Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KONDUKTOMETRI

senin, 05 oktober 2015

LAPORAN TETAP
INSTRUMEN DAN PENGUKURAN
KONDUKTOMETRI 1

Oleh: kelompok 2/2KC


Astinesia Himatuliza NIM: 061330400338
Fallen Apriyeni NIM: 061330400344
M. Nabil NIM: 061330400348
Mardian NIM: 061330400349
Muhammad Farhan NIM: 061330400351
Pusta Aryani NIM: 061330400353
Wahyu Sisilia Deviana NIM: 061330400359

Instruktur : Ir. Sutini Pujiastuti Lestari M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2014

KONDUKTOMETRI
I. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan daya hantar listrik suatu larutan.

II. ALAT YANG DIGUNAKAN


Alat yang digunakan
Konduktometer 660
Elektroda emmension cell dengan konstanta cell o,78
Magnetik stirrer
Gelas kimia 250ml, 100ml 5 buah
Pipet ukur 10ml
Labu ukur 100ml 2 buah
Pipet tetes
Kaca arloji
Corong
Spatula
Bahan yang digunakan
KCl
Larutan NaOH 0,1 N
Larutan HCL 0,1 N

III. DASAR TEORI


Pengukuran konduktivitas dapat juga digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi.
Titrasi konduktometri dapat dilakukan dengan dua cara dan tergantung pada frekuensi arus
yang digunakan. Jika arus frekuensinya bertambah besar, maka kapasitas dan induktif akan
semakin besar.
Konduktometri merupakan salah satu metode analisis yang berdasarkan daya hantar
larutan. Daya hantar ini bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Menurut
hokum ohm arus (I) berbanding lurus dengan potensial listrik (E) yang digunakan, tetapi
berbanding terbalik dengan tahanan listrik (R).
I=E/R
G=I/R
Daya hantar (G) merupakan kebalikan dari tahan yang mempunyai satuan ohm atau
Siemens (S), bila arus listrik dialirkan ke suatu larutan melalui luas bidang elektroda (A) dan
berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda (I), maka:
G=I/R=kxA/I
Dimana:
A / I = tetapan sel
K = daya hantar arus (konduktivitas) dengan satuan SI ohm cm-1 atau s cm-1

Prinsip kerja
Prinsip kerja dari konduktometri ini adalah sel hantaran dicelupkan kedalam larutan
ion positif dan negative yang ada dalam larutan menuju sel hantaran menghasilkan sinyal
listrik berupa hambatan listrik larutan. Hambatan listrik dikonversikan oleh alat menjadi
hantaran arus listrik.

Daya Hantar Ekivalen (Equivalen Conductance)


Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut daya hantar
ekivalen yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di antara dua
elektroda dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen adalah
berat molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif

Pengukuran Daya Hantar Listrik


Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan larutan dan
jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.

1. Sumber listrik
Hantaran arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan merupakan
proses faradai, yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua elektroda. Sedangkan arus AC
tidak memerlukan reaksi elektro kimia pada elektroda- elektrodanya, dalam hal ini aliran arus
listrik bukan akibat proses faradai. Perubahan karena proses faradai dapat merubah sifat
listrik sel, maka pengukuran konduktometri didasarkan pada arus nonparaday atau arus AC.

2. Tahanan Jembatan
Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran daya
hantar.

3. Sel
Salah satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang elektroda yang
terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa logam yang dilapisi logam platina
untuk menambah efektifitas permukaan elektroda.
IV. PROSEDUR KERJA
4.1 Kalibrasi konduktometer
Memasang sel konduktometer pada socket cond cell dengan socket berwarna hitam.
Memasang resistance thermometer pt-100 pada socket warna merah.
Menghidupkan alat konduktometer.
Mengecek harga konstanta cell pada elektroda emmension cell, memasukkan harga 1,00
pada cell const dan tekan tombol x1
Memasukkan harga temperature pada temp dengan menekan tombol temp.
Memasukkan harga koef temp, untuk larutan KCl 1,95, sedangkan untuk yang lain dapat
dilihat dari tabel, jika tidak ada dalam tabel masukkan harga 2.
Menggunakan frekuensi 2 KHz (tombol tidak ditekan)
Mengisi gelas kimia 50ml dengan KCl 1 N dan memasukkan elektroda ke dalamnya.
Mengatur temperatur larutan sesuai dengan tabel atau menakan tombol temp.
Memasukkan harga K pada suhu laruutan untuk menghitung konstanta cell (K)
K = K tabel pada temp T / (K) pengukuran
Mengkalibrasi telah selesai dan dicatat harga konduktivitas harga larutan KCl 1 N.
Menentukan konduktivitas larutan KCl 0,1 N, 0,05 N (sesuai instruksi) dan membandingkan
perhitungan konduktivitas secara teoritis dan menghitung persen kesalahan.

