Anda di halaman 1dari 9

PENDIDIKAN AKHLAK BAGI ANAK HOME MAKALAH ARTIKEL DAFTAR ISI

Iklan oleh Google


Pendidikan anak Cara belajar anak Doa untuk anak Anak islam

Custom Search Search

PENDIDIKAN AKHLAK BAGI ANAK


! 00.13 " akhlak, Akhlaq, makalah, Pendidikan, prenatal # No comments

Di dalam Al-Quran telah ada dasar-dasar pendidikan akhlak anak yang jelas mengenai pendidikan akhlak
pada anak-anak yang terdapat di dalam surat Luqman :
1. Akhlak kepada Allah SWT terdapat Q..S. 31/Luqman : 13 :




.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya,
Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kedzaliman yang besar. (Q.S. Luqman : 13)[1]
Berdasarkan ayat tersebut di atas mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik
anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak
menyekutukan Tuhannya, kemudian anak-anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan shalat,
sehingga terbentuk manusia yang senantiasa mengingat dan kontak dengan penciptanya, seperti
disebutkan dalam Q.S. 31/Luqman : 17 :




.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah
(mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Luqman :
17)[2] BLOG ARCHIVE
2. Akhlak Kepada Orang Tua
2017 (1)
Dalam Q.S. 31/Luqman : 14

.
2016 (5)
2015 (3)
. 2014 (27)
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya 2013 (14)
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah 2011 (24)
kembalimu. (Q.S. Luqman : 14)[3] Mei (9)
Berdasarkan ayat di atas menjelaskan bahwasannya Islam mendidik anak-anak selalu berbuat baik
April (4)
terhadap orang tua sebagai rasa berterima kasih atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah
mereka lakukan untuk anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada Allah. Maret (4)

3. Akhlak Kepada Diri Sendiri Februari (7)


Dalam Q.S. 31/Luqman : 19 : MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN

.




AGAMA ISLAM
INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-
buruk suara adalah suara keledai. (Q.S. Luqman : 14)[4] INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwasannya dilarang berjalan dengan congkak dan Allah DAN MOTIVASI BELAJAR PA...
SWT memerintahkan untuk sederhana dalam berjalan, dengan tidak menghempaskan tenaga KEMASYARAKATAN DALAM ISLAM
dalam bergaya, tidak melenggak lenggok, tidak memanjangkan leher karena angkuh, akan tetapi PENDIDIKAN AKHLAK BAGI ANAK
berjalan dengan sederhana, langkah sopan dan tegap, memelankan suara adalah budi yang luhur.
PENDIDIKAN AKHLAK
Percaya diri dan tenang karena berbicara jujur. Suara lantang dalam berbicara adalah termasuk
KURIKULUM TINGKAT SATUAN
perangai yang buruk.
PENDIDIDIKAN (KTSP)
4. Akhlak Kepada Orang Lain
2010 (13)
Dalam Q.S. 31/Luqman : 18 :







2009 (101)
2008 (72)
.
Dan jangnalah kamu memalingkan mukamu dan manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman : 18)[5] Iklan oleh Google

Kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat, anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap 1.Cara mendidik anak
acuh terhadap sesama, sombong atas mereka dan berjalan di muka dan menghargai orang lain,
karena bersikap acuh tak acuh tidak disukai oleh Allah dan dibenci manusia. 2.Pendidikan anak usia dini
Demikianlah, Allah memberikan contoh kongkrit dalam mendidik akhlak anak-anak, di mana jika 3.Anak islam
setiap orang tua dapat melaksanakan dengan baik dan benar, maka anak-anak mereka akan tumbuh
menjadi manusia yang berakhlak mulia dan luhur.
Dalam pendidikan akhlak bagi anak ini, terbagi dalam beberapa periode, diantaranya :
GOOGLE+
1. Pendidikan Anak Prenatal (Pendidikan Anak Dalam Kandungan)
Pendidikan anak prenatal merupakan hal yang sangat urgen diketahui, dipahami dan diamalkan
oleh setiap orang tua. Dalil Islami tentang hukum wajib atas orang tua untuk mendidik anak dalam
kandungan adalah dalil yang sama dengan hukum wajib mendidik anak secara umum karena anak
dalam kandungan adalah anak mereka yang belum lahir.
Anak adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang hadir di tengah keluarga atas dasar fitrah. Mereka
menjadi sumber kebahagiaan keluarga yang harus dijaga dan dipertahankan kesuciannya oleh Ibn Khamdun
kadua orang tuanya dan seluruh anggota keluarga lainnya, guna kelestarian pertumbuhan google.com/+IbnKhamdun

kepribadian mereka secara totalitas. Berkenaan dengan kewajiban memelihara dan mendidik Ikuti
tersebut terdapat dalam Q.S. 66/At-Tahrim ayat 6 :
47 pengikut



