Anda di halaman 1dari 6

Evaluasi kinerja alat 2nd Reactor cooler (E-2203) pada unit Polimerisasi

kilang Polypropylene PT Pertamina RU-III Plaju

Syukron Habibi, Abdul Apandi, Siti Miskah*


*Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
Jl. Raya Palembang-Prabumulih KM 32 Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan 30662

Abstrak

2nd Reactor Circulation Gas Cooler (E-2203) berfungsi untuk mengontrol temperatur polimerisasi. Cooler E-
2203 merupakan cooler jenis shell and tube heat exchanger, dimana shell dilalui oleh fluida dingin (Indirect
Cooling water) sedangkan tube dilalui oleh fluida panas (propylene). Apabila heat exchanger tersebut telah
dioperasikan beberapa waktu, maka akan terjadi penurunan kinerja dari alat tersebut. Penurunan kinerja ini bisa
dilihat dari parameter-parameter seperti heat duty, pressure drop tinggi, serta dirt factor (Rd) melebihi batas
ambang yang diizinkan. Berdasarkan pada pertimbangan diatas maka unjuk kerja alat penukar panas harus
dievaluasi secara periodik. Analisa dilakukan dengan perhitungan data kondisi operasi aktual menggunakan
metode Kern. Hasil analisa menunjukkan efiseiensi sebesar xxx % dengan head duty pada tube mencapai
790120,2396 (kcal/hr) dan pada shell menunjukkan 71799,20385 (kcal/hr). Dirt Factor sebesar 0,025 square
m.hr.C/kcal pada shell dan 0.0011319 square m.hr.C/kcal pada tube. Pressure Drop sebesar 33,3893 psi pada
shell dan 0,03153 psi pada tube. Data ini menunjukkan cooler E-2203 harus dilakukan pembersihan karena
parameter yang terhitung telah melebihi batas ambang yang diizinkan yaitu pressure drop pada 1,4-9,9 psi, Dirt
Factor sebesar 0,0001 square m.hr.C/kcal pada shell dan 0,0002 square m.hr.C/kcal pada tube.
Kata kunci: Cooler, Efisiensi, Heat Duty, Dirt Factor, Pressure Drop
Abstract
2nd Reactor Circulation Gas Cooler (E-2203) is function to control the polymerization temperature. Cooler E-
2203 is a cooler type of shell and tube heat exchanger, where the shell is passed by cold fluid (Indirect Cooling
water) while the tube is passed by hot fluid (propylene). If the heat exchanger has been operated for some time,
then there will be a decrease in performance of the tool. The decreased performance can be detected from
parameters such as if heat duty, pressure drop, and dirt factor (Rd) over the limit. Based on the considerations,
the performance of the heat exchanger should be evaluated periodically. The analysis is done by calculating
actual operating condition data using Kern method. The result shows that the efficiency of cooler is xxx% with
head duty in the tube 790120,2396 (kcal / hr) and in the shell 71799,20385 (kcal / hr). Dirt Factor in the shell
0.025 square m.hr.C / kcal and in tube 0.0011319 square m.hr.C / kcal. Pressure Drop in shell 33.3893 psi and
in shell 0.03153 psi on the tube. This data indicates that the E-2203 cooler should be cleaned since the
calculated parameters have over the limit. The limit of pressure drop at 1.4-9.9 psi and Dirt Factor in shell
0.0001 square m.hr.C / kcal and in tube 0.0002 square m.hr.C / kcal .
Keywords: Cooler, Efficiency, Heat Duty, Dirt Factor, Pressure Drop

