Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR MAKSILA

A. DEFINISI
Tumor adalah jaringan baru (neoplasma) yang timbul dalam
tubuh akibat pengaruh berbagai faktor penyebab dan menyebabkan
jaringan setempat pada tingkat gen dan adanya kehilangan kendali
normal atas pertumbuhannya. Tumor maksila adalah suatu pertumbuhan
jaringan baru yang terjadi di sinus maksilaris cenderung menginvasi
jaringan sekitarnya dan bermetastase ke tempat-tempat jauh.

B. ETIOLOGI
1. Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui dengan pasti, tetapi
diduga beberapa zat kimia atau bahan industri merupakan penyebab
antara lain nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium,
isopropyl oil dan lain-lain. Pekerja di bidang ini mendapat
kemungkinan terjadi keganasan sinonasal jauh lebih besar.
Alkohol, asap rokok, makanan yang diasin atau diasap diduga
meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan, sebaliknya buah-
buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadi keganasan(2).
2. Pajanan terhadap radio aktif Thorotrast dalam waktu yang lama
meningkatkan resiko tumor sinus maksila
3. Sinusitis kronis meningkatkan resiko terbentuknya tumor
4. Konsumsi tembakau meningkatkan resiko terhadap terbentuknya
tumor sinus maksila (squamous cell carcinoma), meskipun
mekanisme serta pengaruh tembakau terhadap peningkatan resiko
ini belum diketahui secara pasti(5).

C. PATOFISIOLOGI
Tumor menyebar secara lokal sewaktu tonjolan-tonjolan
mencederai dan mematikan sel-sel yang disekitarnya. Tumor yang
sedang tumbuh dapat mematikan sel-sel disekitarnya dengan menekan
sel-sel tersebut atau dengan menghancurkan suplai darah dan
mengeluarkan bahan kimia serta enzim yang menghancurkan integritas
membran sel disekitarnya, sehingga sel tersebut mengalami lisis dan
kematian. Setelah sel-sel disekitarnya mati tumor dapat dengan mudah
tumbuh untuk menempati ruang yang ditinggalkan.

D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala tergantung dari asal tumor primer serta arah dan
perluasannya. Tumor di dalam sinus maxilla biasanya tanpa gejala,
tetapi biasanya didapatkan darah ada secret hidung dan adanya gejala
obstruksi nasal. Gejala lainnya timbul setelah tumor besar, dapat
mendorong atau menembus dinding tulang dan meluas ke rongga
hidung atau mulut, pipi, atau orbita(7).
Tergantung dari perluasan tumor,gejala dapat di kategorikan
sebagai berikut:
1. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rhinorea.
Sekretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor
yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi
deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya berbau karena
mengandung jaringan nekrotik.
2. Gejala orbital. perluasan tumor ke orbita menimbulkan diplopia,
proptosis, atau penonjolan bola mata, oftalmoplegia, gangguan
visus dan epifora.
3. Gejala oral. Perluasan tumor kerongga mulut dapat menyebabkan
penonjolan atau ulkus palatum atau prosesus alveolaris. Pasien
mengeluh gigi geligi goyah. Seringkali pasien datang ke dokter gigi
karena nyeri gigi, tetapi tidak sembuh meskipun gigi telah dicabut.
4. Gejala fasial. Perluasan tumor kedepan akan menyebabkan
penonjolan pipi, disertai nyeri, anestesi atau parastesia muka jika
mengenai nervus trigeminus.
5. Gejala Intrakranial. Perluasan tumor ke intrakranial menyebabkan
sakit kepala hebat, oftalmoplegia dan gangguan visus. Dapat
disertai likuororea, yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung.
Jika perluasan sampai ke fossa kranii media maka nervus otak
lainnya akan terkena. Jika tumor meluas kebelakang, terjadi trismus
akibat terkenanya muskulus pterigoideus disetai anestesi dan
parastesi daerah yang di persarafi nervus maxillaries dan
mandibularis.