.
Pengikut (27) Berikutnya
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. AT-Tahrim : 6)[6]
Berdasarkan ayat tersebut,Allah SWT memerintahkan kepada segenap manusia yang beriman, agar
memelihara dirinya dan keluarganya dengan penuh tanggung jawab agar terhindar dari bahaya
dunia dan akhirat. Terutama pada anak-anak yang membutuhkan orang tua dalam pendidikan dan Ikuti
masa depannya kelak.
Pendidikan anak dalam kandungan menurut Islam adalah usaha sadar dari pihak orang tua (Ayah
dan ibu) untukmendidik anak mereka yang masih dalam perut ibunya dengan cara mengikuti
petunjuk Islam mengenai pendidikan, khususnya pendidikan anak dalam kandungan.[7]
Pendidikan anak secara aktif menurut ajaran paedagogis Islami harus dimulai sejak masa diketahui
bahwa anak tersebut sudah ada di dalam kandungan istri (prenatal). Dengan kata lain, pendidikan
anak secara aktif sudah harus dimulai sejak masa ia di dalam kandungan dengan cara atau teknik
pendidikan yang Islami.
Al-Quran telah menjelaskan bahwa roh (nyawa) yang ditiupkan malaikat berdasarkan izin dan
perintah Allah yang lantas memberi hidup kepada anak di dalam kandungan, sudah memiliki daya
kognitif tinggi. Hal ini dijelaskan Allah seperti terlihat dalam Q.S. 7/Al-Araaf ayat 172 :



blog directory


.
Diberdayakan oleh Blogger.
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap nyawa (ruh) mereka (seraya berfirman) : Bukankah Aku ini
Tuhanmu?. Mereka menjawab : Betul, (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : Sesungguhnya kami (Bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (Q.S. Al-Araaf : 172) [8]
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwasannya ruh (nyawa) itulah tentu saja bersama jasmani yang
ditempatinya yang sesungguhnya memberi respon kepada setiap stimulus tersebut. Roh tersebut
meskipun sudah terdimensi tetap bersikap responsif, sebab manusia tanpa roh adalah bangkai
yang tidak berdaya, tidak berakal fikir. Dengan demikian jelas bahwa anak di dalam kandungan
sudah bisa dididik.
Menurut Baihaqi, A.K., bahwa syarat-syarat mendidik anak prenatal, di antaranya adalah :[9]
a. Beriman dan bertaqwa kepada Allah
Merupakan syarat paling utama bagi keberhasilan upaya mendidik anak prenatal.
b. Bertekad dan berniat mendidik anak prenatal
Mendidik anak prenatal merupakan ibadah besar dalam ajaran Islam, apabila diawali dengan niat
ibadah. Oleh karena itu, suami dan istri dalam upaya mendidik anak prenatal haruslah berniat dengan
ikhlas karena Allah semata.
c. Menghormati orang tua dan mertua
Syarat ini merupakan syarat yangs angat menentukan pula bagi keberhasilan orang tua (suami istri)
mendidik anak prenatal.
d. Mendoakan anak prenatal
Mendoakan anak menjadi kewajiban orang tua sepanjang hayat, sejak anaknya masih dalam
kandungan sampai lahir, dewasa dan menjadi tua pula.
e. Memberi makanan dan pakaian yang halal
f. Ikhlas mendidik anak prenatal
g. Memenuhi kebutuhan istri, di antaranya :
1) Kebutuhan akan perhatian
2) Kebutuhan akan kecintaan ekstra
3) Kebutuhan akan makanan ekstra
4) Kebutuhan akan pengabulan
5) Kebutuhan akan penghargaan
6) Kebutuhan akan ketentraman
7) Kebutuhan akan perawatan
8) Kebutuhan akan keindahan
h. Berakhlak mulia
Di antara akhlak mulia yang sangat erat kaitannya dengan pendidikan anak prenatal adalah:
1) Kasih sayang
2) Sopan dan lembut
3) Sabar menghadapi anak prenatal
4) Rukun antara suami dan istri beserta semua anak
5) Rukun dengan keempat orang tua, tetangga dan masyarakat.
Materi dan metode pendidikan anak dalam kandungan (prenatal), di antaranya : ada beberapa metode
yang dapat dipakai untuk mendidik anak prenatal. Metode tersebut dapat dilaksanakan secara
langsung, tetapi diaplikasikan melalui ibu dari anak prenatal tersebut. Metodenya lebih ditekankan
pada pembinaan lingkungannya, artinya penerapan semua metode yang diarahkan kepada pembinaan
lingkungan yang Islami untuk anak prenatal melalui ibunya. Adapun metode dan materi yang
diberikan dalam pendidikan anak prenatal yaitu :[10]
- Metode pendidikan anak prenatal di antaranya adalah :
1) Metode kasih sayang
2) Metode beribadah
3) Metode membaca Al-Quran
4) Metode bercerita
5) Metode berdoa
6) Metode berlagu
- Dan materi yang diberikan dalam pendidikan anak prenatal adalah sebagai berikut :
1) Salah fardhu lima waktu
1) Salat-salat sunnat
2) Membaca Al-Quran
3) Keimanan
4) Akhlak mulia
5) Doa