1. Pendahuluan 2nd Reactor Circulation Gas Cooler (E-2203)


Kilang Polypropylene merupakan kilang bertujuan untuk mengontrol temperatur
petrokimia yang dibangun untuk mengolah Raw polimerisasi.
Propane-Propylene yang dihasilkan dari Riser- Coller E-2203 merupakan cooler jenis
Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU) kilang shell and tube heat exchanger, dimana shell dilalui
Sungai Gerong menjadi pellet Polypropylene oleh fluida dingin (Indirect Cooling water)
(Polytam). Dimana di kilang Polypropylene sedangkan tube dilalui oleh fluida panas
terdapat dua unit utama, yaitu : Unit purifikasi dan (propylene). Apabila heat exchanger tersebut telah
unit polimerisasi. Di unit polimerisasi bertujuan dioperasikan beberapa waktu, maka akan terjadi
untuk mengolah propylene menjadi homopolymer penurunan kinerja dari alat tersebut. Penurunan
polypropylenemelalui reaksi polimerisasi. kinerja bisa jadi disebabkan oleh terbentuknya
Pada unit polimerisasi terbagi atas dua kerak, korosi, kebocoran, maupun aliran fluida
sistem reaksi, yaitu fase cair dan fase gas dan reaksi yang menyebabkan friksi terhadap dinding alat.
fase gas tersebut terjadi di 2ndReactor. Salah satu Penurunan kinerja ini bisa dilihat dari parameter-
alat yang esensial di unit polimerisasi ialah Cooler parameter seperti pressure drop tinggi, serta dirt
(E-2203). Alat ini berfungsi untuk mensirkulasi gas factor (Rd) melebihi harga yang diizinkan.
dari dan ke 2nd Reactor. Gas yang didinginkan di Berdasarkan pada pertimbangan diatas maka unjuk
kerja alat penukar panas harus dievaluasi secara A. Perhitungan Neraca Panas (Heat Ballance)
periodik. a. Untuk fluida dingin pada shell (propilen)
Manfaat yang diperoleh dengan Q=W
mengetahui unjuk kerja dari heat exchanger antara = Hv Hl
lain adalah untuk mengetahui apakah heat
exchanger tersebut perlu dibersihkan atau tidak b. Untuk fluida panas pada tube (steam)
agar lebih efisien dalam transfer panas dan Q = W , = Hv Hl
mengetahui heat exchanger tersebut masih aman Dimana,
dioperasikan ataukah sudah perlu diganti. Q = kalor (Btuhr)
2. METODOLOGI PELAKSANAAN W = laju alir fluida panas (lbhr)
2.1. Waktu Pelaksanaan w = laju alir fluida dingin (lbhr)
Pengamatan dilakukan Selama 5 hari yaitu
tanggal 22-26 Mei 2017. = panas laten (Btulb)
2.2. Metode Pendekatan
Hv = entalpi uap fluida panas (Btulb)
Beberapa metode yang kami gunakan untuk
mengumpulkan semua data yang diperlukan dalam Hl = entalpi uap fluida dingin (Btulb)
penyusunan laporan kerja praktek dan penyelesaian
tugas khusus adalah : B. Perhitungan Log Mean Temperature
1) Study Literature Different, LMTD
Metode ini dilakukan dengan cara Untuk alat penukar panas aliran
membaca buku-buku pegangan yang ada, counterflow, beda temperatur rata-rata
seperti buku laporan kerja praktek sebelum dihitung dengan beda temperatur rata-rata
penulis. logaritmik
2) Metode Interview (T1 t2 )(T2 t1 )
Metode ini dilakukan dengan cara t = LMTD = (T t )
ln( 1 2 )
(T2 t1 )
bertanya langsung dengan karyawan-
karyawanyang telah berpengalaman di
Dimana
bidangnya untuk membahas permasalahan
dalam laporan kerja praktek ini.
t1 = temperatur in fluida dingin ()
3) Metode Referensi
t 2 = temperatur out fluida dingin ()
Metode ini dilakukan dengan cara mencari
T1 = temperatur in fluida panas ()
data-data lain yang diperlukan untuk
T2 = temperatur out fluida panas ()
menyelesaikan laporan kerja praktek ini ke
perpustakaan atau buku-buku yang
berhubungan serta spesification sheet ( data C. Perhitungan Flow Area
Flow area merupakan luas penampang
peralatan).
yang tegak lurus arah aliran
4) Metode Observasi
Observasi dilakukan untuk mengetahui Shell Side
kondisi di lapangan. Selanjutnya, dilakukan as = ID x C x B / (144 x PT)
pengamatan langsung dan pengambilan data
lapangan yang kemudian diolah dan dicari Dimana :
hubungannya dengan perhitungan 2nd Reactor ID = Inside Diameter (in)
cooler (E-2203). C = Jarak antara tube (in)
B = Jarak Baffle (in)
2.2. Metode Perhitungan PT = Tubepitch (in)