6. Penyebaran ke sistem limfatik submandibula dan deep cervical
nodes (pada keadaan tumor yang telah bermetastasis)
Saat pasien berobat biasanya tumor sudah dalam fase lanjut.
Hal ini yang juga menyebabkan diagnosis terlambat adalah karena
gejala dininya mirip dengan rinitis atau sinusitis kronik sehingga sering
diabaikan pasien maupun dokter(2).

E. PEMERIKSAAN FISIK
1. Saat memeriksa pasien, pertama-tama perhatikan wajah pasien
apakah ada asimetri atau distorsi. Temuan lain yaitu adanya
proptosis yang mendorong mata ke atas.
2. Pemeriksaan dinding lateral cavun nasi, jika terdorong ke arah
medial menunjukan tumor berada di sinus maksila.
3. Palapasi gusi rahang atas dan palatum, apakah ada nyeri tekan,
penonjolan atau gigi goyah.
4. Pemeriksaan nasoendoskopi dan sinuskopi.
5. Pembesaran kelenjar leher juga perlu dicari meskipun tumor ini
jarang bermetastasi ke kelenjar leher(2).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi.
Biopsi tumor sinus maksila, daapat dilakukan melalui operasi
Caldwell-Luc yang inisisinya melalui sulcus ginggivo-bukal
2. Foto polos sinus paranasal, untuk melihat adanya erosi tulang dan
perselubungan padat unilateral.
3. CT Scan, sarana terbaik untuk melihat perluasan tumor dan
destruksi tulangtulang
4. MRI (Magnetic resonance imaging), baik untuk melihat perluasan
tumor ke jaringan padat dan untuk membedakan jaringan tumor
dari jaringan norma tetapi kurang begitu baik dalam
memperlihatkan dsetruksi tulang(2

G. PENATALAKSANAAN
1. Pembedahan
Pembedahan atau lebih sering bersama dengan modalitas
terapi lainnya seperti radiasi dan kemoterapi sebagai ajuvan sampai
saat ini masih merupakan pengobatan utama untuk keganasan
dihidung dan sinus paranasal. Pembedahan dikontraindikasikan
pada kasus-kasus yang telah bermetastasis jauh, sudah meluas ke
sinus kavernosus bilateral atau tumor sudah mengenai kedua orbita.
Pada tumor jinak dilakukan ekstirpasi tumor sebersih mungkin.
Bila perlu dilakukan cara pendekatan rinotomi lateral atau
degloving.
Untuk tumor ganas dilakukan tindakan radikal seperti
maksilektomi, dapat berupa maksilektomi media, total dan radikal.
Maksilektomi radikal biasanya di lakukan misalnya pada tumor
yang sudah infiltrasi ke orbita, terdiri dari pengangkatan maksila
secara endblok disertai eksterasi orbita, jika tumor meluas ke
rongga intrakranial dilakukan reseksi kraniofasial atau kraniotomi,
tindakan dilakukan dalam tim bersama dokter bedah saraf (2).
2. Kemoterapi
Kemoterapi bermanfaat pada tumor ganas dengan
metastase atau yang residif atau jenis yang sangat baik dengan
kemoterapi, misalnya limfoma malignum. Peran kemoterapi untuk
pengobatan tumor traktus sinonasal biasanya paliatif, penggunaan
efek cytoreductive untuk mengurangi rasa nyeri dan penyumbatan,
atau untuk mengecilkan lesi eksternal massif. Penggunaan cisplatin
intrarterial dosis tinggi dapat digunakan secara bersamaan dengan
radiasi pada pasien dengan karsinoma sinus paranasal. Angka
ketahanan hidup 5 tahun sebesar 53%. Pasien yang menunjukkan
resiko pembedahan yang buruk dan yang menolak untuk dilakukan
operasi dipertimbangkan untuk mendapatkan kombinasi radiasi dan
kemoterapi (2,9).