2. Pendidikan Anak Sejak Lahir


Di antara keutamaan syariat Islam bagi umatnya adalah dijelaskannya hukum-hukum (pedoman) yang
berhubungan dengan anak dan kaitannya dengan prinsip-prinsip tentang pendidikan secara rinci
sehingga pendidikan selalu mendapatkan dan kejelasan tentang masalah yang harus dijalankan
terhadap bayinya yang lahir. Sebagai dasar dasar-dasar yang diundangkan Islam dan prinsip-prinsip
ajaran yang dirumuskan oleh pendidik pertama, yaitu Nabi Besar Muhammad SAW, maka alangkah
layaknya orang yang mendapatkan hak mendidik tersebut dapat melaksanakan kewajibannya dengan
sempurna.
Sejak bayi dilahirkan, Islam telah meletakkan tata cara, sebagai ajaran dan tradisi yang baik untuk
pembinaan jiwa anak-anak, di antaranya adalah:[11]
a. Bisyarah (ungkapan turut gembira)
Bagi seorang muslim, disunatkan menggembirakan dan membahagiakan saudaranya yang melahirkan
anak. Hal itu dimaksudkan untuk menguatkan ikatan-ikatan persaudaraan dan menyebarkan sayap-
sayap cinta dan kelembutan di antara keluarga muslim. Penyampaian rasa ikut gembira atas kelahiran
bayi sekaligus merupakan doa yang positif di sisi Allah.
Dalam Al-Quran menyebutkan kata gembira atas kelahiran anak dengan berbagai variasi sebagai
petunjuk dan pengajaran bagi umat Islam. Ucapan selamat tersebut mempunyai pengaruh besar
dalam menumbuhkan ikatan-ikatan sosial dan menguatkan ikatan di antara sesama kaum muslimin.
b. Disunahkan mengadzani dan mengiqamati anak yang baru lahir
Di antara hukum yang disyariatkan Islam bagi anak yang baru dilahirkan adalah mengadzani di
telinganya dan mengikamatinya di telinga kirinya, langsung pada saat dilahirkan. Diriwayatkan oleh
Abu Daud dan Turmudzi, dari Abi Rafi :
) .
[12] (
Aku pernah melihat Rasulullah mengadzani (di telinga) Hasan bin Ali sesaat sesudah Fatimah
melahirkan. (H.R. Abu Daud dan Turmudzi)
Begitu juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, r.a., bahwa Nabi adzan di telingan kanan dan ikamat di
telinga kiri Hasan pada hari kelahirannya.
Rahasia mengadzani dan mengikamati sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziah dalam
kitabnya, Tuhfatul-Maudud, yaitu agar getaran pertama kali yang didengar manusia adalah kalimat
panggilan agung yang mengandung kebesaran dan keagungan Allah dan kesaksian pertama memasuki
Islam. Seperti juga talkin, merupakan syiar Islam awal memasuki dunia sebagaimana mentalkinkan
kalimat tauhid ketika meninggal dunia. Tidak diingkari lagi bahwa pengaruh adzan itu akan sampai ke
hatinya dan akan mempengaruhinya meski ia sendiri tidak menyadarinya.
Dengan kata lain, agar ajakan kepada Allah, kepada Islam dan penyembahan kepada-Nya didahulukan
dari bujukan setan, sebagaimana fitrah Allah yang menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu
didahulukan dari pengaruh setan dan hikmat-hikmat lainnya.
Hikmat adzan dan iqamah ini adalah bahwa anak sejak lahir sudah diperdengarkan seruan suci untuk
beribadah kepada Allah di samping berguna untuk mengusir setan.
c. Disunatkan mentahnik anak yang baru lahir
Di antara hukum yang disyariatkan Islam bagi anak yang baru lahir adalah disunatkan untuk men-
tahnik setelah kelahirannya. Tahnik yaitu memamahkan kurma, mengulumi mulutnya dengan buah
tersebut. Jika sukar mendapatkan kurma, maka biasa diganti dengan sesuatu yang manis atau cairan
gula dicampur dengan air kembang, sebagai meneladani perbuatan Rasul SAW.
Hikmah dari perbuatan tersebut adalah untuk menguatkan otot-otot mulut dengan gerakan lidah
karena menjilat sesuatu yang manis, sehingga anak siap untuk menetek dengan kuat dan alami.
Sebaiknya orang yang men-tahniknya itu orang yang bertaqwa dan saleh, sebagai tabarrok kepadanya,
sebagai pengharapan agar si anak saleh dan bertaqwa pula.
d. Disunatkan mencukur rambut
Termasuk hukum yang disyariatkan Islam bagi anak yang baru lahir adalah disunatkan mencukur
rambutnya pada hari ketujuh dan menyedekahkan perak kepada para fuqaha dan yang berhak seberat
timbangan rambutnya. Hikmahnya di antaranya adalah :[13]
1) Hikmah kesehatan
Menghilangkan rambut kepala anak berarti menguatkan kepala anak dan membuka pori-pori kepala,
begitu juga akan menajamkan penglihatan, penciuman dan pendengaran.
2) Hikmah sosial
Yaitu menyedekahkan perak seberat timbangan rambut merupakan salah satu sumber jaminan sosial
yang dapat mengurangi kemiskinan dan mewujudkan fenomena saling menolong,saling menyayangi,
dan saling menjamin dalam sekelompok masyarakat. Ibnu Ishoa meriwayatkan dari Abdullah bin Abu
Bakar dari Muhammad bin Ali bin Husein r.a.,:
, , : ,
[14] ( ) . , ,

