Anda di halaman 1dari 16

KONSELING PEMBERIAN ASI

PENGANTAR

Zaman memang sudah berubah. Apa yang dulu dianggap biasa sekarang mungkin
tidak diketahui. Begitu juga dengan ASI. Dulu setiap ibu tahunya cuma menyusui.
Tapi sekarang ibu harus didorong-dorong agar mau menyusui bayinya. Untuk itu
perlu dikenali dulu alas an ibu tidak menyusui bayinya. Petugas kesehatan, dalam
upaya mendorong ibu agar mau menyusui bayi, perlu memahami alasan tersebut
agar bisa memberikan bimbingan dan penyuluhan secara tepat. Dalam hal ini
hendaknya tidak dilupakan unsur agama, sosial, budaya dan tingkat pendidikan
ibu sehingga komunikasinya bisa lebih lancar dan efektif. Pendekatan dengan cara
konseling diharapkan dapat memudahkan ibu memahami anjuran menyusui bayi
dan melakukannya dengan benar sehingga manfaatnya bisa diperoleh dengan
baik.

Percaya Diri

Setiap perempuan punya payudara. Artinya, ia berpotensi untuk menyusui.


Namun, tidak semua perempuan memahaminya dengan baik sehingga pemberian
ASI tidak begitu saja berlangsung seperti yang diharapkan. Kini ibu tidak lagi
merasa bahwa ASI adalah satu-satunya yang terbaik untuk bayi. Ada beberapa
alasan yang mendasari sikap ibu-ibu yang tidak menyusui bayinya. Diantaranya
adalah kurangnya pemahaman tentang peran dan fungsi ibu dalam kehidupan
anak, terutama dalam masa tumbuh kembangnya. Selain itu juga kurang
dihayatinya makna keibuan. Ketidakpahaman tentang anatomi dan fisiologi
reproduksi juga bisa menjadi penyebab. Tidak dipahaminya cara menyusui yang
baik dan benar dapat pula menjadi alasan ibu untuk tidak menyusui. Pemahaman
yang baik tentang payudara dan fungsinya dalam perkembangan anak akan
menumbuhkan rasa percaya diri dalam hal kemampuan menyusui. Sebaliknya,
kalau ibu tak paham, maka ibu akan mudah untuk tidak percaya diri dan

1
karenanya beralih pada yang lain, apalagi kalau bujukan atau pengaruh dari luar
telalu kuat.

Keberhasilan menyusui memerlukan dukungan, antara lain :

Perangkat menyusui, yaitu payudara ibu dan kondisi mulut bayi agar
proses menyusui bisa berjalan lancar dan produksi ASI bisa terus
meningkat dan memenuhi kebutuhan bayi.
Latihan. Sejak kelahirannya bayi dilatih supaya bisa mengisap puting
dengan benar. Makin sering menyusu, bayi akan makin sering terlatih.
Kesiapan mental ibu, yaitu ada keinginan dan punya rasa percaya diri
untuk menyusui.
Kerjasama ayah, antara lain membantu ibu agar makanannya bergizi baik,
membuat pikiran ibu tenang dan memiliki rasa percaya diri, berbagi
dalam mengerjakan tugas dirumah dan dalam merawat si bayi.
Bantuan petugas kesehatan atau pihak yang akan diperlukan ibu agar bisa
menyusui dengan baik.

Ibu perlu dibantu untuk dapat memiliki rasa percaya diri yang kuat sehingga
pemberian ASI bisa berhasil. Bantuan itu, antara lain, dapat diberikan melalui
pemahaman mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberian ASI,
baik yang bersifat faktual maupun hanya sekadar mitos. Sikap yang
melecehkan atau menganggap remeh pemikiran ibu dan keluarganya tentang
menyusui sangat diharapkan dari petugas. Berkaitan dengan hal ini maka
petugas perlu mengetahui tentang mitos dan rumor yang beredar seputar
menyusui, baik yang menyangkut ibu dan bayinya. Konseling memberi
peluang untuk meluruskan mitos dan rumor.

