Anda di halaman 1dari 5

Nama : AULIA NURFAIZAH

Kelas : KP3C
NIM : 3.42.13.2.05

KERTAS KERJA

1. Pengertian Kertas Kerja


Kertas kerja adalah kertas-kertas yang dikumpulkan atau dibuat selama proses pemeriksaan,
yang meliputi semua bukti pemeriksaan yang dikumpulkan oleh akuntan untuk
memperlihatkan pekerjaan yang telah dilaksanakannya, metode dan prosedur pemeriksaan
yang diikuti nya, serta kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuatnya. Kertas kerja yang dibuat
atau diperoleh akuntan dapat berupa memo, analisis, surat komfirmasi, surat representasi
manajemin, komentar yang dibuat atau diperoleh akuntan, tembusan dokumen-dokumen
penting serta daftar daftar, baik yang dibuat oleh akuntan maupun yang diserahkan oleh klien
dan di verifikasi oleh akuntan. Dalam melakukan pemeriksaanya akuntan harus diberi
kebebasan oleh klien untuk memperoleh imformasi yang diperlukannya.

Adapun tujuan-tujuan pembuatan kertas kerja adalah sebagai berikut:


a. Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pemeriksaan.
Pemeriksaan akuntan terdiri dari berbagai tahap pemeriksaan yang dilaksanakan dalam
berbagai waktu, tempat, dan pelaksana. Setiap tahap menghasilkan berbagai macam
bukti yang dicamtumkan dalam kertas kerja. Koordinasi dan pengorganisasian berbagai
tahap pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan kertas kerja.
b. Untuk mendukung pendapat akuntan atas laporan keuangan yang diperiksannya.
Norma pemeriksaan yang ketiga mengsyaratkan akuntan memperoleh bukti yang sangat
cukup dan kompeten sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan
yang diperiksanya. Kertas kerja dapat digunakan oleh akuntan untuk mendukung
pendapatannya dan merupakan bukti bahwa akuntan telah melaksanakan pemeriksaanya
yang memadai.
c. Untuk menguatkan kesimpulan-kesimpulan akuntan dan kompetensi pemeriksaannya.
Dikemudian hari jika ada pihak-pihak yang memerlukan penjelasan mengenai
kesimpulan atau pertimbangan yang telah dibuat oleh akuntan dalam pemeriksaannya, ia
dapat kembali memeriksa kertas kerja yang telah dibuat dalam pemeriksaannya.
Pembuatan seperangkat kertas kerja yang lengkap merupakan syarat yang penting dalam
pembuktian telah dilaksanakannya pemeriksaan yang baik.
d. Untuk pedoman dalam pemeriksaan berikutnya.
Dalam pemeriksaan yang telah berulang terhadap klien yang sama dalam priode akuntan
yang berlainan, akuntan memerlukan imformasi mengenai sifat usaha klien, catatan dan
sistem akuntan klien, pengendalian intern klien, dan rekomendasi perbaikan yang
diajukan kepada klien dalam pemeriksaan yang lalu, jurnal-jurnal adjustment yang di
sarankan untuk penyajian secara wajar laporan keuangan yang lalu.

2. Kepemilikan Kertas Kerja


SA Seksi 339 kertas kerja paragraf 06 mengatur bahwa kertas kerja adalah milik kantor
akuntan publik, bukan milik klien atau milik pribadi auditor. Sedangkan kertas kerja
pemeriksa sektor publik menjadi hak milik Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK-RI).
Oleh karena itu, organisasi pemeriksaan harus menetapkan kebijakan dan prosedur yang
wajar mengenai pengamanan dan penyimpanan dokumentasi pemeriksaan selama waktu
tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal tersebut
sesuai dengan SA Seksi 339 paragraf 08 mengatur bahwa auditor harus menerapkan prosedur
memadai untuk menjaga keamanan kertas kerja dan harus menyimpannya sekurang-
kurangnya 10 tahun sehingga dapat memenuhi kebutuhan praktiknya dan ketentuan-
ketentuan yang berlaku mengenai penyimpanan dokumen.