Tabel Harga o untuk Anion dan Kation


Kation o (S.cm2.mol-1) Anion o (S.cm2.mol-1)
H+ 349,8 OH- 198,3
Na+ 50,1 Cl- 76,3
K+ 73,5 I- 76,8
NH4 73,5 CH3COO- 40,9
C2O42- 74,2
HCO3 44,5

Tabel Harga K untuk penentuan Tetapan sel


T (C0) Ktabel (mS/cm) T (C0) Ktabel (mS/cm)
0 7,15 24 12,64
10 9,33 25 12,88
15 10,48 26 13,13
20 11,67 27 13,37
21 11,91 28 13,62
22 12,15 29 13,87
23 12,39 30 14,12

Zat C (mol/Liter) X 250C (mS/cm)


KNO3 0,001 0,142
0,01 1,33
0,1 12,0
HCl 0,001 0,421
0,01 0,13
0,1 39,1
1 332,0
LiCl 0,001 0,112
0,01 1,070
0,1 9,59
1 7,3
NH4Cl 0,001 1,43
0,01 12,9
1 111,2
NaOH 0,001 2.38
0,1 22,1

Rumus mencari konduktivitas teoritis


L ion + = o ion+ . konsentrasi . 1L/1000 cm3
L ion- = o ion- . konsentrasi . 1L/1000 cm3
1 larutan = L ion+ + L ion-

V. DATA PENGAMATAN

Nama Zat C (mol/L) L kond (ms/cm)


KCl 0,1 16,47
HCl 0,1 13,52
NaOH 0,1 20,00

T KCl = 250C
K pada tabel (250C) = 12,88 ms/cm
K pada pengukuran = 16,47 ms/cm
K = K tabel = 12,88 ms/cm = 0,782
K pengukuran 16,47 ms/cm

VI. PERHITUNGAN

6.1 Pengenceran larutan HCl 2M menjadi 0,1M 100 mL


M1 x V1 = M2 x V2
2M x V1 = 0,1M x 100mL
V1 = 5 mL

6.2 Pembuatan larutan NaOH 0,1M 100 mL


gr = M x V x BM
= 0,1 mmol/mL x 100 mL x 40 mg/mmol
= 400 mg
= 0,4 gram

6.3 Pembuatan larutan KCl 0,1 100 mL


gr = M x V x BM
= 0,1 mmol/mL x 100 mL x 74,55 mg/mmol
= 745,5 mg
= 0,7455 gram

6.4 Menghitung konsentrasi larutan NaOH


M = gr = 0,4185 gram = 0,1046 M
V x BM 0,1 L x 40 gr/mol

6.5 Menghitung konsentrasi larutan KCl


M = gr = 0,7477 gram = 0,1003 M
V x BM 0,1 L x 74,55 gr/mol

6.6 Konduktivitas KCl 0,1003 M


Hasil Praktik = 16,47 ms/cm
Menurut tabel
x : y = a : b
0,1 : 0,1046 = 22,1 : b
b = 0,1046 x 22,1 = 23,12 ms/cm
0,1
Menurut teoritis
o K+ = 73,5 S cm2/mol
o Cl- = 76,3 S cm2/mol
L K+ = o . C
1000
= 73,5 S cm2/mol x 0,1003 mol/L
1000 cm3/L
= 7,37 . 10-3 S cm-1
= 7,37 ms/cm
L Cl -
= o . konsentrasi
1000
= 76,3 S cm2/mol x 0,1003 mol/L
1000 cm3/L
= 7,65 . 10-3 S cm-1
= 7,65 ms/cm
L KCl = L K+ + L Cl-
= 7,37 + 7,65
= 15,02 ms/cm
% Kesalahan prakrik terhadap data tabel

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 22,16 - 16,47 x 100


22,16
= 25,68 %

% Kesalahan prakrik terhadap teori


% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100
L tabel

= 15,02 - 16,47 x 100


15,05
= 9,65 %
6.7 Konduktivitas HCl 0,1 M
Menurut tabel = 39,1 ms/cm
Menurut praktik = 13,52 ms/cm
Konduktivitas teori
o H+ = 349,8 S cm2/mol
o Cl- = 76,3 S cm2/mol
L K+ = o . konsentrasi HCl
1000
2
= 349,8 S cm /mol x 0,1 mol/L
1000 cm3/L
= 3,498 . 10-3 S cm-1
= 34,98 ms/cm
L Cl- = o . konsentrasi
1000
= 76,3 S cm2/mol x 0,1003 mol/L
1000 cm3/L
= 7,63 . 10-3 S cm-1
= 7,63 ms/cm
L KCl = L K+ + L Cl-
= 34,98 + 7,63
= 42,61 ms/cm
% Kesalahan prakrik terhadap data tabel

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel
= 39,1 - 13,52 x 100
39,1
= 65,42 %
% Kesalahan prakrik terhadap teori

