Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Logam berat ialah benda padat atau cair yang mempunyai berat 5 gram atau lebih untuk
setiap cm3, sedangkan logam yang beratnya kurang dari 5g adalah logam ringan. Dalam
tubuh makhluk hidup logam berat termasuk dalam mineral trace atau mineral yang
jumlahnya sangat sedikit. Beberapa mineral trace adalah esensiil karena digunakan untuk
aktivitas kerja system enzim misalnya seng (Zn), tembaga (Cu), besi (Fe) dan beberapa unsur
lainnya seperti kobalt (Co), mangaan (Mn) dan beberapa lainnya. Beberapa logam bersifat
non-esensiil dan bersifat toksik terhadap makhluk hidup misalnya : merkuri (Hg), kadmium
(Cd) dan timbal (Pb).
Logam merupakan kelompok toksikan yang dapat berubah-ubah akibat pengaruh
fisikokimia, biologis, atau akibat aktivitas manusia. Logam memperlihatkan rentang
toksisitas yang lebar. Kerja utama logam adalah menghambat enzim. Efek ini biasanya timbul
akibat interaksi antara logam dengan gugus SH pada enzim itu. Selain itu, logam dapat
menggangu fungsi enzim dengan menghambat sintesisnya. Umumnya efek toksik logam
merupakan akibat dari reaksi antara logam dan komponen intrasel. Untuk dapat menimbulkan
efek toksiknya pada suatu sel, logam harus memasuki sel dengan melintasi membran. Dengan
demikian, logam yang bersifat lipofilik misalnya metil merkuri akan lebih bersifat toksik.
Apabila suatu logam terikat pada suatu protein, ikatan tersebut akan diserap secara
endositosis. Logam juga dapat masuk ke dalam sel melalui difusi pasif, misalnya timbal.
Logam berat tidak mengalami metabolism, tetap berada dalam tubuh dan
menyebabkan efek toksik dengan cara bergabung dengan suatu atau beberapa gugus ligan
yang esensial bagi fungsi fisiologis normal. Ligan adalah suatu molekul yang mengikat
molekul lain yang umumnya lebih besar. Ligan member atau menerima electron untuk
membentuk ikatan kovalen, biasanya dengan logam. Antagonis logam berat, suatu kelator
(chelating agent) khusus dirancang untuk berkompetisi dengan ligan terhadap logam berat,
sehingga meningkatkan ekskrsi logam dan mencegah atau menghilangkan efek toksiknya.
Logam berat biasa bereaksi membentuk ikatan koordinat dengan ligan dalam tubuh berbentuk
OH, -COO-, -OPO3H-, -C=O, -SH, -S-S-, NH2 dan =NH. (Ganiswara, 1995)

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 1


1.2 Tujuan Percobaan
1. Mempelajari daya kerja antidota tersebut
2. Memahami cara kerja dari antidota logam-logam berat tertentu

1.3 Hipotesis
Pada praktikum kali ini yaitu tetang keracunan logam berat, dugaan sementara dari
kelompok kami yaitu senyawa yang paling ampuh untuk mengatasi keracunan logam berat
yaitu senyawa tannin. Karena dilihat dari sifat tannin itu sendiri yaitu dapat membentuk asam
galat yang tidak larut pada keracunan alkaloid dan dapat membentuk kelat pada kasus
keracunan logam berat.