Konseling

Pengertian :

Pertemuan tatap muka


Diselenggarakan secara sengaja

2
Percakapan mengarah pada bantuan untuk klien
Tujuannya adalah membantu agar klien memahami dirinya, posisinya,
alternatife yang ada, memilih yang sesuai
Hasil akhirnya adalah pemahaman diri, pemahaman posisi, pengenalan
lingkungan, kemampuan berinteraksi sehingga dapat memperbaiki
diri, posisi diri, dan komunikasi dengan lingkungan

Konseling psikologik

Biasa dilakukan dalam praktek psikologi


Dilaksanakan oleh psikolog, yaitu lulusan S1 Psikologi (4 tahun) dengan
tambahan pendidikan profesi psikologi ( 2 tahun )

Konseling ASI

Tidak selalu memerlukan keahlian psikolog


Bisa dilaksanakan oleh tenaga kesehatan atau lainnya yang memahami
tentang ASI, misalnya petugas klinik dan petugas lapangan di bidang
kesehatan, sesudah mengikuti pelatihan khusus dalam hal konseling ASI
Tujuannya adalah untuk membantu ibu agar bisa menyusui bayinya
dengan baik sehingga anak sehat, ibu sehat, ayah senang, keluarga bahagia

Pokok-pokok yang perlu diperhatikan dalam memberikan konseling ASI

Konseling memerlukan kemampuan berdialog dalam komunikasi antar


pribadi, yang bersifat mendalam dan individual
Sesudah mengikuti konseling, diharapkan klien, yaitu pihak yang dibantu,
mampu melihat dirinya dan situasinya, memahami kondisi dan
kebutuhannya, mampu memilih dan mengambil sikap dengan pemahaman
yang mendalam tentang segala konsekuensi dan resikonya sehingga lebih
mantap dalam berperilaku.
Untukdapat memberikan konseling, petugas harus mampu mengenal klien
secara individual, mampu meluaskan pandangan / wawasan klien, mampu
membimbing klien untuk dapat memberdayakan dirinya sehingga mampu

3
memilih secara mandiri, memutuskan, dan mantap ketika menjalani atau
melaksanakannya.

Jadi, kemampuan yang harus dimiliki petugas konseling ASI adalah :

Kemampuan melakukan komunikasi antar pribadi


Pengetahuan tentang ASI dan segala faktor yang terkait dengan
pemberian ASI, baik secara medis /teknis, sosial-budaya, agama
Memahami program pemberian ASI yang dilakukan oleh berbagai pihak,
baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat

Langkah-langkah Konseling

Ada enam langkah dengan rumusan kata kunci : SATU TUJU

Sa = Salam ( sambut ramah, tawarkan bantuan, kesankan kesediaan diri


untuk mendengarkan dan membantunya )

T = Tanya ( Tanya, apa masalahnya, pahami, hayati, usahakan supaya bisa


sama persepsi )

U = Uraikan ( Uraikan sesuai keperluannya, tujuannya adalah agar ia bisa


memahami dirinya lebih baik dan melihat dari berbagai sudut pandang,
yang selanjutnya bisa memperdalam dan meluaskan pertimbangannya )

Tu = Bantu ( Bantu dia dengan memberikan berbagai gambaran yang ada


sebagai pilihan yang bisa dipertimbangkan, masing-masing dengan
tinjauan terhadap keuntungan dan kerugian / kelebihan dan kekurangan
sehingga ia bisa mengambil keputusan )

J = Jelaskan mengenai pilihannya ( Jelaskan dan bicarakan secara rinci


mengenai pilihannya. Bahas kemungkinan yang bisa terjadi dan sikap
untuk mengantisipasinya )

U = Ulangi ( pesan kuncinya ) / kunjungan ulang (Ulangi hal-hal yang perlu


diperhatikan. Percakapan yang panjang dan isi pembicaraan yang beragam

4
mungkin tidak bisa dirangkumnya dengan baik. Jadi ulangi hal-hal yang
perlu diperhatikan dan diingatnya, tegaskan inti pembicaraanya. Kalau
dirasakan perlu mengadakan pertemuan lanjutan,kesankan bahwa ia selalu
diterima dengan baik. Buat janji, kalau perlu jangan memaksa.