3. Radiasi
Radiasi digunakan sebagai metode tunggal untuk
membantu pembedahan atau sebagai terapi paliatif. Radiasi post
operasi dapat mengontrol secara lokal tetapi tidak menyebabkan
kelangsungan hidup spesifik atau absolut. Sel-sel tumor yang
sedikit dapat dibunuh, pinggir tumor non radiasi dapat dibatasi
sepanjang pembedahan dan penyembuhan luka post operasi lebih
dapat diperkirakan(9).
DAFTAR REFERENSI

Dhingra PL. Neoplasms of Nasal Cavity. In : Dhingra PL, Diseases of Ear, Nose
and Throat. 3rd Elsevier, New Delhi 2007 ; p. 192-198
Roezin, A, Armiyanto. Tumor Hidung dan Sinonasal. Dalam Soepardi, EA et al.,
(Eds) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala
& Leher. ed 6 Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2009; p.178-181
Tjahdewi, S, Wiratno. Tumor Ganas Hidung Dan Sinus Paranasal Analisa Klinik
Pada 55 Penderita. Dalam Kumpulan Naskah Ilmiah Kongress XII.
Balai Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang 1999; p. 984-992
Soetjipto, D, Mangunkusumo, E. Sinus Paranasal. Dalam Soepardi, Efiaty
Arsyad, et al., (Eds) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung,
Tenggorok, Kepala & Leher. ed 6 Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2009;
p.145-149
Cancer Institute Stanford Medicine. Diagnosis and Treatment of Cancer in the
Maxillary Sinuses. Stanford Cancer Institute, California 2010. Available
at : http://cancer.stanford.edu/headneck/sinus/sinus_max.html
(Accessed : April 5th 2012).
Barnes, L et al., Head and Neck Tumours. In : Barnes, L et al., (Eds) Tumours of
the Nasal Cavity and Paranasal Sinuses. World Health Organization
Classification of Tumours. Pathology and Genetics. Lyon, IARC Press
2005; pp. 12-25
Bull, PD. Carcinoma Of The Maxillary Antrum. In : Bull, PD. Diseases of the
Ear, Nose and Throat. 9th Ed Blackwell Publishing Company, UK 2002;
p.95-96
Greene, FL et al., Nasal Cavity and Paranasal Sinuses. In: Greene, FL et al., (Eds)
AJJ Cancer Staging Atlas. American Joint Committee on Cancer,
Springer. America 2006; pp. 53-60
Bailey JB. Neoplasms of the Nose and Paranasal Sinuses. In : Bailey Jb (Ed)
Head and Neck Surgery Otolaryngology. 4th Ed, Volume Two,
Lippincott Williams and Wilkins, Philadephia 2006 pp: 1481-1488
Jham, BC et al., A case of maxillary sinus carcinoma. Department of Oral
Pathology, School of Dentistry, Universidade Federal de Minas Gerais.
Elsevier, Brazil 2005; p. 159. Available at:
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1741940905001044
(Accessed : April 5th 2012)
I. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas, meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa
yang digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, sakit,
dan diagnosis medis.
2. Keluhan utama, pada umumnya keluhan utama pada kasus tumor
dan keganasan adalah nyeri pada daerah yang mengalami masalah.
Nyeri merupakan keluhan utama pada tumor ganas.
3. Riwayat penyakit sekarang, pengumpulan data dilakukan sejak
keluhan muncul dan secara umum mencangkup awitan gejala dan
bagaimana gejala tersebut berkembang. Kadang-kadang klien
mengeluhkan adanya suatu pembengkakan atau benjolan.
Pembengkakan atau benjolan ini dapat timbul secara perlahan-
lahan dalam jangka waktu yang lama dan dapat juga secara tiba-
tiba.
4. Riwayat penyakit terdahulu, pada pengkajian ini, ditemukan
kemungkinan penyebab yang mendukung terjadinya tumor dan
keganasan. Adanya riwayat fraktur terbuka yang meninggalkan
bekas sikatriks dapat mendukung terjadinya suatu lesi pada
jaringan lunak. Factor kebiasaan kurang baik seperti merokok akan
mendukung terjadinya keganasan pada system pernapasan yang
dapat bermetastasis kesistem musculoskeletal.