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 42,61 - 13,52 x 100


13,52
= 68,27 %

6.8 Konduktivitas NaOH 0,1 M


Menurut tabel = 22,1 ms/cm
Konduktivitas NaOH 0,1046 M
Menurut tabel
x : y = a : b
0,1 : 0,1046 = 22,1 : b
b = 0,1046 x 22,1 = 23,12 ms/cm
0,1
Menurut teoritis
o Na+ = 50,1 S cm2/mol
o OH- = 198,3 S cm2/mol
L Na+ = o . konsentrasi NaOH
1000
2
= 50,1 S cm /mol x 0,1046 mol/L
1000 cm3/L
= 5,24 . 10-3 S cm-1
= 5,24 ms/cm
L OH- = o . konsentrasi
1000
2
= 198,3 S cm /mol x 0,1046 mol/L
1000 cm3/L
= 2,07 . 10-3 S cm-1
= 20,7 ms/cm
L NaOH = L Na+ + L OH-
= 5,24+ 20,7
= 25,94 ms/cm
% Kesalahan prakrik terhadap data tabel

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 23,12- 20 x 100
23,12
= 13,49 %
% Kesalahan prakrik terhadap teori

% Kesalahan = L tabel - L praktik x 100


L tabel

= 25,94 -20 x 100


25,94
= 22,90 %
VII. ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa, setelah membuat larutan
KCl 0,1M, HCl 0,1M dan NaOH 0,1M yang akan diukur konduktivitasnya. Pengukuran
konduktivitas tersebut digunakna untuk mengkalibrasi alat. Berdasarkan hasil pengukuran
didapat hasil bahwa alat yang dikalibrasi masih dalam keadaan baik. Hal ini diketahui dari
nilai konstanta sel yang nilainya mendekati nilai yang ada di tabel refernsi.
Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa asam kuat dan basa kuat memiliki nilai
konduktivitas yang lebih besar dibandingkan asam lemah dan basa lemah kerena pada
umumnya larutan asam dan basa sangat elektrolit. Umumnya keelktrolitan suatu larutan
berkurang dari waktu ke waktu, sehingga kertika suatu larutan diukur konduktivitasnya pada
waktu yang berbeda maka nilainya pun berbeda pula. Daya hantar suatu larutan bergantung
pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan.

VIII. KESIMPULAN
1. Semakin tinggi keelektrolitan suatu larutan maka nilai konduktivitasnya semakin tinggi.
2. Nilai konstanta sel adalah 0,782
3. Nilai konduktivitas
Secara praktikum
L KCl = 16,97 ms/cm
L HCl = 13,52 ms/cm
L NaOH = 20 ms/cm
Secara teoritis
L KCl = 15,02 ms/cm
L HCl = 42,61 ms/cm
L NaOH = 25,94 ms/cm
4. % Kesalahan
Secara praktikum
KCl = 25,68 %
HCl = 65,42%
NaOH = 13,49%
Secara teoitis
KCl = 9,65 %
HCl = 68,27%
NaOH = 22,90%

DAFTAR PUSTAKA

Tim lab Instrumen danPengukuran. 2014. Penuntun Praktikum Intrumen dan Pengukuran.
Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang.
Tim Penyusun Modul Instrumen dan Teknik Pengukuran. 2013. Instrumen dan Teknik
Pengukuran. Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang.
http://nuansa-harapan.blogspot.com/2011/12/konduktometri.html
http://namikazewand.blogspot.com/2012/01/konduktometri-2.html
LAPORAN PRAKTIKUN KROMOTOGRAFI GAS (GC)
I. TUJUAN - Dapat menjelaskan prinsip kromatografi gas. - Dapat
menganalisa sample yang sederhana de...

Makalah Kebakaran
NAMA : MURNI NIM :331 11 026 KELAS : I...

MAKALAH PENGOLAHAN AIR BERSIH


BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Air merupakan kebutuhan yang
paling utama bagi makhluk hidup. Man...

Contoh Pembahasan Laporan


Pada percobaan ini dikaji tentang penerapan hukum distribusi, dimana iodium yang
digunakan dilarutkan dalam dua pelarut berbeda yang tak c...

KONDUKTOMETRI
A. TUJUAN PERCOBAAN Menjelaskan prinsip konduktometri Melakukan
titrasi konduktometri Mencari hantaran ...

Contoh Laporan Praktikum Destilasi


Abstrak Percobaan ini bertujuan untuk mempraktekkan operasi distilasi kukus untuk
pengambilan miny...

Pemisahan Campuran Dengan Metode Evaporasi


Jika garam dicampur dengan air akan terbentuk larutan, larutan tersebut tidak dapat
dipisahkan dengan metode filtrasi maupun sentrifug...

LAPORAN HUKUM KEKEKALAN MASSA


HUKUM KEKEKALAN MASSA I. TUJUAN Setelah saya melakukan percobaan, saya
dapat menentukan...

