Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Dewasa ini, meningkatnya keperluan air bersih seiring dengan meningkatnya
perkembangan industri dan semakin seringnya bencana banjir melanda Indonesia
mengharuskan perlunya penanganan serius dalam hal keairan. Salah satu uapaya
penanggulangan masalag tersebut adalah dengan membangun bendungan
Bendungan adalah bangunan yang dibangun untuk (menampung air), atau
tembok penahan air yang dibentuk dari berbagai batuan dan tanah. Air yang
dibendung akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat antara lain
dijadikan pembangkit tenaga listrik (PLTA), penyediaan air bersih, tempat rekreasi,
pengendali banjir, dan sebagainya. Sejak tahun 1900 sampai dengan sekarang
Indonesia memiliki lebih dari 100 buah bendungan mulai dari tipe waduk lapangan
hingga bendungan besar baik yang dikelola oleh pemerintah maupun instansi swasta.
Salah satu bendungan di Indonesia adalah bendungan Wonerejo yang terletak di
Tulungagung.
Proyek Bendungan Serbaguna Wonorejo adalah salah satu proyek dalam
rangka pengembangan wilayah Kali Ngrowo yang merupakan anak Sungai Brantas.
Pengembanaan Kali Ngrowo ini berdasarkan Studi Rencana Induk Pengembangan
Wilayah Sungai Kali Brantas. Proyek Waduk Wonorejo dimulai pada tahun 1983
dengan Dana Loan ADB untuk F/S pengembangan irigasi di daerah Tulungagung.
Review F/S dan detail design dibiayai oleh OECF pada tahun 1992 dengan tujuan
utama memenuhi kebutuhan air baku untuk air minum dan industri di daerah
Surabaya dan sekitarnya. Tahun 1994 pembangunan dilanjutkan dengan pembaiayan
oleh Loan OECF.
II. BENDUNGAN WONOREJO

Bendungan Wonorejo adalah bendungan yang terletak di Desa Wonorejo,


Kecamatan Pagerwejo, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Letak dari pusat kota diperkirakan sejauh 12 kilometer. Dengan kapasitas sekitar 122
juta meter kubik, Bendungan Wonorejo menjadi salah satu bendungan terbesar di
Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Bendungan Wonorejo terletak di Desa Wonorejo Kecamatan Pagerwojo


Kabupaten Tulungagung. Lokasi bendungan berada pada kali Gondang, 400 m di
hilir pertemuan antara Kali Bodeng dengan Kali Wangi. Hulu Kali Gondang berada di
selatan Gunung Wilis. Bendungan/waduk Wonorejo berada di sebelah barat kota
Tulungagung. Pembangunan Waduk Wonorejo dimulai tahun 1992. Untuk keperluan
pembangunan itu, sebanyak 995 keluarga telah dipindahkan dari tempat mereka
bermukim. Tercatat pula tujuh orang tewas selama proses pembangunan. Total dana
yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai Rp 22,049 milyar, ditambah 18,71 milyar
yen dana bantuan Pemerintah Jepang. Perusahaan Listrik Negara (PLN), usai
pembuatan waduk tuntas, melengkapi dengan membangun jaringan listrik. Total biaya
untuk instalasi listrik sebesar Rp 10,9 milyar, plus 577 juta yen dari Pemerintah
Jepang.

Bendungan ini memiliki sejumlah fungsi penting. Antara lain,


menyediakan air baku untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya
sebanyak delapan meter kubik per detik, mengusahakan pembangkit tenaga listrik
6,02 megawatt, mengendalikan banjir bagi daerah seluas 1.479 hektar, dan
mendukung irigasi pertanian untuk sawah seluas 1.200 hektar.

Waduk terbesar di Asia Tenggara dengan debit 15.000 m3 per detik, berfungsi
sebagai pembangkit tenaga listrik, pengairan, perikanan, olah raga air dan tempat
rekreasi, yang dilengkapi dengan Gazebo, Home stay, Taman, area pemancingan,
speed boad penginapan dan tempat pementasan seni tradisional.

Bendungan Wonorejo diresmikan pada tahun 2001 oleh Wakil Presiden


Indonesia pada tahun tersebut, yaitu Megawati Soekarno Putri, setelah dibangun
selama hampir 9 tahun sejak 1992. Bendungan Wonorejo memiliki fungsi penting
sebagai salah satu pusat tenaga listrik dan sumber air minum di Provinsi Jawa Timur.
Bendungan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk pencegah banjir di Tulungagung
yang dulu sering melanda kota tersebut, bersama Bendungan Neyama di Kecamatan
Besuki.