5. Riwayat penyakit keluarga, kaji tentang adakah keluarga dari
generasi yang terdahulu yang mengalami keluhan yang sama
dengan klien. Beberapa kelainan genetic dikaitkan dengan
terjadinya keganasan tulang, misalnya sarcoma jaringan lunak atau
soft tissue sarcoma (STS).
6. Riwayat psikososial, kaji respon emosi klien terhadap penyakit
yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat
serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Pengamatan atau
observasi juga mencakup adaptasi dan penyesuaian yang mungkin
sudah dilakukan klien.
7. Pola fungsi kesehatan seperti :
Persepsi terhadap kesehatan - manejemen kesehatan : disini kita
menanyakan ke pasien apakah dia mengkonsumsi rokok, alcohol,
dan apakah dia mempunyai riwayat alergi atau tidak
8. Nutrisi dan metabolik : disini kita mengkaji pasien mempunyai diet
khusus atau tidak, anjuran diet sebelumnya, nafsu makan pasien,
apakah pasien mempunyai gangguan menelan.
9. Pola eliminasi
a. Kebiasaan BAB di rumah dan di rumah sakit
b. Kebiasaan BAK di rumah dan di rumah sakit
10. Pola aktivitas dan latihan
kemampuan perawatan diri : skor : 0 = mandiri, 1= dibantu
sebagian, 2 = perlu bantuan orang lain, 3 = perlu bantuan orang lain
dan alat, 4 = tergantung/ tidak mampu. Aktifitas yang di kaji seperti
: makan/ minum, mandi, toileting, berpakaian, mobilisasi di tempat
tidur, berpindah, ambulasi ROM.
11.Oksigenasi : disini kita mengkaji tentang pemenuhan oksigen dari
pasien tersebut, apakah dia menglami gangguan dalam pemenuhan
oksigen atau tidak
12.Pola istirahat dan tidur : disini kita mengaji waktu tidur dari pasien,
jumlah tidur/ istirahat, frekuensinya, apakah pasien mengalami
insomnia atau tidak
13.Pola kognitif dan perseptual : pengkajiannya meliputi : status
mental, bicara, bahasa yang digunakan, kemampuan membaca,
kemampuan mengerti, kemampuan berinteraksi, pendengaran,
penglihatan, pasien mengalami vertigo/ tidak, management nyeri.
14.Pola persepsi diri dan konsep diri : pengkajiannya meliputi citra
diri, identitas diri, peran diri, ideal diri, harga diri
15.pola seksual dan reproduksi
16.Pola peran hubungan meliputi : status perkawinan, pekerjaan,
kulitas bekerja, sistem dukungan keluarga, dukungan keluarga saat
masuk rumah sakit.
17.Pola keyakinan nilai (agama yang dianut, larangan agama,
kebiasaan sembahyang di rumah/ di rumah sakit)

B. DIAGNOSA
1. Nyeri akut berhubungan dengan agan cedera biologis : tumor
maksila, ditandai dengan klien mengeluh nyeri, peningkatan denyut
nadi melebihi 100x/menit. Dan peningkatan tekanan darah melebihi
120/80mmHg.
2. PK Pendarahan
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan factor biologis (virus) ditandai dengan Berat
badan 20% atau lebih di bawah berat badan ideal, pasien mengeluh
gangguan sensasi rasa, pasien kurang minat pada makanan
4. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan deformitas
hidung ditandai dengan dispnea, sputum yang disertai darah.
5. Mual berhubungan dengan farmaseutikal (efek kemoterapi)
ditandai dengan pasien melaporkan mual dan keenganan terhadap
makanan.
6. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ditandai dengan
gelisah.
7. Resiko cedera berhubungan dengan tumor maksila ditandai dengan
diplopia, proptosis, atau penonjolan bola mata, oftalmoplegia,
gangguan visus dan epifora.
C. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Evaluasi
1. Nyeri Kronis Setelah diberikan asuhan NIC : Pain Management S:
berhubungan dengan keperawatan selama ... x 1. Lakukan pengkajian 1. Dengan mengetahui Px mengeluh nyeri jarang
ketunadayaan fisik 24 jam diharapkan nyeri nyeri secara karakteristik nyeri pasien, timbul
kronis ditandai pasien dapat terkontrol, komprehensif termasuk maka diharapkan dapat O : tidak ada tegangan
dengan keluhan nyeri dengan kriteria hasil: lokasi, karakteristik, ditentukan secara tepat otot
NOC : Pain Control durasi, frekuensi, terapi yang akan diberikan. A : tujuan tercapai
Pasien mengetahui kualitas dan faktor P : Pertahanakan intervensi
panjang nyeri yang presipitasi
dirasakan (skala 5) 2. Observasi reaksi 2. Mengetahui reaksi
Pasien menggunakan nonverbal dari nonverbal yang disebabkan
analgetik untuk ketidaknyamanan oleh nyeri yang dirasakan
mengurangi nyeri (skala klien.
5) 3. Kontrol lingkungan 3. Untuk meningkatkan rasa
Pasien mengatakan nyeri yang dapat nyaman yang dapat
sudah terkontrol dengan mempengaruhi nyeri mengurangi tingkat nyeri
teknik non farmakologis seperti suhu ruangan, pasien.
(skala 5) pencahayaan dan
NOC : Pain Level kebisingan
TD normal : 100-120 / 4. Kurangi faktor 4. Mengurangi faktor
60-80 mmHg presipitasi nyeri presipitasi dapat mengurangi
RR normal : 16 20 intensitas nyeri yang
x/menit dirasakan pasien.
HR normal : 60 -100x /menit 5. Ajarkan tentang teknik 5. Memandirikan pasien dalam
non farmakologi: napas mengontrol rasa nyerinya
dalam, relaksasi, melalui teknik kontrol nyeri
distraksi. nonfarmakologi.
NIC : Analgesic
Administration
6. Lakukan pengecekan 6. Mencegah terjadinya respon
terhadap riwayat alergi. alergi.
7. Pilih analgesic yang 7. Memberikan obat analgesic
sesuai. yang sesuai dengan scala
nyeri pasien
8. Monitor tanda-tanda 8. Untuk mengetahui adanya
vital sebelum dan respon abnormal dari
setelah diberikan pemberian analgesik.
analgesic dengan satu
kali dosis atau tanda
yang tidak biasa dicatat
perawat
9. Evaluasi keefektian 9. Untuk mengetahui
dari analgesic keefektifan dari pemberian
analgesik.
2. PK : Perdarahan Setelah diberikan asuhan Mandiri: S:
keperawatan selama 1. Kaji pasien untuk 1. Untuk mengetahui adanya -px mengeluhkan tidak
...x24 jam, perawat dapat menemukan bukti-bukti tanda-tanda perdarahan. lemas
meminimalkan perdarahan atau O:
komplikasi yang terjadi hemoragi -HB dalam batas normal
dengan kriteria hasil: 2. Kaji kadar Hb klien. 2. Penurunan kadar 10 gr/dl, episode
Nilai Ht dan Hb berada hemoglobin menandakan perdarahan berhenti
dalam batas normal suplay oksigen ke jaringan A:
Klien tidak mengalami inadekuat yang dapat Tujuan tercapai
episode perdarahan menyebabkan keletihan. P : Pertahankan
Tanda-tanda vital berada 3. Lindungi pasien 3. Mengurangi resiko intervensi
dalam batas normal (TD: terhadap cedera dan terjadinya cedera.
100-120 / 60-80 mmHg terjatuh
Nadi: 60 100 x/menit 4. Instruksikan pasien 4. Mencegah terjadinya cedera
RR : 16 20 x/mnt untuk membatasi akibat kelelahan.
Suhu : 36 - 370C 0,50C aktivitas, jika
diperlukan.