Rasul pernah beraqiqah seekor kambing untuk Hasan, dan berkata, Ya


Fatimah,! Cukurlah rambutnya dan sedekahkan perat seberat rambutnya; lalu
Fatimah menimbangnya. Hasil timbangan itu satu dirham atau kurang. (H.R.
Ibnu Ishaq)

Ada hikmah lain bahwa Rasul sangat memperhatikan agar seseorang muslim tampil di masyarakat
dengan cara yang layak. Mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian lainnya akan
mengurangi kehebatan dan keindahan dirinya, selanjutnya akan mengurangi kepribadian Islam yang
menjadi ciri pembeda seorang muslim daripada pemeluk agama dan keyakinan yang lain, bahkan dari
seluruh orang fasik, oportunis dan yang moralnya rusak.
e. Tasmiyah (Penamaan Anak)
Yaitu memberi nama dengan nama-nama yang baik.[15]
1) Kapan anak diberi nama
Diriwayatkan oleh Ashabussunah dari Samrah yang berkata bahwa :


,
) .[ )16]

Setiap anak terikat dengan aqiqah-nya yang disembelih pada hari ketujuh, diberi nama
dan dicukur rambutnya pada saat itu. (H.R. Abu Daud, at-Turmudzi dan an-Nasai)

Hadits ini menghendaki agar anak diberi nama pada hari ke tujuh, tetapi ada juga hadits-hadits yang
shahih lainnya yang menegaskan agar penamaan itu pada hari ke tujuh, boleh juga sebelum itu dan
sesudahnya.
2) Nama yang disenangi dan dibenci
Yang harus diperhatikan oleh pendidik pada saat menamai anak adalah memilih nama-nama yang
bagus dan indah sebagai perwujudan petunjuk dan perintah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW
selalu menganjurkan umat Islam untuk memberi nama-nama para Nabi, Abdullah, Abdurrahman dan
nama-nama yang mencerminkan penghambaan kepada Allah, sehingga untuk Muhammad berbeda
dari umat lainnya dalam setiap fenomena kehidupannya, agar mereka menjadi umat terbaik, dapat
menunjukkan manusia menuju cahaya kebenaran dan prinsip-prinsip Islam.
3) Disunatkan menyandarkan nama anak kepada nama ayahnya
Penyandaran ini mempunyai efek psikologis yang luhur dan manfaat-manfaat besar pendidikan. Demi
manfaat yang jelas dan ungkapan yang besar ini,maka Rasulullah SAW menyandarkan nama anak-
anak dan memanggil mereka dengan menyandarkan tersebut sebagai pendidikan dan petunjuk bagi
para pendidik agar mereka mempraktekkan cara dan metode beliau dalam menyandarkan dan
memanggil anak-anak mereka.
f. Aqiqah

Menurut bahasa (etimologi), aqiqah berarti yaitu memutus. Adapun menurut istilah
(terminologi) syari, adalah menyembelih seekor domba untuk anak pada hari ke tujuh kelahirannya.
[17]
Aqiqah menurut pandangan hukum (fiqh) dikategorikan ke dalam sunnat muakkad, anjuran yang
ditekankan. Maksudnya, meskipun Rasulullah SAW tidak menggolongkannya ke perintah yang
diwajibkan, namun beliau senantiasa melaksanakannya.
Aqiqah juga diartikan dengan menyembelih kambing untuk menyelamati bayi yangbari lahir dan
sekaligus memberikannya sebagai sedekah (rizki) kepada kaum fakir miskin. Jadi, pengertian
mengalirkan darah hewan sembelihan disini adalah sebagai amal taqarrub kepada Allah
SWT.demikian itu dilakukan sesudah sang bayidicukupr rambutnya, yaitu pada hari ke tujuh sesudah
kelahirannya. Sebagaimana disunnahkan pula melakukan sedekah sebanyak berat rambut yang telah
dicukur, dalam bentuk perak atau yang seharga dengannya.[18]
Aqiqah kadang-kadang diartikan sebagai kambing/ domba yang disembelih dan terkadang diartikan
rambut yang tercukurdari sang bayi yang baru lahir. Kedua istilah ini sekalipun berbeda makna
lahiriyahnya, akan tetapi keduanya mempunyai makna yang sama, sebab keduanya kembali kepada
satu obyek, yaitu dua pekerjaan yang dilakukan secara bersamaan. Dalam penyelenggaraan aqiqah
untuk anaklaki-laki dengan menyembelih dua domba dan untuk anak perempuan dengan satu domba.
Adapun hadits yang menguatkan disyariatkan aqiqah dan yang menjelaskan kedudukannya sinhnya
aqiqah adalah dalam shahih Bukhari meriwayatkan dari Salman bin Amuar al-Dhobbi. Ia berkata
bahwa Nabi telah bersabda :
. , :
[19]()

Anak itu aqiqah-i, karena itu tumpahkanlah olehmu baginya darah dan jauhkanlah
olehmu sekalian penyakit dari dirinya (dengan mencukur rambut kepalanya). (H.R.
Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwasannya setiap anak itu diaqiqahi dan penyembelihan
untuk aqiqah ini dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi atau hari ke-21 atau kapan saja.
Hikmah disyariatkannya aqiqah di antaranya :
1. Sebagai pengorbanan untuk mendekatkan anak kepada Tuhan sedini mungkin sejak
awal mengarungi kehidupan
2. Sebagai tebusan si anak dari berbagai musibah dan bencana, sama dengan Allah SWT
menebus Ismail a.s., dengan sembelihan yang agung
3. Sebagai pembuka penggadai anak pada kesempatan syafaat bagi kedua orang tuanya.
[20]