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 2


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Keracunan Logam Berat


Toksisitas logam adalah keracunan dalam tubuh manusia yang diakibatkan oleh bahan
berbahaya yang mengandung logam beracun. Keracunan logam dapat masuk ke dalam tubuh
manusia melalui inhalasi, kulit, dan peroral. Umumnya, logam terdapat di alam dalam bentuk
batuan, biji tambang, tanah, air, dan udara (Bondy dan Prasad, 1988). Keracunan logam berat
dapat berasal dari timbal, perak, barium, merkuri, arsen, dan lain-lain.
Logam Berat (Pb)
Timbal (plumbum /Pb ) atau timah hitam adalah satu unsur logam berat yang lebih
tersebar luas dibanding kebanyakan logam toksik lainnya. Kadarnya dalam lingkungan
meningkat karena penambangan, peleburan dan berbagai penggunaannya dalam industri.
Timbal berupa serbuk berwarna abu-abu gelap digunakan antara lain sebagai bahan produksi
baterai dan amunisi, komponen pembuatan cat, pabrik tetraethyl lead, pelindung radiasi,
lapisan pipa, pembungkus kabel, gelas keramik, barang-barang elektronik, tube atau
container, juga dalam proses mematri.
Keracunan dapat berasal dari timbal dalam mainan, debu ditempat latihan menembak,
pipa ledeng, pigmen pada cat, abu dan asap dari pembakaran kayu yang dicat, limbah tukang
emas, industri rumah, baterai dan percetakan. Makanan dan minuman yang bersifat asam
seperti air tomat, air buah apel dan asinan dapat melarutkan timbal yang terdapat pada lapisan
mangkuk dan panci. Sehingga makanan atau minuman yang terkontaminasi ini dapat
menimbulkan keracunan Bagi kebanyakan orang, sumber utama asupan Pb adalah makanan
yang biasanya menyumbang 100 300 ug per hari Timbal dapat masuk kedalam tubuh
manusia melalui pernafasan, pemaparan maupun saluran pencernaan.
Lebih kurang 90 % partikel timbal dalam asap atau debu halus di udara dihisap
melalui saluran pernafasan. Penyerapan di usus mencapai 5 15 % pada orang dewasa. Pada
anakanak lebih tinggi yaitu 40 % dan akan menjadi lebih tinggi lagi apabila si anak
kekurangan kalsium, zat besi dan zinc dalam tubuhnya. Laporan yang dikeluarkan Poison
Center Amerika Serikat menyatakan anak-anak merupakan korban utama ketoksikan timbal;
dengan 49 % dari kasus yang dilaporkan terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 6 tahun.
Yang lebih menghawatirkan adalah efeknya terhadap kecerdasan (IQ) anak anak, sehingga

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 3


menurunkan prestasi belajar mereka, walaupun kadar timbal di dalam darah mereka
tidak dianggap toksik.
Timbal (Plumbum) beracun baik dalam bentuk logam maupun garamnya. Garamnya
yang beracun adalah : timbal karbonat ( timbal putih ); timbale tetraoksida ( timbal merah );
timbal monoksida; timbal sulfida; timbal asetat ( merupakan penyebab keracunan yang paling
sering terjadi ).
Ada beberapa bentuk keracunan timbal, yaitu keracunan akut, subakut dan kronis.
Nilai ambang toksisitas timbal ( total limit values atau TLV ) adalah 0,2 miligram/m3 .
1) Keracunan akut
Keracunan timbal akut jarang terjadi. Keracunan timbal akut secara tidak sengaja
yang pernah terjadi adalah karena timbal asetat. Gejala keracunan akut mulai timbul 30 menit
setelah meminum racun. Berat ringannya gejala yang timbul tergantung pada dosisnya.
Keracunan biasanya terjadi karena masuknya senyawa timbal yang larut dalam asam atau
inhalasi uap timbal. Efek adstringen menimbulkan rasa haus dan rasa logam disertai rasa
terbakar pada mulut. Gejala lain yang sering muncul ialah mual, muntah dengan muntahan
yang berwarna putih seperti susu karena Pb Chlorida dan rasa sakit perut yang hebat. Lidah
berlapis dan nafas mengeluarkan bau yang menyengat. Pada gusi terdapat garis biru yang
merupakan hasil dekomposisi protein karena bereaksi dengan gas Hidrogn Sulfida. Tinja
penderita berwarna hitam karena mengandung Pb Sulfida, dapat disertai diare atau konstipasi.
Sistem syaraf pusat juga dipengaruhi, dapat ditemukan gejala ringan berupa kebas dan
vertigo. Gejala yang berat mencakup paralisis beberapa kelompok otot sehingga
menyebabkan pergelangan tangan terkulai ( wrist drop ) dan pergelangan kaki terkulai (foot
drop).
2) Keracunan subakut
Keracunan sub akut terjadi bila seseorang berulang kali terpapar racun dalam dosis
kecil, misalnya timbal asetat yang menyebabkan gejala-gejala pada sistem syaraf yang lebih
menonjol, seperti rasa kebas, kaku otot, vertigo dan paralisis flaksid pada tungkai. Keadaan
ini kemudian akan diikuti dengan kejang-kejang dan koma. Gejala umum meliputi
penampilan yang gelisah, lemas dan depresi. Penderita sering mengalami gangguan sistem
pencernaan, pengeluaran urin sangat sedikit, berwarna merah. Dosis fatal : 20 - 30 gram.
Periode fatal : 1-3 hari.
3) Keracunan kronis
Keracunan timbal dalam bentuk kronis lebih sering terjadi dibandingkan keracunan
akut. Keracunan timbal kronis lebih sering dialami para pekerja yang terpapar timbal dalam