3. Faktor-Faktor yang Harus Diperhatikan Dalam Pembuatan Kertas Kerja yang


Baik.
Ada lima faktor yang harus diperhatikan:
1) Lengkap
a. Berisi semua imformasi yang pokok, menentuakn komposisi semua data penting yang
dicamtumkan dalam kertas kerja.
b. Tidak memerlukan tambahan penjelasan secara lisan. Artinya kertas kerja harus jelas
dapat berbicara sendiri, harus berisi imformasi yang lengkap, tidak berisi imformasi
yang belum jelas atau pertanyaan yang belum dijawab.
2) Teliti
Dalam pembuatan kerja, akuntan harus memperhatikan ketelitian dalam penulisan dan
perhitungan sehingga kertas kerjanya bebas dari kesalahan tulis dan perhitungan.
3) Ringkas
Kertas kerja harus dibatasi pada imformasi yang pokok-pokok saja yang relevan dengan
tujuan pemeriksaan yang dilakukan serta disajikan dengan ringkas . untuk menghindari
rincian-rincian yang tidak perlu. Analisis yang perlukan oleh seorang akuntan harus
merupakan peringkasan dan penapsiran data dan bukan hanya merupakan penyalinan
catatan klien kedalam kertas kerja.
4) Jelas
Kejelasan dalam imformasi kepada pihak-pihak yang akan memeriksa kertas kerja perlu
diusahakan oleh akuntan. Penggunaan ini istilah yang menimbulkan arti ganda perlu
dihindari. Penyajian imformasi secara sistematik perlu dilakukan.
5) Rapi
Kerapian dalam pembuatan kertas kerja dan keteraturan penyusunan kertas kerja akan
membantu akuntan senior dalam menelaah hasil pekerjaan stafnya serta memudahkan
memperoleh imformasi dari kertas kerja tersebut.

4. Tipe Kertas Kerja


a) Program Pemerisaan (Audit Program)
Merupakan daftar prosedur pemeriksaan untuk struktur rinci untuk mengumpulkan tipe
bukti pemeriksaan tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam
pemeriksaannya.
b) Working Trial Balance
Suatu daftar yang berisi saldo-saldo rekening buku pada akhir tahun pemeriksaan dan
pada akhir tahun sebelumya, kolom-kolom adjustment dan penggolongan kembali yang
diusulkan oleh akuntan, serta saldo-saldo yang telah dikoreksi akuntan yang akkan
nampak dalam laporan keuangan yang telah diperiksa akuntan.
c) Ringkasan Jurnal Adjustment
Dalam proses pemeriksaannya, akuntan mungkin memnjumpai kesalahan-kesalahan
dalam laporan keunagan dan catatan catatan akuntan kliennya, untuk memperbaiki
membuat draft jurnal adjustment yang nantinya akan dibicarakan dengan kliennya, dan
disamping itu akuntan membuat penggolongan kembali, untuk unsur, yang, meskipun
tidak salah dicatat oleh klien, tetapi demi kepentingan penyajian laporan keuangan yang
wajar harus digolongkan kembali.
d) Daftar Utama (Lead Schudule atau Top Schudule)
Adalah kertas kerja yang digunakan untuk meringkas imformasi yang dicatat dalam daftar
pendukung untuk rekening-rekening yang berhubungan. Ini digunakan untuk
menggabungkan rekening-rekening buku besar yang sejenis, jumlah saldonya akan
dicamtumkan didalam laporan keuangan dalam satu jumlah.
e) Daftar Pendukung (Supporting Schedule)
Dalam daftar pendukung ini harus mencamtumkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh
akuntan dalam memverifikasi dan menganalisis unsur-unsur yang telah dicamtumkan
dalam daftar tersebut, metode verifikasi yang digunakan pertanyaan yang timbul dalam
pemeriksaan, serta jawaban atas pertanyaan tersebut.