Berdasarkan enam langkah yang terangkum dalam SATU TUJU diharapkan


konseling yang dilakukan dapat membantu klien untuk mengenali
keadaanya, kondisi dan situasinya, kebutuhannya, alternative atau pilihan
yang dimilikinya, kemampuan mengambil keputusan sesuai dengan
kondisi dan kemampuan klien, bukan dari sudut kepentingan petugas
konseling.

SATU TUJU sebenarnya merupakan rumusan yang dihasilkan oleh The Johns
Hopkins University / Population Communication Services ( JHU / PCS )
untuk langkah-langkah konseling.kata aslinya adalah GATHER (Great,
Ask, Tell, Help, Explain, Repeat/return ). Sesudah menggunakannya
selama kurang lebih dua tahun untuk keperluan pengembangan program
KB ( Keluarga Berencana ) dan KIA ( Kesehatan Iu Anak )di Indonesia,
Ieda Purnomo Sigit Sidi, selaku konsultan KIE dan konseling untuk
BKKBN, menemukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia yaitu
SATU TUJU. Padanan kata dalam Bahasa Indonesia diperlukan untuk
memudahkan pemanfaatannya, terutama untuk petugas lapangan (1992).
Secara lebih sederhana, Ieda Purnama Sigit Sidi selaku konsultan Program
FHN (family health nutrition) yang merupakan program Depkes RI,
merumuskan langkah-langkah konseling dalam satu kata, yaitu SAJI
(1999).

S = Salam ( beri salam, sapa dia,tunjukkan bahwa anda bersedia


meluangkan waktu untuk berbicaradengannya)

A = Ajak bicara ( usahakan berkomunikasi secara dua arah. Jangan bicara


sendiri. Dorong agar ia mau dan dapat mengemukakan pikiran dan

5
perasaanya. Tunjukkan bahwa anda menghargai pendapatnya, anda dapat
memahami kecemasannya, dan anda bisa mengerti perasaannya.

J = Jelaskan ( beri penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi perhatiannya,


yang ingin diketahuinya, dan yang akan dijalani / dihadapinya agar ia tidak
terjebak oleh pikirannya sendiri. Luruskan persepsi yang keliru. Bicarakan
sumber informasinya dan ketepatannya tanpa menyinggung atau
melecehkannya.

I = Ingatkan ( percakapan yang anda lakukan bersama pasien mungkin


memasukkan berbagai materi secara luas, yang tidak mudah diingatnya
kembali. Di akhir bagian percakapan konseling, ingatkan dia untuk hal-hal
yang pe3nting dan koreksi atas persepsi yang keliru. Jangan lupa
mengingatkan dia tentang hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan.

Bahan Pendukung atau Media Konseling

Konseling memerlukan keterampilan komunikasi yang terdiri dari 4+1 unsur,


yaitu :

1. Sumber atau pengirim pesan


2. Isi pesan
3. Media atau kemasan isi pesan
4. Penerima pesan

Untuk meyakinkan bahwa pasiennya diterima baik, diperlukan umpan balik


/tambahan 1 unsur.

Kesamaan perpsepsi atau pemahaman tentang hal yang dibicarakan oleh pengirim
dan penerima pesan sangat penting. Bantuan peraga atau media komunikasi akan
sangat berharga untuk diperolehnya kesamaan persepsi. Ingat bahwa tidak semua
yang disampaikan dalam percakapan konseling ASI dipahami oleh klien

6
ssebagaimana yang diharapkan. Sebagian mungkin sudah dikenalnya, sebagian
mungkin baru pertama kali didengarnya.

Jenis-jenis Media : lembar balik (flip chart), lembar lipat (leaflet), selebaran,
buklet, poster, model/peraga, kaset, video, film, contoh nyata.

Kalau tidak ada media yang sudah jadi, selalu bisa dibuat sendiri dengan
memanfaatkan bahan yang ada, seperti ilustrasi atau foto dari buku, lembar lipat
atau sumber informasi lainnya. Hal-hal yang berkaitan dengan kelayakan ari segi
agama, social, budaya perlu dipertimbangkan dalam memilih media.