Laporan Laju reaksi


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia sekarang ini banyak reaksi yang
kita lakukan baik sadar maupun tidak sa...

PEMBAHASAN LAPORAN REAKSI HIDROGEN PEROKSIDA DENGAN ASAM


IODIDA
I. PEMBAHASAN Mencari Kesetaraan mL H2O2 dengan Na 2 S 2 O 3 Percobaan
ini bertujuan untuk mempelajari kinetika reaksi d...

Friday, 26 October 2012


KONDUKTOMETRI

A. TUJUAN PERCOBAAN

Menjelaskan prinsip konduktometri

Melakukan titrasi konduktometri

Mencari hantaran (konduktivitas) dari beberapa konsentrasi larutan

B. PERINCIAN KERJA

Kalibrasi konduktometri

Titrasi asam-basa

Hubungan antara konduktivitas dengan konsentrasi

C. ALAT YANG DIGUNAKAN

Konduktometer 660 dan Dosimat 665

Elektroda immersion cell dengan K= 0,77 cm-1

Resisten thermometer Pt-100

Gelas kimia 50 ml, 100 ml, 250 ml

Pipet ukur 10 ml, 5 ml

Pipet volume 10 ml, 5 ml

Labu takar 50 ml

Labu semprot dan Bola isap

D. BAHAN YANG DIGUNAKAN

KCl (khusus untuk immersion cell)

NaOH 1M dan 0,1N


HCl 0,1N

Aquadest dan Es

E. Dasar Teori
Konduktometri merupakan salah satu cara elektroanalisa, yang mengukur konduktivitas
larutan dengan elektroda khusus. Konduktivitas berbanding terbalik terbalik tahanan listrik dalam
larutan, yaitu semakin besar tahanan listrik, semakin kecil konduktivitas.

Konduktivitas mempunyai siemens per cm. konduktivitas larutan kimia lazimnya berkisar
antara 0,1-2000 mili siemens per cm (ms/cm). kalau dua elektroda direndam dalam larutan yang
mengandung ion-ion, maka akan mengalir arus listrik antara kedua elektroda tersebut, apabila
terdapat beda tegangan listrik antara kedua elektroda tersebut.

Arus mengalir dari katoda yang bermuatan negative ke anoda yang bermuatan positif.
Sebagai pembawa arus adalah ion-ion dalam larutan. Selisih potensial antara kedua elektroda
tersebut tidak boleh terlalu besar agar tidak terjadi elektrolisa.

Besarnya arus yang mengalir ditentukan oleh parameter-parameter sebagai berikut :

Beda tegangan antara kedua elektroda.

Konsentrasi ion-ion.

Sifat ion seperti besarnya muatan, derajat disosiasi, besarnya ion, kompleksasi dengan molekul lain
dan sebagainya.

Suhu larutan.

Luas permukaan masing-masing elektroda.

Jarak antara katoda dan anoda.

Semakin besar arus makin besar pula konduktivitas K. Luas permukaan elektroda dan jarak
antara katoda dan anoda merupakan parameter yang tetap, karena parameter-parameter tersebut
bergantung pada rancangan elektroda. Oleh karena itu setiap elektroda mempunyai factor tersendiri
yang dimasukkan dalam perhitungan konduktivitas (cell constant K/cm).

Pada permukaan elektroda dapat terjadi tegangan lebih (over voltage) yang tidak
sebanding lagi dengan arus dan konsentrasi ion. Untuk mencegah tegangan lebih tersebut
perbukaan elektroda dilapis dengan lapisan platinum yang halus dan aktif. Pelapisan elektroda
dengan platinum disebut platinizing.

Parameter harus dipertahankan tetap sama selama pengukuran konduktivitas adalah suhu
larutan. Sebaiknya digunakan wadah titrasi yang dindingnya berlapis dua, sehingga dalam dinding
tersebut dapat dialirkan air pada suhu tertentu dari thermostat.
Perubahan konduktivitas terhadap suhu berbeda-beda untuk setiap senyawa. Setiap
senyawa mempunyai koefisien suhu. Hubungan antara konduktivitas K pada suhu 20 oC dengan
konduktivitas K pada suhu noC dapat dilihat pada persamaan sebagai berikut :

dimana:

Untuk menghitung koefisien suhu digunakan rumus :

Koefisien suhu bergantung pula pada konsentrasi zat. Koefisien suhu dapat ditentukan
sendiri dengan mengukur konduktivitas pada suhu 20 oC dan pada suhu yang lain (misalnya 30 C).