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 4


bentuk garam pada berbagai industri, karena itu keracunan ini dianggap sebagai penyakit
industri. seperti penyusun huruf pada percetakan, pengatur komposisi media cetak, pembuat
huruf mesin cetak, pabrik cat yang menggunakan timbal, petugas pemasang pipa gas. Bahaya
dan resiko pekerjaan itu ditandai dengan TLV 0,15 mikrogram/m3 , atau 0,007
mikrogram/m3 bila sebagai aerosol. Keracunan kronis juga dapat terjadi pada orang yang
minum air yang dialirkan melalui pipa timbal, juga pada orang yang mempunyai kebiasaan
menyimpan Ghee (sejenis makanan di India) dalam bungkusan timbal. Keracunan kronis
dapat mempengaruhi system syaraf dan ginjal, sehingga menyebabkan anemia dan kolik,
mempengaruhi fertilitas, menghambat pertumbuhan janin atau memberikan efek kumulatif
yang dapat muncul kemudian.
Gejala keracunan timbal diantaranya pada sistem pencernaan berupa muntah-muntah,
nyeri/kolik abdomen, rasa logam dan garis biru pada gusi, serta konstipasi kronis. gejala
keracunan pada sistem jantung dan peredaran darah berupa anemia, basofilia pungtata,
retikulosis, berkurangnya trombosit dan sel polimorfonuklear, hipertensi dan nefritis, serta
artralgia (Hendry, 1979).
Pertolongan pertama
Jika menemukan gejala-gejala keracunan timbal, masyarakat dapat memberi
pertolongan pertama untuk sedapat mungkin menekan risiko dan dampaknya pada penderita.
Untuk keracunan akut melalui saluran pencernaan misalnya, pasien sebaiknya segera
dipindahkan agar tidak terpapar lagi dengan timbal. Bilas mulutnya dan berikan rangsangan
untuk muntah ( untuk penderita yang sadar). Rujuklah segera ke bagian perawatan medis.
Kasus-kasus keracunan kronis dapat ditekan dengan berbagai cara dengan merujuk factor-
faktor yang memungkinkan terjadinya keracunan tersebut. Misalnya, mengurangi kadar
timbal dalam bensin untuk mengurangi pemaparan timbal melalui pernafasan. Dengan
demikian dapat diharapkan terjadi penurunan kadar timbal dalam darah manusia.
Keracunan yang biasa terjadi karena tumpahan timbal di lingkungan industri
industri besar dapat dihindari dengan membersihkan tumpahan dengan hati-hati ( untuk
tumpahan sedikit), atau dilakukan secara landfills (untuk tumpahan yang banyak ).
Logam Perak (Ag)
Logam perak telah lama digunakan dalam dunia medis sebagai antibakteri
(Alexander, 2009). Toksisitas perak telah lama diteliti pada berbagai hewan coba. Diantara
efek toksisitas perak adalah agyria (Buckley and Terhaar, 1973; Hanna et al. 1974; Rich et al.
1972; Walker 1971), efek neurologic (Rungby and Danscher 1984), penurunan berat badan,
dan kematian (Matuk et al. 1981; Walker 1971).

