Anda di halaman 1dari 7

PATOFISIOLOGI PENYAKIT STROKE

1. Definisi

Stroke adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh terganggunya suplai darah ke
otak, umumnya disebabkan oleh penyumbatan atau kebocoran pembuluh darah
otak. Hal ini memutus suplai oksigen dan nutrisi untuk otak, sehingga menyebabkan
kerusakan pada jaringan otak. Gejala paling umum dari penyakit stroke adalah
terjadi mati rasa pada wajah, lengan, kaki, di salah satu sisi tubuh saja. Efek dari
penyakit stroke bergantung pada bagian otak yang terkena. Penyakit stroke yang
sangat parah dapat menyebabkan kematian (WHO, 2016).

Menurut American Stroke Association (2016), stroke adalah sebuah penyakit yang
menyerang pembuluh nadi yang menuju atau di dalam otak. Penyakit ini berada
pada peringkat kelima yang menyebabkan kematian dan disabilitas di Amerika
Serikat. Stroke terjadi ketika pembuluh darah yang membawa oksigen dan nutrisi
ke otak tersumbat atau mengalami kebocoran. Ketika hal tersebut terjadi, bagian
otak tertentu tidak mendapat suplai darah (oksigen dan nutrisi), sehingga sel-sel
otak mengalami kematian

2. Klasifikasi Penyakit Stroke

Secara umum, penyakit stroke memiliki tiga jenis atau tipe (CDC, 2014).

2.1. Hemorrhagic Stroke


Dalam stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran
darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan
merusaknya. Pendarahan dapat terjadi di seluruh bagian otak seperti caudate
putamen; talamus; hipokampus; frontal, parietal, danoccipital
cortex; hipotalamus; area suprakiasmatik; cerebellum; pons; dan midbrain
(Lapchak, 2011) Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik menyerang penderita
hipertensi (Manso dkk, 2011).

1
Diagnosis yang dapat dilakukan untuk hemorrhagic strokes adalah dengan brain
imaging. Brain imaging adalah langkah krusial dalam diagnosis hemorrhagic
stroke. Brain imaging membantu mendiagnosis hemorrhagic stroke dan dapat
mengidentifikasi beberapa komplikasi seperti edema otak dan hidrosefalus. Selain
brain imaging, non-contrast computed tomography (NCCT), dan magnetic
resonance imaging (MRI) juga dapat dijadikan metode untuk diagnosis
hemorrhagic stroke (Liebeskind, 2015).

2.2. Ischemic Stroke

Sebagian besar (85%) penderita stroke menderita stroke tipe ini (ASA, 2016)
Dalam ischemic stroke, suplai darah menuju bagian otak berkurang yang berakibat
pada disfungsi pada jaringan otak pada daerah tersebut. Terdapat beberapa
penyebab berkurangnya suplai darah tersebut.

1. Thrombosis (penyumbatan pembuluh darah oleh pembekuan darah secara


lokal)

2. Embolism (penyumbatan yang disebabkan oleh embolus dari bagian tubuh


lain) (Donnan dkk, 2008)
3. Hipoperfusi sistemik (penurunan suplai darah secara umum) (Shuaib dkk,
1991)
4. Cerebral venous sinus thrombosis

2.3. Transient Ischemic Attack (TIA)


Transient ischaemic attack (TIA) atau stroke ringan adalah serangan yang terjadi
saat pasokan darah ke otak mengalami gangguan sesaat. Serangan ini umumnya
berlangsung lebih singkat dari stroke, yaitu selama beberapa menit hingga beberapa
jam, dan penderita akan pulih dalam waktu satu hari.

Meski hanya sesaat, TIA merupakan peringatan akan datangnya serangan yang
lebih parah. Seorang penderita TIA memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena
stroke dan serangan jantung. Jika tidak ditangani dengan benar, diperkirakan
terdapat sekitar 20 persen pengidap TIA yang akan mengalami stroke pada tahun
berikutnya. Sedangkan pengidap TIA yang berpotensi terkena serangan jantung
pada tahun yang sama adalah sekitar 30 persen.