Konduktometer metrohm mengukur konduktivitas dengan arus AC (alternative current)


untuk mencegah terjadinya polarisasi lektrida. Oleh karena itu frekuensi dari arus tersebut perlu
diatur sesuai dengan konduktivitas sampel. Terdapat dua pilihan frekuensi sebagai berikut :

Tombol FREQ tidak ditekan : Frekuensi 2000 Hertz (2 kHz). Frekuensi tinggi dipakai untuk cuplikan
yang mempunyai konduktivitas yang tinggi (lebih dari 100 S/cm), selain itu untuk titrasi
konduktometri.

Tombol FREQ ditekan : Frekuensi 300 Hertz (300 Hz) untuk konduktivitas dibawah 1 mS/cm.

Jenis elektroda konduktometri (measurung cell) harus dipilih sesuai dengan konduktivitas
dari cuplikan. Elekttroda yang mempunyai tetapan rendah sesuai untuk pengukuran konduktivitas
yang rendah, sebaliknya elektroda dengan tetapan tinggi sesuai untuk konduktivitas yang tinggi.

Suhu dikompensasikan secara otomatis dengan sensor Pt-100 atau oleh operatornya
dengan menekan tombol TEMP, lalu mengatur suhu cuplikan, serta koefisien suhu cuplikan. Daerah
pengukuran (measuring range) diatur oleh alat secara otomatis, kecuali bila tombol RANGE ditekan.

Apabila kita ingin membaca harga yang konduktivitas secara teliti, tetapi harga
konduktivitas sering berubah, sehingga keluar dari daerah yang telah diatur, maka kita menaikkan
harga konduktivitas tersebut hingga berada dipertengahan daerah pengukuran.

Konduktometri ini merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik suatu
larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di dalam
larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang
mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (G) merupakan
kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar listrik mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik
dialirkan dalam suatu larutan mempunyai dua elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding
lurus dengan luas permukaanelektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda

G = l/R = k (A / l)

dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1 cm -1. Daya Hantar Ekivalen
(Equivalen Conductance) . Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut
daya hantar ekivalen (^) yang didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di
antara dua elektroda dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud dengan berat ekuivalen
adalah berat molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif. Contoh berat ekivalen BaCl2 adalah
BM BaCl2 dibagi dua. Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zat terlarut
diberikan oleh,

V = 100 / C

dengan C adalah konsentrasi (ekivalen per cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1 liter = 1000 cm3.
Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan jarak kedua elektroda (1).

V= l A

Dengan l sama dengan 1 cm

V = A = 100 / C

Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,

G = 1/R = 1000k/C

Menurut hukum Ohm I = E/Reaksi; di mana: I = arus dalam ampere, E = tegangan dalam
volt, Reaksi = tahanan dalam ohm. Hukum di atas berlaku bila difusi dan reaksi elektroda tidak
terjadi. Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai kebalikan dari tahanan sehingga I = EL. Satuan dari
hantaran (konduktansi) adalah mho. Hantaran L suatu larutan berbanding lurus pada luas
permukaan elektroda a, konsentrasi ion persatuan volume larutan Ci, pada hantaran ekivalen ionik
S1, tetapi berbanding terbalik dengan jarak elektroda d, sehingga:

L = a/d x S Ci S1

Tanda S menyatakan bahwa sumbangan berbagai ion terhadap konduktansi bersifat aditif. Karena a,
dan d dalam satuan cm, maka konsentrasi C tentunya dalam ml. Bila konsentrasi dinyatakan dalam
normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000. nilai d/a = S merupakan faktor geometri selnya dan
nilainya konstan untuk suatu sel tertentu sehingga disebut tetapan sel. Untuk mengukur
konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel, yang tetapan selnya telah ditetapkan
dengan kalibrasi dengan suatu larutan yang konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal, suatu
larutan kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian jembatan Wheatstone
dan resistansnya diukur. Pengaliran arus melalui larutan suatu elektrolit dapat menghasilkan
perubahan-perubahan dalam komposisi larutan di dekat sekali dengan lektrode-elektrode, begitulah
potensial-potensial dapat timbul pada elektrode-elektrode, dengan akibat terbawanya sesatan-
sesatan serius dalam pengukuran-pengukuran konduktivitas, kecuali kalau efek-efek polarisasi
demikian dapat dikurangi sampai proporsi yang terabaikan

Daya hantar ekivalen (^) akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1 gram ekivalen
larutan terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1 cm.^ = 1000k/C Daya hantar ekivalen pada
larutan encer diberi simbol yang harganya tertentu untuk setiap ion. Pengukuran Daya Hantar Listrik.
Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan larutan dan jembatan
(rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan larutan.

Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung pada ion-
ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan,
konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion berada per cm3 larutan untuk membawa arus. Jika
semua larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar
untuk mencakup seluruh larutan, konduktans akan naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian besar
disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan oleh
kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.