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 5


Logam Barium (Ba)
Barium merupakan salah satu logam yang banyak menimbulkan keracunan. Efek
keracunan barium menimbulkan gangguan keseimbangan potassium (hypokalemia),
quadriparesis, gagal organ pernapasan akut, gastroenteritis, nyeri abdomen, dan lemah umum
(Radhey dan Malin, 2010).

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 6


BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan


Alat :
Pipet tetes
Tabung reaksi
Bahan :
AgNO3 1%
Alcohol
Barium klorida
HCL encer
Larutan natrium thiosulfate 1%
Larutan Pb Asetat 10%
NaCL 0,9%
Natrium thiosulfat
Seduhan teh kental (zat yang mengandung tannin)

3.2 Cara Kerja


A. Antidota Timah Hitam
1. Pada tabung pertama dimasukkan seduhan teh kental kedalam Pb Asetat 10%
ditambahkan alcohol. Diamati apa yang terjadi
2. Pada tabung kedua dimasukkan seduhan teh kental kedalam Pb Asetat 10%
ditambahkan HCL encer. Diamati apa yang terjadi
3. Pada tabung yang lain ditambahkan larutan natrium thiosulfate kedalam Pb Asetat
10%. Diamati apa yang terjadi
B. Antidota Perak
1. Pada tabung pertama dimasukkan NaCL 0,9% kedalam larutan AgNO3 1%.
Diamati apa yang terjadi. Ditambahkan lagi NaCL 0,9%, diamati apa yang terjadi
2. Pada tabung kedua dimasukkan natrium thiosulfate kedalam larutan AgNO3 1%.
Diamati apa yang terjadi. Ditambahkan lagi NaCL 0,9%, diamati apa yang terjadi

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 7


C. Antidota Barium
1. Pada tabung pertama dimasukkan natrium sulfat kedalam barium klorida
2. Pada tabung kedua dimasukkan natrium sulfat kedalam barium klorida ditambahkan
HCL . Diamati apa yang terjadi

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 8


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Bagan Kerja Hasil Pengamatan


1. Antidota Timah Hitam
Teh kental + Pb asetat 10% + alcohol Endapan coklat, larutan keruh
Teh kental + Pb asetat 10% + HCl Coklat bening, terdapat sedikit endapan
Pb asetat 10% + Na.Tiosulfat Bening, terdapat endapan putih
2. Antidota Perak
NaCl 0,9% + AgNO3 1% + NaCl Putih susu + NaCl 0,9% tetap putih susu
0,9% dan terdapat endapan
Na.Tiosulfat + AgNO3 1% + NaCl Bening + NaCl 0,9% putih susu dan
0,9% terdapat endapan putih
3. Antidota Barium
Natrium sulfat + Barium klorida Putih susu, endapan lebih banyak
Natrium sulfat + Barium klorida + Putih susu, endapan lebih sedikit
HCl

4.2 Reaksi
1. Antidota Timah Hitam
Pb(CH3COOH)2 + C2H5OH Pb(OH)2 (endapan coklat) + C2H5CH3COO
Pb(CH3COOH)2 + HCl Pb(Cl)2 (endapan coklat) + CH3COOH
Pb(CH3COOH)2 + Na2S2O3 PbS2O3 (endapan putih) + CH3COONa
2. Antidota perak
AgNO3 + NaCl AgCl (putih susu) + NaNO3
Na2S2O3 + NaCl AgCl (endapan putih) + Na2S2O3
3. Antidota Barium
Na2SO4 + BaCl NaCl (endapan putih) + BaSO4

4.3 Pembahasan
Pada percobaan praktikum kali ini yaitu mengenai antidota pada kasus keracunan
logam berat. Dimana logam-logam berat yang digunakan pada praktikum ini antara lain
timah hitam, perak, dan barium. Hasil percobaan dapat dilihat dari terbentuknya endapan
dengan beberapa pereaksi yang digunakan dalam praktikum ini.
Pada percobaan antidota keracunan logam berat dengan timah hitam, hasil yang
didapatkan pada campuran teh, Pb asetat, dan alkohol yaitu terbentuknya endapan coklat.
Endapan yang terbentuk ini merupakan endapan timbal hidroksida. Pada campuran teh,
Pb asetat, dan HCl juga terbentuk endapan coklat. Endapan yang terbentuk dari
campuran ini merupakan endapan timbal klorida. Dan pada campuran Pb asetat dengan
natrium tiosulfat juga membentuk endapan putih. Endapan putih yang terbentuk ini
merupakan endapan timbal tiosulfat. Dari hasil pengamatan yang diperoleh ini dapat
diketahui bahwa tannin dalam teh dan natrium tiosulfat dapat dijadikan antidota