g. Khitan
Menurut bahasa (etimologi) khitan berarti memotong kuluf (kulit) di atas kepala zakar. Menurut
istilah (terminologi), khitan adalah memotong kulit yang ada di sekitar ujung zakar atau batas
pergelangan zakar yang sudah ditentukan oleh hukum syara. Sedangkan pada bayi perempuan,
berkhitan adalah memotong sebagian kecil dari semacam lapisan kulit yang menutup bagian atau
clitoris.[21]
Ada beberapa dasar yang dijadikan pedoman dalam pelaksanaan khitan. Khitan pada laki-laki ada
yang dikaitkan dengan perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim a.s., untuk berkhitan. Dalam
musnadnya, Imam Ahmad meriwayatkan dari Amran bin Yasir. Ia berkata bahwa Nabi SAW telah
bersabda :
, , :
[22]( ) . ,

Di antara yang mensucikan adalah : berkumur, memasukkan air ke hidung, mencukur


kumis, bersiwak, memotong kuku, membersihkan ketiak dan beristihdad. (H.R. Imam
Ahmad)

Khitan merupakan sunnah nabawiah yang diwarisnya dari nabi-nabi sebelumnya. Ulama ber-ikhtilaf
dalam menentukan hukumnya antara wajib dan sunnah. Menurut Jumhur ulama, khitan itu wajib bagi
laki-laki dan sunnah bagi wanita. Dan telah dibuktikan oleh penelitian kedokteran bahwa khitan itu
bernilai positif terhadap kesehatan. Adapun hikmah khitan, di antaranya adalah :
1. Khitan merupakan dasar fitrah (kesucian) syiar Islam dan ciri syariat
2. Khitan merupakan puncak kesempurnaan yang disyariatkan Allah melalui lisan Nabi
Ibrahim a.s., syariat yang mengajak hati untuk bertauhid dan beriman. Syariat yang
membersihkan badan dengan berkhitan, mencabut jenggot, memotong kuku serta
mencabuti bulu ketiak.
3. Khitan dapat membedakan seorang muslim dari pemeluk agama-agama lain di luar
Islam
4. Khitan merupakan sebuah pengakuan penghambaan diri kepada Allah.[23]