2
3. Perjalanan Alamiah Penyakit Stroke
Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola yang berdiameter 100-400
mcmeter mengalami perubahan patologik pada dinding pembuluh darah tersebut
berupa hipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard.
Arteriol-arteriol dari cabang-cabang lentikulostriata, cabang tembus arterio
talamus (talamo perforate arteries) dan cabang-cabang paramedian arteria vertebro-
basilaris mengalami perubahan-perubahan degenaratif yang sama. Kenaikan darah
yang abrupt atau kenaikan dalam jumlah yang secara mencolok dapat
menginduksi pecahnya pembuluh darah terutama pada pagi hari dan sore hari.

Jika pembuluh darah tersebut pecah, maka perdarahan dapat berlanjut sampai
dengan 6 jam dan jika volumenya besar akan merusak struktur anatomi otak dan
menimbulkan gejala klinik.

Jika perdarahan yang timbul kecil ukurannya, maka massa darah hanya dapat
merasuk dan menyela di antara selaput akson massa putih tanpa merusaknya. Pada
keadaan ini absorbsi darah akan diikutioleh pulihnya fungsi-fungsi neurologi.
Sedangkan pada perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak, peninggian
tekanan intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada
falk serebri atau lewat foramen magnum.

Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan
perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak.
Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di
nukleus kaudatus, talamus dan pons.

Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak
akan mengakibatkan peninggian tekanan intrakranial dan menyebabkan
menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak.

Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat


menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena
darah dan sekitarnya tertekan lagi. Jumlah darah yang keluar menentukan
prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93
% pada perdarahan dalam dan 71 % pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi

3
perdarahan serebelar dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan
kematian sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah
berakibat fatal. (Misbach, 1999)

4. Faktor Risiko
Central Disease Control and Prevention (2014) menyatakan faktor risiko penyakit
stroke dapat ditinjau dari 3 aspek yaitu kondisi fisiologis tubuh, pola hidup, dan
riwayat keluarga.

4.1 Kondisi Fisiologis Tubuh

4.1.1 Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi adalah faktor risiko utama untuk penyakit stroke. Hal ini
terjadi ketika tekanan darah pada arteri dan pembuluh darah lainnya terlalu
tinggi. Seringkali tidak ada gejala untuk menandai tingginya tekanan darah.
Menurunkan tekanan darah dengan mengubah gaya hidup atau konsumsi obat-
obatan dapat mengurangi risiko penyakit stroke

4.1.2 Kadar Kolesterol Tinggi

Kolesterol adalah substansi serupa lemak yang dibuat oleh hati atau terdapat
pada makanan tertentu. Produksi kolesterol oleh hati dilakukan sesuai dengan
kebutuhan tubuh, tetapi manusia sering mendapat kolesterol tambahan dari
makanannya. Apabila kadar kolesterol dalam tubuh berlebih, kolesterol
tersebut dapat menumpuk dalam arteri, termasuk pada arteri otak. Hal ini dapat
memicu penyempitan arteri, stroke dan masalah lainnya. Test darah dapat
mendeteksi kadar kolesterol dalam darah

4.1.3 Penyakit Jantung

Semua kelainan jantung dapat menambah risiko penyakit stroke. Contohnya,


penyakit jantung koroner menambah risiko stroke karena plak menumpuk di
dalam arteri dan menghambat aliran darah penuh oksigen ke otak. Kelainan
jantung lainnya seperti cacat pada katup jantung, atrial fibrillation, dan
membesarnya ruang jantung juga dapat menambah risiko penyakit stroke.