Untuk menghitung nilai fouling factor, Tube side


pressure drop dan effisiensi 2nd Reactor cooler (E- at = NT x at / (144 x n)
2203) dilakukan dengan beberapa tahap
penyelesaian. Adapun tahap-tahap yang harus Dimana :
dilakukan adalah sebagai berikut : NT = Jumlah tube
1. Mengambil data-data fluida sebagai berikut; at = Internal area (Table 10 Kern)
a. Temperatur masuk fluida panas (T 1) dan n = jumlah tube passes
fluida dingin (t1)
b. Temperatur keluar fluida panas (T 2) dan D. Perhitungan Mass Velocity
fluida dingin (t2) Kecepatan massa merupakan perbandingan
c. Laju alir fluida panas laju alir dengan flow area
Shell side
2. Mengerjakan perhitungan dengan Metode Gs = W / a s
Kern sebagai berikut; Dimana :
Gs = Mass Velocity fluida pada shell side hio hi ID
W = Laju alir x
t t OD
Tube side Dimana :
Gt= w / at ho = Outside film coefficient (Btu/hr.ft 0F)
Dimana : hio = Inside film coefficient (Btu/hr.ft 0F)
Gt = Mass Velocity fluida pada tube side I. Menentukan Tube wall Temperature,tw
W = Laju alir fluida dingin (lb/hr) Temperatur dinding rata-rata tube dapat
dihitung dengan temperature kalorik, jika
E. Perhitungan Reynold Number diketahui nilai koefisien perpindahan panas
Reynold number menunjukkan tipe aliran fluida shell dan tube pada kondisi operasi
fluida di dalam pipa sedang berlangsung.
Shell side ho / s
tw = tc + x Tc tc
Res = De x Gs/ hio / t ho / s
Dimana :
Dimana : tw = temperatur dinding tube (0F)
De = Equivalent diameter (ft) (Fig.
J. Perhitungan Clean Overall Coefficient, Uc
28 Kern)
Uc merupakan overall heat transfer
Gs = Mass Velocity (lb/hr.ft2)
coefficient jika tidak terjadi fouling/kerak.
= Viskositas fluida pada suhu tc
Tube side
hio x ho
UC =
Ret = D x Gt / hio ho

Dimana : Dimana :
D = Inside diameter (ft) (Tabel 10 Kern) UC = Overall heat transfer coefficient
Gt = Mass velocity (lb/hr ft2) (Btu/hr.ft2 oF)
= Viskositas fluida pada suhu tc
K. Perhitungan Dirty Overall Coefficient, UD
F. Perhitungan Heat Transfer Factor (JH) UD merupakan overall heat transfer
Shell side coefficient jika terjadi fouling/kerak.
Nilai JH untuk sisi shell dapat diketahui
dari Fig. 28 Kern Dimana :
Tube side UD = Overall heat transfer coefficient
Nilai JH untuk sisi tube dapat diketahui (Btu/hr.ft2 oF)
dari Fig. 24 Kern Cat : Untuk Ud didapat dari desain alat

G. Menentukan Thermal Function L. Perhitungan Dirt Factor, Rd


Pada tiap suhu, yaitu Tc (hot fluid) untuk UC U D
shell dan tc (cold fluid) untuk tube diperoleh Rd =
masing-masing nilai c (fig. 4 Kern), UC x U D
(viskositas) dan k (konduktivitas thermal) Dimana :
(fig.1 Kern) Rd = Fouling Factor (hr.ft2.oF/ Btu)
(c x / k)1/3
Dimana : M. Perhitungan Pressure Drop
c = panas spesifik (Btu/lb oF) Shell side
K = konduktivitas thermal (Btu/hr.ft.oF) f x Gs x Ds x N 1
2
H. Menentukan nilai Outside film Coefficient Ps =
(ho) dan Inside Film Coefficient (hi) 5,22 x1010 De x s x s
Shell side
c
1/ 3 Dimana :
k
ho = jH s Ps = Total Pressure drop pada shell
De k (psi)
f = Friction factorshell(ft2/in2)
(Fig.29,Kern)
Tube side Gs = Mass velocity (lb/hr.ft2)
N+1 = jumlah lintasan aliran melalui
k c
1/ 3
baffle
hi = jH t
D k
Tube side
2 Maka :
f x Gt x L x n PT = Pt + Pr
Pt =
5,22 x 1010 D x s x t Dimana :
Dimana : PT = Total Pressure Drop pada
Pt = Pressure drop pada tube (psi) tube (psi)
f = Friction factortube (ft2/in2) (Fig.26, N. Perhitungan Effisiensi
Kern)
Gt = Mass velocity (lb/hr.ft2)
Effisiensi () = x 100%
D = Inside diameter (ft)
n = jumlah pass tube
4 x n V2 3. Hasil dan Pembahasan
Pr = x
s 2g 3.1 Data dan Hasil Perhitungan
Dimana : 1. Data pengamatan
Pr = Return Pressure drop pada Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan
tube (psi) pada unit Polimerization second reactor cooler E-
V2 2203 Selama 5 hari yaitu tanggal 22-26 Mei 2017
= Velocity head (psi) diperoleh data pengamatan aktual yang ditunjukkan
2g pada tabel 1.