5. Anjurkan klien 5. Vitamin B12 dan zat besi
mengkonsumsi dibutuhkan dalam
makanan yang pembentukan sel darah
mengandung banyak zat merah dan hemoglobin.
besi dan vitamin B12 Kandungan teh bisa
dan kurangi mengikat fe yang
mengonsumsi teh. terkandung dalam tubuh
sehingga meningkatkan
Kolaborasi : risiko anemia
6. Kolaborasi pemberian 6. Pemberian tranfusi
transfuse sesuai indikasi diberikan untuk meresusitasi
volume cairan dan jika
terjadi perdarahan yang
hebat
3. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan asuhan NIC Label : S :-
nutrisi kurang dari keperawatan selama NutritionTherapy O:
kebutuhan tubuh b.d 3x24 jam, diharapkan 1. Lakukan pengkajian 1. Untuk dapat mengetahui - Tidak mengalami tanda
faktor biologis status nutrisi klien lengkap mengenai status nutrisi klien sehingga malnutrisi.
ditandai dengan berat meningkat, dengan nutrisi klien. dapat melakukan intervensi - Menunjukkan prilaku,
badan 20% atau lebih kriteria hasil : yang tepat. perubahan pola hidup
dibawah berat badan NOC Label : Nutritional 2. Monitor intake 2. Untuk mengetahui apakah untuk meningkatkan
ideal. Status makanan klien dan jumlah kalori harian sudah dan/atau
a. Intake makanan klien hitung kalori harian. terpenuhi mempertahankan berat
meningkat. 3. Siapkan pasien 3. Untuk mempercepat badan yang sesuai.
b. Rasio BB/TB klien makanan tinggi protein, peningkatan berat badan A:
seimbang.(IMT=18-23) tinggi kalori dan klien. Tujuan tercapai
minuman yang siap P : Pertahankan
dikonsumsi. intervensi
4. Bantu pasien memilih 4. Agar lambung pasien tidak
NOC Label : Appetite makanan yang lunak, terangsang secara berlebihan
a. Adanya peningkatan lembut dan tanpa asam. sehingga pasien tidak
nafsu makan. nyaman.
b. Klien menikmati 5. Berikan perawatan 5. Agar pasien nyaman
makanan. mulut sebelum makan. sebelum dan selama makan.
NIC Label:Nutrition
Monitoring
NOC label : Nutritional 6. Catat perubahan 6. Untuk mengetahui apakah
status : nutrient intake signifikan status nutrisi intake makanan mampu
a. Asupan kalori pasien klien pada treatment meningkatkan status nutrisi
dapat terpenuhi awal. klien.
b. Asupan protein pasien 7. Berat badan klien pada 7. Untuk dapat mengetahui
dapat terpenuhi kembali interval yang spesifik. adanya peningkatan berat
c. Asupan lemak pasien badan.