3. Pendidikan Anak Usia Dini (Anak Usia Sekolah)


Pendidikan akhlak pada anak memang harus ditanamkan pada masa kanak-kanak.agar akhlak
tersebut melekat sampai anak menjadi dewasa. Di samping pendidikan akhlak yang diberikan pada
masa anak prenatal (anak dalam kandungan). Pendidikan akhlak pada anak sejak lahir dan ada juga
pendidikan akhlak yang diberikan pada anak usia dini (usia sekolah).
a. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini (Anak Usia Sekolah)
Adapun yang dimaksud dengan usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya
cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama),
bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Berdasarkan Undang-Undang No.20 Tahun 2003, yang dimaksud dengan anak usia dini adalah
kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun. Dan berdasarkan para pakar pendidikan anak, yaitu
kelompok manusia yang berusia 8-9 tahun.[24]
Setelah diketahui anak usia dini (AUD), berikut dijelaskan tentang pendidikan anak usia dini (PAUD).
PAUD adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara
menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan non fisik dengan memberikan rangsangan bagi
perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal pikir, emosional dan sosial yang
tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.[25]
Adapun upaya yang dilakukan mencakup stimulasi intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian
nutrisi dan penyediaan kesempatan yang luas untuk mengeksploitasi dan belajar secara aktif.
Pendidikan anak usia dini dimulai tiga tahun sampai dengan enam tahun yang sering dikatakan
sebagai pendidikan pra sekolah dan pada masa ini anak mengalami perkembangan yang sangat pesat,
baik fisik, maupun psikis atau kejiwaan.
Tujuan dari pendidik anak usia dini salah satunya adalah memberikan pengalaman dan kesempatan
yang akan membantu penguasaan kemampuan pada semua bidang perkembangan untuk
meningkatkan kesempatan berhasil ketika anak memasuki jenjang pendidikan formal selanjutnya.
Dengan demikian, jelas bahwa pendidikan anak usia dini adalah membekali dan menyiapkan anak
sejak dini untuk memperoleh kesempatan dan pengalaman yang dapat membantu perkembangan
kehidupan selanjutnya.[26]
Pendidikan akhlak pada anak usia dini atau anak suai sekolah dilaksanakan dalam suatu lembaga
pendidikan yang melaksanakan pembinaan pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan
terencana, yaitu di sekolah. Dan guru sebagai pelaksana dalam tugas pembinaan, pendidikan dan
pengajaran adalah orang yang telah dibekali dengan pengetahuan tentang anakdidik dan memiliki
kemampuan untuk melaksanakan tugas kependidikan.
Guru agama yang jeli memperhatikan anak-anak didiknya, anak menemukan masalah-masalah yang
kurang serasi atau kurang menunjang pertumbuhan kesehatan mental mereka yang diakibatkan
berbagai keadaan yang telah mempengaruhinya sebelum ia masuk sekolah dasar. Maka guru agama
tersebut perlu memperbaiki pengajaran agama yang kurang tepat di rumah atau di taman kanak-kanak
dahulu, agar si anak dapat bertumbuh menjadi anak yang beriman dan berakhlak terpuji.
Oleh karena itu, pendidikan agama dan pendidikan akhlak yang terbaik dan mudah dilaksanakan
adalah melalui semua guru dan semua bidang studi. Artinya, setiap guru yang mengajar di sekolah
dasar itu hendaknya dapat menjadi contoh teladan bagi anak didiknya, terutama dalam keimanan,
amal shaleh, akhlak dan sikap hidup serta caranya berpikir.[27]
Di sinilah letak keistimewaan dan keungulan lembaga-lembaga pendidikan yang diasuh oleh suatu