Sikap Petugas Konseling

Menunjukkkan perhatian
Bersikap ramah
Menerima klien seperti adanya
Menghargai pendapat klien dan lingkungannya
Memahami klien, tidak mencemooh, melecehkan, atau memaksakan
kehendak sendiri.
Menumbuhkan rasa percaya diri klien sehingga klien berani
mengungkapkan pikiran dan perasaanya, mau membahas bersama, bisa
mengambil keputusan sendiri sesuai keadaan, kebutuhan, dan
keinginannya.
Memberikan informasi secara jelas dan benar
Memperoleh kepercayaan klien
Mampu menjaga rahasia klien apabila diperlukan

Isi percakapan konseling pemberian ASI

Mengenai perangkat pemberian ASI : anatomi, fisiologi, psikologis yang


berkaitan dengan produksi dan pemberian ASI.
Mengenal lingkungan : pengaruh positif dan nagatif mengenai menyusui.
Mengenal berbagai permasalahan yang bisa mengganggu pemberian ASI,
baik yang berasal dari ibu maupun lingkungan keluarga dan

7
masyarakatnya : tatanan budaya yang berkaitan dengan perilaku menyusui,
kondisinkesehatan ibu dan bayi, keadaan ekonomi keluarga, sindrom ASI
kurang
Memaham ikeuntungan dan manfaat pemberian ASI bagi ibu, bayi dan
keluarga seperti Metoda Amenorea Laktasi (MAL), kecerdasan anak,
ikatan kasih saying, belanja keluarga, termasuk perbedaannya dengan susu
formula.
Memahami cara-cara menyusui yang baik dan benar.
Memahami cara-cara pemberian susu formula secaratepat dan benar.

Pemahaman lingkungan dan perkembangan zaman

Menyusui bukanlah sekedar memberikan air susu kepada bayi. Didalamnya


tercakup kepercayaan, harapan, dan kebiasaab yang berlangsung secara turun
menurun, diwariskan dari generasi ke generasi. Ada yang menguntungkan, ada
yang merugikan, kalau dilihat dari sudut pandang kesehatan. Dua pendapat ini,
yang lama dan yang baru, yang kuno dan yang modern, yang tradisional maupun
hasil temuan ilmiah perlu dipertemukan dengan baik agarbisa saling mengisi, dan
bukan justru ditertentangkan sehingga menimbulkan konflik yang secara
psikologis akan sangat mengganggu pemberian ASI.

Masyarakat Indonesia sangat beragam budayanya, mobilitas penduduk juga


tinggi. Kondisin ini perlu disikapi oleh petugas konseling. Diperlukan pemahaman
terhadap latar belakang sosial-budaya-agama, dan tingkat pendidikan orang yang
dihadapi. Latar belakang itu perlu diketahui dan diperhitungkan ddalam
percakapan konseling. Ketika menguraikan (U), sesuaikan dengan keadaannya.
Cobalah berempati agar bisa merabarasakan kondisi klien. Jangan bertumpu pada
sudut pandang sendiri, apalagi kalau sampai diwarnai oleh sikap kesukuan atau
golongan, atau kepentingan program.

Unsur penting dalam persiapan psikologis agar ibu berhasil menyusui adalah
keyakinan bahwa ia mampu menyusui. Keyakinan ini akan mendorong perhatian
dan usaha ibu pada persiapan menyusui,mungkin jauh sebelum saat menyusui

8
tiba. Ibu perlu meyakini manfaat ASI. Ibu perlu memahami manajemen laktasi
agar bisa mengatur kegiatannya, baik di dalam maupun diluar rumah. Pengalaman
menyusui, apalagi kalau terasa benar manfaatnya dan mendapat dukungan dari
ayah, akan menghasilkan sikap yang positif terhadap ASI. Ibu akan mampu
menerima kodratnya sebagai perempuan yang diberi perangkat dan kemampuan
untuk menyusui. Kondisi ini akan menghasilkan rasa percaya diri dan usaha yang
tepat untuk bisa menyusui dengan baik.