4
4.1.4. Penyakit Anemia Sel Sabit (Sickle cell anemia)

Anemia sel sabit adalah sebuah kelainan darah yang terkait dengan ischemic
stroke terutama pada orang-orang berkulit hitam dan anak-anak Hispanik.
Penyakit ini menyebabkan beberapa sel darah merah berbentuk bulan sabit.
Stroke dapat terjadi bila sel sabit menumpuk di pembuluh darah dan
menghambat aliran darah ke otak

4.2 Pola Hidup


4.2.1 Pola Makan tidak Sehat

Makanan yang mengandung lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol dengan
kadar tinggi sudah dikaitkan dengan stroke dan penyakit jantung. Terlalu
banyak konsumsi garam juga dapat menaikkan tekanan darah.

4.2.2. Jarang Berolahraga

Tidak berolahraga dengan cukup dapat menambah faktor risiko lain dari stroke
seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.
Berolahraga secara teratur dapat menurunkan risiko stroke

4.2.3. Obesitas

Obesitas sering dihubungkan dengan tingginya kadar kolesterol jahat dan


trigliserida dibandingkan dengan kadar kolesterol baik. Selain penyakit
jantung, obesitas juga dapat menngakibatkan bertambahnya faktor risiko stroke
yaitu tekanan darah tinggi.

4.2.4 Konsumsi Alkohol Berlebih

Mengonsumsi alkohol secara berlebihan dapat menaikkan tekanan darah dan


risiko stroke. Alkohol juga dapat menaikkan kadar trigliserida, suatu bentuk
lemak di dalam darah yang dapat mengeraskan arteri

4.2.5 Merokok

Merokok dapat menambah risiko stroke. Merokok dapat merusak hati dan
pembuluh darah, yang juga menambah risiko untuk stroke. Zat nikotin yang
terkandung pada rokok dapat menaikkan tekanan darah, dan karbon monoksida

5
dapat mengurangi jumlah oksigen yang dapat diikat oleh darah. Terkena
paparan asap rokok dari perokok aktif juga dapat menambah risiko stroke bagi
perokok pasif.

4.3 Riwayat Keluarga

Faktor genetik memainkan beberapa peran dalam tekanan darah tinggi, stroke,
dan kondisi terkait lainnya. Beberapa kelainan genetik dapat menyebabkan
stroke, termasuk anemia sel sabit. Orang-orang dengan riwayat keluarga stroke
berbagi lingkungan yang sama dan faktor potensial lainnya yang dapat
menambah risiko mereka. Risiko stroke dapat bertambah besar ketika faktor
genetik dikombinasikan dengan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok
dan makan makanan tidak sehat.

5. Gejala Klinis

Gejala klinis penyakit stroke yang sudah diketahui secara umum antara lain
(CDC, 2014)

5.1 Mati rasa pada wajah, lengan, atau kaki khususnya pada salah satu sisi tubuh

5.2 Kebingungan, sulit bicara, kesulitan memahami pembicaraan

5.3 Kesulitan melihat pada satu atau kedua mata

5.4 Kesulitan berjalan, pusing, hilang keseimbangan dan koordinasi tubuh

5.5 Sakit kepala secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya

6. Pencegahan dan Penanganan.

6.1 Pencegahan

Pencegahan penyakit stroke dapat dilakukan dengan melakukan gaya hidup


sehat dan melakukan pemeriksaan medis secara rutin. Gaya hidup sehat yang
dapat dilakukan antara lain menjaga pola makan, berolahraga cukup, menjaga
berat badan, tidak merokok dan minum minuman beralkohol. Sedangkan
pencegahan secara medis dapat dilakukan dengan memeriksa kadar kolesterol
secara rutin, mengontrol tekanan darah, memeriksa kadar gula darah, konsumsi

6
obat-obatan tertentu sesuai petunjuk dokter, dan rutin berkonsultasi dengan
dokter (CDC, 2014)

6.2 Penanganan

Penanganan yang dapat dilakukan adalah segera dibawa ke rumah sakit terdekat
apabila sudah timbul gejala dari penyakit stroke. Penyakit stroke sangat
berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat. Apabila kondisi penderita
sudah membaik, dapat dilakukan terapi rehabilitasi stroke antara lain terapi
bicara, terapi fisik, dan terapi untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti
makan, minum, membaca, menulis dan lain sebagainya. (CDC, 2014)