skin tool ini mampu memfasilitasi monitoring kulit secara konsisten,
serta mampu melakukan penilaian yang ketat terhadap efek dari perawatan
ostomi yang bervariasi dalam peralatannya. Dengan penggunan instrumen ini
memungkikan evaluasi dan monitoring dapat dilakukan dengan lebih objektif

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


terhadap kulit peristoma oleh para profesional kesehatan yang berbeda-beda
secara umum. Penilaian yang komprehensif ini terbukti dapat mempengaruhi
outcome (hasil) dari pasien menjadi lebih baik dalam hal untuk monitoring
(pengawasan) dan berkelanjutan (Martins et. al, 2009).

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
5.1.1 Berdasarkan hasil dari telaah jurnal didapatkan bahwa the ostomy skin tool
(OST) merupakan salah satu alat ukur (instrumen) yang dapat digunakan
untuk menilai kondisi kulit peristoma pada pasien dengan stoma. OST
memiliki beberapa kelebihan diantaranya dapat diterapkan, mudah dalam
penggunaannya, telah teruji reliabilitas dan validitasnya, memiliki tingkat
validitas yang sangat baik (K=0,91), dapat digunakan untuk tipe stoma feses
dan urin, serta terdapat skor yang jelas dengan rentang 0 sampai 15.
5.1.2 The ostomy skin tool dapat digunakan untuk menilai kondisi kulit peristoma
pada pasien dengan stoma guna memantau perkembangannya.
5.1.3 Proyek inovasi aplikasi pengkajian kulit peristoma dengan menggunakan the
ostomy skin tool telah dilaksanakan di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo selama kurang lebih 4 minggu yang dimulai pada tanggal
24 Maret sampai 18 April 2014 pada 9 pasien anak dengan stoma dengan
hasil skor DET berkisar antara 0 sampai 3 yang termasuk dalam kategori
komplikasi kulit peristoma ringan.
5.1.4 Kendala yang dijumpai selama pelaksanaan proyek inovasi diantaranya
adalah adanya luka pasca operasi yang berada pada area kulit peristoma,
sehingga kondisi ini cukup menyulitkan dalam penentuan skor DET.
Aplikasi format pengkajian ini belum sempat dipraktikkan oleh semua
perawat di ruang BCh jadi baru sebagian kecil perawat yang sudah
mempraktikkannya karena keterbatasan waktu dan tenaga.
5.1.5 Faktor yang mendukung pelaksanaan proyek inovasi adalah adanya
dukungan penuh dari kepala ruang BCh beserta staf perawatan karena
proyek inovasi ini yang berupa aplikasi format pengkajian kulit peristoma
sangat dibutuhkan oleh ruang BCh saat ini.
5.1.6 The ostomy skin tool dapat direkomendasikan sebagai salah satu alternatif
alat ukur untuk mengkaji kondisi kulit peristoma sebagai upaya preventif
dan promotif pada pasien anak dengan stoma. Namun perlu adanya tindak

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


lanjut pelaksanaan aplikasi alat ukur ini sampai pada tahap penentuan
intervensi yang tepat sesuai dengan hasil pengkajian/penilaian.

5.2 Saran
5.2.1 Bagi pelayanan keperawatan
Perlu adanya sosialisasi dan penyamaan persepsi kepada seluruh perawat
tentang aplikasi pengkajian kulit peristoma dengan menggunakan the
ostomy skin tool yang telah teruji validitasnya pada pasien anak dengan
stoma yang dirawat di ruang BCh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
5.2.2 Bagi pendidikan keperawatan
Diperlukan sebuah program edukasi kepada keluarga tentang alat ukur ini
(the ostomy skin tool) agar keluarga juga dapat ikut berperan aktif dalam
melakukan pemantauan kondisi kulit peristoma pada anaknya yang dirawat
dengan stoma.
5.2.3 Bagi penelitian keperawatan
Perlu adanya penelitian lanjut tentang efektifitas aplikasi the ostomy skin
tool pada pasien anak dengan stoma.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


DAFTAR PUSTAKA

American Pediatric Surgical Nurses Association/APSNA. (2007). Pocket guide to


pediatric surgical nursing. Canada: Jones and Bartlett Publishers.

Haugen, V., Ratliff, Catherine R. (2013). Tools for Assessing Peristomal Skin
Complications. J Wound Ostomy Continence Nurs;40(2):131-134

Jemec, G.B., Martins, L., Claessens, I., Ayello, E.A., Hansen, A.S., Poulsen, L.H.,
Sibbald, R.G. Assessing peristomal skin changes in ostomy patients:
validation of the Ostomy Skin Tool. British Journal of Dermatology; 164:
330-335

Jordan, R., Christian, M. (2013). Understanding peristomal skin complications.


Wound Care Advisor; Vol 2(3). Diunduh tanggal 24 Januari 2014 dari
http://www.WoundCareAdvisor.com.

Martins, L., Tavernelli, K., Cobos Serano. (2008). Introducing a peristomal skin
assessment tool: The Ostomy Skin Tool. WCET J;28(2):S8-S13. Diunduh
tanggal 24 Januari 2014 dari http://www.WoundCareAdvisor.com.

Recalla, S., et al. (2013). Ostomy Care and Management A Systematic Review. J
Wound Ostomy Continence Nurs;40(5):489-500. Diunduh tanggal 3 Januari
2014 dari http://www.nursingcenter.com ... CEConnection.
Sodikin. (2011). Asuhan keperawatan anak gangguan sistem gastrointestinal dan
hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika.

Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014


Aplikasi "comfort ..., Neti Mustikawati, FK UI, 2014