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 9


keracunan timbal yang bekerja dengan cara mengendapkan timbal sehingga tidak dapat
diabsorbsi oleh usus dan langsung dibuang.
Pada pencampuran teh, Pb asetat, dan alcohol terbentuk endapan melayang berwarna
coklat dan larutan berwarna coklat, yang setelah didiamkan beberapa saat akan terbentuk
endapan berwarna coklat di dasar tabung reaksi dengan larutan keruh. Sedangkan pada
campuran teh, Pb asetat, dan HCl langsung terbentuk endapan berwarna coklat pada
dasar tabung reaksi dengan larutan berwarna coklat bening. Hal ini terjadi karena tannin
akan lebih cepat mengendapkan timbal pada suasana asam dibandingkan pada suasana
basa. Selain itu, HCl juga merupakan asam kuat sehingga akan lebih mudah bereaksi
dengan senyawa garam Pb asetat. Pada penambahan alkohol dapat menurunkan kelarutan
sehingga dapat sedikit lebih lama membentuk endapan dalam suasana basa.
Pada percobaan antidota perak didapatkan hasil bahwa Natrium Thiosulfat lebih
cepat memberikan endapan logam berat dibandingkan dengan NaCl 0,9%, hal ini terjadi
karena larutan NaCl 0,9% merupakan larutan isotonis, yaitu larutan yang sama dengan
cairan didalam tubuh sehingga tidak berpengaruh terhadap mengatasi keracunan logam
berat perak. Natrium thiosulfat berupa hablur besar, tidak berwarna atau serbuk hablur
kasar. Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam udara kering pada suhu lebih dai
330C. Larutannya netral atau basa lemah terhadap lakmus. Sangat mudah larut dalam air
dan tidak larut dalam etanol. Natrium thiosulfat juga berperan sebagai antidota untuk
keracnan sianida. Sodium thiosulfat merupakan donor sulfur yang mengkonveksi sianida
menjadi bentuk yang lebih nontoksik, tiosianat, dengan enzim sulfurtransferase, yaitu
rhodanase. Tidak seperti nitrit, thiosianat merupakan senyawa nontoksik dan dapat
diberikan secara empiris pada keracunan sianida.
Pada percobaan antidota barium didapatkan hasil berupa endapan putih pada
pencampuran natrium sulfat dan barium klorida. Endapan yang dihasilkan dalam
campuran ini lebih banyak dibandingkan dengan pada saat ditambahkan HCl. Hal ini
terjadi karena adanya penarikan barium oleh larutan basa alkohol sehingga pengendapan
yang terjadi lebih maksimal. Dalam tubuh larutan NaCl direabsorbsi di dalam tubulus
proximalis ginjal, sedangkan barium yang ada akan berusaha diendapkan tubuh agar
tidak terserap dan meracuni tubuh.

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 10


BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah diperoleh, dapah di simpulkan bahwa:

1. Tannin dalam teh dan natrium tiosulfat dapat dijadikan antidota keracunan timbal
yang bekerja dengan cara mengendapkan timbal sehingga tidak dapat diabsorbsi oleh
usus dan langsung dibuang.
2. Penambahan Natrium Thiosulfat pada antidota perak lebih cepat memberikan endapan
logam berat dibandingkan dengan NaCl 0,9%, karena larutan NaCl 0,9% merupakan
larutan isotonis, yaitu larutan yang sama dengan cairan didalam tubuh.
3. Endapan yang dihasilkan oleh campuran natrium sulfat dan barium klorida ini lebih
banyak dibandingkan dengan pada saat ditambahkan HCl.

FARMAKOLOGI KEMOTERAPI Keracunan Logam Berat | 11