Pemahaman kodrat dan kepeercayaan terhadap anugrah Tuhan adalah modal


utama untuk bisa berhasil menyusui. Bayi akan tumbuh sehat, cerdas, kuat, peka,
luwes, peduli dan punya nurani kalau ayah dan ibunya mampu memberikan bekal
pendidikan yang baik, antara lain dengan menciptakan kondisin rumah tangga
yang mampu menjadi persemaian yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
Menyusui adalah awal dari pendidikan anak. Konseling pemberian ASI
diharapkan dapat menciptakan pemahaman yang menghasilkan perilaku positif
terhadap ASI. Konseling itu tidak hanya untuk ibu, tetapi untuk calon ibu dan
calon ayah, para ayah, dan keluarga besar. Penyuluhan secara luas kepada
masyarakat akan menjadi dukungan kuat terhadap terwujudnya rasa syukur
kepada Sang Pencipta melalui perilaku yang positif terhadap ASI.

IBU MENYUSUI DAN OBAT-OBATAN

Kadangkala ibu yang sedang menyusui memerlukan obat. Yang selalu


dipertanyakan adalah apakah obat ini akan mempengaruhi bayi yang sedang
menetek? Untuk ini dokter perlu mengetahui tentang obat apa yang tidak boleh
diberikan, obat apa yang dapat diberikan tetapi dengan hati-hati dan obat apa yang
boleh diberikan kepada ibu yang sedang menyusui. Sebenarnya obat yang
langsung ke ASI itu jumlahnya sangat kecil. Sebagian kecil berpengaruh kepada
bayi. Secara umum, menghentikan pemberian ASI lebih berbahaya daripada
pengaruh obat tersebut. Hanya sebagian kecil obat yang mempunyai efek
samping. Bayi yang berumur kurang dari satu bulan mempunyai masalah yang

9
lebih besar dibandingkan dengan bayi yang lebih tua. Tetapi, mungkin perlu
dipikirkan obat alternatif untuk ibu yang menyebabkan lebih sedikit masalah.
Kejadian penghentian menyusui karena ibu harus minum obat adalah sangat
jarang.

Pengaruh obat yang diminum ibu terhadap bayi tergantung dari:

1. Faktor obat
Berat molukel (BM) obat, makin besar BM makin sukar terdapat
didalam ASI (misal : insulin karena BM > 200 tidak terdapat di
dalam ASI).
Obat yang bersifat basa lebih mudah terdapat di dalam ASI (ASI
lebih bersifat asam daripada plasma. pH ASI 7,0-7,4)
Masa paruh obat. Makin lama masa paruh obat, makin lama berada
dalam tubuh.
Rasio obat didalam ASI dibandingkan dengan di dalam plasma
(M/P rasio). Bila M/P rasio tinggi berarti kadar obat di dalam ASI
lebih besar.
2. Faktor Ibu
cara pemberian, oeral, topical, inhalasi, Im, atau IV.
Kesehatan ibu, misalnya bila ada gangguan fungsi ginjal atu hati
maka eksresi beberapa obat akan berada lebih lama di dalam ASI.
Alergi, beberapa bayi misalnya alergi terhadap obat yang diberikan
kepada ibu.
3. Faktor bayi
Masa gestasi bayi
Usia kronologis
Frekuensi menyusui
Jumlah ASI yang dikonsumsi

Sehingga apabila ingin memberi obat kepada ibu yang sedang menyusui
pertimbangkan faktor-faktor diatas. Dibawah ini ada panduan yang dapat

10
membantu anda memilih obat untuk ibu menyusui. Panduan untuk memberikan
obat kepada ibu yang menyusui :