Bendungan Wonorejo memiliki sejumlah fungsi penting. Khususnya bagi


kelangsungan hidup masyarakat luas. Fungsi itu antara lain, menyediakan air baku
untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Surabaya sebanyak delapan
meter kubik per detik, mengusahakan pembangkit tenaga listrik 6,02 megawatt,
mengendalikan banjir bagi daerah Tulungagung seluas 1.479 hektar, dan mendukung
irigasi pertanian untuk sawah penduduk setempat seluas 1.200 hektar.

Manfaat lain untuk masyarakat sekitar, seperti budidaya perikanan, kawasan


sabuk hijau untuk tanaman keras produktif, serta beberapa keunggulan dari aspek
kepariwisataan. Untuk perikanan, menurut Pimpinan Proyek Pengembangan Sungai
Brantas Ir Sukistiono Dipl HE, di Waduk Wonorejo sendiri dapat menghasilkan
sebanyak 200 ton ikan per tahun.

Berkaitan dengan dibukanya Waduk Wonorejo sebagai kawasan wisata, setiap


pengunjung yang masuk ke kawasan waduk harus membayar Rp 2 ribu per orang.
Selepas melewati pintu masuk, pengunjung tinggal menempuh perjalanan sekitar satu
kilometer untuk mencapai bendungan.

Untuk pengelolaan bendungan berkapasitas tampung 122 juta meter kubik itu
berada pada Perum Jasa Tirta I yang berkedudukan di Malang. Dan Bendungan
Wonorejo merupakan bendungan yang ketujuh dari pengaturan dan pengendalian
penggunaan air di Daerah Aliran Sungai Brantas wilayah Jawa Timur. Sedangkan
untuk sisi pengembangan pengelolaan aset wisata bendungan yang diresmikan pada
21 Juni 2001 itu, di bawah kelola Dinas Pariwisata, seni dan budaya Kabupaten
Tulungagung. Pihak pemkab setempat juga getol untuk terus memoles dan
mempromosikan keberadaan potensi wisata Bendungan Wonorejo.

Terbukti dengan adanya kelengkapan sarana dan prasarana penunjang bagi para
wisatawan yang ada di sana. Seperti penginapan memadai, restoran, jogging track,
taman rekreasi keluarga, dan kenyamanan jalur transportasi menuju lokasi yang
sangat layak dilalui berbagai jenis kendaraan. Sedangkan dari sisi promosi pihak
terkait kerap melakukan penawaran promosi paket kunjungan wisata di Kabupaten
Tulungagung. Baik diperuntukan bagi para wisatawan domestik maupun
mancanegara.
III. UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN DALAM PEMBANGUNAN

Tahap I - Parit Raya dengan Terowong I (1961) dan selanjutnya dibuat Parit Agung
dengan Terowong II, sehingga diharapkan seluruh genangan bisa dibebaskan.
Tahap II - Proyek Pembangunan Waduk Wonorejo, Bendung Segawe, connection
tunnel dan 3 (tiga) Daerah Irigasi yaitu Tulungagung Selatan, Lower Kali Dawir dan
Tlogoburet seluas 6.700 ha (6.400 ha pada musim kemarau).
Tahap III - pembangunan Bendungan Kampak serta pelebaran Parit Raya dan
pengembangan Daerah Irigasi Tawing seluas 3.600 ha.
Tahap IV - pembangunan Bendungan Tugu dan Bagong, pengembangan 2 (dua)
Daerah Irigasi yaitu Trenggalek dan Ngasinan seluas 4.700 ha (3.100 ha pada musim
kemarau).

Bendungan Wonorejo dilihat dari aspek pariwisata

Melihat betapa besar perubahan dan pembenahan fasilitas di Bendungan


Wonorejo. Masyarakat setempat dan dari luar Kabupaten Tulungagung, nampak kian
tertarik untuk datang ke sana.
Hal ini dapat dilihat dari data jumlah kunjungan wisatawan yang dalam setiap
bulannya terus meningkat. Hingga pada kisaran ratusan setiap bulan. Atau bila dalam
perhitungan tahunan setiap tahun mencapai angka kunjungan sebesar tiga ribu
pengunjung.

Asumsi jumlah kunjungan para wisatawan itu bahkan bisa lebih. Belum lagi bila pihak
pengelolah wisata Bendungan Wonorejo dan pihak Pemkab Tulungagung menggelar pesta
rakyat di sana, seperti pagelaran pentas dangdut dan beberapa pertunjukan kesenian
tradisional setempat. Jumlah kunjungan pun bisa menembus lima ribu orang pertahunnya.
BENDUNGAN WONOREJO

KOLAM OLAK

HYDRAULIC PIEZOMETER
ALAT UKUR THOMPSON

FGI