yayasan keagamaan, seperti sekolah dasar Islam. Guru agama (bidang studi agama) yang berkewajiban
memberikan pengajaran agama,dapat melaksanakan tugas pengajarannya sendirian. Adapun dalam
pembinaan agama dan akhlak pada anak didik, dia ditunjang oleh guru bidang studi yang ada dan oleh
guru kelas. Pendidikan agama yang dilakukan oleh semua guru secara terpadu itu akan memberikan
hasil yang baik dan memantul dalam kehidupannya sehari-hari.
b. Materi Pendidikan Akhlak Anak Usia Dini (Anak Usia Sekolah)
Adapun materi pendidikan akhlak yang harus diajarkan kepada anak usia dini (anak usia sekolah)
sebagaimana akhlak-akhlak mulia yang diperintahkan oleh Rasulullah dan dicontohkan oleh beliau
dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya :
1) Jujur
Sifat jujur termasuk salah satu akhlak mulia yang menunjukkan iman seseorang.lawan dari jujur
adalah dusta. Sesungguhnya mendidik masyarakat terutama dalam keluarga (mendidik akhlak pada
anak) menuntut adanya latihan bagi masing-masing untuk jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan.
Maka wajib bagi orang tua untuk memberi contoh tentang jujur ini dan mengajarkannya sejak kecil.
2) Amanah
Sifat amanah merupakan perkara penting, sifat ini dijadikan tanda adanya iman di dalam diri
seseorang dan sebaliknya tanda orang munafiq tidak adanya sifat amanah, wajib melatih diri dan
anak-anak untuk bersifat amanh dan menghindari sifat khianat beserta akibat yang akan
ditimbulkannya, sehingga terjagalah hak-hak manusia dan harta bendanya.
3) Sabar
Sabar artinya tahan menderita, tabah, sikap menerima dan tenang. Sabar merupakan akhlak
mahmudah baik di saat mengalami bahagia maupun menderita, sehingga manusia akan terhindar dari
hawa nafsunya.
4) Malu
Seseorang muslim seyogyanya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baikdan mempunyai sifat malu,
karena malu itu sebagian dari iman. Sifat malu merupakan salah satu unsur pendorong yang kuat bagi
seseorang untuk berkelakuan baik dan menjauhi yang buruk. Begitulah di antara point-point penting
yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan generasi Islami yang senantiasa mendapat bimbingan Al-
Quran dan As-Sunnah. Bahwa sifat di atas merupakan materi yang harus diajarkan kepada anak-anak
dalam pendidikan akhlak agar menjadi anak-anak yang shaleh, sehingga sasaran pendidikan agama
Islam dapat tercapai.
c. Metode Pendidikan Akhlak Anak Usia Dini (Anak Usia Sekolah)
Metode yang dipakai disesuaikan dengan perkembangan kecerdasan dan kejiwaan anak pada
umumnya, yaitu mulai dengan contoh, teladan, pembiasaan dan latihan, kemudian berangsur-angsur
memberikan penjelasan secara logis dan maknawi.[28]
Pendidikan agama dan akhlak bagi anak di dalam keluarga pada umur taman kanak-kanak dan
sekolah dasar masih diperlukan, kendatipun disekolah telah diberikan oleh guru agama dan guru kelas
serta situasi sekolah yang menunjang, sikap orang tua terhadap pelaksanaan agama juga turut
mempengaruhi sikap anak didik yang telah dibina oleh guru dan sekolah pada umumnya.[29]
Pendidikan agama yang diperoleh anak dari guru di sekolah merupakan bimbingan, latihan dan
pelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan perkembangan jiwanya, akan menjadi bekal yang amat
penting bagi kehidupannya di masa yang akan datang. Pendidikan agama dan pendidikan akhlak pada
umur sekolah ini perlu dikaitkan, karena akhlak adalah refleksi dari keimanan dalam kehidupan nyata.
Jika bekal keimanan dan pengetahuan agama yang sesuai dengan perkembangan jiwanya cukup
mantap, maka agama akan sangat menolongnya dalam bergaul, bermain, berperangai, bersikap,
terutama dalam belajar dan bekerja.