Penambahan suatu elektrolit kepada suatu larutan elektrolit lain pada kondisi-kondisi yang
tak menghasilkan perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi konduktans (hantaran)
larutan, tergantung apakah ada tidaknya terjadi reaksi-reaksi ionik. Jika tak terjadi reaksi ionik,
seperti pada penambahan satu garam sederhana kepada garam sederhana lain (misal, kalium klorida
kepada natrium nitrat), konduktans hanya akan naik semata-mata. Jika terjadi reaksi ionik,
konduktans dapat naik atau turn; begitulah pada penambahan suatu basa kepada suatu asam kuat,
hantaran turun disebabkan oleh penggantian ion hidrogen yang konduktivitasnya tinggi oleh kation
lain yang konduktivitasnya lebih rendah. Ini adalah prinsip yang mendasari titrasi-titrasi
konduktometri yaitu, substitusi ion-ion dengan suatu konduktivitas oleh ion-ion dengan
konduktivitas yang lain.

Biasanya konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi bukanlah


prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan
antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus
diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap. Hantaran
sebanding dengan konsentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi pengenceran akan
menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi. Hendaknya
diperhatikan pentingnya pengendalian temperatur dalam pengukuran-pengukuran konduktans.
Sementara penggunaan termostat tidaklah sangat penting dalam titrasi konduktometri, kekonstanan
dalam temperatur dituntut, tetapi biasanya kita hanya perlu menaruh sel konduktivitas itu dalam
bejana besar penuh air pada temperatur laboratorium. Penambahan relatif (dari) konduktivitas
larutan selama reaksi dan pada penambahan reagensia dengan berlebih, sangat menentukan
ketepatan titrasi; pada kondisi optimum kira-kira 0,5 persen. Elektrolit asing dalam jumlah besar,
yang tak ambil bagian dalam reaksi, tak boleh ada, karena zat-zat ini mempunyai efek yang besar
sekali pada ketepatan. Akibatnya, metode konduktometri memiliki aplikasi yang jauh lebih terbatas
ketimbang prosedur-prosedur visual, potensiometri ataupun amperometri.

Titrasi Konduktometri
Titrasi konduktometri dapat dilakukan untuk menentukan kadar ion,
dengan syarat ion tersebut terlibat dalam reaksi kimia sehingga terjadi
penggantian satu jenis ion dengan yang lain yang berarti terjadi perubahan
konduktivitas. Misalnya titrasi HCl dengan NaOH berdasarkan persamaan sebagai
berikut :

H+ + Cl- + OH- + Na+ H2O + Cl- + Na+

Sebelum ditambah NaOH, didalam larutan terdapat ion H+ dan Cl- yang
masing-masing mempunyai harga konduktivitas molar ( 25 C ) sebesar 349,8
cm2/mol dan 76,3 cm2/mol. Pada penambahan NaOH, terjadi reaksi antara
H+dengan OH- membentuk H2O, sehingga jumlah H+ didalam larutan berkurang
sedangkan jumlah NaOH bertambah. Na+mempunyai harga konduktivitas molar
50,1 S cm-1/mol yang jauh lebih kecil dari H+ sehingga harga konduktivitas total
dari larutan turun. Pada titik akhir titrasi, H+ dalam larutan telah bereaksi
seluruhnya dengan OH-, sehingga penambahan NaOH lebih lanjut akan menaikkan
harga konduktivitas total larutan, karena terdapat OH- dengan konduktivitas
molar 198,3 S cm-1/mol.

Titik akhir dapat ditentukan dalam grafik titrasi sebagai berikut :


Titrasi konduktometri sangat sesuai untuk asam atau basa lemah, karena
penggunaan potensiograph/titroprocessor dengan elektroda kaca menghasilkan
titik akhir yang kurang jelas. Namun titrasi konduktometri tidak dapat dilakukan
dalam cuplikan yang mengandung konsentrasi ion lain yang tinggi, karena titik
akhir menjadi kurang tajam. Titrasi konduktometri sangat berguna untuk
melakukan titrasi pengendapan. Keuntungan titrasi konduktometri adalah grafik
titrasi seluruhnya digunakan untuk menentukan titik akhir sedangkan pada kurva
titrasi potensiometri titik akhir ditentukan dari bentuk grafik dekat titik akhir saja.
Kepekaan cara konduktometri jauh lebih baik. Titrasi konduktometri masih
memberi titik akhir yang jelas untuk asam atau basa lemah dalam konsentrasi
encer, sedangkan dengan potensiometri titik akhir tidak jelas lagi.
Pemeliharaan Elektroda
Elektroda yang kering sebelum dipakai direndam sebentar dalam etanol
lalu dibilas dengan air. Sehabis dipakai elektroda dibilas lagi dengan air lalu
disimpan lagi dalam air. Elektroda yang akan disimpan untuk jangka waktu yang
panjang harus dikeringkan lalu disimpan kering. Sekali-sekali elektroda perlu
dilapis ulang dengan platinum (platinizing) sesuai dingin procedure dalam manual.