5. Pemberian Indeks Pada Kertas Kerja


Setiap auditor mempunyai cara sendiri dalam memberikan indeks kertas kerja. Faktor-faktor
yang yang harus diperhatikan dalam pemberian indeks kertas kerja adalah sebagai berikut:
1) Setiap kerja harus diberi indeks, dapat disudut atas atau disudut bawah
2) Pencamtuman indeks silang (cross index) harus dilakukan sebagai berikut:
a. Indeks silang dari skedul pendukung ke skedul utama.
Rincian yang tercantum dalam suatu skedul pendukung diberi indeks silang dengan
menunjukan indeks skedul utama yang berkaitan yang memuat jumlah tersebut.
b. Indeks silang dari skedul akan pendapatan biaya.
Sering kali analisis akun nerasa berhubungan dengan analisis akun laba-rugi. Oleh
karena itu kertas kerja yang berhubungan dengan akun nerasa harus diberi indeks
silang dengan kertas kerja yang berhubungan dengan akun laba-rugi.
c. Indeks silang antar skedul pendukung.
Sering kali skedul pendukung tertentu memuat imformasi yang berkaitan dengan
imformasi lain yang tercantum dalam skedul pendukung lain. untuk saling
menghubungkan informasi diperlukan indeks silang antar skedul pendukung.
d. Indeks silang dari skedul pendukung ke ringksan jurnal adjustment
Seperti jurnal adjusment yang dicatat dalam kertas kerja ringkasan jurnal adjustment
harus diberi indeks silang, dengan cara mencantumkan indeks skedul pendukung
dibelakang jurnal adjustment yang dicamtumkan dalam ringkasan jurnal adjustment
tersebut.
e. Indeks silang dari skedul utama ke working trial balance.
Indeks skedul utama dicamtumkan pada working trial balance agar memudahkan
pencarian kembali imformasi yang lebih rinci dari working trial balance ke skedul
utama.
f. Indeks silang dapat digunakan pula untuk menghubungkan program audit dengan
kertas kerja.
Indeks kertas kerja dicamtumkan pada program audit untuk menunjukan dikertas
kerja mana hasil pelaksanaann audit tersebut dapat ditemukan.
3) Jawaban komfirmasi, pita mesin hitung, print-out komputer, dan sebagainya tidak diberi
indeks kecuali jika dilampirkan dibelakang kertas yang berindeks.

6. Pengarsipan Kertas Kerja


Pengarsipan kertas kerja yang diperoleh dari pemeriksaan dibagi dua yaitu:
a. Arsip Permanen (Permanent file)
Arsip permanen berisi data/informasi yang diperkirakan akan berguna bagi auditor untuk
pemeriksaan yang akan datang untuk klien yang sama.
Arsip permanen berisi informasi sbb:
Copy anggaran dasar dan anggaran rumah tangga klien.
Bagan organisasi dan luas wewenang serta tanggung jawab para manajer.
Pedoman akun, pedoman prosedur, dan data lain yang berhubungan dengan
pengendalian intern.
Copy surat perjanjian penting yang mempunyai masa laku jangka panjang.
Tata letak pabrik, proses produksi, dan produk pokok perusahaan.
Copy notulen rapat direksi, pemegang saham, dan komete-komete yang berbentuk
klien.
Pembentukan arsip permanen berguna untuk:
Mengingatkan auditor mengenai informasi untuk pemeriksaan yang akan datang
Memberi ringkasan informasi pada staff pemeriksa yang baru pertama memeriksa
laporan keuangan klien tersebut
Menghindari pembuatan kertas kerja yang sama pada pemeriksaan mendatang
b. Arsip Sekarang/kini (current file)
Arsip ini berisi informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan saat ini.

Sumber : http://husna-syakur.blogspot.co.id/2012/05/kertas-kerja-auditing.html
https://b4ra.wordpress.com/2010/05/08/pertemuan-ke-9-kertas-kerja-2/
http://keuanganlsm.com/kepemilikan-dan-kerahasiaan-kertas-kerja/