[1] Departemen Agama RI., Al-Quran dan Terjemahnya,(Semarang : PT. Kumudasmoro


Grafindo, 1994), hlm. 654.
[2] Ibid.,hlm. 655.
[3] Ibid., hlm.654.
[4] Ibid.
[5] Ibid.,hlm. 655.
[6] Ibid., hlm. 951.
[7] Baihaqi,A.K., Mendidik Anak dalam Kandungan Menurut Ajaran Paedagogis Islami,
(Jakarta : Darul Ulum Press, 2001), hlm. 12-13.
[8] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya,(Semarang : PT.
Kumudasmoro Grafindo, 1994), hlm. 250.
[9] Baihaqi, A.K., Pendidikan Anak dalam Keluarga Bagi Anak Prenatal, (Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 29-50.
[10] Ibid., hlm. 51-60.
[11] Shodiq Ihsan, Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern, (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 1993), hlm. 124-125.
[12] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam (Pemeliharaan Kesehatan Jiwa
Anak, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 53.
[13] Ibid., hlm. 56.
[14] Ibid., hlm. 57.
[15] Shodiq Ihsan, Op.Cit., hlm. 125.
[16] Abdullah Nashih Ulwan, Op.Cit., hlm. 59.
[17] Ibid., hlm. 70-71.
[18] Jalaluddin,Mempersiapkan Anak Shaleh (Telaah Pendidikan Terhadap Sunnah Rasul Allah
SWT.), (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 80.
[19] Muhammad Ali Qutb, Sang Anak Dalam Naungan Pendidikan Islam, (Bandung :
Diponegoro, t.th), hlm. 41.
[20] Abdullah Nashih Ulwan,Op.Cit., hlm. 84.
[21] Ibid., hlm. 85.
[22] Ibid., hlm. 86
[23] Ibid., hlm. 94-95.
[24] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005),
hlm. 88.
[25] Ibid., hlm. 88-89.
[26] Ibid., hlm. 93.
[27] Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam DalamKEluarga dan Sekolah, (Jakarta : CV. Ruhama,
1995), hlm. 82.
[28] Ibid., hlm.83.
[29] Asnelly Ilyas, Mendambakan Anak Sholeh, (Bandung : Mizan, 1998), hlm. 23.

Share: $ % +

+1 Rekomendasikan ini di Google

Related Posts:

PERKEMBAN AKHLAQ PENDIDIKAN


GAN DALAM AKHLAK
KEBERAGAM ISLAM BAGI ANAK
AAN

Posting Lebih Baru Beranda Posting Lama


1 komentar

Tambahkan komentar sebagai Yys Ta'dzimussunnah Aceh

Komentar teratas

Qowwiya Aziza 5 bulan lalu - Dibagikan kepada publik


Jazakumullah tlsnny brmnft...
Terjemahkan

1 Balas

COPYRIGHT 2017 KUMPULAN MAKALAH & ARTIKEL | POWERED BY BLOGGER BACK TO TOP
DESIGN BY HOWLTHEMES | BLOGGER THEME BY NEWBLOGGERTHEMES.COM