Secara berkala dan sehabis setiap kali platinizing elektroda perlu


dikalibrasi ulang dengan larutan kalibrasi yang telah disediakan oleh metrohm,
lasimnya dengan larutan kalibrasi KCl. Tetapan elektroda distel pada 1,0 x 1 di
konduktometer, lalu koefisien suhu 2,0 untuk KCl 1 mol/liter. Tetapan elektroda
dihitung dengan rumus :

F. Data pengamatan
a. Mencari Hantaran (Konduktivitas = G) dari beberapa konsentrasi larutan asam
atau basa

Konsentrasi Konduktivitas Larutan


NO
NaOH (M)

1 1 199,9

2 0,5 138,5

3 0,1 30,6

4 0,05 15,69

5 0,01 3,32

b. Titrasi NaOH dengan HCl untuk penentuan konduktivitas

NO. Volume NaOH ( ml ) Konduktivitas ( mS )

1 0 2,13

2 1 1,810

3 2 1,556

4 3 1,373

5 4 1,157

6 5 0,942

7 6 0,714

8 7 0,654
9 8 0,730

10 9 0,844

11 10 0,964

12 11 0,109

13 12 1,228

14 13 1,344

15 14 1,471

16 15 1,605

17 16 1,727

18 17 1,848

19 18 1,976

20 19 2,10

21 20 2,12

G. PERHITUNGAN

a. Pembuatan Larutan NaOH

Pembuatan larutan HCl 1M

V1 . N1 = V2 . N2

50 mL . 1M = V2 1M

V2 = 50 ml

Pembuatan larutan HCl 0,5M


V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,5M = V2 1M

V2 = 50 ml

Pembuatan larutan HCl 0,1M

V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,1M = V2 1M

V2 = 10 ml

Pembuatan larutan HCl 0,05M

V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,05M = V2 1M

V2 = 5 ml

Pembuatan larutan HCl 0,01M

V1 . N1 = V2 . N2

100 mL . 0,01M = V2 1 M

V2 = 1 ml

Penentuan Konsentrasi HCl

Dari kurva diperoleh volume NaOH saat terjadi titk akhir sebesar 7 ml.

Dik : V1 = 7 ml

V2 = 10 ml

N1 = 0,1

Dit : N2?

Penyelesaian :
V1 N1 = V2 N2

7 ml x 0,1 N = 10 ml x N2

N2 = 0,07 N

Normalitas HCl = Molaritasnya= 0,07 M

Jadi, dari perhitungan diperoleh konsentrasi HCl sebesar 0,07 M

H. PEMBAHASAN

Percobaan yang kami lakukan adalah titrasi konduktometri untuk mengukur daya hantar
listrik, titrasi konduktometri dapat dilakukan untuk larutan yang tergolong kedalam larutan elektrolit
saja. Sedangkan untuk larutan nonelektrolit kita tidak dapat menggunakan titrasi konduktometri.
Titrasi konduktometri ini sangat berhubungan dengan daya hantar listrik, sehingga akan
berhubungan juga dengan adanya ion ion dalam larutan yang berperan untuk menghantarkan arus
listrik dalam larutan. Arus listrik ini tidak akan bisa melewati larutan yang tidak terdapat ion ion,
sehingga larutan non elektrolit tidak bisa menghantarkan arus listrik.

Dalam titrasi konduktometri yang kami lakukan penentuan daya hantar listrik sangat
berhubungan dengan konsentrasi dan temperatur dari larutan yang akan ditentukan daya hantar
listriknya. Sehingga kita harus menjaga temperature larutan agar berada dalam keadaan konstan,
sehingga kita dapat memebedakan perbedaan dari daya hantar larutan berdasarkan perbedaan
konsentrasi dari larutan tersebut. Jika temperatur berubah ubah maka bisa saja konsentrasi yang
besar seharusnya memilki daya hantar yang besar tetapi malah sebaliknya yaitu memiliki daya
hantar listrik yang kecil karena pengaruh dari turunnya suhu. Sehingga ion ion dalam larutan tidak
dapat bergerak dengan bebas.

Pada awal percobaan ini kami menentukan konduktivitas setiap larutan HCl dengan
konduktometer. Kami menggunakan larutan dengan konsentrasi yang berbeda yaitu larutan HCl 1 M,
0,5 M, 0,1, 0,005, dan 0,01 M, berikut kurvanya
Dari kurva diatas terlihat pengaruh dari konsentrasi larutan HCl terhadap nilai daya hantar
listrik dalam suatu larutan, semakin tinggi konsentrsi HCl dalam larutan maka nilai daya hantar listrik
yang dihasilkan akan semakin besar. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Semakin
besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai daya hantar listriknya
(konduktivitas).Hal lain yang mempengaruhi daya hantar listrik selain konsentrasi adalah jenis
larutan.