dapat terpenuhi NIC Label :Nutrition
Counseling
8. Tentukan intake 8. Untuk mengetahui
makanan klien dan kebiasaan makan klien agar
kebiasaan makan dapat menentukan intervensi
9. Identifikasi fasilitas dari yang tepat.
pola makan untuk 9. Agar dapat memperbaiki
dirubah. pola makan klien menjadi
lebih baik
4. Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan Nic Label : S: pasien mengatakan
tidak efektif keperawatan selama ...... Airway Management Airway Management batuk dengan sputum
berhubungan dengan x24 jam diharapkan 1. Kaji TTV klien, catat 1. Tanda-tanda vital dalam jernih yang disertai darah
deformitas hidung pasien menunjukkan jika ada perubahan. rentang normal. dan sesak nafas
ditandai dengan keefektifan jalan nafas 2. Posisikan klien pada 2. Posisi semi fowler berkurang
dispnea, sputum yang dengan kriteria hasil: posisi yang memberikan ekspansi paru
disertai darah NOC LABEL : memaksimalkan potensi yang optimal sehingga O: RR pasien dalam
pertukaran udara (posisi pasien dapat rentang normal (16-
Respiratory Status : semi fowler) memaksimalkan potensial 18x/menit)
Airway Patency ventilasi
1. Respiratory rate kembali 3. Bersihkan sekresi 3. Untuk membantu
normal dengan dorongan batuk pengeluaran secret
2. Respiratory rhytm atau suctioning
kembali normal 4. Ajarkan klien 4. Untuk mampu
3. Mampu mengeluarkan bagaimana cara batuk mengeluarkan secret yang
sputum efektif menghambat jalan nafas
4. Suara napas pasien yang 5. Monitor status respirasi 5. Mengetahui perkembangan
kembali normal dan oxigenasi klien status respirasi dan
5. Berkurangnya oksigenasi
penggunaan otot bantu 6. Auskultasi suara napas, 6. Derajat spasme bronkus
napas catat adanya suara dengan obstruksi jalan
6. Pasien dapat batuk tambahan nafas dapat/tidak
7. Akumulasi dari sputum dimanifestasikan adanya
berkurang bunyi nafas adventisius
misalnya tidak adanya bunyi
Vital Signs nafas oleh mengi
1. Tanda-tanda vital dalam Oxygen Therapy OXYGEN THERAPY
rentang normal , tekanan 1. Pertahankan potensial 1. Agar jalan napas pasien
darah (S= 90-120 jalan nafas efektif
mmHg, D=60-80 2. Administrasikan 2. Pemberian oksigen untuk
mmHg), nadi (60-100 pemberian oksigen jika memenuhi kebutuhan
x/mnt), pernafasan (12- perlu oksigen pasien
20 x/mnt), suhu (36- Respiratory Monitoring Respiratory Monitoring
37,5o C) 1. Monitor status respirasi 1. Perubahan status respirasi
(kedalaman, ritme, dll) pada pasien seperti
2. Monitor kemampuan kedalaman, ritme, dll
pasien untuk batuk mengindikasikan adanya
efektif gangguan pada jalan napas.
3. Catat adanya 2. Batuk efektif dapat
pergerakan dada, lihat membantu mengeluarkan
pergerakan dada yang dahak/sekret jika ada.
asimetris, menggunakan 3. Ketidak simetrisan pada
otot bantu dan retraksi dada dan penggunaan otot
otot supraklavikular bantu pernapasan pada
serta intercosta pasien mengindikasikan
adanya gangguan
pernapasan
Vital Sign Monitoring Vital Sign Monitoring
1. Monitor tanda -tanda 1. Untuk mengetahui adanya
vital jika diperlukan perubahan tanda-tanda vital
(tekanan darah, nadi,
suhu, pernapasan)
5. Mual berhubungan Setelah diberikan asuhan Nausea Management S : pasien mengatakan
dengan farmaseutikal keperawatan selama x 1. Melakukan pengkajian 1. Untuk mengetahui tidak mual lagi
(efek kemoterapi) 24 jam diharapkan rasa mual dari frekuensi, frekuensi, durasi, intensitas O : pasien nampak
ditandai dengan mual yang dirasakan durasi, intensitas, dan serta factor pencetus dari tenang, frekuensi mual
pasien melaporkan oleh klien hilang atau factor pencetusnya. mual klien. berkurang
mual dan keenganan berkurang dengan 2. Mendorong pasien 2. Agar klien bias A : tujuan tercapai
terhadap makanan criteria hasil: untuk belajar menangani mualnya sendiri.P : Pertahanakan intervensi
NOC LABEL: menangani mualnya
Nausea & Vomiting control sendiri.
1. Klien mengungkapkan 3. Mengidentifikasi factor 3. Agar dapat
timbulnya mual. yang menyebabkan memberikan terapi yang
2. Dapat menjelaskan factor mualnya. tepat bagi klien.
penyebab mual 4. Menganjurkan klien
3. Menggunakan obat istirahat dan tidur yang 4. Untuk mengalihkan rasa
antiemetic (anti mual) cukup untuk mual yang dirasakan oleh
yang direkomendasikan. mengurangi mualnya. klien.
Nausea & Vomiting 5. Ajarkan klien teknik 5. Membantu meredam rasa
Severity non-farmakologi untuk mual yang dirasakan oleh
1. Frekuensi mual memanajemen mualnya. klien.
berkurang
2. Intensitas mual
berkurang