Gunakan obat hanya memang kalau diperlukan. Pertimbangkan obat


alternatif bila ada.
Bila mungkin tunda pemberian obat sampai bayi lebih matur sehingga
mampu mendetoksifikasi atau memetabolisir obat yang melalui ASI.
Berikan dosis terkecil yang efektif dan untuk waktu yang sesingkat
mungkin.
Pilih obat yang kadar didalam ASI lebih rendah dari kadar didalam
plasma. Rasio ASI / plasma < 1.
Hindari obat yang time release.
Jadwalkan pemberian obat misalkan segera setelah menyusui atau sebelum
waktu tidur panjang bayi sehingga kadar obat didalam ASI paling rendah
saat menyusu.
Perhatikan gejala reaksi obat pada bayi seperti kolik, kemerahan bayi kulit,
kegelisahan, sukar tidur, malas minum dan sebagainya.
Ajarkan cara memeras ASI bagi ibu yang dapat meneruskan pemberian
ASI setelah pengobatan selesai.
Amat jarang ada situasi, yang merupakan kontra indikasi menyusui.
Jika ibu mendapatkan obat anti kanker, pemberian ASI boleh dihentikan.
Jika
ibu mendapat pengobatan radioaktif, ibu dapat menghentikan pemberian
ASI
untuk sementara. Obat-obatan ini jarang digunakan.
Obat dapat menimbulkan efek samping, yang kadang-kadang
menyebabkan perlunya penghentian pemberian ASI. Jika ibu mendapatkan
obat psikiatrik atau anti konvulsan, kadang-kadang membuat bayi (berusia
kurang dari satu bulan) yang menyusui menjadi tampak lemah. Khususnya
jika diberikan barbiturate dan diazepam. Jika memungkinkan sebaiknya
diganti dengan obat lain yang mempunyai efek samping kecil. Namun

11
demikian, sangat berbahaya jika mengubah pengobatan secara cepat
khususnya pada kasus epilepsi. Jika tidak ada allternatif, teruskan
pemberian ASI dan amatilah bayinya. Jika terjadi efek samping pemberian
ASI dapat dihentikan.
Beberapa antibiotik perlu dihindari.
Antibiotik pada umumnya aman bagi bayi dan bagi ASI. Tetapi lebih
baik menghindari pemberian chloramfenicol, tetrasiklin, serta
metronidazol. Jika salah satu antibiotik harus diberikan kepada ibu,
teruskan menyusui dan amatilah bayinya. Pada umumnya tidak ada
masalah. Hindari pemberian sulphonamide kepada ibu, khususnya jika
bayi kuning (jaundice). Jika obat seperti cotrimoxazol, fansidar dan
dapsone diperlukan, berikan obat tersebut dan teruskan pemberian ASI.
Pertimbangkan pemberian makanan alternatif jika bayi jaundice,
terutama jaundice yang terjadi ketika ibu meminum obat tersebut.
Obat yang menyebabkan menurunnya produksi ASI perlu dihindari.
Hindari kontrasepsi yang mengandung estrogen. Hindari penggunaan
Thiazide diuretic seperti Chlorotiazid karena obat ini menurunkan
produksi ASI. Jika mungkin carilah alternatifnya.
Kebanyakan obat yang umum digunakan adalah aman pada dosis biasa.
Jika ibu menyusui mendapatkan obat, tetapi anda tidak yakin obat apa :
1. Cek daftar obat di dalam manual
2. Anjurkan agar ibu terus menyusui sambil mencoba mengetahui
obat apa yang diberikan.
3. Amatilah jika bayi terjadi efek samping seperti mengantuk yang
abnormal, tidak napsu makan dan ikterus, khususnya jika ibu
mengkonsumsi obat untuk waktu yang lama.
4. Usahakan mendapat saran dari petugas kesehatan yang lebih ahli
seperti dokter atau apoteker.
5. Jika khawatir, cobalah mencari obat alternatif yang lebih aman.

12
6. Jika bayi terkena efek samping, dan anda tidak mungkin
mengubah obatnya, pertimbangkan cara pemgberian makanan
yang lain, untuk sementar waktu jika mungkin.

Menyusui dan obat untuk ibu

Obat-obat yang dikonsumsi ibu yang menyusui digolongkan pada:

1. Yang terkontraindikasi. Jadi bila ibu memerlukan obat tersebut dan tidak
ada alternatif lain maka ibu harus menghentikan menyusui.
2. Obat yang perlu dihentikan selama pemberian ASI selama obat itu masih
berpengaruh, misalnya zat radioaktif.
3. Obat yang dianjurkan untuk tidak diberikan kepada ibu karena mungkin
berakibat kurang baik kepada bayi.