Selanjutnya melakukan titrasi konduktometri. Titrasi konduktometri dilakukan dengan


menggunakan alat konduktometer untuk mempermudah dalam pengukuran konduktansi suatu
larutan. Prinsip kerja konduktometer adalah bagian konduktor (elektroda) dimasukkan ke dalam
larutan akan menerima rangsang dari suatu ion-ion yang menyentuh permukaan konduktor, lalu
hasilnya akan diproses dan sebagai outputnya berupa angka konduktansi. Semakin banyak
konsentrasi suatu ion dalam larutan maka semakin besar nilai daya hantarnya karena semakin
banyak ion-ion dari larutan yang menyentuh konduktor dan semakin tinggi suhu suatu larutan maka
semakin besar nilai daya hantarnya, hal ini karena saat suatu partikel berada pada lingkungan yang
suhunya semakin bertambah maka pertikel tersebut secara tidak lansung akan mendapat tambahan
energi dari luar dan dari sinilah energi kinetik yang dimiliki suatu partikel semakin tinggi (gerakan
molekil semakin cepat).

Penambahan titran dalam praktikum dilakukan secara bertahap menggunakan dosimat


Setiap penambahan 1 mL titran dilakukan pencatatan konduktansi larutan tersebut. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan dalam pembuatan grafik titrasi. Setelah penambahan titran
larutan dihomogenkan menggunakan stirer magnetik. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat
terjadinya reaksi pada larutan sehingga semua titran yang ditambahkan benar-benar sudah bereaksi
dan konduktansinya yang terukur sudah representatif atau mewakili konduktansi disetiap bagian
larutan. Selanjutnya elektroda dari konduktometer dicelupkan ke dalam larutan dan terukur
konduktansinya. Elektroda tersebut dibersihkan dengan akuades dari sisa larutan pada pengukuran
sebelumnya.

Pada titrasi konduktometri ini kami menggunakan Titrasi asam kuat- basa kuat Sebagai
contoh larutan HCl dititrasi oleh NaOH. Kedua larutan ini adalah penghantar listrik yang baik. Kurva
titrasinya ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Dari kurva terlihat pada volume NaOH dari 0 ml sampai 7 ml terlihat konduvitas larutan
semakin turun hal ini terjadi karena pada volume ini Pada penambahan NaOH, terjadi reaksi antara
H+ dengan OH- membentuk H2O, sehingga jumlah H+ didalam larutan berkurang sedangkan jumlah
NaOH bertambah. Na+ mempunyai harga konduktivitas molar 50,1 S cm-1/mol yang jauh lebih kecil
dari H+ sehingga harga konduktivitas total dari larutan turun. Pada titik akhir titrasi, H+ dalam larutan
telah bereaksi seluruhnya dengan OH-, sehingga penambahan NaOH lebih lanjut akan menaikkan
harga konduktivitas total larutan, karena terdapat OH- dengan konduktivitas molar 198,3 S cm-1/mol.

Dari hasil praktikum diketahui pada saat terjadi titik akhir titrasi Volume titran sebanyak 7
ml dan konduktivitas larutan sebesar 0,6 Ms/cm, sehingga diperoleh konsentrasi HCl sebesar 0,07
dari hasil perhitungan.

Pada percobaan masih ada penyimpangan, namun penyimpangan ini masih relatf kecil
sehingga diabaikan. Karena konsentrasi HCl yang dibuat dengan cara pengenceran tidak sama
nilainya yang diuji dengan metode titrasi konduktometri. Dimana diketahui Konsentrasi HCl dengan
metode pengenceran sebesar 0,1 namun setelah diuji dengan titrasi koduktometri konsentrasi HCl
sebesar 0,7. Adapun penyebab terjadinya penyimpangan ini disebabkan antara lain:

1. Praktikan kurang terampil dalam mengukur volume dengan menggunakan pipet.


2. Kesalahan dalam melakukan pengenceran.

Kesimpulan

1. Semakin tinggi konsentrasi NaOH dalam larutan maka akan semakin tinggi konduktifitasnya.

2. Konsentrasi dan temperature larutan sangat mempengaruhi besarnyanilai daya hantar listrik yang
dihasilkan.

3. Dari beberapa konsentrasi HCl diperoleh konduktivitasnya sebagai berikut:

a. HCl 1 M = 199,9 ms/cm

b. HCl 0,5 M = 138,5 ms/cm

c. HCl 0,1 M = 30,6 ms/cm

d. HCl 0,05 M = 15,69 ms/cm

e. HCl 0,01 M = 3,32 ms/cm

4. Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai daya hantar listriknya
(konduktivitas).

5. Dari hasil titrasi diperoleh konsentrasi HCl sebesar 0,7.

I. DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Praktikum Analisis Instrumentasi, Politeknik Negeri Ujung Pandang
Tahun 2004 dari File PEDC Bandung.