Tabel 1. data pengamatan kondisi operasi aktual pada polimerization second reactor cooler E-2203

Shell Tube
TC2945 T2946 F2946 T2233 T22334
Temp. CW Flowrate
tanggal Jam Temp. Flowrate Temp Temp
in (C) Gas
CW out CW in gas in gas out
kg/hr
(C) Ton/hr (C) (C)
22 mei 2017 00.00 33.883 34.670 106.911 69.443 55.439 140736,0042
08.00 36.507 37.206 106.911 69.591 55.004
16.00 36.066 36.820 106.911 69.390 56.751
average 35,4853 36,232 69,4747 55,731
23 mei 2017 00.00 34.869 35.585 106.911 70.669 56.215 140926,1075
08.00 43.840 44.243 106.911 69.455 57.151
16.00 43.975 44.449 106.911 69.486 55.254
average 40,8947 41,4423 69,87 56,8307
24 mei 2017 00.00 41.150 41.858 106.911 68.724 55.543 137481,3438
08.00 36.972 37.763 106.911 68.764 54.753
16.00 39.737 40.490 106.911 67.532 54.119
average 39,2863 40,037 68,34 55,183
25 mei 2017 00.00 43.423 44.014 106.911 66.768 54.790 138846,423
08.00 43.115 43.707 106.911 67.064 55.557
16.00 41.898 42.594 106.911 67.214 53.807
average 42,812 43,4383 67,0153 54,822
26 mei 2017 00.00 40.456 41.187 106.911 66.950 54.659 142336,177
08.00 41.102 41.762 106.911 66.611 55.490
16.00 41.866 42.565 106.911 66.955 54.565
Average 41,1413 41,838 66,832 54,652
Total average 39,9239 40,5975 67,7064 55,4437 140071,3297
Sumber : Control Room Polypropylene PT. Pertamina
Tabel 2 Hasil Perhitungan
DATA DESIGN AKTUAL

shell tube shell tube


Heat Duty (kcal/hr) 880000 880000 71799,20385 790120,2396
Flow rate shell (kg/hr) 88209 131240 106911 140071,3297
T in (c) 45 80 67,7064
T out(c) 55 67,3 55,4437
Rd (Faktor Pengotor) 0,0001 0,0002 0,025 0.0011319
(square m.hr.C/kcal)
Pressure Drop (P) (psi) 7,11167 2,84467 33,3893 0,03153
8,16 89,79
Effisiensi (%) 100 100
9,09