Obat yang dikontraindikasikan untuk diberikan kepada ibu yang menyusui

NAMA OBAT ALASAN


Bromocriptine Menekan laktasi, dapat berbahaya bagi ibu
Cocaine Intoksikasi
Heroin Tremor, gelisah, muntah, kesulitan minum
Nicotine (merokok) Muntah, diare, gelisah, menekan produksi ASI
Amphetamine Gelisah, sukar tidur
Cyclophosphamide Neutopenia, menekan daya tahan
Methotrexate Menekan daya tahan
Ergotamine Muntah, diare, kejang
Phenindione Menekan masa protrombin
Phencyclidine Halusinasi
Lithium Kadar tinggi didalam ASI

13
Zat Radioaktif yang memerlukan penghentian pemberian ASI untuk
sementara

Nama Zat Waktu Pemberian ASI yang dianjurkan


Cuprum164 Radioaktivitas masih terdapat didalam ASI setelah 50 jam
Gallium67 Radioaktivitas masih terdapat didalam ASI setelah 2 minggu
Indium111 pada 20 jam terdapat sangat sedikit didalam ASI
Iodine123 Radioaktivitas masih terdapat didalam ASI sampai 36 jam
Iodine125 Radioaktivitas masih terdapat didalam ASI setelah 12 hari
Iodine131 Radioaktivitas masih terdapat didalam ASI setelah 14 hari

Apabila ibu memerlukan pemeriksaan menggunakan zat radioaktif, maka ASI


sementara tidak diberikan kepada bayi, walaupun tetap harus dikeluarkan (dibuang)
agar produksi ASI jangan terhenti. Lama penghentian menyusui tergantung dari
masa paruh obat. Dianjurkan untuk menghentikan penyusuan selama 5 kali masa
paruh.

Obat-obat yang pemberiannya perlu berhati-hati karena mungkin mempunyai


efek terhadap bayi

Nama Obat Alasan


Chlorpromazine Letargi, rasa kantuk
Chloramphenicol Supresi sumsum tulang
Metronidazole In vitro: mutagen, bila ibu hanya memerlukan dosis
tunggal, pemberian ASI dapat dilanjutkan setelah 24
jam
Salicylate Asidosis metabolik
Phenobarbital Sedasi, methemoglobinemia
Primidone Sedasi, masalah tidur
Caffeine (bila Iritabel, sulit tidur
berlebihan)

14
Pil kontrasepsi yang Mengurangi jumlah ASI dan kandungan proteinnya
mengandung estrogen
Dexbrompheniramine Banyak menangis, irtabel, kurang tidur
maleat
Indomethacine Kejang
Yodium Mengganggu keaktifan kelenjar tiroid
Povidon iodine Bau yodium pada kulit bayi
Nalidixic acid Hemolisis pada bayi dengan defisiensi enzim G-6-PD
Nitrofurantoin Hemolisis pada bayi dengan defisiensi enzim G-6-PD
Phenytoin Methemoglobinemia
Golongan sulfa Adalah bilirubin displacer
Tolbutamide Ikterus

KESIMPULAN

Kontra indikasi pemberian ASI

obat anti kanker, radioaktif (berhenti menyusui sementara)

Teruskan pemberian ASI ( amati efek samping pada bayi, misalnya mengantuk)

obat penyakit psikis dan anti konvulsan

Gunakan obat alternatif

chloramfenicol, tetrasiklin, metronidazole, quinolon antibiotk


(ciprofloxacin)

Pantau kemungkinan ikterus

sulphonamide, cotrimoxazol, fansidar, dapsone

Gunakan obat alternatif (dapat menurunkan produksi ASI)

estrogen (terutama kontrasepsi berisi estrogen)

15
thiazide diuretic

Aman pada dosis biasa, obat-obatan yang paling biasa digunakan (pantau bayi)

analgesik dan antipiretik : paracetamol (diberikan untuk waktu singkat),


asam salisil salisilat, ibuprofen
kadang-kadang diberikan morfin dan petidin
kebanyakan obat batuk dan masuk angin
antibiotik : ampisilin, kloxasilin, penisilin, erytromisin, anti TB, anti lepra,
anti malaria (kecuali meflokuin), antihelmintik, anti jamur.
bronkodilator (salbutamol), kortikosteroid, antihistamin, antacid, obat
untuk diabetes, kebanyakan obat antihipertensi (digoksin)
Suplemen gizi, yodium, zat besi dan vitamin-vitamin

16