3.2. Pembahasan yang tinggi dapat menunjukkan hasil


Perhitungan yang dilakukan pada alat ini pressure drop yang lebih besar dibagian
berdasarkan data pada kondisi aktual, data sampel shell. Berdasarkan data desain angka
yang diperoleh dari tanggal 22 mei 2017 sampai 26 pressure drop yang diizinkan adalah 1,4-9,9
mei 2017adapun poin-poin yang diperoleh psi. Jika dibandingkan dengan data aktual
berdasarkan perhitungan adalah Heat Duty, Fouling yang didapat maka pressure drop di bagian
Factors(Rd) , Pressure drop pada shell and tube shell sudahla melebihi batas desain.
dan Effisiensi 2nd Reactor cooler (E-2203). 3. Fouling factor
1. Heat duty Fouling factor merupakan suatu parameter
heat duty (Q) adalah besarnya beban panas besaran nilai pengotor dalam alat penukar
yang ditransfer antara kedua fluida yang panas akibat menempelnya endapan atau
tidak berkontak langsung dengan melalui impurities yang terbawa oleh fluida didalam
media alat yang disebut shell and tube heat dan diluar tube. Nilai fouling factor yang
exchanger , dimana fluida panas melepas besar menjadi suatu penghambat pertukaran
kalor serta fluida dingin menyerap kalor. panas yang menaikkan tahanan tambahan
Dalam heat duty ada tiga besaran yang terhadap aliran panas. Berdasarkan
berpengaruh yaitu flowrate, specific heat perhitungan antara shelldengan tube tidak
(Cp) serta perbedaan temperatur inlet dan ada yang sesuai dengan desain.
oulet fluida. 4. Efisiensi
Pada perhitungan manual nilai Q dari tube Berdasarkan perhitungan manual efisiensi
mencapai 790120,2396 (kcal/hr) dimana yang didapat sangat lah jauh dari harapan.
nilai tersebut sudah mendekati Q desain Turunnya efisiensi ini dikarenakan Q,Rd
yaitu sebesar 880000 (kcal/hr) dengan dan pressure drop yang tidak lulus
besaran tersebut, jika dibuat perbandingan kualifikasi desain. Khususnya di shell, heat
Qtube manual dibanding dengan Qtube duty (Q) yang rendah dikarenakan beberapa
desain maka didapat angka sebesar 89,79%. hal : pertama tidak jelasnya flowrate yang
Namun hal serupa tidak ditemua pada shell, masuk, hal ini merujuk pada data dari DCS
nilai Q yang dishell memiliki perbedaan menunjukkan flowrate air sama sekali tidak
yang jauh antara Q desain dengan Q berubah selalu sebesar 106,911 ton/day,
manualnya, dimana Q manual sebesar yang kedua banyaknya pengotor yang ada
71799,20385 (kcal/hr) dan Q desain sebesar dan yang ketiga pressure drop yang jauh
880000 (kcal/hr) dan jika dilakukan hal dari kata aman.
yang sama dilakukan pada shell maka 4. Kesimpulan dan Saran
didapat nilai sebesar 8,16 % 4.1 Kesimpulan
2. Pressure drop Berdasarkan analisa dan perhitungan, dapat
Pressure drop adalah peristiwa terjadinya disimpulkan Evaluasi2nd Reactor cooler (E-2203)
penurunan tekanan maksimal yang adalah sebagai berikut :
diperbolehkan didalam shell and tubeketika 1. Nilai heat duty pada aktual yang rendah,
dilalui fluida. Hal tersebut tidak dikehendaki menyebabkan efisiensi rendah dan alat
karena akan menurunkan kinerja alat. bekerja tidak optimal.
Kecepatan aliran yang tinggi serta viskositas
2. Besarnya fouling factor ( faktor pengotor )
kondisi ini telah berada diatas desain,
sehingga untuk meningkatkan kinerja alat
diperlukan pembersihan/cleaning pada 2nd
Reactor cooler (E-2203).
3. Pressure Droppada saat proses berlangsung
t terlalu besarsehingga heat exchanger
tersebut tidak efisien dan optimal.
4.2. Saran
1. Karena faktor pengotor lebih besar dari
kondisi design maka harus dilakukan
pembersihan pada cooler agar faktor
pengotor tidak melebihi ambang batas
yang diizinkan.
2. Perlu dirancang blowdown untuk
pengurasan secara kontinu sehingga
dapat mereduksi terjadinya fouling atau
pembersihan dengan waterjet apabila
telah terjadi pengkerakan di dalam
boiler.
3. Evaluasi cooler sebaiknya dilakukan
secara berkala dengan monitoring dan
perhitungan manual untuk mengontrol
kinerja cooler itu sendiri.
4. Pada 2nd Reactor cooler (E-2203) tidak
dipasang flowmeter untuk fluida gas
yang akan didinginkan dan flowmeter
cooling water kemungkinan besar
mengalami kerusakan. Sebaiknya
dilakukan pemasangan dan perbaikan
agar dapat diketahui kondisi flow yang
masuk, dengan demikian fluida lebih
bisa dikontrol dan kerja cooler bisa
menjadi efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Kern, D.Q. 1965. Process Heat Transfer.


Internasinal Student Edition. USA: Mc.
Graw Hill Book Company.

Perry, R. H. 1997. Perrys Chemical Engineers


Handbook 7th Ed. New York:
Mc. Graw Hill.

Treyball, R.E. 1981. Mass Transfer Operatin 3rd


Edition. New York: McGow-
Hill Internasional Editions.